BAB III METODE PENELITIAN
3.3. Definisi Konsep dan Indikator Peneltian
Definisi konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat adalah Terjadinya peningkatan keterlibatan Rumah Tangga Miskin (RTM) dan kelompok perempuan dalam pelaksanaan PNPM-MPd mulai dari perencanaan hingga pelestarian.
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : Terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM-MPd
b) Efisiensi : Proses peningkatan partisipasi masyarakat berjalan secara efisien dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : Partisipasi masyarakat mampu menunjang proses pelaksanaan PNPM-MPd menjadi lebih baik
d) Perataan : Partisipasi masyarakat terjadi secara merata di tingkat desa e) Responsivitas : Proses peningkatan partisipasi telah memuaskan
masyarakat
f) Ketepatan: Partisipasi masyarakat mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
2. Pelembagaan Pembangunan Partisipatif adalah Terbentuknya suatu sistem norma yang membentuk perilaku masyarakat untuk turut terlibat dalam proses pembangunan
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : Terbentuknya lembaga pembangunan partisipatif
b) Efisiensi : Proses pembentukan lembaga partisipatif berjalan secara efisien dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : Lembaga pembangunan partisipatif berperan dalam menunjang kegiatan-kegiatan yang dibentuk masyarakat pada program resmi pemerintah maupun program yang disusun sendiri oleh masyarakat d) Perataan : lembaga pembangunan partisipatif terjadi secara merata di desa e) Responsivitas : lembaga pembangunan partisipatif telah memuaskan
masyarakat
f) Ketepatan: lembaga pembangunan partisipatif mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
3. Pengembangan Kapasitas Pemerintahan Desa adalah Terbentuknya suatu kondisi dan perilaku dalam sistem pemerintahan desa untuk memahami dan melaksanakan pembangunan dalam arti luas dan berkelanjutan
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : Terjadi peningkatan kapasitas pemerintahan desa
b) Efisiensi : Proses peningkatan kapasitas pemerintahan desa berjalan efisien dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : peningkatan kapasitas pemerintahan desa dapat menjadi wadah aspirasi dan menstimulasi masyarakat dalam melakukan kegiatan partisipatif
d) Perataan : peningkatan kapasitas pemerintahan desa terjadi pada seluruh desa di kecamatan
e) Responsivitas : peningkatan kapasitas pemerintahan desa telah memuaskan masyarakat
f) Ketepatan : peningkatan kapasitas pemerintahan desa berperan serta meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat
4. Penyediaan Prasarana sarana sosial dasar adalah Tersedianya prasarana dan sarana yang menunjang akses masyarakat pada kegiatan ekonomi, kesehatan, sosial.
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : tercipta prasarana dan sarana sosial dasar bagi masyarakat
b) Efisiensi : tercipta prasarana dan sarana sosial dasar dengan efisiensi dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : tercipta prasarana dan sarana sosial dasar menunjang kegiatan-kegiatan masyarakat menjadi lebih baik
d) Perataan : tercipta prasarana dan sarana sosial dasar yang bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat
e) Responsivitas : tercipta prasarana dan sarana sosial dasar yang memuaskan bagi masyarakat
f) Ketepatan: tercipta prasarana dan sarana sosial dasar berperan serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat
5. Pelembagaan pengelolaan dana bergulir adalah Terbentuknya sistem pengelolaan keuangan kelompok simpan pinjam perempuan yang berkelanjutan
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : terbentuk lembaga pengelolaan dana bergulir yang berkelanjutan b) Efisiensi : terbentuknya lembaga pengelolaan dana bergulir yang
berkelanjutan dilakukan secara efisien dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : terbentuk lembaga pengelolaan dana bergulir yang berkelanjutan menunjang pelaksanaan PNPM-MPd
d) Perataan : terbentuk lembaga pengelolaan dana bergulir yang berkelanjutan menciptakan akses modal bagi masyarakat
e) Responsivitas : terbentuk lembaga pengelolaan dana bergulir yang berkelanjutan telah memuaskan masyarakat
f) Ketepatan: terbentuk lembaga pengelolaan dana bergulir yang berkelanjutan berperan serta dalam upaya pemberdayaan masyarakat 6. Pelembagaan Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) adalah
Terbentuknya suatu sistem kerja sama antar desa dalam upaya peningkatan pelayanan sosial dasar dan ketersediaan akses ekonomi terhadap RTM
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : terbentuk lembaga BKAD yang berkelanjutan
g) Efisiensi : terbentuknya lembaga BKAD yang berkelanjutan dilakukan secara efisien dari segi dana dan upaya
b) Kecukupan : terbentuknya lembaga BKAD menunjang kegiatan terjadi dilintas desa baik pada program resmi pemerintah maupun program yang disusun sendiri oleh masyarakat
h) Perataan : terbentuknya lembaga BKAD berkelanjutan di seluruh desa di kecamatan
c) Responsivitas : terbentuknya lembaga BKAD telah memuaskan masyarakat
d) Ketepatan: terbentuknya lembaga BKAD berperan serta dalam upaya pemberdayaan masyarakat
7. Kerja Sama antar Pemangku Kepentingan adalah Terjadinya peningkatan peran serta dan kerja sama para pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan perdesaan
Indikator Evaluasi:
a) Efektif : Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis
b) Efisiensi : Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis dilaksanakan secara efisien dari segi dana dan upaya
c) Kecukupan : Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis menunjang pelaksanaan PNPM-MPd
d) Perataan : Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis terjadi pada seluruh elemen pemangku kepentingan
e) Responsivitas : Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis telah memuaskan masyarakat
f) Ketepatan: Tercipta kerja sama antar pemangku kepentingan yang baik dan sinergis berperan serta dalam upaya pemberdayaan masyarakat 3.4. Informan
Informan pada penelitian ini adalah setiap pihak baik formal maupun informal yang diambil dengan metode purposive (sengaja). Pertimbangan pengambilan metode ini adalah akan ditemukan informan kunci yang pernah atau terlibat dalam waktu cukup lama dalam PNPM-MPd serta serta pihak-pihak yang memiliki kewenangan terhadap pengambilan kebijakan program tersebut di lingkup Kecamatan Kebayakan. Metode ini kemudian berkembang menjadi snow ball sampling (sampel bola salju) yang semakin lama jumlah informan semakin banyak sehingga dapat dianggap sebagai representasi masyarakat dan data yang diperoleh validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
Informan pada penelitian ini terdiri dari penyelenggara PNPM-MPd serta tokoh masyarakat di Kecamatan Kebayakan yaitu:
1. Bapak Firmansyah, A.Md selaku Bendahara Satker Kabupaten Aceh Tengah
2. Bapak Ibrahim S.Ag selaku Penanggung Jawab Operasional Kegiatan Kecamatan Kebayakan
3. Bapak Arsani, S.Sos selaku Unit Pengelola Kegiatan PNPM-MPd Kecamatan Kebayakan
4. Bapak Arwandi selaku Ketua badan kerja sama antar desa Kecamatan Kebayakan
5. Bapak Hakim Majdi selaku Mantan Reje Lot Kala periode 2011-2013 6. Bapak Sarpian selaku Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) /
Fasilitator Desa Kala Lengkio
7. Bapak Aman Putra selaku Tokoh Masyarakat Penerima Manfaat PNPM-MPd Kampung Jongok Meluem
8. Ibu Kayani selaku masyarakat penerima dana simpan pinjam kelompok perempuan
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pada tahap awal penelitian ditentukan informan kunci yaitu subyek yang telah lama dan intensif menyatu dengan kegiatan PNPM-MPd di Kecamatan Kebayakan. Subyek diwawancarai untuk mendapatkan informasi situasi sosial awal yang relatif banyak merangkum informasi tentang domain-domain yang tercakup dalam topik penelitian.
Pada tahap selanjutnya wawancara dilakukan untuk menggali informasi-informasi terkait hasil capaian PNPM-MPd yang dilihat dari efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan pencapaian tujuan pelaksanaan PNPM-MPd. Pengumpulan data partisipasi masyarakat dikaitkan dengan data-data pelaksanaan PNPM-MPd sehingga dapat dianalisis gambaran pencapaian
tujuan PNPM-MPd bagi masyarakat di Kecamatan Kebayakan terutama dilihat dari aspek pemberdayaan masyarakatnya.
3.6. Jenis dan Sumber Data
Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan secara langsung dengan menggunakan kegiatan-kegiatan :
a. Observasi yaitu pengamatan langsung secara sistematis, terencana, dan terarah terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di lapangan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan PNPM-MPd dan pemberdayaan masyarakat desa.
b. Wawancara mendalam dipandu instrumen penelitian yaitu dengan melakukan tanya jawab secara terbuka kepada informan kunci tentang capaian PNPM-MPd dilihat dari aspek tujuan program serta pengaruhnya terhadap upaya pemberdayaan masyarakat desa.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dengan menganalisis atau melakukan kajian pustaka terhadap berbagai literatur yang diperoleh dari kantor, instansi dan dinas-dinas terkait dengan objek penelitian.
3.7. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini disesuaikan dengan metode penelitian yang digunakan, yaitu penelitian kualitatif. Analisis data ini mengikuti konsep analisis data model interaktif dimana kegiatan pengumpulan data dan analisis data tidak mungkin dipisahkan satu sama lain, keduanya berlangsung secara simultan dan prosesnya berbentuk siklus (Faisal. 2008:69). Analisis data model interaktif berlangsung secara terus menerus sampai dengan dengan selesai yakni
data yang diperoleh bersifat jenuh. Aktivitas dalam analisis data ini diantaranya adalah data reduction, data display, dan data conclusion drawing and verifying.
Gambar 3.1 Komponen Analisis Data Model Interaktif (Faisal. 2008:69) Pada saat proses pengambilan data pertama kali dilakukan maka data diperoleh bermacam-macam dan tidak tersusun dengan benar. Data tersebut tetap dikumpulkan dan dikoleksi sebanyak-banyaknya (data collection). Data tersebut kemudian direduksi dengan cara dikategorikan menurut variabel-variabel penelitian. Langkah selanjutnya adalah menampilkan data (data display) dengan dijabarkan satu persatu menurut kebutuhan data penelitian, data diurutkan secara sistematis sehingga akan lebih mudah dipahami dan data memberikan gambaran umum fokus penelitian yang akan dikaji lebih dalam. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan upaya pemaparan dan penegasan kesimpulan (conclution drawing and verifyng). Proses pengumpulan data dan analisis ini terus berulang sesuai siklus analisis data model interaktif hingga peneliti sampai pada batas dimana tidak dijumpai lagi variasi informasi (terjadi kejenuhan informasi).
Data Colection
Data Display
Conclution Drawing &
Verifying Data
Reduction
55 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Kebayakan merupakan sebuah Kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh yang terletak di seputaran perkotaan Takengon dengan ibu Kota kecamatan berada di Kampung Gunung Balohen. Ketinggian wilayahnya dari atas permukaan laut antara 1.200-1.400 meter, dan dikategorikan daerah dataran tinggi yang sangat strategis baik dari sudut ekonomi maupun geografis karena didukung oleh produk pertanian hortikultura, penghasil kopi arabika serta kawasan pariwisata dengan keberadaan Danau Laut Tawar. Adapun batas wilayah Kecamatan Kebayakan adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Bukit Kab. Bener Meriah b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Lut Tawar
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bintang d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Bebesen
Berdasarkan pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa luas wilayah Kecamatan Kebayakan seluas 56,34 km² terdiri dari 20 Kampung dan 54 Dusun. Kampung terluas adalah Kampung Mendale dengan luas 6.57 km² dan terkecil wilayahnya adalah Kampung Gunung Balohen, Kampung Paya Tumpi I dan Kampung Bukit dengan luas wilayah 1km². Jumlah penduduk sebesar 14.857 jiwa dengan Komposisi penduduk Multi etnis terdiri dari suku bangsa antara lain: Gayo, Jawa dan Aceh dengan agama yang dianut adalah Islam.
Tabel. 4.1 Wilayah Administrasi Kecamatan Kebayakan
Sumber: Kecamatan Kebayakan dalam Angka (BPS, 2014)
Berdasarkan tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa kepadatan penduduk terpadat berada pada Kampung Kute Lot sebesar 791 jiwa per km², hal ini karena Kampung Kute Lot merupakan wilayah pemukiman penduduk yang tergolong padat dengan mayoritas penduduknya bekerja pada sektor formal. Kepadatan penduduk terendah berada pada Kampung Telege Atu sebesar 62 jiwa per km² dan
N
Kampung Bukit Sama sebesar 74 jiwa per km², hal ini dikarenakan wilayah Telege Atu dan Bukit Sama memiliki karakteristik wilayah perkebunan yang berbukit-bukit yang sulit untuk dijadikan pemukiman.
Tabel. 4.2 Luas Daerah dan Penggunaannya di Kecamatan Kebayakan
No. Jenis Lahan Luas (Ha)
1 Tanah Sawah 330
2 Tegal/ Kebun 415
3 Ladang/ Huma 106
4 Perkebunan 3.225
5 Hutan rakyat/ Ditanami Pohon 237
6 Padang Rumput 0
7 Sementara tidak diusahakan 167
8 Hutan Negara 201
9 Lahan Bukan Pertanian 953
Total 5.634
Sumber : Kecamatan Kebayakan dalam Angka (BPS, 2014)
Penggunaan wilayah di Kecamatan Kebayakan paling besar digunakan untuk lahan perkebunan rakyat yang ditanami kopi jenis arabika. Tanah sawah hanya ditanami padi dengan satu kali masa panen karena tidak didukung oleh sarana irigasi. Tanah sawah terus menurun luasnya karena kerap dikonversikan menjadi pemukiman penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk dan pada beberapa wilayah saluran air menyatu dengan pembuangan limbah rumah tangga menyebabkan kualitas dan kuantitas padi menurun dari tahun ke tahun. Menurunnya debit air juga banyak mengubah tanah sawah menjadi ladang yang ditanami tanaman hortikultura oleh penduduk kecamatan kebayakan.
Mayoritas penduduk di Kecamatan Kebayakan bekerja pada sektor perkebunan rakyat yang ditanami kopi serta tanaman hortikultura seperti cabe rawit
dan cabe besar. Penduduk yang mayoritas sebagai petani tidak hanya menggantungkan hidupnya pada satu sektor saja tetapi pada banyak sektor. Seperti pada wilayah perbukitan, selain sebagai pekebun kopi masyarakat juga menanam padi di sawah hingga beternak sapi, kerbau, kambing hingga ayam. Pada daerah pinggiran danau laut tawar seperti Kampung Mendale, Kala Lengkio dan Lot Kala selain memiliki kebun kopi dan menanam padi, masyarakat juga menggantungkan hidupnya sebagai nelayan tradisional.
PNPM-MPd di Kecamatan Kebayakan dimulai tahun 2007 hingga tahun 2014 telah dilaksanakan dengan menghasilkan berbagai kegiatan di masyarakat meliputi:
a. Kegiatan Sarana dan Prasarana yakni pembangunan Jalan, Saluran air bersih, Saluran irigasi, Gedung serba guna, Gedung Polindes, Gedung TPA dan lain-lain.
b. Kegiatan Ekonomi meliputi Kegiatan Simpan Pinjam Kelompok perempuan.
c. Kegiatan Pendidikan meliputi Pelatihan Masyarakat, Pelatihan Pelaku di Kecamatan dan Desa, Pelatihan Kelompok Simpan Pinjam Kelompok Perempuan.
Sistem Pemerintahan Desa
Sistem pemerintahan desa di Dataran Tinggi Gayo yang di dalamnya termasuk Kecamatan Kebayakan sedikit berbeda dengan sistem pemerintahan desa yang umumnya ditemukan di Indonesia. Desa di Dataran Tinggi Gayo disebut kampung yang sistemnya berdasarkan adat istiadat suku gayo yang telah berkembang sebelum Indonesia merdeka. Sistem ini kembali dianut pasca
reformasi setelah sebelumnya dihilangkan pada masa orde baru. Sistem yang ada di dataran tinggi gayo dahulu dikenal dengan sistem kerajaan, yang dikenal dengan dinasti Lingga. Berdasarkan Qanun Kabupaten Aceh Tengah No. 4 Tahun 2011 tentang Pemerintahan Kampung terdapat unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat (empat unsur dalam satu ikatan terpadu) yang terdiri dari:
1. Reje: Kepala pemerintahan kampung yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan dan pembinaan adat kampung berlandaskan syariat islam. Reje sebagai kepala pemerintahan memerlukan pembantu-pembantu untuk posisi Bedel (wakil Reje), Banta (sekretaris Reje), Hariye (humas/juru bicara), Biden (urusan kesehatan), Kejurun Belang (urusan pertanian), Penghulu Uten (pengawas hutan), Penghulu Uwer (pengawas peternakan), Penghulu Lut (urusan perikanan), Pawang Deret (pengawas hewan dan margasatwa), dan Penghulu Rerak yang bertugas menjaga sungai, tali air dan sumber mata air.
2. Petue : Orang yang dituakan dan dipandang berilmu yang tugasnya meneliti dan mengevaluasi keadaan rakyat. Dalam menjalankan fungsinya dibantu oleh Sekolat yang kedudukannya sebagai wakil petue.
3. Imem: Memimpin kegiatan keagamaan, peningkatan peribadatan, peningkatan pendidikan agama dalam masyarakat. Dalam menjalankan fungsinya dibantu oleh Lebe yang kedudukannya sebagai wakil Imem.
4. Rakyat Genap Mufakat (RGM) : wakil dari penduduk kampung bersangkutan berdasarkan keterwakilan dusun dan unsur yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat yang berfungsi mengayomi adat dan adat istiadat, membuat qanun kampung, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat
setempat serta melakukan pengawasan secara efektif terhadap penyelenggaraan pemerintahan kampung.
Kekuasaan Reje tidak hanya terbatas pada mengatur semua kebijakan akan kepentingan bersama ataupun yang bersifat mendamaikan segala perselisihan yang timbul, tetapi juga berwenang menghukum semua pelaku pelanggar norma-norma adat. Walaupun Reje terkesan memiliki kekuasaan mutlak, sesungguhnya kekuasaan tertinggi tetap berada ditangan rakyat dan rakyatlah yang mengawasi kebijakan seorang Reje. Reje di dataran tinggi Gayo tidak berbeda dengan rakyat biasa dan tidak memiliki keraton, atribut, simbol dam aturan protokoler yang menunjukkan stratifikasi sosial yang berbeda.
4.2. Tingkat Partisipasi Masyarakat
Pada dasarnya ada beberapa kegiatan yang memfasilitasi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan PNPM-MPd di Kecamatan Kebayakan.
Partisipasi tersebut dapat terjadi pada proses penggalian gagasan, pelaksanaan pekerjaan hingga evaluasi kegiatan. Alur kegiatan pelaksanaan PNPM-MPd meliputi pada proses perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan kegiatan. Alur kegiatan tersebut memberikan kesempatan masyarakat untuk ikut terlibat dalam setiap pengambilan keputusan maupun pelaksanaannya, meliputi:
a. Musyawarah Antar Desa Sosialisasi
Pada tingkat ini masyarakat kecamatan kebayakan akan diberikan sosialisasi awal tentang tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan PNPM-MPd di Kecamatan Kebayakan serta menentukan kesepakatan-kesepakatan antar desa. Kegiatan ini dipandu
Penanggung Jawab Operasional Kecamatan Kebayakan dan Fasilitator Kecamatan.
Partisipasi masyarakat menurut Penanggung Jawab Operasional Kecamatan Kebayakan cukup tinggi tetapi tidak memungkinkan untuk mengundang seluruh rumah tangga miskin yang ada di Kecamatan Kebayakan karena terbatasnya ruang rapat, namun diundang perwakilan masyarakat sebanyak tiga sampai lima orang dalam setiap desa baik dari pemerintahan desa maupun tokoh masyarakat. Kehadiran peserta yang diundang tersebut sangat tinggi bahkan kerap melebihi ruang kapasitas balai rapat di kecamatan. Hasil dari pertemuan ini adalah menentukan tokoh-tokoh dan wakil desa yang akan hadir pada pertemuan selanjutnya yaitu musyawarah antar desa prioritas usulan, serta informasi mengenai proses penentuan kader pemberdayaan masyarakat desa, tim penulis usulan, dan unit pengelola kegiatan.
b. Musyawarah Desa Sosialisasi, Musyawarah Dusun, dan Musyawarah Desa Perencanaan
Kampung-Kampung di Kecamatan Kebayakan melakukan Musyawarah Desa Sosialisasi, Musyawarah Dusun, dan Musyawarah Desa Perencanaan di balai desa atau meunasah (Tempat ibadah umat islam tapi lebih kecil dari masjid). Masyarakat diundang secara terbuka namun kehadiran masyarakat bervariasi pada setiap kampung. Berdasarkan penuturan Ketua Badan Kerjasama Antar Desa ada beberapa kampung yang minat masyarakatnya sangat besar dalam mengikuti kegiatan musyawarah seperti di Kampung Kala Lengkio, Timangan Gading, Kute Lot, dan Telege Atu.
Pada agenda pertama yaitu musyawarah desa sosialisasi dilakukan di lingkup desa yang dipimpin oleh Reje dengan tujuan menyampaikan informasi hasil-hasil musyawarah antar desa sosialisasi. Pada musyawarah ini akan dilakukan pemilihan kader pemberdayaan masyarakat desa dan tim pengelola kegiatan. Pada agenda berikutnya yaitu musyawarah dusun akan difasilitasi oleh kader pemberdayaan masyarakat desa terpilih untuk proses penggalian gagasan. Gagasan-gagasan yang muncul akan dibawa pada agenda selanjutnya yaitu musyawarah desa perencanaan yang akan ditentukan kegiatan dusun mana yang akan dijadikan menjadi kegiatan prioritas desa yang akan diusulkan pada musyawarah antar desa prioritas.
Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan sangat menentukan sebagaimana yang diungkapkan oleh kader pemberdayaan masyarakat desa kala lengkio bahwa usulan masyarakat di Kampung Kala Lengkio hampir sepenuhnya diakomodir oleh pimpinan rapat dan jarang ada pengarahan maupun intervensi dari pihak-pihak luar, fasilitator hanya mengingatkan agar kegiatan-kegiatan pembangunan sarana dan prasarana tidak dilakukan pada kegiatan yang dilarang oleh PNPM-MPd.
c. Musyawarah Antar Desa Prioritas
Pertemuan ini dilakukan di kantor kecamatan kebayakan yang bertujuan membahas dan menyusun peringkat usulan kegiatan atas usulan desa serta ditetapkan kepengurusan unit pengelola kegiatan. Wakil-wakil desa terdiri dari kepala desa, ketua tim pelaksana dan empat orang wakil masyarakat. Penentuan prioritas usulan ditentukan oleh tim verifikasi dengan
mempertimbangkan berbagai indikator yang kemudian dimusyawarahkan bersama hingga prioritas kegiatan yang akan didanai PNPM-MPd ditentukan.
Penanggung Jawab Operasional Kegiatan Kecamatan Kebayakan mengungkapkan bahwa penentuan prioritas usulan ini disetujui oleh forum walaupun tidak seluruh desa bisa terdanai namun tidak ada protes-protes keberatan yang dilakukan oleh perwakilan desa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memahami pentingnya dan urgensi kegiatan yang dijadikan prioritas tersebut. Namun, menurut ketua badan kerja sama antar desa masih sulit dilakukan pembentukan suatu kegiatan yang pemanfaatannya dapat dinikmati oleh dua desa atau lebih, hal ini dikarenakan belum intensifnya komunikasi antar kampung yang terjalin dalam penentuan proses usulan kegiatan di tingkat desa.
Setelah ditentukan kegiatan yang menjadi prioritas perwakilan akan membawa hasil musyawarah ke tingkat desa untuk proses pembuatan detail usulan dan rencana anggaran biaya kegiatan. Proses ini banyak melibatkan peran fasilitator terutama fasilitator teknik pada kegiatan pembuatan sarana dan prasarana.
d. Musyawarah Antar Desa Penetapan Usulan dan Musyawarah Desa Informasi Hasil Musyawarah Antar Desa
Pada musyawarah antar desa penetapan usulan akan disusun jadwal pelaksanaan PNPM-MPd beserta alokasi dana, sanksi-sanksi dan tata cara perguliran serta membahas keluhan-keluhan pada tahap sosialisasi dan perencanaan. Musyawarah ini dihadiri oleh kepala desa, ketua tim pengelola kegiatan, dan empat orang wakil masyarakat. Usulan-usulan yang dibentuk
berdasarkan hasil musyawarah antar desa prioritas kemudian ditetapkan menjadi surat keputusan camat yang menjadi dasar pembiayaan kegiatan tersebut.
Proses berikutnya adalah peserta musyawarah antar desa akan membawa hasil tersebut ke desa untuk diperhatikan oleh seluruh pelaksana kegiatan PNPM-MPd di Kecamatan Kebayakan. Tim pengelola kegiatan akan menyusun rencana kerja pelaksanaan berdasarkan jadwal yang telah disepakati dalam musyawarah antar desa penetapan usulan. Musyawarah desa informasi hasil musyawarah antar desa juga akan membahas tentang sumbangan/swadaya masyarakat.
Berdasarkan dokumen pelaksanaan PNPM-MPd tidak ditemukan adanya sumbangan/swadaya masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan sarana dan prasarana, menurut Penanggung Jawab Operasional Kegiatan Kecamatan Kebayakan hal ini terjadi karena masyarakat merasa dana yang disalurkan oleh pemerintah sudah cukup untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana tersebut.
e. Pelaksanaan Kegiatan
Pada pelaksanaan kegiatan prasarana dan sarana dimulai dengan melakukan survei hingga pembuatan rencana anggaran biaya oleh kader pemberdayaan masyarakat desa, tim pengelola kegiatan, masyarakat dan Reje yang dibantu fasilitator kecamatan. Survei juga menentukan sumber bahan
Pada pelaksanaan kegiatan prasarana dan sarana dimulai dengan melakukan survei hingga pembuatan rencana anggaran biaya oleh kader pemberdayaan masyarakat desa, tim pengelola kegiatan, masyarakat dan Reje yang dibantu fasilitator kecamatan. Survei juga menentukan sumber bahan