BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional adalah penjelasan dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan cara pengukuran dari
35 Nur Indriantoro dan Babang Suporno, “Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen,” Edisi pertama, Lembaga Penerbit BPFE, Yogyakarta, 2002, h. 147.
masing variabel tersebut. Pengertian dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat, baik secara positif maupun secara negatif. Variabel bebas dalam penelitian ini berupa:
a. Return on Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) menurut Veithzal (2007) adalah rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha dalam periode yang sama. ROA menggambarkan perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. Ukuran atau rumus yang digunakan adalah Rasio perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan.
Menurut Darsono (2005), ROA adalah perhitungan dari laba bersih dibagi rata-rata total aktiva. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari setap satu rupiah asset yang digunakan. Dengan mengetahui rasio ini, kita bisa menilai apakah perusahaan ini efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasionalnya.
Raden (2012) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal dengan menggunakan variabel ROA sebagai salah satu variabel
independen, sedangkan variabel yang digunakan untuk mewakili struktur modal adalah DAR. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROA berpengaruh signifikan negatif terhadap CAR.
Ukuran atau rumus yang digunakan adalah Rasio perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini dirumuskan dengan:
= × %
b. Net Operating Margin (NOM)
Subramanyam (2008) dalam bukunya, memasukkan NOM sebagai salah satu turunan dari rasio Return on Investment (ROI) yang dibagi menurut klasifikasi investasinya yaitu investasi pada asset operasional atau asset produktif. Rasio ini digunakan untuk menganalisis kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi perusahaan dalam bentuk asset produktif. Rasio ini juga adalah rasio utama yang digunakan untuk menilai profitabilitas bank syariah dengan menggunakan Net Operating Margin (NOM). NOM digunakan untuk mengetahui kemampuan aktiva produktif dalam menghasilkan laba.
Aydin Ozkan (2001), Mira (2004), dan Raden (2001) menjelaskan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif terhadap Debt to Assets Ratio
(DAR). Tetapi, Aydin Ozkan dan Mira menyatakan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap DAR,
sedangkan Raden menyatakan bahwa profitabilitas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap DAR.
NOM dihitung dengan rumus sebagai berikut:
= − � − × %
Keterangan :
NOM : Net Operating Margin
PO : Pendapatan Operasional
DBH : Dana Bagi Hasil
BO : Biaya Operasional
Rata-rata Aktiva Produktif : Rata-rata aktiva produktif 12 bulan terakhir
c. Financing to Debt Ratio (FDR)
Rasio ini adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Oleh karena itu, semakin tinggi rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai pembiayaan menjadi semakin besar.
Rasio ini adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank,
yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Semakin tinggi FDR dimana harta lancar yang dimiliki perusahaan semakin besar dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya meningkat maka penggunaan hutang juga akan meningkat karena mampu ditutupi dengan harta lancar yang ada.
Pada penelitian Aydin dan Raden dijelaskan bahwa likuiditas berpengaruh positif terhadap DAR, Tetapi hanya Aydin yang menyatakan bahwa likuiditas mempunyai pengaruh signifikan terhadap DAR, sedangkan Raden menyatakan likuiditas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap DAR.
FDR dirumuskan sebagai berikut:
= ℎ ℎ × %
d. Non Performing Financing (NPF)
NPF merupakan rasio yang mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh Bank Syariah. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan kualitas pembiayaan Bank Syariah yang semakin buruk. Bank Syariah dengan NPF yang tinggi akan memperbesar biaya baik
pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian Bank.36
Semakin tinggi NPF, maka semakin tinggi debitur yang tidak memberikan kewajibannya dalam bentuk margin ataupun bagi hasil kepada kreditur, sehingga berpotensi menurunkan pendapatan bank serta menaikkan penggunaan hutang dalam kegiatan usahanya dibandingkan laba diatahan. Mira (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa likuiditas berpengaruh negatif terhadap DAR. Tetapi pengaruh likuiditas terhadap DAR ini tidak signifikan.
NPF dapat diukur dengan rumusan sebagai berikut:
= ℎ × %
e. Volume Aset Portofolio (VAP)
Volume Aset Portofolio (VAP) adalah salah satu indikator untuk melihat dan menilai tingkat risiko pasar dari sebuah Bank. VAP merupakan porsi aset yang berbentuk portofolio. Dalam lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dijabarkan bahwa yang termasuk dalam Aset Portofolio adalah:
36Dwi Nur’aini Ihsan, “Analisa Laporan Keuangan Perbankan Syariah”, UIN Jakarta Press, Jakarta, 2013, h. 96
1. Aset Trading, yaitu penempatan pada Bank lain, surat berharga, surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), tagihan akseptansi, kredit, dan aset lainnya dengan kategori pengukuran diperdagangkan (trading).
2. Aset Derivatif, adalah seluruh aset transaksi spot dan derivatif. 3. Aset Fair Value Option (FVO), yaitu penempatan pada Bank lain,
surat berharga, surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), tagihan akseptansi, kredit, dan aset lainnya dengan kategori pengukuran diukur dengan nilai wajar (fair value option).
VAP merupakan salah satu bentuk pengendalian terhadap risiko pasar yang memberi gambaran seberapa besar potensi kerugian bank apabila terjadi perubahan kurs atau perubahan nilai dari portofolio itu sendiri di pasar. Dengan VAP, kerugian Bank yang terjadi akibat perubahan kurs valas dapat terlihat dan dicover oleh modal dan tidak sampai mengganggu kelangsungan Bank. Maka dengan semakin besarnya VAP maka semakin besar modal yang harus dijaga untuk mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan oleh Aset Portofolio tersebut.
VAP dapat dirumuskan sebagai berikut:
� = , , � × %
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi variabel tidak terikat, baik secara positif maupun secara negatif. Variabel terikat dalam penelitian ini berupa:
a. Debt to Assets Ratio (DAR)
DAR adalah rasio total kewajiban terhadap aset. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan meunjukkan presentase aktiva perusahaan yang didukung oleh hutang. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan peningkatan dari risiko pada kreditor berupa ketidakmampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya. Rumusnya adalah:
= × %