• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Novel Mr. Maybe

Novel Mr. Maybe ditulis oleh Jane Green, seorang pengarang dua belas novel laris, yang mempunyai kehidupan luar biasa dengan semua hal yang memberikan kehidupan pada para penggemanya, dengan memberikan kebijaksanaan, kecerdasan, dan kehangatan.

Seorang penulis feature Daily Express di Inggris, Green mengambil lompatan ketika ia pergi, pada tahun 1996, untuk bekerja menulis sebuah novel. Tujuh bulan kemudian, ada penawaran untuk buku pertamanya, Straight Talking, kisah seorang gadis karir tunggal mencari orang yang tepat. Novel ini sempat menjadi hit di Inggris, dan Green dapat merebut keberhasilan dalam semalam.

Green berhasil mendapatka keberhasilan yang lebih manis ketika novel keduanya, Jemima J, menjadi bestseller internasional. Cerita ini disebut sebagai cerita cosmopolitan ceria, yang diperbaharui dari cerita Cinderella. Seperti halnya menulis blog harian: www.janegreen.com, ia memberikan kontribusi untuk berbagai publikasi, baik online dan cetak, termasuk Huffington Post, The Self Sunday Times,dan Wowowow. Green juga sangat suka sekali memasak, dia bilang dia hanya memasak makanan yang "sangat mudah, tetapi harus terlihat seolah-olah kita bekerja keras di atas kompor panas selama berjam-jam." Hal ini karena

dia memiliki enam anak, dan telah menyadari bahwa "ketika kita memiliki enam anak, tidak ada yang pernah mengundang kita di mana saja."

Pada akhir pekan, Green akan membuat masakannya untuk minimal dua puluh orang di rumahnya di Westport, Connecticut, di mana dia tinggal bersama suami dan keluarga terpadu mereka. Ketika ia tidak menulis, memasak, mengisi rumahnya dengan teman-teman dan hewan peliharaan mereka, Green biasanya mengisi waktunya itu dengan meminum minuman berkafein.

Pada akhirnya Green dapat memproduksi novel Mr. Maybe pada tahun 1999. Dengan tebal 536 halaman, novel ini pertama kali diterbitkan di Indonesia pada bulan Juni 2005 oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

Ide penulisan novel Mr. Maybe ini di dapat Green dari pengalaman pribadinya, yaitu sebagai cewek materialis, tetapi yang (tentu saja) dirinya sedikit lebih baik mengendalikan sikap materialisnya tersebut dibandingkan Libby, tokoh utama dari novel Mr. Maybe. Green juga mengaku bahwa dirinya sangat jatuh cinta dengan baju-baju mahal karya desaigner-desaigner ternama. Dan demi melakukan research-nya untuk noel Mr. Maybe ini, Green ‘rela’ keluar masuk butik-butik ternama di New York City untuk melihat-lihat, berlaku sebagai model, dan mencoba bebagai koleksi baju-baju terbaru karya designer-desaigner ternama. Dan hal itu terasa bagaikan surga bagi Green.

Menurut Green, pasti ada sedikit “Libby” dalam diri kita semua. Orang akan senang menertawakan kebodohan mereka sendiri, dan siapa yang tidak pernah melakukan ‘kebodohan’ yag dilakukan oleh tokoh Libby dalam novel ini. Libby mungkin adalah sosok yang tidak berpikir panjang dan konyol, tetapi dia

juga seseorang yang penuh dengan kehangatan, menyenangkan dan bersemangat, pintar dan selalu banyak akal.

Banyak pembaca tertawa saat membaca novel Mr. Maybe, dan Green mengaku dirinya juga melakukan hal yang serupa saat menulis novel tersebut. Ketika tulisannya tidak membuatnya tertawa, dari situlah Green mengetahui bahwa tulisannya tidak cukup lucu, lalu dia menulisnya kembali. Hal yang sama terjadi pada akhir cerita, Green haruslah tersenyum lega, dan Green memang telah tersenyum lega saat menulis akhir cerita dari semua bukunya.

Dengan latar belakang pekerjaan sebagai jurnalis dan publisis, Green tidak pernah sebelumnya ‘jatuh cinta’ pada pekerjaannya tersebut. Hal itu karena dirinya tidak pernah merasa tertarik dengan bidang tersebut dan karena dirinya tidak pernah berhasil dengan baik dalam hal mencermati fakta-fakta. Tetapi Green sangat suka menulis. Dirinya sangat suka membaca Novel diwaktu senggang sampai pada suatu hari Green memutuskan untuk mencoba membuat Novel. Dan semakin cepat Green mulai menulis, maka semakin cepat Green mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukannya.

Dalam novel ini, Green hanya ingin menyuguhkan realitas kehidupan “Materialis” di dalam masyarakat kaum elite yang lebih banyak diadopsi oleh kaum perempuan. Green tidak pernah menyangka bahwa bukunya akan sangat sukses, faktanya ketika ia menulis novel ini, Green teringat akan dirinya sendiri. Dan kesadarannya bahwa novelnya telah sukses, datang ketika dia mulai mendapatkan surat dari para pembaca novel tersebut, dengan mengatakan hal yang sama: “I am Libby Mason”. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ditulis

oleh Green adalah realita yang saat ini banyak terjadi dalam masyarakat. Meskipun karyanya banyak bercerita tentang perempuan, Green bukanlah seorang materialis. Dengan masih mengusung tema Kesetaraan Gender atau Pendobrakan Kaum Perempuan terhadap laki-laki, Green menghadirkan sosok Libby yang cantik, pintar, sukses, lajang, mandiri, berani, dan punya karir, namun akan selalu menjadi perempuan yang juga sarat akan masalah.

Novel ini bercerita tentang Libby Mason, atau yang akrab dipanggil Libby, seorang perempuan yang tinggal di Inggris dan mengawali karirnya sebagai seorang PR di Joe Cooper. Libby adalah sosok perempuan yang modis, yang selalu berpenampilan menarik. Baginya, wanita cantik adalah wanita yang selalu mengenakan pakaian bermerk dan mahal. Hal itulah yang menjadikannya sebagai perempuan “Materialis”. Libby sangat gila dengan semua hal serba bermerk yang dapat mengangkat derajatnya dalam pergaulan dan lingkungan di sekitarnya. Hal inilah yang menyeretnya pada suatu kesulitan, yaitu sifat materialis untuk mencapai tujuan hidupnya tersebut.

Di London, Libby tinggal seorang diri di sebuah apartemen mungil yang terletak di ruang bawah tanah di Ladbroke Grove. Benar-benar apartemen paling mugil yang bisa dibayangkan. Tetapi, meskipun Libby tinggal di apartemen itu seorang diri, Libby tidak pernah merasa kesepian, karena selalu ada Jules, yaitu seorang wanita dari keluarga kaya yan juga sekaligus menjadi sahabat sejati Libby. Jules adalah seorang sahabat yang bisa mengerti dan memahami Libby dengan sifat materialis yang dimilikinya. Namun pengertian yang diberikan Jules tidak cukup membantu Libby dalam menyelesaikan “masalahnya”. Libby tetap

saja dikejar-kejar perasaan bimbangnya untuk memilih antara harta dan perasaannya sendiri.

Libby pun mencoba untuk menghilangkan sifat materialis yang ada dalam dirinya tersebut, mulai dari menyusun daftar dampak buruk yang diterima akibat sifat materialisnya tersebut, menghilangkan obsesi untuk bersuamikan seorang yang kaya raya agar dirinya bisa mendapatkan hidup yang sejahtera dan bergelimang harta, hingga komitmen untuk berhenti berbelanja barang-barang bermerk atau baju-baju modis karya desainer ternama. Tapi tidak ada satupun caranya yang berhasil. Libby tetap tidak bisa menghilangkan sifat materialisnya tersebut, dan dirinya semakin terpuruk pada masalah hidup yang semakin hari semakin besar. Libby putus asa, dia tidak tahu lagi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul karena sifat materialis yang dimilikinya tersebut. Dan hidup Libbypun semakin terkatung-katung sampai akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hidupnya secara normal.

Libby selalu menelepon Jules pada malam-malam ketika dirinya ingin jadi “kepompong”, saat dirinya belum siap menghadapi dunia terutama menghadapi berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya. Libby tidak dapat menemukan solusi, hal yang bisa dilakukannya hanyalah terus menerus menghubungi Jules untuk menanyakan solusi tentang masalahnya bahkan terkadang hanya untuk menanyakan hal-hal yang tidak penting. Sampai pada suatu saat Libby dihadapkan pada suatu permasalahan yang dialami oleh sahabatnya sendiri, Jules, yang mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dari tulisan di atas, seperti yang dikatakan oleh DR. Nyoman Kutha Ratna dan dijelaskan oleh Schmidt bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi produksi teks, yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks tertentu, teks itu sendiri dengan berbagai problematikanya, transmisi teks melalui editor, penerbit, toko-toko buku, serta penerima teks itu sendiri. 4 hal tersebut adalah suatu kesatuan utuh yang cukup membuktikan bahwa suatu teks, yang merupakan buah pikiran dari penulis, ternyata memang menggambarkan realita-realita sesungguhnya yang terjadi di dalam masyarakat. Disisi lain, teks telah memberikan gambaran terhadap masyarakat akan suatu perilaku yang sama sekali tidak layak untuk ditiru. Bentuk media yang dipilih serta penerimaan teks juga sangat mempengaruhi berhasil tidaknya suatu teks secara keseluruhan dikomunikasikan kepada masyarakat.

4.2. Wilayah Wacana (Field of Discourse)

Dalam novel Mr. Maybe karya Jane Green ini wilayah wacana lebih difokuskan pada budaya materialis sebagai budaya baru yang kini telah diadopsi oleh hampir seluruh wanita di Indonesia. Dari sekian banyak leksia yang tercantum didalamnya, penulis menemukan 45 leksia yang menjelaskan tentang materialis, dan kesemuanya itu tercantum dalam kalimat tentang adanya tempat-tempat mewah seperti Hanover Terrace, Whistles, Kookai, Agnes B., Waterstone’s, David Wainwright, Nicole Farhi, Clifton, Lansdowne, Queens, Mezzo, Quo Vadis, River Cafe, Marco Pierre White, Daphne’s, Anabel’s, Quiet Storm, Mortons, dan Atlantic Bar. Pakaian-pakaian indah karya desainer Harvey

Nichols, Joseph, Emporio Armani, Gucci, Prada, Yves Saint Laurent, Rifat Ozbek, Donna Karan, dan sebagainya. Dan hal-hal yang telah disebutkan di atas itulah yang akan menjadi pemicu munculnya perilaku materialis dalam diri individu khususnya wanita di dunia.

Dokumen terkait