A. Hasil Penelitian yang Relevan
3. Deiksis Persona
Kata yang deiksis atau dinamis adalah kata yang memiliki makna yang jelas apabila dihubungkan dengan suatu acuan atau referen. Apabila referennya diganti, muatan semantisnya juga berubah. Salah satu contohnya dapat terlihat pada unsur bahasa yang menyatakan waktu, seperti sekarang, tadi, nanti, hari ini, kemarin, besok, dan sebagainya.
Kata-kata tersebut dapat memiliki makna temporal yang jelas apabila dihubungkan dengan suatu referen berupa saat pengujaran. Saat pengujaran inilah yang dilambangkan dengan titik nol. Untuk mengetahui apakah suatu peristiwa terjadi bersamaan, sebelum, atau saat pengujaran dapat terlihat pada kejelasan titik nol. Sama halnya dengan deiksis yang berupa kata-kata penunjuk atau demonstratif. Si pembicara berada pada titik nol dan segala sesuatu diarahkan pada sudut pandangnya. Dengan kata lain, si pembicara merupakan pusat deiksis yang menimbulkan pengertian ‘jauh dan dekat’ terhadap deiksis itu dan ini. Kata itu menunjuk pada tempat yang jauh dari pusat deiksis, sedangkan kata ini menunjuk pada tempat yang dekat dengan pusat deiksis.
persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan sandiwara (Djajasudarma, 2009: 52). Menurut Syamsurizal, (2015: 232) istilah persona disebut juga pronomina persona atau pronomina orang.
Pronomina persona merupakan pronomina yang memunyai kadar kedeiksisan yang tinggi karena mengacu pada orang (dalam hal ini orang merupakan penutur sebagai pusat orientasi deiksis yang menentukan referen yang akan ditunjuk dalam tuturan) (Rahyono, 2011: 250).
Pronomina persona juga paling produktif digunakana dalam tuturan.
Pronomina persona yang digunakan dalam tuturan menyatakan identitas penutur dan mitra tutur. Setiap bentuk pronomina tersebut menunjukkan status sosial antara si penutur dengan mitra tutur (Rahyono, 2011: 14).
Menurut Sudaryat (2009: 122) deiksis persona merupakan pronomina persona yang bersifat ekstralingual yang berfungsi menggantikan suatu acuan (antesetden) di luar wacana. Dalam kategori deiksis persona yang menjadi kriteria adalah peran/peserta dalam peristiwa berbahasa itu. Deiksis persona juga diartikan sebagai kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain atau untuk menggantikan nomina lain (Ramaniyar, 2015: 200).
Menurut Yule (2014: 15) untuk mempelajari ungkapan-ungkapan deiksis, kita harus menemukan pergantian percakapan tiap-tiap orang dari kedudukannya sebagai saya menjadi kamu secara konstan. Penggunaan sistem deiksis persona dalam percakapan atau tindak komunikasi tidak
hanya harus menguasai kaidah bahasanya, tetapi juga harus memerhatikan latar belakang budaya bahasa tersebut. Tanpa memerhatikan dua hal ini, dapat dimungkinkan tindak komunikasi tidak akan berhasil. Sebagai contoh, seorang mahasiswa Amerika menggunakan bentuk kamu untuk memanggil seorang dosen di Indonesia.
bentuk tersebut dirasa kurang tepat karena bentuk pronomina persona tersebut umumnya digunakan oleh seorang pembicara yang memunyai hubungan akrab dengan lawan bicara atau dari orang yang lebih tua ke yang muda. Sementara itu, ada bentuk lain yang sama-sama untuk merujuk pada orang kedua tapi khusus untuk memanggil seorang dosen yaitu bapak atau ibu sehingga apabila bentuk kamu yang dipilih, komunikasi akan terganggu bahkan mungkin terputus.
Deiksis persona juga ada yang berbentuk monomorfemik dan polimorfemik. Deiksis yang monomorfemik dibentuk oleh satuan gramatikal yang terdiri atas satu morfem. Deiksis yang polimorfemik dibentuk oleh satuan gramatikal yang terdiri dari dua morfem atau lebih.
Polimorfemik dapat dibentuk dari suatu proses morfologis, reduplikasi dan komposisi atau kata majemuk.
Sehubungan dengan ketepatan pemilihan bentuk deiksis persona, maka harus diperhatikan fungsi bentuk-bentuk pronomina persona. Ada tiga bentuk pronomina persona, yaitu (1) pronomina persona pertama, (2) pronomina persona kedua, (3) pronomina persona ketiga.
a. Pronomina Persona Pertama
Pronomina persona pertama adalah kategorisasi rujukan pembicara kepada dirinya sendiri. Dengan kata lain, pronomina persona pertama merujuk pada orang yang sedang berbicara. Pronomina persona pertama dibagi menjadi dua, yaitu pronomina persona tunggal dan pronomina persona pertama jamak.
1. Pronomina Persona Pertama Tunggal
Pronomina persona pertama tunggal yang monomorfemik yaitu aku, saya dan bentuk –ku dan ku-. Bentuk-bentuk tersebut hanya terdiri atas satu morfem. Untuk bentuk polimorfemik deiksis pronomina persona pertama tunggal ditandai dengan pereduplikasian bentuk monomorfemiknya, misalnya saya-saya. Bentuk polimorfemik tersebut digunakan untuk memberikan warna emosi negatif (seperti kejengkelan, kejemuan) atau depresiatif (Purwo, 1984: 36).
Contoh:
1) Mengapa hanya saya-saya saja yang diberikan tugas berat seperti ini.
Setiawan (1997: 82) menyatakan bahwa pronomina persona pertama aku merupakan pronomina yang sebenarnya (asli), sedangkan bentuk saya merupakan pronomina persona pinjaman dari bentuk sahaya. Bentuk aku memunyai dua variasi bentuk, yang disebut klitika, yaitu ku- dan -ku sedangkan bentuk saya tidak memunyai variasi bentuk. Berdasarkan distribusi sintaksisnya bentuk
ku- merupakan bentuk lekat kiri atau disebut dengan proklitik, sedangkan bentuk -ku merupakan bentuk lekat kanan atau disebut enklitik yang biasanya dapat ditemukan dalam konstruksi posesif.
Selain digunakan dalam konstruksi posesif, bentuk –ku dapat pula menduduki fungsi objek yang berperan objektif (Purwo, 1984: 27).
Contoh:
2) “Dia masih saja menatapku dengan tatapan yang sinis.”
Bentuk ku- sebagai bentuk lekat kiri dalam hal pemakaiannya sama sekali berbeda dengan bentuk –ku lekat kanan. Bentuk ku-umumnya diletakkan pada kata yang terletak disebelah kirinya, dalam rangkain verba dan mengisi gatra konstituen pelaku.
Contoh:
3) “Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang lebih nyata.”
Selain bentuk pronomina persona, digunakan pula nama-nama orang untuk menunjuk persona pertama tunggal (Samsuri, 1987: 238).
Anak-anak biasa memakai nama diri untuk merujuk pada dirinya, misalnya seorang anak bernama Ikot. Suatu ketika dia ingin makan dan dia mengucapkan “Ikot mau makan” yang berarti ‘Aku mau makan’
(bagi diri Ikot). Akan tetapi apabila kalimat itu diucapkan oleh seorang ayah atau seorang ibu dengan nada bertanya seperti “Ikot mau makan?” maka Ikot tidak lagi merujuk pada pembicara tetapi merujuk kepada persona kedua tunggal (mitra tutur).
Dalam hal pemakaiannya, ada perbedaan bentuk persona pertama saya dan aku. Bentuk saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Untuk tulisan formal pada buku nonfiksi, pidato, sambutan bentuk saya banyak digunakan bahkan pemakaian bentuk saya sudah menunjukkan rasa hormat dan sopan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bentuk saya dipakai dalam situasi nonformal. Selain itu, kata saya dipakai juga dalam corak bahasa yang akrab ataupun yang adab/sopan, kalau pembicara menyertakan ketakziman. Dalam corak bahasa itu diindahkan “jarak psikologis” diantara pembicara dengan lawan bicara. Orang yang belajar bahasa Indonesia lebih aman memakai kata saya dalam situasi formal maupun informal, karena kata saya tidak bermarkah dan lebih bersifat netral (tidak mempertimbangkan akrab atau tidak) (Djajasudarma, 2009: 53).
Sebaliknya dengan bentuk aku lebih banyak dipakai dalam situasi yang tidak formal serta lebih menunjuk keakraban antara pembicara dan lawan bicara, kalau pembicara tidak mengutamakan faktor ketakziman. Dalam corak bahasa ini tidak terdapat “jarak psikologis” antara pembicara dengan yang diajak bicara (lawan bicara).
Dengan kata lain, bentuk saya tak bermarkah (unmarked), sedangkan bentuk aku bermarkah keintiman (marked intimacy) (Djajasudarma, 2009: 52).
Contoh:
4) “Aku pasti akan datang. Jangan risau tentang itu”.
5) “Aku harap aku betul tentang semua itu”.
6) “Ah bukan saya yang berkata seperti itu”.
7) “saya suka membaca buku sastra dan bahasa”.
Bentuk pronomina persona pertama aku pada kalimat (4) dan (5) bernada akrab dan digunakan dalam situasi yang tidak formal, sedangkan bentuk saya pada kalimat (6) dan (7) digunakan dalam tuturan yang bernada formal.
2. Pronomina Persona Pertama Jamak
Bentuk monomorfemik pronomina persona pertama jamak yaitu kami dan kita. Kedua bentuk tersebut hanya terdiri dari satu morfem saja. Untuk bentuk polimorfemik pronomina persona pertama jamak, dapat berupa hasil reduplikasi bentuk monomorfemiknya, misalnya kami-kami. Bentuk polimorfemik tersebut juga digunakan untuk memberikan warna emosi negatif atau depresiatif.
Contoh:
8) Kami-kami ini yang selalu kena tegur, sementara yang lain tidak pernah.
Bentuk dan fungsi persona pertama tunggal berbeda dengan bentuk dan fungsi pronomina persona pertama jamak. Bentuk pronomina persona jamak meliputi kami dan kita. Dalam bahasa Inggris, baik untuk merujuk kami dan kita hanya menggunakan satu
bentuk, yaitu we. Bentuk we yang berarti kami akan meliputi (I, she, he, dadn they) tanpa you sebagai lawan bicara, sedangkan we yang berarti kita akan meliputi (I, she, he, they, dan you) (Halliday dan Hasan, 1984: 50).
Bentuk persona pertama jamak kami merupakan bentuk yang bersifat ekslusif, artinya bentuk persona tersebut merujuk pada pembicara atau penulis dan orang lain dipihaknya, akan tetapi tidak mencakup orang lain di pihak lawan bicara. Selain itu, bentuk kami juga sering digunakan dalam pengertian tunggal untuk mengacu kepada pembicara dalam situasi yang formal, kalau pembicaara sadar mengindahkan “jarak psikologis” yang lebih besar lagi. Dengan sikap itu, ia seakan-akan hendak menyembunyikan kepribadiannya. Ia tidak ingin mengacu dirinya secara lansung (tidak mau menonjolkan dirinya) (Djajasuddarma, 2009: 53). Dengan demikian, kedudukan kami dalam hal ini menggantikan persona pertama tunggal, yaitu saya. Hal ini berhubungan dengan sikap pemakai bahasa yang sopan mengemukakan dirinya dan kerenanya menghindari bentuk saya.
Sebaliknya dengan bentuk kita yang bersifat inklusif, artinnya bentuk pronomina tersebut merujuk pada pembicara/penulis, pendengar/pembaca, dan mungkin pihak lain. Kita tidak saja mengacu kepada orang pertama jamak, tetapi juga dapat dipergunakan untuk mengacu orang pertama tunggal. Orang yang tidak ingin menggunakan kata aku dan saya untuk mengacu dirinya, berhadapan
dengan pilihan kami atau kita. Kata kita (yang merangkum) agaknya menimbulkan perasaan solidaritas diantara kelompok-kelompok yang senasip dan sebaya (Djajasudarma, 2009: 54). Oleh karena itu, bentuk kita biasanya digunakan oleh pembicara sebagai usaha untuk mengakrabkan atau mengeratkan hubungan dengan lawan bicara.
Contoh:
9) “Alangkah cerdas mereka. Tentu saja kita adalah pemain yang terbaik”.
10)“Kalau ibu tahu di mana mereka, segera laporkan kepada kami ya Bu.”
Dalam situasi yang berbeda, bentuk kami memiliki makna dan rujukan yang berbeda. Sebagai contoh bentuk kami yang digunakan oleh seorang presiden atau seorang raja saat berbicara dengan rakyatnya, bukanlah untuk merujuk pembicara tunggal guna mencapai kadar kesopanan, tetapi bentuk kami tersebut mewakili dirinya (presiden atau raja) dengan segenap pembantunya dan kekuasaannya.
b. Pronomina Persona Kedua
Pronomina persona kedua adalah kategorisasi rujukan pembicara kepada lawan bicara. Dengan kata lain bentuk pronomina persona kedua baik tunggal maupun jamak merujuk pada lawan bicara.
1. Pronomina Persona Kedua Tunggal
Bentuk pronomina persona kedua tunggal yang monomorfemik adalah kamu, anda, engkau serta sebutan lain yang menunjukkan pronomina persona kedua tunggal (misalnya leksem kekerabatan bapak, ibu dan sebagainya) yang tentu saja hanya terdiri atas satu morfem. Untuk bentuk polimorfemik pronomina persona kedua tunggal tidak ditemukan.
Bentuk pronomina persona kedua tunggal kamu dan engkau hanya dapat digunakan di antara perserta ujaran yang sudah akrab hubungannya, atau dipakai oleh orang yang berstatus sosial lebih tinggi untuk menyapa lawan bicara yang status sosial lebih rendah, atau di antara pihak yang berstatus sosial sama (Djajasudarma, 2009:
52). Kedua bentuk pronomina persona kedua tunggal tersebut masing-masing memunyai bentuk variasi –mu dan kau-.
Kedua bentuk persona tersebut biasanya dipergunakan sebagai berikut.
(a) Orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama;
(b) Orang yang mempunyai status sosial lebih tinggi untuk menyapa lawan bicara yang statusnya lebih rendah;
(c) Orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial (Purwo, 1984: 23).
Contoh:
11) “Kau tak usah ragu tentang hal itu. Baiklah aku akan mengganti pertanyaan itu kalau kau mau”.
12) “Maukah kau membuatkanku segelas teh?”
13) “Kalau begitu, mengapa tidak di sini saja menunggu suamimu”.
Sebutan ketaklaziman untuk pronomina persona kedua dalam bahasa Indonesia banyak ragamnya, seperti anda, saudara, leksem kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak, dan leksem jabatan seperti guru, dokter. Pemilihan bentuk mana yang harus dipilih ditentukan oleh aspek sosiolingusitik. Bentuk bapak/pak, ibu/bu yang merupakan bentuk sapaan kekeluargaan menandakan dua pengertian. Pertama, orang yang memakai bentuk-bentuk tersebut memiliki hubungan akrab dengan lawan bicaranya. Kedua, dipergunakan untuk memanggil orang yang lebih tua atau orang yang belum dikenal. Dengan kata lain, pengertian kedua menandakan hubungan antara pembicara dengan lawan bicara kurang akrab, sedangkan bentuk saudara, anda biasanya digunakan untuk menghormati dan ada jarak yang nyata antara pembicara dan lawan bicara. Khusus untuk bentuk ketakziman anda biasanya dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Meskipun kata itu telah lama dipakai, tetapi stuktur nilai sosial budaya kita masih membatasi pemakaian kata tersebut. Pada saat ini pronomina tersebut dipakai dalam hal berikut ini.
(a) Dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga bentuk anda tidak diarahkan pada satu orang khusus;
(b) Dalam hubungan bersemuka tetapi pembicara tidak ingin terlalu formal ataupun terlalu akrab.
Contoh:
14) “Ibu mau ke mana?”
15) “Bu, Ikot dan Nawir ke mana, Bu?”
16) “Saudara harus ikut sekarang juga!”
17) “Saudara. Saudara, Bung Tono, bukan?
Khusus untuk leksem kekerabatan seperti ibu, bapak, dan kakak, disamping merujuk pada lawan bicara (persona kedua) dapat juga merujuk pada pembicara (persona pertama) dan orang yang tidak terlibat secara lansung dalam tindak komunikasi (persona ketiga)
Contoh:
18) “Ibu masih kangen. Kapan datang ke sini lagi?”
19) “Memang mungkin ibu akan sulit bertemu kamu lagi.”
20) “Bapak tidak akan pulang secepat ini. Mari kita pulang saja”.
21) “Nanti kalau ibu sudah bertemu bapak, kami akan menjeput kalian.”
Pada konteks kalimat (18) dan (19), bentuk ibu tidak lagi digunakan untuk merujuk pada lawan bicara (persona kedua) seperti yang biasanya orang gunakan, tetapi digunakan untuk merujuk kepada pembicara (persona pertama). Demikian juga pada kalimat (20) dan (21), bentuk bapak pada kedua kalimat tersebut bukan untuk merujuk pada lawan bicara (persona kedua), tetapi untuk merujuk pada orang ketiga yang tidak hadir pada saat tuturan tersebut diucapkan (persona ketiga).
Leksem kekerabatan yang merujuk pada pembicara dan orang ketiga biasanya digunakan apabila antara pembicara dan lawan bicara memiliki hubungan kekeluargaan atau hubungan kerabat dan akrab.
Misalnya, orang tua biasanya akan menggunakan bentuk yang disesuaikan dengan kedudukannya dalam keluarga (bapak atau ibu) apabila sedang berbicara dengan anaknya atau dengan orang lain yang masih memiliki hubungan keluarga.
2. Pronomina Persona Kedua Jamak
Berbeda dengan pronomina persona kedua tunggal yang hanya memiliki bentuk monomorfemik, pronomina persona kedua jamak memiliki bentuk monomorfemik dan polimorfemik. Bentuk monomorfemik terdiri atas satu morfem saja yaitu kalian, sedangkan bentuk polimorfemik yaitu bentuk dari monomorfemik yang ditambah dengan kata sekalian sehingga menjadi anda sekalian, kamu sekalian.
Selain itu, bentuk polimorfemik pronomina persona kedua jamak juga dapat dibentuk oleh pereduplikasian persona kedua tunggal kamu menjadi kamu-kamu. Bentuk ini digunakan untuk memberikan warna emosi negatif atau depresiatif.
Contoh:
22) “Kamu-kamu itu yang tidak punya aturan, bukan kami”.
Meskipun bentuk kalian tidak terikat pada tata krama sosial yang status sosialnya lebih rendah, umumnya tidak memakai bentuk
itu terhadap orang yang lebih tua atau orang yang berstatus sosial lebih tinggi (Setiawan, 1997:87).
Contoh:
23) “Ya. Kalian harus tinggal sama Kakek”.
24) “Ikot, Nawir, besok kalian ibu antar ke rumah kakek”.
c. Pronomina Persona Ketiga
Bentuk pronomina persona ketiga merupakan kategorisasi rujukan pembicara kepada orang yang berada di luar tindak komunikasi. Dengan kata lain, bentuk pronomina persona ketiga merujuk orang yang tidak berada baik pada pihak pembicara maupun lawan bicara.
Bentuk pronomina persona ketiga dalam bahasa Indonesia ada dua, yaitu bentuk tunggal dan bentuk jamak.
1. Pronomina Persona Ketiga Tunggal
Bentuk monomorfemik pronomina persona ketiga tunggal memunyai bentuk ia, dia, beliau. Selain itu, pronomina ini juga memunyai variasi –nya. Sedangkan untuk bentuk polimorfemik, tidak ada dalam kategori pronomina persona ketiga tunggal. Artinya, pronomina persona ketiga tunggal hanya terdiri atas bentuk monomorfemik saja.
Meskipun bentuk ia dan dia dalam banyak hal berfungsi sama, namun ada perbedaan tertentu yang dimiliki oleh kedua jenis pronomina persona tersebut. Perbedaan tersebut karena membawa ciri penegas atau penekanan. Dalam teks bahasa Melayu dapat
ditemukan bentuk ia (lah) yang membawa ciri penegas.
Dimungkinkannya bentuk ia membawa ciri penegas karena dalam bahasa Melayu tidak ada bentuk ialah yang mirip dengan kata adalah dalam bahasa Indonesia. Persamaannya adalah dapat berposisi subjek. Selain kedua bentuk tersebut, dikenal juga ketakziman seperti bentuk beliau.
Dalam hal pemakaiannya, bentuk dia dan ia berbeda dengan bentuk beliau. Bentuk dia dan ia umumnya digunakan oleh pembicara tanpa ada maksud untuk menghormati orang yang dirujuk, sedangkan bentuk beliau digunakan oleh pembicara untuk merujuk kepada orang lain yang patut dihormati walaupun lebih dari pembicara.
Contoh:
25)“Dia, kan yang datang waktu itu?”
26)“Loh, apa dia belum tahu kamu itu siapa?”
27)“Ia bersembunyi di gang pintu keluar kereta.”
28)“Ibu menggadaikan sawah itu kepadanya”.
2. Pronomina Persona Ketiga Jamak
Bentuk pronomina persona ketiga jamak dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk monomorfemik dan polimorfemik. Bentuk monomorfemik deikis ini adalah mereka karena hanya terdiri atas morfem tunggal, sedangkan bentuk polimorfemik deiksis ini berupa pereduplikasian bentuk monomorfemiknya yang menjadi mereka-mereka.
Contoh:
29) “Mereka-mereka inilah yang membawa masalah itu ke mari”.
Selain arti jamaknya, bentuk mereka berbeda dengan pronomina persona ketiga tunggal dalam hal acuannya. Pada umumnya bentuk pronomina persona ketiga hanya merujuk insan.
Tetapi, pada karya sastra, bentuk mereka kadang-kadang dipakai untuk merujuk binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Bentuk pronomina persona ketiga jamak ini tidak memunyai variasi bentuk, sehingga dalam posisi manapun hanya bentuk itu yang dipergunakan.
Penggunaan bentuk persona ini digunakan untuk hubungan yang netral, artinya tidak digunakan untuk lebih menghormati atau pun sebaliknya.
Contoh:
30) “Sejak dua hari terakhir itu mereka berdatangan”.
Pronomina persona ketiga selain merujuk pada orang ketiga, juga kemungkinannya merujuk pada persona pertama dan kedua.
Adanya kemungkinan rujukan ini merupakan akibat adanya perbedaan konteks penuturan.
Contoh:
31) “Seperti penulis sebutkan di atas…”.
32) “Namanya siapa dan tinggal di mana?”
Pada kalimat (31) bentuk penulis tidak merujuk pada persona ketiga, tetapi merujuk pada si pembicara (pesona pertama),
sendangkan pada kalimat (32) bentuk –nya merujuk pada lawan bicara (persona kedua) bukan pada persona ketiga.
Deiksis ayah, ibu, saudara, anda, pak dokter, dan sebagainya seperti yang telah di jelaskan, merupakan kategori deiksis sosial. Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang memengaruhi peran pembicara dan pendengar.
Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987: 42). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (pronomina orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar.
Deiksis persona dapat mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Hal tersebut termasuk dalam deiksis wacana. Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987: 42). Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini, itu, yang terdahulu, yang berikut, yang pertama disebut, begitulah, dan sebagainya.
Contoh:
33) “Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya”.
34) “Karena aromanya yang khas, mangga itu banyak dibeli”.
Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh kalimat (33) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh kalimat (34) mengacu ke mangga yang disebut kemudian.
Dalam deiksis persona, sering juga terjadi peristiwa pembalikan deiksis. Secara logis, kemungkinan pembalikan deiksis persona adalah sebagai berikut.
a. Bentuk persona pertama untuk menunjuk persona kedua b. Bentuk persona kedua untuk menunjuk persona pertama c. Bentuk person pertama untuk menunjuk persona ketiga d. Bentuk persona ketiga untuk menunjuk persona pertama e. Bentuk persona kedua untuk menunjuk persona ketiga f. Bentuk persona ketiga untuk menunjuk persona kedua.
Menurut Purwo (1984: 159), di antara keenam kemungkinan ini, hanya lima yang dapat ditemukan contohnya dalam bahasa Indonesia, yaitu (a), (b), (d), (e), dan (f). Berikut contoh dari kelima pembalikan deiksis tesebut.
Pembalikan deiksis persona (a) dapat dilihat pada bentuk persona pertama posesif –ku pada contoh (35).
35) “Wah, gaya rambutku baru! Pantas saja kelihatan lain”.
Pembalikan deiksis persona (b) dapat dilihat pada bentuk persona kedua ibu pada contoh (36).
36) “Maafkan ibu, Ikot. Baru sekarang kamu kuberitahu”.
Pembalikan deiksis persona (d) dapat dilihat pada bentuk persona ketiga penulis pada contoh (37).
37) “Seperti yang telah penulis jelaskan tadi, bahwa...”.
Pembalikan deiksis persona (e) dapat dilihat pada bentuk persona kedua anda pada contoh (38).
38) “Dibutukan seorang tenaga sukarelawan yang loyal. Anda yang berminat segera menghubungi nomor di bewah ini”.
Pembalikan deiksis persona (f) dapat dilihat pada bentuk persona ketiga –nya pada contoh (39).
39) “Berapa nomor HP-nya?”
“Tinggalnya di mana?”