• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISKRIPSI OBYEK DAN PEMBAHASAN

5. Denah Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Yogyakarta

Pembahasan

Proses Pengurusan Import Clearence Barang Melalui Angkutan Udara (Air Freight)

Setiap barang impor yang berupa kargo yang masuk ke dalam wilayah pabean Yogyakarta melalui lalu lintas udara akan dilakukan dengan melalui Bandar Udara Adi Sucipto, kemudian barang akan langsung disimpan sementara di staging area. Staging area adalah lokasi penempatan barang untuk sementara di tempat tertentu di sisi bandar udara (Airside) sebelum ditimbun di TPS atau dimuat sarana pengangkut. Setiap barang impor yang masuk akan selalu diawasi langsung oleh pihak Bea Cukai Yogyakarta dan pihak Garuda Indonesia, karena pada saat ini hanya perusahaan penerbangan PT. Garuda Indonesialah yang memiliki gudang penimbunan di kawasan Bandar Udara Adi Sucipto.

Proses import clearence untuk barang impor yang telah masuk ke Bandar Udara Adi Sucipto harus melewati beberapa tahap, yaitu : a. Importir atau Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK)

membayar nilai pabean, cukai, atau pajak dari barang yang telah diimpor. Setelah menyelesaikan pembayaran maka importir akan mendapat beberapa dokumen yang berguna untuk mengeluarkan barang impornya. Beberapa dokumen tersebut yaitu Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak Dalam Rangka Impor, Packing List, Invoice,

b. Importir atau PPJK kemudian harus menyerahkan delapan dokumen pokok kepada pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Yogyakarta, dokumen tersebut yaitu :

1) Packing List

Packing list adalah daftar yang berisi rincian lengkap mengenahi jenis dan

jumlah satuan dari barang yang terdapat di dalam setiap peti yang total keseluruhannya sama dengan jenis dan jumlah yang tertera di sales

contrac.

2) Invoice

Invoice adalah suatu nota yang dibuat oleh eksportir mengenahi

barang-barang yang dijual itu, baik tentang jumlah barang-barang, jumlah pengepakan, jumlah total ongkos angkut, dan harga sesuai dengan sales contrac dan

Letter of Credit yang bersangkutan.

3) Pemberitauhan Impor Barang (PIB)

PIB adalah dokumen pabean yang digunakan untuk pemberitauhan pelaksanaan impor, yang dapat berupa tulisan diatas formulir atau melalui pesan elektronik.

4) Air Waybill

Air Waybill adalah dokumen yang dibuat oleh pihak pengangkut, dalam

hal ini adalah PT. Garuda Indonesia, yang berisi jenis, jumlah, total harga dari barang impor yang diangkutnya serta merupakan bukti bahwa penerbangan tersebut mengangkut barang impor yang berkaitan.

5) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 6) Angka Pengenal Importir (API)

7) Nomor Pengenal Impor Khusus (NPIK)

8) Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak Dalam Rangka Impor (SSPCP)

Pada saat ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Yogyakarta telah menggunakan media disket dalam pelayanan pengurusan dokumen impor, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dan mempercepat pelayanannya. Jadi, untuk dokumen PIB, Packing List, dan Invoice diberikan dalam dua bentuk yaitu :

1) Soft Copy

Artinya dokumen diserahkan kepada pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam bentuk data yang disimpan di media disket.

2) Hard Copy

Artinya dokumen diserahkan kepada pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam bentuk formulir atau tertulis.

PIB yang diserahkan dalam bentuk hard copy dibuat rangkap tiga.Sedangkan untuk dokumen pelengkap pabean seperti Air Waybill, NPWP, API, dan NPIK diserahkan dalam bentuk satu set asli hard

copy.

c. Staf dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dimana dalam hal ini adalah Pejabat Pemeriksa Dokumen, kemudian akan memeriksa data dengan membandingkan antara data PIB dan dokumen pelengkap pabean yang berada di dalam disket dengan hard copy-nya. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :

2) jumlah pungutan Bea Masuk, Cukai, dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI

3) kebenaran ijin dari instansi teknis apabila importasi tersebut memerlukan ijin dari instansi teknis, dan apabila perijinan tersebut tidak sesuai dengan sebenarnya maka importir harus segera menggantinya

d. Dikarenakan PIB dan atau dokumen pelengkap pabean ada yang kurang, salah, atau tidak lengkap, atau komputer merespon menolak maka berkas-berkas tersebut dikembalikan kepada importir.

e. Importir menyerahkan kembali berkas PIB dan dokumen pelengkap pabean kepada Pejabat Penerima Dokumen setelah berkas-berkas tersebut diperbaiki atau telah dilengkapi.

f. Pejabat Penerima Dokumen memindahkan data dari disket ke komputer,lalu disket dikembalikan dan memberikan bukti penerimaan kepada importir. Berkas PIB, Packing List, Invoice, dan dokumen pelengkap pabean lainnya yang hard copy diperiksa oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen.

g. Karena dokumen-dokumen terebut sudah dianggap lengkap dan benar, maka Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengeluarkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB). SPPB lembar kedua diberikan kepada importir, sedangkan lembar pertama diberikan kepada petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang mengawasi barang, dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Hijau.

h. SPPB sudah keluar, ini menunjukan bahwa importir dapat segera mengambil barangnya di staging area dengan diawasi oleh petugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang membawa lembar pertama SPPB dan petugas dari PT. Garuda Indonesia tentunya sebagai penyedia sarana pengangkut.

i. Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Merah, maka : 1) Importir menerima Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM) SPJM diterima oleh importir, kemudian Pejabat Pemeriksa Dokumen mendistribusikan photo copy Invoice dan atau Packing List serta instruksi pemeriksaan kepada Pejabat Pemeriksa Barang. Pejabat Pemeriksa Barang segera melakukan pemeriksaan fisik barang tersebut di staging area, mengevaluasi kebenaran dan kecocokan kondisi barang. Tingkat pemeriksaan fisik barang bisa berkisar 10%, 30%, atau 100% tergantung resiko barang tersebut. Selesai melakukan pemeriksaan, Pejabat Pemeriksa Barang mengeluarkan Nota Hasil Intelijen (NHI) sebagai laporan dari pemeriksaan yang telah dilakukan.

2) Importir menyerahkan bukti-bukti kebenaran Nilai Pabean dalam waktu paling lama satu hari kerja setelah selesai pemeriksaan fisik. j. Apabila PIB Jalur Merah jumlah dan jenis barangnya sesuai maka :

1) Terhadap PIB yang diberitahukan oleh importir beresiko tinggi, menerbitkan SPPB setelah proses penetapan Nilai Pabean yang harus dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tiga hari sejak tanggal penerimaan NHI.

2) Atau, menerbitkan SPPB tanpa menunggu proses penetapan Nilai Pabean, terhadap PIB yang diberitahukan oleh importir beresiko sedang atau rendah.

k. Bila setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan dokumen ternyata ada yang tidak sesuai maka importir akan diberi Nota Pembetulan (Notul). Jika kesalahan ditemukan pada kekurangan pembayaran bea masuk, maka importir juga akan diberi Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBN). Kemudian importir diwajibkan membayar sanksi admnistrasi, pembayaran dilakukan di Bank Devisa Persepsinya. Dari pembayaran tersebut importir memperoleh SSPCP baru. Langkah berikutnya importir mengirim kembali dokumen PIB,

Packing List, Invoice, dan dokumen pelengkap pabean lainnya yang

sudah diperbarui ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

l. Dokumen yang telah diperbarui tadi diperiksa ulang oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen. Jika dinyatakan sudah lengkap dan benar maka SPPB segera diterbitkan. SPPB lembar kedua untuk importir, sedangkan lembar pertama untuk petugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang mengawasi barang.

m. SPPB sudah keluar, ini menunjukan bahwa importir dapat segera mengambil barangnya di staging area dengan diawasi oleh petugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang membawa lembar pertama SPPB dan petugas dari PT. Garuda Indonesia tentunya sebagai penyedia sarana pengangkut.

2. Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor

Dokumen terkait