OBSERVASI WILAYAH KONSENTRASI WETU TELU
F. Desa Bayan: Wilayah Konsentrasi Wetu Telu 1. Sejarah Singkat Desa Bayan
Bayan adalah sebuah desa yang terbentang sepanjang pantai utara pulau Lombok, mulai dari sebelah timur distrik Tanjung sampai dengan kokok pute’. Ditinjau dari aspek etnografis dan historisnya, distrik Bayan meliputi pula desa Belanting dan desa Obel-Obel di dalam lingkungan distrik Pringgabaya di sebelah timur kali putih [kokok pute’] ini.98
Bayan adalah sebuah daerah yang lokasinya terpencil di pulau Lombok. Letaknya lima kilometer dari pantai
97www.ntb.go.id
98J. Van Ball, Pesta Alip di Bayan, [Jakarta: Bhratara, 1976], h. 7
dan berada di lereng gunung Rinjani dengan ketinggian 200 meter dari permukaan laut. Betapapun letaknya yang terpencil, namun Bayan terkenal karena masih menyimpan dan memelihara khazanah budaya yang sangat khas sebagai ciri parokialitas adatnya.
Secara historis, Bayan merupakan pusat kedudukan dari raja-raja Bayan semenjak zaman dahulu. Di sinilah terdengar denyut kebudayaan kuno, suatu kebudayaan yang berbeda jauh dari dinamika kebudayaan yang terdapat di berbagai tempat di pulau Lombok. Kebudayaan kuno dan tradisional ini tetap bertahan dan memberikan warna corak yang khas dan tertentu kepada agama Islam.99
Desa Bayan dibagi menjadi dua bagian yaitu Bayan Timu’
[Bayan Timur], dan Bayan Bat [Bayan Barat]. Bayan Timur diidentifikasi sebagai pemegang otoritas yang memiliki relasi antara kekuasaan rohani dan duniawi. Oleh karena itu, pemangku dari Bayan Timur disebut sebagai Pemangku Bele’, Pemangku Adat Gama [Pemangku Agama]. Sedangkan
99Ibid
Pemangku Bayan Barat diserahi mengurusi persoalan di luar agama, sehingga disebut Pemangku Luir Gama.
Klasifikasi ini dapat dilacak dari sejarah raja-raja Bayan dahulu. Pemangku Bayan Timur adalah merupakan keturunan Susuhunan Ratu Mas Musering Dunia. Putranya adalah Sungsunan Ratu Mas Bayan Agung, yang makamnya terletak condong menghadap ke pekarangan istana raja di Bayan Timur. Silisilahnya mencapai 18 orang saudara raja Bayan. Semua saudaranya ini adalah nenek moyang dari beberapa keluarga raja di Lombok.
Masih menurut hasil penelitian J. Van Ball, bahwa Sungsunan Ratu Mas Bayan Agung memiliki dua putra, yaitu Raden Sutadriya, yang menurunkan raja-raja Bayan dan Titi Mas Rempung, yang menurunkan pemangku-pemangku dari Loloan.
Adapun Pemangku Bayan Barat yang dikenal sebagai Pemangku Luir Gama, juga memakai gelar Reden, namun berasal dari perkawinan lain dari Susngsunan Ratu Mas Bayan Agung, yaitu perkawinan dengan seorang wanita, yang lahir dari sebatang santong, semacam bambu100 di desa Sesait.101
Demikianlah sejarah singkat desa Bayan yang secara geneologis memiliki trah raja-raja Bayan. Sejarah Bayan, seperti sejarah kerajaan lain di Indonesia, biasanya memilikinya sejarah yang panjang dan dipenuhi oleh mitos-mitos dan cerita legenda yang umumnya masih dipercaya oleh masyarakat. Sehingga sampai saat ini, masyarakat
100Orang Bayan menyebutnya dengan ngempok, yaitu keluar dengan suatu letusan.
101J. Van Ball, Pesta Alip..., h. 12-13
Bayan asli masih memakai gelar-gelar kebangsawanan yang didapat secara turun-temurun.
2. Kondisi Geografis dan Demografi Desa Bayan Penelitian ini didasarkan pada penelitian lapangan di desa Bayan Beleq, sebuah komunitas Wetu Telu yang terletak di deretan pegunungan barat laut pulau Lombok.
Bayan terletak di pulau Lombok, tepatnya di kabupaten Lombok Barat bagian Utara.102 Wilayah Lombok Barat membujur-melintang diantara 115˚ 46΄ Bujur Timur (East Longitude) dan 8˚ 12΄ dengan 8˚ 55΄ Lintang Selatan (East Longitude). Pulau Lombok yang luasnya 4.738,7 km2
103 terletak diantara pulau Bali di sebelah Barat, dan pulau Sumbawa di sebelah Timur. Perbatasan dengan pulau Bali diantarai oleh selat Lombok, dan dengan pulau Sumbawa oleh selat Sumbawa. Sementara di sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa dan di sebelah selatan berbatasan dengan samudra Indonesia.
Secara administratif pulau Lombok terdiri dari lima Kabupaten/Kota, yakni Kabupaten Lombok Barat dengan ibukota Gerung, Kabupaten Lombok Tengah ibukota Praya, Kabupaten Lombok Timur dengan ibukota Selong, Kabupaten Lombok Utara dengan ibukota Tanjung dan Kotamadya Mataram dengan ibukota Mataram. Masing-masing Kabupaten/Kota ini dipimpin oleh seorang Bupati/
Walikota, dan terbagi ke dalam beberapa kecamatan yang dipimpin oleh seorang Camat. Selanjutnya setiap Kecamatan ini terbagi menjadi beberapa Desa/Kelurahan.
102Daerah Bayan saat ini termasuk dalam proses pemekaran wilayah menjadi kabupaten Lombok Utara
103Badan Pusat Statistik Cabang Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat dalam Angka 2001, [Mataram: Badan Pusat Statistik Cabang Mataram, 2002], h. 4
Bayan termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Lombok Utara. Di sebelah utara dan selatan, Bayan berbatasan dengan laut Jawa dan kecamatan Batu Kliang, Kabupaten Lombok Tengah. Di sisi timur dan barat, Bayan berbatasan dengan desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur dan kecamatan Gangga.
Nama Bayan menunjuk pada pemerintahan daerah tingkat kecamatan, yaitu kecamatan Bayan, dan tingkat desa, yaitu desa Bayan. Sebagai sebuah kecamatan, Bayan adalah satu dari dua belas kecamatan yang berada di bawah pemerintah daerah tingkat II Lombok Utara. Luas kecamatan ini 329,1 km persegi dan terdiri dari sembilan desa, yait: (1) Loloan; (2) Bayan ; (3) Senaru; (4) Anyar; (5) Akar-Akar, (6) Mumbul Sari; (7) Karang Bajo; (8) Sambik Elen; dan (9) Sukadana.
Sukadana merupakan wilayah terluas, yaitu 65.00 km². Sedngkan wilayah tersempit adalah desa Anyar, yakni 9.75 km². Namun desa Anyar menempati urutan kedua sekecamatan Bayan dalam hal kepadatan penduduknya.
, yaitu 6628 jiwa dengan rincian 3234 laki-laki dan 3394 perempaun. Sementara kepadatan penduduk tertinggi terdapat di desa Senaru, yaitu 6945 jiwa dengan rincian 3381 laki-laki dan 3564 perempuan. Sedangkan untuk jumlah penduduk terendah ditempati oleh desa Sambik Elen, yakni 2556 jiwa dengan rincian 1303 laki-laki dan 1253 perempuan.104
Tabel I. Jumlah Penduduk Desa Bayan Berdasarkan Jenis Kelamin
No Desa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Bayan Timur 297 313 610
104Data Monografi Kecamatan Bayan
2 Bayan Barat 155 176 331
3 Pada Mangko 117 122 239
4 Mandala 298 319 617
5 Sembulan 195 238 433
6 Montong Baru 130 142 271
7 Teres Genit 286 266 552
8 Dasan Tutul 154 158 312
9 Nangka
Rempek 270 262 532
Jumlah 2.001 2.103 4.104
Sumber: Data Rekapitulasi Jumlah Penduduk Buku Monografi Desa Bayan Tahun 2008
3. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan
Sebagai sebuah desa, Bayan merupakan satu dari sembilan desa di bawah pemerintahan kecamatan Bayan yang terdiri dari sembilan desa, yaitu desa Bayan, Karang Bajo, Akar-Akar, Sukadana, Anyar, Loloan, Senaru. Sambik Elen, dan Mumbul sari.
Desa Bayan terletak di wilayah seluas 70 km persegi, dengan populasi penduduk 4.104 jiwa dan 1.156 KK. Desa Bayan terbagi menjadi 9 Dusun yaitu: Bayan Timur, Bayan Barat, Padamangko, Mandala, Sembulan, Montong Baru, Teres Genit, Dasan Tutul, dan Nangka Rempek.
Mata pencaharian penduduk adalah bertani sebanyak 976 orang, buruh tani 18 orang, pengrajin 30 orang, pedagang 86 orang, pegawai negeri 26 orang, pegawai swasta 5 orang, montir 6 orang, bidan 1 orang, dan sopir 3 orang.
Seluruh penduduk desa Bayan mayoritas beragama Islam, yakni sebanyak 4.098 orang dan sisanya beragama Hindu sebanyak 6 orang.
Di antara 9 dusun, Bayan Timur, dan Bayan Barat, menjadi pusat desa Bayan. Wilayah ini sering disebut
“Bayan Beleq” di mana hampir semua aktifitas politik, sosial budaya yang penting diselenggarakan. Sebagian besar institusi-institusi penting seperti masjid kuno Wetu Telu, makam leluhur, kantor desa, puskesmas, sekolah dasar, dan madrasah berada di Bayan Beleq.
Pemukiman di desa itu sangat padat dan dibagi menjadi beberapa lingkungan yang masing-masing di kelilingi sawah.
Golongan ningrat tinggal di komplek khusus yang terpisah dari orang awam. Baik golongaan ningrat maupun orang biasa mengorganisir diri menurut garis keturunan leluhur dan hidup di lingkungan terpisah. Tiap-tiap kelompok hidup dalam sebuah lingkungan komunitas khusus yang terikat kepada dan memiliki satu silsilah leluhur. Sehubungan dengan silsilah itu pemukiman Bayan Timur, Bayan Barat, Karangsalah dan Karangbajo adalah yang paling tua. Selain Karangbajo, mereka yang menetap di Bayan Timur, Bayan
Barat dan Karangsalah adalah para aristokrat (perwangsa).
Dari ketiga kelompok bangsawan itu, para bangsawan dari Bayan Timur menduduki status sosial tertinggi. Sementara kaum aristokrat yang bermukim di Bayan Barat dan Karang Salah dianggap lebih rendah kedudukannya dari para bangsawan Bayan Timur. Seorang pemangku [pemimpin tradisional] di Bayan Timur, Bayan Barat dan Karangsalah hidup bersama keluarga intinya dalam kampunng.
4. Bayan Wilayah Konsentrasi Wetu Telu
Saat ini cukup mudah untuk menjangkau desa Bayan dengan angkutan umum, karena sudah dibangun jalan aspal hotmik yang menghubungkan Bayan dengan Mataram.
Perjalanan dari Mataram menuju Bayan menempuh jarak 80 km ke arah utara. Jika ditempuh dengan bus dari terminal Mandalika perjalanan itu memakan waktu 4 sampai 5 jam dan ongkosnya sekitar Rp. 30.000,. Sementara jika ditempuh dengan sepeda motor atau mobil, maka waktu yang dibutuhkan lebih pendek yakni kurang dari 3 jam.
Jika berangkat dari terminal Mandalika di Sweta Mataram, maka akan melewati secara berurutan kecamatan Gunung Sari, Tanjung, dan Gangga. Kecamatan Tanjung dan Gangga adalah tetangga terdekat kecamatan Bayan.
Dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam untuk mencapai Bayan dari Tanjung, sedangkan antara Gangga dan Bayan memakan waktu 1,5 jam. Sebelum memasuki desa Bayan ada beberapa desa tetangga yang dilewati yaitu Selengan, Sukadana, Anyar, dan Akar-Akar.
Bus berhenti di terminal Anyar, adalah satu dari 6 desa yang di bawah pemerintahan kecamatan Bayan. Sebagian besar instansi pemerintah tingkat kecamatan dan kantor layanan umum terletak di Anyar, seperti Kantor Kecamatan, Kantor Urusan Agama, Kepolisian Sektor, Komando
Rayon Militer, Kantor Pendidikan dan Kebudayaan, serta Puskesmas Bayan. Sebuah pasar hanya berlaku pada hari Minggu di sekitar terminal bus Anyar.
Di pemberhentian bus Anyar, banyak tukang ojek menunggu penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke Bayan atau tempat wisata di Senaru. Perjalanan dengan sepeda motor dari Anyar ke Bayan menempuh jarak 5 km.
Beberapa wilayah Bayan ditempati oleh orang Sasak Waktu Lima yang datang dari wilayah Lombok lainnya.
Perpindahan mereka terutama karena alasan ekonomi dan sebagian proyek transmigrasi lokal pemerintah daerah.
Tempat tinggal utama para migran Waktu Lima ini di Bayan berada di desa Anyar; Lokok Aur, dusun Tumpangsari, dasan Ancak, dasan Lokok Klungkung, dan dasan Omak Segoar.
Sebagian besar mereka berasal dari kecamatan Aikmel dan Sambelia di Lombok Timur serta kecamatan Banyumuleg dan Kediri di Lombok Barat.
Pendatang Waktu Lima pertama yang datang untuk berdagang di Bayan pada permulaan abad ke-XX berasal dari Lendang Mamben, kecamatan Aikmel Lombok Timur. Mereka menjual bahan makanan mentah, seperti ikan asin, gula, dan garam. Mereka juga berjualan, kuali tanah liat, keranjang bambu, bahan pakaian, dan sarung. Untuk membeli bahan-bahan tersebut, penduduk asli Bayan membayar dengan hasil bumi mereka, seperti beras, ketan, jagung, ubi, kacang-kacangan, ayam dan ternak unggas lainnya.
Para pendatang Waktu Lima mempertegas identitas keislaman mereka dengan mendirikan surau dan masjid.
Di samping itu juga mereka mendirikan madrasah. Mereka mengembangkan gaya hidup dan aktivitas sosial dengan menonjolkan berbagai aktifitas keagamaan, pendidikan dan kebudayaan mereka sendiri. Mereka juga memisahkan diri dari berbagai aktivitas kebudayaan dan ritual orang
Bayan asli. Masjid dan madrasah tetap menjadi institusi-institusi utama dan memegang peranan penting dalam mempertahankan identitas sosio-kultural pendatang Waktu Lima di Bayan.