HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian
5.1.3. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data rekam medis yang berupa jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan riwayat trauma, indeks massa tubuh, riwayat merokok, dan riwayat batuk menahun pasien. Data lengkap karakteristik subjek penelitian disajikan dalam tabel-tabel sebagai berikut :
Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis
Pada tabel 5.1. menunjukkan bahwa subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 28 orang (37,8%) dan subjek penelitian yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 46 orang (62,2%). Pada tabel 5.1. juga menunjukkan bahwa subjek penelitian yang berusia <28 tahun berjumlah 3 orang (4,1%), yang berusia 28-42 tahun berjumlah 16 (21,6%), dan yang berusia >42 tahun berjumlah 55 orang (74,3%).
Tabel 5.2. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjaan
Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)
IRT
Pada tabel 5.2. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan pekerjaan ibu rumah tangga berjumlah 24 orang (32,4%), pekerjaan pegawai negeri sipil berjumlah 21 orang (28,4%), pekerjaan pegawai swasta berjumlah 17 orang
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki-Laki 28 37,8
Perempuan 46 62,2
(23%), pekerjaan pensiunan berjumlah 4 orang (5,4%), pekerjaan petani/tukang berjumlah 4 orang (5,4%), pekerjaan pelajar berjumlah 2 orang (2,7%), dan pekerjaan TNI/Polri berjumlah 2 orang (2,7%).
Tabel 5.3. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Riwayat Trauma
Riwayat Trauma Jumlah Persentase (%)
Trauma (+) 10 13,5
Trauma (-) 64 86,5
Total 74 100
Pada tabel 5.3. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan riwayat trauma berjumlah 10 orang (13,5%), sedangkan subjek penelitian tanpa riwayat trauma berjumlah 64 orang (86,5%).
Tabel 5.4. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
Indeks Massa Tubuh Jumlah Persentase (%)
<18,5 2 2,7
18,5-24,5 24 32,4
25-29,9 36 38,6
30-34,9 8 10,8
35-39,9 3 4,1
>40 1 1,4
Total 74 100
Pada tabel 5.4. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan indeks massa tubuh <18,5 berjumlah 2 orang (2,7%), indeks massa tubuh 18,5-24,5 berjumlah 24 orang (32,4%), indeks massa tubuh 25-29,9 berjumlah 36 orang (38,6%), indeks massa tubuh 30-34,9 berjumlah 8 orang (10,8%), indeks massa tubuh 35-39,9 berjumlah 3 orang (4,1%), dan indeks massa tubuh >40 berjumlah 1 orang (1,4%).
Tabel 5.5. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Riwayat Merokok
Riwayat Merokok Jumlah Persentase (%)
Merokok 8 10,8
Tidak merokok 66 89,2
Total 74 100
Pada tabel 5.5. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan riwayat merokok berjumlah 8 orang (10,8%), sedangkan subjek penelitian tanpa riwayat merokok berjumlah 66 orang (89,2%).
Tabel 5.6. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Riwayat Batuk Menahun
Riwayat batuk Menahun Jumlah Persentase (%)
Batuk menahun 8 10,8
Tidak batuk menahun 66 89,2
Total 74 100
Pada tabel 5.6. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan riwayat batuk menahun berjumlah 8 orang (10,8%), sedangkan subjek penelitian tanpa riwayat batuk menahun berjumlah 66 orang (89,2%).
Tabel 5.7. Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Lokasi HNP
Lokasi HNP Jumlah Persentase (%)
Servikalis 6 8,1
Torakalis 3 4,1
Lumbalis 65 87,8
Total 74 100
Pada tabel 5.7. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan lokasi HNP servikalis berjumlah 6 orang (8,1%), lokasi HNP torakalis berjumlah 3 orang (4,1%), dan lokasi HNP lumbalis berjumlah 65 orang (87,8%).
Tabel 5.8. Frekuensi Lokasi HNP Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Lokasi HNP Total
Servikalis Torakalis Lumbalis
Laki-laki 3 (10,7%) 0 (0%) 25 (89,3%) 28
Perempuan 3 (6,5%) 3 (6,5%) 40 (87,0%) 46
Total 6 3 65 74
Pada tabel 5.8. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan HNP servikalis pada laki-laki sebanyak 3 orang (10,7%) dan perempuan sebanyak 3 orang (6,5%); HNP torakalis pada laki-laki sebanyak 0 orang (0%) dan perempuan sebanyak 3 orang (6,5%); dan HNP lumbalis pada laki-laki sebanyak 25 orang (89,3%) dan perempuan sebanyak 40 orang (87,0%).
Tabel 5.9. Frekuensi Lokasi HNP Berdasarkan Usia
Usia (tahun) Lokasi HNP Total
Servikalis Torakalis Lumbalis
<28 1 (33,3%) 0 (0%) 2 (66,7%) 3
28-42 1 (6,2%) 0 (0%) 15 (93,8%) 16
>42 4 (7,3%) 3 (5,5%) 48 (87,2) 55
Total 6 3 65 74
Pada tabel 5.9. menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan HNP servikalis pada usia <28 tahun sebanyak 1 orang (33,3%), usia 28-42 tahun sebanyak 1 orang (6,2%), dan usia >42 tahun sebanyak 4 orang (7,3%) ; HNP torakalis pada usia <28 tahun sebanyak 0 orang (0%), usia 28-42 tahun sebanyak 0 orang (0%), dan usia >42 tahun sebanyak 3 orang (5,5%); dan HNP lumbalis pada usia <28 tahun sebanyak 2 orang (66,7%), usia 28-42 tahun sebanyak 15 orang (93,8%), dan usia >42 tahun sebanyak 48 orang (87,2%).
Tabel 5.10. Frekuensi Lokasi HNP Berdasarkan Riwayat Trauma
Riwayat Trauma Lokasi HNP Total
Servikalis Torakalis Lumbalis
Trauma 1 (10%) 0 (0%) 9 (90%) 56 (90%) dan tanpa riwayat trauma sebanyak 56 orang (87,5%).
Tabel 5.11. Frekuensi Lokasi HNP Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
Indeks Massa Tubuh Lokasi HNP Total
Servikalis Torakalis Lumbalis
<18,5 0 (0%) 0 (0%) 2 (100%) 2 servikalis dengan IMT <18,5 sebanyak 0 orang (0%), IMT 18,5-24,5 sebanyak 1 orang (4,2%), IMT 25-29,9 sebanyak 4 orang (11,1%), IMT 30-34,9 sebanyak 1 orang (12,5 %), IMT 35-39,9 sebanyak 0 orang (0%), IMT >40 sebanyak 0 orang (0%). Hernia Nukleus Pulposus torakalis dengan IMT <18,5 sebanyak 0 orang (0%), IMT 18,5-24,5 sebanyak 1 orang (4,2%), IMT 25-29,9 sebanyak 2 orang (5,6%), IMT 30-34,9 sebanyak 0 orang (0%), IMT 35-39,9 sebanyak (0%), dan
IMT >40 sebanyak 0 orang (0%). Hernia Nukleus Pulposus lumbalis dengan IMT
<18,5 sebanyak 2 orang (100%), IMT 18,5-24,9 sebanyak 22 orang (91,7%), IMT 25-29,9 sebanyak 30 orang (83,3%), IMT 30-34,9 sebanyak 7 orang (87,5%), IMT 35-39,9 sebanyak 3 orang (100%), dan IMT >40 sebanyak 1 orang (100%).
5.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek penelitian HNP lebih banyak pada perempuan (62,2%) dibandingkan laki-laki (37,8%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa subjek penelitian HNP servikalis berjumlah sama pada laki-laki (10,7%) dan pada perempuan (6,5%), HNP torakalis hanya dijumpai pada perempuan (6,5%). Hal yang serupa juga disebutkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perbandingan kejadian HNP pada laki-laki dibandingkan pada perempuan adalah 2 : 1.34 Hal yang sama terjadi pada HNP lumbalis yang lebih banyak terjadi pada perempuan (87,0%) dibandingkan laki-laki (89,3%). Pada penelitian sebelumnya, wanita memiliki faktor risiko sebesar 50,61% terkena HNP lumbalis dibandingkan laki-laki dan lokasi paling sering terkena adalah L4-L5 yaitu sebesar 72,4%, karena L4-L5 tidak terikat pada pelvis, sehingga respon ketidakseimbangan otot pada lumbo-pelvis dapat menyebabkan iritasi saraf pada kolumna vertebralis.35 Berdasarkan hasil penelitian lainnya, disebutkan bahwa pasien dengan kelompok usia lebih tua lebih sering terkena pada L3-L4 dan dihubungkan dengan morbiditas dan kegagalan operasi yang lebih tinggi.5
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia paling sering terkena HNP adalah kelompok usia >42 tahun, diikuti oleh kelompok usia 28-42 tahun, dan usia <28 tahun. Hasil penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi kejadian HNP terjadi pada kelompok usia 30-50 tahun.34 Selain itu, hasil penelitian lainnya menyebutkan bahwa HNP paling sering terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun sebesar 59,6% diikuti oleh kelompok usia 20-39 tahun sebesar 40,4%.36 Hasil penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa usia rata-rata terkena HNP adalah 50,4 ± 8,2 tahun.5
Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian dengan riwayat trauma lebih beresiko terkena HNP lumbalis sebesar 90%. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa riwayat trauma signifikan dijumpai pada 82,5% kasus HNP.5 Sebagian besar kasus trauma disebabkan oleh ekstrusi nukleus pulposus yang disebabkan oleh gangguan pada anulus fibrosus and ligamen logitudinal posterior.37
Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa subyek penelitian yang menderita HNP terbesar memiliki pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (32,4), diikuti Pegawai Negeri Sipil (28,4%), Pegawai Swasta (23%), Pensiunan (5,4%), Pelajar (2,7%) dan TNI/Polri (2,7%). Pada penelitian sebelumnya didapatkan penderita HNP paling banyak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (38,8%), Ibu Rumah Tangga (25,4%), Pegawai Swasta (16,4%), Petani/Buruh (11,9%), Pensiunan (4,5%), dan Siswa (3%). Hal ini berkaitan dengan sikap duduk yang lama dan statis pada PNS.38 Hasil serupa juga disebutkan pada penelitian lainnya bahwa HNP dapat terjadi pada subjek penelitian > 34 tahun dengan pekerjaan ringan dan juga dapat terjadi pada pekerjaan yang membutuhkan beban yang berat. Hal yang serupa juga disebutkan pada penelitian sebelumnya pada subjek penelitian yang sering mengangkat beban, bahwa adanya hubungan antara kejadian HNP dengan mengangkat beban lebih dari 11,3 kg dengan rata-rata 25 kali/hari.39 Hal yang berbeda disebutkan pada penelitian sebelumnya bahwa pekerjaan yang terlalu berat atau frekuensi mengangkat barang yang melebihi batas toleransi dapat menyebabkan trauma pada lumbar sebesar 53%.40
Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas subyek penelitian memiliki berat badan yang berlebih (64,9%). Hal ini serupa dengan hasil penelitian sebelumnya yang mendapatkan hasil bahwa subyek penelitian mayoritas memiliki IMT golongan berat badan berlebih (38,8%), berat badan normal (29,9%), obesitas (28,4), bedan badan kurang (3%). Dengan adanya berat badan berlebih, terutama beban ekstra di daerah perut dapat menyebabkan tekanan pada daerah tersebut meningkat. Penelitian sebelumnya menyatakan adanya hubungan IMT yang berlebih dengan nyeri punggung bawah yang diakibatkan oleh herniasi nukleus pulposus.41
Pada proses penelitian ini tidak didapatkan lebih dari 40% data untuk variable merokok dan batuk menahun. Sehingga tidak dapat dijadikan variabel penelitian yang baik karena memenuhi kriteria eksklusi yaitu rekam medis yang tidak lengkap. Sementara menurut hasil penelitian sebelumnya didapatkan bahwa responden penderita nyeri punggung bawah berdasarkan kebiasaan merokok paling banyak tidak merokok yaitu 43 orang (64.2%). Hal ini dikarenakan responden banyak yang jenis kelamin perempuan. Jika dilihat dari jenis kelamin laki-laki saja banyak yang merokok.38 Hasil penelitian Feldman menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri punggung bawah. Merokok dapat menyebabkan berkurangnya densitas mineral pada tulang sehingga menyebabkan nyeri akibat terjadinya keretakan atau kerusakan pada tulang.42
BAB 6