• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.3 Definisi Operasional

Variabel-variabel dalam penelitian ini diberi batasan atau didefinisioperasionalkan agar dapat ditentukan indikator pengukurannya dan batasan-batasan yang digunakan dalam memperoleh data dan menganalisisnya sehubungan dengan penarikan kesimpulan. Definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah:

(1) Karakteristik internal petani adalah gambaran tentang sifat-sifat atau ciri-ciri pribadi yang dimiliki petani dan mempengaruhi peran dan kinerja petani tersebut meliputi:

a. umur tingkat usia biologis petani pada saat penelitian dilaksanakan.

Pembulatan umur dilakukan apabila kurang dari enam bulan ditiadakan dan apabila lebih dari enam bulan dibulatkan satu tahun. Umur dihitung dalam satuan tahun dan pengukurannya dengan menggunakan skala ordinal. Dalam penelitian umur petani responden diklasifikasikan dalam

tiga kategori, yaitu: 1= muda ≤ 30 tahun; 2= 31 ≤ sedang ≤ 45 tahun;

dan 3= tua > 45 tahun,

b. pendidikan formal adalah tingkat pendidikan tertinggi yang pernah dijalani atau diikuti petani secara formal. Tingkat pendidikan formal petani diukur dengan skala ordinal dan diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah untuk SD; 2= sedang untuk SMP; dan 3=

tinggi untuk SMA, Diploma, PT.

c. luas lahan garapan adalah lahan yang digarap oleh responden dan dinyatakan dalam satuan hektar. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal dan diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: 1= sempit ≤ 0,5 hektar; 2= 0,6 ≤ sedang ≤ 1 hektar; dan 3= luas >

1 hektar.

(2) Karakteristik eksternal petani adalah gambaran sifat-sifat atau ciri-ciri di luar pribadi petani yang berkaitan dengan pengambilan keputusan inovasi meliputi:

a. Peranan penyuluhan dan kelompok tani adalah pengaruh penyuluhan dan kelompok tani dalam adopsi petani terhadap Prima Tani yang terdiri dari:

a1. intensitas petani menghadiri penyuluhan adalah berapa kali petani menghadiri pertemuan dengan penyuluh, petak percontohan, dan temu lapang selama tahun 2008. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=tidak pernah;

2=jarang; 3=sering; 4=selalu,

a2. persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh adalah pandangan petani terhadap kemampuan penyuluh terkait dengan tingkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju;

2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah; 2=

sedang; 3= tinggi. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-17; kategori 2= 18-34; dan kategori 3= 35-52, a3. persepsi petani terhadap peranan penyuluh adalah pandangan

petani terhadap peranan penyuluh dalam adopsi Prima Tani. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu:

1= tidak setuju; 2= kurang setuju; 3= setuju; 4= sangat setuju.

Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= rendah; 2= sedang; 3= tinggi. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-10; kategori 2= 11-21;

kategori 3= 22-32,

a4. tingkat aktifitas petani dalam kelompok tani adalah intensitas petani dalam melakukan hubungan kerjasama dengan kelompok tani. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=tidak pernah; 2=jarang; 3=sering.

b. Ketersedian sarana produksi pertanian adalah tingkat kemudahan petani dalam mendapatkan benih/bibit, pupuk, dan obat-obatan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=

sangat sulit; 2= sulit; 3= mudah; 4= sangat mudah.

(3) Karakteristik inovasi adalah sifat-sifat inovasi Prima Tani yang diperkenalkan Badan Litbang Pertanian menurut pendapat petani. Sifat-sifat inovasi tersebut meliputi:

a. tingkat keuntungan relatif (relative advantage) adalah perbandingan keuntungan relatif antara teknologi Prima Tani (inovasi baru) dengan teknologi sebelumnya (lokal). Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju; 2=kurang setuju;

3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih merugikan; 2= sama saja; dan 3=

lebih menguntungkan. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-6; kategori 2= 7-13; dan kategori 3= 14-20,

b. tingkat kesesuaian (compatibility) adalah sesuai atau tidaknya teknologi Prima Tani dengan nilai-nilai atau kebiasaan yang telah ada sebelumnya di dalam masyarakat, pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan petani.

Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu:

1= tidak setuju; 2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1=

tidak sesuai; 2= sama saja; dan 3= sesuai. Skor untuk setiap kategori

didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan.

Skor untuk kategori 1= 1-4; kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12, c. tingkat kerumitan (complexity) adalah rumit atau tidaknya teknologi

Prima Tani untuk dilaksanakan. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju; 2=kurang setuju;

3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih rumit; 2= sama saja; dan 3= lebih sederhana. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-4;

kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12,

d. tingkat kemudahan untuk dicoba (triability) adalah mudah atau tidaknya teknologi Prima Tani dicoba pada kondisi yang ada. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1= tidak setuju;

2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1= lebih sulit, 2= sama saja;

dan 3= lebih mudah. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-2; kategori 2= 3-5; dan kategori 3= 6-8,

e. tingkat kemudahan untuk diamati (observability) adalah ada atau tidaknya hasil yang dapat dengan mudah dilihat atau diamati. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ordinal, yaitu: 1=

tidak setuju; 2=kurang setuju; 3=setuju; 4=sangat setuju. Hasil pengukuran kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yaitu: 1=

lebih sulit; 2= sama saja; dan 3= lebih mudah. Skor untuk setiap kategori didapatkan dari mengalikan jumlah pernyataan dengan nilai skala yang tertinggi kemudian dibagi dengan jumlah kategori yang diinginkan. Skor untuk kategori 1= 1-4; kategori 2= 5-8; dan kategori 3= 9-12.

(4) Pengambilan keputusan inovasi oleh petani, adalah pemilihan petani untuk menerima atau menolak inovasi. Skala pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala nominal, yaitu 0= tidak (tidak adopsi); 1= ya (adopsi).

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei explanatory dengan menggunakan pendekatan kuantitatif didukung oleh

data kualitatif. Menurut Singarimbun dan Effendi (1989) penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Penelitian survei explanatory digunakan untuk menjelaskan suatu gejala dan hubungan faktor-faktor dengan gejala tersebut.

Pendekatan kuantitatif dipilih oleh peneliti untuk mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala dan mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapakan justifikasi keadaan dan kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Data kualitatif digunakan untuk mendukung data kuantitatif yang didapatkan dari pendekatan kuantitatif.

4.2 Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa lokasi ini adalah salah satu lokasi Prima Tani yang diduga berhasil7. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari tahun 2009.

7 Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Ir. Kurnia Suci Indraningsih,M.Si dengan judul Inovasi Usahatani Terpadu pada Lahan Marjinal: Kasus Lahan Kering di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Disertasi. Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor

4.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diterapkan oleh peneliti adalah teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data tentang karakteristik internal petani, karakteristik eksternal petani, karakteristik inovasi, dan pengambilan keputusan inovasi oleh petani yang diperoleh dari responden. Data sekunder adalah keadaan umum lokasi penelitian, hasil penelitian terkait dan data-data yang relevan dengan penelitian. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yaitu kantor Desa Jatiwangi dan situs resmi Prima Tani.

Data diperoleh dari responden dan informan. Responden penelitian ini adalah petani di Desa Jatiwangi. Pemilihan responden dilakukan secara acak menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata anggota kelompok tani (PKT) dan non anggota kelompok tani (PNKT). Teknik ini digunakan karena karakteristik responden dalam satu strata dianggap cenderung homogen atau sama dalam hal pengetahuan terhadap Prima Tani. Responden PKT terpilih sebanyak 24 orang dan responden PNKT terpilih sebanyak 20 orang sehingga total seluruh responden adalah sebanyak 44 orang. Informan penelitian ini adalah penyuluh dan ketua kelompok tani.

4.4 Teknik Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi rank Spearman. Langkah awal yang dilakukan adalah analisis deskriptif, analisis tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran data awal responden untuk mengungkapkan keadaan atau karakteristik data responden untuk

masing-masing variabel penelitian secara tunggal. Analisis deskriptif dilakukan menggunakan perangkat lunak microsoft excel 2007. Langkah berikutnya adalah melakukan uji korelasi rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel yang dinginkan. Uji korelasi rank Spearman dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistika yaitu SPSS versi 13.

BAB V

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1 Letak dan Kondisi Geografis

Desa Jatiwangi terletak di wilayah Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut. Desa Jatiwangi memiliki empat dusun (Ciakar, Pasir Kaliki, Halimun, dan Bojong), tiga belas rukun warga (RW), dan 54 rukun tetangga (RT) dengan luas wilayah 2.242,43 hektar yang membentang dari utara ke selatan, dengan lahan tegalan seluas 904,33 hektar. Ketinggian wilayah Desa Jatiwangi terletak antara 300-700 meter di atas permukaan laut (dpl) sedangkan jenis tanah termasuk jenis tanah latosol sebagian andosol dengan tekstur liat lempung sebagian berbatuan dan terjal dan pH-nya berkisar antara 4-6. Adapun batas–batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

 sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pamulihan

 sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukamulya

 sebelah timur berbatasan dengan Desa Talagawangi/Sukamulya

 sebelah barat berbatasan dengan Desa Depok/Wangunjaya

Kondisi alam wilayah Desa Jatiwangi pada umumnya berbukit bergelombang dengan tipologi desa sekitar pangkuan daerah hutan serta diapit oleh dua aliran sungai yaitu sungai Cikandang dan Ciarinem. Suhu harian rata-rata di Desa Jatiwangi berkisar antar 20º C sampai 27º C dengan curah hujan 2.000 mm/tahun serta enam bulan hujan dalam setiap tahunnya.

Sarana transportasi yang biasa digunakan masyarakat untuk berpergian ke luar desa adalah Elf. Terdapat ± 50 unit Elf yang beroperasi dengan rute

Bungbulang-Garut dan sebaliknya Garut-Bungbulang. Desa Jatiwangi dilalui oleh Elf karena berada diantara Bungbulang dengan Garut. Dari arah Bungbulang Elf

beroperasi pukul 06.00-18.00 WIB dan dari arah Garut pukul 10.00-22.00 WIB dengan tarif Rp 35.000,00 sedangkan tarif perjalanan Bungbulang-Jatiwangi adalah sebesar Rp 15.000,00 dan tarif perjalanan Jatiwangi-Garut adalah sebesar Rp 20.000,00. Jalan yang dilalui Elf adalah jalan aspal sehingga tidak sukar untuk dilalui dan lancar hanya saja pada beberapa titik rentan terjadi longsor yang disebabkan oleh labilnya konstruksi tanah. Jarak dari Desa Jatiwangi ke ibukota propinsi adalah 115 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam dan jarak dari Desa Jatiwangi ke ibukota kabupaten 45 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam sementara jarak dari Desa Jatiwangi ke ibukota kecamatan satu kilometer dengan waktu tempuh sekitar sepuluh menit.

Luas lahan di Desa Jatiwangi adalah 2.242,23 hektar yang diperuntukkan sebagai sawah tadah hujan, tegal/ladang, pemukiman, fasilitas umum, perkebunan rakyat, dan tanah negara. Data luas lahan dan peruntukkannya di Desa Jatiwangi disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas Lahan dan Peruntukannya di Desa Jatiwangi, 2008

No Peruntukan Luas (ha) Persentase

1 Sawah Tadah Hujan 145,00 6,47

2 Tegal/ladang 940,93 41,96

3 Pemukiman 7,80 0,35

4 Fasilitas Umum 23,00 1,03

5 Perkebunan Rakyat 342,00 15,25

6 Tanah Negara 783,50 34,94

Jumlah 2.242,23 100,00

Sumber: Data Monografi Desa Tahun 2008

Dari Tabel 1 dapat dilihat Tegal/ladang mendominasi pemanfaatan lahan di Desa Jatiwangi yaitu sebesar 41,96 persen dari luas total Desa Jatiwangi. Urutan kedua yang mendominasi pemanfaatan lahan di Desa Jatiwangi adalah tanah negara sebesar 34,94 persen dan urutan ketiga adalah perkebunan rakyat sebesar 15,25 persen.

5.2 Penduduk dan Mata Pencaharian

Penduduk Desa Jatiwangi berjumlah 7.709 jiwa dengan komposisi 3.870 jiwa penduduk laki-laki dan 3.839 jiwa penduduk perempuan dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.242 KK dan kepadatan penduduk (Man Land Ratio) Desa Jatiwangi termasuk dalam kategori jarang yaitu 34 orang/kilometer persegi.

Data mengenai penduduk Desa Jatiwangi Berdasarkan Mata Pencaharian disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Penduduk Desa Jatiwangi Berdasarkan Mata Pencaharian, 2008

No Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase

1 Petani 1.100 57,32

2 Buruh Tani 445 23,19

3 Buruh Swasta 2 0,10

4 Pegawai Negeri 95 4,95

5 Pengrajin 26 1,35

6 Pedagang 142 7,40

7 Jasa 109 5,68

Jumlah 1.919 100,00

Sumber: Data Monografi Desa Tahun 2008

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa mata pencaharian utama sebagian besar penduduk di Desa Jatiwangi adalah bertani, baik sebagai petani dan buruh tani.

Penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani sebesar 57,32 persen dan penduduk yang bermatapencaharian sebagai buruh tani sebesar 23,19 persen.

Tidak semua petani memiliki lahan sendiri untuk digarap, ada petani yang menggarap lahan petani lain seperti yang dialami oleh responden dengan inisial

”N” (petani di Dusun Sindang Sari). Penjelasan lebih lengkap mengenai ”N”

dapat dilihat pada Box 2.

Box 2. Petani yang Menggarap Lahan Petani Lain Karena Tidak Memiliki Lahan Sendiri

”N” adalah petani muda yang masih berumur 29 tahun. Beliau memiliki satu orang istri yang baru dinikahinya 1 tahun lalu. Orangtua beliau dan istrinya adalah petani tetapi orangtua mereka tidak meninggalkan warisan lahan bagi mereka karena lahan yang dimiliki orangtua mereka telah dijual untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Oleh karena itu, beliau tidak memiliki lahan sendiri untuk bertani. Beliau menggarap lahan petani lain. Luas lahan yang beliau garap tidak tentu tiap musim sesuai dengan permintaan petani yang meminta beliau menggarap lahannya. Petani-petani yang sering meminta beliau untuk menggarap lahannya adalah petani-petani sesama kelompok tani.

Selain bertani, beliau juga beternak dan berdagang menjual sayuran keliling desa. Beliau memiliki dua ekor domba dari bantuan pemerintah. Selain dua ekor kambing tersebut, beliau juga memelihara dan merawat domba-domba (dari bantuan pemerintah juga) petani lain. Pemeliharaan dan perawatan terhadap domba-domba, beliau lakukan tiap hari tepatnya sore hari setelah menggarap lahan pada pagi hari sampai siang hari. Sementara berdagang beliau lakukan saat masa-masa transisi dari satu musim ke musim lain. Pendapatan dari bertani, beternak, dan berdagang, beliau gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagian beliau tabung untuk membeli lahan

Berkebalikan dengan kondisi petani di atas, ada petani yang memiliki lahan yang sangat luas tetapi tidak dapat menggarap semua lahannya karena kekurangan modal seperti yang dialami oleh responden dengan inisial ”D” (petani

di Dusun Arinem). Penjelasan lebih lengkap mengenai ”D” dapat dilihat pada Box 3.

Box 3. Petani yang Memiliki Lahan Luas Tetapi Tidak Dapat Menggarap Semua Lahannya

”D” memiliki lahan yang sangat luas yaitu 8 hektar untuk bertani tetapi karena kekurangan modal beliau hanya dapat menggarap 3 hektar. Pada lahan tersebut beliau menanami padi, cabai keriting, singkong, dan kacang panjang.

Sedangkan 5 hektar lainnya tidak digarap sama sekali dan dibiarkan begitu saja.

Bila memiliki modal, lahan tersebut ingin beliau tanami kayu alba. Menurut beliau kayu alba lebih menguntungkan daripada padi karena biaya produksinya lebih rendah dan harganya relatif mahal dari waktu ke waktu. Selain itu, jarak lahan yang sangat jauh dari rumah juga sedikit banyaknya mempengaruhi keinginan mananam kayu alba. “Bila menanam padi misalnya, terus terang saya tidak sanggup karena letaknya sangat jauh dari rumah saya. Tidak hanya itu, medannya juga berat karena harus melalui sungai dan mendaki bukit. Untuk jalan saja saya tidak kuat palagi sambil mengangkut bibit, pupuk, dan obat yang luar biasa berat. Kalau menyuruh orang saya harus mengeluarkan uang lagi. Terus kalau padi kan kita harus rajin merawatnya karena rentan dengan hama penyakit tetapi kalau kayu alba kan tidak”.

”D” pernah ditawari kerjasama oleh orang dari desa lain untuk menggarap lahan tersebut dengan bagi untung-rugi, 20 persen bagi beliau dan 80 persen bagi orang itu. Orang itu bersedia menanggung semua biaya produksi seperti membeli bibit, pupuk, dan obat-obatan dan lain-lain. Tawaran tersebut ditolak oleh ”D”

dengan alasan panen kayu sangat lama, kurang lebih 5 tahun. “Pada selang waktu tersebut saya bisa berusaha mendapatkan modal dan kemudian menanam sendiri dengan keuntungan 100 persen”. Beliau juga pernah berencana menjual lahan tersebut untuk dijadikan tambahan modal untuk menggarap lahannya yang 3 hektar, tetapi beliau urungkan karena tanah menurut beliau adalah aset bagi keluarga khususnya anak-anaknya. “tanah dari waktu ke waktu harganya terus naik. Sayang sekali kalau saya jual sekarang. Biarlah tanah ini nanti buat sekolah anak-anak saya”.

Keinginan beliau untuk memiliki modal agar dapat menggarap lahan 5 hektar-nya sangat besar. Beliau pernah berkeinginan menjadi anggota kelompok tani di dusunnya agar mendapatkan kemudahan dalam meminjam uang sebagai modal -hal ini beliau dengar dari petani lain yang menjadi anggota kelompok tani di dusunny- tetapi keinginan tersebut beliau urungkan karena beliau tidak enak mengajukan diri dan lagipula beliau tidak diajak atau diundang oleh pengurus kelompok tani untuk menjadi anggota. Menurut beliau hanya orang-orang tertentu saja yang berada dalam kelompok tani yaitu keluarga dan kerabat ketua kelompok tani.

Diantara sekian banyak petani pria yang terdapat di Desa Jatiwangi ada petani wanita yang harus mengganti pekerjaan suami di sawah dan ladang. Suami mereka bekerja di kota sebagai usaha untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.

Pendapatan dari bertani dirasakan tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti responden dengan inisial

”M” dan ”D” (petani wanita di Desa Jatisari). Penjelasan lebih lengkap mengenai

”M” dan ”D” dapat dilihat pada Box 4.

Box 4. Petani Wanita

”M” adalah salah satu petani wanita yang berada di Desa Jatiwangi Dusun Jatisari. Beliau memiliki satu orang anak buah perkawinannya dengan ”B” yang berumur sekitar 5 tahun. Beliau dan anak jarang sekali bertemu dan berkumpul bersama suami karena sang suami bekerja di luar desa tepatnya di kota Garut.

Dalam setahun, mereka hanya bisa bertemu dan berkumpul selama 2 bulan, 10 bulan selebihnya tidak bisa. Pekerjaan suaminya adalah supir angkutan kota.

Pekerjaan ini menuntutnya untuk jauh lebih lama tinggal di kota daripada di desa bersama istri dan anak. Pendapatan dari pekerjaan ini sedikit banyak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam seminggu pendapatan suaminya rata-rata sebesar Rp 120.000, sebulan sebesar Rp 480.000, dan setahun sebesar Rp 4.800.000.

Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pendapatan suami digunakan juga untuk membayar biaya-biaya produksi usahatani seperti membeli benih/bibit, pupuk, obat-obatan, dan membayar tenaga kerja. Dana biaya-biaya produksi ini, diatur dan dikelola sepenuhnya oleh bu Mulyati. Secara lebih besar, semua urusan mengenai usahatani dilakukan oleh bu Mulyati mulai dari menanam sampai memanen.

Sama seperti ”M”, ”Diah” juga mengatur dan mengelola sepenuhnya urusan usaha tani di desa dan suaminya bekerja di kota. Hanya saja pekerjaan suami ”D” tidak sama dengan ”Mulyati”. Suami ”D” bekerja sebagai kuli bangunan. Suaminya bekerja di kota rata-rata 10 bulan/tahun dan upah dari pekerjaan suaminya rata-rata sebesar Rp 225.000/minggu, Rp 900.000/bulan, dan Rp 9.000.000/tahun

Dalam berusaha tani beliau mengalami sedikit kerepotan karena beliau memiliki seorang baduta. Seringkali anaknya menangis apabila beliau titipkan di rumah neneknya atau di rumah kerabat keluarga lain. Oleh karena itu, mau tidak mau anaknya sering beliau bawa ke sawah dan ladang dalam merawat padinya.

5.3 Pola Tanam dan Sistem Upah

Pada lahan sawah, dalam setahun petani dapat menanam sebanyak tiga kali dengan pola menanam padi pada musim pertama dan musim kedua, pada musim ketiga (musim kemarau) menanam cabe keriting. Varietas padi yang banyak digunakan adalah Sarinah dan IR64. Dalam satu musim petani dapat memanen ± 8 ton GKP/hektar dengan satu kwintal padi biasa dijual dengan harga Rp 250.000,00-Rp 300.000,00. Benih/bibit tidak dibeli tetapi diambil dari bulir padi yang telah dipanen. Pupuk yang biasa digunakan adalah Urea, TSP, dan KCL dengan komposisi satu kwintal Urea, 50 kg TSP, 25 kg KCL pada luas lahan satu hektar sementara obat yang biasa digunakan adalah obat dengan merek dagang Matador sebanyak dua kaleng. Pupuk dan obat ini dibeli di Cikajang dengan harga masing-masing Urea Rp 1.500,00/kg, TSP Rp 2.500,00/kg, KCL Rp 3.000,00/kg, Matador Rp 15.000/kaleng. Komoditas cabe keriting banyak dipilih oleh petani untuk ditanami pada musim kemarau karena pendapatan dari panen cukup menjanjikan. Dalam satu musim, jumlah cabe keriting yang dapat dipanen adalah sebanyak ± 4 kwintal dengan harga Rp 1.500.000,00/kwintal dengan biaya produksi sebesar Rp 3.000.000,00 sehingga total pendapatan bersih petani adalah sebesar Rp 3.000.000,00. Varietas yang sering ditanam adalah TM 999, Lado F1, dan Tanamo F1.

Pada lahan kering, dalam setahun petani dapat menanam padi paling

Pada lahan kering, dalam setahun petani dapat menanam padi paling