• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Tinjauan Pendekatan Perancangan

2.2.1 Definisi Pendekatan Perilaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku adalah tanggapan atau reaksi suatu individu terhadap lingkungan sakitarnya. Perilaku mencakup perilaku yang bersifat kasat mata seperti makan, memasak, bekerja dan lain-lain. Sedangkan perilaku yang bersifat tidak kasat mata antara lain fantasi, harapan, motivasi, serta proses yang terjadi saat orang sedang terdiam. Perilaku memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain:

a. Perilaku kasat mata tetapi penyebab perilaku tidak dapat diamati secara langsung. b. Tingkatan perilaku ada dua yakni perilaku sederhana dan perilaku stereotip,

perilaku kompleks, dan perilaku sederhana.

c. Perilaku memiliki beberapa macam klasifikasi seperti kognitif, afektif dan psikomotorik

d. Perilaku dapat disadari oleh subjek dan dapat pula tidak disadari oleh subjek. Munculnya perilaku-perilaku tertentu dari pengguna bisa disebabkan dari dua hal berkaitan dengan nature dan nurture. Nature adalah proses pembentukan perilaku manusia yang bersumber dari pembawaan biologis manusia. Sedangkan nurture merupakan sebuah proses pembentukan perilaku melalui pelatihan dan pengalaman. Hal yang sama terjadi pada perilaku pasien rumah sakit ibu dan anak. Menurut Clare Cooper banyak anak menyukai bermain dalam periode waktu yang pendek sehingga mereka hanya bermain di lapangan atau taman terdekat dari rumahnya. Hal itu pula yang menyebabkan banyaknya kasus pembangunan taman bermain di perumahan yang justru jarang digunakan anak-anak (Laurens, 2005. Hal 9).

Selanjutnya, proses dan perilaku yang membentuk pola tersebut terbagi menjadi dua yakni proses individual dan proses sosial. Proses individual meliputi persepsi lingkungan (proses penerimaan informasi tentang lingkungan), kognisi spasial (keberagaman proses berpikir, mengorganisir, menyimpan, dan mengingat informasi yang pernah dialami dalam lingkungan fisik), dan perilaku spasial (hasil yang diwujudkan dalam tindakan seseorang yang muncul pada interaksi manusia dengan lingkungannya).

43

Gambar 2. 37Proses Fundamental Perilaku Manusia Sumber: Arsitektur dan Perilaku Manusia, 2005

Oleh karena itu, perancangan saat ini memerlukan usaha mengartikulasikan nilai sosial dan humanis hingga berkembanglah sebauh studi tentang perilaku-lingkungan yang mempelajari tentang interaksi antara perilaku manusia dengan lingkungannya. Tokoh yang mengawali studi perilaku-lingkungan adalah Kurt Lewin dan Egon Brunswik. Kedua tokoh ini membentuk dan mengembangkan penelitian mengenai faktor tingkah laku manusia yang kemudian menjadi sebuah teori psikologi kognitif yakni hubungan E (environment= lingkungan) dan P (person= orang, pelaku) dapat mempengaruhi B (behaviour= perilaku) (Laurens, 2005. Hal 21).

Gambar 2. 38Pengaruh E dan P terhadap B (Sumber: Arsitektur dan Perilaku Manusia, 2005)

Berbekal dasar tersebut, maka arsitek mulai menggabungkan desain mereka dengan studi perilaku manusia. Salah satunya adalah desain sensory therapeutic yang merupakan cabang dari pendekatan konvensional. Pendekatan konvensional yang menggabungkan desain dengan perilaku manusia yang dapat memberikan efek menyembuhkan bagi pasien. Berdasarkan rangsangan sensori dan stimuli. Rangsangan sensori dilakukan melalui sel saraf reseptor yang peka terhadap cahaya, suara, dan suhu). Proses penerimaan rangsangan hingga rangsangan tersebut dapat dirasakan individu bersangkutan dinamakan persepsi. Berikut merupakan skema proses tersebut menurut Paul A Bell:

44

Gambar 2. 39 Proses Persepsi Sumber: Arsitektur dan Perilaku Manusia, 2005

Guna memberikan rangsangan yang efektif, maka pengindraan yang dirancang haruslah bermakna. Ciri-ciri pengindraan bermakna antara lain:

 Rangsangan sesuai dengan karakteristik tiap indra.

 Persepsi mengenal sifat ruang yakni atas-bawah, tinggi rendah, luas-sempit, dan sebagainya.

 Persepsi mengenal dimensi waktu seperti cepat-lambat, tua-muda, dan lain-lain.

 Objek dalam pengamatan memiliki struktur yang menyatu dengan konteksnya.

 Struktur dan konteks adalah keseluruhan yang menyatu (Laurens, 2005. Hal 57) Tokoh pada pendekatan konvensional ini, antara lain:

o Helholz, Tichner, dan Carr dengan teori persepsi kategori empirisme. Kategori ini menganggap data indra diolah dalam otak melalui proses asosiasi.

o William Ittelson dengan menganut transaksionalimsme. Teori ini menekankan pengalaman individu.

o Jean Piaget dengan menganut rasionalisme. Teori ini menekankan pada pengaruh rasional pengindraan.

o C. Norberg Schulz dengan nativismenya. Teori ini menekankan pada gagasan pembawaan.

o Kurt Koffka, Koehler, dan Wertheimer yang mengembangkan teori Gestalt. Teori ini mendasarkan integrasi data sebagai organisasi spontan dari input sensori menuju otak.

Desain sensory therapeutic menekankan pada seluruh pengalaman pengindraan yang mempengaruhi sikap dan perilaku. Pendekatan yang digunakan memfokuskan pada pengguna dan penataan stimulan sensori yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup dan perasaan pengguna (Ossei. 2014).

Sensory therapeutic mendesain ruang untuk dijadikan tempat penyembuhan (healing) secara fisik maupun mental. Berdasarkan penelitian di Universitas Gothenburg

45 mengungkapkan bahwa pendesainan ruang secara tepat dapat menstimulasi alat indra sehingga dapat meningkatkan kemampuan pasien untuk membaik secara fisik maupun mental. Contohnya adalah penggunaan material finishing dengan kayu pada desain ruangan dapat menurunkan level stress pada pasien. Desain Sensory therapeutic dipergunakan untuk menstimulasi beberapa indra seperti indra peraba, pembau, pendengaran, penglihatan dan perasa.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan prinsip-prinsip pendekatan sensory therapeutic antara lain:

Penciuman dan pengecap

Diantara begitu banyak pengalaman pengindraan yang dapat diingat, pengalaman pembauan merupakan pengalaman paling mudah untuk diingat dan mempengaruhi pengguna. Contohnya adalah persepsi pengguna terhadap bau rumah sakit. Indra perasa dan pembau saling berkaitan satu sama lain karena bau juga dapat dirasakan.

Pada desain rumah sakit, rekayasa suasana pembauan dapat dirancang dengan meminimalisir “bau rumah sakit” pada beberapa ruangan yang memerlukan adanya pelayanan relaksasi seperti pada poli jiwa, rawat inap dan ruang bersalin. Pengkondisian ini diperlukan guna membangun suasana nyaman pada pasien yang bahkan dapat berpengaruh dalam meminimalisir intensitas nyeri pada pasien pasca operasi (Bangun, 2013). Pendesainan bebauan juga dapat dilaksanakan pada area luar bangunan atau di area taman dengan memanfaatkan tanaman bunga yang tidak hanya memiliki keindahan bentuk akan tetapi juga memiliki bau sedap.

Gambar 2. 40Sensory garden

Sumber: http://seniorgardenadvisors.com/case__study1.html

Pendengaran

Indra pendengaran bersifat bersifat omni-directional. Bunyi dapat digunakan untuk menciptakan atmosfir atau suasana tertentu. Maka dari itu, terdapat terapi musik dimana terapis menggunakan sarana musik sebagai sarana penyembuhan khususnya pada permasalahan psikologis.

46 Terapi melalui indra pendengaran dapat di aplikasikan pada poli jiwa, dan ruang bermain anak. Terapi dapat berupa desain air mancur atau water wall kecil di dekat kamar inap di bagian luar bangunan untuk menciptakan suara percikan air yang dalam frekuensi tertentu dapat menimbulkan kesan nyaman.

Gambar 2. 41Water Wall

Sumber: https://www.digsdigs.com/38-amazing-outdoor-water-walls-for-your-backyard/

Terapi yang lain adalah dengan terapi pendengaran menggunakan speaker kayu tanpa listrik. Speaker jenis ini tidak menghasilkan suara yang terlalu besar dan menghasilkan kesan ruangan vintage dan hangat.

Gambar 2. 42Speaker kayu sebagai bagian furnitur ruangan Sumber: https://qlapa.com/blog/speaker-kayu-handmade-indonesia-qlapa

Penglihatan

Kegiatan penglihatan mendasarkan kepada pengobjekan suatu benda melalui indra mata. Pengalaman penglihatan dapat diaplikasikan dengan cara mendesain warna, bentuk, hingga penataan ruang dan furnitur.

Pengaplikasian desain ini dapat dilakukan di seluruh bagian rumah sakit. Pada kamar rawat anak, ruang bermain anak, dan poli anak dapat di desain mengikuti selera

47 yang dimiliki anak-anak. Desain dapat berupa warna dari furnitur yang digunakan, corak dinding, dan lain-lain.

Gambar 2. 43Kamar rawat anak

Sumber: https://www.medicaboo.com/rumah-sakit/kamar/pediatric-ward-rs-ibu-dan-anak-brawijaya-jakarta-selatan-dki-jakarta

Pengaplikasian desain pada kamar rawat ibu berbeda dengan kamar rawat anak. Corak dan warna yang digunakan menggunakan warna dan elemn yang lebih alami dan kalem. Hal tersebut dikarenakan pasien anak-anak dan pasien ibu (dewasa) memiliki preferensi berbeda dalam desain. Hal serupa juga dapat diaplikasikan pada ruang poli/konsultasi.

Gambar 2. 44Kamar rawat ibu

Sumber: http://bunda.co.id/rsiabundajakarta/id_ID/facilities-and-services/inpatient/kamar-rawat-ibu/

Pengaplikasian desain secara visual pada bagian luar bangunan dapat berupa penataan tanaman hijau dan berwarna dan desain kolam ikan. Penggunaan furnitur taman juga dapat menambahkan menambahkan kesan pada taman.

Gambar 2. 45WE Carter School Sensory Garden Sumber: http://www.db-la.com/WECarterDetail.html

48

Peraba

Kegiatan perabaan mengenali objek berdasarkan bentukan suatu benda. Indra peraba mendapatkan pengalaman atau sensasi dari pergerakan dan eksplorasi ruang yang dilakukan oleh penggunan (Ossei. 2014). Pengalaman bisa dimiliki melalui pemberian tekstur pada beberapa bagian seperti track pada taman, sarana fisioterapi, lobby, ruang senam hamil dan lain-lain. Lantai ruang senam hamil menggunakan material rubber gym flooring untuk meminimalisir resiko pengguna terantuk lantai keras yang dapat mengakibatkan cedera dan juga meminimalisir resiko slip.

Gambar 2. 46Tekstur track

Sumber: https://pxhere.com/id/photo/834076

Gambar 2. 47Rubber Gym Flooring

49

Gambar 2. 48Jangkauan pengindraan Sumber: Ossei. 2014

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai prinsip desain pendekatan sensory therapeutic sebagai berikut:

Tabel 2. 2 Prinsip Pendekatan

Indra Prinsip Alternatif Gambaran

PE N CI U MA N

Ruang poli, lobi, ruang bermain, rawat inap & ruang bersalin:

 Bebas aroma limbah rumah sakit

 Bebas aroma “rumah sakit”

 Menambahkan aroma

yang dapat

menenangkan pikiran

 Menjauhkan zona pembuangan limbah rumah sakit, kafetaria dan jalan raya dengan area rawat inap

 Menggunakan material alam untuk furnitur kamar rawat inap

 Penggunaan material yang dapat menyaring udara seperti arang bambu sebagai bagian material jendela atau ventilasi

 Penggunaan vegetai yang dapat menyaring udara di dalam ruang

Area bedah, UGD, ICU, PICU :

 Udara steril

 Bebas asap

 Bebas serbuk bunga

 Menempatkan area-area tersebut saling berdekatan

 Menjauhkan area tersebut dengan area pembuangan limbah, kafetaria, dan kamar

rawat inap Struktur kedap suara

Water wall

Taman :

 Bebas aroma “rumah sakit”

 Bebas aroma limbah

 Beraroma menenangkan

 Bebas aroma asap

 Penggunaan tanaman dengan aroma khas tertentu yang dapat menenangkan pikiran pasien, menyaring udara, dan menghalau serangga seperti lalat dan nyamuk.

Kafetaria :

 Bebas aroma “rumah

 Menggunakan material penyaring udara

50

sakit”

 Bebas aroma limbah

 Bebas aroma tanaman

 Bebas aroma asap

 Menjauhkan zona kafetaria dengan zona rawat inap, bedah, UGD, ICU, poli

 Tidak menempatkan tanaman dengan aroma kuat

PE N D EN G A R A N

 Kamar rawat inap memerlukan suasana tenang tapi tetap bisa mendengarkan lagu tanpa mengganggu sekitar

 Ruang perawatan intensif, UGD, area bedah membutuhkan suasana yang tenang tapi masing-masing bagian tetap berhubungan  Bagian poli membutuhkan ruangan dengan akustik baik untuk memanggil pasien

 Taman membutuhkan elemen yang dapat mengeluarkan suasana yang menenangkan

 Kamar rawat inap menggunakan material dan struktur kedap suara pada ruang perawatan

 Kamar rawat inap diberi jarak yang cukup jauh dari keramaian jalan

 Sistem komunikasi UGD, ICU, area bedah terintegrasi menggunakan intercom maupun telepon

Pemberian water wall di taman untuk menghadirkan suara gemericik air

 Pemberian vegetasi penarik serangga “berbunyi” dan burung

 Taman dan area perawatan intensif dijauhkan PE N G LIH A T A N  Ruang perawatan, ruang bersalin, ruang bermain, dan ruang poli membutuhkan desain dan penataan furnitur yang menarik sesuai pengguna

 Taman di desain untuk menstimulasi mata sehingga memberi kesan segar

 Penggunaan corak awan, pohon, atau objek non makhluk bernyawa penuh warna pada desain kamar rawat inap anak

Penggunaan warna soft atau

pastel pada desain kamar

rawat ibu

 Penggunaan vegetasi yang memiliki warna yang beragam

Desain kamar rawat inap anak Vegetasi berwarna PE R A BA  Ruang perawatan di desain menggunakan berbagai macam tekstur yang aman bagi pengguna

 Alas lantai menggunakan

material aman dan anti slip

 Keberagaman

material dan tekstur vegetasi pada taman

 Penggunaan material kayu dengan permukaan halus untuk kamar rawat selain tempat tidur

 Penggunaan hiasan kayu dengan tekstur kasar pada area lobby

 Penggunaan rubber gym flooring untuuk ruang senam

hamil dan ruang bermain anak

Penggunaan material paving untuk jalur dalam taman

 Pengaturan ketinggian vegetasi taman

Hiasan kayu di lobby

Rubber flooring

Sumber : Kajian Terhadap Prinsip Pendekatan

Dokumen terkait