BAB II : KEBERAGAMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA
1. Definisi Anak Jalanan
Pengertian anak jalanan telah banyak disampaikan oleh para ahli dan lembaga terkait yang memiliki perhatian terhadap anak jalanan. Salah satunya adalah UNICEF1 dengan memberikan definisi sebagai berikut:
a. Anak jalanan adalah mereka yang masih di bawah umur (minor) yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan menggelandang di jalanan-jalanan kota.
b. Anak jalanan adalah mereka yang menjadikan jalanan sebagai rumah mereka sehingga merupakan suatu situasi di mana mereka tak memiliki perlindungan, pengawasan, atau
1
UNICEF adalah singkatan dari "United Nations Emergency Children's Fund" sebuah organisasi internasional di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) yang bergerak di bidang kesehatan dan gizi, air dan kebersihan lingkungan, perlindungan, serta pendidikan dan HIV/AIDS, dalam rangka bantuan kemanusiaan pasca perang dunia II, yang mengkhususkan pada bantuan kemanusiaan anak-anak yang ada di dunia. Unicef didirikan oleh majelis umum PBB pada tanggal 11 Desember 1946 untuk membantu dan memberikan bantuan darurat dalam bentuk berupa makanan, obat-obatan, dan pakaian untuk anak-anak Eropa dan juga pada masa peperangan di Cina, yang menjadi korban peperangan.
(http://iphenimnus.blogspot.co.id/2013/04/organisasi-unicef-united-nations_12.html, diakses pada 15 Februari 2017)
pengarahan dari orang-orang dewasa yang bertanggung jawab.2
Dalam peraturan daerah Kota Semarang Nomor 5 tahun 2014 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang berusia di bawah 18 tahun. Sedangkan anak jalanan adalah anak yang bekerja di jalanan, dan/atau anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.3
Menurut Direktorat Bina Sosial Depsos, yang termasuk anak jalanan adalah anak yang berkeliaran di jalanan sambil bekerja, mengemis, atau menganggur saja. Usianya bisa berkisar dari bayi (dibawa orang tua bekerja) sampai usia remaja.4
Menurut Trisnadi, anak jalanan adalah seseorang yang berumur di bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan untuk melakukan kegiatan guna mendapatkan uang atau mempertahankan hidupnya. Jalanan yang dimaksud tidak hanya menunjuk pada pengertian jalan
2
Eka Suaib, dkk, Anak Jalanan ( Latar Belakang, Dinamika Sosial, dan Jaringan), (Yogyakarta: Leutikaprio, 2015), 10
3
Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan, Gelandangan, dan Pengemis di Kota Semarang, Pasal I Butir 10 dan 11
4
Nur Ida, Antusiasme Anak Jalanan Pada Pembinaan Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca di Alun-alun Kota Malang (Fenomena Antusiasme Anak Jalanan),(Tesis, Universitas Negeri Malang,2009), 13
raya saja, tetapi juga menunjuk pada ruang publik lain seperti pasar, tempat perbelanjaan, alun-alun, stasiun, terminal, atau tempat umum lainnya.5
Definisi lain mengatakan bahwa anak jalanan adalah anak yang belum dewasa (secara fisik dan psikis), tersisih, marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih sayang karena harus berhadapan dengan lingkungan yang keras dan tidak bersahabat. Umumnya anak jalanan besar dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar belakang kehidupan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan berperilaku negatif.6
Sebagai bagian dari pekerja anak (child labour), anak jalanan sendiri bukanlah kelompok yang homogen. Mereka sangat beragam, yang dapat dibedakan atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orang tua atau orang dewasa terdekat, waktu dan jenis kegiatannya di jalanan. Secara garis besar, karakteristik anak jalanan dapat dibedakan menjadi 4 (empat) kelompok:
Pertama, children on the street, yakni anak-anak yang memiliki kegiatan ekonomi di jalan, namun masih memiliki
5
WiwiedTrisnadi, Lika-liku Pendampingan Anak Jalanan Perempuan di Yogyakarta (Yogyakarta: Mitra Wacana, 2004), 5.
6
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak, (Jakarta: Kencana, 2016), cet. ke 3, 199
hubungan yang kuat dengan orang tua. Kedua, children of the
street, yaitu anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan,
baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Ketiga, children
from families of the street, yaitu anak-anak yang berasal dari
keluarga yang hidup di jalanan. Meskipun mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang erat dengan orang tua, namun mereka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap dan cenderung pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.7 Salim menambahkan kategori anak jalanan dengan memasukkan istilah vulnerable to be street children (Anak yang rentan menjadi anak jalanan). Istilah ini menggambarkan anak yang menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di jalanan dengan ciri bekerja di jalanan antara 2-4 jam, masih sekolah dan hubungan dengan orang tuanya masih teratur.8
Penggunaan istilah anak jalanan sendiri seharusnya dipahami; pertama, pengertian sosiologi yaitu menunjukkan adanya aktivitas kelompok anak yang berkeliaran di jalan-jalan. Kedua, pengertian ekonomi yakni adanya aktivitas anak untuk mencari nafkah di jalanan, karena keterdesakan ekonomi
7
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak..., 200-201
8
Agus Salim, Pengantar Sosiologi Makro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 192
dengan faktor orang tua yang kurang mampu.9 Jadi, anak jalanan adalah anak yang mempunyai aktifitas dan menghabiskan waktunya di jalanan baik sebagian atau keseluruhan untuk bermain atau bekerja, yang masih memiliki hubungan dengan keluarga maupun tidak.
Dari beberapa definisi di atas, maka konsep anak jalanan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anak jalanan yang berusia di bawah 18 tahun yang masih membutuhkan pendampingan dan kasih sayang, berasal dari keluarga tidak mampu, memiliki rumah atau tidak memiliki rumah, bersekolah atau tidak bersekolah, dan sebagian besar dari mereka memiliki aktivitas di jalan baik terus menerus atau pulang berkala dalam rangka mencari nafkah atau tidak (bermain, berkeliaran, dst).
Marginal, rentan dan eksploitatif adalah istilah-istilah yang relevan untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan yang tidak jelas jenjang karirnya, kurang dihargai, dan umumnya tidak menjanjikan prospek apapun di masa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung karena pekerjaan yang mereka lakukan berdampak buruk terhadap kesehatan maupun sosial. Adapun disebut exploitative karena
9Anis Fitriyah dan FaizahNoer Laila, “Pengaruh Bimbingan Konseling Islam terhadap Penigkatan Moral Anak Jalanan di Sanggar Alang-Alang Surabaya”, Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, Vol. 03, No. 01, (2013), 103
biasanya mereka memiliki posisi tawar menawar yang sangat lemah, tersubordinasi, dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenang-wenang dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Masalah yang dihadapi anak jalanan sangat kompleks, setidaknya masalah prioritas yang membutuhkan penanganan serius adalah sebagai berikut:
a. Gaya hidup dan perilaku anak jalanan yang sering kali membahayakan keselamatan dirinya, seperti perilaku
ngelem, seks bebas, berkelahi, dan sebagainya.
b. Gangguan kesehatan berkaitan dengan kondisi lingkungan dan jam kerja yang lama dan melampaui batas untuk anak seusia mereka.
c. Minat dan kelangsungan pendidikan anak jalanan yang relatif rendah dan terbatas akibat tidak memiliki waktu yang cukup dan memadai untuk belajar.
d. Kondisi dan latar belakang kehidupan sosial-psikologis orang tua yang relatif miskin dan kurang harmonis, sehingga tidak kondusif bagi proses tumbuh kembang anak dengan baik dan optimal.
e. Adanya bentuk intervensi dan sikap sewenang-wenang dari pihak luar terhadap anak jalanan, baik atas nama hukum maupun dari preman dan jaringan lain yang memanfaatkan keberadaan mereka.
f. Adanya kekeliruan persepsi dan sikap prejudice sebagian warga masyarakat terhadap keberadaan anak jalanan.
g. Mekanisme koordinasi dan sistem kelembagaan penanganan anak jalanan yang belum berkembang secara baik, baik antara pemerintah dengan LSM maupun persoalan intern di dalam lembaga itu sendiri.10
Dari beberapa isu prioritas anak jalanan di atas, maka sangat diperlukan upaya sinergis dan berkelanjutan untuk melakukan pembinaan terhadap anak jalanan dengan melibatkan instansi terkait, lembaga, atau organisasi yang
concern terhadap anak jalanan atau anak yang memilik masalah
sosial.