• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Definisi Operasional Variabel

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsi belanja modal (PBM). Belanja modal adalah belanja langsung yang digunakan untuk membiayai kegiatan investasi. Adapun rumus proporsi belanja modal adalah sebagai berikut:

Proporsi Belanja Modal = 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑎

Proporsi belanja modal adalah persentase belanja modal dibandingkan terhadapotal belanja (Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung). Proporsi ini bisa dikatakan sebagai indikator political will (keseriusan) pemerintah kabupaten/kota dalam menentukan proporsi belanja modal yang diperuntukkan untuk pelayanan publik. Anggaran suatu daerah sangat mungkin memiliki angka nominal yang tinggi dibanding daerah lain, namun jika dibandingkan dengan total belanja, proporsinya sangat mungkin lebih rendah. Kendati secara nominal tinggi, dalam konteks ini, political will (keseriusan) pemerintahdalam hal pelayanan terhadap publik perlu dipertanyakan.

2. Rasio Efektivitas PAD

Rasio Efektivitas PAD menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD sesuai dengan yang ditargetkan (Mahmudi 2010:143). Semakin tinggi Rasio Efektivitas PAD, maka semakin baik kinerja pemerintah daerah.

3. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah

Rasio Efisiensi Keuangan Daerah (REKD) menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja pemerintahan daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100%. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintahan semakin baik. Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio ini adalah :

4. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah (RKKD) menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah ditunjukkan oleh besarnya Pendapatan Asli Daerah dibandingkan dengan Pendapatan Daerah yang berasal dari sumber lain (Pendapatan Transfer) antara lain : Bagi hasil pajak, Bagi hasil bukan pajak sumber daya alam, Dana alokasi umum dan Alokasi khusus, Dana darurat dan pinjaman (Abdul Halim, 2007).

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Kondisi geografis

Gambar 4.1 Peta Provinsi Banten

Sumber Banten Dalam Angka 2016

Provinsi Banten secara umum merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0 – 200 meter di atas permukaan laut, serta memiliki beberapa gunung dengan ketinggian mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut. Akhir tahun 2015, wilayah administrasi Provinsi Banten terdiri dari empat wilayah kabupaten dan empat kota, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 6 Tahun 2008 luas daratan masing-masing kabupaten/kota, yaitu: Kabupaten

Pandeglang (2.746,89 km2), Kabupaten Lebak (3.426,56 km2), Kabupaten Tangerang (1.011,86 km2), Kabupaten Serang (1.734,28 km2), Kota Tangerang (153,93 km2), Kota Cilegon(175,50 km2), Kota Serang (266,71 km2), serta Kota Tangerang Selatan (147,19 km2).

Jarak antara Ibukota Provinsi ke Daerah Kabupaten/Kota:

1. Serang - Pandeglang (Kabupaten Pandeglang) : 21 km.

2. Serang – Rangkasbitung (Kabupaten Lebak) : 41 km.

3. Serang - Tigaraksa (Kabupaten Tangerang) : 33 km.

4. Serang - Ciruas (Kabupaten Serang) : 9 km

5. Serang - Tangerang (Kota Tangerang) : 65 km.

6. Serang - Purwakarta (Kota Cilegon) : 20 km.

7. Serang - Pamulang (Kota Tangerang Selatan) : 73 km.

Wilayah Provinsi Banten bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa, bagian timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta, bagian selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, dan bagian barat berbatasan dengan Selat Sunda.

2. Pemerintahan

Pada awalnya Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Kemudian, melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten yang disahkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada tanggal 17 Oktober 2000, Banten menjadi sebuah provinsi yang otonom.

Sebulan setelah itu pada 18 November 2000 dilakukan peresmian Provinsi Banten dan pelantikan Pejabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintah provinsi sementara waktu sebelum terpilihnya Gubernur Banten definitif. Pada tahun 2002 DPRD Banten memilih Dr. Ir. H. Djoko Munandar, MEng dan Hj. Atut Chosiyah, SE. sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.

Sejak berdirinya, Provinsi Banten telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam bidang pemerintahan, dimana pada awalnya terdiri dari 6 (enam) kabupaten/kota dan pada saat ini terdiri dari 8 (delapan) kabupaten/kota yang terbagi menjadi 155 kecamatan dan 1.551 desa/ kelurahan.

3. Kependudukan

Grafik 4.1 Jumlah Penduduk Kab/Kota Provinsi Banten

Sumber BPS Provinsi Banten

Penduduk Banten berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2015 sebanyak 11.955.243 jiwa yang terdiri atas 6.097.184 jiwa penduduk laki-laki dan 5.858.059 jiwa penduduk perempuan. Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2014, penduduk Banten mengalami pertumbuhan sebesar 2,14 persen. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2015 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 104,08.

Kepadatan penduduk di Provinsi Banten tahun 2015 mencapai 1.237 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga 4 orang. Kepadatan Penduduk di 8 kabupaten/kota cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kota Tangerang dengan kepadatan sebesar 13.299 jiwa/km2 dan terendah di Kabupaten Lebak sebesar 371 jiwa/Km2.

4. Potensi Unggulan Daerah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) Tahun 2008-2028, diwilayah Provinsi Banten terdapat beberapa Kawasan Strategis Nasional (KSN) antara lain, KSN Selat Sunda, KSN Ujung Kulon, KSN JABODETABEKJUR, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, serta terdapat 21 Kawasan Industri di wilayah Provinsi Banten dengan produk manufaktur unggulan : Baja, Petrokimia, Alas kaki, Elektronik, Semen dan Makanan, yang didukung oleh keberadaan beberapa pusat perdagangan tradisional dan modern, infrastruktur dan simpul transportasi meliputi Bandara Internasional Soekarno Hatta, Pelabuhan Merak, Jalan Tol Jakarta – Merak, Jalan Tol Serpong – Jakarta – Purbaleunyi, Kereta Api Jakarta – Merak. Terdapat 39 Lokasi Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Banten Tahun 2010-2030.

5. Pariwisata

Pada tahun 2015, di Provinsi Banten terdapat 138 lokasi wisata tirta, 86 wisata marina pantai, 79 wisata sejarah, 6 suaka alam dan 147 wisata lainnya.Selain itu terdapat 4 museum, 26 situs purbakala, 120 bangunan bersejarah dan 232 makam sejarah. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pariwisata, sepanjang tahun 2015 terdapat 14.243.949 wisatawan yang mengunjungi lokasi wisata di Provinsi Banten, yang terdiri dari 14.118.787 wisatawan nusantara dan 125.162 wisatawan mancanegara.

6. Transportasi

Pada tahun 2015, dari 852,89 km jalan provinsi di Provinsi Banten, sepanjang 384,79 km dalam kondisi baik (45,12%), kemudian 194,32 km dalam kondisi sedang (22,78), 60,31 km dalam kondisi rusak (7,07%) dan 213,47 km dalam kondisi rusak berat (25,03%). Jumlah kendaraan bermotor yang terdapat di Provinsi Banten antara lain 506.164 mobil penumpang, 7.516 bus, 152.492 truk, dan 3.933.257 sepeda motor.

Penumpang domestik yang menggunakan transportasi udara pada tahun 2015 adalah sebanyak 20.802.860 orang datang dan 19.151.202 orang pergi dari bandara Soekarno-Hatta. Selain itu, tercatat juga sebanyak 1.935.806 orang transit di bandara ini. Sedangkan untuk penumpang internasional tercatat 5.997.582 orang datang, 6.354.944 orang berangkat dan 48.972 orang transit di Bandara Soekarno-Hatta pada tahun 2015.Pada tahun 2015 terjadi 30.114 penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni Provinsi Lampung yang membawa 1.124.308 penumpang.

Jumlah kapal yang melakukan aktifitas bongkar muat dengan tujuan ke luar negeri dan dari luar negeri yang tercatat di seluruh pelabuhan yang ada di Provinsi Banten pada tahun 2015 adalah sebanyak 2.025 kapal dengan 2.086.392 ton barang dimuat dan 20.324.036 ton barang di bongkar.

B. Penemuan dan pembahasan 1. Analisis Deskriptif Antar variabel

a. Belanja modal untuk pelayanan publik (Y)

Grafik 4.2 Proporsi Belanja Modal Kab/Kota Provinsi Banten 2010-2015

Sumber Departemen Keuangan (diolah)

Belanja modal untuk pelayanan publik adalah belanja yang langsung digunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Belanja Modal termasuk jenis Belanja Langsung dan digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya ( Permendagri No.

21 tahun 2011), dengan formula :

0%

Proporsi belanja modal adalah persentase belanja modal dibandingkan terhadap total belanja (Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung). Proporsi ini bisa dikatakan sebagai indikator political will (keseriusan) pemerintah kabupaten/kota dalam menentukan proporsi belanja modal yang diperuntukkan untuk pelayanan publik. Anggaran suatu daerah sangat mungkin memiliki angka nominal yang tinggi dibanding daerah lain, namun jika dibandingkan dengan total belanja,proporsinya sangat mungkin lebih rendah. Kendati secara nominal tinggi, dalam konteks ini, political will (keseriusan) pemerintah dalam hal pelayanan terhadap publik perlu dipertanyakan.

Dilihat dari gambar 4.2 Kabupaten/Kota di Provinsi Banten selama tahun 2010-2015 proporsi belanja modal hanya mencapai 0-35% , namun di Kota Tangerang selatan pada tahun 2014 mencapai 42% meskipun pada tahun 2015 menurun menjadi 40%. Tertinggi kedua ada Kabupaten Tangerang yang mencapai 34% di tahun 2014 dan mengalami kenaikkan pada tahun 2015 menjadi 37%. Di Kabupaten Pandeglang hanya mencapai 6% dan Kabupaten Serang hanya mencapai 5% di tahun 2010. Namun mengalami kenaikkan pada tahun 2011 masing-masing sebesar 12% dan 20%.

Realisasi belanja modal di Provinsi Banten didominasi oleh belanja jalan, irigasi dan jaringan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meminimalisir kesenjangan ekonomi dengan melakulan perbaikan infrastruktur khususnya jalan. Selain itu program pemerintah pusat dalam mendukung ketahanan pangan juga mendorong perbaikan pada sejumlah irigasi khususnya Kabupaten Lebak sebagai sentra pertanian Provinsi Banten. Disisi lain belanja

pengadaan tanah belum terealisasi optimal seiring dengan munculnya berbagai kendala seperti mundurnya waktu lelang, kenaikan harga tanah,dll (sumber BI,2015)

Pada grafik 4.2 Kabupaten Serang yaitu Kabupaten/Kota dengan persentase proporsi belanja modal termasuk yang terendah mengalami beberapa kendala dalam merealisasikan belanjanya , diantaranya: pada tahun 2015 program penataan tempat usaha PKL untuk pengadaan lahan Pasar Padarincang senilai Rp1,5 miliar tidak terserap karena kondisi belum kondusif. Belanja modal pembangunan Pasar Kragilan Rp3,6 miliar tidak terserap karena terkendala juklak juknis dari provinsi yang belum keluar, belanja jasa konsultan Rp.50 juta untuk pasar induk juga tak terserap. Anggaran untuk pengadaan alat kalibrasi Rp.300 juta tidak terserap. Bangunan showroom pasar emping di Gunungsari Rp.2,5 miliar tak terserap karena terkendala pematangan lahan. Kondisi jalan di Kabupaten Serang masih 50% dalam keadaan rusak. Infrastuktur jalan di Kabupaten Serang memang menjadi fokus kegiatan pemerintah Provinsi Banten (BantenNews, 2016)

Berbeda dengan Kabupaten Serang, di Kota Tangerang Selatan adalah Kota dengan persentase proporsi belanja modal tertinggi. Rata-rata total belanja langsung selama kurun waktu tahun 2010-2015 adalah sebesar 66.95%. Dan total belanja tidak langsung selama kurun waktu tahun anggaran 2010-2015 adalah sebesar 33.05%. Dan total belanja modalnya rata-rata 35,00%

(BantenExpress.com, 2015). Tetapi pada tahun 2015 proporsi belanja modal mengalami penurunan, realisasi belanja modal pada tahun anggaran 2015

mengalami penurunan sebesar 95,15 persen dibandingkan tahun anggaran 2014.

Hal ini disebabkan oleh menurunnya anggaran belanja modal, dan pembangunan gedung kantor dan rumah dinas sudah dilaksanakan pada tahun 2013.

Belanja modal gedung dan tanah tidak terealisasi pada tahun 2014-2015 karena sudah direalisasikan di tahun 2013 dalam bentuk pembangunan gedung kantor dan rumah dinas. Infrastruktur di Kota Tangerang Selatan khususnya infrastruktur jalan sudah baik, jalan-jalan lingkungan sudah 90% terselesaikan sehingga lalu lintas jalan-jalan kecil sudah tidak berlubang lagi.

b. Rasio efektifitas (X1)

Untuk melihat efektifitas keuangan daerah Provinsi Banten pada tahun 2010-2015 maka dihitung menggunakan rasio efektifias keuangan daerah dengan cara :

Grafik 4.3 Rasio Efktivitas Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2010-2015

Sumber Departemen Keuangan (diolah)

Rasio efektifitas daerah diukur untuk melihat seberapa efektif pendapatan asli daerah. Dihitung dengan melihat perbandingan antara anggaran PAD dengan realisasi PAD. Semakin besar realisasi PAD dari anggarannya, maka dinyatakan semakin efektif .

Dilihat dari grafik di atas, dikatakan bahwa semakin mendekati 100%

maka akan semakin efektif, sebaliknya bila makin dibawah 100% maka semakin tidak efektif. Pada kabupaten Pandeglang, tahun 2010 dan 2012 PAD tidak efektif. Sedangkan tahun lainnya efektif. Kepala DPKPA Pandeglang (2013), Ramadani mengatakan, tercapainya target ini tidak terlepas dari koordinasi antara SKPD.

Sedangkan rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tangerang pada tahun 2010-2015 selalu efektif meski persentasenya mengalami kenaikan

0%

40%20%

60%

80%

100%

120%

140%

160%

180%

200%

2010 2011 2012 2013 2014 2015

dan penurunan. Peningkatan penerimaan PAD tersebut termasuk dari sektor reklame, penerangan jalan, air bawah tanah, PBB Perdesaan dan Perkotaan serta pajak hotel, kata Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar di Tangerang (2015).

Lalu rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang Selatan pada tahun 2010-2015 selalu efektif meski persentasenya mengalami kenaikan dan penurunan.Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Tangsel Uus Kusnadi mengatakan kontribusi PAD terbesar secara berurutan berasal dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), pajak restoran, dan pajak penerangan jalan.

Bisa disimpulkan bahwa pemerintah Kab/Kota Provinsi Banten rata-rata sudah mampu merealisasikan anggaran PADnya. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Provinsi Banten yaitu menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dengan meningkatkan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah. Dibuktikan juga menurut Kementrian Keuangan bahwa PAD Provinsi Banten adalah yang terbesar dibanding Provinsi lain di Indonesia (KemenKeu 2015).

c. Rasio efisiensi

Untuk menghitung rasio efiseinsi keuangan daerah, menggunakan rumus :

Rasio Efisiensi Keuangan Daerah (REKD) menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.

Kinerja pemerintahan daerah dalam melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100%. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintahan semakin baik.

Hasil dari rasio efisiensi keuangan daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Banten tahun anggaran 2010-2015 adalah :

Grafik 4.4 Rasio Efisiensi Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2010-2015

Sumber Departemen Keuangan (diolah)

Dilihat dari grafik di atas, bisa disimpulkan bahwa rata-rata Kabupaten/Kota di Provinsi Banten keuangan daerahnya sudah efisien. Artinya,

0%

20%

40%

60%

80%

100%

120%

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Kabupaten/Kota di Provinsi Banten sudah mampu mengatur keuangan pendapatan dan belanjanya, contohnya di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2011 mencapai hasil yang paling efisien yaitu 86% (paling kurang dari 100%) dari Kabupaten/Kota yang lain.

Hal ini disebabkan oleh peningkatan penyebarluasan informasi pentingnya membayar pajak dan retribusi daerah sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak, semakin meningkatnya koordinasi antara kantor/dinas/badan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi, adanya peningkatan kapasitas sumber daya aparatur baik melalui pembinaan dan pelatihan internal, ataupun peningkatan jenjang pendidikan (sumber LKPD Tangsel, 2011).

Kab. Pandeglang adalah satu-satunya Kab/Kota yang selalu efisien dari tahun 2010-2015. Hal ini disebabkan oleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) setiap tahunnya, Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi menyatakan setiap tahun realisasi PAD selalau melampaui target yang ditetapkan (antarabanten, 2015). Sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi Banten yaitu menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dengan meningkatkan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah.

c. Rasio kemandirian daerah (X3)

Untuk menghitung seberapa mandiri suatu daerah , dihitung menggunakan rasio kemandirian daerah dengan rumus:

Grafik 4.5 Rasio Kemandirian Kab/Kota Provinsi Banten Tahun 2010-2015

Sumber Departemen Keuangan (diolah)

Dilihat dari hasil di atas , bahwa hanya Kota Tanggerang selatan pada tahun 2014-2015 , Kota Tangerang tahun 2014-2015 dan kabupaten Tangerang tahun 2015 yang mencapai hasil delegatif (tinggi) atau dengan kata lain sudah mandiri. Berarti pada tahun 2014-2015 ke tiga kabupaten/kota tersebut mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya dan tidak terlalu bergantung lagi pada pemerintah pusat. Lain hal nya dengan kaupaten/kota yang masih instruktif (rendah sekali) artinya daerah tersebut masih sangat bergantung pada pemerintah pusat, seperti kab/kota yang paling tidak mandiri adalah Kabupaten Pandeglang dan Kota Serang yang selalu saja instruktif (rendah sekali)

Dalam mendorong pajak daerah, pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota sudah melakukan berbagai upaya seperti melakukan perluasan

0%

20%

40%

60%

80%

100%

120%

140%

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Raya, pelayanan pajak kendaraan bermotor yang sifatnya mobile. Penyampaian informasi terkait pajak yang dilakukan melalui media terkait website maupun short massage service (sms), pajak online, dan lainnya yang memudahkan masyarakat yang sudah wajib pajak mendapat informasi dan mempermudah pembayaran pajak. Hal ini sudah sejalan dengan visi dan misi Provinsi Banten yaitu mewujudkan pelayanan pemerintah yang berbasis teknologi informasi.

Oleh sebab itulah trend rata-rata kemandirian keuangan daerah Kab/Kota Provinsi Banten pada tahun 2010-2015 semakin meningkat. Hal ini membuktikan bahwa Kab/Kota Provinsi Banten sudah mampu meningkatkan PAD nya dari tahun ke tahun.

Di Kota Tangerang Selatan sumber pajak dan retribusi daerah yang dipungut oleh pemerintah Kota Tangerang Selatan menyebabkan meningkatnya peranan PAD dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di Kota Tangerang Selatan. Selain pemerintah daerah, sektor swasta juga turut serta dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kota Tangerang Selatan. Di Kota Tangerang Selatan terdapat banyak developer seperti sinarmas, alam sutera, dll. Menurut MetroTvNews.com 2015: Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang Selatan meningkat signifikan. Mayoritas pemasukan PAD Kota Tangerang Selatan berasal dari investasi swasta di sektor tersier seperti pelayanan hotel dan restoran.

Di Kabupaten Pandenglang yaitu Kabupaten dengan Pendapatan Asli Daerah yang rendah, menurut Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPKA) Pandeglang, Kurnia Satriawan mengaku, salah satu faktor masih

rendahnya PAD di antaranya akibat sejumlah SKPD masih mengendapkan penghasilan atau belum menyetor PAD ke Kas Daerah yakni Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora).

Kementrian Keuangan mengatakan bahwan tingkat kemandirian keuangan daerah Provinsi Banten menempati urutan kedua setelah Provinsi Jawa Tengah.

2. Analisis model belanja modal untuk pelayanan publik dengan variabel bebas rasio efektivitas, rasio efisiensi dan rasio kemandirian

a. Uji Chow

Uji Chow bertujuan untuk menguji/membandingkan atau memilih model mana yang terbaik apakah model Common Effect atau Fixed Effect yang akan digunakan untuk melakukan regresi data panel. Langkah-langkah yang dilakukan dalam Uji Chow adalah sebagai berikut:

1) Estimasi dengan Fixed Effect 2) Uji dengan menggunakan Uji Chow

3) Melihat nilai probability F dan Chi-square dengan asumsi :

a) Bila nilai probability F dan Chi-square > α = 5%, maka uji regresi panel data menggunakan model Common Effect.

b) Bila nilai probability F dan Chi-square < α = 5%, maka uji regresi panel data menggunakan model Fixed Effect atau pengujian F Test ini dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut:

H0: Common Effect (CE) H1: Fixed Effect Model

H0: ditolak jika nilai Probabilitas F < α (dengan α 5%)

Dari hasil berdasarkan metode Fixed Effect Model (FEM) dan Pooled Least Square (PLS) diperoleh nilai probabilitas F-statistik yakni sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Uji Chow Test

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 0.543502 (7,37) 0.7958

Cross-section Chi-square 4.697991 7 0.6968

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Cross-section Chi-square sebesar : 4.697991 dengan p value 0.6968 > 0,05 Maka Ho diterima, oleh karena itu model panel yang digunakan adalah Common Effect (CE)

b. Uji Lagrange Multiplier (LM)

Tabel 4.2 Hasil Uji LM Test

Test Hypothesis

Cross-section Time Both

Breusch-Pagan 0.431755 3.410517 3.842272

(0.5111) (0.0648) (0.0500)

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa hasil dari LM Test: Nilai Breusch-Pagan: 0,431755 dengan p value 0,5111 > 0,05 maka terima H0 atau yg berarti memilih CE dari pada RE.

c. Model Common Effect (CE)

Model data panel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model Model Common Effect (CE) dapat di jelaskan melalui persamaan sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Common Effect

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.336072 0.174638 -1.924392 0.0608

X1? 0.137821 0.046525 2.962308 0.0049

X2? 0.343246 0.158325 2.167982 0.0356

X3? 0.108304 0.034160 3.170523 0.0028

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Y = -0.336072 + 0.137821*X1 + 0.343246*X2 + 0.108374*X3 Dimana :

Y = Belanja Modal X1 = Rasio efektivitas X2 = Rasio efisiensi X3 = Rasio Kemandirian

Dari persamaan diatas maka , dapat di informasikan :

1) Nilai konstan sebesar -0,336072 artinya jika variabel rasio efektivitas (X1), rasio efisiensi (X2), dan rasio kemandirian daerah (X3) nol, maka belanja modal untuk pelayanan publik berkurang sebesar 0,336072

2) Koefisien X1, rasio efektivitas sebesar 0,137821 yang berarti setiap kenaikan satu persen rasio efektivitas maka akan menaikkan belanja modal untuk pelayanan publik sebesar 0,137821 dengan asumsi faktor-faktor lain dianggap tetap.

3) Koefisien X2, rasio efisiensi sebesar 0.343246 yang berarti setiap kenaikan satu persen rasio efisiensi maka akan menaikkan belanja modal untuk pelayanan publik sebesar 0.343246 dengan asumsi faktor-faktor lain dianggap tetap.

4) Koefisien X3, rasio kemandirian sebesar 0.108374 yang berarti setiap kenaikan satu persen rasio kemandiriani maka akan menaikkan belanja modal untuk pelayanan publik sebesar 0.108374 dengan asumsi faktor-faktor lain dianggap tetap.

-0.15 -0.10 -0.05 0.00 0.05 0.10

Series: Standardized Residuals

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Dilihat dari hasil uji normalitas di atas dapat dilihat bahwa Nilai p value jarque bera sebesar 0,084308 > 0,05 maka dari itu bisa disebut bahwa hasilnya terima H0 atau residual berdistribusi normal.

2. Uji multikolinearitas

Tabel 4.4 Hasil Multikolinearitas

X1 X2 X3

X1 1 -0.1584879324501809 0.1221422016320414

X2 -0.1584879324501809 1 -0.09572105852331348

X3 0.1221422016320414 -0.09572105852331348 1

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Berdasarkan hasil uji multikolonieritas di atas, dapat dilihat bahwa Rasio Kemandirian Daerah, Rasio Efektivitas, Rasio Efisiensi Tidak ada korelasi antar variabel bebas > 0,8 Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model regresi penelitian ini adalah terbebas dari multikolonieritas atau dengan kata lain dapat dipercaya dan objektif.

3. Uji heteroskedastisitas

Total panel (unbalanced) observations: 47

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.218432 0.085896 2.542979 0.0147

Sum squared resid 0.057084 Schwarz criterion -3.547822

Log likelihood 91.07410 Hannan-Quinn criter. -3.646028

F-statistic 1.883686 Durbin-Watson stat 1.772878

Prob(F-statistic) 0.146632

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews 9.0

Dilihat dari hasil uji heteroskedastisitas diatas dapat dikatakan bahwa semua Signifikan t parsial dan Signifikan Uji F > 0,05 maka dapat dikatakan terbebas dari masalah heteroskedastisitas.

e. Pengujian Hipotesis

1. Uji-t dan Interpretasi Hasil Analisis

Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah variabel independen rasio efektivitas daerah (X1), rasio efisiensi (X2), dan rasio kemandirian daerah (X3) berpengaruh secara parsial terhadap variabel dependennya belanja modal (Y) yaitu dengan membandingkan masing-masing nilai t-statistik dari regresi dengan t-tabel dalam menolak atau menerima hipotesis.

Tabel 4.6 Hasil Uji t

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -0.336072 0.174638 -1.924392 0.0608

X1? 0.137821 0.046525 2.962308 0.0049

X2? 0.343246 0.158325 2.167982 0.0356

X3? 0.108304 0.034160 3.170523 0.0028

Sumber hasil regres Eviews 9

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat disimpulkan bahwa:

a. Nilai t parsial variabel X1 terhadap Y = 2.962308 dengan p value 0.0049. Karena 0.0049 < 0,05 maka variabel X1 signifikan dalam mempengaruhi variabel terikat (Y) di dalam model.

b. Nilai t parsial variabel X2 terhadap Y = 2.167982 dengan p value

b. Nilai t parsial variabel X2 terhadap Y = 2.167982 dengan p value

Dokumen terkait