BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
6. Departemen Pembantu
Departemen pembantu adalah suatu departemen yang menghasilkan jasa dimana jasa tersebut diperlukan oleh departemen produksi untuk memperlancar proses produksi, sedangkan departemen produksi adalah suatu departemen yang mengolah suatu produk dengan mengubah bentuk atau sifat suatu bahan atau merakit suku cadang menjadi produk selesai.
Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja karena pengolahan bahan baku menjadi produk biasanya hanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik tidak hanya terdiri dari di Departemen produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung saja, tetapi juga meliputi semua biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu.
Dalam rangka penentuan tarif, biaya overhead departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
a. Metode-Metode Alokasi BOP Per Deparetemen
Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah mengalokasikan baya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen pembantu. Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja, karena pengelolaan bahan baku menjadi
produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi saja, maka dalam rangka penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
1. Metode alokasi langsung (direct alokasi method).
Dalam metode alokasi langsung, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen-departemen pembantu yang memakai jasa departemen pemantu lainnya.
2. Metode alokasi bertahap (step method)
Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke dapartemen produksi. Metode alokasi bertahap (Step Method) terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Metode alokasi kontinyu.
Dalam metode ini biaya overhead pabrik departemen-departemen pembantu yang saling memberikan jasa, dialokasikan secara terus menerus, sehingga jumlah biaya overhead yang belum dialokasikan menjadi tidak berarti.
b. Metode aljabar
Ketidak lengkapan dalam hal pembagian timbul dalam menggunakan metode bertahap karena pendistribusian yang berturut sehingga departemen yang ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari departemen yang ditutup kemudian.
B. Kerangka Pikir
Perusahaan industri Pabrik Gula yaitu PT. Perkebunan Nusantara X–
Pengelola Pabrik Gula Takalar., sebagai perusahaan Swasta yang dikelola dengan tenaga kerja yang berpengalaman didukung oleh sarana prasarana kerja yang berlokasi di kabupaten Takalar sebagai obyek penelitian. Untuk mengevaluasi biaya yang digunakan selama dalam proses produksi mulai dari departemen pembantu, alokasi biaya overhead pabrik dan departemen produksi sampai ke bagian umum.
Jika produk diolah melalui beberapa tahap proses produksi, biasanya perusahaan membentuk departemen produksi. Di samping departemen produksi tersebut, perusahaan biasanya membentuk beberapa departemen
pembantu untuk melayani berbagai kebutuhan departemen produksi tersebut, jadi keduanya sangat berkaitan.
Setelah proses produksi dalam suatu departemen, maka disusun langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah mengalokasikan biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen-departemen produksi saja, karena pengelolaan suatu bahan baku menjadi menjadi produk hanya terjadi di departemen produksi.
Biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya pada departemen produksi saja, melainkan meliputi pula biaya overhead pabrik yang terjadi di departemen-departemen pembantu. Dalam rangka penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
Penentuan biaya produksi adalah tugas akuntansi biaya yang harus mengikuti aliran fisik dan produksi, kemudian menetapkan pencatatan dan analisa dari informasi biaya yang diikutinya tersebut, secara efektif dan efisien.
Selama proses produksi berlangsung biaya yang terjadi meliputi : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan biaya bahan pembantu.
Adapun kerangka pemikiran yang telah diuraikan di atas, dapat digambarkan dalam bentuk skema, sebagai berikut :
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
C. Hipotesis
Sugiyono (2008:93) mengungkapkan bahwa : “Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, karena jawaban tersebut baru didasarkan pada teori yang relevan belum didasarkan atas fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data”. Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : Biaya overhead dari departemen pembantu telah dialokasikan secara tepat dengan standar akuntansi ke departemen produksi oleh PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar.
PT. PN X PABRIK GULA
DEPARTEMEN PRODUKSI
DEPARTEMEN PEMBANTU
ALOKASI BIAYA OVERHEAD
PABRIK
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Salah satu komponen penting dari sebuah penelitian adalah lokasi atau tempat penelitian (dalam hal ini adalah sebuah perusahaan). Perusahaan yang menjadi objek penelitian ini adalah PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula yang berlokasi di Kabupaten Takalar, yang bergerak dibidang perusahaan industri Pabrik Gula.
Sedangkan Pada waktu penelitian untuk memperoleh data, maka pengambilan data direncanakan selama kurang lebih dua bulan.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Dalam suatu penelitian diperlukan adanya populasi yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik yang dimiliki oleh suatu subjek atau objek penelitian. Menurut Sugiyono (2012:61), Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan selama dalam proses produksi.
27
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2012:62) pengertian sampel yaitu bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan penulis yang menjadi sampel adalah harga pokok produksi dan dapat pula ditentukan harga pokok penjualan per kilogram.
C. Metode Pengumpulan Data 1. Jenis Data
a. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil perusahaan baik dalam bentuk informasi secara lisan maupun secara tertulis.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti dalam bentuk angka-angka masih memerlukan pengelolaan kembali dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.
2. Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan langsung pada perusahaan industri Pabrik Gula yaitu PT.
Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar., mengadakan wawancara langsung yang membidangi biaya dalam proses produksi khususnya mengenai alokasi biaya overhead pabrik yang ada kaitannya dengan penulisan proposal ini.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan Industri Pabrik Gula yaitu PT. Perkebunan Nusantara XIV – Pabrik Gula (PG)
Takalar. pada dokumen-dokumen dan buku literatur serta laporan tertulis dari luar yang ada hubungannya dengan penulisan proposal ini.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data, penulis mengadakan studi kasus dan pengumpulan data melalui penelitian lapangan (field research) dan penelitian pustaka (library research), sebagai berikut :
a. Penelitian lapangan (field research),
yaitu kegiatan penelitian lapangan, dimana penulis mencari data yang menjadi obyek penelitian, untuk itu penulis melakukan pengamatan setempat dan wawancara langsung dengan pimpinan serta beberapa karyawan perusahaan yang berkompeten dalam mengumpulkan data berupa laporan yang disajikan dan mengumpulkan informasi yang diperlukan.
b. Penelitian pustaka ( library research ), yaitu penulis mengumpulkan data yang berhubungan dengan teori tentang metode pencatatan penilaian persediaan barang dagangan pengendalian perluasan usaha dari buku literatur dan catatan perkuliahan. Disamping itu penulis mengumpulkan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas dan dapat mendukung penulisan proposal ini.
Disamping itu penulis mengumpulkan data yang ada kaitannya dengan permasalahan dengan melalui cara sebagai berikut :
a. Observasi
Tehnik observasi dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dalam proses kegiatan pengolahan data berkaitannya dengan kebutuhan informasi pada Perusahaan.
b. Wawancara
Tehnik interview dilakukan dengan jalan wawancara secara langsung dengan Kepala Bagian Umum atau kepala bagian lainnya atau sejumlah personil yang berhubungan dengan penelitian ini.
D. Definisi Operasional
Suatu bentuk susunan mengenai konsep variabel indikator dan item-item yang dijadikan pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh data yang akan diteliti lebih lanjut.
Definisi operasional, menurut Saifuddin Azwar (2007:72) adalah suatu definisi yang memiliki arti tunggal dan diterima secara objektif bilamana indikatornya tidak tampak. Adapun definisi operasional berdasarkan kerangka pikir yang telah dikemukakan, sebagai berikut : 1. Alokasi biaya overhead pabrik dalam proses produksi perusahaan
pemisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap dapat diartikan bahwa biaya yang tidak mengikuti perkembangan kegiatan atau biaya tidak terpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Kalau biaya variabel setiap saat mengalami perubahan artinya mengikuti perkembangan kegiatan.
2. Dalam kalkulasi biaya overhead pabrik perusahaan menganalisa seluruh biaya yang digunakan selama proses produksi untuk menentukan biaya produksi per kilogram, agar dapat ditetapkan harga jual per kilogram.
3. Pembiayaan perusahaan dalam menjalankan kegiatan pabrik gula Unit Takalar dibiayai oleh pemerintah.
4. Pendistribusian gula yang ditetapkan oleh PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar yaitu melalui Metode alokasi langsung yaitu : dalam metode alokasi langsug biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya.
5. Metode alokasi tertahap yaitu, metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke departemen produksi.
6. Metode aljabar yaitu : ketidak lengkapan dalam hal pembagian timbul dalam menggunakan metode bertahap karena pendistribusian yang berurut sehingga departemen yang ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari departemen yang ditutup kemudian.
E. Metode Analisis
Metode analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca, dipahami, dan diinterpretasikan. Untuk mengetahui alokasi biaya overhead pabrik dalam perhitungan biaya produksi. Maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif yaitu analisis ini dilakukan dengan merekomendasikan penyusunan harga pokok produksi yang seharusnya dimana metode ini dinyatakan dengan angka-angka dengan menggunakan metode full costing dan metode alokasi langsung.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar
Pabrik Gula Takalar terletak di Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Propinsi Sulawesi Selatan. Pabrik Gula Takalar didirikan dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan pemerintah untuk swasembada gula nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian R.I Nomor 668/Kpts/Org/8/1981 tanggal 11 Agustus 1981.
Studi kelayakan disusun oleh PT Agriconsult Internasional pada tahun 1975, dilanjutkan oleh PT Tanindo pada tahun 1981 dengan menggunakan fasilitas kredit ekspor dari Taiwan. Pelaksanaan pembangunan diserahkan pada Tashing Co. (Ptc) Ltd. Agency of Taiwan Machinery Manufacturing Co. (TMCC) sebagai Main Contractor dengan partner dalam negeri yakni PT Sarang Tehnik, PT Multi Mas Corp, PT Barata Indonesia.
Pembangunan Pabrik Gula Takalar menghabiskan dana sebesar Rp.
63,5 milyar dan selesai dibangun pada tanggal 27 Nopember 1984.
Performance test dilaksanakan pada tanggal 5 sampai dengan 11 Agustus 1985 dengan hasil baik. Pabrik Gula Takalar dibangun dengan kapasitas giling 3.000 ton tebu per hari (TTH), yang dapat dikembangkan menjadi 4.000 TTH. Pabrik Gula Takalar giling perdana tahun 1984, dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 23 Desember 1987.
33
1. Areal
Areal PG. Takalar terdiri dari Hak Guna Usaha (HGU) seluas 9.967,04 ha dan Hak Guna Bangunan (HGB) seluas 181.93 Ha.
a. Hak Guna Usaha HGU seluas 9.967,04 ha tersebar pada 3 (tiga) kabupaten yaitu :
1) Kabupaten Gowa : 1.996,86 ha.
2) Kabupaten Takalar : 6.550,21 ha 3) Kabupaten Jeneponto : 1.419,97 ha
Hak Guna Usaha (HGU) diterbitkan dalam 2 (dua) sertifikat yaitu tahun 1992 yang berlaku s/d tahun 2024 dan sertifikat tahun 1993 yang berlaku s/d dengan tahun 2023.
b. Hak Guna Bangunan (HGB) seluas 181.93 Ha diterbitkan dalam 1 (satu) sertifikat yaitu tahun 1990 dan berakhir pada tahun 2010.
2. Topografi
Areal PG Takalar berada pada ketinggian 45 m – 125 m di atas permukaan laut, dengan jenis tanah :
a. Kabupaten Gowa : Mediteran, Grumusol, Latosol
b. Kabupaten Takalar : Mediteran, Grumusol, Latosol, Podsolik Kuning
c. Kabupaten Jeneponto : Mediteran, Grumusol, Laterit
3. Pabrik
a. Lokasi Pabrik
Desa : Pa’rappunganta Kecamatan : Polombangkeng Utara Kabupaten : Takalar
Provinsi : Sulawesi-Selatan Kode Pos : 92201
Telp./Fax : 0418-2328216-2328216-2328220 Terletak : 35 Km dari ibu kota Provinsi
10 m dari ibu kota Kabupaten b. Kondisi Pabrik
Tahun pembuatan : 1982
Kepemilikan : Persero
Jenis Prosesing : Sulfitasi
Jenis Gula yang Dihasilkan : SHS I
Kapasitas Giling : 3.000 TCD
B. Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar
Organisasi merupakan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu, struktur organisasi adalah kerangka antar hubungan dari orang-orang atau unit-unit organisasi yang masing-masing memiliki tugas, tanggungjawab, dan wewenang tertentu. Berikut ini merupakan Struktur organisasi pada PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.1
Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara X– Pengelola Pabrik Gula Takalar
C. Tugas Pokok dan Fungsi PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar
Sesuai dengan badan struktur organisasi perusahaan PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar, Sebagai Berikut:
1. General Manager, bertugas :
a. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan sesuai yang ditetapkan direksi.
b. Memimpin, mengendalikan dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas bagian tata usaha dan keuangan, pengelohan, instalasi dan tanaman agar tercapai kesatuan.
2. Kepala Bagian Tanaman
Kepala bagian tanaman bertugas melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan oleh administrator dibidang tanaman dan sesuai yang ditetapkan oleh direksi.
a. Membantu general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja pada bagian tanaman.
b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran tanaman dari segi produksi dan produktivitas tanaman.
3. Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan, bertugas:
a. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan general manager dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh direksi.
b. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang ditetapkan administrator dalam bidang tata usaha dan keuangan sesuai yang ditetapkan direksi.
c. Membantu administrator secara aktif dalam menyusun dan mengendalikan rencana kerja dan rencana anggaran belanja perusahaan dibidang tata usaha dan keuangan perusahaan.
4. Kepala Bagian Pabrik bertugas :
a. Memimpin, merencanakan, mengkoordinir serta mengawasi pelaksanaan semua kegiatan bidang pengolahan sesuai kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager dan direksi.
b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan fungsi pengolahan dan tertimbang sampai menjadi gula ditimbang agar dapat mencapai mutu produksi secara efektif dan efisien.
5. Sistem Kepegawaian a. Sistem Kerja
Sistem kerja pada pabrik gula takalar terbagi atas dua kelompok kerja yaitu:
1) Sistem kerja pada Luar Masa Giling (LMG)
Semua karyawan mempunyai jadwal kerja dari hari senin sampai hari sabtu dengan jam kerja sebagai berikut :
Senin – Sabtu : 07.00 – 15.00 Masuk Kerja
2) Sistem Kerja Dalam Masa Giling (DMG)
a) Karyawan yang termasuk dalam golongan ini mempunyai jadwal kerja dari hari senin sampai dengan minggu dan dibagi selama 3 shift.
b) Karyawan pelaksana / musiman, jadwal kerjanya : Shift Pagi : 07.00 – 15.00
Shift Siang : 15.00 – 23.00 Shift Malam : 23.00 – 07.00
c) Pengawas dan pembantu pengawas, jadwal kerjanya : Shift Pagi : 06.00 – 14.00
Shift Siang : 14.00 – 22.00 Shift Malam : 22.00 – 06.00 d) Dinas harian, jadwal kerjanya :
Senin – Kamis : 07.00 – 15.00 Masuk Kerja Jum’at : 07.00 – 12.00 Masuk Kerja
Sabtu : 07.00 – 15.00 Masuk Kerjaa
b. Sistem Upah
Sistem upah di pabrik gula takalar dibagi dalam 3 bagian : 1) Upah Bulanan
Upah bulanan ini diberikan kepada karyawan tetap dan besarya tergantung pada golongan kerja tingkat kepegawaian. Upah ini ditetapkan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh perusahaan.
2) Upah Harian
Upah ini diberikan kepada karyawan tidak tetap yang biasanya terdiri dari pekerja harian.
3) Upah Lembur
Upah ini diberikan kepada karyawan yang bekerja lebih dari delapan jam kerja satu hari.
c. Kesalamatan Kerja
Hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja dipabrik gula takalar untuk sekarang ini antara lain :
1) Penyediaan fasilitas kesehatan seperti poliklinik 2) Pembagian pakaian kerja, helm dan sarung tangan.
3) Pembagian susu untuk operator yang bekerja di cane yard, sekrap, belerang, ph meter dan tukag las.
4) Mencegah dan mengendalikan timbulnya polusi misalnya pengelolaan blotong menjadi kompos dan pengelolaan air limbah dikolam IPAL.
5) Penyediaan perlengkapan alat pemadam kebakaran.
d. Kesejahteraan Karyawan
Pada pabrik gula takalar beberapa kesejahteraan karyawan telah disediakan antara lain yaitu fasilitas perumahan, fasilitas olahraga, fasilitas peribadatan, fasilitas koperasi, fasilitas pendidikan dan kesehatan.
1) Tenaga kerja tetap : 493 orang 2) Tenaga kerja tidak tetap : 285 orang 6. Kepala Bagian SDM/Umum, bertugas :
a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh general manager SDM pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.
b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran SDM secara cepat.
c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana kerja dan rencana anggaran belanja dibidang SDM pabrik gula.
7. Kasub Instalansi, bertugas :
a. Melaksanakan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh administrator dibidang instalasi pabrik gula, sesuai yang telah ditetapkan oleh direksi dengan berdaya guna dan berhasil guna.
b. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran instalasi secara tepat c. Membantu secara aktif general manager dalam menyusun rencana
kerja dan rencana anggaran belanja di bidang instalasi pabrik gula.
8. Kasub. Akuntansi / Pembukuan, bertugas :
a. Menyelenggarakan pembukuan dan membuat laporan secara periodik di bidang keuangan untuk keperluan manajemen.
b. Melaksanakan pengawasan di bidang finansial dn inventaris.
c. Mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan perubahan akan harta, hutang serta modal perusahaan.
d. Mencatat dan membukukan semua transaksi yang terjadi, membuat laporan bulanan, serta membuat manajemen keuangan.
e. Menerima dan mengeluarkan uang yang dibutuhkan oleh pabrik dalam menjalankan aktivitasnya.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Klasifikasi Biaya Pada PT. Perkebunan Nusantara X– Pengelola Pabrik Gula Takalar
Klasifikasi biaya pada perusahaan sangatlah penting dilakukan sebelum melakukan analisis yang tepat dan akurat, klasifikasi biaya pada PT.
Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar adalah sebagai berikut :
1. Biaya Tetap
Biaya tetap merupakan biaya yang selama kurun waktu operasi selalu tetap jumlahnya atau tidak berubah walaupun volume kegiatan atau penjualan berubah. Pada PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar biaya tetapnya terdiri atas :
a. Biaya Administrasi dan Tata Usaha 1) Gaji DBS Karyawan Staf 2) Tunjangan Kesejahteraan 3) Tunjangan Sosial Karyawan 4) Pengeluaran Khusus
5) Tunjangan Pelaksanaan 6) Biaya Kantor Asuransi b. Biaya Diluar Kantor
1) Sumbangan
2) Biaya Hansip / Wanra 43
3) Biaya Keamanan 4) Jaminan Sosial c. Amortisasi
1) Hak Atas Tanah d. Biaya Overhead Tetap
1) Gedung dan Penataran 2) Mesin dan Instalansi 3) Jalan dan Jembatan 4) Alat Pengangkutan 5) Alat Pertanian
6) Inventaris Kantor dan Rumah 2. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya volume kegiatan. Pada PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar, klasifikasi biaya variabelnya terdiri atas : a. Biaya Tenaga Kerja Langsung
b. Biaya Bahan Baku 1) Biaya Pembibitan
c. Biaya Administrasi dan Umum 1) Biaya Pabrik
2) Biaya Pengelolahan 3) Biaya Tebang dan Angkut 4) Biaya Penggilingan
d. Biaya Overhead Variabel 1) Biaya Eksploitasi Pertanian 2) Biaya Eksploitasi Pengangkutan
Tabel 5.1 Data Standar Biaya Tetap dan Biaya Variabel
PT. Perkebunan Nusantara X– Pengelola Pabrik Gula Takalar Tahun 2014
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 17,808,717,727 1 Gaji DBS Karyawan Staf Rp. 975,358,930.62 Biaya Bahan Baku
2 Tunjangan Kesejahteraan Rp. 7,526,305,511.10 1 Biaya Pembibitan Rp. 4,253,088,913 3 Tunjangan Sosial Karyawan Rp. 3,895,305,612.78 Biaya Administrasi dan Umum
4 Pengeluaran Khusus Rp. 48,000,000 1 Biaya Pabrik Rp. 11,747,334,753.90
5 Tunjangan Pelaksanaan Tugas Rp. 530,689,000 2 Biaya Pengelolahan Rp. 9,391,015,907.08 6 Biaya Kantor Rp. 400,064,380 3 Biaya Tebang dan Angkut Rp. 20,536,536,103.48
7 Asuransi Rp. 415,203,600 4 Biaya Penggilingan Rp. 34,882,620,278.45
8 Lain-Lain Rp. 797,172,765.80 5 Sumbangan Kematian Rp.
-Biaya Diluar Kantor Biaya Overhead Variabel
1 Sumbangan Rp. 137,220,000 1 Biaya Eksploitasi Pertanian Rp. 18,392,489,570.00 2 Biaya Hansip / Wanra Rp. - 2 Biaya eksploitasi Pengangkutan Rp. 5,687,555,466.52
3 Biaya Keamanan Rp. 324,850,000
4 Jaminan Sosial Pensiun Rp. 648,000,000
5 Lain-Lain Rp. 15,000,000
Amortisasi
1 Hak Atas Tanah Rp.
-Biaya Overhead Tetap
1 Gedung dan Penataran Rp. 244,764,178.64 2 M esin dan Instalasi Rp. 4,028,623,086.13 3 Jalan dan Jembatan Rp. 155,089,148.28 4 Alat Pengangkutan Rp. 71,505,190.52 5 Alat Pertanian Rp. 2,129,722,962.37 6 Inventaris Kantor dan Rumah Rp. 26,054,578.60
TOTAL Rp. 22,368,928,944.84 TOTAL Rp. 122,699,358,719
BIAYA TETAP RKAP BIAYA VARIABEL RKAP
Biaya Administrasi dan Tata Usaha
Sumber : PT. Perkebunan Nusantara X-Pengelola Pabrik Gula Takalar (Data Diolah)
Tabel 5.1 diatas menunjukkan biaya tetap PT. Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar yang terdiri atas biaya administrasi dan tata usaha (Gaji DBS karyawan staf, tunjangan kesejahteraan, tunjangan sosial karyawan, pengeluaran khusus, tunjangan pelaksanaan tugas, biaya kantor, asuransi, dan lain-lain). Biaya diluar kantor (Sumbangan, biaya hansip/wanra, biaya keamanan, jaminan sosial pensiun, dan laim-lain). Amortisasi (Hak atas tanah). Dan biaya overhead tetap (Gedung dan penantaran, mesin dan instalasi, jalan dan jembatan, alat pengankutan, alat pertanian, dan inventaris kantor dan rumah). Disini dapat dilihat bahwa jumlah biaya tetap pada PT.
Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar pada tahun 2014
Perkebunan Nusantara X – Pengelola Pabrik Gula Takalar pada tahun 2014