BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Variabel Penelitian
Penelitian ini mengkaji faktor faktor yang memberikan pengaruh terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan. Variabel yang diduga memiliki hubungan erat dengan manajemen berbasis sekolah adalah kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru. Berdasarkan deskripsi data penelitian dari hasil perhitungan statistik deskriptif menggunakan bantuan perangkat SPSS versi 25.00 diperoleh hasil yang disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 4.5
Deskripsi Variabel Penelitian Statistics
Kompetensi Manajerial
Kepala Sekolah
Profesionalis me Guru
Manajemen Berbasis
Sekolah
N Valid 150 150 150
Missing 0 0 0
Mean 165.10 177.95 154.73
Median 167.00 180.00 155.00
Mode 169 174a 156
Std. Deviation 17.335 17.165 14.489
Variance 300.493 294.628 209.945
Range 75 80 54
Minimum 118 124 127
Maximum 193 204 181
Sum 24765 26692 23209
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Dari tabel diatas dideskripsikan hasil data penelitian bahwa penelitian ini dilakukan dengan responden sebanyak 150 yang terdiri dari kepala sekolah dan guru pada SMP negeri dan semua responden mengisi kuesioner penelitian, nilai rata rata responden untuk variabel kompetensi manajerial kepala sekolah adalah 165.10, variabel profesionalisme guru sebesar 177.95, dan variable manajemen berbasis sekolah sebesar 154.73. Untuk nilai tengah masing-masing variable adalah kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 167.00, profesionalisme guru sebesar 180.00, dan manajemen berbasis sekolah sebesar 155.00. Sedangkan nilai yang sering muncul pada variable kompetensi manajerial kepala sekolah adalah 169, profesionalisme guru adalah 174, dan manajemen berbasis sekolah adalah 156. Kemudian untuk simpangan baku data kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 17.335, profesionalisme guru sebesar 17.165, dan manajemen
100
berbasis sekolah sebesar 14.489. Kemudian ukuran sebaran data untuk variable kompetensi manajerial kepala sekolah adalah 300.493, profesionalisme guru sebesar 294.628, dan manajemen berbasis sekolah sebesar 209,945. Rentang kelas variable kompetensi manajerial kepala sekolah adalah 75, profesionalisme guru adalah 80, dan manajemen berbasis sekolah adalah 54. Nilai minimum variable kompetensi manajerial kepala sekolah adalah 118, profesionalisme guru adalah 124, dan manajemen berbasis sekolah adalah 127. Sedangkan nilai maksimum untuk variable kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 193, profesionalisme guru sebesar 204, dan manajemen berbasis sekolah sebesar 181.
a. Variabel Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Variabel Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah diukur melalui angket yang terdiri dari 42 butir pernyataan. Adapun bobot skor tiap butir pernyataan adalah antara 1 sampai 5 menggunakan skala likert. Secara teoritis skor kompetensi manajerial kepala sekolah akan bervariasi antara skor minimal 42 sampai skor maksimal 210. Melalui pengolahan statistik diperoleh data hasil frekuensi dengan banyak kelas yang dihitung dengan menggunakan aturan sturges (K = 1 + 3.3 log n), diperoleh hasil 8,181 dibulatkan menjadi 8 kelas dengan rentang skor maksimum 193 dan skor minimum 118, rentang skor 75, sehingga intervalnya dibulatkan sama dengan 9.
Dari hasil analisis SPSS diperoleh bahwa variabel kompetensi manajerial kepala sekolah mempunyai nilai mean sebesar 165.10, dengan standar deviasi=
17.335 , median = 167, dan modus = 169. Hasil pengolahan data yang dituangkan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi disajikan dalam table berikut.
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Variabel Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah Kompetensi Manajerial Kepala
Sekolah (X1)
Statistic
Frekuensi Persentase Kumulative Percent
118 – 126 3 2 % 2 %
127 – 135 4 2,7 % 4,7 %
136 – 144 13 8,7 % 13,4 %
145 – 150 20 13,3 % 26,7 %
151 – 163 23 15,3 % 42 %
164 – 172 43 28,7 % 70,7 %
173 – 181 14 9,3 % 80 %
182 – 190 25 16,7 % 96,7 %
191 - 200 5 3,3 % 100 %
Total 150 100 %
Untuk penyebaran distribusi nilai skor variabel kompetensi manajerial kepala sekolah dapat dilihat pada grafik berikut:
101 Gambar 4.1
Histogram Frekuensi Variabel Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah b. Variabel Profesionalisme Guru
Variabel profesionalisme guru diukur melalui angket yang terdiri dari 45 butir pernyataan. Adapun bobot skor tiap butir pernyataan adalah antara 1 sampai 5 menggunakan skala likert. Secara teoritis skor variable profesionalisme guru akan bervariasi antara skor minimal 45 hingga skor maksimal 225. Melalui pengolahan statistik diperoleh data hasil frekuensi dengan banyak kelas yang dihitung dengan menggunakan aturan sturges (K = 1 + 3.3 log n), diperoleh hasil 8,181 dibulatkan menjadi 8 kelas dengan rentang skor maksimum 204 dan skor minimum 124, rentang kelas 80, sehingga intervalnya dibulatkan menjadi 10.
Dari hasil analisis SPSS diperoleh bahwa variable profesionalisme guru mempunyai nilai mean sebesar 165,10, dengan standar deviasi = 17.165, median
= 180, dan modus = 174. Hasil pengolahan data yang dituangkan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi disajikan dalam table berikut :
Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Variabel Profesionalisme Guru Profesionalisme Guru (X2)
Statistic
Frekuensi Persentase Kumulative Percent
124 – 133 6 4 % 4 %
134 – 143 0 0 % 4 %
144 – 153 10 6,7 % 10,7 %
102
154 – 163 21 14 % 24,7 %
164 – 173 16 10,7 % 35,4 %
174 – 183 38 25,3 % 60,7 %
184 – 193 29 19,3 % 80 %
194 – 203 28 18,7 % 98,7 %
204 – 213 2 1,3 % 100 %
Total 154 100 %
Untuk penyebaran distribusi nilai skor variabel profesionalisme guru dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.2
Histogram Frekuensi Variabel Profesionalisme Guru c. Variabel Manajemen Berbasis Sekolah
Variabel manajemen berbasis sekolah diukur melalui angket yang terdiri dari 41 butir pernyataan. Adapun bobot skor tiap butir pernyataan yaitu antara 1 sampai 5 menggunakan skala likert. Secara teoritis skor variable manajemen berbasis sekolah akan berkisar antara 41 hingga 205. Melalui pengolahan statistik diperoleh data hasil frekuensi dengan banyak kelas yang dihitung menggunakan aturan sturges (K = 1 + 3.3 log n), diperoleh hasil 8,181 dibulatkan menjadi 8 kelas dengan rentang skor maksimum 181 dan skor minimum 127, rentang kelas 54, sehingga intervalnya dibulatkan menjadi 7.
Dari hasil analisis SPSS diperoleh bahwa variable manajemen berbasis sekolah mempunyai nilai mean sebesar 154.73, dengan standar deviasi = 14.489,
103
median = 155, dan modus = 156. Hasil pengolahan data yang dituangkan dalam bentuk daftar distribusi frekuensi disajikan dalam table berikut:
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Variabel Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen Berbasis Sekolah (Y)
Statistic
Frekuensi Persentase Kumulative Percent
127 – 133 6 4 % 4 %
134 – 140 0 0 % 4 %
141 – 147 15 10 % 14 %
148 – 154 9 6 % 20 %
155 – 161 32 21,3 % 41,3 %
162 - 168 43 28,7 70 %
167 – 173 7 4,7 % 74,7 %
174 – 180 36 24 % 98,7 %
181 – 187 2 1,3 % 100 %
Total 150 100 %
Untuk penyebaran distribusi nilai skor variabel manajemen berbasis sekolah dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.3
Histogram Frekuensi Variabel Manajemen Berbasis Sekolah
104 2. Pengujian Persyaratan Analisis
a. Uji Normalitas Data
Uji Normalitas pada penelitian ini dilakukan sebagai persyaratan analisis dalam melakukan pengajuan hipotesis. Analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini mensyaratkan bahwa data variabel harus berdistribusi normal atau mendekati normal. Uji normalitas data yang digunakan adalah uji Lilliefors melalui bantuan perangkat SPSS 25.00, dengan asumsi bahwa uji ini dianggap lebih akurat dengan jumlah responden 150, dengan menggunakan taraf kepercayaan 95% (𝛼) = 0,05, maka hipotesis yang diuji ditetapkan sebagai berikut:
H0 = nilai sig. > 0,05, data berdistribusi normal H1 = nilai sig. < 0,05, data tidak berdistribusi normal
Berdasarkan uji normalitas menggunakan uji Lilliefors melalui SPSS 25.00 diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.9 Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize d Residual
N 150
Normal Parametersa,b Mean .0000000 Std. Deviation 4.77068754 Most Extreme
Differences
Absolute .053 Positive .053 Negative -.051
Test Statistic .053
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Berdasarkan uji normalitas diatas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.200 > 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variable berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas (Levene)
Uji Homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji levene melalui bantuan SPSS 25.00, uji ini dilakukan untuk mengetahui kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki varian sama (homogen), adapun kriteria pengujian uji levene adalah :
105 Nilai sig. > 0,05 = Homogen Nilai sig. < 0,05 = tidak Homogen
Berdasarkan uji homogenitas menggunakan uji levene melalui aplikasi SPSS 25.00 diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.10
Hasil Uji Homogenitas Data Test of Homogeneity of Variances
Levene
Based on Median and with adjusted df
.011 1 296.217 .715 Based on trimmed mean .030 1 238 .841 Dari output diatas diperoleh harga statistik uji levene sebesar 0.713 dengan demikian maka dapat disimpulkan data pada setiap variable adalah homogen karena nilai signifikan variable lebih besar dari 0,05.
c. Uji Linearitas Data (Deviation)
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui bahwa hubungan antar variabel membentuk pola yang linear. Dengan asumsi bahwa jika hubungan antar variabel eksogen dan endogen membentuk pola lurus atau mendekati lurus maka analisis regresi bisa dilakukan. Adapun dasar pengambilan keputusannya adalah:
Nilai sig. deviation From Linearity > 0,05 = hubungan linear Nilai sig. deviation From Linearity < 0,05 = Hubungan tidak Linear Berdasarkan uji linearitas menggunakan SPSS 25.00 diperoleh hasil sebagai berikut:
106
Dari output diatas diperoleh nilai Sig. Linearity sebesar 1.000 yakni lebih besar 0,05. Dari output tersebut dapat disimpulkan bahwa variable independent (variable kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru) memiliki hubungan linear dengan variable dependent (variable manajemen berbasis sekolah).
d. Uji Multikolinearitas (Variance Inflation Factor)
Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji multikolinieritas dapat menggunakan 2 cara: pertama, jika nilai Tolerance > 0,10 artinya tidak terjadi multikolinearitas dan jika nilai tolerance <
0,10 maka terjadi multikolinearitas. Kedua, Jika VIF < 0,10 maka terjadi multikolinearitas dan jika VIF > 0,10 maka tidak terjadi multikolinearitas.
Berdasarkan Uji multikolinearitas melalui SPSS 25.00 didapat hasil nilai tolerance untuk kedua variabel seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.12
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics B
Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 23.126 5.527 4.184 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
.433 .071 .518 6.068 .000 .184 5.438
Profesionalisme Guru
.338 .072 .400 4.689 .000 .184 5.438
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Dari tabel di atas diperoleh hasil nilai tolerance sebesar 0,099 dan nilai variance inflation factor (VIF) sebesar 5.438 < 10 maka dapat diketahui bahwa dalam data ini tidak terjadi multikolinearitas.
e. Uji Autokorelasi (Durbin Watson)
Tujuan dari uji ini adalah untuk menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya. Untuk dasar pengambilan keputusan pada analisis menggunakan program SPSS adalah :
d < dl atau d > 4 - dl : terdapat autokorelasi du < d < 4 - du : Tidak Terdapat Autokorelasi
107
4 – du < d < 4 – dl : Tidak dapat ditarik kesimpulan
Dengan menggunakan bantuan SPSS maka diperoleh nilai uji autokorelasi durbin Watson pada tabel berikut ini :
Tabel 4.13
Hasil Uji Autokorelasi Data Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .961a .923 .922 4.803 2.080
a. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
b. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah Tabel 4.14
Hasil Nilai Durbin Watson
D Dl Du 4-Dl 4-Du
2.080 1.7062 1.7602 2.2938 2.2398
Dari table diatas diperoleh nilai Durbin-Watson (D) sebesar 2.080, kemudian didalam table nilai durbin-watson nilai k=2 (karena 2 variabel bebas) pada 150 responden untuk Dl = 1.7062 dan nilai Du = 1.7602. Karena nilai Durbin-Watson = 2.080 berada diantara Du = 1.7602 dan 4-Du = 2.2398, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat autokorelasi antara variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dan variable profesionalisme guru (X2) . Dengan demikian maka analisis regresi dapat dilanjutkan untuk uji hipotesis penelitian.
f. Uji Heteroskedastisitas (Glejser)
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual antara satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Sedangkan dasar pengambilan keputusan dalam uji heteroskedastisitas adalah :
Sig. > 0,05 : tidak terjadi Heteroskedastisitas Sig. < 0,05 : terjadi Heteroskedastisitas
Dari uji heteroskedastisitas menggunakan SPSS diperoleh data seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.15
Hasil Uji Heteroskedastisitas Data Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
108
1 (Constant) 16.063 3.648 4.403 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
-.133 .047 -.513 -2.821 .068
Profesionalisme Guru .059 .048 .225 1.236 .218 a. Dependent Variable: abs_res
Dari table diatas diperoleh nilai signifikan sebesar 0.68 untuk variable kompetensi manajerial kepala sekolah dan 0.218 untuk variable profesionalisme guru. Karena kedua nilai signifikan variable lebih besar dari 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak terjadi heteroskestisitas pada variable penelitian ini.
3. Analisis Jalur Variabel Penelitian a. Analisis Jalur X1 ke X2 (P21)
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap X2 (P21) sebagai berikut :
Tabel 4.16
Koefisien Determinasi X1 ke X2
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .903a .816 .815 7.386
a. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari Output hasil SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,816 yang berarti bahwa 81,6% persen variabilitas variabel profesionalisme guru (X2) dapat dijelaskan oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1), sehingga nilai error = 1 - R 2 = 1 - 0,816 ≈ 0,184.
Tabel 4.17 Anova Jalur X1 ke X2
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 35826.249 1 35826.249 656.766 .000b
Residual 8073.324 148 54.549
Total 43899.573 149
a. Dependent Variable: Profesionalisme Guru
b. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
109
Uji Signifikansi persamaan garis regresi diperoleh dari baris Regression kolom ke-5, yaitu Fhit = 656.766, dan p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, maka variabel kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh terhadap variabel profesionalisme guru. Selanjutnya:
Tabel 4.18
a. Dependent Variable: Profesionalisme Guru
Berdasarkan hasil analisis SPSS pada tabel di atas, koefisien jalur diperoleh pada kolom Beta (standardized coefficients). Sehingga persamaan regresi : Ŷ = 30.261 + 0.895X. Dari hasil analisis diperoleh thit = 25.627 dan p-value = 0.000 / 2 = 0,000 < 0.05 sehingga H0 ditolak. Dengan demikian, maka variabel kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh langsung positif terhadap profesionalisme guru (X2). Selain itu nilai konstanta sebesar 30.261 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100 % maka profesionalisme guru (X2) alam bernilai 89,5 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,895 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan profesionalisme guru sebesar 0,895 satuan.
b. Analisis Jalur Regresi X1 ke Y (Py1)
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap Y (Py1) sebagai berikut :
Tabel 4.19
Koefisien Determinasi Jalur X1 dan Y Model Summary
110
a. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari output SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,774 berarti bahwa 77,4 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1).
Sehingga error (ε) = 1 - R2 = 1 – 0,774 = 0,226 ≈ 0,2.
Tabel 4.20 Anova Jalur X1 ke Y
ANOVAa Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 24198.904 1 24198.904 505.646 .000b
Residual 7082.889 148 47.857
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
b. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Berdasarkan hasil analisis pada table diatas, diperoleh F0 = 505.646; db1=
1 ; db2 = 148, p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh terhadap variable manajemen berbasis sekolah (Y). Selanjutnya :
Tabel 4.21 Koefisien Jalur X1 ke Y
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 33.350 5.427 6.145 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
.735 .033 .880 22.487 .000
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Dari table Coefficients diperoleh harga t0 = 22.487 dan p-value = 0,000 / 2 = 0,000< 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh langsung positif terhadap manajemen berbasis sekolah (Y). Selain itu nilai konstanta sebesar 33.350 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100 % maka manajemen berbasis sekolah (Y) alam bernilai 73,5 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,735 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala
111
sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan manajemen berbasis sekolah sebesar 0,735 satuan.
c. Analisis Jalur X2 ke Y
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X2 terhadap Y (Py2) sebagai berikut :
Tabel 4.22
Koefisien Determinasi Jalur X2 ke Y Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Change Statistics R
Square Change
F
Change df1 df2
Sig. F Change 1 .868a .754 .752 7.215 .754 452.896 1 148 .000 a. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru
Dari output SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,754 berarti bahwa 75,4 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh variable profesionalisme guru (X2). Sehingga error (ε) = 1 – 0,754 = 0,246 ≈ 0,2.
Tabel 4.23 Anova Jalur X2 ke Y
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 23577.121 1 23577.121 452.896 .000b
Residual 7704.672 148 52.059
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah b. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru
Berdasarkan hasil analisis pada table diatas diperoleh F0 = 452.896, db1=
1, db2 = 148, p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable profesionalisme guru berpengaruh terhadap variable manajemen berbasis sekolah . Selanjutnya,
Tabel 4.24 Koefisien Jalur X2 ke Y
Coefficientsa
112
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Berdasarkan hasil analisis SPSS pada table diatas, koefisien jalur diperoleh pada kolom Beta (Standardized Coefficients), yaitu koefisien jalur X2
ke Y (Py1) = 0,868. Hipotesis yang akan diuji adalah : H0 : γy1 ≤ 0
H1 : γy1 > 0
Dari table Coefficients diperoleh harga t0 = 21.281 dan p-value = 0,000 / 2 = 0,000< 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable profesionalisme guru (X2) berpengaruh langsung positif terhadap manajemen berbasis sekolah (Y).
Selain itu nilai konstanta sebesar 0,733 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100
% maka profesionalisme guru (X2) akan bernilai 73,3 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,733 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan profesionalisme guru sebesar 0,733 satuan.
d. Analisis Jalur Regresi Ganda X1 ke Y (Py1) dan X2 ke Y (Py2) Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap Y (Py1) dan X2 terhadap Y (Py2) sebagai berikut : a. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Uji Signifikansi koefisien korelasi ganda diperoleh dari table Model Summary diatas. Terlihat bahwa koefisien korelasi ganda (R) = 0,896 dan F hit (F Change) = 299.670, serta p-value = 0.000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian , koefisien korelasi ganda antara X1 dan X2 dengan Y adalah berarti atau
113
signifikan. Sedangkan koefisien determinasi ditunjukkan oleh R Square = 0.803, yang mengandung makna bahwa 80,3 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dan profesionalisme guru (X2) , sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru secara bersama-sama memepengaruhi manajemen berbasis sekolah sebesar 80,3%.
Tabel 4.26 Anova Jalur X1 dan X2 ke Y
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 25120.499 2 12560.249 299.670 .000b
Residual 6161.295 147 41.914
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
b. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari hasil analisis yang disarikan pada table ANOVA diatas diperoleh , harga statistik F, kolom ke-5 yaitu Fhit = 299.670, dan p-value = 0.000 < 0,05 atau hal ini berarti H0 ditolak. Artinya terdapat pengaruh linear variable kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru dengan variable manajemen berbasis sekolah. Hal ini juga bermakna terdapat pengaruh secara bersama-sama (simultan) kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap manajemen berbasis sekolah.
Tabel 4.27
Koefisien Jalur X1 dan X2 ke Y Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 23.126 5.527 4.184 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
.433 .071 .518 6.068 .000
Profesionalisme Guru .338 .072 .400 4.689 .000 a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Dari table coefficients diatas, pada kolom B diperoleh konstanta b0 = 6.406, koefisien regresi b1 = 0.433, dan b2 = 0.338. Sehingga persamaan regresi linear ganda adalah Ŷ = 23.126 + 0.433X1 + 0.338 X2.
Hipotesis : H0 : β1 ≤ 0 vs H1 : β1 > 0 dan H0 : β2 ≤ 0 vs H1 : β2 > 0.
114
Dari hasil analisis seperti disarikan pada table menunjukkan harga statistik untuk koefisien variable X1 yaitu thit = 6.068 dan p-value = 0.000/2 = 0.000 < 0,05 (uji pihak kanan), atau H0 ditolak, yang bermakna kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh positif terhadap manajemen berbasis sekolah. Selanjutnya harga statistik untuk koefisien X2 yaitu thit = 4.689 dan p-value = 0.000/2 = 0.000 < 0,05 (uji pihak kanan), atau H0 ditolak, yang bermakna profesionalisme guru berpengaruh positif terhadap manajemen berbasis sekolah.
e. Analisis Jalur Mediasi X1 ke Y melalui X2
Pengaruh tak langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen yaitu pengaruh tak langsung X1 terhadap Y melalui X2, pengaruh ini dapat dihitung dengan cara melalui hasil dari uji pengaruh langsung antar variabel yang dirangkum dalam tabel berikut :
Tabel 4.28
Hasil Uji Pengaruh Langsung Pengaruh Langsung antar
Variabel
Koefisien
Jalur Thitung Ttabel Kesimpulan X1 terhadap X2 (P21) 0.816 25,627 1.65521 Signifikan
X1 terhadap Y (PY1) 0.774 22,487 1.65521 Signifikan X2 terhadap Y (PY2) 0.754 21,281 1.65521 Signifikan
Berdasarkan table diatas maka dapat diperoleh data hasil analisis pengaruh langsung antar variabel, pengujian pengaruh tidak langsung variabel kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap variabel manajemen berbasis sekolah (Y) melalui variabel profesionalisme guru (X2) diperoleh dengan cara mengalikan koefisien jalur pengaruh langsung antara variabel kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap variable manajemen berbasis sekolah (P21) dengan koefisien jalur pengaruh langsung variabel profesionalisme guru terhadap manajemen berbasis sekolah (Py2) sebagai berikut (P21)(Py2) = 0,816 x 0,754 = 0,607
Selanjutnya untuk menentukan apakah nilai pengaruh tidak langsung signifikan adalah dengan cara membandingkan nilai koefisien jalur antara pengaruh langsung variabel X1 terhadap Y dan pengaruh tidak langsung variabel X1 terhadap Y melalui X2, dengan asumsi sebagai berikut :
Jika Py1 < (P21)(Py2), maka pengaruh tidak langsung ditolak Jika Py1 > (P21)(Py2), maka pengaruh tidak langsung diterima
Karena pengaruh langsung Py1 : 0,774 > (P21)(Py2): 0,607 maka hipotesis pengaruh tidak langsung di diterima atau terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap manajemen berbasis sekolah (Y) sekolah melalui profesionalisme guru (X2).
115 C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengujian diatas, maka rincian temuan penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 4.29
Rangkuman Hasil Penelitian Analisis Jalur Koefisien
Jalur
T
hitung T tabel Sig. Kesimpulan Jalur X1 ke X2 0,816 25,627 1,97591 0,000 Signifikan
Jalur X1 ke Y 0,774 22,487 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X2 ke Y 0,754 21,281 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X1 dan X2
ke Y secara bersama-sama
0,803 23,126 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X1 ke Y
melalui X2
Py1 : 0,774 > (P21)(Py2): 0,607 Signifikan
a. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru (X2).
Dengan demikian maka variasi tinggi rendahnya profesionalisme seorang guru dipengaruhi oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah. Besar pengaruh langsung adalah sebesar 0,949, oleh karenanya jika dilihat besarnya kontribusi kompetensi manajerial kepala sekolah maka didapat angka sebesar 0,816 x 100 % = 81,6 %. Hal ini berarti variable profesionalisme guru dapat dijelaskan sebesar 81,6 % oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah, sehingga dapat disimpulkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah berpengarih terhadap variable profesionalisme guru sebesar 81,6 % sedangkan sisanya 18,4 % dipengaruhi oleh variable lain diluar penelitian.
Kemudian pada uji hipotesis berdasarkan analisis data, nilai koefisien beta (β) = 0,816 dan menunjukkan t hitung sebesar 25,627 dengan nilai Sig. = 0,000 dimana < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru. Artinya, dengan kompetensi manajerial kepala sekolah yang tinggi maka tingkat profesionalisme guru akan semakin meningkat. Kompetensi manajerial kepala sekolah menimbulkan hal yang positif bagi tingkat profesionalisme guru.
Hal ini sesuai dengan penelitian Gorton (2006:8) yang mengatakan bahwa kompetensi manajerial penting bagi kinerja serta keprofesionalan seorang guru, oleh karena itu, kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer yang efektif. Indikator kepala sekolah yang efektif adalah ia harus mampu mengatur semua potensi sekolah agar dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, kepala
116
sekolah juga harus mampu melakukan fungsi-fungsi manajerial dengan baik yang meliputi planning, organizing, actuating, dan controlling.
Dari hasil analisis terbukti bahwa terdapat pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan didapat angka sebesar 94.9 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi manajerial kepala sekolah dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat profesionalisme guru. Adapun pengaruh tersebut bersifat positif artinya semakin tinggi tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah semakin meningkat profesionalisme para guru.
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
b. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah (Y).
Dengan demikian maka variasi sukses atau tidaknya manajemen di sebuah sekolah dipengaruhi oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah.
Dengan demikian maka variasi sukses atau tidaknya manajemen di sebuah sekolah dipengaruhi oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah.