• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Realisasi Layanan

7.3 Desain dan Pengembangan Kurikulum

• Ketua Jurusan harus mempertimbangkan desain dan pengembangan kurikulum untuk keuntungan mahasiswa.

• Kegiatan pengendalian desain harus sesuai dengan maksud dan durasi layanan pendidikan.

• Prosedur-prosedur harus memastikan bahwa materi instruksi yang sesuai sama dengan persyaratan instruksi.

• Peralatan kalibrasi dapat diperlukan untuk beberapa maksud instruksi.

• Asesmen kebutuhan harus mencakup keefektifan sistem dan capaian mahasiswa.

• Asesmen kebutuhan harus mencakup persyaratan kinerja potensial dan actual untuk menentukan:

o Bagaimana instruksi dapat membantu mahasiswa menjadi kompeten;

o Ukuran keefektifan instruksi tertentu ;

o Keahlian apa yang sesuai dengan persyaratan kurikulum.

• Asesmen tersebut harus menyediakan informasi yang dapat digunakan dalam proses tinjauan instruksi. Apabila validasi eksperimen dari instruksi tidak diijinkan, proses peer review dapat diadopsi.

• Laporan analisis kebutuhan harus menyediakan masukan untuk proses desain instruksi, menggambarkan hasil asesmen kebutuhan dan menyatakan tujuan akhir untuk desain.

• Proses pengembangan harus didokumentasikan dan digunakan oleh pengembang.

Terdapat pernyataan proses tertentu masing-masing media penyampaian, atau

36

proses generik untuk semua media. Proses-proses ini meliputi urutan tahap proses pengembangan; personel yang terlibat, proses tinjauan, dan kriteria terkait.

7.3.2 Masukan desain dan Pengembangan

Jurusan harus mengidentifikasi masukan untuk desain kurikulum dan rekaman masukan tersebut.

7.3.3 Output desain dan pengembangan

Output desain dan pengembangan harus (paling tidak) mencakup keahlian dan pengetahuan yang dipersyaratkan, strategi instruksi dan asesmen kinerja.

7.3.4 Tinjauan desain dan pengembangan

Peserta pada setiap tahap identifikasi harus meninjau hasil desain dan pengembangan terhadap persyaratan yang diacu (misalnya, profil profesi, sertifikasi kompetensi). Catatan untuk hal-hal yang kompleks dapat dididiskusikan dalam pertemuan formal.

7.3.5 Verifikasi desain dan pengembangan

Verifikasi desain harus dilakukan dalam satu atau beberapa tahap sesuai dengan rencana desain dan pengembangan. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan secara internal oleh setiap spesialis yang tidak berpartisipasi dalam tinjauan independen. Tahap keluaran desain dan pengembangan sebaiknya sesuai dengan spesifikasi masukan desain dan pengembangan.

Rekaman keluaran verifikasi dan setiap tindakan yang diperlukan sebaiknya dipelihara.

7.3.6 Validasi desain dan pengembangan

Proses ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa karakteristik layanan pendidikan yang direncanakan terpenuhi oleh desain kurikulum dan silabus yang dihasilkan. Secara umum, validasi harus dilakukan pada tahap desain akhir. Akreditasi dan sertifikasi merupakan metode validasi yang diterima. Rekaman keluaran dan tindakan validasi harus dipelihara.

7.3.7 Pengendalian perubahan desain dan kurikulum

Dalam lingkungan pendidikan pesatnya perkembangan iptek dijadikan arahan tinjauan kurikulum dan silabus secara periodik, dan menghasilkan revisi/perubahan. Perubahan tersebut sebaiknya diidentifikasi, didokumentasikan, disahkan dan dikomunikasikan. Revisi setiap subyek sebaiknya mencakup evaluasi efektif pada keseluruhan kurikulum dan rekaman harus dipelihara.

Pengendalian perubahan desain dan kurikulum diatur dalam SOP Perancangan dan Pengembangan Kurikulum (SOP No UN10/F10/12/99/HK.01.02.a/026), sedangkan SOP Penyusunan dan monitoring materi kuliah tercantum dalam SOP No UN10/F10/12/99/HK.01.02.a/025.

7.3.8 Tahapan Penyusunan Kurikulum

Jurusan Keteknikan Pertanian membuat tahapan penyusunan kurikulum didasarkan pada Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Ristek DIKTI). Selain itu juga berdasarkan pada kompetensi pada masing masing program studi, Program Studi Teknik Pertanian, Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Studi Teknik Bioproses. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyusun kurikulum adalah dengan melakukan analisis SWOT dan Tracer Study serta Labor Market Signal seperti pada Gambar 12.

37

Gambar 12. Tahapan Penyusunan Kurikulum

Tahapan penyusunan kurikulum meliputi : 1. Penetapan profil lulusan

Profil adalah peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh lulusan program studi di masyarakat/dunia kerja. Lulusan dalam hal ini adalah pelanggan dari jasa pendidikan. Profil lulusan sesuai dengan outcome pendidikan yang akan dituju.

Dengan adanya penetapan profil lulusan, maka Jurusan Keteknikan Pertanian menjamin kepada pelanggan untuk mendapatkan outcome sesuai dengan yang diharapkan.

2. Perumusan kompetensi lulusan

Setelah menentukan profil lulusan, selanjutnya dilakukan kompetensi pelanggan jasa layanan pendidikan sebagai output jasa layanan. Penentuan kompetensi lulusan (pelanggan jasa layanan) ditentukan oleh Universitas, Jurusan dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan. Kompetensi lulusan terbagi atas tiga kategori yaitu kompetensi utama (kompetensi penciri lulusan Jurusan), kompetensi pendukung (kompetensi pendukung utama seperti ciri keunggulan Jurusan), dan kompetensi lainnya (ciri lulusan serta pemberian bekal lulusan dalam segala bidang).

3. Pengkajian kandungan elemen kompetensi berdasarkan program studi

Setelah kompetensi lulusan dirumuskan, kemudian dilakukan pengkajian kandungan elemen kompetensi, yaitu (a) landasan kepribadian, (b) penguasaan ilmu dan ketrampilan, (c) kemampuan berkarya, sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian, (d) berdasarkan ilmu dan ketrampilan yang dikuasai, dan (e) pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarat sesuai pilihan keahlian dalam berkarya.

4. Pemilihan bahan kajian sesuai dengan program studi

Bahan kajian adalah suatu bangunan ilmu, teknologi atau seni, obyek yang dipelajari, yang menunjukkan ciri cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian atau inti keilmuan suatu Jurusan. Bahan kajian dapat pula merupakan pengetahuan/bidang kajian yang akan dikembangkan, keilmuan yang sangat potensial atau dibutuhkan masyarakat untuk masa datang. Pilihan bahan kajian ini

Analisis SWOT Kemampuan PS (Scientific vision)

Tracer Study Need Assessment

(Market signal)

Profil Lulusan

Kompetensi Lulusan

Bahan kajian

Kedalaman dan Keluasan kajian (sks)

Distribusi kedalam MK Rancangan Pembelajaran

Metode pembelajaran

Tujuan Pendidikan (kompetensi)

Mata kuliah (sks) PS

Bahan Ajar (silabus)

Menyusun struktur kurikulum (distribusi kedalam semester)

38

sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi yang bersangkutan, yang biasanya dapat diambil dari program pengembangan program studi.

5. Perkiraan dan penetapan beban (sks) dan pembentukan mata kuliah.

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK), penetapan sks seharusnya terkait dengan kompetensi yang diharapkan. Perkiraan dan penetapan sks mempertimbangkan beberapa variabel, yaitu: (a) tingkat kemampuan/kompetensi yang ingin dicapai; (b) tingkat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang dipelajari; (c) cara/strategi pembelajaran yang akan diterapkan; (d) dan posisi (letak semester) suatu kegiatan pembelajaran dilakukan; dan (e) perbandingan terhadap keseluruhan beban studi di satu semester.

6. Pembentukan mata kuliah

Pembentukan mata kuliah dilakukan menggunakan peta kaitan bahan kajian dan kompetensi secara simultan di atas.

7. Menyusun struktur kurikulum

Setelah diperoleh perkiraan besarnya sks setiap mata kuliah, maka langkah selanjutnya adalah menyusun mata kuliah tersebut di dalam semester. Penyajian mata kuliah dalam semester ini sering dikenal sebagai struktur kurikulum.