• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Pengobatan Tradisional

2.3.1. Definisi Pengobatan Tradisional

Pengobatan tradisional merupakan salah satu cara penyembuhan yang dianggap sebagai hal yang biasa di masyarakat. Memang ada masyarakat yang pernah mencoba sekurang-kurangnya satu kali dan ada yang belum pernah sama sekali, akan tetapi sudah mendapat informasi dari orang lain. Kepopuleran pengobatan tertentu tergantung pada bermacam faktor. Faktor-faktor ini berdasarkan alasan mengapa

seseorang memilih atau tidak memilih suatu jenis pengobatan. Faktor-faktor ini biasanya yaitu sebagai berikut (Tjiong, 1991) :

1. Ekonomi

Menurut Ablas (2002) yang dikutip dalam Walcott (2004) menyebutkan bila keuangan menjadi hal yang penting sekali untuk seseorang dalam rangka memilih jenis pengobatan, pilihan jenis alternatif adalah pilihan yang termurah. Memang sifat murah adalah sifat yang berpengaruh khususnya untuk masyarakat dari tingkatan ekonomi yang agak rendah. Satu alasan mengapa pengobatan tradisional relatif murah, sering dikatakan sebagai alasan alami. Ada banyak pengobatan tradisional yang berdasarkan tumbuh-tumbuhan dari pada kimia, maka tersedianya bahan-bahan bisa lebih mudah di dapat dimana saja. Oleh karena itu harganya harganya lebih murah dari pada obat kimia yang hanya bisa didapat dari apotek.

2. Kepercayaan dan kebudayaan

Memang kepercayaan dimiliki orang tertentu apa lagi terhadap kesehatan sangat dipengaruhi budayanya. Seperti sudah dijelaskan kepercayaan mistik sangat kuat dan mempengaruhi kebudayaan Jawa. Kesehatan dari pendapat mistik terdiri atas sifat jasmani dan sifat yang selain jasmani, yaitu rohani. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan seharusnya bersifat „keseimbangan‟ dan hubungan yang „rukun‟.

Pola-pikir kesehatan dipengaruhi rohani, jasmani dan mental, adalah pola-pikir yang masuk akal untuk orang yang mengidentifikasikan dengan kebudayaan Indonesia.

Masalah kesehatan merupakan masalah yang kompleks, gabungan dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia

misalnya sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.

Selain itu adanya persepsi mengenai suatu penyakit pada masyarakat menjadi suatu hal yang sangat penting. Persepsi tentang penyakit itu sendiri ditentukan oleh budaya, hal ini dikarenakan oleh penyakit merupakan suatu pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar (Setiadi, 2009).

Hal ini sesuai dengan pendapat Antoni (2009) dalam penelitiannya sehubungan dengan penyakit dilihat dari sisi sosial budaya. Disebutkan bahwa sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa gejala penyakit tuberkulosis karena penyakit kutukan, termakan racun atau kena guna-guna oleh perbuatan orang lain sehingga penderita berusaha untuk menyembunyikan penyakitnya karena takut dikucilkan dan disingkirkan dari pergaulan masyarakat, sehingga penderita tidak mau mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan. Anggapan seperti ini menyebabkan masyarakat pertama kali mencari pertolongan pengobatan ke dukun kampung.

Konsep kesehatan tidak saja berorientasi pada aspek klinis saja, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan kesehatan dan kemasyarakatan, antara lain; ilmu sosiologi, psikologi, perilaku danlain-lain yang kegunaannya sebagai penunjang yang sekaligus sebagai faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan. Salah satu cabang antropologi dan sosiologi yang membahas kebudayaan termasuk didalamnya adalah : pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat yang dilakukan oleh masyarakat (Winkelman, 2009).

Manusia sebagai makhluk yang multidimensional, berpotensi muncul dimensi-dimensi pada berbagai aspek dalam hidup seperti pada aspek kesehatan, contohnya persepsi sakit bagi orang desa berbeda dengan persepsi sakit orang kota.

Oleh karena itu perbedaan persepsi ini dapat mengembangkan perbedaan perilaku sehat antara setiap individu masyarakat (Wisadirana, 2005).

Perilaku terwujud secara nyata dari seperangkat pengetahuan kebudayaan.

Bila berbicara tentang sistem budaya, berarti mewujudkan perilaku sebagai suatu tindakan yang kongkrit dan dapat dilihat, yang diwujudkan dalam sistem sosial di lingkungan warganya. Berbicara tentang konsep perilaku, hal ini berarti merupakan satu kesatuan dengan konsep kebudayaan. Perilaku kesehatan seseorang sangat berkaitan dengan pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma dalam lingkungan sosialnya, berkaitan dengan terapi, pencegahan penyakit (fisik, psikis, dan sosial) berdasarkan kebudayaan mereka masing-masing (Dumatubun, 2002).

Di negara maju terdapat unsur kebudayaan yang dapat menunjang peningkatan status kesehatan seperti tingkat pendidikan yang optimal sosial ekonomi yang tinggi, lingkungan hidup yang baik . Di Negara berkembang terjadi sebaliknya, masalah yang kita hadapi adalah jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran yang tidak merata. Tingkat pengetahuan dan pendidikan yang rendah terutama pada golongan wanita, kebiasaan yang negatif yang berlaku di masyarakat serta adat istiadat dan kepercayaan yang kurangnya peran serta masyarakat terhadap pembangunan kesehatan (Anonim, 2009).

Kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung adalah semangat gotong royong dan kekeluargaan serta bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Aspek sosial budaya juga berhubungan dengan :

a. Kesehatan Ibu, disebabkan oleh tingkat pendidikan wanita yang rendah, kurangnya pengetahuan tentang cara pemilihan jenis/ bahan makanan, cara pengolahan dan cara penyajian serta budaya pantangan terhadap makan makanan tertentu yang mestinya sangat dibutuhkan.

b. Kesehatan Anak, kesehatan pada anak berkaitan erat dengan faktor sosial budaya dimasyarakat seperti halnya tingkat pendidikan yang rendah pada wanita, sosek, kepercayaan pada pelayanan tenaga kesehatan masih rendah, adanya budaya memprioritaskan ayah dalam pemberian makanan dalam keluarga.

c. Pelayanan Kesehatan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan pelayanan terutama kepada petugas kesehatan masih rendah, yang disebabkan karena relasi interpersonal yang dirasa masih ada batas. Petugas kesehatan pada umumnya pendatang sehingga ada perbedaan pengakuan dan penerimaan sebagai keluarga.

Cara dan gaya hidup manusia, adat istiadat, kebudayaan, kepercayaan bahkan seluruh peradaban manusia dan lingkungannya berpengaruh terhadap penyakit.

Secara fisiologis dan biologis tubuh manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia mempunyai daya adaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah, yang sering membawa serta penyakit baru yang belum dikenal atau perkembangan/ perubahan penyakit yang sudah ada. Konsep sehat sakit

sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya, akan tetapi bila konsep sehat sakit ini tidak dijadikan sebagai suatu hal yang mendasar pada kesehatan maka akan sangat memberikan pengaruh yang besar terhadap terwujudnya derajat atau status kesehatan masyarakat (Sudarma, 2008).

Cara berinteraksi, perilaku manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit termasuk juga dalam hal pemilihan pelayanan kesehatan yang akan digunakan oleh masyarakat. Semua itu akan mempengaruhi status kesehatan masyarakat itu sendiri. Sehingga kajian atau penelitian mengenai konsekuensi kesehatan perlu memperhatikan konteks budaya dan sosial masyarakat (Setiadi, 2009).

3. Geografi

Tersediannya pengobatan tradisional mudah dan bersifat beraneka guna.

Jamu, obat dari tumbuh-tumbuhan dijual disamping jalan dan seperti tadi disebut bisa didapat di mana-mana saja karena bersumber alami. Kemudian kalau jaraknya menjadi kesulitan kemudian ada pilihan bentuk pengobatan tradisional yang pengobatnya bisa menyembuhkan dari tempat yang jauh dari orang pasien. Kalau pengobatnya memakai kekuatan-kekuatan yang tidak luar seperti tenaga dalam kemudian berikut bahwa jarak fisik tidak mambatasi penyembuhan dari mana-mana.

Barangkali alasan itu menjadi alasan lain yang mendorong masyarakat yang tidak mempunyai fasilitas kedokteran, dan bergantung pada pengobatan tradisional.

4. Sosial dan demografis

Ada kecenderungan tentang pengobatan alternatif dengan daerah perdesaan.

Biasanya orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan menilai sifat tradisional/alternatif dari pada orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan.

Dikarenakan orang-orang ini masih bergantung pada daerah pedalaman alami dan hal spiritual seperti diturunkan orang tuannya dari masa dahulu. Tidak ada pengaruh modern atau fasilitas modern yang tersedia yang seperti di daerah pekotaan, karena alasan itu kebanyakkan orang mencoba pengobatan alternatif biasanya disarankan oleh orang tuannya.

Menurut Timmermans (2001) yang dikutip dari Walcott (2004) ada bareneka-macam jenis pengobatan tradisional yang bisa dibedakan lewat hal cara-caranya.

Perbedaan ini dijelaskan sebagai terapi yang „berdasarkan cara-cara‟ seperti terapi spiritual yang terkait hal gaib atau terapi dengan tusukan jarum. Jenis terapi yang kedua „berdasarkan obat-obatan‟ seperti jamu dan pengobatan herbal. Pembagian ini sering dikenal sebagai jenis pengobatan yang „berdasarkan mantra-mantra‟ dan jenis pengobatan lain yang berdasarkan „alat-alat‟. Pembagian ini juga digaris bahawi salah satu responden dukun. Dia membedakan pengobatan yang cara dan pendidikannya

„bisa ditulis‟ seperti pengobatan Cina dengan pengobatan yang cara dan pendidikannya tidak „bisa ditulis‟, seperti terapi spiritual.

Tidak ada pendidikan formal untuk kebanyakan pengobatan alternatif, khususnya pengobatan yang „pakai cara-cara‟. Ini tergantung pada faktor „keahlian‟

dan apakah pengobatan ini bisa ditulis atau tidaknya. Pada umumnya pengobatan

yang bersifat obat-obat Cina seperti jamu dan pengobatan herbal bisa ditulis.

Walaupun pada pihak yang lain pengobatan alternatif yang dipengaruhi supranatural atau metafisik tidak bisa dipelajari dari buku-buku. Pelajaran atau pendidikan pengobatan yang terkait hal ghaib hanya bisa dilatih oleh orang yang mempunyai keahlian khusus untuk menjadi dukun. Keahlian ini tidak terdapat melalui pendidikan formal tetapi lewat keturunun saja atau bakat dari Tuhan (Walcott, 2004).

Menurut Bakker (1993) yang dikutip pada Walcott (2004), menyebutkan bahwa sering pada berbagai daerah seorang yang ahli pengobatan tradisional biasanya dinamakan „dukun‟. Peran dukun bermacam-macam dan tidak hanya khusus pengobatan. Kekuatan-kekuatan dimiliki dukun bisa dipakai untuk tujuan-tujuan seperti santet, meramalkan, mempercantik, menyembuhkan dan bisa berhubungan dengan dunia spiritual dan mistik. Pada umumnya seorang dukun memiliki kemampuan untuk mengobati bareneka-macam penyakit, baik penyakit luar maupun penyakit yang tidak luar (Sianipar, 1989).