BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Wawancara
Wawancara dilaksanakan kepada guru yang menjabat sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, penanggung jawab program RSBI, pengajar bidang studi Fisika, dan siswa-siswa kelas X SMA Negeri 3 Surakarta.
a. Analisis Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala
Sekolah Bagian Kurikulum, dan Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta
Analisis hasil wawancara untuk hal-hal yang berkaitan dengan pokok permasalahan penelitian adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan Proses Pembelajaran di SMA Negeri 3 Surakarta pada
Program RSBI
a) Pemahaman Konsep RSBI
Pemahaman mengenai konsep RSBI merupakan salah satu bekal penting dalam menyelenggarakan proses pembelajaran di SMA Negeri 3 Surakarta pada program RSBI. Bapak Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 3 Surakarta mengungkapkan bahwa RSBI merupakan program yang sah dan resmi yang diberlakukan di Indonesia minimal 1 sekolah berstandar internasional baik pada jenjang pendidikan dasar maupun pada jenjang pendidikan menengah di tingkat kabupaten/kota. RSBI merupakan sebuah sekolah yang
dikondisikan dengan nilai tambahnya yaitu faktor “X” selain harus
commit to user
Sedangkan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bagian Kurikulum mengungkapkan bahwa RSBI adalah sekolah yang memiliki nilai lebih dari sekolah reguler biasa, yaitu dalam pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selain berbasis ICT dan penerapan bilingual, juga disisipi kandungan nilai dan moral seperti religi, kejujuran, kerja keras, dan akhlak mulia lainnya. Hal ini bertujuan untuk membentuk kepribadian siswa tidak hanya dalam prestasi akademis, tapi juga dalam bidang non-akademis serta berakhlak mulia sehingga memiliki daya saing kuat baik nasional maupun internasional.
Lain halnya dengan yang diungkapkan oleh Penanggung Jawab Program RSBI, bahwa RSBI adalah suatu bentuk pelayanan minimal yang ditingkatkan (sedikit lebih dari Sekolah Standar Nasional (SSN)) dengan pola pembelajaran yang lebih intens dengan pembelajaran yang bilingual dan referensi yang bilingual pula untuk mata pelajaran IPA dan IPS kecuali mata pelajaran bahasa Indonesia. b) Visi dan Misi SMA Negeri 3 Surakarta
Visi dan Misi SMA Negeri 3 Surakarta beserta tujuannya dapat dilihat dalam Lampiran 14. Berkaitan dengan visi misi sekolah, Kepsek dan Wakasek Bagian Kurikulum serta Penanggung Jawab Program RSBI menyatakan hal yang serupa bahwa dalam melaksanakan program RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta, sekolah tentu saja berpedoman pada visi dan misi serta tujuan SMA Negeri 3 Surakarta. Ketiga narasumber juga mengungkapkan bahwa atas dasar visi dan misi sekolah sebagai sekolah RSBI, SMA Negeri 3 Surakarta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak baik dengan beberapa sekolah menengah baik tingkat SMP maupun SMA, beberapa universitas di Indonesia, bahkan menjalin hubungan kerjasama dalam bentuk sister school dengan negara Turki.
commit to user
Mengenai Kurikulum yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Surakarta, ketiga narasumber memiliki pendapat yang sama bahwa kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 3 Surakarta masih KTSP dengan tambahan berupa adopsi dan adaptasi dari Kurikulum Cambridge.
Kepsek SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa adopsi dan adaptasi dari Kurikulum Cambridge merupakan salah satu
yang menjadi faktor “X” dalam program RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta. Beliau menambahkan bahwa SMA Negeri 3 Surakarta juga menerapkan take and gift, dalam arti jika di SMA Negeri 3 Surakarta merasa ada salah satu kegiatan atau program yang dilaksanakan di sister school bagus dan cocok untuk diterapkan di SMA Negeri 3 Surakarta dimana di SMA Negeri 3 Surakarta belum ada, maka kegiatan atau program tersebut dapat diadopsi oleh SMA Negeri 3 Surakarta dan begitu juga sebaliknya. Namun, beliau menjelaskan bahwa SMA Negeri 3 Surakarta lebih mementingkan proses pembelajaran yang lebih bersifat internal dibandingkan eksternalnya. Hal ini didasarkan atas minat dari siswa yang ingin belajar ke luar negeri hanya kurang lebih 5 % jauh lebih sedikit dengan siswa yang ingin melanjutkan studinya di dalam negeri yang presentasenya mencapai 95%. Oleh karena itu, untuk substansi pelajaran di kelas RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta hampir sama dengan di sekolah standar nasional (SSN), karena sebenarnya kurikulum dan proses pembelajaran di Indonesia umumnya, dan SMA Negeri 3 Surakarta sendiri khususnya tidak kalah dengan negara lain.
Kepsek, Wakasek Kurikulum, dan Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta juga menambahkan bahwa
faktor “X” lainnya pada program RSBI dalam pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 3 Surakarta, tercermin pada penggunaan bahasa Inggris minimal 20% dan berbasis ICT. Wakasek Bagian Kurikulum SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa SMA Negeri 3
commit to user
Surakarta masih mengikuti Ujian Nasional (UN) yang standar soalnya sama dengan sekolah nasional, akan tetapi untuk ujian semester dan mid semester dibuat sendiri oleh sekolah dan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada tingkat soal kabupaten. Selain itu sekolah
juga belum melaksanakan Satuan Kredit Semester (SKS) dan moving
class.
Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa siswa RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta juga diberikan mata pelajaran bahasa Jerman yang wajib untuk kelas XI dan XII IPA, kemudian bahasa Jepang untuk kelas XI IPS dan XII IPS
dan bahasa Mandarin untuk kelas X. Selain itu faktor “X” juga
tercermin pada pengembangan beberapa budaya di antaranya adalah budaya disiplin, budaya berprestasi, budaya berwawasan global yang menjadi ciri-ciri negara maju. Hal ini diwujudkan dalam
penyelenggaraan Jambore Sains, yaitu mengirim anak-anak
berprestasi ke luar negeri untuk mengikuti seminar-seminar maupun diskusi internasional. Nantinya, diharapkan muncul jiwa atau budaya-budaya yang dicoba untuk kembangkan di sekolah ini dari siswa yang dikirim tersebut yang kemudian dapat ditularkan ke teman-temannya sehingga secara tidak langsung menjadi media berkembangnya budaya-budaya tersebut.
d) Perangkat Pembelajaran di SMA Negeri 3 Surakarta
Kepsek SMA Negeri 3 Surakarta menjelaskan bahwa dalam hal pengembangan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, KKM, bahan ajar, sumber belajar), sifatnya wajib dilaksanakan oleh SMA Negeri 3 Surakarta setiap tahun ajaran baru dan diadakan pelatihan untuk pengembangan silabus dan RPP bagi guru-guru di sekolah tersebut. Wakasek Bagian Kurikulum SMA Negeri 3 Surakarta menuturkan bahwa sekolah membuat kebijakan untuk lebih menekankan pada pendalaman materi sehingga tingkat pembelajaran kelas RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta ini lebih tinggi. Untuk
commit to user
menyusun perangkat pembelajaran, guru mendapatkan In House
Training (IHT) dari pihak sekolah dengan mengundang training dari berbagai instansi yang ahli di bidangnya. Dan melalui pembekalan ini, selanjutnya guru bisa menerapkannya dengan membuat perangkat pembelajaran untuk guru mengajar nantinya. Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa dalam mengembangkan RPP dan silabus, guru dapat melakukan adopsi dan adaptasi dari kurikulum Cambridge.
e) Kompetensi Guru SMA Negeri 3 Surakarta
Kepsek SMA Negeri 3 Surakarta menyatakan bahwa guru-guru yang bekerja di sekolah ini saat dimulai program RSBI merupakan guru reguler biasa yang mungkin masih belum memenuhi standar guru SBI. Namun, tentunya sudah memenuhi standar guru SNP. Maka sekolah memberikan kebijakan pada seluruh tenaga pendidikan dan kependidikan di SMA Negeri 3 Surakarta untuk mampu memenuhi standar guru SBI. Jadi, selain dituntut 30% guru memperoleh gelar S2 dan menguasai ICT, tenaga pendidikan dan kependidikan di SMA Negeri 3 Surakarta juga dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris di kelas.
Kepsek, Wakasek Bagian Kurikulum, dan Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta mengungkapkan bahwa untuk saat ini, kompetensi guru RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta memang belum terpenuhi seluruhnya dan memang butuh proses untuk mencapai semua itu dan untuk mencapainya. Sekolah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru RSBI di SMA Negeri 3 Surakarta seperti workshop, diklat guru, IHT, seminar-seminar, dan pelatihan-pelatihan lainnya yang mampu meningkatkan kualitas guru dan juga untuk meningkatkan wawasan guru tentang RSBI baik dalam skala regional dan internasional. f) Karakteristik Siswa SMA Negeri 3 Surakarta
commit to user
Kepsek, Wakasek Bagian Kurikulum, dan Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta menerangkan bahwa siswa-siswi SMA Negeri 3 Surakarta sudah memenuhi syarat yang diharapkan oleh pihak sekolah. Karena mereka telah lolos seleksi masuk yang cukup ketat dan tinggi standarnya, dimana tes seleksinya meliputi tes kompetensi, tes kecerdasan, yaitu tes psikomotorik afektif (TPA), tes psikotes, tes wawancara (dalam bahasa Inggris), tes administrasi, tes TIK, dan nilai rapor, dengan nilai rata-rata rapor adalah 7,5, serta nilai UN. Selain memiliki potensi akademik yang bagus, siswa juga memiliki kemampuan bahasa Inggris dan ICT lebih. Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa selain tes-tes tersebut, juga dilaksanakan wawancara dengan orang tua/wali. Karena pihak sekolah menilai bahwa untuk bersekolah di sekolah ini tidak hanya karena prestasi siswa tapi juga diperlukan dukungan sepenuhnya oleh orang tua/wali murid. Untuk melihat seberapa jauh pemahaman orang tua terhadap kemampuan putra-putrinya dan mengenai segala hal yang berkaitan dengan keberminatan putra-putrinya untuk bersekolah di sekolah ini. g) Kelengkapan Sarana dan Prasarana
Kepsek, Wakasek Bagian Kurikulum, dan Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta menuturkan bahwa fasilitas pendukung yang tersedia untuk menunjang proses pembelajaran dalam program RSBI, dapat dikatakan sudah lengkap dan memenuhi dalam mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah ini. Wakasek Bagian Kurikulum SMA Negeri 3 Surakarta menambahkan bahwa di setiap kelas sudah dilengkapi dengan komputer, LCD, speaker, AC, dan CCTV. Sekolah juga sudah memiliki fasilitas internet, perpustakaan yang cukup lengkap, laboratorium yang lengkap untuk IPA dan IPS.
Kepsek SMA Negeri 3 Surakarta juga menambahkan bahwa sekolah juga menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler yang
commit to user
bermanfaat untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi non-akademiknya. Hal ini atas dasar pertimbangan bahwa perlu diberikan keseimbangan perkembangan otak kiri dan otak kanan pada siswa, sehingga selain berorientasi pada kemampuan akademis, diharapakan sekolah juga mampu meningkatkan character building siswa. Wakasek SMA Negeri 3 Surakarta menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakulikuler di SMA Negeri 3 Surakarta antara lain Kerohanian Islam (Rois), Kerohanian Kristen (Rokris), Kerohanian Katolik (Rokat), Pecinta Alam SMA 3 (Palasmaga), Palang Merah Remaja (PMR), Wikarya, Pramuka , Olahraga (Sepakbola, Basket, Voli, Badminton, Taekwondo, dll), Karya Ilmiah Remaja (KIR) (Openlab, Aeromodelling, Robotik), Kesenian Nasional (Kesnas) (Paduan Suara, Karawitan, Tari), Smaga English Club (SMEC) (Debate, Story Telling, News Cast), dan masih banyak lainnya.
2) Kendala-Kendala yang Dihadapi dalam Proses Pembelajaran di
SMA Negeri 3 Surakarta pada Program RSBI
Kepsek SMA Negeri 3 Surakarta mengungkapkan bahwa tentu saja ada berbagai kendala dalam melaksanakan program RSBI ini, namun bagi kami kendala-kendala tersebut bukanlah suatu hal yang berarti. Karena sampai saat ini masih dapat kami atasi segala kendala-kendala tersebut. Justru kendala dalam arti konstruktif yang bersifat membangun proses pembelajaran ke arah lebih baik masih belum dapat terwujudkan. Salah satunya, ide untuk menggabungkan antara kelas RSBI dengan akselerasi yang selama ini terpisah lokasi gedungnya, sehingga proses pembelajarannya dapat dilaksanakan di satu gedung sekolah saja. Oleh karena itu, pihak sekolah terus serta senantiasa bersama-sama berupaya dan bekerja keras untuk merealisasikan SMA Negeri 3 Surakarta yang lebih baik.
Berbeda halnya dengan yang diungkapkan oleh Wakasek Kurikulum SMA Negeri 3 Surakarta. Beliau mengungkapkan bahwa belum ada kendala yang terlalu berarti. Mungkin dalam hal kedisplinan
commit to user
siswa, yang dirasa masih butuh perhatian lebih saat ini. Memang siswa-siswi yang bersekolah di sini adalah anak-anak dengan prestasi bagus. Tetapi ternyata masih terdapat pelanggaran ketertiban dan kedisplinan dari siswa, seperti membuang sampah sembarangan, mencorat-coret fasilitas umum di sekolah, dan beberapa kenakalan anak SMA umumnya. Namun menurut beliau, pelanggaran kedisiplinan oleh siswa ini masih dalam batas wajar dan hanya mendapatkan teguran atau peringatan saja sebagai hukuman. Beliau juga menjelaskan bahwa memang perlu pengawasan ketat dan penegakkan peraturan di sekolah sehingga masalah ini dapat diatasi demi mewujudkan visi nomor satu SMA Negeri 3 Surakarta sebagai sekolah RSBI yaitu “Tertingkatnya akhlak bagi siswa”.
Hal yang berbeda juga diutarakan oleh Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 3 Surakarta bahwa, belum ada kendala yang terlalu berarti. Mungkin dalam hal menyetarakan segenap SDM di SMA Negeri 3 Surakarta ini untuk menjadi level SBI dimana seperti yang telah diketahui, ini menjadi wacana yang terus diperbincangkan di beberapa media. Untuk sekolah inipun juga mengalami masalah yang sama. Jadi kami pun berusaha untuk segera merealisasikan targetan tersebut dengan terus menyemangati dan memberikan dukungan kepada Bapak Ibu guru yang masih belum memenuhi gelar S2.
Selain itu, sekolah ini juga menghadapi masa-masa pergantian pemimpin yang dengan selang waktu yang cukup dekat. Butuh proses adaptasi, sinkronisasi, dan penyatuan visi-misi dalam keberlangsungan penyelenggaraan proses pembelajaran di sekolah ini. Segenap pihak di sekolah ini pun berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk sekolah ini. Sekolah juga mengalami kendala dalam hal pelaksanaan sister school yang mengalami kemacetan di mana salah satu faktor penyebabnya adalah perbedaan bahasa. Ini mengakibatkan
hubungan kerjasama sebagai “sekolah kembar” kurang berjalan
commit to user
b. Analisis Hasil Wawancara Guru Fisika Kelas X RSBI SMA Negeri 3
Surakarta
Analisis hasil wawancara untuk hal-hal yang berkaitan dengan pokok permasalahan penelitian adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan Proses Pembelajaran Fisika Kelas X RSBI di SMA
Negeri 3 Surakarta
a) Pemahaman Konsep RSBI
Guru Fisika I menyatakan bahwa RSBI adalah suatu bentuk sekolah nasional yang didirikan berdasarkan tetapan pemerintah Indonesia yang memiliki taraf internasional sehingga setara dengan sekolah-sekolah di negara maju atau negara anggota OECD.
Pendapat yang hampir serupa juga dinyatakan oleh guru Fisika II, bahwa RSBI adalah suatu bentuk sekolah yang didirikan berdasarkan ketetapan pemerintah dimana kualitas pendidikannya setara dengan sekolah-sekolah di negara maju atau negara anggota OECD. Beliau menambahkan bahwa RSBI adalah sebuah sekolah yang memiliki tujuan untuk menghasilkan lulusan siswa yang setara dengan lulusan di tingkat internasional terutama di negara-negara maju. Hal inipun seperti yang disosialisasikan oleh Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu di tahun 2012 ini. Jadi, memang membutuhkan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga dihasilkan siswa-siswi yang juga berkualitas.
Guru Fisika III mengungkapkan bahwa RSBI adalah sekolah yang didirikan berdasarkan ketetapan pemerintah yang nantinya mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing secara global sehingga lulusannya setara di tingkat internasional. Oleh karena itu, kualitas pendidikan sekolah RSBI baik input, proses, dan output-nya setara dengan kualitas pendidikan tingkat Internasional.
commit to user
Ketiga guru Fisika mengungkapkan hal yang hampir serupa, bahwa dalam penyusunan dan pengembangan perangkat pembelajaran Fisika yaitu silabus, RPP, KKM, bahan ajar, dan sumber belajar Fisika kelas X RSBI, awalnya mendapatkan sosialisasi terlebih dahulu dari para ahli yang disebut dengan IHT (In House Training). Dan untuk terakhir ini, adanya sosialisasi tentang RPP berkarakter. Setelah mendapatkan sosialisasi tersebut, dibuatlah silabus dan RPP dalam forum MGMP masing-masing bidang studi yang kemudian dikonsultasikan pada yang ahli. Setelah mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah, baru akhirnya perangkat pembelajaran tersebut dapat digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Biasanya di awal semester, akan disampaikan rencana pembelajaran selama satu semester di setiap kelas yang diampu.
Ketiga guru Fisika menuturkan bahwa perangkat
pembelajaran dalam hal ini silabus dan RPP Fisika yang digunakan, beberapa sudah terdapat sisipan indikator dari Cambridge. Guru Fisika II menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan karena konsep pembelajaran Fisika di Indonesia umumnya dan yang beliau laksanakan sendiri khususnya, tidak kalah dengan pembelajaran Fisika di luar negeri. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa dan materi yang akan dibelajarkan, membuat beliau belum secara penuh menyisipkan indikator dari Cambridge ke dalam perangkat pembelajaran Fisika dan untuk standar kompetensi dan kompetensi dasar masih sama dengan kurikulum KTSP.
Guru Fisika II juga menambahkan bahwa tidak hanya pengayaan dan perluasan/penambahan pada SNP yang tercermin pada silabus dan RPP saja, penggunaan ICT dan penggunaan bahasa Inggris
serta budaya lintas negara juga merupakan faktor “X” yang
mencirikan sebuah sekolah RSBI. Pembelajaran Fisika yang beliau laksanakan sudah berbasis ICT dan untuk pembelajaran bilingual sudah diterapkan pada pelaksanaan proses pembelajaran dan pada
commit to user
tugas maupun soal-soal ujian yang diberikan kepada siswa. Pembelajaran bilingual menuntut beliau untuk belajar lebih banyak tentang kosa kata yang berhubungan dengan Fisika dalam bahasa Inggris. Sedangkan untuk budaya lintas bangsa, beliau lebih menekankan pada kejujuran dan kedisplinan serta ketertiban. Untuk kejujuran itu atas dasar beliau sendiri, sedangkan untuk kedisplinan serta ketertiban beliau terinspirasi dari negara Jepang.
c) Karakteristik Siswa
Ketiga guru Fisika mengungkapkan hal yang serupa bahwa semua siswanya adalah siswa-siswa yang pintar. Ketiga guru Fisika yakin sepenuhnya bahwa siswa-siswinya memiliki kemampuan lebih daripada siswa-siswi di sekolah lainnya, karena berhasil lolos seleksi penerimaan siswa baru yang cukup ketat dan tinggi standarnya.
d) Kompetensi Guru
Ketiga guru Fisika mengungkapkan bahwa ketiga beliau memang masih mengikuti peningkatan kualitas guru baik dalam kemampuan berbahasa Inggris maupun dalam bidang ICT. Selain itu ketiga beliau juga masih menjalani program studi S-2 untuk mememnuhi standar program RSBI di sekolah.
Guru Fisika I dan Guru Fisika II menuturkan bahwa pihak sekolah turut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas guru di SMA Negeri 3 Surakarta, khususnya bagi beliau, baik untuk kemampuan berbahasa Inggris dengan pelatihan, seminar dan les bahasa Inggris, kemampuan melaksanakan pembelajaran berbasis ICT dengan pelatihan dan khursus IT. Guru Fisika I menambahkan bahwa baru-baru ini sekolah mengadakan pelatihan moodle bagi guru-guru SMA Negeri 3 Surakarta. Pelatihan moodle adalah pelatihan yang diberikan kepada guru-guru di SMA Negeri 3 Surakarta kaitannya dengan pembelajaran berbasis online seperti, meng-apload materi, tugas ataupun tes/ujian di blog masing-masing guru mata pelajaran. Untuk pembelajaran berbasis online ini di SMA Negeri 3 Surakarta memang
commit to user
baru diperkenalkan jadi diharapkan ke depannya benar-benar dapat dilaksanakan. Guru Fisika III menambahkan bahwa sekolah juga mendatangkan dosen bahasa Inggris dari UNS ke sekolah, mendatangkan ahli pengembangan silabus dan RPP, dan mengikutkan guru-gurunya dalam seminar-seminar peningkatan kompetensi guru maupun wawasan tentang RSBI.
e) Kelengkapan Sarana dan Prasarana
Ketiga guru Fisika menjelaskan bahwa fasilitas pendukung proses pembelajaran Fisika di kelas X RSBI sudah lengkap. Di setiap kelas sudah terfasilitasi dengan komputer, LCD, speaker, AC (Air Conditioner), dan yang terbaru tahun ini adalah pemasangan CCTV di setiap kelas dan kantor guru. Laboratorium Fisika juga dirasa sudah cukup lengkap, perpustakaan selain menyediakan buku-buku referensi yang sudah cukup memadai, juga terdapat beberapa buah komputer yang memiliki koneksi internet. Fasilitas hotspot juga sudah tersedia di seluruh area SMA Negeri 3 Surakarta.
2) Pelaksanaan Proses Pembelajaran Fisika Kelas X RSBI di SMA
Negeri 3 Surakarta
a) Teknik Pembelajaran Fisika
Guru Fisika I menjelaskan bahwa beliau cenderung masih
menggunakan pendekatan dan metode konvensional dalam
pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI, yaitu menerangkan materi pelajaran baik secara lisan maupun tertulis di whiteboard, tanya jawab dan penugasan. Namun demikian, beliau juga terkadang menggunakan metode kooperatif yang sekiranya sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Hal ini berkaitan dengan jadwal beliau yang mengajar Fisika di kelas X hanya 1 x 45 menit untuk tiap kelas dan hanya mengajar di lima kelas saja untuk kelas X SMA Negeri 3 Surakarta. Karena terbatasnya waktu mengajar dan banyaknya materi yang perlu disampaikan kepada siswa, beliau mempertimbangkan
commit to user
bahwa dengan metode mengajar tersebut yang paling sesuai untuk membelajarkan materi Fisika di kelas beliau.
Lain halnya dengan yang diungkapkan oleh guru Fisika II. Guru Fisika II mengungkapkan bahwa beliau sudah menggunakan metode yang bervariasi dalam pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI, yaitu tidak hanya ceramah interaktif dan penugasan saja, tapi ada kegiatan praktikum, presentasi dan diskusi kelompok, diskusi LKS, dan pembelajaran di lab. multimedia. Hal ini beliau lakukan untuk mengubah image proses pembelajaran Fisika yang selama ini dianggap siswa membosankan menjadi suatu proses pembelajaran yang menyenangkan. Beliau berpandangan bahwa jika siswa sudah termotivasi dan senang di awal pembelajaran Fisika maka untuk selanjutnya akan lebih mudah bagi siswa-siswinya dan beliau sendiri dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran Fisika di kelas.
Hampir serupa dengan yang diungkapkan oleh guru Fisika II bahwa, guru Fisika III juga sudah menggunakan metode yang bervariasi dalam pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI, yaitu ceramah interaktif, diskusi presentasi, mengerjakan dan membahas LKS (dibuat oleh beliau sendiri), dan kegiatan praktikum