• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

4.5. Definisi Operasional

Variabel yang digunakan untuk mengidentifikasi usahatani padi ramah lingkungan melalui metode SRI, yaitu:

1. Benih bermutu adalah benih yang mempunyai syarat murni (lokal), bernas (beras

nasional), kering dan sehat.

3. Jarak tanam adalah jarak dari satu rumpun padi ke rumpun padi disekitarnya pada

saat tandur (cm).

4. Jumlah bibit adalah banyaknya bibit padi yang ditanam di sawah (kg per ha).

5. Kedalaman tanam adalah dalamnya bibit yang ditanam kedalam lahan pada saat

tandur (cm).

6. Penyulaman adalah kegiatan mengganti bibit yang tidak tumbuh atau rusak dengan

bibit yang baru, dilakukan beberapa hari setelah tanam (hst).

7. Penyiangan adalah kegiatan mencabut dan membuang gulma dari sawah,

dilakukan beberapa hari setelah tanam (hst).

8. Pupuk kandang adalah kotoran hewan yang dijadikan pupuk untuk menyuburkan

lahan (ton per ha).

9. Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari bahan organik sisa dedaunan,

jerami, dedak padi dan lain – lain (ton per ha).

10. Pupuk bokashi atau pupuk fermentasi adalah pupuk kompos atau pupuk kandang

yang ditambah mikroba pengurai agar lebih cepat proses pembentukkannya (ton per ha).

11. Pupuk organik cair adalah pupuk organik yang berbentuk cair (lt per ha).

12. Pupuk organik padat adalah pupuk organik yang berbentuk padat (ton per ha).

Sedangkan variabel yang digunakan untuk menganalisis pendapatan, marjin pemasaran dan persepsi petani padi ramah lingkungan metode SRI adalah:

1. Biaya tunai adalah semua biaya yang dibayarkan dengan uang seperti biaya

pembelian sarana produksi (benih, pupuk) dan biaya untuk membayar tenaga kerja luar keluarga dalam satuan rupiah (Rp).

2. Biaya yang diperhitungkan adalah untuk menghitung berapa sebenarnya

pendapatan kerja petani jika penyusutan alat, nilai tenaga kerja dalam keluarga di perhitungkan, sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri, dan penggunaan benih dari hasil produksi. dalam satuan rupiah (Rp).

3. Biaya produksi adalah biaya total yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan petani

dalam satu musim tanam, dinyatakan dalam satuan rupiah per musim tanam (Rp per musim tanam).

4. Hasil produksi adalah hasil produksi fisik berupa gabah kering giling dari usahatani

padi ramah lingkungan yang dihasilkan petani pada sawah yang digarapnya dalam satu musim tanam diukur dalam satuan ton per hektar (ton per hektar).

5. Jumlah tenaga kerja adalah banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan dalam satu

musim tanam, diukur dalam satuan hari kerja pria (HKP) atau hari kerja wanita (HKW).

6. Upah tenaga kerja adalah imbalan atas jasa dari setiap satuan tenaga kerja yang

dipergunakan, diukur dalam satuan rupiah per musim tanam (Rp per musim tanam).

7. Biaya pestisida organik merupakan banyaknya biaya yang dipergunakan untuk

kebutuhan pestisida organik dalam satu musim tanam, diukur dalam satuan rupiah per musim tanam (Rp per musim tanam).

8. Biaya benih adalah banyaknya biaya yang dipergunakan untuk kebutuhan benih

dalam satu musim tanam, diukur dalam satuan rupiah per musim tanam (Rp per musim tanam).

9. Biaya pupuk banyaknya biaya yang dipergunakan untuk kebutuhan pupuk dalam

satu musim tanam, diukur dalam satuan rupiah per musim tanam (Rp per musim tanam).

10. Saluran pemasaran adalah saluran yang digunakan oleh lembaga pemasaran untuk

menyalurkan gabah dan beras dari petani sampai kepada konsumen akhir.

11. Lembaga pemasaran adalah lembaga – lembaga yang melaksanakan fungsi –

fungsi pemasaran mulai dari petani sampai ke konsumen.

12. Harga jual petani adalah harga gabah kering giling (GKG) yang diterima petani,

dalam satuan rupiah per kg (Rp per kg).

13. Harga beli pedagang adalah harga gabah yang diterima pedagan pengumpul

maupun pedagang besar daerah dan harga beras yang diterima pedagang baik pedagang besar daerah atau luar daerah maupun pedagang pengecer daerah atau luar daerah tasikmalaya, dalam satuan rupiah per kg (Rp per kg).

14. Harga beras konsumen adalah harga transaksi antara pedagang pengecer dengan

pembeli yang diukur dalam satuan rupiah per kg (Rp per kg).

15. Karakteristik individu adalah sifat – sifat yang melekat pada diri petani yang

mencakup umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, status kepemilikan lahan, lama bertani dan pendapatan per bulan.

a. Umur adalah usia petani yang dihitung dari tahun kelahirannya sampai saat

wawancara / penelitiannya berlangsung. Umur dikelompokkan menjadi:

• Muda : < 30 tahun • Sedang : 30 – 40 tahun • Tua : > 40 tahun

b. Tingkat pendapatan adalah jumlah uang yang diperoleh petani setiap bulan dari

hasil bertani.

• Rendah : < Rp 500.000,00

• Sedang : Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00 • Tinggi : > Rp 1.000.000,00

c. Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah keluarga rumah tangga yang

ditanggung oleh petani (termasuk petani). Jumlah tanggungan keluarga dikelompokkan memjadi:

• Sedikit : < 3 orang • Sedang : 3 – 6 orang • Banyak : > 6 orang

d. Status kepemilikan lahan merupakan kedudukan petani yang menggambarkan

pola kepemilikan lahan. Status penguasaan lahan dikelompokkan menjadi:

• Petani penyakap: petani yang menggarap lahan milik orang dan mempunyai

hak membuat keputusan atas lahan dengan jumlah bagi hasil antara petani penggarap dengan pemilik lahan sebesar 50 persen untuk petani penggarap dan 50 persen untuk pemilik lahan jika pemilik lahan membantu dalam biaya produksi, sedangkan jika petani penggarap tidak meminta bantuan kepada pemilik lahan maka bagi hasilnya adalah 70 persen untuk petani penggarap dan 30 persen untuk pemilik lahan.

• Petani pemilik penggarap: petani yang memiliki lahan dan menggarap

lahanya sendiri.

e. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang dicapai oleh

• Rendah : tidak tamat / tamat SD / sederajat • Sedang : tamat SMP / MTs / sederajat

• Tinggi : tamat SMU / sederajat / akademi / perguruan tinggi

f. Lama bertani adalah waktu bertani yang dihitung sejak pertama kali mulai

bekerja sebagai petani, lama bertani dikelompokkan menjadi:

• Baru : < 6 tahun • Sedang : 6 – 15 tahun • Lama : > 15 tahun.

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1. Gambaran Daerah Penelitian

5.1.1. Wilayah dan Topogafi

Desa Sukagalih merupakan salahsatu desa yang berada di wilayah Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya seperti terlihat pada Lampiran 1. Letak Desa Sukagalih berada 4 km dari Kecamatan Sukaratu, dan jarak ke Ibukota Kabupaten Tasikmalaya 13 km yaitu daerah Singaparna, sedangkan untuk jarak dari ibukota Propinsi Jawa Barat (Bandung) adalah 120 km. Batas – batas wilayah Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya adalah sebagai berikut:

a. Batas Wilayah Utara : Desa Sukasukur b. Batas Wilayah Selatan : Desa Sukamahi c. Batas Wilayah Barat : Desa Indrajaya d. Batas Wilayah Timur : Desa Sukamaju

Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya memiliki luas lahan mencapai 197.095 Ha yang digunakan untuk pemukiman, pertokoan, sekolahan, tempat ibadah, pekuburan jalan, tanah sawah dan lain – lain seperti terlihat pada Lampiran 2. Adapun perincian luas lahannya dapat dilihat pada Tabel 4.

Berdasarkan dari Tabel 4 diketahui bahwa 69,22 persen luas wilayah Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya digunakan untuk tanah sawah, sedangkan sisanya adalah 30.782 persen adalah untuk permukiman, pekuburan, bangunan umum, dan lainnya.

Tabel 4. Luas Wilayah Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Menurut Penggunaannya Tahun 2004

No Penggunaan Lahan Luasan (Ha) Persentase (%)

1 Pemukiman 29.525 14,98 2 Bangunan Umum 750 0,38 3 Pekuburan 1.806 0,92 4 Tanah Sawah 136.425 69,22 5 Lain – lain 28.589 14,51 Jumlah 197.095 100,00

Sumber: Data Monografi Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, 2004

Secara topografi daerah Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya memiliki tinggi tempat ± 500 diatas permukaan laut dengan suhu udara rata – rata berkisar 20 oC – 29 oC. Curah hujan rata-rata pada musim kemarau 800 mm dan pada musim hujan mencapai 2.540 mm. Kondisi ini memungkinkan penduduknya untuk mengusahakan berbagai macam usaha pertanian seperti sawah, kebun, kolam, ternak ayam, dan lain – lain.

5.1.2. Keadaan Sosial Ekonomi

Penduduk Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya berjumlah 4.258 orang yang seluruh penduduknya beragama islam yang terdiri atas 2.152 orang laki – laki dan 2.106 orang berjenis kelamin perempuan dengan tingkat pendidikan masyarakat Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya seperti yang terlihat pada Tabel 5.

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya berpendidikan SD yaitu sebanyak 2.189 orang (87,6 persen) dari keseluruhan penduduk yang mengenyam

pendidikan formal, tetapi banyak pula (1300 orang) yang mengenyam pendidikan pesantren atau madrasah, dan sisanya (769 orang) belum atau tidak mengenyam pendidikan.

Tabel 5. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2004

Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) TK 85 3,4 SD 2.189 87,6 SMP / MTs 95 3,8 SMU / MA 70 2,8 Diploma 20 0,8 S1-S3 40 1,6 Jumlah 2.499 100,0 Sumber: Data Monografi Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten

Tasikmalaya, 2004

Ditinjau dari segi mata pencaharian maka masyarakat Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada Tabel 6, mata pencaharian yang paling utama adalah sebagai petani sebanyak 558 orang (16,5 persen), buruh tani sebanyak 1107 orang (32,8 persen), pedagang atau wiraswasta 1161 orang (34,4 persen), tukang 202 orang (6 persen), lainnya 339 orang (10 persen) sebagai PNS, pensiunan dan jasa. Sebagian besar penduduk Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya mempunyai mata pencaharian sebagai pedagang atau wiraswasta. Hal ini terjadi karena posisi Desa Sukagalih yang strategis dekat pasar Indihiang dan jalan provinsi serta berbatasan dengan kecamatan Cisayong dan kota Tasikmalaya sehingga banyak yang berjualan atau berwiraswasta karena omsetnya dianggap lebih besar dibanding usaha lain. Desa Sukagalih Kecamatan

Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya adalah sebagai salah satu pemasok komoditas pertanian di pasar Indihiang.

Tabel 6. Jenis Mata Pencaharian Penduduk Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2004

Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%) PNS 30 0,89 POLRI 1 0,03 Pedagang 1.161 34,48 Petani 558 16,57 Tukang 202 6,00 Buruh tani 1.107 32,88 Pensiunan 277 8,23 Jasa 31 0,92 Jumlah 3.367 100,00

Sumber: Data Monografi Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya, 2004

5.1.3. Sarana dan Prasarana

Jalan di Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya relatif kondisinya sudah bagus mencapai 90 persen jalan sudah beraspal, dan dalam kondisi sedikit rusak dengan panjang jalan mencapai 5.5 km, jalan ini merupakan jalan alternatif menuju objek wisata Gunung Galunggung. Sarana transportasi menuju Desa Sukagalih relatif mudah, meskipun tidak ada angkutan umum roda empat (pedesaan), selama ini sarana transportasi yang digunakan adalah angkutan roda dua (ojeg). Sarana umum yang ada di Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Sarana Umum di Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2004

No Sarana Umum Jumlah (buah)

1 Mesjid 8 2 Mushola 34 3 SD 2 4 SMP 1 5 Pondok Pesantren 3 6 Waduk 4 7 Saluran Irigasi 5

Sumber: Data Topografi Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya, 2004

5.1.4. Kondisi Pertanian Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya

Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya merupakan desa yang luasan wilayahnya dipakai untuk tanah sawah mencapai 136.425 ha atau 69.218 persen. Jumlah waduk yang ada di Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya berjumlah empat buah yang bersumber dari dua buah sungai yaitu sungai Ciloseh dan sungai Baranangsiang. Saluran irigasi sepanjang 2000 meter dengan lima buah pintu pembagi. Sarana irigasi ini dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga air dapat tersalurkan ke lahan pertanian.

Kehidupan bertani sebagian besar penduduk merupakan kegiatan turun temurun, teknik budidaya yang diterapkan untuk padi secara umum sudah modern dimana pengolahan tanahnya menggunakan traktor dengan menyewa, tetapi ada sebagian petani yang masih menggunakan jasa ternak yaitu kerbau untuk mengolah lahannya. Para petani di Desa Sukagalih Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya sudah mengenal adanya rotasi tanaman, tetapi hanya sebagian petani

yang melakukan rotasi tanaman. Petani yang tidak melakukan rotasi tanam mempunyai alasan bahwa air tersedia secara kontinue.