• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desentralisasi Integrasi Wilayah (Desentralized Territorial Integration)

TINJAUAN PUSTAKA

2.3.3. Desentralisasi Integrasi Wilayah (Desentralized Territorial Integration)

Dalam pola integrasi wilayah yang terdesentralisasi, daerah dianggap terdiri dari suatu kumpulan daerah bawahan yang tidak berhubungan begitu erat satu dengan

yang lain, masing-masing dengan struktur kependudukan yang khas. Hal yang dititik beratkan adalah bagaimana ekonomi dimanfaatkan di masing-masing daerah bawahan dan daerah itu sendiri, di mana pembangunan cenderung diukur dalam keswasembadaan yang relatif dari pada jumlah produksi perdagangan.

Pertama-tama daerah tersebut dan daerah-daerah bawahannya disemangatkan dalam produksi berskala kecil untuk pemasaran setempat, yang hanya memiliki pertalian tertentu melalui hirarki kependudukan daerah dan nasional. Investasi untuk pembangunan ditentukan oleh penduduk dari kota dan desa yang ada di daerah tersebut. Perencanaan daerahnya didesentralisasikan dan masukan-masukan popular dan teknis dipadukan, bersifat menyatukan. Artinya, sasaran-sasaran daerah tercapai dengan disatukannya sasaran-sasaran daerah bawahan.

2.4. Aspek Ekonomi Sumber Daya Tanah dalam Pembangunan Perumahan

Sumber daya tanah merupakan sumber daya alam yang sangat penting, karena ketersediaan tanah yang terbatas dan relatif tetap, namun pada sisi lain permintaan akan tanah terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sebagainya, sehingga menyebabkan tanah menjadi langka dan bernilai ekonomi tinggi. Keadaan ini tidak terlepas dari kenyataannya, menurut Sandy (Raharjo,1999) menyatakan bahwa tanah muka bumi adalah tempat pelaksanaan semua kegiatan manusia sekaligus pula menjadi tempat pembatasnya, tanah tidak memberikan kemakmuran, yang dapat memberikan kemakmuran adalah sesuatu yang dibangun di atas tanah

tersebut. Dengan kata lain, nilai ekonomi tanah tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai jenis penggunaannya.

Klasifikasi penggunaan tanah menurut International Geographical Union

(IGU) (Silalahi,1982), antara lain adalah: 1. Perkampungan dan penggarapan lainnya, yang tidak berhubungan dengan bidang-bidang agrarian (pertanian); 2. Kebun (Horticultura), sayur-sayuran dan buah-buahan kecil; 3. Perkebunan dan tanaman besar lainnya; 4. Tanah pertanian; 5. Perumputan yang dipelihara; 6. Perumputan yang tidak dipelihara; 7. Hutan; 8. Tanah rawa dan bencah; 9. Tanah tandus.

Sedangkan Barlowe (1972) mengklasifikasikan penggunaan sumber daya tanah antara lain adalah: 1. Tanah untuk pemukiman (residential lands); 2. Tanah untuk perdagangan, jasa dan industri (commercial and industrial sites); 3. Tanah untuk pertanian tanaman pangan/bercocok tanam (croplands); 4. Tanah untuk perkebunan dan pengembalaan (pasture and grazing lands); 5. Tanah untuk kehutanan (forest land); 6. Tanah untuk pertambangan (mineral lands); 7. Tanah untuk rekreasi (recreation lands); 8. Tanah cadangan untuk keperluan tertentu (sevice area); 9. Tanah tandus dan padang pasir (bareen and waste).

Klasifikasi penggunaan tanah di atas pada dasarnya tidak mutlak karena dalam praktek sering terjadi penggunaan yang tumpang tindih (overlapped), seperti kelompok tanah untuk pertanian tanaman pangan, tanah untuk perkebunan dan pengembalaan dan tanah untuk kehutanan yang juga sering dikategorikan sebagai penggunaan untuk pertanian (agricultural uses) dan sebagainya.

Konsepsi kapasitas penggunaan tanah (land use capacity) berupaya mengkaitkan antara kemampuan tanah dengan kemampuan relatif sebidang tanah untuk menghasilkan nilai lebih atau kepuasan atas biaya-biaya yang dikeluarkan di dalam penggunaan tanah tersebut. Kapasitas penggunaan tanah ini sangat dipengaruhi oleh faktor kualitas tanah dan factor aksesibilitas. Faktor kualitas meliputi kemampuan relatif sumber daya tanah untuk menghasilkan produk tertentu atau kepuasan tertentu. Sedangkan factor aksesibilitas meliputi lokasi sumber daya, posisinya terhadap pasar dan fasilitas transportasi, dalam hal ini pertimbangannya berkaitan dengan biaya, waktu dan jarak.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, pada prinsipnya sumber daya tanah mempunyai beberapa alternatif penggunaan. Pada umumnya para pemilik sumber daya tersebut akan menggunakan tanahnya pada kemungkinan terbaik yang memberikan pendapatan atau kepuasan yang tertinggi. Berkaitan dengan ini, pandangan aspek ekonomi sumber daya tanah yang sering menjadi pembahasan antara lain adalah: 1. Sewa sumber daya tanah (land rent), 2. Lokasi sumber daya tanah (land location), 3. Pajak sumber daya tanah (land tax) (Syihab, 1993).

Pengertian mengenai sewa tanah (land rent) muncul seiring dengan semakin mendesaknya kebutuhan akan tanah dari waktu ke waktu. Mereka yang tidak mempunyai tanah biasanya berusaha menguasai/memiliki tanah untuk berbagai keperluannya, yang antara lain melalui dengan membeli, menyewa atau mengkontraknya. Teori ekonomi klasik mengenai sewa tanah pertama kali diperkenalkan oleh Ricardo pada tahun 1911 yang dikenal dengan Ricardo Rent.

Sewa tanah menurut Ricardo akan berbeda-beda atau bervariasi (gradient) yang disebabkan oleh adanya tingkat kesuburan tanah yang sangat beragam (heterogenitas tanah). Orang cenderung akan mengusahakan tanah yang subur terlebih dahulu dan setelah yang subur digunakan semuanya, maka kemudian orang mulai memanfaatkan tanah yang kurang subur dan seterusnya hingga pada tanah yang tidak subur (tanah marginal). Perbedaan antara hasil produksi tanah yang subur dengan tanah-tanah yang kurang subur tersebut adalah sewanya (rent). Hal inilah yang diterima pemilik tanah yang subur. Namun dalam teori ini faktor aksesibilitas lokasi tidak terlihat (Koestoer, 1997). Artinya, dampak biaya transportasi seiring dengan jarak lokasi terhadap sewa tersebut belum diperhitungkan.

Berbeda dengan teori sewa tanah Ricardo, teori sewa tanah pertanian yang diperkenalkan oleh Von Thunen pada tahun 1826 telah mempertimbangkan faktor aksesibilitas, yaitu melihat hubungan antara lokasi yang berbeda dengan pola penggunaan tanah pertanian (perdesaan) secara sederhana (Syihab, 1993 dan Koestoer, 1997). Pada prinsipnya Von Thunen membagi penggunaan tanah ke dalam beberapa penggunaan, mulai dari daerah dekat yang subur sampai daerah di luar yang tandus. Dengan model concentric ring, lokasi tanah tanaman dengan produktivitas tertinggi akan menempati tempat yang paling dekat dengan pusat kota. Artinya, distribusi pola penggunaan tanah akan sangat dipengaruhi faktor transportasi dan biaya produksinya.

Berdasarkan persebaran penggunaan tanah di atas akan tercipta tingkatan-tingkatan sewa lokasi (location rent) atau manfaat ekonomi (economic utility), karena

nilai jual hasil produksi tertentu di pasar meningkat seiring dengan peningkatan biaya transportasi, sewa lokasi dan penurunan jarak. Hal ini berarti bahwa semakin ke pusat kota maka sewa tanah/lokasi semakin tinggi yang disebabkan penurunan biaya transportasi dan sebaliknya semakin jauh dari pusat kota maka sewa tanah/lokasi semakin rendah karena adanya kenaikan biaya transportasi yang harus ditanggung oleh petani.

Teori ekonomi neo-klasik yang diperkenalkan Alonso pada tahun 1964 banyak diilhami ole ide-ide Von Thunen. Meskipun terdapat sedikit perbedaan dengan model Von Thunen, yakni selain menekankan masalah daerah pedesaan, namun juga berkaitan dengan wilayah perkotaan (Koestoer, 1997). Model Alonso menekankan bahwa penggunaan tanah pertanian di pedesaan sama dengan penggunaan tanah di perkotaan. Artinya, suatu tanah mempunyai sewa tertentu jika pemakainya rela membayar sejumlah tertentu untuk suatu lokai tertentu, sehingga penggunaan tanah di perkotaan berhubungan dengan perbedaan sewa tanah yang dimililkinya.

Dalam menjelaskan konsepnya, Alonso memperkenalkan kurva penawaran sewa (bid rent curve). Bid rent curve (BRC) untuk perkotaan diperkenalkan tiga jenis penggunaan tanah, yaitu (1) retailing, (2) industrial, (3) residential. BRC retailing mempunyai kurva paling curam, yang disebabkan akan kebutuhannya terhadap aksesibilitas tertinggi. BRC industrial mempunyai kurva lebih landai dibandingkan retailing, yang dikarenakan kebutuhannya terhadap aksesibilitas tidak sebesar pada retailing. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa sewa tanah akan menurun dengan

meningkatnya jarak dari titik lokasi tertentu yang mempunyai aksesibilitas maksimal ke pusat kota, hal ini dikompensasikan oleh peningkatan biaya transportasi. Lokasi yang berdekatan dengan pusat kota memiliki aktivitas dengan intensitas-intensitas yang padat, dan intensitas kegiatan tersebut semakin menurun dengan semakin dekatnya lokasi tersebut terhadap pinggiran kota.

Sejalan dengan konsep di atas tersebut, menurut pengamatan Alonso bahwa perumahan di kota besar cenderung disusun dalam bentuk lingkaran-lingkaran zones. Oleh karena adanya perubahan teknologi yang di bidang transportasi dan komunikasi, serta peningkatan standar hidup penduduk yang semula tinggal di dekat pusat kota yang padat dan kumuh, telah mendorong terjadinya perpindahan penduduk ke luar kota (Yunus, 1999). Penduduk dengan tingkat pendapatan tinggi akan memilih tempat tinggal jauh dari pusat kota dan sebaliknya yang berpendapatan lebih rendah akan mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan pusat kota. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi penduduk yang berpendapatan tinggi mempunyai elastisitas yang lebih tinggi terhadap permintaan perumahan baru dengan luas tanah yang lebih besar dalam struktur ruang modern.

Kecenderungan di atas oleh para pengusaha pengembang juga dimanfaatkan dalam mengantisipasi kebutuhan perumahan penduduk yang berpendapatan tinggi tersebut. Lokasi yang jauh dari pusat (pinggiran) perkotaan dengan harga tanah yang relatif lebih murah, sehingga memungkinkan para pengembang tersebut membeli tanah yang lebih luas. Dengan kata lain, bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, maka diharapkan akan meningkatkan pula

permintaan terhadap perumahan masyarakat. Namun hal tersebut tentu akan semakin mendesak keberadaan tanah-tanah pertanian dan masyarakat petani yang berada di pinggiran perkotaan. Persoalan yang sangat penting dalam hal ini adalah bagaimana caranya pemerintah (Pemda) membuat suatu kebijakan yang mengatur dan mengendalikan keseimbangan antara kebutuhan tanah pembangunan perumahan masyarakat tersebut seiring dengan perkembangan penduduknya, sehingga konflik yang ditimbulkan dari kebijakan pembangunan itu dapat ditekan seminimal mungkin.

2.5. Pembangunan Perumahan dan Lingkungan

Pembangunan perumahan dan pemukiman adalah sebagai suatu proses pekerjaan yang dilakukan secara sadar dalam rangka menciptakan hunian yang sehat, bersih, teratur dan nyaman.

Perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang dapat berfungsi sebagai sarana produktif keluarga merupakan titik strategi dalam pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya, karena dengan pemenuhan kebutuhan perumahan akan mempermudah pemenuhan kebutuhan dasar lainnya sehingga dapat mempercepat pembangunan keluarga yang pada gilirannya mempercepat pembangunan bangsa. Miraza (2005) menyatakan lingkungan fisik dan peradaban masyarakat akan berubah, mengikuti perubahan yang terjadi, dampak dari pembangunan serta pengembangan.

Perumahan bukan sekedar sarana hunian belaka. Rumah memiliki hubungan erat secara struktural atas suatu kawasan tertentu. Keterikatan rumah dengan lahan

tempat rumah tersebut didirikan menjadi sebuah kondisl yang mutlak terjadi. Rumah yang ideal adalah rumah yang memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan serta menempati lingkungan yang sehat. Berpijak dari konteks kawasan maka analisis perumahan akan selalu diwarnai oleh perdebatan tentang bagaimana tata ruang, pemeliharaan sanitasi lingkungan dan penyediaan fasilitas umum dapat disinkronkan. Keberadaan perumahan tidak terpisah dari suatu kawasan atau wilayah. Di samping itu prasyarat perumahan harus memenuhi tuntutan kesehatan dan penataan yang baik (Sulistiyani, 2002).

Keberadaan perumahan melekat pada suatu kawasan, berarti secara mutlak rumah berdiri membutuhkan lahan. Guna terpenuhi persyaratan perumahan yang memadai dan lingkungan yang baik maka sebuah rumah memerlukan lahan yang cukup. Sementara itu penyediaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan semakin sempit. Khususnya di perkotaan permasalahan serupa menjadi semakin menonjol dari waktu ke waktu seiring dengan kebutuhan pertumbuhan perkotaan itu sendiri.

Pertumbuhan perkotaan yang ditandai dengan bertambahnya keperluan fasilitas kota baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan keanekaragamannya juga harus ditopang dengan lahan yang cukup luas. Pada saat kedua permasalahan ini muncul, yaitu problem lahan perumahan dan lahan untuk sarana dan prasarana kota ini di permukaan secara serentak maka akan menjadi semakin kritis.

Bagaimanapun kedua kebutuhan yang saling berseberangan ini memiliki modus yang sarna, dengan demikian lahan yang dibutuhkan menjadi semakin luas.

Pertumbuhan kota yang pesat membutuhkan lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pusat-pusat kegiatan kota, seperti prasarana jalan, pusat-pusat industri, mall, supermarket, jaringan transportasi, terminal, pasar, hotel, kawasan pusat pemerintahan dan masih banyak lagi. Fenomena ini semakin memperjelas apa yang disampaikan oleh Prawirosumantri dalam Sulistiyani (2002), "perumahan mempunyai hubungan dengan perkembangan kota". Sehubungan dengan teori pertumbuhan kota dan pengaruh yang ditimbulkannya dapat diwakili oleh terjadinya perubahan-perubahan morpologis yang telah melanda sudut-sudut kota, bahkan menyita hampir semua tempat strategis untuk dijadikan pusat-pusat kegiatan kota.

Perubahan morpologis yang dimaksudkan adalah terjadinya pergeseran fungsi suatu lahan yang semula berupa tanah lapang, persawahan, pekarangan atau bahkan kawasan perumahan kemudian digusur dan dipergunakan untuk mendirikan gedung-gedung seperti kawasan wisata, perusahaan, pusat pembelanjaan dll. "Jakarta, misalnya dalam dekade terakhir ini terpaksa harus merelakan lenyapnya sekitar 30.000 ha tanah pertanian dan perkebunannya yang sangat berbahaya, ditelan oleh pembangunan" (Siahaan, 1986).

Penggusuran pemukiman penduduk bahkan sering dilakukan untuk sekedar memenuhi tuntutan pembangunan pusat-pusat kegiatan. Banyak rumah tempat tinggal berubah fungsi menjadi perkantoran dan atau pusat-pusat pembelanjaan, ruang-ruang terbuka, bahkan kawasan yang hijau terpaksa menciut lantaran didesak oleh gedung-gedung komersial. Memang sulit untuk dielakkan terjadinya pembangunan-pembangunan prasarana dan sarana kota untuk memenuhi kebutuhan kegiatan kota,

meskipun di balik kepentingan pembangunan fisik kota tersebut, ada kepentingan masyarakat yang jauh lebih urgen telah dikorbankan.

Resiko yang muncul akibat pembangunan fisik kota adalah anggota masyarakat kehilangan tempat tinggal, sementara ganti rugi yang diberikan baik oleh pemerintah atau pihak swasta yang berkompeten, seringkali tidak memadai untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru. Banyak kasus yang terjadi berupa pemaksaan kepada masyarakat untuk menyerahkan tempat tinggal dan lahan satu-satunya yang dimiliki untuk dijadikan sebagai arena proyek, yang sesungguhnya belum tentu manfaatnya bagi masyarakat. Bahkan di kampung-kampung atau kawasan yang tertimpa proyek, acapkali terjadi demo menuntut ganti rugi yang memadai. Fenomena ini memperlihatkan, ada perbenturan kepentingan antara mempertahankan lahan perkampungan di tengah-tengah kota atau membiarkan pertumbuhan kota dengan sagala konsekuensinya termasuk mengorbankan lahan pemukiman penduduk untuk kepentingan pembangunan pusat-pusat kota. Sementara pembangunan fisik kota yang pesat akan memunculkan semakin menciutnya kawasan pemukiman, di samping menguatnya sektor industri, bisnis yang justeru mengakibatkan polusi dan degradasi lahan akibat pencemaran.

Kondisi-kondisi tersebut bagaimanapun secara tidak langsung telah menurunkan kualitas hidup, yaitu menghilangkan satu komponen kebutuhan dasar masyarakat berupa tempat tinggal yang layak. Dengan demikian pembangunan perumahan di perkotaan terlebih lebih di kota-kota besar menjadi permasalahan yang semakin rumit dan dilematis, karena berhadapan dengan petumbuhan kota itu sendiri.

Kota-kota di negera sedang berkembang menghadapi problem serupa (keterbatasan lahan untuk pemukiman), bahkan permasalahannya semakin meluas dengan adanya faktor lain. Problem lainnya berupa perumahan yang tidak layak huni, lingkungan yang telah terdegradasi akibat pengolahan limbah yang kurang sempuma, munculnya rumah-rumah liar (squatter), dan kawasan kumuh yang semakin meluas. Perumahan yang tidak layak huni bermunculan di mana-mana, merupakan pemandangan yang kurang sedap, di tengah kota yang gemerlapan, sekaligus merupakan potret ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Hal ini disebabkan oleh beberapa masalah, pertama faktor masyarakat sendiri yang tidak mampu, karena penghasilan rendah atau marginal, sehingga tidak mampu menjangkau harga rumah layak yang semakin mahal dari waktu ke waktu. Kedua faktor keterbatasan penyediaan rumah yang layak dengan denganharga yang murah.

2.6. Ekonomi Masyarakat

Ciri yang umum dinegara yang sedang berkembang ditandai dengan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat, walaupun diantara negara berkembang itu ada yang mempunyai pendapatan perkapita sama dengan negara-negara maju. Masalah pokok yang dihadapi oleh negara-negara berkembang adalah kemiskinan yang menimpa sebagian besar penduduknya. Usaha untuk mengatasinya adalah dengan melaksanakan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan tarap hidup masyarakat atau sebagai suatu proses yang

menyebabkan pendapatan perkapita masyarakat meningkat dalam jangka panjang (Sukirno, 1989).

Usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita diperlukan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi hingga dapat melampaui pertumbuhan penduduk yang terjadi dalam periode yang sama. Akan tetapi pembangunan ekonomi yang berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi melahirkan masalah merawankan dalam pemerataan ekonomi dan sosial yang bermula dari penemuan Kuznets, dkk (Hasibuan, 1993). Hasil penemuan mereka, membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat selalu dibarengi kenaikan dalam ketimpangan pembagian pendapatan (ketimpangan relatif). Hal ini juga sejalan dengan pendapat Sumitro (Mahlil, 2001) bahwa terdapat kecenderungan seakan-akan pola dan sifat pertumbuhan justru menambah kepincangan pembagian pendapatan.

Alasan yang dikemukakan: pertama, karena untuk mencapai laju pertumbuhan yang tinggi maka sektor modern pasti mendapat tempat karena dapat meningkatkan pertumbuhan yang cepat. Hal ini menyebabkan tidak meratanya pembagian kesempatan kerja. Kedua, mengejar pertumbuhan sama artinya mengutamakan daerah yang sebelumnya sudah maju, sehingga daerah yang sudah maju akan bertambah maju dan daerah terbelakang akan semakin tertinggal.

Di dalam banyak literatur mengenai teori distribusi pendapatan dapat ditemukan beberapa pendekatan untuk pengukurannya antara lain: pertama, distribusi pendapatan fungsional atau distribusi faktor yang lazim digunakan oleh ahli ekonomi yang mencoba menerangkan pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing

faktor. Kedua, distribusi pendapatan personal (personal income distribution) yang merupakan distribusi pendapatan perorangan yang menyangkut segi manusia sehingga perorangan atau rumah tangga dan total pendapatan yang diterima (Todaro, 1998).

Pada dasarnya kedua pendekatan inilah yang digunakan untuk menganalisis dan menilai distribusi pendapatan. Distribusi pendapatan fungsional yang berasal dari teori produktivitas marginal, atau yang dikenal dengan distribusi balas jasa dalam teori ekonomi mikro. Perangkat analisis dari distribusi fungsional adalah fungsi produksi serta alokasi faktor-faktor produksi yang diikutsertakan dalam fungsi produksi. Pendekatan ini jarang dipakai karena teori yang mendasarinya memiliki hubungan antara balas jasa input yang dipergunakan dengan output yang dihasilkan didalam suatu proses produksi spesifik.

Pendekatan yang lazim dipergunakan adalah pendekatan distribusi personal atau rumah tangga. Pendekatan ini dilakukan dengan mengelompokkan perorangan kedalam kelompok (deciles atau quintiles) yang akan menggambarkan pola pembagian pendapatan di dalam suatu kelompok masyarakat. Kemudian menetapkan proporsi yang diterimanya oleh masing-masing kelompok dari pendapatan total.

2.7. Pengembangan Wilayah

Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan menambah, meningkatkan, memperbaiki atau memperluas. Konsep pengembangan wilayah di Indonesia lahir dari suatu proses iteratif yang menggabungkan dasar-dasar

pemahaman teoritis dengan pengalaman-pengalaman praktis sebagai bentuk penerapannya yang bersifat dinamis (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).

Miraza (2005) di dalam sebuah wilayah terdapat berbagai unsur pembangunan yang dapat digerakkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Unsur dimaksud seperti natural resources, human resources, infrastructure, technology dan culture.

Siagian (1982), pengembangan wilayah adalah merupakan suatu rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang terencana dan dilaksanakan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju modernisasi dalam rangka pembinaan bangsa. Sandy (1992) pengembangan wilayah pada hakekatnya adalah pelaksanaan pembangunan nasional di suatu wilayah yang disesuaikan dengan kemampuan fisik dan sosial wilayah tersebut serta tetap mentaati peraturan perundangan yang berlaku.

Hadisaroso (1993), mengemukakan pengembangan wilayah merupakan suatu tindakan mengembangkan wilayah atau membangun daerah/kawasan dalam rangka usaha memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat. Lebih lanjut pengembangan wilayah menurut Soegijoko (1997) merupakan upaya pemerataan pembangunan dengan mengembangkan wilayah-wilayah tertentu melalui berbagai kegiatan sektoral secara terpadu, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah itu secara efektif dan efisien serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Sirojuzilam (2005), pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti peningkatan nilai manfaat wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu dan

mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata banyak sarana/prasarana, barang atau jasa yang tersedia dan kegiatan usaha-usaha masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis, intensitas, pelayanan maupun kualitasnya.

Mulyanto (2008) pengembangan wilayah yaitu setiap tindakan pemerintah yang akan dilakukan bersama-sama dengan para pelakunya dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan yang menguntungkan bagi wilayah itu sendiri maupun bagi kesatuan administratif di mana wilayah itu menjadi bagiannya, dalam hal ini Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada umumnya pengembangan wilayah dapat dikelompokkan menjadi usaha-usaha mencapai tujuan bagi kepentingan-kepentingan di dalam kerangka azas:

a. Sosial

Usaha-usaha mencapai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan peningkatan kualitas hidup serta peningkatan kesejahteraan individu, keluarga, dan seluruh masyarakat di dalam wilayah itu diantaranya dengan mengurangi pengangguran dan menyediakan lapangan kerja serta menyediakan prasarana-prasarana kehidupan yang baik seperti pemukiman, papan, fasilitas transportasi, kesehatan, sanitasi, air minum dan lain-lainnya.

b. Ekonomi

Usaha-usaha mempetahankan dan memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang memadai untuk mempertahankan kesinambungan dan perbaikan

kondisi-kondisi ekonomis yang baik bagi kehidupan dan memungkinkan pertumbuhan kearah yang lebih baik.

c. Wawasan Lingkungan

Pencegahan kerusakan dan pelestarian terhadap kesetimbangan lingkungan. Aktivitas sekecil apapun dari manusia yang mengambil lingkungan dari, atau memanfaatkan memanfaatkan potensi alam, sedikit banyak akan mempengaruhi kesetimbangannnya, yang apabila tidak diwaspadai dan dilakukan penyesuaian terhadap dampak-dampak yang terjadi akan menimbulkan kerugian bagi manusia, khususnya akibat dampak yang dapat bersifat tak terubah lagi (irreversible

change). Untuk mencegah hal-hal ini maka di dalam melakukan pengembangan

wilayah, program-programnya harus berwawasan lingkungan dengan tujuan: mencegah kerusakan, menjaga kesetimbangan dan mempertahankan kelestaian alam,

2.8. Penelitian Sebelumnya

Adapun penelitian yang telah dilakukan mengenai pembangunan perumahan, pendapatan dan pengembagan wilayah sebelumnya antara lain:

1. Tarigan (2001) “Pengaruh Pembangunan Perumnas III Simalingkar terhadap Sosial Ekonomi di Daerah Sekitarnya” dengan pendekatan studi dilakukan dengan melakukan analisis desktiptif dan uji t, menyimpulkan bahwa

Dokumen terkait