PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk hidup yang berakal akan selalu berusaha meningkatkan kualitas hidupnya, terutama sejak mengenal peradaban ribuan tahun yang lalu. Peningkatan kualitas hidup ini terutama berkaitan dengan masalah kesejahteraan manusia yang akan diperjuangkan terus sampai akhir zaman nanti. Usaha peningkatan kualitas hidup manusia merupakan persoalan semua bangsa di dunia ini. Akan tetapi, dalam usaha meningkatkan kualitas hidup ini tidak semua bangsa memiliki modal dan kesempatan yang sama untuk memulai dan mencapai tingkat kualitas hidup yang diinginkan.
Masalah modal dan kesempatan yang dimaksud adalah faktor utama dalam usaha untuk mendapatkan kualitas hidup atau singkat kesejahteraan manusia, yaitu masalah Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh setiap bangsa. Modal dan kesempatan yang tidak sama inilah yang menjadikan adanya ketidakseimbangan kualitas hidup antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Ketidakseimbangan ini juga yang menjadi penyebab kerusakan bumi, melalui penjarahan, eksplorasi dan eksploitasi Sumber Daya Alam yang tak terkendali dan juga melalui peperangan. Masalah yang sering muncul dalam pengelolaan sumber daya alam adalah berbagai dampak negatif yang mengakibatkan manfaat yang diperoleh dari sumber daya sering tidak seimbang dengan biaya sosial yang harus ditanggung. Pada dasarnya masalah ini timbul karena beberapa sumber daya alam dikategorikan sebagai barang publik (public
goods) di mana timbulnya konsumsi yang berlebihan (over consumption) akan
terjadi. Untuk itu pemahaman terhadap sifat-sifat barang publik perlu diketehui terlebih dahulu.
Masalah lingkungan timbul dari hasil interaksi antara aktivitas ekonomi manusia dan sumber daya alam, atau secara lebih tepat adalah adanya mekanisme permintaan akan lingkungan dan suplai atau penawaran lingkungan. Interaksi yang tidak seimbang dan harmonis antara kedua aspek tersebut bisa menyebabkan terjadinya problema lingkungan. Tingginya permintaan sumber daya lingkungan yang tidak bisa didukung oleh ketersediaan dan suplai sumber daya lingkungan akan menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap lingkungan yang berlebihan yang akhirnya bisa mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan.
Masalah lingkungan berawal dari adanya permintaan penduduk akan barang dan jasa, selanjutnya mengakibatkan meningkatnya permintaan SDA. Permintaan manusia terhadap alam adalah beragam seperti energi, makanan, mineral, rekreasi, ruang yang nyaman, ruang pengembangan tanaman dan hewan, ruang udara dan air serta ruang kehidupan yang seimbang. Melalui kegiatan ekonomi, sumber daya alam tersebut dieksploitasi untuk menghasilkan barang dan jasa. Meningkatnya kesejahteraan ekonomi diikuti pula oleh meningkatnya daya beli masyarakat mengakibatkan meningkatnya permintaan atas jumlah dan kualitas barang dan jasa, yang akhirnya meningkat pula permintaan akan SDA. Kalau eksploitasi sumber daya tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, tapi diikuti oleh usaha lain untuk melestarikannya maka daya dukung alam (suplai lingkungan) akan menjadi berkurang. Untuk melakukan alokasi sumber daya yang efisien dan berwawasan lingkungan perlu didukung oleh mekanisme pasar dan kebijakan atau kehendak politik pemerintah. Jika dua mekanisme ini tidak berpijak pada pembangunan yang berwawasan lingkungan akan mengakibatkan timbulnya masalah lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial.
Dalam ilmu ekonomi terjadinya kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan manusia secara spesifik disebut sebagai eksternalitas. Makalah ini bertujuan membahas eksternalitas lingkungan dari sudut pandang teori ekonomi, mulai dari konsep dasar, dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian, serta kebijakan untuk mengurangi eksternalitas lingkungan. Dalam bab ini akan membahas mengenai eksternalitas dan problema lingkungan.
URAIAN MATERI
Problema lingkungan adalah sangat kompleks karena menyangkut dimensi ruang dan waktu. Masalah lingkungan bisa berdampak lokal atau setempat, wilayah tertentu, daerah, negara, internasional bahkan global. Masalah lingkungan juga ada yang berdampak dini atau jangka pendek, jangka menengah maupun dalam jangka panjang. Kompleksnya masalah lingkungan ini ditambah lagi dengan karakteristik masalah lingkungan yang spesifik, misalnya adanya masalah lingkungan yang tidak bisa dideteksi dengan jelas sumber dan kontribusinya “polusi tidak jelas tuannya”. Keberadaan masalah lingkungan yang kompleks ini menjadikan penanganan masalah lingkungan membutuhkan pendekatan yang integratif dan komprehensif atau holistic baik antar disiplin ilmu maupun antar pihak-pihak (institusi) terkait (pemerintah dan pelaku ekonomi) serta partisipasi masyarakat luas.
Masalah lingkungan muncul dari aktivitas ekonomi yang mempunyai dampak eksternal yang negatif atau merugikan. Masalah lingkungan tersebut umumnya merupakan barang publik. Oleh karena itu, keberadaan eksternalitas itu menjadi penting untuk dikaji serta keterkaitannya dengan barang publik ini.
Konsep eksternalitas ini pertama muncul sebagai ekonomi eksternal dari prinsip-prinsip ekonomi yang dikemukakan oleh Alfred Marshall kurva penawaran yang menurun (downward sloping supply curve) dari industri kompetitif. Secara praktis, dampak lingkungan atau eksternalitas timbul ketika satu variabel yang dikontrol oleh suatu agen ekonomi tertentu mengganggu fungsi utilitas (fungsi kegunaan) agen ekonomi yang lain. Dalam pengertian lain, efek samping atau eksternalitas terjadi ketika kegiatan konsumsi atau produksi dari suatu individu atau perusahaan mempunyai dampak yang tidak diinginkan terhadap utilitas atau fungsi produksi individu atau perusahaan lain. Eksternalitas itu bisa juga merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak ketiga yang diakibatkan oleh dari suatu kegiatan transaksi atau kegiatan ekonomi tertentu. Namun, dalam pembahasan ekonomi berwawasan lingkungan lebih terfokus pada dampak yang negatif.
Sedangkan menurut (Sankar, 2008). Eksternalitas timbul ketika beberapa kegiatan dari produsen dan konsumen memiliki pengaruh yang tidak diharapkan (tidak langsung) terhadap produsen dan atau konsumen lain. Eksternalitas bisa positif atau negative. Eksternalitas positif terjadi saat kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok memberikan manfaat pada individu atau kelompok lainnya. Perbaikan pengetahuan di berbagai bidang, misalnya ekonomi, kesehatan, kimia, fisika memberikan eksternalitas positif bagi masyarakat. Eksternalitas positif terjadi ketika penemuan para ilmuwan tersebut tidak hanya memberikan manfaat pada mereka, tapi juga terhadap ilmu pengetahuan dan lingkungan secara keseluruhan. Adapun eksternalitas negatif terjadi saat kegiatan oleh individu atau kelompok menghasilkan dampak yang membahayakan bagi orang lain. Polusi adalah contoh
eksternalitas negatif pada saat perusahaan tersebut membuang limbahnya ke sungai yang berada di sekitar perusahaan. Penduduk sekitar sungai akan menanggung biaya eksternal dari kegiatan ekonomi tersebut berupa masalah kesehatan dan berkurangnya ketersediaan air bersih. Polusi air tidak saja ditimbulkan oleh pembuangan limbah pabrik, tapi juga bisa berasal dari penggunaan pestisida, dan pupuk dalam proses produksi pertanian.
Secara umum eksternalitas didefenisikan sebagai dampak (positif atau negatif), atau dalam bahasa formal ekonomi sebagai net cost atau benefit, dari tindakan satu pihak terhadap pihak lain. Lebih spesifik lagi eksternalitas terjadi jika kegiatan produksi atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi utilitas (kegunaan) dari pihak lain secara tidak diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi terhadap pihak yang terkena dampak. Eksternalitas merupakan fenomena yang kita hadapi sehari-hari, yang tidak hanya terbatas pada pengelolaan sumber daya alam. Pidato yang terlalu lama, jalan yang macet, musik yang terlalu keras, asap rokok yang kita hirup dari orang lain yang merokok, adalah beberapa contoh dari eksternalitas yang kita alami sehari-hari.
Eksternalitas lingkungan sendiri didefinisikan sebagai manfaat dan biaya yang ditunjukkan oleh perubahan lingkungan secara fisik hayati (Owen, 2004). Polusi air yang telah dijelaskan di atas termasuk ke dalam eksternalitas lingkungan, dimana polusi tersebut telah merubah baik secara fisik maupun hayati sungai yang ada di sekitar perusahaan tersebut. Selain polusi air perubahan lingkungan lain dapat dilihat dari definisi lingkungan dalam The Environment
The Environment (Protection) Act, 1986 defines environment to include ‘water, air and land and the interrelationship which exists among and between
water, air and land, and human beings, other living creatures, plants, microorganisms and property’. (Sankar, 2008)
Adapun polusi atau pencemaran itu sendiri berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997 : Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 ayat 12, adalah sebagai berikut.
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya;
Berdasarkan pengertian lingkungan di atas, selain air, udara, dan juga tanah, serta hubungan timbal balik di antara air, udara, dan tanah dapat berpotensi mengalami eksternalitas lingkungan. Adanya asap dan konsentrasi bahan-bahan beracun serta global warming merupakan contoh dari polusi udara. Adapun sampah tidak berbahaya dan limbah beracun merupakan contoh dari polusi tanah. Polusi limbah beracun jelas berbahaya dan merupakan masalah serius, sedangkan sampah rumah tangga merupakan masalah polusi juga, apalagi jika sampah tersebut dibuang ke sungai atau ke tempat yang tidak semestinya. Emisi gas rumah kaca menyebabkan global warming, yang dihasilkan dari emisi karbon dioksida, methane, nitrus oxida, dan gas lainnya.
Hubungan antara eksternalitas dengan barang publik adalah dua cara pandang yang berbeda dalam melihat masalah yang sama. Eksternalitas yang positif melahirkan barang publik “positif”, sementara eksternalitas negatif
melahirkan barang publik “negatif”. Artinya, jika eksternalitas negatif tidak diproduksi, maka akan menghasilkan barang publik. Sebagai contoh, jika anda semua berhenti merokok (merokok akan menghasilkan eksternalitas negatif), akan dihasilkan udara bersih yang merupakan barang publik. Jika pemerintah membuat jalan yang bagus, menjaga lingkungan atau membuat negara ini aman, yang semuanya termasuk kategori eksternalitas positif, akan dihasilkan barang publik di mana kita semua bisa menikmatinya. Karena eksternalitas menyangkut kedua belah pihak, yakni produsen dan konsumen, maka eksternalitas bisa terjadi dari konsumsi ke konsumsi, ke produksi dan juga sebaliknya. Tipe eksternalitas ini disebut sebagai eksternalitas teknologi (technological externalities) karena adanya perubahan konsumsi atau produksi oleh suatu pihak terhadap pihak lain yang lebih bersifat teknis.
Tipe eksternalitas lainnya adalah apa yang disebut sebagai eksternalitas
pecuniary (pecuniary ekternalities). Eksternalitas ini terjadi karena adanya
perubahan harga dari beberapa input maupun output. Dengan kata lain, eksternalitas ini terjadi manakala aktivitas ekonomi seseorang mempengaruhi kondisi finansial pihak lain. Sebagai contoh, meningkatnya penjualan furnitur akan menyebabkan meningkatnya harga kayu yang akan mempengaruhi kemampuan daya beli maupun kesejahteraan (welfare). Dari konsumen bahan bangunan ataupun konsumen lain yang memanfaatkan kayu. Eksternalitas ini biasanya tidak menyebabkan perubahan teknologi produksi dan tidak harus menimbulkan alokasi sumber daya yang salah.
Harwick dan Olewiler menggunakan terminologi lain untuk menggambarkan eksternalitas. Keduanya membedakan eksternalitas privat dan eksternalitas publik. Eksternalitas privat melibatkan hanya beberapa individu, bahkan bisa bersifat bilateral dan tidak menimbulkan spill over (limpahan) kepada pihak lain. Sementara itu, eksternalitas publik terjadi manakala barang publik dikonsumsi tanpa pembayaran yang tepat. Karena sifat barang publik sebagaimana yang telah disebut, pemanfaatan oleh satu pihak meskipun tidak mengurangi kuantitas untuk dimanfaatkan oleh pihak lain, namun bisa saja kualitas barang publik tersebut berkurang. Misalnya, jalan raya adalah barang publik. Pemanfaatan oleh semua pihak tidak mengurangi jumlah jalan yang digunakan, namun kemacetan yang ditimbulkan merupakan gambaran penurunan kualitas dari barang publik tersebut. Dan kemacetan inilah yang kemudian dikenal sebagai eksternalitas publik.
Semua konsep eksternalitas yang telah kita bicarakan di atas merupakan konsep eksternalitas statis karena tidak adanya keterlibatan variabel waktu di dalamnya. Eksternalitas juga bisa dilihat dari sisi dinamik dengan melihat aspek inter temporal dari dampak yang ditimbulkan. Pemahaman eksternalitas erat kaitannya dengan efisiensi alokasi sumber daya. Efisiensi alokasi sendiri terkait dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement). Sumber daya bisa saja dialokasikan melalui berbagai pengaturan kelembagaan seperti kediktatoran (dictatorship), perencanaan terpusat (central planning), atau melalui mekanisme pasar (free market). Teori ekonomi standar mengatakan bahwa meskipun pengaturan kelembagaan selain free market bisa saja menghasilkan alokasi yang efisien, namun hanya mekanisme pasar (free market) yang menghasilkan alokasi
yang efisien dan optimal (sering juga disebut sebagai Pareto Optimal). Dengan kata lain, jika pasar tidak eksis, alokasi sumber daya tidak akan terjadi secara efisien dan optimal.
Sumber daya alam, dalam beberapa hal tidak ditransaksikan dalam mekanisme pasar atau mekanisme pasar bekerja secara tidak sempurna (incomplete). Pencemaran udara misalnya, adalah contoh bagaimana transaksi pasar tidak terjadi, karena jika mekanisme pasar bekerja secara sempurna, pelaku penyebab pencemaran udara tersebut seharusnya membayar konpensasi terhadap masyarakat yang terkena pencemaran. Dengan kata lain, kegagalan pasar adalah cerminan sifat sumber daya alam yang dalam beberapa hal menjadi barang publik. Jadi, barang publik, eksternalitas,, dan kegagalan pasar (market failure), adalah satu mata rantai yang sering timbul dalam pengelolaan sumber daya alam.
Efisiensi alokasi sumber daya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu, jika aktivitas dan tindakan individu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mmepunyai dampak baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Dampak lingkungan atas eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi agen ekonomi yaitu :
1. Efek atau dampak satu produsen kepada produsen lain (effect of producers
on other producers)
2. Dampak atau efek samping kegiatan produksi terhadap konsumen (effects
of producers on consumers)
3. Dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of
4. Dampak atau efek konsumen terhadap produsen (effects of consumers on
producers).
Eksternalitas terkait dengan hak kepemilikan, maka solusi terhadap eksternalitas juga terkait dengan pengukuhan hak pemilikan. Secara umum ada beberapa tindakan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya eksternalitas, yakni memberikan hak pemilikan (assingning property rights), internalisasi, dan pemberlakuan pajak (Pigouvian tax).
Pengendalian eksternalitas dengan pemberian hak pemilikan akan sangat tergantung pada biaya transaksi. Sebagaimana dijelaskan oleh teori Coase, jika biaya transaksi positif maka :
a. Pemberian hak pemilikan akan mengurangi masalah eksternalitas namun tidak akan menghilangkannya.
b. Pemberian hak pemilikan untuk mengurangi eksternalitas akan efektif apabila pihak-pihak yang terlibat saling mengetahui benar satu sama lain.
c. Pemberian hak pemilikan akan meningkatkan kesejahteraan pemilik sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya eksternalitas.
Jadi perlu diperhatikan bahwa pemberian hak pemilikan tidak sepenuhnya menghilangkan eksternalitas, hanya meningkatkan manfaat dari pertukaran (gains
from trade) atas eksternalitas. Pemberian hak pemilikan merupakan salah satu
langkah efektif untuk mengurangi eksternalitas jika kita tahu persis siapa yang melakukan eksternalitas. Dengan demikian, kerusakan bisa dihitung dan tawar-menawar (bargaining) bisa dilakukan sehingga eksternalitas bisa dikurangi, karena pemberian hak akan meningkatkan gains (manfaat ekonomi) dari salah satu pihak dengan menurunkan gains dari pihak lain.
Salah satu tipologi eksternalitas yang sering menjadi perhatian dalam ilmu ekonomi adalah eksternalitas teknologi yang melibatkan konsumsi dan produksi. Meski kedua jenis eksternalitas ini bisa menimbulkan eksternalitas positif maupun negatif, namun demikian dalam pembahasan ekonomi sumber daya sering kali menjadi perhatian serius adalah eksternalitas negatif. Untuk mengetahui bagaimana respons terhadap eksternalittas negatif ini, berikut adalah contohnya. Misalkan ada dua kegiatan, yang satu adalah perusahaan penambangan emas tradisional yang berbasis di hulu dan yang lain adalah perikanan (misalnya karamba) yang berbasis di hilir. Keduanya menggunakan satu sumber daya alam (sungai) sebagai faktor yang menghubungkan kedua kegiatan ekonomi tersebut. Perusahaan penambang tradisional, kita sebut saja G memproduksi emas (g) dan bahan pencemar mercuri (x) yang dibuang ke sungai. Usaha perikanan F menghasilkan ikan (f), namun dalam produksinya tergantung dari adanya polutan yang dibuang oleh industri G. Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa fungsi biaya dari usaha perikanan sebagai Cf(f, x), artinya biaya produksi dari usaha perikanan akan tergantung dari banyaknya ikan dan banyaknya bahan pencemar. Diasumsikan bahwa kedua kegiatan tersebut bertujuan memaksimumkan keuntungan.