• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MODAL SOSIAL DAN MODAL BUDAYA

4.1 Modal Sosial

4.1.1 Deking dalam Ranah Parkir

Deking atau beking adalah istilah yang sudah cukup terkenal di Kota Medan dalam kehidupan sehari-hari.Gustaf Kusno mengatakan dalam tulisannya di situs kompasiana.com bahwa:

“Istilah beking kita cuplik dari kata Inggris backing, sedangkan istilah deking dari kata Belanda dekking….. Istilah dekking memberikan permaknaan ‘perlindungan’ atau ‘pengayoman’ ”(Kompasiana.com).

Selanjutnya Gustaf Kusno juga mengatakan bahwa arti sebenarnya dari istilah deking atau beking tersebut sudah mengalami pergeseran makna sehingga sering sekali kita merasa takut jika mendengar istilah tersebut :

“Mendengar istilah beking, kita langsung membayangkan penggede, pembesar, petinggi yang mempunyai pengaruh amat kuat sebagai pelindung kepentingan seseorang. Istilah ini seolah memberi peringatan keras (warning) kepada siapa saja agar jangan sekali-kali berseteru dengan

‘seseorang’ ini, karena di belakangnya berdiri ‘orang kuat’ yang maha-sakti” (Kompasiana.com).

Sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Gustaf Kusno, saya juga sering mendengar istilah deking dalam kehidupan sehari-hari di Kota Medan, bahkan dalam pengelolaan parkir yang saya amati juga bahwa dalam percakapan-percakapan saya dengan beberapa informan bahwa deking tersebut memiliki peran yang cukup besar untuk memampukan seseorang agar mampu mengelola parkir di Jalan Pasar Baru maupun Jalan Jamin Ginting.

Dalam percakapan dengan beberapa informan seringkali mereka mengartikan istilah deking sebagai oknum yang berada di belakang individu atau suatu oknum yang memiliki “kesaktian” yang dapat melindungi diri seseorang ataupun suatu kelompok, sehingga individu atau kelompok yang memiliki deking tersebut dapat membuat lawanya takut ataupun melemahkan kuasa lawan tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Bang Pian :

“orang ini anggar-anggar deking orang ini (pemilik warung Mie Aceh 20), bawa-bawa deking Polisi Militer entah apalah semua”.

(Wawancara pada 14 Juli 2018)

Deking juga sering diartikan sebagai “orang dalam” yang dapat mempermudah urusan seseorang, atau juga dapat dikatakan sebagai orang yang akan menolong/mempermudah suatu invidu atau kelompok untuk mendapatkan suatu kepentingan. Seperti yang dikatakan oleh Pak Gondrong :

“Kalo mana ada orang kita dalam mana bisa, kalo gadak orang dalam kita dapat tenderpun payah” (wawancara pada 19 Juli 2018)

Pada umunya yang yang membuat deking ditakuti atau disegani bukanlah orangnya sendiri tetapi lebih kepada simbol-simbol yang melekat pada orang tersebut. Hal itu dapat dilihat melalui narasi atau wacana yang tersebar tentang oknum tersebut, seperti; “dia memiliki ilmu kebal”, “dia adalah kawan dekat ketua IPK”, “dia tidak mau mengganggu kalau tidak diganggu” dan masih banyak lagi. sering kali jabatan yang dimiliki seseorang tersebut juga dapat membuat orang lain takut, seperti Polisi, Polisi Militer, Pendeta, PS setempat, orang Dishub dll.

Dari beberapa pernyataan di atas saya menarik kesimpulan bahwa deking merupakan dukungan dari suatu pihak, di mana pihak tersebut memiliki kuasa yang cukup besar sehingga dengan menyebut nama orang tersebut dapat membuat lawan takut ataupun melemahkan “nyali” atau kuasa lawan, dan juga melalui deking dapat mempermudah atau menolong individu atau kelompok untuk mendapatkan suatu tujuan.

4.1.1.1 Cara Mendapatkan Deking

Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa deking haruslah memiliki kuasa atau pengaruh yang dapat membuat “nyali” orang lain “ciut” pada saat terjadi

pertarungan dalam ranah parkir. Oleh sebab itu tentunya yang dapat dijadikan deking adalah mereka yang lebih “besar” daripada yang mencari “deking”.

Karena jika yang dicari ternyata tidaklah lebih “besar” daripada yang mencari deking maka oknum tersebut tidak layak untuk menjadi “deking”, maka persoalan untuk mencari deking juga tidaklah mudah.

Untuk mendapatkan deking dapat ditempuh melalui berbagai cara salah satunya di dalam “modal sosial” sebagaimana yang dikatakan oleh Bourdieu.

Modal sosial atau jaringan sosial yang dimiliki individu juga mempengaruhi seseorang yang mencari deking tersebut akan deking yang dicarinya. Jika semakin luas jaringan sosial seseorang maka akan semakin mudah baginya untuk mendapatkan “deking”, sehingga agar memudahkan untuk mencari deking dapat ditempuh dengan memperluas jaringan sosial, misalnya melalui mengikuti suatu organisasi kemasyarakatan (ORMAS) seperti IPK ataupun PP. semakin luasnya jaringan sosial memungkinkan secara tidak sengaja mendapatkan “deking yang dapat digunakan suatu waktu. Seperti yang terjadi juga dengan beberapa oknum di bawah ini; seperti yang dilakukan oleh Pak Perdi dan Pak Robert.

Pak Robert dan Pak Perdi merupakan bagian dari IPK (Ikatan Pemuda Karya), dan hal tersebut membuat mereka menjadi memiliki relasi dengan Pak Yosian yang juga adalah bagian dari IPK dan sekaligus adalah “orang” Dinas Perhubungan Kota Medan. Kedekatan mereka karena sesama bagian dari IPK membuat Pak Robert dan Pak Perdi berkesempatan untuk mengelola parkir di Jalan Pasar baru melalui mandat yang diserahkan oleh Pak Yosian kepada Pak Perdi dan Pak Robert.

Berbeda halnya dengan Pak Gondrong, Ia mendapatkan mandat melalui bantuan seorang teman yang adalah Kepala Dinas Pertamanan, seperti yang dikatakan oleh Pak Gondrong;

“banyak kali saingan, payah cari lapangan pekerjaan sekarang, kalo gadak orang dalam kita payahlah, tender untuk parkir aja pun payah, harus ada orang dalam jugalah. Macam ini dulu kan Kepala Dinas Pertamanan yang ngasikan”. (Wawancara Pada 19 Juli 2018)

Kepala Dinas Pertamanan tersebut kemudian menghubungkan Pak Gondrong dengan Kepala Dinas Perhubungan;

“diakan dishub, dinas pertamanan, perindustrian, kominfo, kan kepala dinas semua itu, kesehatan, dia kan paling tau itu semua, orang satu rangkai itu semua itu, orang ini tunduk kepada walikota kan gitu, orang inilah yang mengatur tender-tender itu semua. Kalo ada orang dalam kita dikasihnya kita tender kan gitu”. (wawancara pada 19 Juli 2018)

Hal lain yang memungkinan untuk memudahkan kita mendapatkan deking adalah melalui sanak saudara yang memiliki jabatan khusus dalam lembaga pemerintahan, seperti Polisi. Bang Sitorus mengatakan bahwa hal tersebut sering digunakan oleh para Pelanggan yang tidak mau membayar retribusi parkir ;

“mudah-mudahan la besok datang lagi dia bila perlu pake dinas polisi, berharap kali aku kekgitu karena belagak preman karena deking nya polisi, deking nya polri”. (wawancara pada 20 Agustus 2018)

Tidak hanya itu, jabatan dalam agama juga dapat digunakan membuat seseorang dijadikan sebagai “deking”, seperti halnya yang pernah dialami oleh Bang Pian ketika mereka Jukir dilarang oleh beberapa warga gereja untuk mengutip retribusi parkir pada hari-hari tertentu dengan mengatakan bahwa hal tersebut dilarang oleh pendeta Gereja tersebut;

“Tapi itulah kami gak pernah minta di gereja IFGF itu, karena dia gak mau ngasih dilarangnya jangan tukang parkir minta disitu, itulah kadang anehnya gereja ini, apabila ada nanti kehilangan disitu siapa

yang ditanya tukang parkir kan, kenapa kita gak dikasih disitu? Apa karena dia merasa itu tanah dia, berarti apabila nanti ada kehilangan dia mau menanggung jawabi? Kami gak pernah minta disitu, kemarin itu kan bilangnya jangan minta, kan lucu kita. Masalahnya dulu gini ceeritanya, orang itu markir disini rupanya dia orang gereja, terus bilangnya aku gereja itu rumah ku katanya Terus ku, kalo memang disitu rumah mu kenapa kau markir disini, kenapa gak kau taro disitu, kan keretanya, dia dua kereta sama cewe, kenapa gak kau taro keretamu disitu kalo memang itu tempatmu, kenapa kau tarok disini, masa dari tadi lama kau disini ku susun-susun keretamu ngomong kekgitu, jangan nanti ada yang minta parkir disitu ya, memang ggak kami minta, jangan ku nampak gini-gini, iya. Kan ada tukang parkir disitu kal gereja. Blangnya, jangan minta uang parkir orang itu ya gereja, marah orang itu, pendeta ku yang ngomong, kan lucu”.

(wawancara pada 14 Juli 2018)

Dari beberapa contoh permasalahan di atas dapat dilihat berbagai cara yang digunakan oleh setiap individu untuk mencari “deking”, berbagai cara yang digunakan untuk mendapatkan legitimasi oleh dari deking yaitu melalui berbagai cara mulai dari jaringan sosial, kekeluargaan bahkan pendeta sendiri pun dapat menjadi deking dalam ranah parkir.

4.1.1.2 “Kesaktian” Sang Deking

Layaknya seorang “dukun” yang memiliki “kesaktian” yang sering di gunakan orang untuk mengatasi berbagai macam permasalahan, begitu pula dengan deking yang seakan-akan memiliki kesaktian yang dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam pertarungan di ranah parkir. Maka pada bagian ini saya memperlihatkan bagaimana deking dapat diandalkan dan apa yang dapat dilakukan dengan “deking”.

A. Mempermudah Mendapatkan SPT

Deking memiliki “kesaktian” untuk mempermudah mendapatkan mandat atau SPT. Karena banyaknya orang yang memperebutkan sumberdaya pengelolaan parkir membuat semakin banyak saingan agar mendapatkan SPT.

Sehingga untuk mendapatkan SPT seorang PS atau Ormas haruslah memiliki deking atau orang dalam yang dapat menolong individu atau ormas tersebut untuk mendapatkan SPT. Seperti misalnya Pak Gondrong, ia mengakui bahwa untuk mendapatkan SPT tidaklah mudah karena begitu banyaknya saingan, sehingga untuk mendapatkan SPT tersebut Pak Gondrong memiliki deking yaitu kepala Dinas pertamanan pada enam tahun silam.

“Kalo mana ada orang kita dalam mana bisa, kalo gadak orang dalam kita dapat ternderpun payah. Banyak kali saingan, payah cari lapangan pekerjaan sekarang, kalo gadak orang dalam kita payahlah, tender untuk parkir aja pun payah, harus ada orang dalam jugalah.

Macam ini dulukan kepala dinas pertamanan yang ngasikan”.

(Wawancara pada 19 Juli 2018)

Pak Gondrong mengatakan bahwa Kepala Dinas tersebut miliki kedekatan dengan para Kepala Dinas yang berada di bawah Walikota, sehingga dengan kedekatannya tersebut memampukan Kepala Dinas Pertamanan tersebut untuk minta tolong kepada Kepala Dinas Perhubungan agar diberikan SPT kepada Pak Gondrong.

Sama halnya seperti yang terjadi dengan Pak Robert dan Pak Perdi, mereka dengan mudah mendapatkan SPT dikarenakan Pak Yosian yang merupakan pengawas parkir dan juga salah satu bagian dari IPK. Persamaan yang diakibatkan oleh ormas IPK tersebut berhasil membuat kedekatan Pak Robert dan

Pak Perdi dengan Pak Yosian. Sehingga dengan begitu Pak Yosian menjadi deking bagi Pak Robert maupun Pak Perdi.

Pada awalnya ketika mulai diberlakukannya pengutipan retribusi parkir di Jl. Pasar baru, SPT yang dipercayakan oleh DISHUB kepada Pak Yosian, kemudian Pak Yosian menyerahkannya kepada Pak Robert yang pada saat itu menjabat sebagai Sekjen IPK, tetapi karena ketidakmampuan Pak Robert melobi pemilik Mie Aceh akhirnya mulai terjadi keributan antar Pak Robert dengan Pemiliki warung Mie aceh, pada akhirnya karena takut jika Polisi ikut campur, maka Pak Robert kalah dalam pertarungan tersebut. Tetapi hal tersebut sudah diketahui oleh Pak Gondrong sehingga ia meminta agar SPT tersebut diberikan kepadanya, dan Pak Gondrong sempat mengelola parkir di JL. Pasar Baru sekitar 1 tahun 6 bulan.

Tetapi setelah Pak Gondrong mengelola parkir dalam jangka waktu tersebut, SPT diserahkan kepada Pak Perdi oleh Pak Yosian tanpa sepengetahuan Pak Gondrong, sehingga pengelolaan parkir pun secara otomatis bepindah ke tangan Pak Perdi dan Pak Gondrong pun telah kalah dalam pertarungan pada saat itu. Hal ini dapat kita mengerti karena kedekatan Pak Yosian dengan IPK.

Sehingga Pak perdi memiliki deking yaitu Pak Yosian, yang akan mempermudah beliau agar mampu memiliki SPT tersebut.

B. Menambah Percaya Diri dan Membuat Lawan Takut

Kembali lagi mengingatkan layaknya seseorang yang memiliki “ilmu sakti” yang dapat menambah percaya dirinya dan sekaligus untuk membuat orang

yang mengetahui kesaktiannya tersebut menjadi takut maka sama halnya dengan keberadaan deking yang dapat menambah percaya diri individu yang memiliki deking saat berhadapan dengan lawan bertarungnya, sekaligus juga membuat lawan bertarungnya takut ketika mendengar narasi tentang “kesaktian” yang ia miliki. Keberadaan deking yang berada di balik setiap inividu ataupun kelompok sangat mempengaruhi tindakan individu ataupun kelompok tersebut. “Kesaktian”

berupa simbol-simbol ataupun modal yang lain, seperti pangkat, gelar, jabatan, suku, penampilan, dan narasi atau wacana yang terbentuk atau sengaja dibentuk untuk menunjukkan “kesaktian” oknum tersebut dapat menambah kekuatan orang yang didukung oleh deking tersebut atau orang yang memanfaatkannya, sehingga lawan semakin takut dan individu yang didukung oleh deking tadi semakin percaya diri pula untuk menjalankan kuasanya.

Seperti yang terjadi pada beberapa pelanggan CR7 yang menggunakan jasa parkir tetapi tidak mau membayar retribusi parkir. Menurut Bang Siregar bahwa individu tersebut tidak mau membayar parkir dengan mengatakan kepada Bang Siregar bahwa pelanggan tersebut memiliki teman yang adalah Polisi maupun Polri, sehingga dengan memiliki saudara atau teman yang memiliki jabatan aparat kepolisian tadi, dapat menambah rasa percaya diri si pelanggan tersebut :

“mudah-mudahan la besok datang lagi dia bila perlu pake dinas polisi, berharap kali aku kekgitu karena belagak preman karena deking nya polisi, “deking”nya polri”. (wawancara pada 20 Agustus 2018)

Kasus lain juga yaitu ketika pertarungan antara Pak Gondrong dengan Pak Perdi pada saat SPT diserahkan kepada Pak Perdi tanpa persetujuan oleh Pak

Gondrong sehingga hal tersebut sempat membuat konflik antara Pak Perdi dengan Pak Gondrong. Berdasarkan pernyataan Bang Pian bahwa Pak Gondrong tidak dapat berbuat banyak, karena Pak Gondrong tidaklah memiliki deking yang dapat menolong Pak Gondrong, karena Pak Gondrong tidak terikat dengan suatu Ormas sehingga Pak Gondrong bertarung secara individu. Sementara Pak Perdi memiliki Ormas yang menjadi deking bagi dirinya yaitu IPK yang siap berhadapan dengan Pak Gondrong yang notabene memiliki banyak anggota yang siap membela Pak Perdi :

“itulah Gondrong sempat emosi, kan gimana emosi pun dia gak bakal sanggup, dia sendiri, orang ini organisasi, organisasi itu kuat, kan iya kan, ini satu dihantam masih banyak yang lain,kalo dia mana, dihantam dia siapa lagi yang bantu yakan”. (wawancara pada 14 Juli 2018)

Kemudian kasus lain adalah ketika pertarungan yang terjadi antara pemilik warung Mie Aceh dengan Pak Robert, yaitu ketika pemilik Mie Aceh menolak penjagaan parkir yang dilakukan oleh Pak Robert. Pada saat itu Pak Robert dipercayakan oleh Pak Yosian yang adalah Pengawas Parkir di Jl. Pasar Baru untuk mengelola parkir di Jl. Pasar Baru dengan menyerahkan SPT. Tetapi karena pemilik warung Mie Aceh memiliki deking dan ia berusaha untuk membangun sebuah wacana tentang deking yang ia miliki yaitu Polisi Militer.

Sehingga dengan deking tersebut berhasil menambah percaya diri pemilik Mie Aceh sekaligus membuat Pak Robert takut dan mundur dari pertarungan tersebut.

Sama halnya dengan seorang Jukir yang menghadapi berbagai tantangan pada saat menjaga parkir, maka seorang Jukir juga membutuhkan sosok yang dapat menjadi deking. Sosok yang paling tepat untuk menempati posisi tersebut

adalah bosnya sendiri. Karena seorang bos parkir pastilah orang yang berpengaruh di sekitar di mana ia menjaga parkir dan juga memiliki suatu narasi tentang kesaktian seorang deking tersebut. Seperti narasi yang menggambarkan suatu “kesaktian” yang dimiliki bos tersebut, narasi tentang Ormas yang diikuti oleh bos parkir tersebut, dan narasi yang menggambarkan “bahwa ia tidak pernah mengganggu kalau tidak diganggu, tetapi sekali dia digangu tidak persoalan siapa dia maka akan dihajar”.

Misalnya saja Tulang Sinaga yang mengandalkan Pak Gondrong. Pak Gondrong yang adalah Bos parkir di Jalan Jamin Ginting yang dalam kesehariannya seram. Pada saat menjaga parkir biasanya Pak Gongdrong akan duduk di sebuah kursi yang dekat dengan jalan raya di depan warung Azir. Maka biasanya Pak Gondrong akan meminum “tuak” dan matanya akan terlihat melotot seakan-akan ingin keluar serta kemerah-merahan, kemudian ia juga akan membuka kancing bajunya sehingga akan kelihatan dada yang kemrah-merahan pula. Tidak hanya itu rambut gondrongnya juga ikut menambah “seram” Pak Gondrong ditambah lagi bahwa ia memiliki badan yang tegap berisi dan suara yang tegas. Maka dengan itu semua akan jelas membuat Pak Gondrong cukup ditakuti dan layak menjadi deking.

Hal lain adalah wacana tentang hebatnya Pak Gondrong di sekitaran Kelurahan Titi Rantai. Pak Gondrong dikenal sebagai penduduk setempat yang sangat disegani di sekitaran Kelurahan Titi Rantai, terkhusus lagi karena ia adalah etnis karo dan terkenal tidak segan-segan berantam. Seperti yang pernah dikatakan pemilik warung Azir ketika saya tanyakan kenapa tidak pemilik

warung saja yang menjaga parkir, lantas jawab pemilik warung “bisa-bisa berantam nanti sama si Gondrong”. Kemudian seperti yang dikatakan oleh Tulang Sinaga bahwa Pak Gondrong adalah sosok yang disegani banyak orang karena “tidak mau mengganggu orang lain tetapi jangan diganggu”;

“Alana molo diibana dang hea olo mengganggu i, alai unang i ganggu” (karena kalau dia tidak pernah menggangu, tetapi jangan di ganggu) (wawancara pada 27 Juli 2018)

Tentunya wacana seperti ini akan menjadi sesuatu yang dapat menambah percaya diri Tulang Sinaga sekaligus juga membuat orang yang mendengarnya. Tentunya juga wacana-wacana seperti ini akan terus didengung-dengungkan oleh Tulang Sinaga untuk tetap dapat menjaga dirinya dari berbagai ancaman.

Tidak hanya Tulang Sinaga Jukir yang lain juga adalah Bang Sitorus.

Bang Sitorus adalah Jukir yang bekerja dengan Pak Brahmana, sementara pengelolaan parkir Pak Brahmana belum memiliki SPT dan juga tidak memiliki atribut parkir resmi, sehingga hal tersebut membuat Bang Sitorus tidak memiliki Badgename dan juga kemeja orange yang menandakan sebagai jukir. Tentunya bukan persoalan mudah untuk menjaga parkir jika tidak menggunakan badgename atau kemeja orange karena hal tersebut bisa mengurangi keabsahan sebagai jukir. Tetapi karena legitimasi yang dimiliki oleh Pak Brahmana membuat Bang Sitorus untuk berani menjaga parkir di tempat tersebut. Tentunya juga ada narasi yang sudah dibangun terkait dengan “kesaktian” yang dimiliki oleh Pak Brahmana. Narasi tersebut merupakan yang berbicara bahwa “Pak Brahmana adalah kawan dekat Bapak Thomas Purba” – yang adalah ketua IPK Sumatera Utara, ditambah lagi dengan status Pak Brahmana yang memang adalah

penduduk setempat yang memang cukup disegani wilayah tersebut. Tentunya dengan “kesaktian” tersebut telah membuat Pak Brahmana layak digunakan sebagai deking maka dari itu Bang Sitorus tidak terlalu takut lagi dalam menjaga parkir karena ia memiliki deking yang cukup kuat, sehingga karena ada masalah maka Pak Brahmana yang akan bertanggungjawab.

Selain Bapak Brahmana yang menjadi deking Bang Sitorus maka anak Bapak Brahmana juga ikut menjadi dekingnya dengan suatu wacana bahwa; Anak Bapak Brahmana adalah preman di sekitar daerah tersebut yang memiliki cukup banyak “kawan” di sekitar Padang Bulan Medan.

4.1.1.3 Cara Mempertahankan Deking

Karena kuasa itu “cair”14 sebagai mana dikatakan Zuska, maka sama halnya kuasa melalui deking juga sesuatu yang cair, gampang berubah sehingga deking tersebut juga perlu untuk tetap dipertahankan agar perlindungan dari si deking tersebut dapat dipertahankan, karena kuasa yang dapat diperoleh dengan adanya ‘deking” juga cukup besar. Maka berbagai cara perlu dilakukan untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan deking tersebut, seperti memberi

“uang terimakasih” kepada deking, “membagi keuntungan” dengan Ormas dan menghormati “deking”. Sehingga dengan begitu maka akan membuat oknum tersebut tetap memiliki “kesaktian” yang diberikan oleh “deking”.

14 Lihat Zuska Fikarwin, Relasi Kuasa Antar pelaku Dalam Kehidupan Sehari-hari

A. “Uang Terimakasih”

“Uang terimakasih” atau “salam-salam” adalah suatu ungkapan terimakasih seseorang terhadap orang lain sebagai imbalan atas jasanya yang biasa diberikan dalam bentuk uang dengan nominal tertentu sesuai dengan kesanggupan si pemberi ataupun ditentukan nilainya berdasarkan kesepakatan oleh pihak yang bersangkutan. Seperti yang dilakukan oleh Pak Gondrong kepada deking yang telah membantunya untuk mendapatkan mandat dari Dinas Perhubungan. Sehingga Pak Gondrong merasa harus memberikan sejumlah uang sebagai wujud terimakasihnya atau “uang terimakasih”, karena jika Pak Gondrong tidak memberikannya maka bisa jadi akibatnya untuk bulan berikutnya Pak Gondrong tidak mendapatkan lagi mandat untuk mengelola parkir.

Jumlah uang yang harus diberikan oleh Pak Gondrong juga tergantung penghasilan yang diperolehnya, jika penghasilan Pak Gondrong meningkat maka biasanya semakin tinggi pula jumlah nominal yang harus dibayarkan, tetapi jika penghasilan yang diperoleh Pak Gondrong sedikit yang mungkin diakibatkan sepinya pelanggan yang parkir maka jumlah nominal yang harus dibayarkan oleh Pak Gondrong kepada deking juga sedikit, seperti yang dikatan oleh Pak Gondrong;

“Kalo ada orang dalam kita dikasihnya kita tender kan gitu, berapa persen untuk orang itu, kalo gadak jatahnya mana pulak dikasihnya sama kita, itunya gunanya orang itu. Macam inilah, pajak pagi sampe pajak USU dikasih tender 9 jt per bulan sama DISHUB, buat orang yang ngasi tender tadi berapa? Kan gitu, sekiranya uang terimakasih

“Kalo ada orang dalam kita dikasihnya kita tender kan gitu, berapa persen untuk orang itu, kalo gadak jatahnya mana pulak dikasihnya sama kita, itunya gunanya orang itu. Macam inilah, pajak pagi sampe pajak USU dikasih tender 9 jt per bulan sama DISHUB, buat orang yang ngasi tender tadi berapa? Kan gitu, sekiranya uang terimakasih