BAB IV HASIL PENELITIAN
TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Asumsi Dasar
3.4.2 Definisi Operasional
konsep dasar untuk digunakan dalam mengamati Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Adapun definisi konseptual penelitian ini adalah:
Untuk menciptakan manajemen pelayanan yang baik Klinik UNTIRTA harus memiliki faktor-faktor yang mendukung seperti yang dikatakan oleh Ratmitno dan Atik (2005:54) dalam bukunnya yang berjudul “Manajemen Pelayanan”, menyatakan bahwasannya manajemen pelayanan yang baik akan diciptakan apabila terdapat beberapa faktor yang mendukung diantaranya adalah:
1. Sumber Daya Manusia Pelayanan 2. Kultur Organisasi
3. Sistem Pelayanan
3.4.2 Definisi Operasional
Definisi Operasional merupakan penjabaran konsep atau variabel penelitian dalam rincian yang terukur (indikator penelitian) yang kemudian akan disesuaikan dengan teori yang digunakan oleh peneliti serta dikaitkan dengan susunan pedoman wawancara penelitian, dan yang menjadi variabel dalam penelitian ini yaitu “Manajemen Pelayanan Di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa”.
Oleh karena itu, untuk kesuksesan dan keberhasilan pelayanan publik yang prima maka diperlukan cara- cara yang khusus agar lebih optimal dan diperlukan
penelitian lebih jauh untuk mengamati Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan menggunakan teori manajemen pelayanan dari Ratmitno dan Atik (2005:54):
1. Sumber Daya Manusia Pelayanan
Manajemen Pelayanan akan berjalan dengan baik dan efisien apabila jumlah sumber daya manusia atau ketenagaan yang dimiliki Klinik sesuai dengan ketetapan hukum yaitu dalam Peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 tentang Klinik, bahwasannya ketenagaan Klinik rawat jalan terdiri atas tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan, dan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Sebagaimana yang dimaksud adalah jumlah tenaga medis Klinik pratama dengan minimum 2 dokter, 2 perawat, 1 apoteker, dan 2 petugas administrasi. Semakin banyak jumlah pegawai maka manajemen pelayanan akan semakin baik dan efisien, dan masing-masing pegawai harus mengemban satu tugas pada bidang dan keahliannya karena kompetensi dan kredibilitas yang tinggi dalam menjalankan tugas sangat dibutuhkan dalam manajemen sumber daya manusia mengingat bahwa manusia selalu menjadi peran aktif dalam setiap kegiatan organisasi dan manusia adalah perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan dari organisasi terutama dalam memberikan pelayanan yang terkait dengan manajemen pelayanan kesehatan di Indonesia khususnya di Klinik
Univseritas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Kultur Organisasi
Kultur organisasi dalam pelayanan merupakan hal yang juga penting dalam manajemen pelayanan karena organisasi adalah pelaksana dalam berbagai proses dan kegiatan antara satu orang dengan yang lainnya bekerjasama dalam sebuah program dan berhasil tidaknya manajemen dalam pelayanan tergantung bagaimana budaya organisasi didalamnya. Penciptaan budaya organisasi sangatlah penting untuk mengetahui dukungan dari para pegawai terhadap budaya pelayanan yang memungkinkan pegawai melaksanakan semua pekerjaan dengan baik dan profesional dimana pegawai mampu memahami tugas, disiplin, tanggung jawab serta menjaga hubungan (relasi) antar pegawai yang akan memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan kinerja pelayanan sehingga penerima pelayanan diperlakukan secara manusiawi tanpa adanya diskriminasi.
3. Sistem Pelayanan
Sistem pelayanan memiliki kontribusi yang sangat kuat dalam sebuah manajemen pelayanan yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Pelayanan dapat menjadi sangat tidak berkualitas apabila system yang diterapkan tidak memihak pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat.
(Ratminto, 2005:50). Untuk meningkatkan sistem pelayanan kesehatan terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh lembaga atau organisasi salah satunya adalah dengam meningkatkan fasilitas yang menunjang kualitas pelayanan kesehatan, meningkatkan profesionalisme pegawai dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan mengadakan program atau sosialisasi yang bertujuan untuk memberi kesadaran hidup sehat serta mendukung derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan dari kesejahteraan umum.
Definisi operasional disusun untuk memfokuskan penelitian berdasarkan apa yang akan dikaji dan ditemukan di lapangan yang kemudian akan diolah dan dikembangkan sesuai dengan data yang diperoleh menjadi satu rangkaian informasi yang dijabarkan dalam bentuk deskriptif sehingga menjadi suatu hasil penelitian yang paten dan dapat dipertanggungjawabkan datanya.
3.5 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan ialah peneliti sendiri, kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpulan data, analis, dan pelapor hasil penelitiannya. Satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri (Irawan, 2005:17).
Nasution dalam Sugiyono (2008:223), menyebutkan alasan manusia sebagai instrumen penelitian utama bahwasannya dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya.
Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri, sehingga dalam penelitian ini, peneliti harus bersifat netral agar penelitian yang dihasilkan tidak bersifat subjektif. Dengan demikian, posisi peneliti sangat penting karena sebagai instrumen penelitian. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumbernya secara langsung, seperti wawancara dan observasi. Sedangkan, data sekunder adalah data yang telah tersedia dan diperoleh secara tidak langsung. Data sekunder ini dijadikan sebagai data tambahan untuk memperkuat penelitian, seperti dokumen, peraturan daerah, gambar, rekaman, dan lain-lain. Adapun alat-alat tambahan yang digunakan peneliti dalam mengumpullkan data berupa panduan wawancara, buku catatan, dan handphone untuk mengambil gambar atau foto dan untuk merekam hasil wawancara.
3.6 Informan Penelitian
Penelitian yang berjudul “Manajemen Pelayanan Kesehatan Di Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa”, penentuan informannya menggunakan teknik purposive (bertujuan). Teknik purposive adalah teknik penentuan informan berdasarkan pada pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan tersebut didasarkan pada informan yang mengetahui secara jelas dan tepat informasi mengenai masalah dalam penelitian ini. Berikut adalah kategori informan peneliti yang telah diuraikan dalam sebuah tabel:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No Kategori
Informan
Kode
Informan Spesifikasi Informan Keterangan
1
Rektorat
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
(I1)
Kepala Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan UNTIRTA Key Informan (I2) Kepala Klinik UNTIRTA Kampus A (I2-1) Perawat Klinik UNTIRTA Kampus A 2 Klinik UNTIRTA Kampus A
(I2-2) Staf Klinik UNTIRTA Kampus A Key Informan (I3) Dokter Klinik UNTIRTA Kampus B 3 Klinik UNTIRTA Kampus B
(I3-1) Perawat Klinik
UNTIRTA Kampus B
(I3-2) Staf Klinik UNTIRTA Kampus B (I4) Dokter Klinik UNTIRTA Kampus C (I4-1) Perawat Klinik UNTIRTA Kampus C 4 Klinik UNTIRTA Kampus C
(I4-2) Staf Klinik UNTIRTA Kampus C Key Informan (I5) Karyawan UNTIRTA Kampus A (I5-1) Dosen UNTIRTA Kampus A (I5-2) Mahasiswa UNTIRTA Kampus A (I5-3) Karyawan UNTIRTA Kampus B (I5-4) Dosen UNTIRTA Kampus B (I5-5) Mahasiswa UNTIRTA Kampus B (I5-6) Karyawan UNTIRTA Kampus C
(I5-7) Dosen UNTIRTA Kampus C 5 Civitas Kampus UNTIRTA (I5-8) Mahasiswa UNTIRTA Kampus C Secondary Informan Sumber: Peneliti, 2018
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah strategi dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2008:63). Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini adalah sebagai berikut:
1) Obervasi
Observasi menurut Hadi dalam Sugiyono (2008:166) adalah mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Dalam penelitian ini, teknik observasi yang dipakai ialah observasi tanpa berperan serta. Penelitian hanya sebagai pengamat saja tanpa menjadi anggota resmi organisasi yang diteliti.
2) Wawancara
Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka antara pewancara dan informan. Adapun teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dalam
penelitian ini adalah wawancara mendalam. Untuk itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data secara terstruktur, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk menggunakan wawancaara tidak terstruktur guna memperkaya data yang di gunakan peneliti.
Menurut Usman dan Purnomo (1996:57), wawancara ialah tanya jawab lisan antara dua atau lebih secara langsung. Pewawancara disebut interviewer, sedangkan orang yang diwawancarai disebut interviewee. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau (self-report), atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi seoorang peneliti. Selain itu, wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.
Kegunaan dari wawancara adalah untuk mendapatkan data ditangan pertama (primer), pelengkap teknik pengumpulan lainnya, dan menguji hasil pengumpulan data lainnya. Tujuan dari mengadakan wawancara antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan, mengkonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu, memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi,
mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik dari manusia maupun bukan manusia (triangulasi), dan memverifikasi atau mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota (Licoln & Guba dalam Moloeng, 2005:186).
Pada penelitian kualitatif wawancara merupakan pembicaraan yang mempunyai tujuan dan didahului beberapat pertanyaan informasi. Aturan pada wawancara penelitian lebih ketat. Pedoman wawancara dibuat oleh peneliti berdasarkan tugas pokok dan fungsi setiap informan dalam penelitian. Oleh karena itu dalam pedoman wawancara mengajukan pertanyaan perlu dilandasi oleh dimensi teori. Adapun pedoman wawancara dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Pedoman Wawancara
Dimensi Sub Dimensi Indikator Informan
Manajemen Pelayanan (Ratminto dan Atik, 2005:54) 1. Sumber Daya Manusia Pelayanan meliputi: - Kualifikasi Pendidikan - Keahlian - Kompetensi - Kredibilitas - Kualifikasi Pendidikan pegawai/Pegawai klinik memiliki kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan ilmu kesehatan dan memiliki kesesuaian antara ilmu pengetahuan dengan bidang pekerjaan
- Keahllian
Pegawai klinik mampu memberikan penanganan yang baik dan benar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan -Kompetensi
Keterampilan
pegawai dalam memberikan sikap empati kepada semua pasien tanpa membeda-bedakan status pasien -Kredibilitas
Para pegawai klinik mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan mendapatkan kepercayaan pasien. - Profesionalisme pegawai Klinik mampu memahami tugas dan memperlakukan pasien dengan manusiawi tanpa diskriminasi 2. Kultur Organisasi meliputi: - Profesionalisme - Kerjasama - Kerjasama Komunikasi dan interaksi yang terjalin dengan baik antara satu pegawai dengan yang lainnya dan mampu menjaga hubungan antar pegawai (relasi).
-Cara Pelayanan Klinik mengadakan program sosialisasi untuk mendapatkan kepercayaan pasien - Mekanisme Klinik menggunakan system berbasis komputer atau Information Technology (IT) dalam pengelolaan klinik 3. Sistem Pelayanan meliputi: - Cara Pelayanan - Mekanisme - Kesesuaian Peraturan Kebijakan Pelayanan - Kesesuaian dengan Peraturan Kebijakan Pelayanan Klinik UNTIRTA telah memenuhi persyaratan PERMENKES No.9 Tahun 2014 I1, I2, I3, I4, I5 Sumber: Peneliti, 2018
3) Studi Dokumentasi dan Studi Literatur
Dalam penelitian ini menggunakan studi dokumentasi sebagai salah satu teknik pengumpulan data sekunder. Dokumen menurut Sugiyono, (2008:240) merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen yang digunakan peneliti disini berupa foto, gambar, serta data-data mengenai informan-informan yang ditemui oleh peneliti. Dokumen ialah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik.
Dokumen digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji,
menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Adapun studi dokumentasi dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga yang menjadi obyek penelitian, baik berupa prosedur, peraturan-peraturan, gambar, laporan hasil pekerjaan serta berupa foto ataupun dokumen elektronik (rekaman).
3.8 Sumber Data
Data yang dikumpulkan penulis selama melakukan penelitian dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Setting yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan pada setting alamiah dimana penelitian ini mendapatkan berbagai setting dari setiap langkah penelitian dilakukan tanpa ada rekayasa atau dalam unsur plagiat. Data primer dalam penelitian ini berupa tindakan dan kata-kata orang-orang yang diamati dari hasil wawancara dan observasi peneliti atau dengan kata lain sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data atau peneliti.
Sedangkan sumber data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dimana data sekunder merupakan sumber tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data atau peneliti, dalam sumber sekunder yaitu berupa data-data sekunder yang didapatkan berupa dokumen tertulis, gambar, dan photo. Adapun alat tambahan yang digunakan dalam pengumpulan data terdiri dari
panduan wawancara, alat perekam (tape recorder), buku catatan dan kamera digital.
3.9 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan meyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain.
Bogdan dan Biklen dalam Irawan (2005:73) analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemuka pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisa data model Milles dan Huberman, dimana terdapat 4 (empat) aktivitas dalam analisis data, yaitu pengumpulan data
(data collection) reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan/verifikasi (conclusion drawing/verification). Menurut Milles dan Huberman, aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Model interaktif dalam analisis data menurut kedua tokoh tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3.1
Komponen Dalam Analisis Data (Interactive Model)
Sumber: Milles dan Huberman, (2009:20)
1. Pengumpulan Data (Data Collecting)
Pengumpulan data merupakan proses mengunpulkan informasi atau data yang diperlakukan dalam penelitian. Menurut Satori dan Komariah (2010:103), pengumpulan data dalam penelitian alamiah adalah prosedur yang sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitian kualitatif teknik
Data Collecting g Data Display Conclusion: Drawing/verifying Data Reduction
pengumpulan data dapat dilakukan melalui setting dari berbagai sumber dan berbagai cara. Dilihat settingannya, data dapat dikumpulkan dengan menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti, dan sumber sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti.
2. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data membantu memberikan kode pada aspek-aspek tertentu.
3. Penyajian Data (Data Display)
Dalam sebuah penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Namun pada peneltian ini, penyajian data yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah bentuk teks narasi, hal ini seperti yang dikatakan oleh Miles & Huberman (2009:17) : ”the most frequent form display data for qualitative
research data in the past has been narrative text” (yang paling sering digunakan untuk penyajian data kualitatif pada masa yang lalu adalah bentuk teks naratif).
4. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)
Langkah ketiga dalam tahapan analisis interaktif menurut Miles & Huberman (2009:18-21) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu menyimpulkan dari temuan-temuan penelitian untuk dijadikan suatu kesimpulan penelitian. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung dimana kesimpulan ditarik semenjak peneliti menyusun pencatatan dan pertanyaan terhadap permasalahan-permasalahan di Klinik UNTIRTA, dan kesimpulan yang dikemukakan oleh peneliti masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi, apabila kesimpulan permasalahan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
3.10 Pengujian Keabsahan Data
3.10.1 Triangulasi
Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Triangulasi. Menurut Irawan (2005:5.34) :
“Triangulasi adalah proses check and recheck antara satu sumber data dengan sumber data lainnya. Dalam proses ini beberapa kemungkinan bisa terjadi: Pertama, satu sumber cocok (senada, koheren) dengan sumber lain. Kedua, satu sumber data beberapa dari sumber lain, tetapi tidak harus berarti bertentangan. Ketiga, satu sumber 180 bertolak belakang dengan sumber lain”.
Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber sehingga dikategorisasikan dan dideskripsikan mana pandangan yang sama dan pandangan yang spesifik. Sedangkan, triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, maka penelitian melanjutkan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lainnya untuk memastikan data yang dianggap benar.
3.10.2 Membercheck
Membercheck, yaitu proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan membercheck adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data (Sugiyono, 2008). Apabila data yang ditemukan disepakati para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi
data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
3.11 Lokasi dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memiliki tiga cabang tempat perkuliahan yaitu terdiri dari :
1) Klinik UNTIRTA Kampus A, beralamat di Jalan Raya Jakarta Km 4, Panancangan, Cipocok Jaya, Banjaragung, Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten. Kampus A UNTIRTA terdiri dari Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertanian dan Pasca Sarjana.
2) Klinik UNTIRTA Kampus B, beralamat di Jl. Jenderal Sudirman Km 3, Kotabumi, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Banten. Kampus B UNTIRTA ini hanya ditempati oleh Fakultas Teknik. 3) Klinik UNTIRTA Kampus C, beralamat di Jl. Ciwaru Raya,
Cipare, Kec. Serang, Kota Serang, Banten. Kampus C UNTIRTA ini hanya ditempati oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti terkait dengan judul penelitian “Manajemen Pelayanan Kesehatan Di Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa” dilakukan di tiga tempat yaitu Klinik UNTIRTA di Kampus A, B dan C. Adapun jadwal penelitian adalah berikut ini:
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian