Tabel 1.Hasil Pengamatan Awal Penentuan Lokasi Penelitian
IFAS EFAS
5.6. Daya Dukung Budidaya Rumput Laut
peruntukkan budidaya rumput laut. Kelas (3) tidak sesuai yaitu sebesar 458,0 ha atau 20% dari luasan total sebesar 2.289,8 ha. Lahan kelas 3 ini memiliki nilai < 61dari nilai maksimum peruntukkan budidaya rumput laut. Lahan kesesuaian untuk budidaya ikan sebesar 385,1 ha atau 17% dari luasan total kawasan teluk.
Dengan demikian kawasan perairan Teluk Tamiang memenuhi kriteria lahan yang cukup luas untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii, sehingga memungkinkan mendapatkan jumlah produksi yang besar dengan mutu yang baik sesuai persyaratan tumbuh rumput laut.
5.6. Daya Dukung Budidaya Rumput Laut
Analisis daya dukung lahan perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Teluk Tamiang dengan total luasan kawasan teluk 2.298,8 ha dilakukan dengan pendekatan luasan areal budidaya berdasarkan metode budidaya yang diterapkan. Parameter yang menjadi acuan untuk menduga daya dukung adalah : 1. Luasan lahan perairan yang sesuai sangat efektif untuk budidaya rumput laut (a) Luasan lahan perairan teluk yang sangat sesuai efektif adalah luasan lahan perairan teluk yang sesuai yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya rumput laut secara terus menerus tanpa mengalami kerusakan dan mengganggu ekosistem pesisir di kawasan teluk secara keseluruhan berdasarkan analisis kesesuaian menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) program Arc View 3.3. Distribusi luasan lahan perairan teluk yang sangat sesuai sebesar 1.204,9 ha atau 53% dari luasan total teluk , sedangkan kesesuaian lahan sangat sesuai yang efektif sebesar 963,9 ha atau 80% dari luasan sangat sesuai. Untuk sesuai bersyarat sebesar 241,8 ha atau 10% dari luasan total teluk, sedangkan sesuai bersyarat efektif sebesar 60 ha atau 25% dari luasan sesuai bersayarat dan tidak sesuai sebesar 458 ha atau 20% dari luasan total teluk 2.289,8 ha yang meliputi perairan dangkal dan pesisir merupakan lahan yang terdiri atas beragam habitat dan komunitas yang secara ekologis penting dipertahankan keberadaannya berdasarkan lahan perlindungan ekosistem dan sumberdaya kawasan teluk yang ada kawasan teluk. Kesesuaian lahan untuk budidaya ikan sebesar 385,1 ha atau 17% dari luasan total teluk 2.289,8 ha.
2.Luasan unit budidaya berdasarkan metode budidaya
Luasan unit budidaya adalah besaran yang menunjukkan luasan dari 1 unit budidaya rumput laut. Luasan satu unit budidaya berbeda-beda tergantung pada metoda yang digunakan. Dalam kajian ini luasan satu unit budidaya rumput laut menggunakan metode long line (rawai/floating method), dengan luasan 0,0096 ha/unit, setiap unit terdiri dari panjang 12,2 meter dan lebar 8,6 meter.
3.Daya dukung lahan perairan teluk
Daya dukung lahan menunjukkan kemampuan maksimum lahan dalam mendukung aktivitas budidaya secara terus menerus tanpa penurunan kualitas. Berdasarkan pengertian ini dilakukan analisis daya dukung perairan teluk untuk pengembangan budidaya rumput laut dengan memperhatikan hasil dari analisis kesesuaian lahan. Berdasarkan analisis daya dukung lahan perairan teluk di wilayah pesisir untuk budidaya rumpu laut Eucheuma cottonii diperoleh kapasitas luasan efektif yang memenuhi syarat daya dukung yaitu sebesar 1.023,9 ha yang terdiri dari sangat sesuai 964 ha dan sesuai bersyarat 60 ha sehingga, sehingga diperoleh total jumlah unit yang dapat ditampung oleh kawasan teluk tersebut sebanyak 106.306 unit metode long line. Berdasarkan luasan tersebut, maka jumlah para pengusaha/investor yang dapat melakukan usaha budidaya bisa mencapai 10 (sepuluh) investor dengan mengacu pada ketentuan bahwa areal yang diperbolehkan minimal 100 ha, wajib melakukan pola kemitraan Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dengan perbandingan Inti 60% dan Plasma 40%.
5.7. Strategi Pengelolaan dan Pengembangan Sumberdaya Rumput Laut
Dalam pengelolaan sumberdaya perairan di kawasan pesisir Teluk Tamiang untuk pengembangan budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii) dilakukan melalui pendekatan SWOT yang dipakai dalam usaha penyusunan suatu rencana strategi pengelolaan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Teluk Tamiang guna mencapai tujuan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Berdasarkan hasil analisis dari total responden 25 orang yang terdiri dari Nelayan / Pembudidaya Rumput Laut sebanyak 18 responden, pihak Pemerintah sebanyak 5 responden, pihak swasta 2 responden dan data-data dari hasil
penelitian yang telah dilakukan, diperoleh keterangan dari unsur-unsur SWOT, yang meliputi :
1. Kekuatan
a. Responden dari Nelayan / Pembudidaya Rumput Laut
- Dukungan ketersediaan tenaga kerja lokal dengan struktur penduduk yang terdiri dari usia angkatan kerja yang mencukupi.
Sebanyak 553 jiwa angkatan kerja atau sekitar 90 % lebih penduduk Desa Teluk Tamiang berprofesi di sektor perikanan / kelautan, salah satunya pada usaha budidaya rumput laut sekitar 96 orang ( 5 kelompok petani pembudidaya ). Namun demikian, ketika waktu panen tiba terkadang membutuhkan tenaga kerja lain/buruh non budidaya rumput laut dari desa yang sama seperti buruh dari kapal penangkap ikan, petani, eks pekerja perusahaan kayu dan lain-lain. Tenaga kerja yang pada musim-musim tertentu bekerja pada sektor lain tersebut cukup besar jumlahnya sekitar 245 orang, sehingga pada waktu tertentu dibutuhkan sejumlah tenaga kerja asal non budidaya rumput laut yang ikut dalam usaha budidaya rumput laut.
Rencana adanya pusat pertumbuhan dan pengembangan Teluk dan Pesisir yang akan dibangun di Kabupaten Kotabaru untuk kegiatan budidaya rumput laut pada tahun 2007 seiring selesai dibangunnya Balai Penelitian Perikanan Pantai di Teluk Tamiang, jelas akan membuka kesempatan kerja dibidang budidaya laut khususnya budidaya rumput laut bagi masyarakat yang sebagian besar bermukim di daerah pesisir, juga akan mendukung pengembangan budidaya rumput laut di daerah ini. Dengan demikian menunjukkan bahwa tenaga kerja yang tersedia yang cukup di Teluk Tamiang merupakan salah satu modal dalam pengembangan usaha budidaya rumput laut.
Secara nasional, perkembangan jumlah pembudidaya bidang perikanan periode tahun 2000-2004, mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3,05% per tahun. Jumlah pembudidaya tersebut pada tahun 2000 sebanyak 2,18 juta jiwa dan pada tahun 2004 menjadi 2,46 juta jiwa. Khusus untuk budidaya laut mengalami kenaikan sebesar 30,66% dari tahun 2000 sebanyak 29.604 jiwa
sampai tahun 2004 sebesar 81.377 jiwa. Tenaga kerja di perusahaan perikanan budidaya, baik yang berstatus PMA maupun PMDN mengalami peningkatan dari 3.151 tenaga asing dan 154.173 tenaga lokal pada tahun 2000 meningkat menjadi 4.179 tenaga kerja asing dan 187.124 tenaga kerja lokal pada tahun 2004. Rumah Tangga Perikanan (RTP) budidaya secara keseluruhan berjumlah 1.288.465 unit pada tahun 2000 dan meningkat menjadi 1.401.884 unit pada tahun 2004.
Meningkatnya jumlah tenaga kerja dibidang budidaya laut baik PMA maupun PMDN menunjukkan bahwa tenaga kerja tersebut merupakan salah satu unsur yang sangat penting dan menunjang dalam kegiatan budidaya laut khususnya rumput laut di berbagai daerah yang memiliki lokasi potensial sebagai kawasan budidaya laut, termasuk wilayah Teluk Tamiang Kotabaru yang merupakan daerah pesisir yang potensial di Kabupaten Kotabaru untuk pengembangan budidaya rumput laut .
b. Responden dari Pemerintah
- Dukungan Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Budidaya Laut
Dalam program pembangunan daerah, sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor yang sangat penting dan strategis untuk menjadi tumpuan dalam mewujudkan tujuan pembangunan daerah. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kotabaru sangat memperhatikan potensi yang dimiliki wilayah ini, melalui salah satu program Renstrada Kabupaten Kotabaru, yaitu pengembangan dan peningkatan sarana/prasarana dan kelembagaan perikanan, pemanfaatan agribisnis/aquabisnis untuk peningkatan ekspor hasil perikanan., pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan serta pembinaan daerah pantai pesisir dan pulau-pulau kecil (Diskanlut, 2004).
Pembangunan akuakultur memiliki potensi yang sangat besar, baru seki-tar 3% lahan budidaya laut yang dimanfaatkan dari luasan total sekiseki-tar 38.490 km², sedangkan dibidang penangkapan ikan di laut telah mengalami kecende-rungan penurunan hasil tangkapan, yaitu pada tahun 2003 sekitar 60 ribu ton sedangkan tahun 2004 sekitar 57,9 ribu ton yang mengakibatkan sebagian para nelayan jarang melaut/mencari pekerjaan lain, sehingga kebijakan umum Pemda
yang diambil meliputi : pengendalian yang lebih intensif terhadap penangkapan ikan, pengembangan akuakultur dan peningkatan nilai tambah hasil perikanan.
Ditjen Budidaya dalam pembangunan akuakultur secara nasional diarahkan pada 3 (tiga) program, yaitu : 1) Program peningkatan produksi perikanan budidaya untuk ekspor (PROPEKAN), 2) Program peningkatan produksi perikanan budidaya bagi konsumsi masyarakat (PROKSIMAS) dan 3) Program perlindungan sumberdaya perikanan (PROLINDA). Adanya ketiga pro-gram tersebut menunjukkan dukungan yang kuat dari pemerintah dalam upaya menunjang pengembangan budidaya laut, khususnya budidaya rumput laut.
Pemerintah Kabupaten Kotabaru melalui Diskanlut dengan didukung oleh Pemerintah Pusat seperti Departemen Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan program pengembangan budidaya rumput laut sejak tahun 1990. Kegiatan Pemda dalam pengaturan mengenai lokasi yang direkomendasi, dilakukan terbatas dalam rangka melaksanakan aturan-aturan yang berkaitan dengan Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Keputusan Presiden No. 23 Tahun 1982 tentang Pengembangan Budidaya Laut di Perairan Indonesia dengan Petunjuk Pelaksanaan dari Menteri Pertanian (SK Mentan No. 473/Kpts/UM/7/1982). Ketentuan-ketentuan tersebut menugaskan Pemda untuk memberikan rekomendasi kepada masyarakat dan pengusaha yang akan melaksanakan usaha budidaya laut, dengan persayaratan teknis yang har us dipenuhi, meliputi : 1) Kemungkinan terdapatnya bibit / larva yang akan dibudidayakan 2) Keadaan lingkungan perairan (fisika, kimia dan biologi perairan) dan 3) Tidak terdapatnya pencemaran yang membahayakan baik biota yang dibudidayakan maupun bagi manusia yang mengkonsumsi hasil budidaya. Berdasarkan ketentuan/pengaturan lokasi usaha budidaya tersebut, adalah dimaksudkan untuk mencegah tumpang tindih pemanfaatan lahan (memiliki kekuatan hak pemanfaatan) dan lebih mengoptimalkan untuk keberlanjutan lahan budidaya bagi masyarakat dan pengusaha sehingga diperoleh jumlah produksi yang tinggi dan hasil akhir yang lebih baik.
c. Data dari Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil kajian dar i peneliti menyatakan bahwa kondisi biogeofisik perairan teluk Tamiang cukup layak untuk kegiatan budidaya rumput laut. Hal ini didasarkan berdasarkan hasil penelitian sekarang yang telah dilakukan, meliputi : parameter fisika, terdiri dari 1) Suhu, memiliki kisaran rata-rata 26,2-27,8ºC . Menurut Anggadiredja et al. (2006), kisaran suhu yang optimal disekitar rumput laut adalah 26ºC-30º C 2) Kedalaman, memiliki kedalaman rata-rata 6,2-14,0m. Menurut Sukardi et al dari Ditjenkanbud (2005), kedalaman tumbuh yang baik untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii
adalah 0,3-0,6m pada waktu surut terendah. 3) Pergerakan air : a. Arus, rata-rata kecepatan arus 18,3-36,6 cm/det. Menurut Kadi dan Atmaja (1988) dan Anggadiredja et al. (2006), kecepatan arus yang baik bagi budidaya Eucheuma
sp. adalah 20-40cm/detik. b. Gelombang, ketinggian gelombang di perairan Teluk Tamiang rata-rata 15-40 cm 4) Cahaya, pada kedalaman posisi tumbuh 30 cm memiliki prosentase intensitas cahaya antara 74,68-86,47% 5) Kecerahan, berkisar rata-rata 4,1-6,4 m 6) Keterlindungan dan Kondisi Substrat Dasar, berdasarkan pengamatan lokasi / kawasan Teluk Tamiang merupakan Teluk yang di depannya ada pulau-pulau penghalang dengan substrat dasr yang terdiri dari : karang, karang mati dan pecahan karang, pasir dan sebagian lumpur. Untuk parameter kimia, meliputi : 1) Salinitas, memiliki kisaran antara 32,3-35,2‰ dengan kisaran rata-rata 33,2-34,9‰. Menurut Kadi dan Atmaja (1988) menyatakan bahwa kisaran salinitas yang baik untuk pertumbuhan rumput laut adalah 30-34‰ 2) Oksigen Terlarut (DO), diperoleh nilai kisaran rata-rata 5,20-6,30 mg/l 3) Nitrat, memiliki nilai rata-rata berkisar antara 0,135-0,263 mg/l. Menurut Sulistijo (1987), kandungan nitrat yang mampu mendukung kehidupan dan pertumbuhan rumput laut adalah lebih besar 0,014 mg/l. 4) Orthofosfat, berada pada konsentrasi rata-rata 0,101-0,136 mg/l. Menurut Law (1969)
didalam Syahputra (2005), menyatakan bahwa perairan dengan kandungan orthofosfat diatas 0,110 mg/l adalah tergolong perairan dengan kriteria subur. Untuk parameter biologi, terdiri dari : 1) Biota Pengganggu, seperti tumbuhan penempel (hypnea, dictyota dan alga-alga filamen), ikan beronang, bintang laut, ikan-ikan kecil seperti siganidae dan lain-lain 2) Panjang Thallus dan Jumlah
Cabang, dapat mencapai 47,2 cm dan 121,5 cabang dengan umur 2 bulan 3) Berdasarkan Berat, dapat mencapai 540,5 gr basah dan 124,6 gr kering 4) Kadar Karaginan, dapat mencapai 52,11 %.
Berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi perairan pada Teluk Tamiang menunjukkan kisaran nilai yang layak untuk menunjang dilaksanakannya kegiatan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii.
- Memiliki Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung yang memadai
Hasil analisis spasial untuk kesesuaian lahan diperoleh luasan lahan perairan teluk yang sesuai untuk budidaya rumput laut yang terdiri dari 3 kelas, yaitu Kelas (1) sangat sesuai dengan luasan lahan sebesar 1204,9372 ha atau 53%. Kelas (2) sesuai bersyarat dengan luasan sebesar 241,8028 ha atau 10%. Kelas (3) tidak sesuai yaitu sebesar 457,96 ha atau 20%.
Analisis daya dukung lahan perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Teluk Tamiang dengan total luasan kawasan teluk 2.298,8 ha. dilakukan dengan pendekatan luasan areal budidaya berdasarkan metode budidaya yang diterapkan.
Luasan lahan perairan teluk yang potensial adalah sebesar 1831,84 ha, sedangkan untuk luasan aktual sebesar 1446,74 ha dan luasan efektif untuk budidaya rumput laut meliputi distribusi luasan lahan perairan teluk yang sangat sesuai efektif sebesar 963,9498 ha atau 42,1% dan pada sesuai bersyarat sebesar 60 ha atau 25 % dari luasan total sesuai bersyarat untuk budidaya rumput laut
Eucheuma cottonii dan setalah dikurangi dengan area kegiatan lalu lintas kapal internal dan eksternal sebesar 240,9874 ha (20% dari luasan sangat sesuai) dan 181,8028 (dari luasan sesuai bersyarat), maka lahan total efektif untuk budidaya rumput laut tersebut menjadi sebesar 1023,9498 ha atau 44,71% dari luasan total teluk sebesar 2.289,8 ha.
Luasan unit budidaya berdasarkan metode budidaya dalam kajian ini luasan satu unit budidaya rumput laut menggunakan metode long line (rawai/floating method), dengan luasan 0,009632 ha/unit, setiap unit terdiri dari panjang 12,2 meter dan lebar 8,6 meter.
Berdasarkan analisis daya dukung lahan perairan teluk di wilayah pesisir untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii diperoleh luasan potensi sebesar 1831,84 ha, luasan aktual sebesar 1446,74 ha, sehingga diperoleh kapasitas luasan efektif yang memenuhi syarat daya dukung yaitu sebesar 963,9498 ha (kelas sangat sesuai) yang dapat menampung 100.077 unit dan 60 ha (sesuai bersyarat) yang dapat menampung 6.229 unit, sehingga diperoleh total jumlah unit yang dapat ditampung oleh kawasan teluk tersebut sebanyak 106.306 unit metode long line.
Berdasarkan data tentang kondisi perairan yang telah diperoleh baik dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lahan perairan Teluk Tamiang memenuhi kriteria yang layak / sesuai dengan ditunjang daya dukung yang cukup dal am pengembangan kegiatan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii.
2. Kelemahan
a. Responden dari Nelayan / Pembudidaya Rumput Laut - Ketersediaan / Introduksi Bibit Unggul yang masih rendah
Kegiatan budidaya rumput yang telah dilakukan pembudidaya mengalami hambatan. Pada awal musim tanam biasanya bibit harus disediakan dari lokasi lain seperti Sulawesi Selatan dan Bali serta sebagian lokal .
Hal ini terjadi ketika musim hujan pertumbuhan rumput laut tidak sebaik musim kemarau karena fluktuasi salinitas yang rendah dan intensitas matahari rendah yang akan berpengaruh terhadap hasil fotosintesa sehingga produksi tidak optimal, juga akibat gangguan penyakit dan kondisi alam yang fluktuatif seringkali kegiatan budidaya terganggu. Oleh karena itu diperlukan bibit unggul yang cenderung adaptif yang tinggi terhadap fluktuasi kondisi perairan.
Sasaran total areal pengembangan / target penyediaan kebun bibit rumput laut Eucheuma spp pada tahun 2006 sekitar 884 ha sampai tahun 2009 sekitar 1.500 ha di seluruh Indonesia, untuk Propinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2006 sekitar 5 ha dan sampai tahun 2009 sekitar 8 ha (DKP,2005).
Menurut para pembudidaya, bahwa selama ini penggunaan bibit dari suatu daerah tertentu ada kalanya berkembang dengan baik namun bibit yang sama dicoba pada lokasi lainnya tak dapat tumbuh sebagaimana yang diharapkan.
Penggunaan bibit yang secara terus menerus dari sumber rumpun dan lokasi yang sama ada kalanya mengalami pertumbuhan yang terus menurun bahkan stagnan. Untuk menjamin kelangsungan produksi budidaya dengan baik maka ketersediaan bibit unggul sangat diharapkan. Hampir di seluruh Indonesia, salah satu kendala dan kelemahan dalam kegiatan budidaya rumput laut adalah belum tersedianya bibit unggul yang memenuhi kriteria kemampuan adapasi tinggi terhadap fluktuasi lingkungan perairan. Para petani pembudidaya rumput laut merasakan sekali betapa sangat pentingnya keberhasilan budidaya rumput laut yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bibit yang berkualitas.
Pembudidaya rumput laut saat ini lebih dominan mengandalkan bibit lokal, hal ini mempertimbangkan waktu dan biaya serta keefisienan transportasi. Kemampuan menyediakan bibit yang berkualitas dalam kegiatan budidaya rumput laut adalah merupakan salah satu kendala dan kelemahan dalam menentukan perencanaan dan pengelolaan lokasi yang tepat walaupun kondisi perairan mendukung, sehingga akan berdampak terhadap kuantitas dan kualitas hasil akhir rumput laut.
Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan dan daya dukung, dengan kapasitas efektif 1023,9498 ha dan diperoleh 106.306 unit long line , maka jumlah bibit dengan berat awal masing-masing 80 gr, akan didapat total jumlah bibit yang dibutuhkan kawasan teluk tersebut yaitu sebesar 1360,7168 ton basah.
Dengan demikian unsur ketersediaan bibit unggul mutlak dilakukan di suatu daerah dengan menerapkan sistem pilot project dan pengembangan kebun bibit unggul rumput laut Eucheuma spp guna meningkatkan produksi dan kualitas yang tinggi.
- Kurangnya Seleksi Pemanenan Hasil dan Produksi secara Optimal
Para pembudidaya saat ini melakukan pemanenan hasil budidaya yang berbeda dengan pemanenan pada awal budidaya rumput laut, ketika itu sepenuhnya/seluruhnya dipanen tanpa menyisakan untuk bibit pada tali risk . Saat ini seluruh tanaman dipanen, selanjutnya dipilih thallus yang muda diperkirakan 10-20% dari keseluruhan hasil panen untuk digunakan sebagai benih pada musim tanam berikutnya dan sebagian juga ada pemanenan hasil
dengan cara menyisakan bagian pangkalnya di tali risk tanpa membuka ikatannya dengan maksud lebih memudahkan pembudidaya dalam pengadaan benih sehingga mengurangi biaya yang seharusnya dikeluarkan bagi pekerja pengikatan / penanaman benih ke tali risk yang bagi pembudidaya cukup berarti besarnya. Akan tetapi kebiasaan cara panen seperti ini diduga memberikan hasil dengan kandungan karaginan yang lebih rendah karena benihnya merupakan tanaman tua walaupun memberikan laju pertumbuhan yang cukup cepat.
Dari segi penanganan hasil oleh pembudidaya, faktor sanitasi dan higienis kurang diperhatikan, terkadang ada tumbuhan/ kotoran lain yang menempel tidak dibersihkan dan langsung dijemur di lantai/atas tanah yang dialasi dengan tikar, hal ini mengakibatkan juga penurunan terhadap kualitas rumput laut itu sendiri. - Masih Terbatasnya Teknologi dan Komoditas yang dikembangkan ( ketidakta- huan tehnis dan Peluang Pasar)
Saat ini para pembudidaya rumput laut di Teluk Tamiang dalam kegiatan budidaya menggunakan tehnik / metode yang sederhana. Berawal dari pengikatan bibit ke tali risk sehingga bisa menempel (bukan posisi gantung), jarak antar bibit sekitar 10-15 cm, jarak antar tali risk sekitar 30-50 cm, posisi tanam yang kadang terapung di permukaan, pemakaian pelampung dari botol-botol berbahaya seperti botol-botol obat nyamuk dan lain-lain yang mengakibatkan produk akhir kurang baik. Pada tahap pemeliharaan, jarang sekali dilakukan pengontrolan terhadap pertumbuhan rumput laut, maka tidak jarang terdapat kotoran / biota lain yang menempel baik pada bibit, tali risk atau tiang bambu yang ditancapkan untuk pengikat tali risk utama.
Selanjutnya, jenis rumput laut yang digunakan hanya terbatas pada
Eucheuma cottonii, padahal berdasarkan kajian perairan menunjukkan bahwa untuk jenis lain seperti Gracilaria sp. dan lain-lain memungkinkan bisa tumbuh di perairan Teluk Tamiang.
- Pengolahan Produk dan Sistem Akuabisnis yang belum lancar
Hasil panen oleh pembudidaya dijual dalam bentuk sebagian besar (dominan) sekitar 90% rumput laut kering non olahan (raw material) dan
sebagian kecil atau sekitar 10% dalam bentuk olahan makanan (bukan dalam bentuk ekstraksi untuk bahan industri yang memiliki nilai jual tinggi, seperti tepung karaginan). Rumput laut terdiri dari pengeringan yang menghasilkan rumput laut kering asin dan tawar, pembuatan dodol, manisan rumput laut, sirup rumput laut dan kerupuk rumput laut.
Dalam sistem akuabisnis / tata ni aga hasil yang telah diterapkan, sebagian besar rumput laut basah yaitu sekitar 90 % di jual ke pengumpul (perwakilan sebuah perusahaan) dan sekitar 10% dijual ke pengolah. Para pembudidaya dari ke 5 kelompok yang ada sudah mengikat perjanjian usaha dengan sebuah perusahaan rumput laut. Modal usaha diberikan oleh pihak perusahaan, namun disisi lain para pembudidaya tidak bisa bebas menjual hasil produksinya dan tidak dapat menentukan harga karena telah ditetapkan oleh perusahaan yang mendominasi rumput laut di kawasan Teluk tersebut. Harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut saat ini adalah sebesar Rp. 3.200-Rp. 4.000 / kg kering. Dengan demikian, posisi pembudidaya adalah sangat lemah dalam pemasaran untuk menjual hasil produksinya dengan harga yang layak.
- Kelembagaan dan Permodalan yang terbatas
Petani pembudidaya rumput laut diawal usahanya membutuhkan modal usaha yang cukup besar sekitar 4-7 juta rupiah untuk biaya investasi dan biaya operasional. Besarnya modal usaha yang dipergunakan menentukan besarnya skala usaha yang dijalankan pembudidaya. Kesulitan dalam mendapatkan modal yang memadai ditambah kekuatiran mengalami gagal panen, maka para pembudidaya pada akhirnya meminjam modal kepada pengumpul / tengkulak (perwakilan perusahaan). Kelima kelompok pembudidaya, kesemuanya memperoleh pinjaman modal usaha dari tengkulak, dan diharuskan menjual hasil panennya kepada tengkulak yang bersangkutan. Lembaga permodalan formal seperti bank atau BPR belum ada, demikian juga koperasi. Para ketua dan kelompok pembudidaya sangat berperan antara lain dalam sumbang saran untuk saling berbagi pengalaman berusaha, untuk memperkuat bergaining position
Lembaga pendukung utama untuk kegiatan budidaya rumput laut (yaitu pemerintah dan kelompok pemboudidaya) belum banyak berperan bahkan lembaga penyedia permodalan masih menggunakan tengkulak atau ”bank keliling” dari sebuah perusahaan yang mendominasi di daerah tersebut. Kondisi kelembagaan ini secara tidak langsung mengakibatkan pada posisi tawar pembudidaya menjadi rendah, karena modal usaha yang berasal dari tengkulak