BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Masjid Jogokariyan
1. Deskripsi Sejarah Berdirinya Masjid Jogokariyan
Menurut hasil wawancara dengan Bapak “Tj” selaku sekretaris takmir masjid Jogokariyan menjelaskan bahwa keberadaan kampung Jogokariyan tidak dapat dipisahkan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nama Jogokariyan sendiri diambil dari salah satu prajurit Keraton yaitu: “Pasukan Jogokaryo”. Pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang, kampung Jogokariyan memiliki peran yang tidak sedikit bagi perlawanan fisik melawan penjajah. Pada masa setelah kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1960-1965, dimana komunis tumbuh subur di Indonesia khususnya pulau Jawa, di wilayah masyarakat Jogokariyan juga terjadi perebutan pengaruh ideologi. Sebagian kecil masyarakat menginginkan komunis hangus dari Indonesia, sedangkan sebagian besar masyarakat yang lain menginginkan komunis tetap hidup di Indonesia. Sebagain kecil masyarakat yang tidak menginginkan keberadaan komunis di tanah air adalah umat Islam. Hal tersebut dikarenakan landasan komunis yakni teori yang tidak percaya pada mitos takhayul dan agama.
Bagi para komunis agama dianggap sebagai “candu”, yakni zat yang membuat orang berangan-angan, yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi). Hal tersebut membawa faham Atheisme
(ketidak percayaan terhadap institusi agama). Oleh karena itu dikhawatirkan para komunis akan memperluas paham atheisme kepada masyarakat. Sedangkan alasan kaum pribumi yang mengikuti aliran komunisme dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan kaum kapitalis dan pemerintah. Mereka mengharapkan kemerdekaan melalui gerakan para komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pertenangan ideologi ini sering menimbulkan konflik fisik, dengan puncaknya yaitu peristiwa G-30-S/PKI. Di Yogyakarta, umat Islam kampung Jogokariyan, dibantu oleh umat Islam kampug Karangkajen saling bahu membahu untuk melawan komunis yang ada pada saat itu dan cukup kuat pendukungnya di Jogokariyan dan akhirnya perjuangan tersebut membuahkan hasil, ajaran komunis dilarang oleh Negara pada tahun 1966.
Akan tetapi faham dan ajaran komunis telah meracuni sebagian umat Islam (masyarakat) Jogokariyan, kekhawatiran akan hidup kembalinya bibit-bibit PKI yang memusuhi Islam terus menghantui tokoh-tokoh Islam Jogokariyan pada waktu itu. Salah satu upaya untuk menjaga ideologi mereka (termasuk anak-cucu) adalah dengan cara umat Islam Jogokariyan harus memiliki masjid yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan sumber aktifitas sosial lainnya. Sebagaimana penuturan Bapak “Tj” berikut: “Pada zaman itu kami khawatir sama ideologi PKI Mbak. Masalahnya akidah masyarakat kecil pada saat itu masih belum kuat. Jadi mudah terpengaruh”.
Berawal dari sebuah langgar kecil yang dibangun pasca peristiwa G30SPKI tersebut yakni tahun 1966 berada persis di tengah-tengah kampung Jogokariyan merupakan cikal-bakal berdirinya masjid Jogokariyan, yaitu atas inisiatif beberapa tokoh islam Jogokariyan. Dalam proses pendirian masjid Jogokariyan tersebut, maka panitia pembangunan masjid dibentuk oleh warga dan dimotori oleh Muhammadiyah ranting Karangkajen.
Seiring berjalannya waktu masjid Jogokariyan tidak hanya digunakan sebagai pusat pengembangan ideologi agama Islam semata, sesuai perkembangan zaman yang semakin kompetitif masjid Jogokariyan tumbuh menjadi pusat studi dalam pengertian yang lebih luas mencakup ranah pendidikan, sosial, ekonomi, politik, budaya bahkan kesehatan. 2. Profil Masjid Jogokariyan
a. Letak, Sasaran Dakwah dan Perkembangan Masjid Jogokariyan Kini masjid Jogokariyan berdiri dengan megah di wilayah Kampung Jogokariyan, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu masjid Jogokariyan bukan lagi sekedar masjid kecil tempat menunaikan ibadah shalat jamaah 5 waktu namun difungsikan juga sebagai Islamic Centre (pusat kegiatan agama islam). Jangkauan dakwah masjid Jogokariyan secara khusus meliputi wilayah kampung Jogokariyan yang berjumlah 3970 jiwa dengan 887 Kepala Keluarga (KK). Namun, pada perkembangannya, cakupan dakwah masjid Jogokariyan meluas seiring dengan perubahan
pengelolaan masjid yang lebih modern. Program-program masjid Jogokariyan semakin diminati masyarakat luas.
b. Visi, Misi dan Slogan Masjid Jogokariyan
Visi masjid Jogokariyan adalah : “Terwujudnya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid”. Sebagai institusi masyarakat yang lahir dari masyarakat, masjid Jogokariyan ingin mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Kesejahteraan yang ingin dicapai bukan sekedar kesejahteraan secara lahiriyah (jasmani) saja melainkan juga kesejahteraan batiniyah (rohani).
Kesejahteraan pada dasarnya merupakan usaha untuk memperjuangkan harkat kemanusiaan yang menempatkan manusia secara terhormat sebagai makluk Tuhan yang paling mulia. Kecukupan pangan, sandang, perumahan kesehatan, keamanan, persaudaraan, dan sebagainya merupakan indikator-indikator awal (yang sederhana) dari pencapaian kesejahteraan dalam arti luas (Ria Suci, 2010: 30). Namun seringkali kemapanan secara material tidak cukup membuat seseorang merasa sejahtera. Karena pada dasarnya manusia selalu menginginkan lebih dari apa yang ia miliki.
Perasaan tidak puas terhadap diri dan apa yang telah dicapai merupakan salah satu indikasi adanya rasa tidak sejahtera secara batiniyah. Perasaan seperti itu seringkali menimbulkan aksi-aksi yang tidak diinginkan diantaranya adalah yang kini tengah begitu kuat
menjangkit masyarakat Indonesia, yaitu korupsi. Oleh karena itu, harus ada kekuatan dari dalam (batiniah) agar manusia dapat secara arif dan bijaksana dalam memandang hidup, yang diantaranya dapat dicapai dengan ajaran agama.
Menyadari hal tersebut masjid Jogokariyan melalui visinya memposisikan diri sebagai fasilitator untuk mencapai kesejahteraan tersebut. Untuk mewujudkan visi tersebut segenap pengurus masjid Jogokariyan (takmir) menyusun berbagai misi, yang diantaranya adalah: 1) Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat
2) Memakmurkan kegiatan ubudiyah (ibadah) di masjid 3) Menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi rohani jama’ah 4) Menjadikan masjid tempat merujuk berbagai persoalan masyarakat 5) Menjadikan masjid sebagai pesantren dan kampus masyarakat
Misi-misi yang telah disusun secara lebih rinci dituangkan ke dalam berbagai program-program pendidikan masyarakat yang dilaksanakan secara nonformal dan dilakukan secara rutin maupun insidental. Bentuk program pendidikan yang dilakukan di masjid Jogokariyan sangat beragam. Pengurus masjid sendiri sangat terbuka pada perkembangan masyarakat atau dalam hal ini secara lebih khusus disebut jamaah. Namun pada dasarnya program-program pendidikan tersebut merupakan kegiatan yang mengandung nilai ubudiyah (ibadah) agama islam.
Sebagai pencitraan segenap takmir membuat slogan-slogan bagi masjid Jogokariyan sebagai bentuk harapan dan tujuan bagaimana masjid Jogokariyan ingin dibentuk ke depannya, pada tahun 2005 slogan yang digunakan adalah “JOGOKARIYAN KAMPUNG ISLAMI”. Slogan tersebut menunjukan bahwa melalui kegiatan di masjid Jogokariyan diharapkan terbentuknya kampung Jogokariyan yang merupan tempat berdirinya masjid Jogokariyan menjadi sebuah kampung yang islami (kehidupan yang sesuai dengan tuntunan agama Islam). Kemudian, setelah slogan tersebut dirasa telah tercapai maka segenap takmir masjid Jogokariyan mengembangkan slogan lainnya yakni pada tahun 2010 ‘masjid Jogokariyan mengangkat slogan ”MENUJU JOGOKARIYAN DARUSSALAM (Gudang Keberkahan)’’. Slogan tersebut dibuat agar masjid Jogokariyan tercitra sebagai masjid yang memperoleh keberkahan dari Tuhan dan dapat memberi keberkahan bagi jamaah khususnya dan masyarakat luas umumnya.
c. Manajemen Masjid Jogokariyan
Dalam melaksanakan kegiatan keseharian masjid Jogokariyan, para takmir tidak serta merta begitu saja melaksanakannya. Pengurus masjid Jogokariyan sudah memiliki manajemen masjid yang sistematik dan rapih. Manajemen masjid Jogokariyan terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1) How to image, Setiap lima tahunnya masjid Jogokariran selalu melakukan pergantian jajaran takmir. Sebelum membuat seluruh rancangan program takmir biasanya mendiskusikan bagaimana masjid Jogokariyan ingin diciptakan. Image atau gambaran mengenai bagaimana masjid Jogokariyan tersebut ingin dilihat oleh jamaah dan masyarakat biasanya tercermin kedalam slogan. Seperti slogan masjid Jogokariyan dalam kepengurusan takmir periode ini (2009-2013) adalah “Masjid Jogokariyan
Darussalam”.
2) How to manage, Manajemen masjid Jogokariyan berpacu pada beberapa prinsip, yakni: melayani, memahamkan, mensosialisasikan dan mempertanggung jawabkan.
3) How to sucsses, langkah-langkah manajemen masjid Jogokariyan adalah :
3. a. Menentukan wilayah dakwah masjid 3. b. Melakukan pendataan jamaah masjid 3. c. Merencanakan kegiatan masjid 3. d. Mensosialisasikan kegiatan masjid 3. e. Membuat laporan kegiatan masjid
d. Struktur Takmir (Pengurus) dan Program-program Masjid Jogokariyan
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak “Tj” selaku sekretaris pengurus inti masjid Jogokariyan dan mas “Bs” selaku sekretaris Biro RMJ (Remaja Masjid Jogokariyan) diketahui bahwa struktur takmir
masjid Jogokariyan terdiri dari: dewan penasihat, pengurus inti dan pengurus biro.
Struktur takmir masjid Jogokariyan dapat dilihat digambar berikut:
Demikian struktur pengurus masjid Jogokariyan periode tahun 2009-2012:
Dewan Penasihat
Ketua : H. Muhammad Musa, BA Anggota : Drs. H Djufri Arsyad
H.M Kasman, BA H. Supriyanto, ST drh. Sudjiman DS, SU
Ketua Takmir : H. Muhammad Jazir ASP Wakil Ketua I : Suharyanto, SE
Wakil Ketua II : M. Fanni Rahman, SIP Wakil Ketua III : Amirudin Hamzah Sekretaris I : Harmaji Suwarno Sekretaris II : Wahyu Tejo R, SE
Gambar 1.
Susunan Pengurus (Takmir) Jogokariyan
Dewan Penasihat
Ketua Umum
Ketua Takmir III Ketua Takmir I Ketua Takmir II
Sekretaris III Sekretaris II
Sekretaris I
Sekretaris III : Lutfi Hidayat,SH Biro-Biro :
1. Biro Pembinaan Hamas (Himpunan Anak Masjid):