Desertasi ini berjudul : Ketaatan Berhaji di Kabupaten Sidenreng Rappang
Untuk memudahkan pemahaman dan menghindari kesimpangsiuran dalam pembahasan, maka penulis mengemukakan pengertian dari beberapa variabel dan maksud yang tersirat dalam judul tersebut di atas. Dipandang perlu untuk diuraikan beberapa pengertian dari beberapa variabel yang difokuskan dalam pembahasan penelitian ini. Beberapa variabel dimaksudkan untuk kesamaan persepsi dalam mengetahui dan memahami landasan pokok serta mengembangkan dan mengiterpretasikan pembahasan selanjutnya.
Demikian juga ketika berhubungan dengan kesenjangan antara pemahaman dan ketaatan berhaji dengan rukun Islam lainnya, faktor-faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya kesenjangan itu serta upaya-upaya yang dilakukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang dalam melaksanakan penyelenggaraan haji di Sidenreng Rappang sehinga memberikan manfaat lebih luas pada masyarakat Sidenreng Rappang.
Adapun pengertian dari beberapa variabel dari judul di atas yang penulis maksudkan adalah :
1. Pemahaman dan Ketaatan berhaji
Upaya penerapan dan penegakan ketaatan berhaji serta rukun Islam lainnya berjalan seiring dan seimbang dalam pemahaman dan pelaksanaannya pada masyarakat Islam, haji adalah ajaran Islam memiliki makna spritual yang mendalam di samping juga sarat dengan dimensi sosial dan ekonomi, memang menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas karena merupakan fakta dan riil di tengah-tengah masyarakat Islam.
Kata pemahaman yang dimaksud dalam disertasi adalah “fiqh”. Fiqh merupakan bentuk mas dar (gerund) dari tasrifan kata faqiha-yafqahu-fiqhan yang berarti pemahaman yang mendalam dan akurat sehingga dapat memahami tujuan ucapan dan atau tindakan (tertentu). Fiqh lebih populer didefinisikan sebagai ilmu tentang hukum-hukum
syara’ yang bersifat perbuatan yang dipahami dari dalil-dalil yang rinci.32 Yang dimaksud dari dalil-dalil yang terperinci, bahwa setiap hukum perbuatan mukallaf yang dibahas dalam ilmu fiqh masing-masing ada dalilnya, sekalipun sesungguhnya dalilnya tidak bersifat umum yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Ketaatan berhaji dalam disertasi ini adalah pengetahuan tata cara beribadah kepada Allah swt. khususnya haji harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad saw. sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran, di samping berfungsi sebagai bayān terhadap Alquran, juga berfungsi sebagai sumber motivasi bagi setiap muslim dalam menjalankan segala aktifitasnya, terutama yang terkait langsung dengan masalah ibadah.
Ibadah haji adalah ibadah yang khas, memiliki sifat yang berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah haji mengandung nilai pendidikan dan pembelajaran untuk mengarungi hidup di dunia. Allah swt. serta memberi isyarat yang kebanyakan berupa simbol-simbol yang tersimpan dalam rukun-rukun haji, wajib haji, sunah haji, dan bahkan juga dari larangan atau yang diharamkan dalam ibadah haji.33
32
Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada, Fiqh Siyasah, Doktrim dan Pemikiran Politik Islam ( Jakarta: PT. Gelora Aksara Pertama, 2008 ), h. 2. Lihat pula: Hamka Haq, Falsafat Ushul Fiqhi ( Makassar: Yayasan al-Ahkam Makassar, 2003 ), h. 14
Kata berhaji, yang dimulai dengan afiks “ber” adalah berkunjung ke Ka’bah untuk
menunaikan ibadah haji.34Kata haji tersebut asal maknanya adalah menyengaja, dan dalam berbagai buku fiqh dikatakan bahwa haji adalah menyengaja mengunjungi Ka’bah untuk melakukan amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana yang ditetapkan oleh
syara’.35
Dalam bahasa Arab ibadah haji disebut “hajj” atau “hijj” yang secara bahasa berarti
“al-qas du ilā” yang berarti menuju atau mengunjungi sesuatu (biasanya digunakan untuk mengunjungi sesuatu yang dihormati).36 Jadi, berhaji yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah berkunjung ke Ka’bah dan melaksanakan syarat-syarat dan rukun-rukun haji dalam
rangka melaksanakan ibadah kepada Allah swt.
Telaah hukum Islam ketaatan berhaji tidak dapat dibedakan pelaksanaannya dengan rukun Islam lainnya, karena memiliki demensi ‘ubudiyah danijtimā’iyah serta bagian dari rukun Islam yang wajib ditunaikan pada kondisi seorang mukallaf wajib melaksanakannya dan telah memenuhi syarat sesuai ketentuan syar’ī. Ajaran Islam adalah suatu sistem nilai
terpadu, meliputi aspek akidah yang intinya tauhid, aspek syari’at yang intinya
al-‘adālah/keseimbangan, keharmonisan, dan aspek akhlak yang intinya
34Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 381
35Taqiuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husayniy al-Dimisqy, Kifāyah al-Akhyār fi Halli Ghayāt al-Ikhtishar, Juz I, ( Bandung: Syirkah al-Ma’arif li al-thaba’ wa al-Nasyr, t.th.), 218. Pengertian haji serupa
dengan dalil-dalil yang berkenaan dengannya dapat dilihat dalam Nabilah Lubis, Menyingkap Rahasia Ibadah
Haji, (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 31
36Abi Husain Ahmad bin Faris Zakariyya,Mu’jam Maqāyis al-Lugah, Juz II (Beirut: Dār al-Fikr, 1979),
al-ihsān/kebajikan, keberadaban yang merupakan pedoman dan tuntunan bagi segenap umat manusia untuk dijewantahkan dalam kehidupan individual dan sosial.37
Penulis juga berusaha mengungkapkan upaya-upaya strategis yang dilakukan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang dan lembaga pelayanan haji lainnya, seperti Kelompok Bimbingan Jamaah Haji (KBIH) dalam rangka memfasilitasi agar ajaran haji dan rukun Islam lainnya dilaksanakan secara seimbang oleh umat Islam di Sidenreng Rappang dengan penyempurnaan manajemen pengelolaannya. Penerapan manajemen haji yang selalu disempurnakan pelaksanaanya di tengah-tengah masyarakat.
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang selaku institusi pemerintah yang diberi kepercayaan oleh Undang-undang untuk mengelola haji, berusaha memberikan fasilitas berupa pembinaan, pelayanan dan perlidungan serta berkewajiban menyelesaikan kasus-kasus yang menjadi kendala-kendala penyebab utama sehingga ajaran ini dapat dikelola dengan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.
2. Kata studi berasal dari bahasa Inggeris ”study” yang berarti penyelidikan, mengadakan
mengenal keadaan sesuatu.38Studi juga diartikan penelitian ilmiah dan telaahan.39
Pembahasan difokuskan pada ketaatan berhaji di Sidenreng Rappang dan faktor-faktor yang memengaruhinya sehingga terjadi kesenjangan pelaksanannya. Penulis berusaha menemukan penyebab utama sehingga animo masyarakat di Sidenreng Rappang 37Lihat: Ahmad al-Raysuni dan Muhammad Jamal Barut, Ijtihad; Antara Teks, Realitas dan Kemaslahatan Sosial ( Cet. I; Jakarta: Erlangga, 2002), h. 14. Lihat pula: Muhammad Syahrūr, op.cit.,h. 78
38
Jhon M. Wachols dan Hasan Sadily, Kamus Inggeris Indonesia, (Cet. 19; Jakarta: Gramedia, 1990), h. 563
39Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 860
dalam pelaksanaan haji dan rukun Islam lainnya tidak seimbang dan berupaya mencari solusi agar haji dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan agama agar tujuan hukum Islam dapat terwujud.
Adapun Faktor-faktor yang memengaruhinya antara lain; a) kurangnya kesadaran hukum masyarakat dan kepatuhan terhadap ajaran haji, disebabkan adanya pemahaman masyarakat terhadap ajaran haji belum komprehensif, b) pelaksanaan manasik yang belum efektif dalam meningkatkan pemahaman calon haji, c) pengelolaan haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang yang belum optimal ditandai SDM pengelolanya masih rendah, dan d) tidak adanya sanksi tegas terhadap pelanggaran haji baik bagi lembaga pelayanan haji maupun individu pelaksananya, yang dapat memberikan efek jera dan menyebabkan timbulnya kepatuhan masyarakat terhadap ajaran haji, serta e) keinginan kuat masyarakat mendapatkan gelar haji setelah melaksanakan ibadah haji. 3. Upaya Mewujudkan Peningkatan Pemahaman dan Ketaatan Berhaji
Peningkatan pemahaman ketaatan berhaji melalui pembinaan, pelayanan, dan perlindungan terhadap calon haji diupayakan antara lain melalui penyempurnaan manajemen penyelenggaraan ibadah haji. Penyempurnaan sistem dan manajemen tersebut dimaksudkan agar calon haji lebih siap mandiri dalam menunaikan ibadah haji sesuai tuntutan agama sehingga diperoleh hajimabrūr.
Sararan strategis penyelenggaraan haji adalah tercapainya tingkat kepuasaan jamaah haji dalam beribadah dan berbagai pelayanan serta pengelolaan dana haji untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat, yang ditandai dengan antara lain; a) terwujudnya jamaah haji yang mandiri, b) terwujudnya petugas profesional dan
dedikatif, c) terwujudnya standar pelayanan minimal pada seluruh komponen pelayanan haji, d) terwujudnya sistem informasi yang handal, e) terwujudnya dukungan manajemen yang menyeluruh dalam penyelenggaraan haji, f) tersedianya peraturan perundang-undangan yang memadai, dan g) meningkatnya pengelolaan dana haji.
Manajemen haji secara sederhana dapat dipahami dalam arti mengatur, mengurus, memelihara, merawat, menumbuhkan, dan mengembangkan, serta membimbing dan memimpin agar tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud serta berdaya dan berhasil guna.
Dalam pengelolaan haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang, manajemen yang baik, teratur, dan terbuka merupakan salah satu kunci sukses pengelolaan haji. Penyelenggaraan ibadah haji berdasarkan asas keadilan memperoleh kesempatan, perlindungan, dan kepastian hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI. 1945, hal ini bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya melalui sistem dan manajemen haji penyelenggaraan yang baik agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar, dan nyaman sesuai dengan tuntunan agama serta jamaah haji dapat melaksanakan ibadah secara mandiri sehingga diperoleh haji mabrūr.40
Upaya peningkatan pemahaman ketaatan berhaji sebagaimana dirumuskan dalam kebijaksanaan teknis penyelenggaraan ibadah haji, yaitu kegiatan bimbingan ibadah haji
40Departemen Agama RI., Perundang-undangan tentang Penyelenggaraan Haji ( Jakarta: Direktorat Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2002 ), h. 6
secara intensif kepada calon haji sejak mendaftar, selama di Arab Saudi sampai kembali ke tanah air.
Dalam upaya mewujudkan peningkatan pemahaman ketaatan berhaji dengan rukun Islam lainnya seharusnya dikelola dengan manajemen yang sempurna. Pengelolaannya juga mengacu kepada fungsi manajemen yang biasa disebut POAC, yaitu : Planning, organizing, actuating dan controlling.41
a. Planning (perencanaan)
Yaitu mempelajari dan meramalkan masa depan yang menyangkut pelaksanaan haji mengenai beberapa hal yaitu :
1) Kegiatan atau aktifitas haji harus disenangi masyarakat pada umumnya (khususnya aktifitas pada kegiatan pengelolaan haji pada aspek; pembinaan, pelayanan, dan perlindungan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang.
2) Sasaran atau tujuan dari aktifitas haji tersebut harus jelas. 3) Fasilitas pengelolaan haji yang perlu dipenuhi dan memadai.
4) Membuat kebijaksanaan termasuk peraturan atau tata tertib yang akan diberlakukan. 5) Memperhitungkan waktu dan cara untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. b. Organizing (pengorganisasian)
Yaitu menentukan tempat beserta para pelaksananya yang diatur dalam kerangka struktur sekaligus pembagian tugas dan wewenang serta tanggung jawabnya. Dalam hal ini, kerangka struktur organisasi dalam pengelola haji di Sidenreng Rappang, berorientasi
41Lihat, Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 4
kepada pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab, maka perlu diperhatikan potensi orang-orang yang terkait. Dalam hal ini pengelolaan dan pembinaan haji adalah lembaga haji, seperti Kementerian Agama Kabupaten/kota, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) kabupaten dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) kabupaten.
c. Actuiting ( Pelaksanaan)
Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap orang Islam yang mampu menunaikannya. Penyelanggaraan haji adalah rangkaian kegiatan pengelolaan pelaksanaan ibadah haji yang meliputi pembiayaan, pelayanan, dan perlindungan jamaah haji.
Pembinaan yang dilakukan adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan dan pembimbingan bagi jamaah haji, serta pelayanan kesehatan berupa; pemeriksaan kesehatan, perawatan, dan pemeliharaan kesehatan jamaah termasuk perlindungan yang diberikan oleh penyelenggara haji baik pada waktu pemberangkatan maupun pada saat pemulangan ke tempat asal jamaah.
Jamaah haji adalah warga negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji sesuai persyaratan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara haji. Penyelenggaraan haji dilaksanakan berdasarkan asas keadilan, profesionalitas, dan akuntabiltas dengan prinsip nirlaba.42
Penyelenggara haji berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan dengan menyediakan layanan dan administrasi yang akurat dan memiliki prosedur yang tetap, bimbingan ibadah yang mudah dipahami dan dipraktikkan, akomodasi
yang memenuhi unsur kesehatan, transportasi yang nyaman dan terjangkau, pelayanan kesehatan yang memadai, keamanan yang optimal termasuk hal-hal yang dibutuhkan oleh jamaah haji dalam memperlancar pelaksanaan ibadah hajinya.
d. Controlling ( Pengawasan )
KPIH ( Komisi Pengawas Haji Indonesia) dibentuk untuk melakukan pengawasan pelaksanaan haji dalam rangka meningkatkan pelayanan penyelenggaraan Ibadah haji di Indonesia. KPIH ini, dalam hal pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden. KPIH bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap penyelenggaraan ibadah haji serta memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan pelaksanaan ibadah haji di Indonesia.
Keberadaan KPIH memiliki beberapa fungsi antara lain:
1) Memantau dan menganalisis kebijakan operasional penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia .
2) Menganalisis hasil pengawasan dari berbagai lembaga pengawasan dan masyarakat. 3) Menerima masukan dan saran masyarakat mengenai penyelenggaraan ibadah haji . 4) Merumuskan pertimbangan dan saran penyempurnaan kebijakan operasional
penyelenggaraan ibadah haji.43
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KPIH yang salah satu anggotanya dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI., bekerja sama dengan pihak terkait sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada
Presiden dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2002 tentang organisasi dan tata kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang, mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi Kementerian Agama dalam wilayah provinsi berdasarkan kebijakan Menteri Agama dan peraturan perundang-undangan.
Salah satu fungsi Kementerian ini adalah melakukan pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat Islam tentang pelayanan haji dan umrah, pengembangan zakat dan wakaf, pendidikan agama dan keagamaan, pondok pesantren, pendidikan agama Islam pada masyarakat dan pemberdayaan masjid, serta urusan agama, pendidikan agama, bimbingan masyarakat Kristen, Katolik, Hindu dan Budha sesuai peraturan perundang-perundangan.44
Berdasarkan uraian di atas, bahwa Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai institusi pemerintah yang berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan, dan pelayanan kepada masyarakat Islam untuk melaksanakan ajaran haji merupakan salah satu pranata keagamaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Sidenreng Rappang dan Sulawesi Selatan pada umumnya dengan memperhatikan masyarakat yang kurang mampu dan terus menerus berupaya melakukan penyempurnaan sistem pengelolaan haji agar pelaksanaannya lebih berhasil guna dan berdaya guna serta dapat dipertanggung jawabkan.
44Departemen Agama RI., Struktur Departemen Agama RI. (Jakarta: Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Departemen Agama RI., 2005 ), h. 98