BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Definisi Operasional
1. Biaya Terapi Diabetes Mellitus adalah biaya total (biaya langsung + biaya tidak langsung) pengobatan atau perawatan medis pada pasien dengan diagnosa diabetes mellitus.
2. Biaya Langsung adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh pasien DM dan keluarga terkait langsung dengan perawatan kesehatan di RSUD Dr. H.
Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi, perawat termasuk biaya obat (dan perbekalan kesehatan), biaya konsultasi dokter, biaya jasa, penggunaan fasilitas rumah sakit (kamar rawat inap, peralatan), uji laboratorium, biaya pelayanan informal dan biaya kesehatan lainnya.
Sebagai operasional dari biaya langsung diperoleh beberapa sub variabel yang mempengaruhi yaitu :
Biaya Obat adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh pasien DM
dan keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan (obat dan bahan habis pakai).
Biaya Konsultasi Dokter adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh
pasien DM dan keluarga untuk memperoleh jasa pelayanan dokter untuk konsultasi maupun visit dokter.
Biaya Jasa Perawat adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh pasien DM dan keluarga untuk memperoleh jasa perawat.
Biaya Pemeriksaan Laboratorium adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh pasien DM dan keluarga untuk pemeriksaan laboratorium.
Biaya Rawat Inap adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh pasien
DM dan keluarga untuk ruang rawat inap (ruang tempat pasien dirawat).
Biaya Administrasi adalah biaya/uang yang dikeluarkan oleh
pasien DM dan kelaurga untuk biaya pendaftaran di bagian administrasi rumah sakit.
3. Biaya tidak langsung adalah uang yang dikeluarkan oleh pasien DM untuk pelayanan yang tidak terkait dengan perawatan kesehatan / pelayanan medis atau yang tidak berhubungan langsung dengan proses pengobatan/penyembuhan.
Biaya transportasi adalah biaya/uang yang dikeluarkan untuk
akomodasi pasien dan keluarga dari tempat tinggal ke RSU Dr. H.
Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
Biaya hilangnya produktivitas adalah biaya (pendapatan) yang
hilang berhubungan langsung dengan waktu produktif yang hilang karena menderita DM akibat dirawat di rumah sakit, baik pasien maupun keluarga yang mendampingi.
Biaya pendamping adalah biaya/uang yang dikeluarkan untuk
kebutuhan pendamping pasien selama di rawat inap termasuk makanan, rokok, jajanan dan sebagainya.
3.6 Metode Analisa Data
Data dalam penelitian ini, data primer dan sekunder yaitu data biaya yang dikeluarkan oleh sampel (pasien) DM rawat inap yang meliputi biaya yang terkait
dengan perawatan (biaya langsung) dan biaya yang terkait dengan hilangnya produktifitas (biaya tidak langsung) dikumpulkan kemudian dilakukan perhitungan sehingga didapatkan biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh setiap jenis/variasi biaya tersebut. Analisis biaya tersebut menggunakan bantuan software Microsoft Excel.
Untuk menentukan besarnya kerugian dari nilai produktifitas yang hilang akibat sakit, didasarkan pada perhitungan waktu produktif yang hilang selama dirawat. Biaya hilangnya produktifitas adalah jumlah hilangnya pendapatan pasien dan pendamping karena tidak bisa bekerja (produktif) selama menjalani perawatan di rumah sakit.
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelelitian
4.1.1 Gambaran Lokasi Penelelitian
Kota Tebing Tinggi merupakan daerah Hinterland yang menghubungkan daerah Kabupaten Kota menuju Ibukota Propinsi Sumatera Utara dan memudahkan masyarakat sekitar Kota Tebing Tinggi untuk dapat memperoleh Pelayanan Kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi terletak di lokasi yang strategis yaitu di tengah inti Kota serta mudah dijangkau oleh masyarakat Kota Tebing Tinggi dan sekitarnya.
Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi dibangun tahun 1958, diresmikan oleh gubernur sumtera utara pada tahun 1962 yang bernama Rumah Sakit Kota Praja. Dibangun di atas areal tanah seluas 25.068,4 M2 dengan luas bangunan 18.635,18 M2.
Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan mengenang jasa salah seorang dokter pribumi pertama yang berpraktek di Kota Tebing Tinggi dan merupakan Tokoh Masyarakat yang banyak bergerak di bidang kesehatan, maka nama Rumah Sakit dirubah menjadi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane. Perubahan ini ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1013/Menkes/SK/IX/2007 Tanggal 6 Desember 2007, tentang perubahan Nama Rumah Sakit Umum Menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi. Pada Tanggal 28 Juli 2009 dan telah ditetapkan menjadi Kelas B non pendidikan berdasarkan Surat Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 581/MENKES/VII/2009 tentang Peningkatan Kelas rumah sakit, pada
tahun 2010 rumah sakit telah ditetapkan sebagai Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) sesuai dengan surat keputusan Walikota Tebing Tinggi Nomor : 900/832 Tahun 2010 tentang Penetapan Status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) pada RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi dan pada tahun 2016 rumah sakit telah ter akreditasi dengan lulus tingkat “DASAR” sesuai dengan sertifikat Akreditasi rumah sakit dari tim Komisi akreditasi Rumah Sakit (KARS) nomor : KARS-SERT/557/XII/2016 tanggal 30 Desember 2016 dan berlaku sampai dengan 7 Desember 2019.
4.1.2 Prinsip - Prinsip Dasar RSUD Dr. H. Kumpulan Pane A. Visi dan Misi
Visi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi adalah sebagai berikut : “ Menjadikan Rumah Sakit yang Terpercaya, Profesional, Terkini, Aman, Nyaman dan Terjangkau Oleh Masyarakat Kota Tebing Tinggi dan Sekitarnya.”
Adapun misi rumah sakit tersebut adalah :
a. Menyelenggarakan pelayanan Rumah Sakit dengan didasari komitmen tinggi dan partisipasi seluruh pegawai.
b. Meningkatkan mutu sumber daya manusianya melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan
c. Mengembangkan pelayanan unggulan
d. Meningkatkan sarana dan prasarana yang mengikuti perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi secara terus-menerus
e. Menyelenggarakan pelayanan rumah sakit yang berorientasi dan terfokus pada kepuasan pelanggan termasuk masyarakat miskin
f. Meningkatkan efektivitas, efisiensi dan fleksibilitas pengelolaan keuangan B. Motto
RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi memiliki sebuah motto yaitu “Kami Peduli Kesehatan Anda”. Motto yang dimiliki rumah sakit ini berusaha untuk dapat melayani pasien dengan kerendahan hati dan ikhlas. Dengan demikian pasien akan merasa mendapatkan pelayanan kesehatan yang sempurna, dihargai dan merasa puas terhadap pelayanan di RSUD Dr.H.Kumpulan Pane.
C. Nilai-Nilai
Untuk mewujudkan visi dan misi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane, memiliki nilai-nilai dasar yang merupakan budaya kerja, menjadi landasan, pegangan dan pedoman bagi direksi, unit kerja manajemen, unit kerja pelayanan, dan seluruh karyawan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
Nilai-nilai Dasar (core values) yang diterapkan di Rumah Sakit mengambil singkatan dari nama Rumah Sakit KUMPULAN PANE yaitu :
a. Komitmen menjalankan tugas b. Unggul dalam pelayanan c. Mampu untuk maju d. Peduli terhadap pasien e. Utama dalam karya f. Loyal terhadap pimpinan
g. Aspiratif dalam penyampaian pendapat
h. Nyaman terhadap lingkungan i. Profesional dalam bekerja j. Akuntabel dalam tata kelola
k. Netral dalam memberikan pelayanan l. Empati dalam rasa
D. Keyakinan Dasar
Keyakinan Dasar (core beliefs) RSUD Dr.H. Kumpulan Pane adalah keikhlasan, kejujuran, keramahan, kemandirian dan optimisme yang dilandasi semangat kebersamaan. Dengan demikian visi dan misi RSUD Dr.H.Kumpulan Pane dapat diwujudkan dengan semangat kerjasama seluruh jajaran sebagai satu tim dengan berpegang teguh pada nilai keikhlasan, kejujuran, keramahan dan kemandirian.
4.1.3 Produk Layanan
Kegiatan RSUD Dr H Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi tercermin dari Jenis -jenis pelayanan yang ditawarkan kepada masyarakat, antara lain ;
1. Pelayanan Medik Umum
- Pelayanan Medik Gigi dasar - Pelayanan KIA / KB
- Pelayanan VCT/ CST 2. Pelayanan gawat Darurat 3. Pelayanan Spesialis dasar
- Penyakit Dalam - Anak
- Bedah
- Obstetri dan Ginekologi 4. Pelayanan Spesialis Penunjang
- Anastesi
5. Pelayanan Medik Spesialis Lainnya - Telinga, Hidung dan Tenggorokan - Paru
- Jantung dan Pembuluh Darah 6. Pelayanan Sub Spesialis
- Ginjal dan Hipertensi 7. Pelayanan Rawat Inap
- VIP/Super VIP - Kelas I, II. III
- Perawatan Infeksi dan penyakit Menular - ICU
- Perinatologi dan Neonati
8. Pelayanan Penunjang Medis - Laboratorium
- Pelayanan Farmasi - UTDRS
- Radiologi
- Pemulasaran Jenazah
9. Pelayanan Penunjang Non Medik - Rekam Medis
- Laundry
- Sanitasi dan IPAL - Instalasi Gizi / Dapur
- Intalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPS RS ) / K3 RS - CSSD
- Oksigen Central 10. Pelayanan Lainnya
- Administrasi - Kepegawaian - Keuangan
- Ambulance dan Mobil Jenazah - SIM RS
- Promosi Kesehatan - Keamanan
- Parkir - Kantin
RSUD Dr.H.Kumpulan Pane memiliki 130 ruangan dengan kapasitas Tempat Tidur mencapai 312 dimana saat ini jumlah tempat tidur rawat inap berjumlah 208 Unit dan didukung dengan fasilitas yang cukup memadai sebagai Rumah Sakit kelas B Non Pendidikan. Gambaran Jumlah Ruangan dan kapasitas Tempat tidur seperti tabel berikut :
Tabel 4.1. Jumlah Tempat Tidur Berdasarkan Ruangan RSUD Dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi tahun 2017
No Nama Ruangan Jml
Sumber : Bidang keperawatan RSUD Dr H Kumpulan Pane Kota T.Tinggi,2017
4.2 Karakteristik Responden
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Lama Menderita DM, Length Of Stay, Penjamin, Kelas
Pekerjaan Belum/Tidak Bekerja 1 1,49
Mengurus Rumah Tangga 15 22,39
PNS 17 25,37
Antidiabetik Metformin 32 47,76
Glibenklamid 14 20,90
Glimepiride 4 5,97
Pioglitazone 15 22,39
Gliquidone 2 2,99
Dari table 4.1 di atas dapat diketahui bahwa menurut usia, sebagian besar responden berusia 45-54 tahun yaitu sebanyak 28 orang (41,79%) dan sebagian kecil berusia < 45 tahun dan ≥ 65 yaitu masing-masing sebanyak 6 orang (8,96%). Menurut jenis kelamin, responden terbanyak ialah perempuan yaitu sebanyak 36 orang (53,73%), sedangkan laki-laki sebanyak 31 orang (46,27%).
Menurut pekerjaan, sebagian besar responden bekerja wiraswasta yaitu sebanyak 23 orang (34,33%) dan sebagian kecil bekerja sebagai buruh yaitu sebanyak 1 orang (1,49%). Menurut lama menderita DM, sebanyak 29 orang (43,28%) menderita DM selama ≤ 5 tahun, sedangkan sebanyak 38 orang (56,71%) menderita DM selama > 5 tahun. Menurut Lenght of Stay (LOS), sebagian besar responden dirawat selama 1-3 hari yaitu sebanyak 55 orang (8209%) dan sebagian kecil dirawat selama 4-6 hari yaitu sebanyak 12 orang (17,91%).
Menurut penjamin, sebagian besar responden menggunakan BPJS yaitu sebanyak 52 orang (77,61%) dan sebanyak 15 orang (22,39%) merupakan pasien umum. Menurut kelas kamar, sebagian besar responden menggunakan kamar kelas III yaitu sebanyak 29 orang (43,28%) dan sebagian kecil menggunalan kamar kelas II yaitu sebanyak 5 orang (7,46%). Sedangkan menurut penggunaan antidiabetik, sebagian besar responden menggunakan Metformin yaitu sebanyak 32 oang (47,76%) dan sebagian kcil menggunakan Gliquidone yaitu sebanyak 2 orang (2,99%).
4.3 Gambaran Biaya Langsung Pasien Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus 4.3.1 Gambaran Biaya Langsung Pasien Umum Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Tabel 4.3 Rata-rata Biaya Langsung Pasien Umum Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Jenis Biaya Rata – rata Biaya (Rp) Persentase (%)
Administrasi 15.000 1,33
Laboratorium 235.267 21,72
Tindakan 13.133 1,16
Visite Dokter 186.000 16,44
Kamar rawat inap 390.667 34,54
Obat dan Bahan Habis Pakai 280.611 24,81
Total 1.131.078 100,00
Dari tabel 4.3 di atas dapat diketahui rata-rata biaya langsung pasien
umum ialah sebesar Rp. 1.131.078,-, jenis biaya yang menggunakan biaya terbesar adalah biaya kamar yaitu sebesar Rp. 390.667,- (34,54%) dan yang terkecil ialah biaya tindakan sebesar Rp. 13.133,- (1,16%).
Tabel 4.4 Rata-rata Biaya Langsung Pasien Umum Dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelas Kamar Rawat Inap
Jenis Biaya Rata – rata Biaya (Rp)
VIP Kelas I Kelas II Kelas III
Administrasi 15.000 15.000 15.000 15.000
Laboratorium 276.250 191.000 275.000 245.000
Tindakan 9.625 22.000 - 10.000
Visite Dokter 268.125 108.000 60.000 45.000
Kamar rawat inap 501.250 312.000 210.000 80.000
Obat dan Bahan Habis
Pakai 295.521 271.000 245.000 245.000
Total 1.365.771 919.000 805.000 640.000
Dari table 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata biaya langsung pasien umum menurut kelas kamar rawat inap di kelas VIP ialah Rp. 1.365.771,-, dikelas I sebesar Rp. 919.0001.365.771,-,-1.365.771,-, dikelas II sebesar Rp. 805.0001.365.771,-,-1.365.771,-, dikelas III sebesar Rp.640.000,-.
4.3.2 Gambaran Biaya Langsung Pasien BPJS Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Tabel 4.5 Rata-rata Biaya Langsung Pasien BPJS (Tarif Rumah Sakit) Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Jenis Biaya Rata – rata (Rp) Persentase (%)
Administrasi 15.000 1,64
Laboratorium 211.808 23,19
Tindakan 13.404 1,47
Visite Dokter 113.038 12,38
Kamar rawat inap 269.808 29,54
Obat dan Bahan Habis Pakai 290.258 31,78
Total 913.343 100,00
Dari tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata biaya langsung pasien BPJS (tarif riil rumah sakit) ialah sebesar Rp. 913.343,- , jenis biaya yang terbesar ialah biaya obat dan BHP yaitu sebesar 290.285,- (31,78%) dan yang terkecil ialah biaya tindakan yaitu sebesar Rp. 13.404,- (1,47%)
Tabel 4.6 Rata-rata Biaya Langsung Pasien BPJS (Tarif Rumah Sakit) dengan Diabetes Mellitus menurut Kelas Kamar Rawat Inap yang Dijamin BPJS
Jenis Biaya Rata – rata Biaya (Rp)
Kelas I Kelas II Kelas III
Administrasi 15.000 15.000 15.000
Laboratorium 234.947 285.833 179.074
Tindakan 17.421 24.833 8.037
Visite Dokter 206.842 133.333 42.519
Kamar rawat inap 487.105 361.667 96.481
Obat dan Bahan Habis Pakai 325.660 335.414 255.364
Total 1.286.975 1.156.081 596.475
Dari table 4.6 di atas dapat diketahui bahwa Rata-rata biaya langsung pasien BPJS dengan diabetes mellitus menurut kelas kamar rawat inap yang dijamin BPJS di kelas I ialah sebesar Rp. 1.286.975,-, dikelas II sebesar Rp.
1.156.081,- dan dikelas III sebesar Rp. 596.475,-
Tabel 4.7 Rata-rata Biaya Selisih Kamar akibat Pindah Kelas Kamar Rawat Inap Pada Pasien BPJS
Kelas Kamar Rawat Inap
Kelas Kamar
Dijamin BPJS Frekuensi Rata-rata LOS (hari)
Dari tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa terdapat 11 orang pasien BPJS yang pind/ah kelas kamar dari kelas kamar yang dijamin oleh BPJS dengan rata-rata LOS = 4 hari dan rata-rata-rata-rata biaya sebesar Rp. 1.839.375,-. Perpindahan kamar kelas I ke VIP dengan LOS 3 hari, rata-rata biaya selisih kamar yang harus
dibayarkan ialah Rp. 294.375,-. Perpindahan kamar kelas II ke VIP dengan rata-rata LOS 4 hari, rata-rata-rata-rata biaya selisih kamarnya ialah Rp. 590.000,-. Sedangkan perpindahan kamar kelas III ke VIP dengan rata-rata LOS 5 hari, biaya selisih
Keluarga pendamping 216.000 52,70
30.333 7,40
Pendamping 132.867 32,42
Total 409.867 100,00
Dari tabel 4.8 di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata biaya tidak langsung pada pasien umum ialah Rp. 413.867,- dengan jenis biaya tidak langsung yang terbesar ialah hilangnya produktifitas pada pasien (responden) dengan rata-rata Rp. 216.000,- (52,70%) dan yang terkecil ialah hilangnya produktifitas pada keluarga pendamping dengan rata-rata Rp. 30.333,- (7,40%).
Tabel 4.9 Rata-rata Biaya Tidak Langsung Pasien Umum Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelas Kamar Rawat Inap
Jenis Biaya Rata – rata Biaya (Rp)
VIP Kelas I Kelas II Kelas III
Trasportasi 31.250 32.000 20.000 30.000
Hilangnya produktifitas
Pendamping 151.875 124.600 120.000 35.000
Total 502.500 332.600 300.000 165.000
Dari tabel 4.9 di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata biaya tidak langsung
pasien umum rawat inap dengan diabetes mellitus menurut kelas kamar rawat inap dikelas VIP ialah sebesar Rp. 502.500,-, dikelas I sebesar Rp. 332.600,-, dikelas II sebesar Rp. 300.000,-, dikelas III sebesar Rp. 165.000,-.
4.4.2 Gambaran Biaya Tidak Langsung Pasien BPJS Rawat Inap dengan
Trasportasi 29.474 41.667 47.185
Hilangnya produktifitas
Responden
Keluarga pendamping
78.947 52.000 78.333
58.053 83.333 19.815
Pendamping 150.263 135.167 70.000
Total 316.737 312.167 215.333
Dari table 4.11 dapat diketahui bahwa, rata-rata biaya tidak langsung pasien BPJS rawat inap dengan diabetes mellitus menurut kelas kamar rawat inap
kelas I ialah sebesar Rp. 316.737,-, kelas II sebesar Rp. 312.167,-, dan kelas III sebesar Rp. 215.333,-.
4.5 Gambaran Biaya Total Pasien Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus 4.5.1 Gambaran Biaya Total Pasien Umum Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Tabel 4.12 Rata-rata Biaya Total Pasien Umum Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelas Kamar Rawat Inap
Jenis Biaya Rata-rata Biaya (Rp)
VIP Kelas I Kelas II Kelas III
Biaya
Langsung 1.365.771 919.000 805.000 640.000
Biaya Tidak
Langsung 502.500 332.600 100.000 165.000
Total 1.868.271 1.251.600 1.105.000 805.000 Dari table di atas dapat dikeahui bahwa rata-rata biaya total pasien umum rawat inap dengan diabetes mellitus dikelas VIP ialah sebesar Rp. 1.868.271,- , dikelas I sebesar Rp. 1.251.600,-, dikelas II sebesar Rp. 1.105.000,-, dan dikelas III sebesar Rp. 805.000,-.
4.5.2 Gambaran Biaya Total Pasien BPJS Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus
Tabel 4.13 Rata-rata Biaya Total Pasien BPJS Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelas Kamar Rawat Inap yang Dijamin BPJS Jenis Biaya Rata-rata Biaya (Rp) Rata-rata
Selisish Biaya Biaya Tidak Langsung 316.737 312.167 215.333
Total 1.603.712 1.291.414 811.808 1.839.375
Dari table 4.13 di atas dapat diketahui bahwa, rata-rata biaya total pasien BPJS rawat inap dengan DM dikelas I ialah sebesar Rp. 1.603.712,-, dikelas II sebesar Rp. 1.291.414,-, dan dikelas III sebesar Rp. 811.808,- . Biaya langsung tidak dihitung karena pasien biaya langsung tersebut sudah ditanggung oleh BPJS.
Sedangkan untuk total biaya selisih kamar akibat pindah kelas kamar rawat inap pada pasien BPJS (13 pasien) totalnya ialah Rp. 1.839.375 dengan rincian sebagai berikut : rata-rata biaya pindah dari kelas I ke VIP ialah Rp.
294.375,- ; dari kelas II ke VIP sebesar Rp. 590.000,- ; dari kelas III ke VIP sebesar Rp. 955.000,-. Biaya ini hanya akan timbul jika pengguna BPJS ingin naik kelas ruang perawatan dari kelas yang ditanggungkan oleh BPJS masing-masing pasien.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 67 responden diketahui bahwa karakteristik responden bervariasi menurut usia, jenis kelamin, pekerjaan, lama menderita DM, Length of Stay (LOS), penjamin, dan jenis antidiabetik yang digunakan. Menurut usia, sebagian besar responden berusia 45-54 tahun yaitu sebanyak 28 orang (41,79%), hanya berbeda sedikit dengan kelompok usia 55-64 tahun yang berjumlah 27 orang (40,30%), sebagian kecil lagi ialah kelompok usia
< 45 tahun dan ≥ 65 tahun masing-masing sebanyak 6 orang (8,98%). Data yang didapat sesuai dengan pernyataan American Diabetes Association (ADA) dan PERKENI (2015) bahwa usia di atas 45 tahun merupakan salah satu faktor risiko terjadinya DM tipe 2.
Berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa jenis kelamin terbanyak dalam penelitian ini reponden dengan jenis kelamin perempuan yang ditemui adalah sebanyak 36 orang (53,73%). Selebihnya merupakan responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak sebanyak 34 orang (46,27%).
Untuk pekerjaan, sebagian besar responden adalah wiraswasta yaitu sebanyak 23 orang (34,33%) kemudian sisanya adalah PNS sebanyak 17 orang (24,37%), Mengurus Rumah Tangga sebanyak 15 orang (22,39%), Pensiunan sebanyak 6 orang (8,96%), Pegawai swasta dan pedagang masing-masing sebanyak 2 orang (2,99%) dan Belum/Tidak Bekerja dan Buruh masing-masing sebanyak 1 orang (1,49%).
Pekerjaan ini berkaitan dengan pendapatan dan nilai produtifitas yang hilang apabila responden tidak bekerja. Responden yang bekerja sebagai PNS umumnya ialah PNS PEMKO Tebing Tinggi, dimana terdapat potongan sejumlah Rp. 40.000,-/hari jika tidak bekerja yang dipotong dari tunjangan kinerja.
Pegawai swasta yang dijumpai ialah guru di salah satu perguruan swasta dengan potongan sebesar Rp. 6.500,- - Rp. 7.500,- per jam. Begitu juga dengan buruh dan wiraswasta lainnya, yang akan mendapatkan potongan dengan besaran tertentu apabila tidak masuk bekerja.
Dari tabel 4.2 distribusi responden menurut karakteristik lama menderita DM menunjukkan bahwa yang paling banyak adalah > 5 tahun yaitu sebanyak 38 orang (56,71%) dan ≤ 5 tahun sebanyak 29 orang (43,28%). Menurut karakteristik LOS, sebagian besar responden dirawat selama 1-3 hari yaitu sebanyak 55 orang (82,09%), sisanya sebanyak 12 orang (17,91%) dirawat selama 4-6 hari.
Menurut karakteristik penjamin, responden yang dijamin oleh BPJS adalah yang terbanyak yaitu sebanyak 52 responden (77,61%) dan sisanya adalah pasien umum atau biaya rawat inap ditanggung oleh pasien sendiri, yaitu sebanyak 15 orang (22,39%).
Berdasarkan kelas kamar yang ditempati selama rawat inap, responden penelitian ini lebih banyak menempati ruangan kelas III yaitu sebanyak 29 orang (43,28%), diikuti oleh ruang VIP sebanyak 21 orang (31,34%). Kamar kelas I digunakan oleh 12 orang (17,91%) dan kelas II digunakan oleh 5 orang (7,46%).
Banyaknya responden yang menggunakan kamar kelas III disebabkan karena
banyak diantara responden yang menggunakan BPJS PBI sedangkan kelas VIP berasal dari pasien umum dan beberapa pengguna PBJS kelas I, II maupun III yang pindah (upgrade) ruang rawat inapnya menjadi ruang VIP. Perpindahan ruang rawatan ini nantinya akan menimbulkan biaya “selisih kamar”, yaiatu biaya yang timbul akibat pindah kelas kamar rawat inap. Variabel biaya yang akan ikut bertambah ialah biaya kamar dan visite dokter.
Dari tabel 4.2, distribusi responden menurut karakteristik antidiabetik yang digunakan, yang paling banyak digunakan ialah metformin yaitu 32 orang (47,76%), diikuti oleh Pioglitazone yang digunakan oleh 15 orang (22,39%), Glibenkalmid yang digunakan oleh 14 orang (20,90%), Glimepiride yang digunaan oleh 4 orang (5,97%) dan yang paling sedikit ialah Gliquidone, yang digunakan oleh 2 orang (2,99%).
5.2 Rata-rata Biaya Langsung Pasien Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan pegawai rumah sakit di unit rekam medis dan kasir, menjelaskan bahwa setiap pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan, dikenakan biaya yang satuannya sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah yang disebut dengan unit cost atau biaya satuan. Biaya ini akan dihitung dibagain kasir RS. Biaya yang terkait dengan pelayanan kesehatan ini disebut biaya langsung. Tinggi rendahnya biaya langsung ini tergantung pada pilihan kelas kamar rawat inap, lama dirawat, dan penyakit penyerta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya langsung yang dikeluarkan oleh pasien umum ialah Rp. 1.131.078,- dengan komponen biaya
terbesar ialah biaya kamar rawat inap (34,54%), diikuti oleh biaya obat dan BHP (24,81%), biaya laboratorium (21,72%), visite dokter (16,44%), biaya administrasi (1,33%) dan biaya tindakan (1,16%).
Tingginya biaya kamar rawat inap ini dikarenakan pada pasien umum yang menjadi sampel peneliti didominasi oleh pasien di kelas VIP dan kelas I.
Dari 15 orang pasien umum, 8 diantaranya memilih menggunakan kamar kelas VIP dan 5 diantaranya di kelas I. Pemilihan kelas kamar ini akan mempengaruhi biaya kamar rawat inap dan visite dokter.
Biaya obat dan BHP tidak tertera dalam beberapa billing/invoice sebab pada pasien umum, diperbolehkan untuk menebus resep dokter diluar RS (bukan dari instalasi farmasi RS) yaitu ke apotek. Mayoritas pasien umum ini memilih untuk membeli obat dari luar saja dengan alasan lebih murah daripada membeli di RS.
Menurut kelas kamar yang digunakan pasien umum, rata-rata biaya langsung pasien umum di kelas VIP ialah Rp. 1.365.771,-, di kelas I sebesar Rp.
919.000,-, di kelas II sebesar Rp. 805.000,-, di kelas III sebesar Rp. 640.000,-.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pewai rumah sakit di bagian kasir, meskipun pasien BPJS dikenakan tarif paket INA CBGs, perhitungan biaya di RS tetap dilakukan sebagai salah satu syarat untuk berkas klaim BPJS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya langsung pada pasien BPJS (Tarif RS) ialah Rp. 913.343,- dengan komponen biaya terbesar ialah biaya obat dan BHP (31,78%), diikuti oleh biaya kamar rawat inap (29,54%), biaya
laboratorium (23,19%), biaya visite dokter (12,38%), biaya administrasi (1,64%) dan biaya tindakan (1,47%).
Sedangkan menurut kelas kamar rawat inap yang dijamin BPJS, rata-rata biaya langsung (tarif riil RS) pada pasien BPJS di kelas I ialah sebesar Rp.
1.286.975,-, di kelas II sebesar Rp. 1.156.081,- dan di kelas III sebesar Rp.
596.475,-.
Terdapat perbedaan rata-rata biaya langsung pada pasien umum dan BPJS menurut kelas kamar rawat inap yang digunakan, dimana rata-rata biaya langsung
Terdapat perbedaan rata-rata biaya langsung pada pasien umum dan BPJS menurut kelas kamar rawat inap yang digunakan, dimana rata-rata biaya langsung