• Tidak ada hasil yang ditemukan

Debit Banjir Rencana

Dalam dokumen Laporan Akhir Pengendalian Banjir (Halaman 191-200)

DAN SUNGAI CONDONG

A. Debit Banjir Rencana

Debit banjir rencana yang digunakan untuk perencanaan bangunan di hitung dengan menggunakan pendekatan persamaan empiris maupun pendekatan teoritis. Cara perhitungan debit banjir yang digunakan pada pekerjaan ini menggunakan hasil perhitungan pendekatan teoritis dengan empat metode, yaitu cara unit hidrograf HSS ITB 1, cara unit hidrograf HSS ITB 2, unit hidrograf Snyder dan unit hidrograf Nakayasu. Hasil perhitungan debit banjir untuk berbagai periode ulang dan hasil perhitungan debit disajikan pada tabel berikut:

Tabel 8. 4 Resume Debit Banjir Rencana DAS Pekik

Dengan menggunakan skema sistem sungai tersebut maka hasil perjalanan air banjir Sungai Pekik dapat diperkirakan dengan mekanisme yang ada misalkan dengan analisa HEC RAS untuk kondisi palung sungai yang asli (existing). Analisis tersebut dapat dilihat pada Bab V. Adapun asumsi dalam perhitungan menggunakan perangkat model matematik dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Penampang melintang dan memanjang sungai adalah dari hasil pengukuran 2. Elevasi muka air laut yang digunakan sebagai boundary condition adalah

muka air laut rata-rata (MSL) setinggi = 0,55 m, bukan muka air laut tertinggi rata-rata (HWL) = 1,10 m yang akan digunakan untuk perencanaan banjir. 3. Jika terjadi luapan diatas tanggul maka anggapannya air banjir akan mengallir

kearah hilir dengan lebar penampang basah sekitar 1000 m atau lebih pada elevasi tanah di kaki luar tanggul.

4. Jika pada salah satu ruas terjadi limpasan (over topping) maka tinggi muka air di hulunya dihitung berdasarkan ketinggian air diatas ruas yang melimpas termasuk dalam kasus limpasan diatas ruas bangunan melintang.

2 5 10 25 50 100

HSS ITB 1 70.66 88.24 99.28 109.50 122.37 131.84 HSS ITB 2 91.77 114.89 129.40 142.83 159.75 172.18 SNYDER 128.35 161.04 181.55 200.55 224.48 242.07 NAKAYASU 195.86 246.24 277.83 307.11 343.96 371.07

REKAPITULASI DEBIT BANJIR DAS PEKIK

5. Kemiringan memanjang penampang basah menyesuaikan kaidah kondisi geometri palung dan bantaran banjir serta kemiringan tanah di kaki luar tanggul khusus untuk pengaliran debit limpasan.

Gambar 8. 17 Skema Model HEC – RAS Sistem Sungai Pekik

Hasil perhitungan HEC-RAS untuk Sungai Pekik dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Tabel 8. 5 Debit Eksisting di Sungai Pekik

No. Luas (m2) Debit (m3/s)

P.10 5530 110.60 P.9 5057 101.14 P.7 5012 100.24 P.3 3669 73.38 Gambar

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa ruas Sungai Pekik dari pertemuan Sungai Pekik dengan Sungai Siperawan tidak mampu lagi mengalirkan air banjir rencana sesuai dengan debit rencana, kecuali pada areal sekitar jembatan jalan raya Cirebon – Indramayu karena telah terjadi pelebaran alur sungai.

Dengan dibagunnya tandon banjir/retarding basin maka akan memberikan kontribusi penurunan debit banjir. Untuk mendekati kejadian perjalanan puncak banjir dengan mengeliminasi variabel waktu dan pengaruh routing perjalanan banjir.

8.5.2 Sungai Condong

Sungai Condong merupakan sungai kecil yang mengalir dari saluran pembuang di desa Plumbon dan bermuara di Laut Jawa. Permasalahan genangan banjir utama adalah akibat kapasitas Sungai Condong tidak mampu menampung debit banjir dengan periode ulang 2 tahun (20,3 m3/detik).

Banjir terjadi di pemukiman penduduk yang padat, sehingga pembuatan tanggul dengan standard bantaran tidak dapat dilakukan. Pada muara Sungai Condong terjadi penyempitan dan bermeander sehingga merupakan salah satu penyebab terjadinya hambatan aliran yang berakibat meluapnya air Sungai Condong. Kapasitas sungai diareal pemukiman padat sangat terbatas, sehingga perlu upaya struktur untuk memperbesar kapasitas sungai tanpa pembuatan tanggul.

Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan pada Sungai Condong perlu upaya sebagai berikut :

1. Pembuatan sudetan di muara Sungai Condong untuk memperlancar aliran sungai langsung ke laut. Sudetan merupakan cara sederhana mereduksi panjang alur sungai bermeander, menurunkan tingkat kekasaran alur sungai dengan pengerukan dan pengendalian trase / alinyemen sungai.

2. Pembuatan groundsill/end-sill dengan ambang rendah (hampir setinggi elevasi dasar eksisting) di hilir jembatan, untuk mempertahankan dasar sungai agar tidak tererosi (agar tidak terjadi degradasi dasar sungai) dan menghindari tergerusnya pondasi jembatan, akibat dibangunnya sudetan.

3. Pembuatan perkuatan tebing dari beton sycloop di lokasi padat penduduk dan normalisasi Sungai Condong, sehingga kapasitas tampungan dapat ditingkatkan.

4. Pembuatan tandon banjir/retarding basin/polder di hulu lokasi Perkuatan Tebing dengan tanggul keliling agar kapasitas lebih besar. Outlet dibuat dengan konstruksi flume menyatu dengan perkuatan tebing di hilirnya.

A. Debit Banjir Rencana

Debit banjir rencana yang digunakan untuk perencanaan bangunan di hitung dengan menggunakan pendekatan persamaan empiris maupun pendekatan teoritis. Cara perhitungan debit banjir yang digunakan pada pekerjaan ini menggunakan hasil perhitungan pendekatan teoritis dengan empat metode yaitu cara unit hidrograf HSS ITB 1, cara unit hidrograf HSS ITB 2, unit hidrograf Snyder dan unit hidrograf Nakayasu. Hasil perhitungan debit banjir untuk berbagai periode ulang dan hasil perhitungan debit disajikan pada tabel berikut:

Tabel 8. 6 Resume Debit Banjir Rencana DAS Condong

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa ruas Sungai Condong dari pertemuan dua sungai ke hilir sungai tidak mampu lagi mengalirkan air banjir rencana sesuai dengan debit rencana.

Dengan dibangunnya tandon banjir/retarding basin maka akan memberikan kontribusi penurunan debit banjir. Jika analisis diperhitungkan secara sederhana, maka pengaruh penurunan puncak banjir Sungai Condong bagian hulu di lokasi rencana waduk adalah sekitar 50%. Artinya secara umum rata-rata penurunan puncak banjir Sungai Condong dengan beberapa periode ulang berkurang menjadi 50% di lokasi retarding.

Pengaruh yang signifikan terhadap penurunan debit bisa diartikan karena pengaruh karakter daerah aliran sungai yang melebar pada ruas sungai bagian hulu yang mengakibatkan kecilnya waktu konsentrasi sedang pada bagian hilir waktu konsentrasinya relatif lebih lama.

2 5 10 25 50 100 HSS ITB 1 30.00 39.53 47.04 58.00 67.32 77.69 HSS ITB 2 70.20 93.21 111.34 137.79 160.28 185.30 SNYDER 43.259 57.237 68.252 84.323 97.988 113.189 NAKAYASU 164.76 207.50 234.31 259.15 290.41 313.24 PERIODE ULANG REKAPITULASI DEBIT BANJIR DAS CONDONG METODE

Gambar 8. 18 Skema Model HEC – RAS Sistem Sungai Condong

Dengan menggunakan skema sistem sungai tersebut maka hasil perjalanan air banjir Sungai Condong dapat diperkirakan dengan mekanisme yang ada misalkan dengan analisa HEC RAS untuk kondisi palung sungai yang asli (eksisting). Analisis tersebut dapat dilihat pada Bab V.

Hasil perhitungan HEC-RAS untuk Sungai Condong dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Tabel 8. 7 Debit Eksisting di Sungai Condong

No. Luas (m2) Debit (m3/s)

4183 83.66

2179 43.58

4172 83.44

2665 53.3

Untuk mendekati kejadian perjalanan puncak banjir dengan

mengeliminasi variabel waktu dan pengaruh routing perjalanan banjir maka

analisis debit banjir rencana dengan memasukkan variable pengaruh pembangunan tandon banjir/retarding basin didekati dengan perhitungan sebagai berikut :

Besarnya debit Sungai Condong akibat ada tandon banjir/retarding basin pada lokasi pertemuan dua sungai (di titik tinjauan) Q inlet 1 + Q inlet 2 adalah debit Sungai Condong sampai titik tinjauan di Sungai Condong bagian hilir Q

Hilirdikurangi dengan pengaruh retensi banjir Qretensi (Qinlet 1 + Qinlet 2) = QHilir- Qretensi

Dengan menggunakan hasil perhitungan tersebut maka skematisasi sistem Sungai Condong dengan adanya Retarding Banjir dapat diperkirakan dengan hasil sebagaimana skematisasi berikut ini.

Pengaturan sungai dan perbaikan alur adalah metode yang paling umum untuk menurunkan tinggi muka air banjir. Cara-cara sederhana misalkan mereduksi panjang alur sungai bermeander dengan sudetan, menurunkan tingkat kekasaran alur sungai dengan pengerukan dan pengendalian trase/alinyemen sungai.

Penggunaan debit rencana untuk pekerjaan ini diusulkan dengan mengunakan debit dominan Q2 tahun untuk sudetan alur palung sungai. Pengendalian sungai tertentu misalkan pengendalian erosi dengan perbaikan alur dapat menggunakan periode ulang 25 tahun dan periode ulang 50 tahun untuk perencanaan talud tanggul.

Pembuatan sudetan di muara Sungai Condong untuk lebih memperlancar aliran sungai langsung ke laut. Sudetan merupakan cara sederhana mereduksi panjang alur sungai bermeander, menurunkan tingkat kekasaran alur sungai dengan pengerukan dan pengendalian trase / alinyemen sungai.

Untuk mempertahankan dasar sungai agar tidak tererosi (agar tidak terjadi degradasi dasar sungai) dan menghindari tergerusnya pondasi jembatan, akibat dibangunnya sudetan, perlu pembuatan Ground-sill / End-sill dengan ambang rendah (hampir setinggi elevasi dasar existing) di hilir jembatan.

Hal-hal yang perlu untuk dipertimbangkan untuk perencanaan sudetan antara lain:

a. Menentukan kendala geologi yang terdapat di sepanjang sungai dan trase sudetan yang diusulkan

b. Identifikasi bahan-bahan alami di dalam saluran yang akan digali

c. Mencari dimensi yang stabil untuk saluran baru berdasarkan pada hubungan bentuk sungai

d. Memperkirakan respon jangka pendek dan jangka panjang akibat penanganan perbaikan alur

e. Menentukan kebutuhan usaha pengendalian untuk mereduksi dampak dari perubahan bentuk alur sungai.

f. Erosi tebing di bagian hulu sudetan g. Perubahan bentuk sungai

h. Stabilitas tebing

Oleh sebab itu perlu pembuatan perkuatan tebing sekaligus berfungsi sebagai tembok penahan banjir terbuat dari beton sycloop dan normalisasi Sungai Condong, sehingga kapasitas tampungan dapat ditingkatkan dan menghindari erosi pada tebing sungai terutama pada lokasi padat penduduk.

Tembok penahan banjir adalah timbunan memanjang yang dibangun kira-kira sejajar dengan arah sungai. Tembok penahan banjir di Sungai Condong hanya mempunyai bantaran sungai minimum untuk mempertahankan pondasinya. Bantaran minimum harus ditentukan berdasarkan pada faktor-faktor berikut:

a. Potensi gerakan alami dari alur sungai b. Kapasitas banjir yang diperlukan

c. Dampak yang terjadi pada pengembangan lahan

Analisis hidrolika dilakukan untuk mengetahui profil memanjang muka air sungai pada kondisi banjir rencana. Kekasaran hidrolik dari permukaan sungai termasuk pengaruh dari bentuk dasar sungai dan daerah genangan banjir harus diperhitungkan secara hati-hati ketika menghitung tinggi muka air rencana.

Pertimbangan-pertimbangan yang akan dilakukan pada saat merancang tembok penahan banjir adalah:

a. Erosi

b. Stabilitas lereng c. Penurunan

e. Elevasi Puncak

f. Degradasi dasar sungai

g. Kelancaran sistim drainasi dari luar tanggul.

8.6 SISTEM PENGENDALIAN BANJIR DAN GENANGAN SUNGAI

Dalam dokumen Laporan Akhir Pengendalian Banjir (Halaman 191-200)

Dokumen terkait