• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: METODE PENELITIAN

A. Deskripsi Mantan Pelaku Teror 1. Profil AI

AI atau Alik merupakan terpidana bom Bali satu yang sekarang bekerjasama dengan pihak kepolisian dalam rangka program deradikalisi. Setelah ditangkap pada tanggal 13 Januari 2003, ia divosnis penjara selama hidup di lapas satu Metro Jaya Jakarta Pusat. Saat wawancara dilaksanakan, AI telah menjalani hukuman selama 17 tahun. Ia mengaku telah mengajukan keringan hukuman, namun tak kunjung dikabulkan. Menurutnya, hal ini menjadi kekecewaan tersendari baginya, setelah apa yang dilakukan dalam membantu pihak kepolisian terkait program deradikalisasi.

Dilahirkan di Kabupaten Lapongan, tepatnya di desa Tenggulun, AI bersama kakaknya, AG alias Mukhlas, dan Amrozi dididik dalam lingkungan keluarga berlatar belakang Muhammadiyah. Selesai merampungkan pendidikan di madarasah Aliyah Muhammadiah, AI menyusul kakaknya untuk belajar agama di pesantren Ngruki, Sukaharja Jawa Tengah. Namun tidak seperti kakaknya yang menamatkan pedidikan di Nguki dan sempat menjadi dewan pangajar, AI dengan jiwa kelananya, teryata hanya bertahan di Ngruki beberapa bulan.

Sebagai Salah satu pelaku bom Bali, orang yang memiliki nama lalin Alik, mengaku berafialiasi degan jaringan Jama’ah Islamiyyah atau JI. JI merupakan pecahan atau bagian daripada Darul Islam atau DI/TII. DI merupakan penerus dari negara Islam Indonesia yang didirikan oleh Karta Suwirya tahun 1949. Sesuai pengakuannya, AI adalah generasi ke keempat dalam geniologi gerakan Jama’ah Islamiyyah, setelah generasi ketiga Abu Bakar Ba’asir. Waktu itu kejadian bom bali sebagai pemimpin atau amir JI. Namun Abu Abu Bakar Ba’asir sendiri membantahnya dan lebih mengakui sebagai amir atau pemimpin Majlis Mujahidin Indonesia (MMI).(Tempo 2002).

AI mengaku, bahwa ia terpapar pemikiran radikal untuk pertama kali melalui buku-buku keagamaan dan surat menyurat dari kiriman kakaknya yang

51

saat itu masih di Ngruki. Sang kakak, AG adalah salah satu pelaku teror bom Bali yang divonis mati. Kekaguman AI terhadap sosok sang kakak (Milla 2009), pada menghantarkannya bertemu dengan Jama’ah Islamiyyah dan berbaiat setia dengannya. Di JI, AI mendapatkan berbagai pendidikan dan pelatihan pengkaderan serta gemblengan pemahaman keagamaan sesuai pemahaman jama’ah.

JI dengan jaringan internasionalnya, pada tahun 1991 berhasil mengirim AI untuk belajar militer dan pertempuran di akademi militer mujahidin Afghanistan. Menyusul kakaknya yang lebih dulu berada di Afghanistan.

Akademik militer dibentuk ketika terjadi jihad terhadap Uni Soviet yang melakukan invasi ke Afghanistan dalam rentan Desember 1979 - Februari 1989.

Sesuai pengakuannya, di akademik militer tersebut, AI lebih banyak berlajar materi militer dibandingkang belajar agama. Karena menurutnya, yang datang ke tempat tersebut adalah kader-kader pilihan yang dianggap ilmu agamanya sudah mapan. Sehingga tambahan ilmu agama hanya sebagai penguat dibanding ilmu militer yang menjadi pokok pembelajaran.

Selama tiga tahun (1991-1994) AI mengeyam pendidikan militer dengan empat materi utama kemiliteran. Meliputi; taktik, fiil engineering, weapon training, map reading. Ia mengaku lulus dengan pangkat kemiliteran setara letnan dua dan dididik sebagai pasukan komandos. Namun dikarenakan status pendidikannya yang tidak resmi, AI tidak dapat membawa keluar catatan dan dokumen terkait pendidikan militer sekertas pun untuk dibawa pulang. Seperti pengakuannya, AI hanya mengandalkan kemampuan hafalannya terkait materi dan rumus-rumus fisika dalam membuat bom dan bahan peledak. Bahkan dengan bangga, ia mengaku mampu menuliskan kembali rumus-rumus tersebut dalam buku yang sedang ia susun. Namun sayang ketika peneliti memintanya untuk mendokumentasikan, ia menolak dengan alasan takut disalah gunakan pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab.

Jumlah orang Indonesia yang ikut dalam pendidikan militer di Afghanistan mencapai ratusan orang. Mereka dikumpulan dalam asrama pelatihan yang

52

terpisah dengan orang-orang asing seperti dari Timur Tengah atau kebangsaan lain. JI Indonesia dikumpulkan bersama JI dari Malaysia dan Singapura, ditambah beberap utusan dari ikhwan-ikhwan Philipina, dan ikhwan Pattani, Thailand.

Mereka yang berasal Philipina dan Pattani, Thailand adalah bukan dari kelompok JI, tetapi mendapatkan rekomendari dari JI. Mereka menginduk dalam bendera JI selama masa pendidikan militer di Afghanistan. Dari sini terlihat bagaiamana jejaring JI telah menyebar dan menjadi mentor militer di berbagai daerah konfik di beberapa negara di Asia Tenggara.

AI sebagai lulusan angkatan ke Sembilan, mengaku memiliki kemampuan strategi tempur, membuat bom dan aneka bahan peledak. Namun diakuinya, tidak semua lulusan akademik militer Afghanistan, memiliki memampuan yang sama.

Namun menurutnya, minimal semua lulusan akademik militer Afghanistan dibekali kemampuan membuat bom. Inilah yang kelak menjadi penyebab maraknya pengeboman di Indonesia. Terutama kejadian teror bom Bali yang dilakukan orang-orang seangkatan ketika di Afghanistan. Mereka diantaranya adalah Umar Patek, Sawat, Imam Samudera dan AI sendiri. Para pelaku bom Bali, umumnya adalah angkatan ke sembilan atau ke sepuluh, tutur Ali Imran.1

Terbongkarnya para pelaku terror bom Bali 1, menguak peran AI yang sangat signifikan. Bahkan sesuai pengakuannya, dia termasuk orang yang banyak mengkritisi rencana dan pelaksaan teror tersebut. Namun karena terikat dalam satu kelompok jama’ah, ususlannya tidak mampu merubah kebutusan kelompok.

Apalagi setelah dikatakan ada restu dari pemimpin al-Qaida Usamah bin Ladin.2 Bahkan, menjelang pelaksaan teror, AI mengambil peran penting. Dapat dikatakan dialah koordinator lapangan. Dia yang mensurve tempat, mengatur pematik peledak, dan mengawal peledakan bom di Sari Club dan diskotik

1 Perbedaan penghitungan angkatan ini, menurut AI disebabkan adanya satu masa JI tidak mengirimkan utusan untuk mengikuti pelatihan di akademik militer Afghanistan. Jika dihitung dari setiap periode pengiriman, AI Cs adalah angkatan ke 10, namun jika dihitung dari utusan yang dikirim AI Cs adalah angkatan ke 9.

2 Hal ini yang menguatkan adanya dugaan, bahwa pelaksaan teror bom Bali adalah aksi sepihak yang dilakukan kelompok sempalan yang tidak direstui oleh jama’ah Islamiyyah.

53

Paddy's, di jalan Legian, Kuta Bali, dan dia pula yang membawa bom jinjing ke konsulat Amerika Serikat di daerah Renon, Denpasar Bali, dan meledakkannya.

AI ditangkap bersama Mubarak, di akhir tempat pelariannya di daerah tambak sungai Mahakan, Kuala Pembuang Kalimantan Timur. Dalam penangkapan itu, tidak ada perlawan, karena disamping kondisi terkepung dan tidak ada celah baginya untuk melarikan diri, AI merasa sadar bahwa ia memang bersalah. Penangkapan tanpa perlawanan, sempat membut ragu ketua tim penangkapan dirjen Krimum sini Polda Metro Jaya, Bapak Karlo. Sehingga beberapa kali AI ditanya tentang kebenaran dirinya. Seakan pihak kepolisian tidak percaya bahwa yang ditangkap adalah benar korlap bom Bali 1, kenang Ali Imran.

2. Profil JL

Peneliti mengenal JL dari seseorang yang lebih dulu sudah mengenal JL dan pernah satu kelompok dengan pengajian JL. JL merupakan mantan napiter kelahiran Demak dan tinggal serta dibesarkan di Klaten. Dia merupakan anak dari enam bersaudara dari dua ibu yang berbeda. Ayah JL cerai dengan Ibu dari 3 kakak JL dan menikah dengan Ibu kandung JL kemudian dikaruniai 3 anak. JL adalah anak pertama dari istri kedua ayah JL.

JL adalah napiter yang menjalani masa tahanan selama 3 tahun 4 bulan di Mako brimob Jakarta dan mendapatkan Pembebasan Bersyarat (PB) di Lapas Klas 1A Semarang. Pertemuan dengan JL dilakukan di Solo di tempat JL bekerja di sebuah kebun buah. JL merupakan lulusan SMK di Klaten dan lahir pada tahun 1992. Sebelum bersekolah di SMK, JL sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman tantang agama. Di sekolah SMK JL juga aktif dalam pengajian yang diselenggarakan di sekolah oleh organisasi siswa. Meskipun demikian, JL tidak hanya mengaji di sekolah. JL juga mengikuti pengajian di luar sekolah. Melalui pengajian di luar sekolah itulah, JL mulai mengenal amaliyah-amaliyah jihad.

Sebagai remaja, JL mengaku memiliki ghirah/semangat yang besar untuk memperdalam ilmu agama. Awalnya JL mengikuti kajian karena diajak oleh

54

teman (JL. 78-79). Terlebih lagi, kajian yang diikuti JL di luar sekolah (Krapyak, Klaten) banyak membahas dan mengkaji kitab-kitab terjemah dari Timur Tengah.

Pembahasan kitab pada awalnya membahas hal yang umum seperti kitab tauhid, Kajian Kitab Bukhori Muslim (JL. 81), dan kitab-kitab lain karangan ulama Timur Tengah.

“Kajiannya sebenernya sih pembahasan buku umumnya biasa sih kayak tapi kan buku terjemahan dari Timur Tengah.” “Akeh sih, Judul e opo, lali aku. Tapi rata-rata kebanyakan karangan Syaikh Al-Maghdisi karya seperti itu lah, kalau kitab tauhidnya palingan itu punyanya kitab tauhid seng seng apa..” (JL. 55-61).

Salah satu ustadz, Mus’ab Abdul Ghofar, yang menjuruskan ke persoalan jihad merupakan penggemar Shaikh Al-Maghdisi seorang ulama dai Irak.

Menurut JL, Shaikh Al-Maghdisi memiliki pemahaman yang tidak terlalu keras, hanya saja yang menyampaikan pemahaman atau yang menerima informasi yang berlebihan (JL. 111-120). Menurut JL, pengajian yang dia ikuti sebenarnya bersifat umum, namun lambat laun terjadi perubahan setelah mendapatkan pengawasan dari intel. Terlebih lagi salah satu anggota pengajian yang berusia paling tua, Antok, warga sukoharjo yang mengaku mantan NII dan memiliki hubungan dengan Yusuf Qurdowi, memberikan pengaruh kepada JL dalam amaliyat jihad di Indonesia.

JL mengaku bahwa pemahaman dia dahulu seperti pemahaman ISIS sekarang. Dia mengaku tidak pernah ikut apa-apa namun hanya ikut-ikut dengan Laskar Hizbah di Surakarta yang dipimpin oleh tersangka teroris yang tewas di Sukoharjo, Sigit Qurdowi. Pada saat itulah, pemikiran JL sudah mulai mengarah ke amaliyah jihad (JL. 125-150). Proses perubahan orientasi pemikiran tersebut terjadi secara perlahan, tidak disadari (D2-JL-9: 18049-19033), dari mengaji tentang tauhid sampai dengan pembahasan tentang gejolak, kondisi umat Islam, dan peperangan di Timur Tengah (JL. 200-255). Simpati kepada umat Islam (Afganistan, Palestina) dan adanya pembenaran pada beberapa pelaku jihad dari Indonesia, memunculkan motivasi untuk ikut melakukan nahi mungkar meskipun menurut JL pelaksanaan amaliyah yang ada di Indonesia bertentangan dengan hati nuraninya. Misalnya, ketidaksepakatan dengan perayaan yang dianggap

55

kesyirikan kemudian harus dicegah dengan meletakkan bom di tempat tersebut, usaha pengeboman masjid karena dianggap masjid dhirar (JL. 330-331), masjid pemerintah (Delanggu) dan pos polisi yang menjadi target sasaran. JL pada saat ditangkap berusia 20 tahun, namun usia teman-teman kelompok pengajian JL yang berjumlah tujuh orang ini semua masih tergolong remaja ada yang berusia 18 dan 17 tahun.

Pemahaman JL tentang jihad mulai berubah setelah menjalani masa tahanan napiter. Di dalam tahanan, JL banyak bertemu dengan senior- senior napiter seperti Abu Thalud dari JI (JL. 617-625) yang kemudian banyak sharing tentang jihad dan mempengaruhi JL dalam memahami Jihad. Di dalam tahanan JL juga aktif mengikuti kajian kitab yang diberikan secara umum untuk para napi (JL. 645-655). Selain dari orang lain, JL juga berubah setelah melakukan perenungan-perenungan pribadi (JL. 602-609), melihat berita, membaca buku-buku, dan sampai sekarang terkadang mengakses video-video ceramah youtube ustadz-ustadz di Indonesia seperti Adi Hidayat dan Gus Baha.

Perubahan pemahaman jihad yang ada pada JL seiring dengan perubahan pemikiran JL tentang konsep jihad. Dahulu jihad perang dianggap sudah global termasuk di Indonesia (JL. 526-529) dan menganggap pemerintahan di Indonesia termasuk kafir dan bisa diperangi (JL. 579-580). Setelah menjalani masa tahanan dan melalui perenungan, kini JL tidak lagi berpikiran seperti ddahulu lagi.

Menurut JL, persoalan pemahaman tidak bisa dihakimi begitu saja, itu menjadi urursan individu, dan ada banyak pemahaman yang tidak bisa saklek (kaku), sehingga meskipun tidak setuju untuk menghakimi atau menghukumi sesuatu yang dianggap syikrik (misalnya praktik demokrasi di Indonesia). JL juga merasa dahulu ketika mengaji tidak kritis dan hanya mendengar dan taat pada perintah amir, hal itu yang disesali JL dan menjadikan pesan JL untuk generasi muda untuk lebih kritis saat mengaji dan tidak hanya terpaku pada satu atau dua ustadz saja.

Aktivitas JL saat ini mejadi masyarakat yang menjalin muamalah dengan semua orang serta menjalani pekerjaan pada tempat yang disediakan oleh Densus88 di Surakarta. JL juga pernah memperoleh pembinaan dari BNPT

56

melalui pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan antara lain di Solo (seperti ketika ada pertemuan di Swissbell Hotel Purwosari).

3. Profil UP

Pertemuan dengan UP terjadi di ruang Keamanan dan Ketertiban Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 di daerah Jawa. UP merupakan pria keturunan Arab berusia 55 tahun. UP memiliki seorang istri bernama R, wanita yang dinikahinya di Camp Abu Bakar saat ia bergabung dengan organisasi MILF (Moro Islamic Liberation Front), organisasi yang dinilai separatis dan illegal ingin memisahkan diri dari Filipina. UP dan R belum juga memiliki keturunan hingga saat laporan ini dibuat, walaupun pernikahan mereka sudah hampir memasuki usia perak. Saat pertama kali bertemu, UP mengenakan baju biru dongker berkerah motif garis-garis dan celana jeans. Kostum yang hampir sama, bahasa tubuh yang sama, serta ekspresi yang sama selalu peneliti lihat saat berkesempatan membesuk UP di waktu-waktu berkunjung selanjutnya. UP tergolong pribadi ramah dan dan hangat dalam menjamu tamunya. Dia berkeyakinan bahwa menghormati dan memuliakan tamu dengan menjamunya adalah kewajiban dari seorang muslim yang baik.

Pertemuan selanjutnya peneliti didampingi oleh seorang laki-laki yang bertindak sebagai coresearcher. UP terlihat sangat menyambut coresearcher -tersebut dengan rangkulan dan pelukan seolah mereka adalah kawan lama yang tidak pernah bertemu. Keakraban tersebut mungkin muncul karena co-researcher secara penampilan tidak berbeda jauh dengan UP, seorang ikhwan berjenggot lebat dan bercelana di atas mata kaki. Di pertemuan selanjutnya UP bahkan tidak sungkan mencubit pipi co-researcher untuk mempererat kedekatan diantara mereka. Kami sempat canggung karena selalu dijamu dengan makanan-makanan khas Timur Tengah setiap kali berkunjung. Ketika jam makan siang tiba, kami disuguhi sate ayam dari kantin yang UP kelola.

UP terlihat cukup antusias menceritakan prosesnya dalam meninggalkan kelompok teror kepada kami. Hal itu terlihat dari inisiatif UP untuk tidak sholat Dzuhur tepat waktu secara berjama’ah ketika wawancara sedang berlangsung, berbeda dengan narapidana terorisme lain yang sering peneliti temui

57

(W1.IU1.R.596-600), meninggalkan semua aktivitas ketika adzan berkumandang untuk sholat jama’ah tepat waktu. Narapidana teroris di lapas lain tidak peduli, aktivitas harus segera dihentikan saat adzan berkumandang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah berhenti beraktivitas beberapa menit sebelum waktu adzan datang agar dapat mempersiapkan diri pergi berjama’ah di musholla lapas.

UP terlihat sudah lebih lunak daripada narapidana teroris lain yang pernah peneliti temui. Dia menghargai kehadiran peneliti dan bersedia menunda waktu sholat demi pengambilan data.

UP adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia lahir di Desa Kahuman (nama samaran) pada 20 Juli 1966. Masa kecil hingga remaja UP habiskan di Kahuman. UP kecil lebih dekat dengan ibu daripada ayah (Mujahid, Yuniarti, 2018). Ibu digambarkan sebagai sosok yang selalu menanamkan nilai-nilai keislaman dan mengajarkan kebersamaan antar anggota keluarga. Ibu selalu mengajarkan kepada UP dan adik-adiknya untuk beribadah agar dapat berkumpul bersama di surga kelak. UP menggambarkan sosok ayah sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan gigih mencari nafkah untuk keluarga, diantaranya dengan menyewakan becak, berternak, berkebun, dan berdagang (Mujahid, Yuniarti, 2018).

Setamat dari SMA, UP izin kepada keluarga merantau ke Yogyakarta untuk kursus komputer dan mencari kerja. Tidak disangka, di Yogyakarta, UP bertemu dengan salah seorang tetangganya di Kahuman bernama DL. DL adalah salah satu pelaku Bom Bali 1 yang ditembak mati oleh Densus 88 di Pamulang Banten pada 9 Maret 2010. DL yang mengajak UP untuk ikut dalam sebuah pengajian di Yogyakarta. Sejak di Yogyakarta, UP cenderung tertutup dari keluarga, terutama berhubungan dengan masalah kelompok pengajiannya (Mujahid, Yuniarti, 2018). Sepulang dari perantauan di Yogyakarta, UP meminta izin kepada orang tua untuk merantau menjadi guru agama ke Brunei Darussalam.

Kejanggalan akan kepergian UP mulai keluarga rasakan sejak tidak adanya kabar yang UP berikan. Ibu UP sering sakit memikirkan UP hingga meninggal tanpa mengetahui keberadaan UP.

58

Pada kenyataannya, UP tidak pergi ke Brunei Darussalam untuk bekerja sebagai guru agama. UP diajak DL untuk pergi ke Malaysia menemui AD. AD adalah salah satu pelaku utama dalam Bom Bali 1 yang telah dieksekusi mati pada 9 November 2008 di Lembah Nirbaya Nusakambangan. AD diketahui menjadi pemimpin kelompok Jama’ah Islamiyah di Asia Tenggara, dan secara kedudukan dalam kelompok teror, UP ada di bawah DL dan AD. AD memerintahkan UP untuk pergi ke Pakistan dan Afghanistan untuk belajar ilmu kemiliteran dan jihad di Akademi Militer Mujahidin pada tahun 1991. Setelah lulus tahun 1995 dari akademi militer di Afghanistan, UP diperintahkan untuk kembali ke Indonesia oleh AD. Namun UP menolak dan lebih memilih pergi ke Filipina untuk bergabung dengan kelompok MILF yang menurutnya sedang memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Moro. UP menganggap bergabung dengan MILF sebagai aksi jihad karena hanya ingin mempertahankan daerah kekuasaan kaum muslimin dari orang kafir (quotation dengan ustadz Hasan.

Di Filipina, UP menikahi seorang wanita mualaf yang belajar ilmu agama di Camp Abu Bakar. UP kembali ke Indonesia bersama istri saat pemerintah Filipina mengkampanyekan perang total melawan MILF pada tahun 2000 (quotation dengan ustadz Hasan). Di Indonesia UP melakukan pengeboman di dua tempat, yaitu Bom Malam Natal tahun 2000 dan Bom Bali 1 tahun 2002. Sejak saat itu, UP menjadi buron yang paling dicari. Bahkan pemerintah Amerika Serikat membuat sayembara penangkapan UP senilai 1 juta USD. Dalam masa pelarian, UP membawa istrinya kembali ke Filipina. Di Filipina, UP kembali bergabung dengan kelompok MILF. Namun ada yang mengganjal dalam pikiran dan hati UP saat itu. Dia mencemaskan kondisi istri jika dia ditakdirkan mati dalam perang (Mujahid, Yuniarti, 2018). UP cemas meninggalkan istri seorang diri di negara yang berpenduduk katolik terbesar nomor dua di Asia. Hal itu membuat UP memutuskan untuk pergi ke Afghanistan. UP menganggap, bahwa Fatmah akan tenang hidup dan beribadah di negara tersebut jika dia ditakdirkan untuk syahid berperang di sana quotation dengan ustadz Hasan.

UP di tangkap di kota Abbottabad Paksitan saat perjalanan menuju Afghanistan (quotation dengan ustadz Hasan). UP diperebutkan oleh empat

59

negara yaitu Amerika, Australia, Filipina, dan Indonesia. Amerika memburu UP atas keterlibatannya dalam Bom Bali 1 dan karena ada pasukan tentara Amerika yang dibunuh oleh kelompoknya (MILF) di Filipina (Mujahid, Yuniarti, 2018), Australia memburu UP atas kasus Bom Bali 1. Filipina memburu UP atas keterlibatannya dengan kelompok MILF, dan Indonesia memburu UP atas keterlibatannya dalam Bom Bali 1, Bom Malam Natal, dan kasus pelatihan militer Jalin Jantho (W1.IU1.R.58-66). Perebutan tersebut dimenangkan oleh pemerintah Indonesia dan UP dipulangkan pada 11 Agustus 2011 (media). UP divonis terlibat dan bersalah pada 21 Juni 2012 dan dijatuhi hukuman 20 tahun kurungan penjara.

Saat ini UP ditahan di lembaga pemasyarakatan kelas 1 di kota dekat keluarganya tinggal.

Selama berada di lapas, UP sudah lima kali menjadi petugas pengibar bendera dan menuai kontroversi. Bahkan tidak sedikit dari kelompok radikal menganggap UP telah murtad dan kafir (Mujahid, Yuniarti, 2018). UP menghabiskan waktu di lapas untuk bekerja. Dia bekerjasama dengan kantin lapas untuk ikut mendistribusikan barang-barang kebutuhan sehari-hari di blok tempatnya di tahan (Mujahid, Yuniarti, 2018). Selain berjualan kelontong, UP juga memiliki kantin. Masakan andalannya adalah sate ayam yang sempat dicicipi oleh kepala BNPT Suhardi Alius saat berkunjung ke lapas tempatnya ditahan (Susilowati, 2017).

4. Profil YS

YS belum pernah melakukan aksi pengeboman di Indonesia. Dia terkena UU Terorisme karena menyembunyikan bahan peledak yang awalnya dia pikir akan gunakan di Ambon (D4:YS:81; 39:64572-65243).

Kepedulian terhadap Islam sudah terlihat sejak muda (D4-YS-30:50609-51005). Menurutnya di partai politik maupun ormas yang ada seperti NU dan Muhammadiyah belum ada askarinya, “kalau politik iya, PKU ha.. NU, Partai 4 tapikan tidak ada sisi askarinya tapi kalau hamas ada bentuk perlawanan partai, ada perlawan, ada sisi, itu yang minimal jadi miniatur contoh kepengennya seperti itu.” (D4-YS-71:87530-87736)

60

Pencarian identitas YS dimulai dengan ditawari masuk HTI (D4-YS-67:89735-90103)

Dokumen terkait