• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

5. Deskripsi Metode Tugas Perorangan

Tabel 20. Jangka Waktu Penggunaan Metode Tugas Perorangan Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak Pernah 4 4.2 4.2 4.2

Pernah 25 26.3 26.3 30.5

Sering 42 44.2 44.2 74.7

Selalu 24 25.3 25.3 100.0

Total 95 100.0 100.0

Hasil analisis kuesioner dari 95 siswa dapat diketahui jumlah metode pembelajaran tugas perorangan yang dialami sebagai berikut: sebanyak 4 siswa tidak pernah mengalami metode tugas perorangan dengan valid persentase 4,2%, 25 siswa pernah mengalami metode tugas perorangan dengan valid persentase

26,3%, sebanyak 42 siswa sering mengalami metode tugas perorangan dengan valid persentase 44,2%, dan sebanyak 24 siswa selalu mengalami metode tugas perorangan dengan valid persentase 25,3%. Maka diagram penggunaan metode tugas perorangan seperti di bawah ini:

Diagram tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian besar siswa sering mengikuti metode diskusi dengan jumlah siswanya adalah 42 siswa dan persentasenya sebesar 44,2%.

b. Kualitas Penggunaan Metode

Tabel 21. Kualitas Penggunaan Metode Tugas Perorangan Kriteria Interval Kategori Frekuensi Persentase

4 22,76 - 28 Sangat Setuju 39 41,1%

3 17,51 - 22,75 Setuju 40 42,1%

2 12,26 – 17,50 Tidak Setuju 11 11,6%

1 7 – 12,25 Sangat Tidak Setuju 1 1,1%

0 Tidak Menjawab 4 4,2%

Dari hasil analisis data diperoleh sebanyak 39 siswa sangat setuju dengan metode tugas perorangan dengan persentase sebesar 41,1%, 40 siswa setuju dengan

Diagram 8. Jangka Waktu Penggunaan Metode Tugas Perorangan

Tidak Pernah Pernah Sering Selalu

persentase sebesar 42,1%, sebanyak 11 siswa tidak setuju dengan persentase sebesar 11,6%, sebanyak 1 siswa yang sangat tidak setuju dengan persentase sebesar 1,1%, dan sebanyak 4 siswa yang tidak menjawab karena pada nomor sebelumnya mereka menjawab tidak pernah mengikuti metode tugas perorangan.

Maka bentuk diagramnya seperti di bawah ini:

Diagram tersebut menggambarkan bahwa jumlah siswa terbesar terdapat pada siswa yang setuju dengan metode tugas perorangan. Jumlah siswa yang sangat setuju sebanyak 40 siswa dengan persentase sebesar 42,1%.

Tabel 22. Rangkuman dari Kualitas Penggunaan Metode Tugas Perorangan Diagram 8. Kualitas Penggunaan Metode Tugas

Perorangan

SS S TS STS TM

Statistics

N Valid 95

Missing 0

Mean 20.9684

Std. Error of Mean .58794

Median 22.0000

Mode 21.00

Std. Deviation 5.73057

Variance 32.839

Range 28.00

Minimum .00

Maximum 28.00

Sum 1992.00

Hasil pengolahan SPSS 16 ini diperoleh mean sebesar 20,9684, median sebesar 22, mode sebesar 21, nilai terendah sebesar 0 dan nilai tertinggi sebesar 28.00. Dari nilai rata-rata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode tugas perorangan memiliki kualitas yang cukup baik, dengan melihat tabel PAN di bawah ini:

Tabel 23. Penilaian Acuan Norma Metode Tugas Perorangan Skala Huruf Kriteria Rumus Acuan Norma Batas Bawah

A Amat Baik mean + 1,5 SD 29.56427411

B Baik mean + 0,5 SD 23.83370541

C Cukup Baik mean - 0,5 SD 18.1031367

D Tidak Baik mean - 1,5 SD 12.37256799

c. Hasil Wawancara

1) Jangka Waktu Penggunaan Metode

Wawancara yang dilakukan pada 13 responden, terdapat 8 responden yang mengatakan sering, 3 responden mengatakan selalu dan 2 responden yang mengatakan pernah. 8 responden yang mengatakan sering yakni R1, R2, R3, R7, R8, R10, R11, dan R12. Dari 8 responden yang mengatakan sering ada dua responden yang memberikan sedikit penjelasannya yaitu R7, R8 dan R11. Metode tugas perorangan ini sering digunakan oleh R8 untuk tugas di rumah atau PR.

Begitu juga dengan R11, ia sering mengerjakan PR, mengerjakan soal latihan dan maju doa. R7 menjelaskan lagi bahwa:

Untuk tugas perorangan saya jarang memberikan soal-soal dari buku.

Kadang saya membuat observasi. Misalkan tentang pelajaran membutuhkan orang lain. Saya suruh mengamati, bagaimana kalau saya di rumah, sikap saya terhadap ibu seperti apa. Atau Misalkan tentang perhatian. Saya meminta mereka mengamati orang yang berada di pinggir jalan atau pengemis. Apa yang kamu tangkap dari situasi tersebut? Terus saya ajak mereka untuk berempati. Kalau saya di posisi dia , apa yang akan saya rasakan. Jiwa solidaritas itu akan tumbuh.

R4, R5 dan R13 pernah mengalami metode tugas perorangan. R5 menjawab soal penilaian individu dan R6 diberi tugas membuat kliping. Bagi R6, hampir setiap kali pembelajaran agama diberi tugas perorangan. Setiap materi tersebut ada tugasnya di dalam buku Jamrut (R9, 29 Mei 2020).

2) Kualitas Penggunaan Metode

Responden yang mengisi kuesioner sebagian besar pernah mengalami metode tanya jawab. Dari nilai rata-rata yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa metode tugas perorangan merupakan metode yang memiliki kualitas cukup baik.

Hasil wawancara juga mengatakan demikian. Berikut ini hasil wawancara yang berkaitan dengan metode tugas perorangan.

a) Kelebihan Metode Tugas Perorangan

Pada saat wawancara dengan para responden ada tiga responden yang mengatakan bahwa metode tugas perorangan ini melatih siswa untuk bertanggung jawab yaitu R1, R3 dan R6. R1 mengatakan bahwa metode tugas perorangan, mengajak dan melatih siswa untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya. Bagi R12 mengerjakan tugas dapat mengajarinya untuk tanggung jawab dan disiplin. Dia juga bisa mengembangkan kreativitasnya saat mengerjakan tugas, dan semakin paham dengan materinya. Tugas yang diberikan guru kadang mudah kadang sulit. Kadang ia merasa agak bingung dengan tugas yang diberikan. Sebab terkadang aturan pengerjaan tugas tidak dijelaskan. Tetapi ia tetap semangat belajar saat mengerjakan tugas. Begitu juga dengan R3 yang mengatakan siswa menjadi lebih tanggungjawab. Siswa terlatih untuk lebih mandiri dalam mengerjakan tugas dan bisa mengekspresikan kemampuannya secara total untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru (R3, 28 Mei 2020). Selain itu juga bisa membantu guru dalam penilaian secara mandiri untuk siswa.

R5 dan R6 merasa senang mengikuti metode tugas perorangan, karena saat mengerjakan tugas R5 bisa menjawab pertanyaan dengan jujur dan baik. Sedangkan R6 bisa mencari jawaban di buku dan bisa mendapatkan nilai sesungguhnya tanpa bantuan dari teman-temannya. Baginya tugas yang diberikan secara terus menerus membuatnya menjadi jauh lebih pintar. Begitu juga dengan R7 yang mengatakan bahwa siswa mampu berusaha sendiri. Tugas yang dikerjakan tersebut dipresentasikan. Tujuannya untuk saling melengkapi.

Sebagai seorang guru, R8 bisa mengetahui pemahaman siswa akan materi sebelumnya dengan pemberian tugas. Metode ini juga sangat efektif, mengingat

pertemuan di kelas hanya 2 JP. Siswa bisa mengerjakan tugas di rumah, karena pertanyaan dari tugas harian masih dalam taraf yang mudah. Hal ini dikarenakan tugas yang diberikan hanya membantu siswa untuk belajar di rumah tetapi tidak membebani mereka (R9, 29 Mei 2020). Ada kalanya, R9 meminta siswa untuk berkreativitas seperti membuat poster atau gambar.

Pada saat R10 mengerjakan tugas sendiri, ia akan semakin mengingat pembelajaran sebelumnya. R13 akan mengerjakan dengan serius, fokus dan konsentrasi karena dipantau oleh guru. Saat mengerjakan tugas, terkadang ia meminta bantuan, karena ada soal yang tidak dimengertinya. Berbeda dengan R10, R11 merasa kesulitan, tergesa-gesa dan deg-degan saat mengerjakan tugas karena takut salah. Sedangkan berdasarkan pengalaman R4, biasanya siswa tidak boleh melihat buku atau catatan saat mengerjakan tugas, karena tugasnya berkaitan dengan pelajaran sebelumnya. Pengerjaan tugas bisa dilakukan di sekolah dan bisa juga dilakukan di rumah. Pertanyaan yang diberikan guru bervariasi dan ada penjelasan untuk mengerjakan tugas. Dengan begitu R4 (28 Mei 2020) semakin memahami materinya karena mengerjakan sendiri dan soal yang diberikan bervariasi.

b) Ketercapaian Tujuan Pembelajaran

Semua responden yang diwawancarai mengatakan bahwa metode tugas perorangan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. R3 mengatakan bahwa:

Kalau saya secara pribadi sebagai guru dari murid-murid saya, untuk metode pemberian tugas secara perorangan ini sangat membantu anak mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya dari aspek spiritualitas dan sosial

itu saya biasanya memberikan kepada anak-anak semacam buku pantau.

Buku pantau itu berisi kegiatan anak-anak selama mereka mengikuti kegiatan di gereja, di lingkungan mereka, atau di masyarakat, itu bisa terpantau dan saya bisa melihat dalam penilaian itu pencapaian tujuan pembelajaran di bidang spiritualitas dan sosial bisa terlihat. Tugas perorangan nanti dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang bersifat pengetahuan itu juga lebih bisa digunakan. Misalnya dengan lembar kerja siswa yang diberikan, soal-soal dan tugas-tugas yang lain. Itu sangat memberikan masukkan dan bisa menjadi tolak ukur pencapaian tujuan pembelajaran di bidang pengetahuan. Untuk di bidang keterampilan juga sangat bisa dilihat pencapaian tujuannya karena anak-anak dengan tugas perorangan ini akan menunjukkan sejauh mana mereka bisa mencapai keterampilan yang mereka terima dan mereka lakukan, mereka terapkan sesuai dengan materi-materi pembelajaran yang saya berikan.

Menurut R1, ketercapaian tujuan pembelajaran bisa dilihat dari bertambahnya pengetahuan siswa, karena bisa mengerjakan tugas dengan internet maupun bertanya pada orang yang lebih berpengalaman. R12 bisa mengembangkan kreativitas dan kecerdasan dalam menyelesaikan tugas. Tidak hanya itu saja, metode tugas perorangan dapat melatih daya ingat siswa (R13).

Siswa menjadi lebih serius dalam mengerjakan tugas (R4, 28 Mei 2020).

Bagi R5, siswa bisa menjawab pertanyaan dengan jujur dan bisa menambah ilmu pengetahuannya saat mengerjakan tugas secara individu. Mereka bisa menulis, mencari jawaban dan menghafal materi pembelajaran (R11, 22 Mei 2020). Tugas yang diberikan tidak hanya dikerjakan di sekolah saja tetapi juga dikerjakan di rumah karena waktunya lebih panjang dan bisa mencari jawaban dari berbagai sumber. Metode tugas perorangan inilah yang membuat R6 merasa senang karena bisa giat lagi membaca buku. Walaupun bagi R9 , masih ada siswa yang belum bisa mencapai tujuan pembelajaran karena keterbatasan daya pikir mereka sendiri dan daya pikir orang tuanya.

6. Deskripsi Wawancara tentang Metode yang Lebih Diinginkan Siswa