BAB III : PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
B. Deskripsi Hasil Penelitian
2. Deskripsi tentang kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan
Kejiwaan oleh Pengasuh Pondok 99
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan dengan pengasuh dan pengurus Pondok 99 di Desa Pandankrajan Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto dapat diperoleh data tentang kendala dalam proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam diantaranya sebagai berikut :
a. Konseling dan terapi hanya dilakukan secara kelompok
Dalam proses pelaksanaan bimbingan dan konseling hanya dilakukan secara kelompok sehingga penangganan secara individu kurang efektif. Proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling secara individu yang belum terlaksana di pondok 99 mengakibatkan penyembuhan yang dilakukan dirasa sangat lambat.
b. Keterbatasan data tentang Klien
Data klien yang dalam hal ini mengenai biodata, latar belakang sosial atau keluarga dan riwayat kesehatan psikis menjadi tambahan informasi yang sangat dibutuhkan bagi seorang konselor mapun terapis. Namun pada Pondok 99 yang menangani para penderita gangguan kejiwaan kurang memiliki data-data tersebut, sehingga pada proses pemberian terapi dilakukan secara bersama-sama karena semua dianggap memiliki kondisi penyakit psikis yang sama atau tidak jauh beda.
125
c. Minimnya pengurus
Pengurus yang berada di Pondok 99 jika dilihat dalam kesehariannya hanya ada 4 sampai 5 orang saja termasuk didalamnya ada pengasuh yang terlibat. Dengan jumlah klien yang mengalami peningkatan dan penurunan yang tidak pasti jumlah pengurus tersebut dirasa sangat kurang jika untuk mengurus dan merawat 30 orang setiap harinya. Hal ini berdampak pada intensifitas dan perhatian khusus pada setiap individual klien yang ada. Padahal pada umumnya satu orang pengurus atau perawat mengurus.
d. Tidak memiliki legalitas resmi kelembagaan
Legalitas resmi kelembagaan secara formal memang sangat penting namun selain itu legalitas juga akan menunjang kualitas pelayanan dan penanganan yang diberikan sebagai tolak ukur orang secara awam. Legalitas juga memiliki kekuatan hukum yang kuat karena terdaftar secara perdata oleh instansi pemerintah sekitar yang memiliki kewenangan publik. Namun, dalam hal ini Pondok 99 tidak memiliki legalitas tersebut, seperti informasi yang penulis dapat hanya mendapat pendataan oleh pihak keamanan setempat dan perangkat pemerintahan setempat sebagai bentuk pelayanan keamanan publik saja.
BAB IV ANALISIS DATA
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif adalah dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengklarifikasi suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan atau menggambarkan variabel yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Adapun analisis data yang diperoleh sebagai berikut:
A. Analisis Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam yang Dilakukan oleh Pengasuh Pondok 99 pada Penderita Gangguan Kejiwaan
Pondok 99 desa Pandankrajan Kemlagi-Mojokerto memiliki seorang pengasuh, pembina dan pengurus pondok yang secara aktif melakukan penanganan dalam rangka penyembuhan penderita gangguan kejiwaan di pondok 99. Pengasuh disini memiliki tanggung jawab secara penuh terhadap semua kegiatan dan penyembuhan semua penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99, sedangkan pembina disini memiliki tanggung jawab dan tugas untuk meneruskan kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh pengasuh utuk di sampaikan kepada pengurus yang ada dan melaksanakannya bersama dengan pengurus. Pengurus disini selain memiliki tugas untuk merawat dan mendampingi para penderita gangguna kejiwaan, juga ikut secara teknis dalam proses pelaksanaan bimbingan konseling berupa terapi-terapi islami di Pondok 99.
Dalam melakukan proses terapi bagi kesembuhan penderita gangguan jiwa, Pondok 99 mewajibkan para santri untuk mengikuti semua bentuk
127
kegiatan yang ada di pondok ini, karena segala kegiatan yang diadakan dan sudah ditetapkan oleh pihak pondok tidak lain itu sebagai pendukung dalam proses penyembuhan para santri penderita gangguan jiwa.
Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam yang diterapkan oleh pengasuh dan pengurus Pondok 99 menggunakan langkah teknik bimbingan kelompok (group guidence) dalam penerapan model terapi islam yang diberikan kepada para penderita gangguan kejiwaan. Pemberian terapi semuanya dilakukan secara kelompok begitu juga kegiatan-kegiatan bagi para penderita gangguan kejiwaan yang ada di Pondok 99. Dalam psikoterapi, pengelompokan ini muncul dari butuhnya suatu kelompok masyarakat kecil, dimana klien dapat berlatih suatu prilaku yang hendaknya dilakukan dan juga hidup secara normal dalam masyarakat kecil tersebut. Dalam dunia islam, lebih dari itu, hal ini juga bertujuan untuk menyelaraskan individu dengan Allah dan sesama manusia. Konsep kelompok dalam ajaran Islam yang menekankan pada nilai cinta kasih, persaudaraan, toleransi.117
1. Analisis Pendekatan Pengasuh Pondok 99 dalam Menangani Penderita Gangguan Kejiwaan
Pendekatan yang gunakan oleh pengasuh Pondok 99 dengan menanamkan psinsip keimanan, yakin, percaya (husnuzon) dan ketakwaan kepada Allah SWT merupakan Metode Kesehatan Islami dan Metode Terapi Islami. Dimana dalam metode kesehatan islam menanamkan keimanan kepada Allah dan ketauhidan atas-Nya serta tidak mensekutukannya. Maka
117
128
konsepsi yang dibangun oleh pengasuh Pondok 99 merupakan bentuk indikasi kesehatan jiwa dalam islam yang memiliki sisi spiritual (keimanan), sisi sosial (sikap husnudzon).118
Seiring dengan keimanan adalah ketakwaan. Dimana dalam hal ketakwaan ini pengasuh Pondok 99 memiliki pandangan ada 5 hal yang harus di ketahui yakni mengingat Allah, mengetahui Allah, menyukai Allah, mendekatkan pada Allah dan berdialog dengan Allah. Maka hal tersebut juga masuk dalam indikasi kesehatan jiwa dalam islam pada sisi spiritualitas yang menjelaskan selalu meresakan kedekatan kepada Allah, memenuhi segala kebutuhan hidupnya dengan cara yang halal, dan selalu berdzikir kepada Allah.119
Sedangkan sumber pengetahan epistemologi penyembuhan yang dilakukan pengasuh Pondok 99 dalam menangani para penderita gangguan kejiwaan menggunakan metodologi dalam psikoterapi Islam yakni Metode
Istiqra’iy, yaitu dari penalaran dan hasil penelitian empirik termasuk dari
barat sejauh tidak bertentangan dengan semangat Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian didapatkan metode terapi psikoterapi Islam antara lain berupa Al- du’a (terapi dengan do’a), Metode dzikir untuk terapi, dan Shalat untuk
terapi.120 Dimana ketiga terapi tersebut juga sebagai langkah penanganan yang dilaksanakan di Pondok 99 dalam rangka penyembuhan bagi para penderita gangguan jiwa.
118
Musfir bin Said Az-Zahrani, hal. 450
119
Musfir bin Said Az-Zahrani, hal. 463
120
129
Dalam terapannya pengasuh Pondok 99 melakukan tahapan dalam psikoterapi islam yakni : 1) tahapan takhalli (mengobati dan membersihkan diri dari segala kotoran, penyakit dan dosa), berupa doktrinitas (terapi iman dan takwa), 2)tahapan tahalli (pengembangan untuk menumbuhkan sifat- sifat yang baik, terpuji dan berbagai sifat yang harus diisikan pada klien), berupa kegiatan-kegiatan yang ada dan terapi dalam bentuk ritual ibadah, 3) tahapan tajalli (peningkatan hubungan dengan Allah),121 berupa terapi
ibadah (shalat berjama’ah, dzikir dan do’a) yang dilakukan secara intensif di
Pondok 99 yang juga sebagai penerapan konsepsi prinsip keimanan dan ketakwaan yang di bangun oleh pengasuh Pondok 99.
2. Analisis Prosedural dan Proses Penanganan pada Penderita Gangguan Kejiwaan di Pondok 99
a. Analisis Terapi Islam dengan Keimanan dan Ketaqwaan
Dalam pelaksanaan terapi ini pengasuh Pondok 99 melakukan sebuah doktrinitas dengan cara ceramah dan berdialog yang dalam psikoterapi islam merupakan tahapan takhalli, dimana pada intinya merupakan penanaman konsepsi keimanan dan ketakwaan sebagai metode pendekatan yang telah dijelaskan diatas. Pelaksanaan terapi seperti ini dalam kajian penelitian ilmiah penyakit pada orang tertentu dapat disembuhkan dengan keimanan kepada Allah, melalui pengobatan yang dikenal dengan istilah faith-based healing.122
121
Isep Zainal Arifin, Bimbingan penyuluhan Islam, hal.42
122
130
Terapi ini dilakukan setelah rangkaian terapi ibadah setelah shalat
berjama’ah. Dalam pandangan psikoterapi islam cara semacam ini
disebut terapi ruhani yaitu melalui berbagai bimbingan penasihatan dan pesan-pesan ajaran agama yang sarat dengan moral, dimana sebagai tindak lanjut dari terapi sufistik (ritual ibadah),123
b. Analisis Terapi Islam dengan Ibadah
Terapi ibadah disini dalam pandanagan psikoterapi Islam merupakan penerapan tahapan tajalli yang mengedepankan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan semacam ini merupakan bentuk terapi amal perbutan yang memiliki tujuan mendapat kegembiraan dan ketenangan dengan pekerjaanya dan tidak memandang waktu akan terbuang sia-sia124 selain itu melatih klien untuk terbiasa melakukan hal-hal seperti orang normal. Dalam konsep psikoteapi islam mengarahkannya sesuai standarisasi definisi prilaku normal merupakan penerapan terapi massa atau kelompok, maka pada dasarnya pribadi mereka di bentuk oleh lingkungan sosial mereka sendiri.
Adapun teknik yang digunakan oleh pengasuh Pondok 99 ini berupa ritual ibadah sebagai terapi. Adapun terapi ibadah yang dilakukan antara lain:
1)Analisis Terapi Shalat Berjama’ah
Secara etimologi sholat mengandung arti berdo’a memohon
kebaikan dan pujian. Sedangkan secara hakikat mengandung
123
Isep Zainal Arifin, Bimbingan penyuluhan Islam, hal.145
124
131
pengertian “berhadap hati (jiwa) kepada Allah dan mendatangkan
takut kepada-Nya, serta menumbuhkan rasa keagungan, kebesaran dan kesempurnaan sang khaliq di dasar jiwa.125 Terapi sholat yang
dilakukan berjama’ah di Pondok 99 selain sebagai langkah ibadah dan
mendekatkan diri kepada Allah juga sebagai bentuk upaya membangun iakatan emosional diantara para penderita gangguan kejiwaan dalam aspek sosial.
Sholat selain memiliki mafaat bagi aspek spriritual ruhaniah juga baik bagi aspek jasmaniah. Dalam sebuah penelitian syaraf kegiatan shalat merupakan manajemen hidup yang baik. Dimulai dari berwudhu atau bersuci seperti yang dilakukan orang gila di Pondok 99
sebelum masuk ke musholah untuk shalat berjama’ah, merupakan
menjaga kondisi syaraf sensoric dan motorik serta mengeluarkan muatan listrik negatif dalam tubuh melalui jemari tangan. Kemudian dalam gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf, mengembalikan posisi syaraf, membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan litrik negatif dalam tubuh.
Ada dua komponen penting dalam shalat bagi kejiwaan yakni rukuk dan sujud. Menurut penelitian ada banyak pembuluh darah pada kepala yang dapat disisi kembali hanya dengan gerakan sujud. darah yang mengalir dari jantung akan memaksimalkan aliran oksigen ke otak, mata, telinga, leher, pundak dan hati. Selain itu saluran syaraf
125
132
memori dapat dijaga kelenturannya dengan gerakan rukuk.126 Maka selain sebagai terapi, sholat disini juga sebagai uapaya menjaga kesehatan jasmaniah para penderita gangguan kejiwan di Pondok 99 dengan cara islami.
2)Analisis Terapi Dzikir
Secara psikoterapis Islam dzikir selain merupan langkah tajalli juga merupaka langkah tahalli, salah satu tekniknya menginternalisasi asmaul husna selain itu dengan tujuan untukuntuk menumbuhkan sifat-sifat yang baik dalam artian kebiasaan untuk mengucap hal baik, seperti bacaan dzikir yang diajarkan oleh pengasuh Pondok 99 yakni seperti bacaan tahlil, tasbih, istighfar dan ya hayyu ya qayyum.
Selain itu tatacara pelaksanaan dzikir yang dilakukan di Pondok 99 akan dapat memperbaiki syaraf dan aliran darah dari mata kaki hingga ujung kaki serta mampu menopang tubuh yang memiliki hubungan dengan syaraf di pangkal kaki127. Selain itu alasan mengapa tatacara pelaksanaan dzikir meletakkan tangan diatas paha dengan kondisi terbuka yakni uktuk mengeluarkan muatan listrik negatif dalam tubuh melalui jemari tangan128 dengan melafalkan bacaan- bacaan dzikir yang telah di ajarkan.
126
A.M Isran, BSC., MBA., PhD., Pedoman Sehat Tanpa Obat dengan Shalat dan Pijat, hal 44-46, 29, 65-67
127
A.M Isran, BSC., MBA., PhD., Pedoman Sehat Tanpa Obat dengan Shalat dan Pijat, hal 70
128
A.M Isran, BSC., MBA., PhD, Pedoman Sehat Tanpa Obat dengan Shalat dan Pijat, hal.44
133
3)Analisis Terapi Do’a
Dalam terapi ini pengasuh pondok mengajak para makmum yakni para penderita gangguan jiwa ikut seacara langsung pelasksaan
terapi do’a ini dengan tatacara yang sudah pengasuh Pondok ajarkan.
Dalam teori Intervensi (mempengaruhi kondisi batin), do’a merupaka
alat intervensi terhadap kondisi mental dan kejiwaan klien untuk membantu proses penyembuhan bersama-sama dengan terapi lainnya. seperti yang diungkapkan Profesor al Amiri bahwa aspek non-fisik dapat mempengaruhi non-fisik seperti doa dapat menjadikan alat intervensi tehadap kejiwaan klien yang juga sebagai aspek non- fisik.129
Maka tepat kiranya jika terapi do’a yang diterapkan oleh
pengasuh Pondok 99 menjadikan para santrinya ikut secara lasung
proses pembacaan do’a tidak hanya sekedar mengamini saja karena
dalam do’a ada kelapangan hati dan penawar bagi segala keraguan,
keresahan, dan bencana.130 Juga mengingat diijabahnya do’a oleh orang sakit maka dalam hal ini orang sakit jiwa juga telah melakukan hal tersebut.
129
Isep Zainal Arifin, Bimbingan penyuluhan Islam, hal.61,66
130
134
B.Analisis tentang Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pada Penderita Gangguan Kejiwaan oleh Pengasuh Pondok 99.
Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam di Pondok 99, para pengasuh dan pengurus menemui beberapa kendala. Dalam hal ini penulis akan mengasnalisis beberapa kendala sesuai data yang didapat dan memberikan solisinya sebagai berikut :
Pertama, pelaksanaan konseling dan terapi yang dilakukan oleh pengasuh dan pengurus pondok 99 bagi para penderita gangguan kejiwaan keseluruhan dilakukan secara kelompok. Padahal jika dalam pemberian konseling dan terapi ini juga dilakukan secara individu hasilnya akan berbeda. Intensifitas serta kebutuhan penanganan juga tergantung pada tingkat keabnormalan kondisi psikis klien (penderita gangguan kejiwaan), hal ini yang dapat mendasari perlunya ada penganan secara individu agar bisa mencapai efektifitas penanganan yang diberikan secara positif.
Kedua, kurangnya data klien yang dimiliki pondok 99 menjadai salah satu kendala dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam. Padahal data klien yang dalam hal ini mengenai biodata, latar belakang sosial atau keluarga dan riwayat kesehatan psikis menjadi tambahan informasi yang sangat dibutuhkan bagi seorang konselor mapun terapis. Data-data tersebut juga dirasa perlu, karena dengan data yang ada konselor dapat mengukur intensifitas dan pola penganan yang diberikan kepada klien (penderita gangguan kejiwaan).
135
Ketiga, kurangnya tenaga pengurus atau perawat di pondok 99. Jika dilihat dari data yang di dapat hanya ada 4 hingga 5 orang pengurus setiap harinya termasuk di dalamnya juga bebrapa keluarga pengasuh Pondok 99. Dengan jumlah para penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99 yang mencapai 30 orang setiap bulannya maka sangat dirasa sangat kekurangan tenaga perawatnya. Intensifitas, penganan khusus juga perhatian memerlukan tenaga yang dapat memenuhi target dan efektifitas penganan yang diberikan di Pondok 99 bagi para penderita gangguan kejiwaan terutama jika ada dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling Islami menggunakan penganan secara individu.
Keempat, tidak adanya legalitas kelembagaan atau yayasan yang dimiliki oleh Pondok 99. Hal ini akan berdampak pada paradigma publik mengenai Pondok 99, serta hak asasi dan kekuatan hukum juga akan sulit di dapat apabila ada persoalan yang akan menyangkut legalitas lembaga yang dikelola oleh pengasuh Pondok 99 dan keluarganya. Padahal dengan adanya legalitas kelembagaan yang tercatat secara formal di lembaga pemerintahan setempat, sebuah lebaga atau yayasan memiliki kekuatan hukum dan dilindungi oleh aturan hak asasi di negara ini. Selain itu memiliki dampak timbulnya paradigma positif terhadap lembaga yang berlegalitas resmi ditunjang dengan pelayanan dan penanganan yang menui hasil positif.
Adapun saran dan solusi yang di tawarkan oleh penulis mengenai beberapa kendala diatas antara lain adalah : Pertama, perlunya memberikan penanganan secara individu dengan intensifitas yang berbeda-beda sesuai
136
kondisi psikis yang dialami klien, penambahan metode ataupun kegiatan dalam rangka penyembuhan yang bisa dilakukan dalam bentuk terapis secara individu. Pemberian penanganan secara individu dapat diberikan Pondok 99 jika memiliki tenaga pengurus atau perawat yang jumlahnya memadai dengan jumlah penderita gangguan kejiwaan yang ada.
Kedua, data klien dapat di lengkapi dengan sistem pendataan yang baru, lebih lengkap dan tentunya dengan manajemen yang baik. Data yang perlu dimiliki oleh Pondok 99 seperti data riwayat hidup, biodata, alamat secara lengkap, riwayat kesehatan baik fisik maupun psikis. Dengan data-data semacam ini juga dapat menunjang pelaksanaan pemberian Bimbingan dan Konseling Islam pada penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99.
Ketiga, dalam segi kelembagaan legalitas formal dapat diajukan kepada perangkat pemerintahan sekitar seperti di kelurahan yang memungkinkan dilanjutkan ke perangat pemerintahan lebih tinggi diatasnya. Selain itu perbaikan manajemen organisasi kelembagaan juga perlu ditata secara sistematis dan teratur, termasuk juga dalam segi penanganan yang di dukung dengan beberapa kegiatan positif agar tercapainya target yang dicanangkan sebelumnya.
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai studi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pada penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99 Desa Pandankrajan Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto dapat disimpulkan :
1. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pada penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99 dilakukan secara kelompok, terutama dalam proses pemberian terapi yang dilaksanakan. Adapun terapi yang diberikan merupakan terapi islami, ada dua terapi yang digunakan yakni pertama, terapi islam dengan keimanan dan ketakwaan, kedua, terapi islam dengan ibadah. Dalam terapi islam dengan keimanan dan ketakwaan konselor (pengasuh pondok) menanamkan sebuah doktrinitas dimana dalam hal keimanan pengasuh menanamkan prinsip keimanan, keyakinan, kepercayaan dan iman kepada Allah. Sedangkan pada hal ketakwaan merupakan kelanjutan dari konsep keimanan tersebut ada 5 perkara yakni mengingat Allah, mengetahui Allah, menyukai Allah, mendekatkan pada Allah dan berdialog dengan Allah. Kemudian konsepsi ini sekaligus sebagai pendekatan dalam terapi yang digunakan dan di implementasikan dalam bentuk amalan-amalan sebagai doktrinitas bagi para penderita gangguan kejiwaan di pondok 99. Sedangakan dalam terapi islam dengan ibadah ada 3 terapi yang dilakukan yakni terapi
sholat berjama’ah, terapi dzikir dan terapi do’a. Ketiga terapi ibadah tersebut
138
diberikan oleh pengasuh pondok dalam rangka usaha peyembuhan bagi para penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99.
2. Kendala yang dihadapi oleh pengasuh dan pengurus pondok dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pda penderita gngguan kejiwaan di Pondok 99 Ada 4 kendala dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling islam di Pondok 99 yakni; pertama, konseling dan terapi hanya dilakukan secara kelompok, kedua, keterbatasan data tentang klien, ketiga, minimnya pengurus dan keempat, tidak memiliki legalitas resmi kelembagaan.
B.Saran
Dalam penelitian ini, peneliti menyadari betul bahwa penelitian ini jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya peneliti berharap kepada peneliti – peneliti selanjutnya untuk lebih menyempurnakan penelitian semacam ini yang merujuk pada hasil penelitian sebelumnya agar penelitian selanjutnya diharapkan lebih maksimal dan memuaskan.
Dalam hal ini, peneliti berusaha memberikan beberapa saran agar penelitian kedepannya bisa lebih baik. Saran – saran peneliti antara lain:
1. Bagi konselor (pengasuh pondok)
Semoga selalu diberi kesabaran dan semangat dalam rangka membantu penderitaan para penderita gngguan kejiwaan di Pondok 99. Diusahakan dapat memperbaiki tatakelola lembaga Pondok 99 untuk lebih baik baik dalam manajemen kelembagaan mapun dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pada penderita gangguan kejiwaan di Pondok 99.
139
2. Bagi peneliti selanjutnya
Apabila dalam penelitian ini banyak didapati kekurangan mohon kritik dan sarannya yang sifatnya membangun untuk kesempunaan penelitian selanjutnya.
3. Bagi prodi BKI
Diharapkan dapat menambah referensi dan kajian keilmuan terkait Bimbingan dan Konseling terhadap penderita psikopatologi dengan pendekatan dan cara islami.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PERSETUJUAN. ... ii PENGESAHAN ... iii MOTTO ... iv PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN OTENTITAS SKRIPSI ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I : PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1 B.Rumusan Masalah ... 8 C.Tujuan Penelitian ... 8 D.Manfaat penelitian ... 9 E. Definisi konsep ... 10 F. Metode Penelitian ... 11
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 12 2. Sasaran dan Lokasi Penelitian ... 13
3. Jenis dan Sumber Data ... 11
4. Tahap-tahap Penelitian ... 15 5. Teknik Pengumpulan Data ... 19 6. Teknik Analisis Data ... 24 7. Teknik pemeriksaan dan Keabsahan Data ... 26 G.Sistematika Pembahasan ... 30
BAB II : BIMBINGAN KONSELING ISLAM, GANGGUAN-GANGGUAN KEJIWAAN DAN PENANGANANNNYA A.Bimbingan Konseling Islam ... 32
1. Pengertian Bimbingan Konseling Islam ... 32
2. Tujuan Bimbingan Konseling Islam ... 41
3. Fungsi Bimbingan Konseling Islam ... 43
4. Unsur-unsur Bimbingan Konseling Islam ... 44
6. Langkah-langkah Bimbingan Konseling Islam ... 49
B.Gangguan-Gangguan Kejiwaan ... 51
1. Pengertian Gangguan Kejiwaan ... 51
2. Macam-Macam Gangguan Kejiwaan ... 52
a. Gangguan Jiwa (Neurosa) ... 52
b. Sakit Jiwa (Psychose) ... 57
C.Penanganan Gangguan Kejiwaan Prespektif Islam ... 67
1. Kesehatan Jiwa dalam Islam ... 67
2. Metode dan Teknik Penanganan Gangguan Kejiwaan dalam Islam ... 70
a. Metode Islam dalam Kesehatan Jiwa ... 70
b. Metode dan Teknik Psikoterapi Islam ... 72
c. Metode dan Teknik Terapi Islam ... 73
3. Bentuk-bentuk Terapi Kejiwaan dalam Islam ... 77
a. Terapi Islam dengan Keimanan dan Rasa Aman ... 77
b. Terapi Islam dengan Ibadah ... 79
c. Terapan Psikoterapi Islam ... 89
D.Penelitian Terdahulu Yang Relevan ... 93
BAB III : PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM PADA PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN DI PONDOK 99 DESA PANDANKRAJAN KECAMATAN KEMLAGI KABUPATEN MOJOKERTO A.Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... 96
1. Deskripsi Posisi Geografis Pondok 99 ... 96
2. Deskripsi Konselor, Klien dan Masalah ... 102
a. Tentang Konselor ... 102
b. Tentang Klien ... 104
c. Deskripsi Masalah ... 105
B.Deskripsi Hasil Penelitian ... 107
1. Deskripsi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam yang dilakukan oleh pengasuh Pondok 99 pada penderita gangguan kejiwaan ... 107
2. Deskripsi tentang kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam pada penderita gangguan kejiwaan oleh pengasuh Pondok 99 ... 124
BAB IV : ANALISIS PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN
KONSELING ISLAM PADA PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN DI PONDOK 99 DESA PANDANKRAJAN KECAMATAN KEMLAGI KABUPATEN MOJOKERTO
A.Analisis pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islam yang