• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA

4.3 Deskripsi Hasil Wawancara

Metode wawancara yang dipilih oleh penulis adalah tipe wawancara berstruktur, dimana sebelum memulai wawancara terlebih dahulu penulis menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan. Namun, di dalam prosesnya sendiri tidak menutup suatu kemungkinan akan munculnya suatu pertanyaan- pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebih dalam dari para informan.

Program RASKIN adalah sebuah program yang dilaksanakan di bawah tanggung jawab Departemen Dalam Negeri dan Perum Bulog sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri Dalam Negeri dengan Direktur Utama Perum Bulog Nomor : 25 tahun 2003 dan Nomor: PKK-12/07/2003. Adapun program RASKIN ini bertujuan sebagai bentuk upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dan untuk mengurangi beban pengeluaran dari rumah tangga miskin sebagai bentuk dukungan dalam meningkatkan ketahanan pangan dengan memberikan perlindungan sosial beras murah dengan jumlah maksimal 15kg/Rumah Tangga Miskin/bulan dengan masing-masing seharga Rp1.600/kg (netto) di titik distribusi.Hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan karena bagaimanapun masyarakat merupakan insan manusia yang harusnya mendapatkan pangan yang layak.

Efektivitas suatu organisasi dapat diukur dari berbagai hal, yaitu kejelasan tujuan, kejelasan strategi, pencapaian tujuan, proses analisa dan perumusan kebijakan yang mantap, tersedianya sarana dan prasarana yang efektif dan efisien, sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik dan disesuaikan

Berdasarkan Rencana Strategis merupakan upaya untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memadu bagaimana menjadi pemerintah, apa yang dikerjakan oleh pemerintah daerah dan mengapa pemerintah daerah mengerjakan hal tersebut. Perencanaan Strategis juga bersifat menyeluruh, jangka menengah serta memberikan arahan meliputi beberapa tahapan proses untuk pencapaiannya.

Rencana Strategis juga merupakan langkah awal untuk melakukan pengukuran kinerja yang diintegrasikan antara sumber daya manusia dengan sumber daya yang lain agar mampu menjawab tuntutan perkembangan lingkungan strategis. Analisis terhadap lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal dan merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan.

Rencana strategis yang telah ditetapkan di kantor Kecamatan Bilah Barat dalam pelaksanaan program beras miskin (RASKIN) telah menetapkan penyaluran raskin dari Kecamatan ke titik distribusi dengan tahapan yang telah ditentukan dikecamatan Bilah Barat, maka telah disampaikan oleh Bapak H. Aidi Syahmir, S.IPselaku Camat di Kecamatan Bilah Barat yang menyatakan:

tahapan raskin tersebut siapa penerima sudah ada orang nya, tahapan nya melalui bulog kabupaten labuhan batu ke kantor camat dari kantor camat mendistribusikan ke desa, desa yang menyampaikan ke masyarakat yang telah terdaftar di pusat yang tidak bisa di ganggu gugat itulah sebagai prosedur nya sampai ke masyarakat.dan sumber daya aparatur sudah mencukupi, karena aparatur pelayanan terhadap masyarakat sudah memadai, namun demikian adanya pembinaan terhadap aparatur sehingga pelayanan lebih baik kepada masyarakat”. (Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

Dari pernyataan diatas, dapat diketahui bahwa pihak kecamatan dalam tahap pendistribustrian raskin telah dilakukan dengan baik dan efektif sesuai aturan yang telah ditentukan.

Untuk mengetahui bagaimana efektivitas distribusi dalam pelaksanaan program beras miskin (RASKIN) di Kecamatan Bilah Barat, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Martanidan Lubis (1987 : 55) tentang pengukuran efektivitas dengan menggunakan pendekatan proses dan pendekatan sasaran. Dalam pendekatan proses, efektivitas dilihat dari efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga internal dalam menjalankan program kerja. Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan, tapi memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadapsumber-sumber yang dimiliki oleh lembaga. Sedangkan pendekatan sasaran dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana. Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai.

Efektivitas program distribusi Raskin dinilai berdasarkan kriteria kriteria tertentu dalam mencapai tujuan program pendistribusian Raskin yang telah ditetapkan. Yang menjadi kriteria tingkat efektivitas program Raskin ini ada 6 yaitu ketetapan sasaran penerima manfaat, jumlah, harga, waktu, administrasi dan kualitas, hambatan dalam pelaksanaan raskin.

4.3.1 Tepat Sasaran Penerima Manfaat

Rumah tangga yang tidaktermasuk dalam kriteria tersebut tidak berhak untuk menerima Raskin. Agar penyaluran lebih tepat sasaran, maka pendataan dilakukan secara berkala yakni diperbaharui setiap tahun dengan melibatkan kepala lingkungan serta diawasi langsung oleh aparat desa dan aparat BPS sehingga segala bentuk penyimpangan maupun penyelewengan dapat diperkecil.

Berdasarkan kejelasan terhadap tepat sasaran penerima manfaat raskin seperti keterangan yang disampaikan oleh Bapak Heri Andri selaku tim koordinasi raskin dikecamatan bilah barat yang menyatakan:

“raskin hanya diberikan kepada keluarga sasaran yang terdaftardalam penerima raskin. Pemberian atau pembelian beras miskin (raskinhanya diberikan kepada keluarga yang benar-benar tidak mampu. Berdasarkan hasil peneliti dilapangan bahwa beras miskin (raskin) dibagikan berdasarkan hasil database dari Kabupaten dan berdasarkan hasil musyawarah Desa/Kelurahan untuk menentukan siapa yang berhak untuk menerima raskin”(Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

4.3.2 Tepat Jumlah

Jumlah Raskin yang merupakan hak penerima manfaat adalah sebanya 15 Kg/RTM/bulan selama 12 bulan. Jumlah tersebut sudah menjadi hak bagi setiap penerima manfaat Raskin dan sudah menjadi ketetapan pemerintah. Jumlah beras yang diterima oleh rumah tangga miskin sudah sangat membantu keluarga miskin meskipun tidak mencukupi selama sebulan, namun dapat mengurangi pengeluaran mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Pelaksanaan Raskin dikatakan mencapai indikator tepat jumlah jika RTS-PM menerima beras Raskin dalam jumlah yang sesuai

dengan ketentuan, baik dalam setiap distribusi maupun dalam setiap tahun pelaksanaan.

Berkaitan dengan tepat jumlah dalam pendistribusian beras raskin dapat di jelaskan bapak Heri Andri selaku tim koordinasi raskin yang menyatakan :

“ketepatan jumlah beras yang didistribusikan ketitik sasaran. Jumlah beras yang ditetapkan dalam pedoman umum raskin (pedum) sebanyak 15 kg /bulan selama 12 bulan dengan jumlah keluarga penerima raskin yaitu 1 orang mendapatkan beras miskin (raskin) sebesar 15 kg/RTS/bulan yang sudah dalam bentuk karung goni ukuran 15 kg”. (Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

Sedangkan pernyataan ibu Masriani, warga Kelurahan Tanjung Beringin Kecamatan bilah barat :

“saya melihat dengan jumlah beras yang saya dapatkan 15 kg setiap bulannya mungkin itu sudah ketentuan dari pusat” (Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

4.3.3 Tepat Harga

Harga Raskin adalah sebesar Rp 1,600/kg netto di titik distribusi. Harga tersebut merupakan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Masing-masing rumah tangga berhak mendapatkan harga Rp 1,600 tersebut, namun jika terdapat biaya distribusi dalam penyaluran beras, harga beras dapat berbeda tergantungdari kesepakatan pelaksana distribusi di tingkat kelurahan dengan masyarakat penerima manfaat. Namun harga tersebut berbeda setelah sampai ke tangan penerima manfaat Raskin. Hal itu karena terdapat biaya tambahan seperti untuk biaya bongkar muat, biaya jaga malam dan lain sebagainya.

Berdasarkan kejelasan terhadap tepat harga raskin seperti keterangan yang disampaikan oleh Bapak Heri Andri selaku tim koordinasi raskin dikecamatan bilah barat yang menyatakan:

“harga beras raskin 1.600 /kg merupakan harga yang telah ditetapkan pemerintah untuk dapat ditebus oleh penerima manfaat, masalah dengan adanya biaya tambahan yang di lakukan dilapangan dalam penyaluran raskin karena adanya kesepakatan antara belah pihak, karena tidak semua penerima manfaat melakukan biaya tambahan dalam menebus beras raskin, ada beberapa dusun yang dalam proses penyaluran yang tidak terjangaku titik distribusi”. (Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

Terkait dengan biaya tambahan dalam penyaluran raskin ke titik distribusi Ibu Masroh selaku warga Tanjung Beringin yang menyatakan:

“masalah dengan adanya tambahan biaya dalam penayaluran tidak menjadi masalah karena adanya suatu program beras raskin sudah sangat membantu sekali, jadi dalam biaya tersebut tidak menjadi masalah”. (Hasil wawancara pada tanggal 1 maret 2016)

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Farida selaku warga Tanjung beringin yang menyatakan:

“terkait denganbiaya tambahan itu sama sekali tidak memberatkan”. (Hasil wawancara pada tanggal 1 maret 2016)

4.3.4 Tepat Waktu

Menurut Pedum Raskin, ketepatan waktu pelaksanaan distribusi kepada RTS-PM tercapai apabila penyaluran Raskin dilaksanakan sesuai dengan rencana distribusi yang telah ditetapkan oleh Bulog.Waktu pelaksanaan distribusi Raskin kepada RTM penerima manfaat sesuai dengan rencana distribusi. Penyaluran Raskin sudah direncanakan oleh BULOG untuk setiap penyaluran beras tiap

bulannya. Ketepatan waktu dalam penyaluran akan sangat membantu masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuan pangan.

Berdasarkan kejelasan terhadap tepat waktu raskin seperti keterangan yang disampaikan oleh Bapak Heri Andri selaku tim koordinasi raskin dikecamatan bilah barat yang menyatakan:

“bahwa waktu pelaksanaan distribusi tepat karena pembagian Raskin selalu terjadi di awal bulan.jadi pendistribusian beras raskin tepat pada waktunya”. (Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

Begitu juga disampaikan oleh bapak udin warga janji yang menyatakan : “dalam pendistribusian beras rakin setiap bulannya tepat waktu karena setiap penyaluran ada petugas khusus”. ( Hasil wawancara pada tanggal 29 februari 2016)

Dari pernyataan warga diatas dapat dikatakan bahwa kepuasan terhadap kerja atau petugas dalam pendisrtibusian raskin dengan tepat waktu dalam penyaluran setiap bulannya kepada penerima manfaat sangat baik.

4.3.5 Tepat Administrasi

Tepat administrasi diartikan sebagai terpenuhinya persyaratan administrasi secara benar, lengkap dan tepat waktu . Dalam administrasi pelaporan tersebut tim koordinasi Raskin kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi. Meskipun pelaporan administrasi Bulog tersebut telah dilaksanakan secara tertib dan berjenjang, tetapi apa yang dilakukan oleh Bulog tersebut lebih mencerminkan pelaksanaan Raskin sampai

4.3.6 Tepat kualitas

Kualitasberas adalah beras medium kondisi baik sesuai denganpersyaratan kualitas beras yang diatur dalam Inpres Kebijakan Perberasan yangberlaku. Tetapi, dalam pelaksanannya penerima manfaat beras raskin (raskin)sebagian masyarakat ada yang mendapatkan kualitas beras yang agak rendah.Namun, kualitas beras yang diterima oleh masyarakat di tahun 2015 dari awalpembagian beras sampai akhir pembagian beras yangditerima oleh masyarakat sama maksudnya dengan beras yang agak bagus danmasih layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Pernyataan dari ibu Salmiah warga kelurahan Tanjung medan tentang kualitas beras yang menyatakan :

“kualitas beras tersebut layak untuk di konsumsi, meskipun sedikit di bersihkan sebelum memasak seperti di bersihkan dengan tampah baru kemudian di cuci dengan air, karena sebagian beras terdapat suatu kulit- kulit padi”. ( Hasil wawancara pada tanggal 1 maret 2016)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibu Ratna warga Kelurahan Tanjung medan, yang menyatakan :

“kualitas beras sangat baik, dan layak untuk di konsumsi“. (Hasil wawancara pada tanggal 1 maret 2016)

Dari pernyataan warga diatas dapat di katakan kualitas beras tersebut baik dan layak untuk dikonsumsi masyarakat penerima manfaat beras raskin.

4.3.7 Hambatan dalam pelaksanaan RASKIN

Tahapan pelaksanaan suatu program merupakan tahapan yang paling krusial dalam mencapai keberhasilan dari suatu kebijakan publik atau program. Melalui tahapan ini akan diberikan suatu gambaran apa yang menjadi penyebab berhasilnya atau tidaknya suatu kebijakan dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan dari program atau kebijakan tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada pelaksanaan program Raskin di Kecamatan Bilah Barat. Dimana terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi berjalannya pelaksanaan program ini.

Pada uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dalam pelaksanaan program Raskin ini terdapat beberapa hambatan. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan dilapangan yang dilakukan oleh peneliti maka yang menjadi faktor paling utama ialah terjadi hambatan dari masayarakat penerima manfaat itu sendiri karena keterlambatan dalam pembelian beras dari masyakarat itu sendiri, karena belum bisa menebus raskin tersebut, karena beras raskin tersebut tidak bisa untuk diperjual belikkan tanpa tidak terdaftar di pusat.

Dokumen terkait