• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISA DATA DAN INTERPRETASI

A. Responden I

3. Data Wawancara Responden I

Faktor awal yang membuat Lina berpikir untuk bunuh diri adalah kejadian hidup negatif berupa masalah ekonomi. Kehidupan Lina yang sederhana mulai jatuh ketika suaminya tidak dapat bekerja lagi dikarenakan penyakit yang dideritanya. Pada saat itu, Lina mempunyai 4 orang anak laki-laki yang berusia masih kecil. Menghadapi kondisi ini, Lina memutuskan bekerja untuk menghidupi keempat anaknya.

“Dulu kami sangat susah, suami saya kerja di Aceh dan dia kena penyakit kelaminnya besar sebelah, seperti mangga. Semakin dia paksa kerja semakin membesar. Sampai akhirnya dia kesakitan sekali dan tidak bisa kerja lagi.”

“Saya dulu sangat susah, mau makan pun susah, gak tahu harus gimana lagi, waktu itu saya punya empat anak cowo...”

(R1B0084-R1B0088/Hlm 3) “Kalau gakmakan apa...” (R1B0233-R1B0234/Hlm 6)

“...sudah tidak punya uang untuk memberi makan anak...” (R1B0447-R1B0448/Hlm 8)

“Siap kerja di salon, saya kerja lagi di Mikado restoran, nganterin makanan ke meja-meja, jadi pelayan. Lumayan buat uang makan anak- anak saya.”

(R1B0289-R1B0294/Hlm 8)

Meskipun telah bekerja, Lina tidak bisa bekerja terlalu lama karena harus menjaga keempat anaknya yang masih kecil. Waktu kerja yang singkat dan penghasilan yang sedikit membuat Lina meminjam uang ke tetangga dan pabrik tempatnya bekerja. Lina berpikir bahwa meminjam uang lebih gampang daripada mencari kerja, karena menurutnya untuk orang yang intelektualitasnya terbatas seperti dirinya sangatlah susah untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Lina sering dikejar karena utangnya menunggak. Tanpa berusaha mencari kerja lagi, Lina menjual satu per satu perhiasannya yang berharga untuk dijadikan biaya pengobatan ketika anak-anaknya sakit.

“Mau makan kan, mau tak mau harus utang sana utang sini. Waktu itu sampe gak ada sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya karena banyak utang, saya dikejar sana sini...”

(R1B0255-R1B0261/Hlm 6)

“Iya...tapi dulu cari kerja juga tidak gampang, gaji juga kecil, saya kan cuma kerja kasar, jadi pelayan...mau gimana lagi, orang gak sekolah mana bisa dapat kerjaan, berapa pula anak yang harus saya kasi makan kan...” (R1B0933-R1B0938/Hlm 22-23)

“Saya tidak kerja karena harus menjaga 4 anak saya yang masih kecil, dia juga tidak, akhirnya kami pinjam uang sana-sini untuk uang makan.

Pinjam ke konveksi lagi, ada bunganya. Waktu itu, utang kami banyak, sebesar 10 juta. Setiap hari dikejar sana sini...”

(R1B0467-R1B0476/Hlm 12)

“Waktu anak saya sakit dulu, saya jual perhiasan saya yang emas, 5 gram, 10 gram dijual sampai habis, semua juga demi anak saya.”

(R1B0341-R1B0346/Hlm 9)

Keadaan keuangan Lina yang buruk diperparah oleh kenyataan bahwa suaminya kurang bertanggung jawab. Melihat Lina yang bekerja sendirian, suaminya pun tidak berusaha mencari kerja dan terus menganggur walau telah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Lina memandang bahwa keadaan suaminya yang tidak mendapat pekerjaan sebagai suatu nasib jelek yang tidak dapat diubah. Oleh karenanya, Lina juga tidak mendorong suaminya untuk giat mencari pekerjaan. Lina menanggung biaya hidup keluarganya sendirian.

“Dia gak dapat kerjaan, jadi saya kerja sendiri hampir setahun...” (R1B0296-R1B0298/Hlm 8)

“Suami saya apapun tidak mau tahu, dia cuma tahu buat anak saja, tidak tahu bertanggung jawab. Kalau ditanya jawabnya gak ada uang. Nasib tiap orang memang beda-beda...”

(R1B0346-R1B0352/Hlm 9)

“...dengan suami yang tidak mau tahu dan bernasib pengangguran...” (R1B0901-R1B0903/Hlm 22)

Lina mulai berpikir untuk mati pertama kali ketika dia tidak tahan karena terus dikejar utang dan tidak punya uang untuk memberi makan anaknya. Dia selalu berpikir jika dia mati maka segalanya akan selesai, dia tidak perlu tahu lagi apa yang menunggu keesokan harinya, baik itu tangisan anak-anaknya yang kelaparan atau utang yang menunggu dibayar. Meskipun Lina pernah berpikir

untuk mati saja berkali-kali, naluri keibuannya mencegah hal tersebut terjadi setiap dia terpikir bagaimana nasib anak-anaknya jika dia mati.

“Tiap saya pikir uda mentok, gak ada lagi uang makan besok, mau gimana...belum lagi utang yang harus dibayar...mati saja...”

(R1B0972-R1B0976/Hlm 26)

“Saya pikir kalau mati segala urusan akan selesai, gak usah tahu apa-apa lagi, dan pikiran saya kosong...apapun tidak ada.”

(R1B0592-R1B0596/Hlm 15)

“Yah, sebenarnya uda berkali-kali saya pikir mati aja....jadi akhirnya saya benar-benar coba mati.”

(R1B0965-R1B0969/Hlm 25)

Sewaktu kondisi keuangan Lina memburuk, Lina hanya mendapatkan sedikit bantuan dari orang di sekitarnya. Beberapa tetangga meminjamkan uang dan mencarikan kerja untuknya. Dari pihak keluarga, dukungan yang diterima malah lebih sedikit. Keluarga suaminya bukan hanya tidak memberi dukungan, malah menjelek-jelekkannya. Mertua tirinya juga menyebarkan gosip ke tetangganya bahwa Lina kejam dan sering memarahi orang. Oleh sebab itu, Lina mulai dipandang aneh dan dijauhi oleh tetangga-tetangganya.

“Hubungan saya dengan mertua tidak begitu bagus, dimana-mana dia mengatakan kejelekan saya, ngomongin saya tidak memberi dia makan lah, saya suka marah-marah lah sama dia, sampai semua orang di sini menganggap saya gila.”

(R1B0483-R1B0491/Hlm 12)

“Mertua tiri saya mengatain saya yang jelek-jelek lagi, katanya tidak dikasi makanla, ini itu segala macam. Padahal dia sanggup membiayai hidupnya sendiri, kami sekeluarga 4 anak saja sudah ga dapat makan gimana mau memberinya makan lagi. Dia ngomong ke sana-sini sampe semua orang di sambu mengatakan saya yang jelek-jelek. Tau la mulut orang sambu. Semua ngatain keburukan saya ”

(R1B0271-R1B0285/Hlm 7-8)

“...uda begitu, orang-orang berkata jelek tentang saya, mereka bilang saya begitu kejam tidak memberi makan mertua saya...”

(R1B0154-R1B0158/Hlm 4)

Dari keluarga Lina sendiri, Lina juga tidak mendapatkan dukungan baik secara finansial maupun emosional. Malah sebaliknya, Lina dijelek-jelekkan juga oleh adik kandungnya sendiri yang sejak kecil tidak suka dengan Lina yang suka meminta makan ke tetangga-tetangga. Beberapa kali ketika Lina ingin meminjam uang dengan orang tuanya untuk membeli sedikit beras, adiknya selalu menghasut orang tuanya untuk tidak perlu mempedulikannya dan sering berkata “biarin dia mati”. Lina sempat berpikir seketika bahwa hal tersebut adalah ide yang bagus untuk mengakhiri penderitaannya.

“Dia sejak kecil gak suka kalau saya minta makan sama tetangga. Padahal kan tetangga yang menawarkan sisa sayuran mereka. Dia bilang saya gak tahu malu minta makan sana sini sama orang. Dia menjual harga diri saya, mengatakan kejelekkan saya sama tetangga”

(R1B0546-R1B0555/Hlm 14)

“Adik perempuan ke 3 saya...orangnya sangat jahat. Dulu waktu mau pinjam uang 10.000 sama papa saya untuk beli beras, dia membakar-bakar bilang „Biarin aja dia..biar mati saja, gak usa dipinjami duit, gak tahu malu‟”

(R1B0503-R1B0511/Hlm 13)

“Dia yang menyuruh saya mati, makanya saya buktikan sama dia kalau saya tidak takut mati. Mati bagus juga...”

(R1B0515-R1B0518/Hlm 13)

“Diremehkan”, adalah istilah yang sering digunakan oleh Lina untuk mendeskripsikan perlakukan beberapa anggota keluarga dan tetangga terhadapnya. Lina merasa orang-orang di sekitarnya termasuk keluarganya sendiri meremehkannya karena dia miskin. Tidak tahan diremehkan, Lina menjadi sering marah. Tak jarang ketika marah, Lina menjadi agresif dan melampiaskan

kemarahannya dengan memukul anak-anaknya, terutama jika anak-anaknya berebut makanan.

“Kadang saya stress lalu saya pukul anak saya, apalagi kalau mereka berebut makanan. Pake gantungan baju, sampai gantungan baju saya patah.”

(R1B0163-R1B0168/Hlm 4)

“...saya sangat cepat marah, dikata sedikit sama mereka, saya langsung marah sampai yang jelek-jelek pun saya keluarkan. Saya berani berkata dan berani melakukan...”

(R1B0377-R1B0383/Hlm 10)

“Gak lah, dulu saya orangnya kalem aja, itu sejak saya harus membayar utang dan bekerja, plus diremehkan lagi...jadi sering marah saya...”

(R1B0846-R1B0850/Hlm 21)

Selain menjadi sering marah karena diremehkan, pandangan Lina terhadap dirinya juga berubah. Dulunya, Lina memandang dirinya adalah seorang yang memang kurang berpendidikan tetapi merupakan seorang yang berbakti, berhati baik, dan mengerti bagaimana seharusnya bersikap dalam pergaulan. Dia sangat menekankan bahwa menjadi orang harus saling menghargai sesama dan tidak boleh meremehkan, jikalau tidak akan mendapatkan balasan. Dia bahkan mengajari anak-anaknya untuk tidak meremehkan orang lain, karena dia tahu bagaimana rasanya diremehkan.

“Oh...kalau saya orangnya biasa aja, karena gak sekolah tinggi kan, cuma sampai SD, tapi saya sangat mengerti bagaimana seharusnya menjadi orang, harus menghormati orang tua kita, bagaimana kita harus menghargai orang lain, tidak boleh meremehkan, jadi orang baik la.. Coba tanya temen saya yang benar-benar baik sama saya, mereka tau saya orang punya hati baik... Jadi orang harus baik-baik, kalau gak akan mendapat balasannya”

(R1B0895-R1B0911/Hlm 24)

“Ya, saya orangnya sederhana aja, bisa hidup dengan biasa-biasa kan keluarga saya juga bisa dibilang susah, gak banyak maunya la..senang

punya teman yang baik sama saya, yang benar-benar baik, bukan yang omongin kita di belakang.”

(R1B0914-R1B0922/Hlm 24)

“Ya...jangan pernah meremehkan orang lain, saya selalu mengajarkan itu sama anak saya, karena sakit rasanya diremehkan”

(R1B0919-R1B0923/Hlm 22)

Tetapi sejak mengalami masalah keuangan dan mendapat gunjingan dari orang di sekitar, Lina mengaku memiliki sedikit pandangan yang berbeda terhadap dirinya. Karena sering dibilang tidak berguna oleh adiknya, di dalam dirinya perlahan-lahan Lina pun membenarkan hal itu. Dia merasa dirinya menjadi benar-benar tidak berguna karena telah membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarganya sekalipun melakukan hal yang sama. Marah diperlakukan demikian, Lina merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini.

“Gimana yah...ya kek yang mereka bilang lah, saya gak berguna, tahunya cuma minta makan sama orang...”

(R1B096-R1B0972/Hlm 23)

“Ya, sama saja...gak berguna...memang nasib saya dilahirkan begitu.” (R1B0976-R1B0978/Hlm 23)

“Saya orang yang gak berguna, nasib saya jelek. Lebih baik bagi saya untuk mati daripada hidup.”

(R1B0596-R1B0599/Hlm 15)

“Kek gak berguna saya...diremehkan terus, memang saya miskin, tapi kan saya punya harga diri, saya kanuda berusaha cari kerja.”

(R1B0925-R1B0930/Hlm 22)

Puncak dari semua rasa kesal karena diremehkan dan hidup dengan kondisi keuangan yang buruk membuat Lina akhirnya membulatkan tekad untuk mencoba bunuh diri. Lina mengaku telah lelah menanggung beban diremehkan oleh orang di sekitarnya. Rasa sakit yang dirasakan akibat remehan orang begitu

besarnya hingga Lina tak lagi memikirkan nasib anaknya. Anak yang sebelumnya menjadi alasan untuk hidup tidak lagi dapat menahan dorongan untuk mengakhiri penderitaannya. Akhirnya dia mencoba bunuh diri dengan meminum obat serangga.

“Entah juga...waktu itu saya udah gak tahan diremehkan terus, mati saja daripada diremehkan kayak gituterus...”

(R1B0962-R1B0965/Hlm 26)

“Untuk apa...toh ga ada gunanya lagi saya hidup, sudah dianggap remeh dan gila ma orang-orang...”

(R1B0980-R1B0986/Hlm 26)

“Untuk apa saya hidup lagi, suami saya apapun tidak mau tahu, mertua merendahkan, orangtua saya dihasut, adik saya kejam, semuanya kejam terhadap saya. Kalau mati urusan selesai, gak usah memikirkan mau makan apa besok pagi.”

(R1B0608-R1B0616/Hlm 15)

“Saya pikir saya harus bertahan demi anak-anak saya yang masih kecil...tapi akhirnya saya gaktahan lagi”

(R1B0996-R1B0999/Hlm 26)

“Gak, saya gak peduli mereka mau gimana lagi...mau diasuh saudara atau gak pun terserah, pikiran saya kosong...tidak mau tahu apa-apa.”

(R1B0602-R1B0606/Hlm 15)

Waktu itu, Lina hanya memikirkan bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar untuk bebas dari remehan dan kondisi keuangannya saat itu. Dia berharap segala masalahnya bisa selesai dengan bunuh diri. Bukan hanya ingin masalahnya selesai dengan bunuh diri, Lina bahkan tidak lagi mempunyai alasan untuk hidup lebih lama.

“Saya pikir kalau mati segala urusan akan selesai, tidak usah tahu apa-apa lagi, dan pikiran saya kosong...apapun tidak ada.“

“Saya tidak mau memikirkannya, pikiran saya kosong saja waktu itu...Kalo gak mati ya mau gimana lagi“

(R1B0686-R1B0689/Hlm 16)

Meskipun demikian, harapan Lina untuk mengakhiri penderitaannya dengan mati tidak tercapai. Lina tidak berhasil melakukan bunuh diri. Ketika Lina mengunci diri di kamar atas dan meminum obat serangga, anaknya yang keempat mencarinya. Mendapati ibunya menjerit kesakitan dengan pintu yang tertutup, anaknya lantas memanggil ayahnya dan langsung menggedor pintu. Di sana Lina sudah tergeletak lemas dengan mulut berbuih. Lina langsung dilarikan ke rumah sakit untuk diobati.

“Karena uda stress kali saya, saya lihat baygon, langsung saya bawa ke kamar di atas, kukunci kamar dan minum. Waktu itu, anak ke 4 saya mencari-cari saya sampai ke kamar dan menyuruh papanya karena pintu terkunci. Lalu suami saya menggedor dan membuka pintu, di sana mulut saya sudah berbuih dan tak sadarkan diri. Saya dibawa ke rumah sakit dan disedot keluar racunnya. Waktu itu saya tidak bisa merasakan apa-apa, saya melihat seperti kabut-kabut, dan mendengar samar-samar orang berbicara.”

(R1B0620-R1B0638/Hlm 15-16)

Menyesali kegagalan bunuh dirinya, Lina sempat memikirkan untuk mencoba bunuh diri lagi. Apalagi tak lama setelah dia melakukan percobaan bunuh diri, ibunya juga mengikuti jejaknya karena tidak tahan dengan perlakuan anaknya (adik ketiga Lina) yang mengatakan bahwa penyakit diabetes ibunya merepotkan. Ibu Lina mencoba bunuh diri dengan meminum pembersih lantai. Lina yang tidak berhasil bunuh diri merasa sangat bersalah dengan perbuatannya. Dia berpikir dialah yang telah memberi ide ibunya untuk melakukan hal yang sama.

“ Yah sayang aja koq gagal saya mati kemarin, klo berhasil kan selesai sudah...Ya, gakusah mikir apa-apa lagi...gakusah diremehin orang.”

(R1B0701-R1B0703/Hlm 17)

“Tiga bulan kemudian, ibu saya bilang dia tidak sanggup lihat saya hidup seperti ini, dia juga ikut saya, meminum air pel dan meninggal. Ibu saya....dia...dia...mati dengan mudah. Tidak seperti saya, mau mati tidak bisa.”

(R1B0090-R1B0098/Hlm 3)

“Karena...karena ibu saya mati dengan mencontoh saya, kalau saja saya gakbunuh diri, mana mungkin ibu terpikir untuk bunuh diri.”

(R1B1004-R1B1008/Hlm 26)

Meskipun sempat memikirkan untuk bunuh diri lagi, Lina mengurungkan niatnya ketika dia hamil anaknya yang kelima berselang satu bulan setelah ibunya meninggal. Anak di perutnya membuat Lina kembali berpikir bahwa dia harus berusaha untuk hidup.

“Pernah terpikir apa saya coba lagi saja, tapi tak lama setelah itu, saya hamil anak ke 5 saya, sejak itu saya kerja dan tidak mau memikirkannya lagi. Demi anak di perut, saya harus hidup.”

(R1B06922-R1B0698/Hlm 17)

Kondisi keuangan Lina berangsur-angsur membaik ketika suaminya mendapatkan pekerjaan karena direkomendasi oleh teman. Lina yang melahirkan anak kelimanya waktu itu tetap bekerja di pabrik dan membantu biaya hidup keluarganya. Sekarang anak Lina sudah besar dan mandiri. Mereka membantu biaya hidup keluarga setiap bulan. Meskipun demikian, Lina masih memandang bahwa hidupnya kurang bahagia dan penilaian orang lain sangat penting dalam menentukan kebahagiaannya.

“Bahagia...ya kita bisa senang-senang, tidak hidup di bawah cemoohan orang, punya uang banyak, tidak usah banting tulang setengah mati...”

“Ya, sebenarnya sampai sekarang pun saya masih dipandang buruk sama beberapa tetangga saya, semua gara-gara mertua saya dulu. Bahkan bibi cuci yang kemarin baru kerja, dia bertanya kepada saya dan bilang saya tidak boleh marah, katanya apa benar saya dulu pernah gantung diri dan gila. Lihat loh...gimana saya mau bahagia kalo hidup dipandang sebagai orang gila.”

(R1B0747-760/Hlm 18-19)

“Iya, kalo selamanya diremehkan gitu gimana bahagia.. pandangan merendahkan gitu, emang saya miskin tapi juga gak perlu lah sampe begitu, saya kan punya harga diri...kek gakdianggap orang”

(R1B0769-R1B0776/Hlm 19)

“Ya, teman kerja saya lebih baik, mereka juga kasian melihat saya, saya bawa anak saya ke pabrik, masih kecil-kecil waktu itu. Mereka gak pernah istilahnya meremehkan saya..gak kena pengaruh mertua jahat, gak kek tetangga yang kek uda diguna-guna“

(R1B0947-R1B0956/Hlm 23)

Kenyataan bahwa hingga sekarang Lina masih dihantui oleh pandangan negatif beberapa tetangganya membuatnya tidak bisa menahan pikirannya untuk kembali ke masa dulu dimana dia merasakan susahnya hidup. Seringkali ketika terpikir, Lina akan menangis dan menanyakan mengapa nasibnya sungguh pahit. Meskipun demikian, dia tidak lagi memandang dirinya tidak berguna, karena dia percaya keluarganya membutuhkannya sebagai seorang ibu yang menyayangi dan mengatur rumah tangga.

“Yah, kepikir mereka lagi ngomongin saya, ngomongin yang jelek-jelek, pasti bilang saya dulu kek gila lah, gosipin keluarga saya, macam-macam.“

(R1B0816-R1B0821/Hlm 20)

“Sedih...koq tega sekali mereka, jadinya saya sering terpikir kejadian masa dulu lagi, waktu saya susah. Kadang saya nangis... koq nasib saya begitu jelek ya...”

(R1B0835-R1B0840/Hlm 20)

“Ya, bukan gak berguna mpe gimana gitu, cuma stress juga kadang terpikir dulu..bisa sedih dan pikir saya orang yang gak berguna dulu,

kenapa nasib saya begitu jelek.. saya kan harus hidup demi keluarga saya, mereka juga butuh ibu seperti saya, yang setiap hari mengurus mereka.“

(R1B0951-R1B0961/Hlm 25) 4. Analisa Data Responden I

Pikiran bunuh diri mulai terbentuk pada responden I ketika dia dibebani oleh utang-utang dan tidak mempunyai uang sedikitpun untuk memberi makan anaknya. Terlebih lagi karena responden I menanggung semua beban sendirian karena suaminya yang kurang bertanggung jawab dan kurangnya dukungan dari keluarga. Karena putus asa dengan keadaannya, responden I sering memikirkan apakah lebih baik jika dia mati dan meninggalkan semua masalahnya. Berkali-kali anak menjadi alasannya untuk tetap hidup dan berjuang. Jika memikirkan nasib anaknya yang lebih mengenaskan jika dia mati, responden I selalu mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Faktor resiko berupa kondisi keuangan yang memburuk dan ketidakberfungsian keluarga tidak begitu saja mengakibatkan munculnya keinginan bunuh diri pada responden I. Karakteristik kognitif responden I sangat menentukan bagaimana dia memandang semua masalah yang menimpanya hingga muncul pikiran bunuh diri. Responden I mempunyai pandangan yang cenderung terbagi menjadi dua kutub seperti yang dipercayainya bahwa semua orang di dunia ini terdiri dari orang yang baik dan jahat, dan juga bahwa jika dia tidak mati maka dia akan terus merasakan penderitaan yang tidak kunjung habis. Dia juga memandang bahwa orang yang pendidikannya rendah sepertinya pasti tidak akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan putus asa untuk mencari lebih banyak pekerjaan. Di samping itu, responden I juga sering berpikir bahwa memang telah

menjadi nasibnya untuk dilahirkan miskin dan itu adalah suatu hal yang tidak bisa diubah. Oleh karena karakteristik kognitif yang dimilikinya, responden I cenderung kurang berusaha memikirkan penyelesaian atas masalah yang sedang dihadapinya. Setiap dia mendapat masalah , responden I cenderung putus asa dan memilih antara mati atau hidup dengan menyedihkan.

Di samping karakteristik kognitif yang menjembatani faktor resiko dan terjadinya percobaan bunuh diri pada responden I, perasaan diremehkanlah yang sebenarnya menjadi pemicu langsung. Sejak kecil, kebutuhan fisiologis responden I bisa dikatakan terpenuhi meskipun dia hidup dengan sederhana. Kebutuhan akan rasa aman juga terpenuhi dari rumah warisan kakek yang ditinggalinya hingga sekarang. Begitu pula dengan kebutuhan akan cinta dan kepunyaan, dia memiliki anak-anak yang dapat memenuhinya. Kebutuhan akan rasa hormat dari orang lain menjadi penting ketika semua kebutuhan tersebut telah dipenuhi. Ketika mengalami kesulitan keuangan hingga kebutuhan fisiologisnya terancam, bukannya mendapatkan dukungan sosial, responden I malah mendapat remehan dari beberapa anggota keluarga dan tetangga. Akibat dari kebutuhan harga diri yang tidak terpenuhi (unmet esteem need), responden I merasa inferior, lemah, dan tidak berdaya (helplessness) dalam menghadapi masalahnya seperti yang dikemukakan oleh Maslow.

Meskipun kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendasar telah terancam, responden I mengharapkan setidaknya kebutuhan akan harga diri bisa terpenuhi. Tetapi kenyataannya dia malah diremehkan. Merasa tidak dihormati oleh orang lain, dia membenarkan perkataan orang mengenai dirinya dan perlahan-lahan

merasa dirinya tidak lagi bermakna dan berguna. Dia telah kehilangan makna atau alasan untuk hidup lebih lama lagi (reasons for living) yang merupakan salah satu karakteristik pikiran bunuh diri. Hal ini sekaligus menggambarkan keadaaan orang yang berada dalam kondisi putus asa (despair) atau termasuk kelompok people in despair seperti yang dikemukakan oleh Frankl. Dengan memiliki karakteristik putus asa (hopelessness), sangatlah gampang terbentuk pikiran untuk bunuh diri pada responden I yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk percobaan bunuh diri.

Tabel I

Gambaran Pikiran Bunuh Diri Lina Metode percobaan bunuh

diri

Meminum obat serangga

Jumlah percobaan bunuh diri

1 kali

Faktor resiko Kondisi keuangan yang buruk dikarenakan suami Lina tidak mempunyai pekerjaan (unemployment), Lina yang kurang berpendidikan, dan kurangnya dukungan sosial dari orang di sekitar

Faktor pencetus pikiran bunuh diri

Kebutuhan untuk dihargai yang tidak terpenuhi (unmet esteem need) karena sering diremehkan Intensi untuk mati Berintensi untuk mati beberapa kali tetapi

mengurungkan niat ketika memikirkan nasib anaknya

Respon setelah

melakukan percobaan bunuh diri

Lina menyesal telah mencoba bunuh diri karena 3 bulan setelahnya ibunya mati dengan cara bunuh diri

Dokumen terkait