HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Aspek Kelayakan Bahasa
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi Modul Digital
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru (Mulyasa, 2008: 43). Sejalan dengan pendapat dari Mulyasa, Nasution (2005: 205), mendefinisikan modul merupakan suatu unit yang lengkap, berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Berdasarkan uraian pendapat dari pendapat Mulyasa dan Nasution dapat disimpulkan bahwa modul merupakan suatu bahan ajar yang disusun, dirancang dengan sistematis dan terarah untuk membantu mahasiswa agar dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan masing-masing mahasiswa tanpa terlalu bergantung pada bimbingan dosen.
Evaluasi dan penilaian terhadap modul digital yang dibuat oleh peneliti menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2008: 28), penilaian kualitas modul yang dikembangkan mencakup (1) komponen kelayakan isi/materi, (2) komponen kelayakan penyajian, (3) komponen kelayakan bahasa, (4) komponen kelayakan kegrafikan. Modul digital yang peneliti susun berpedoman pada empat aspek menurut Departemen Pendidikan Nasional. Berikut akan diuraikan deskripsi modul sesuai dengan empat aspek kualitas modul.
Materi dalam modul digital pembelajaran Membaca Kritis untuk Mahasiswa disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Modul
digital pembelajaran membaca kritis ini bertujuan agar mahasiswa mampu mengevaluasi atau menilai secara kritis teks cerita rakyat tradisional Jawa Tengah yang dibaca. Namun, sebelum masuk ke materi membaca kritis, mahasiswa akan dibekali mengenai kegiatan membaca secara umum. Modul digital ini dipetakan ke dalam 2 bab, yaitu (1) Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa dan (2) Membaca Kritis.
Bab I yang berjudul Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa terdiri atas 4 subbab yaitu, (1) Hakikat Membaca, (2) Proses Membaca, (3) Prosedur Membaca, dan (4) Strategi Membaca. Pada bab I lebih menekankan pada pemahaman awal tentang aktivitas membaca dan strategi membaca yang dapat diterapkan dalam kegiatan membaca kritis.
Bab II yang berjudul Membaca Kritis terdiri dari 3 subbab yaitu, (1) Hakikat Membaca Kritis, (2) Keterkaitan Membaca Kritis dan Berpikir Kritis, dan (3) Membaca Kritis Teks Prosa. Pada subbab (1) Hakikat Membaca Kritis dan (2) Keterkaitan Membaca Kritis dan Berpikir Kritis berisi materi yang membahas tentang kegiatan membaca secara kritis. Subbab (3) Membaca Kritis Teks Prosa merupakan kegiatan membaca yang sesuai dengan tahap-tahap membaca yaitu, pramembaca, membaca, dan pascamembaca. Tahap pramembaca merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan membaca yang bertujuan untuk membangun motivasi mahasiswa dan memberi gamabaran tentang topik bahan
bacaan. Pada kegaiatan pascamembaca berisi soal-soal latihan yang mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Pada aspek isi/materi juga dilengkapi dengan aktivitas, aksi, dan tes formatif. Bagian aktivitas merupakan kegiatan membaca yang terdapat latihan-latihan soal yang melatih keterampilan membaca. Bagian aksi merupakan soal-soal yang penerapan teori yang terdapat dalam masing-masing bab. Bagian tes formatif berisi soal-soal pilihan ganda yang berfungsi untuk mengukur ketercapaian materi yang tiap babnya.
Aspek penyajian dalam modul digital pembelajaran Membaca Kritis untuk Mahasiswa terdiri atas bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Bagian
pendahuluan terdiri atas atas kata pengantar, rasional produk, petunjuk penggunaan modul, pendahuluan, dan daftar isi. Rasional produk berisi tentang hasil studi pendahuluan yang sudah dilakukan oleh peneliti yang dijadikan dasar untuk pembuatan modul digital pembelajaran membaca kritis dengan memanfaatkan cerita rakyat tradisional Jawa Tengah. Bagian petunjuk penggunaan modul merupakan instruksi untuk mempelajari modul pembelajaran “Membaca Kritis untuk Mahasiswa”. Setelah itu, terdapat bagian pendahuluan yang menguraikan deskripsi singkat tentang modul digital pembelajaran. Tujuan pembelajaran juga terdapat di awal setiap bab.
Bagian isi terdiri dari dua bab, yaitu (1) Membaca sebagai Keterampilan Berbahasa dan (2) Membaca Kritis Teks Prosa. Setiap pembelajaran terdapat judul bab, gambar ilustrasi, tujuan pembelajaran, peta konsep, materi pokok, contoh, ilustrasi, video, aktivitas, refleksi, aksi, rangkuman, dan tes formatif. Bagian
refleksi berfungsi untuk mengingat kembali tentang apa yang sudah dipelajari. Tes formatif yang terdapat di akhir bab juga dilengkapi dengan kunci jawaban. Kunci jawaban berfungsi untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi setiap babnya. Video yang terdapat dalam modul digital sudah dikaitkan dengan materi atau tema suatu cerita rakyat.
Bagian akhir modul digital terdapat kunci jawaban, glosarium, dan daftar pustaka. Kunci jawaban merupakan jawaban pertanyaan dari tes formaif dan evaluasi. Mahasiswa dapat mencocokkan hasil pekerjaan mereka dengan kunci jawaban yang sudah disediakan. Bagian glosarium merupakan definisi dari beberapa istilah yang mungkin tidak diketahui oleh mahasiswa.
Aspek kebahasaan dalam modul digital pembelajaran Membaca Kritis untuk Mahasiswa menggunakan bahasa yang bersifat akrab (user friendly). Selain itu,
bahasa yang digunakan peneliti bersifat komunikatif. Peneliti juga menyesuaikan bahasa dengan kemampuan tingkat berpikir mahasiswa. Bahasa yang digunakan sedikit kompleks terutama dalam penyajian cerita rakyat. Hal ini karena peneliti menyadari bahwa pengguna atau pemakai modul digital pembelajaran ini adalah seorang mahasiswa.
Pada aspek kegrafikan peneliti menggunakan beberapa jenis tulisan. Peneliti menggunakan aplikasi Coreldraw untuk mendesain kulit muka dan belakang modul. Jenis huruf yang peneliti gunakan pada bagian muka adalah Bernard MT Condensed untuk judul modul, News 706BT judul penelitian, Arial
Black untuk nama penulis. Bagian isi modul peneliti menndesain menggunakan
judul bab dengan ukuran huruf 40. Bagian tujuan pembelajaran, peta konsep, judul subbab penulis memilih jenis huruf Bodoni MT. Ukuran huruf 24 pada bagian tujuan pembelajaran dan peta konsep, untuk judul subbab peneliti memilih 34 sebagai ukuran huruf agar subbab terlihat dengan jelas.
Pada bagian materi peneliti memilih jenis huruf Times New Roman ukuran 12 spasi 1,5. Pemilihan jenis huruf Times New Roman karena peneliti menganggap jenis huruf tersebut mudah dan jelas untuk dibaca. Peneliti membedakan jenis huruf pada bagian cerita rakyat yang disajikan, setiap cerita rakyat peneliti menggunakan jenis huruf Stika Display ukuran 12 dengan spasi 1,5. Peneliti secara konsisten menggunakan jenis-jenis huruf tersebut dalam penulisan modul digital pembelajaran. Bagian sampul belakang peneliti menggunakan jenis huruf Adobe Caslon Pro.
Setelah penulisan modul selesai, peneliti mengubah bentuk dokumen yang semula berbentuk document word menjadi pdf. Bentuk pdf kemudian diedit di aplikasi flipbook. Aplikasi flipbook merupakan aplikasi yang diperuntukkan untuk membuat sebuah buku digital. Peneliti menambahkan video-video yang terkait dengan pembelajaran melalui aplikasi flipbook. Pada bagian daftar isi peneliti juga menambahkan hyperlink disetiap subnya agar pada saat menekan tombol click akan langsung menuju halaman yang diinginkan. Icon rumah yang terdapat pada bagian pojok kanan bawah juga diberi hyperlink oleh peneliti. Jika icon rumah tersebut ditekan tombol click maka akan otomatis kembali menuju daftar isi. Peneliti membuat hyperlink dengan tujuan untuk mempermudah pembaca dalam menjelajahi setiap halaman yang diinginkan.