BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.2. Hasil Penelitian
4.2.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat untuk melihat perbedaan tanda infeksi sebelum dilakukan pemisahan ruang perinatologi dan sesudah pemisahan ruang perinatologi.
Tabel 4.2. Tabulasi Silang Kejadian Diare sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.3 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian diare sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.3. Tabulasi Silang Kejadian Hipotermi sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.4 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi hipotermi sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.4. Tabulasi Silang Kejadian Hipertermi sebelum dan sesudah
Dari Tabel 4.5 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi hipertermi sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.5. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Tali Pusat sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Dari Tabel 4.6 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian infeksi tali pusat sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.6. Tabulasi Silang Kejadian Kemauan Menghisap sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Kejadian
Dari Tabel 4.7 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian kemauan menghisap sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
Tabel 4.7. Tabulasi Silang Kejadian Lama Rawat sebelum dan sesudah Pemisahan Ruang Perinatal
Kejadian Lama Rawat
Sebelum Pemisahan
Sesudah
Pemisahan Total
Signifikansi
n % n % n %
≤ 5 hari 12 36,4 21 63,6 33 100 χ2
p = 0,003
= 37,752
5 – 10 hari 14 70,0 6 30,0 20 100
> 10 – 28 hari 1 100,0 0 0,0 1 100
Dari Tabel 4.8 di atas diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan kejadian lama rawat sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan (p<0,05).
BAB 5 PEMBAHASAN
Rumah sakit merupakan tempat di mana pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk sembuh secara efektif dan efisien tetapi selain mendapat kesembuhan juga merupakan tempat dari berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita yang dirawat. Kuman penyakit dapat berkembang di lingkungan rumah sakit, dapat berupa medis dan non medis. Terjadinya infeksi menimbulkan kerugian diantaranya lama hari rawatan semakin panjang, biaya yang meningkat dan penderitaan yang bertambah. Dugaan terjadinya kejadian infeksi pada ruang perawatan bayi baru lahir yang tinggi di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan diketahui dari 2 atau lebih bayi yang menderita infeksi yang sama pada saat yang sama sehingga menjadikan masa rawatan bayi yang seharusnya tidak panjang menjadi lebih panjang.
Pencegahan infeksi merupakan bagian yang terpenting dari setiap komponen perawatan bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi karena sistem imunitasnya masih sangat kurang sempurna. Konsekuensi akibat tidak mengingat prinsip pencegahan infeksi akan sangat merugikan baik bagi pasien maupun keluarga. Tindakan pencegahan infeksi adalah untuk melindungi bayi dari penyebaran infeksi dengan melakukan tindakan yaitu mengisolasi bayi di dalam ruangan yang khusus untuk bayi yang terinfeksi. Pencegahan yang lain adalah ikut
menjaga dan mematuhi aturan yang telah dibuat oleh manajemen rumah sakit agar keselarasan perawatan dapat terlaksana dengan baik.
Pencegahan sebelum pemisahan ruangan perinatologi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tapanuli Selatan dilakukan sesuai dengan aturan dan prosedur yaitu waktu dan aturan kunjungan pasien, perawat dan aturan yang diterapkan di rumah sakit dan perawatan serta kebersihan ruang perinatalogi yang telah dijadikan ketetapan rumah sakit dan ditanda tangani oleh pihak manajemen. Namun kendala dalam pelaksanaan sebelum pemisahan ruangan selalu dikarenakan hubungan kekerabatan atau budaya yang selama ini sangat kental baik mengenai hubungan kekeluargaan dan kebiasaan yang menjadi tradisi sehingga susahnya dijalankan aturan yang telah ditentukan oleh pihak rumah sakit, dijumpai keadaan bukan hanya dari tamu yang berkunjung, tetapi dijumpai juga dari pihak petugas di ruang perinatal itu sendiri yang juga adalah kebanyakan merupakan kerabat pasien atau memiliki hubungan kekeluargaan. Sebelum adanya pemisahan ruangan sering ditemui tamu yang berkunjung keluar masuk ruang perinatologi tanpa menghiraukan aturan sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi di peroleh dari keluarga pasien maupun tamu yang datang berkunjung.
Dalam kebersihan ruang perinatalogi sendiri juga sudah ada aturan yang telah ditandatangani dan disepakati yang diatur sedemikian oleh rumah sakit, baju, laken dan inkubator dalam perawatannya mempunyai aturan kebersihan sendiri, untuk mengurangi kemungkinan faktor infeksi nosokomial. Kendala yang dijumpai adalah
mengurangi kemungkinan infeksi nosokomial, ditambah lagi dengan kesadaran yang rendah pada petugas untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi perinatalogi, hal terkecil yang sering dijumpai enggannya petugas mengganti baju atau sandal ketika masuk ruang perinatologi dan enggannya petugas menegur tamu yang berkunjung untuk tidak langsung menganti pakaian atau perlengkapan yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit dengan pakaian atau perlengkapan yang dibawa oleh keluarga atau tamu. Kejadian ini terjadi oleh karena evaluasi yang kurang tegas dan kontrol yang tidak berjalan.
Sesudah adanya pemisahan ruangan perinatologi, tanda kejadian infeksi di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan menurun, diperoleh dari hasil penelitian yang terbukti menurun secara signifikan, namun masih ditemukan tanda kejadian infeksi daripada masing-masing penyebab, hal ini disebabkan karena adanya faktor yang mempengaruhi kejadian infeksi tersebut. Dugaan kejadian infeksi yang masih tetap ada perlu ditinjau dari kemungkinan penyebab lain karena rumah sakit sebagai sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan paripurna, dalam mengembangkan peran serta perilaku yang positif bagi pasien dan petugas rumah sakit memerlukan berbagai upaya kesehatan. Upaya kesehatan yang belum optimal dan pencegahan penularan penyakit, keterbatasan jumlah dan sarana mungkin sebagai penyebab dari masih adanya tanda kejadian infeksi setelah pemisahan ruangan.
Pelaksanaan penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit adalah penyuluhan kesehatan yang khusus dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya dalam menangani kesehatannya, hal ini merupakan tanggung jawab bersama yang
berkesinambungan antara dokter dan pasien atau petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Penyuluhan kesehatan tersebut dimulai dari sejak pasien masuk rumah sakit atau sejak ia berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Karena itu penyuluhan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pelayanan rumah sakit. Untuk mengembangkan penyuluhan kesehatan ini banyak cara yang bisa ditempuh diantaranya pendekatan dalam penyuluhan berupa informasi yang cukup dari rumah sakit mengenai lingkungan dan gedung, pendekatan berikut adalah dari petugasnya dengan berpakaian bersih dan rapi, bersikap simpatik dan yang terpenting adalah berperilaku sehat dalam arti sesuai dengan aturan, pendekatan penyuluhan ketiga melalui media berupa poster, kaset atau video, dan pendekatan keempat merupakan pendekatan yang terpenting adalah penyuluhan melalui interaksi langsung antara petugas dan pasien. Keberadaan ruang perinatalogi tersendiri membatasi tingkat kunjungan keluarga pasien maupun kerabat karena lebih mudah untuk diawasi dan dibatasi sesuai dengan jam kunjungan dan keluarga dapat melihat bayi cukup dari kaca ruang yang sedemikian rupa. Ruang perinatologi sendiri memudahkan petugas untuk perawatan dan perhatian yang khusus kepada bayi, ternyata hal ini juga dapat melindungi bayi yang sehat dari penyebaran bayi yang terinfeksi. Pelaksanaan ini menyebabkan tingkat penyembuhan yang lebih cepat dan tingkat pemulangan bayi rawat gabung menjadi lebih cepat.
Ruang perawatan bayi dilengkapi dengan perlengkapan yang sesuai dengan standart dalam penanganan bayi diruang perinatal. Petugas dan tamu wajib mematuhi
pergantian dan perawatan bayi hanya boleh dilakukan oleh petugas yang telah mendapatkan pelatihan khusus dan untuk bayi rawat gabung dilakukan bila bayi sudah stabil dan telah diajurkan oleh dokter yang menangani.
Berdasarkan hasil penelitian untuk tanda kejadian infeksi sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan diperoleh bahwa ada perbedaan kejadian diare sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi (p<0,05) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan artinya ada penurunan signifikan kejadian infeksi diare setelah adanya pemisahan ruang perinatologi.
Hal tersebut sesuai dengan laporan WHO yang dikutip dari State of the world’s mother 2007 berdasarkan data tahun 2000-2003 dikemukakan bahwa 36%
dari kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi, diantaranya sepsis, pneumonia, tetanus dan diare (WHO, 2007).
WHO juga melaporkan bahwa setiap tahun diare menyebabkan > 500.000 kematian usia balita di seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di negara berkembang. Di negara maju mortalitas diare rotavirus rendah oleh karna sarana pelayanan yang lebih baik namun diare rotavirus tetap menjadi penyebab morbiditas utama dan menjadi alasan tersering untuk berobat ke unit gawat darurat, poliklinik dan rawat inap (Titis, dkk, 2012).
Ken Shinta, dkk. (2011) menuliskan bahwa di Indonesia diperkirakan terdapat 200-400 kejadian diare per 1.000 penduduk dan diare merupakan penyebab kedua kematian balita setelah infeksi saluran pernapasan akut dengan 300.000-500.000
kematian per tahun. Sementara berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1995 diperoleh bahwa diare menempati urutan ketiga penyebab kematian bayi dan kedua pada balita (Reby Kusumajaya et al., 2009).
Karyana menguatkan kembali bahwa saat ini diare atau gastroenteritis masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan pada anak di dunia dan diperkirakan menyebabkan 1,87 juta kematian pada anak kuran dari 5 tahun atau setara 19% dari semua kematian anak setiap tahun. Sistem surveilen terpadu tahun 2000 melaporkan angka kematian diare akut pada balita 21,45 per 1.000 penduduk dengan case fatality rate 5,27 per 1.000 kasus. Hasil Surkesnas tahun 2001 melaporkan diare tetap menjadi penyebab kematian bayi nomor tiga serta kematian balita nomor dua yaitu 2,3 per 1.000 balita (Karyana et al., 2012).
Pendapat lain menyebutkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan diare akut berlanjut menjadi diare persisten seperti umur di bawah satu tahun, keadaan malnutrisi, penyebab gangguan kekebalan tubuh, riwayat diare sebelumnya dan infeksi usus. Diare akan menyebabkan lamanya penyembuhan dan meningkatkan angka kematian (Putra et al., 2008).
Hasil pengujian antara pemisahan ruangan dengan kasus hipotermi menunjukkan probabilitas p = 0,000< 0,05. Hal ini berarti bahwa pemisahan ruangan terdapat perbedaan secara signifikan untuk kejadian infeksi hipotermi pada penelitian ini setelah pemisahan ruangan perinatologi.
Puspita et al (2007) mengatakan bahwa hipotermi terjadi apabila suhu di bawah 36,5°C yang mana terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Kehilangan panas pada bayi baru lahir dapat melalui 4 cara yaitu evaporasi, konduksi, radiasi dan konveksi. Kesalahan penanganan sesudah lahir dapat menyebabkan bayi baru lahir kehilangan panas. Dengan demikian suhu ruangan dan suhu lingkungan mempengaruhi terjadinya hipotermi sehingga pemisahan ruangan perinatologi merupakan salah satu langkah tepat yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya infeksi hipotermi.
Hasil pengujian pemisahan ruangan dengan kasus hipertermi menunjukkan probabilitas p = 0,000< 0,05. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan secara signifikan untuk kejadian infeksi hipertermi pada penelitian ini.
Hipotermi maupun hipertermi merupakan kejadian yang mengalami dampak penurunan dari pengaruh pemisahan ruang perinatologi terhadap kejadian infeksi perinatal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
Peningkatan suhu tubuh jarang terjadi dan bila ada umumnya terdapat pada bayi cukup bulan. Hipotermia lebih sering ditemukan daripada hipertermia. Gejala umum pada bayi yang tidak kelihatan sehat (not doing well) seperti tidak mau minum, kenaikan suhu tubuh dan penurunan suhu tubuh yang dikenal sebagai hipotermi maupun hipertermi.
Infeksi pada post natal dapat bersumber dari sebelumnya, selama dan sesudah lahir (Wiknjosastro, 1999). Penyakit infeksi pada neonatus merupakan masalah yang
gawat. Dikatakan gawat karena merupakan 10-15% penyebab kematian atau kesakitan pada neonatus.
Hasil pengujian pemisahan ruangan dengan kejadian infeksi tali pusat menunjukkan probabilitas p = 0,003< 0,05. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan secara signifikan untuk kejadian infeksi tali pusat pada bayi.
Hal ini seturut dengan hasil pemantauan bayi di rumah sakit RSUD Tapanuli Selatan mengikuti prosedur dan aturan yang sudah diatur dan langsung dilakukan pemantauannya oleh dokter spesialis anak dan mengikuti peraturan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pemantauan yang dilakukan diantaranya menilai klinis bayi, suhu, kesadaran, tali pusat, daya hisap dan kestabilan ibu untuk dilatih merawat bayi baru lahir. Prosedur ini sudah tercantum dalam catatan medis rawatan pasien baru lahir.
Hasil pengujian kejadian kemauan menghisap menunjukkan probabilitas p = 0,001 < 0,05. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan secara signifikan untuk kejadian infeksi kemauan menghisap pada bayi.
Masalah malas minum meliputi bayi kesulitan menghisap payudara atau botol, bayi tidak lapar, bayi dengan kehilangan berat badan atau berat bayi tidak naik, kesulitan bayi minum karena masalah bayi kesulitan menghisap. Kondisi ini perlu ditanggulangi dengan cara melakukan pemisahan ruangan perinatal bagi bayi dan ibu yang sedang bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan.
Hasil pengujian kejadian lama rawat menunjukkan probabilitas p = 0.003<
infeksi lama rawat bayi. Faktor nosokomial yang dapat menjadi predisposisi infeksi neonatal meliputi lama rawat, prosedur invasif, ruang perawatan penuh, staf perawatan dan prosedur perawatan misalnya cuci tangan (Pusponegoro, 2000).
Pengendalian infeksi di negara berkembang masih buruk maka perlu perhatian yang serius baik di Indonesia maupun di banyak negara di luar negeri (Alatas et al., 2007). Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan khususnya akan tetap terus dilakukan perbaikan dalam upaya pengendalian infeksi sebagai faktor penyebab masa rawatan yang lebih lama pada bayi dan mengurangi tanda kejadian infeksi sebagai awal terjadinya sepsis yang menjadi penyebab harapan hidup yang kecil. Perbaikan dalam pengendalian infeksi ini diharapkan mempunyai keberhasilan dalam menurunkan kematian neonatal. Ruangan bayi yang disesuaikan dengan tingkat perawatan bayi diharapkan dapat terwujud, sehingga hal ini juga akan memperbaiki harapan bayi dengan kegawatan tertentu. Fasilitas yang lengkap tersebut tentunya dapat terwujud dengan kerjasama antara beberapa instansi terkait termasuk dengan pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Kesimpulan ini adalah berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pemisahan ruang perinatologi menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kejadian infeksi perinatal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
2. Keseluruhan kejadian infeksi dalam penelitian ini diperoleh terdapat perbedaan yang signifikan dalam pemisahan ruang perinatologi terhadap kejadian infeksi perinatal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan.
3. Adanya pemisahan ruang perinatologi terhadap kejadian infeksi perinatal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan sangat berpengaruh terhadap lama rawat bayi yang diikuti faktor ukur kemauan menghisap bayi.
4. Adanya pemisahan ruang perinatologi terhadap kejadian infeksi perinatal di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan sangat sedikit mempengaruhi kejadian hipotermi bayi dan hipertermi bayi.
6.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Pihak manajemen pelayanan kesehatan RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan menerapkan pencegahan infeksi nosokomial untuk bayi dengan lebih meningkatkan pengawasan dan pelaksanakan aturan, ketetapan pelaksanaan dari aturan yang ditetapkan baik untuk petugas dan pengunjung.
2. Manajemen Rumah sakit melakukan pengawasan langsung pada petugas yang berada di ruang perawatan perinatologi.
3. Penetapan sasaran pemilihan metode penyuluhan edukasi bagi petugas dan masyarakat di dalam maupun di luar gedung.
4. Dukungan pendidikan dan jenis pelatihan untuk memberikan ketrampilan petugas.
DAFTAR PUSTAKA
Alatas, Fatima Safira dkk., 2007. Gambaran Epidemiologi Infeksi Nosokomial Aliran Darah pada Bayi Baru Lahir. Jurnal Sari Pediatri. Vol.9 No.2 Agustus 2007.
Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Bachroen, Cholis. 1990. Faktor-Faktor Dominan Terjadinya Variasi Angka Kematian Balita. Buletin Penelitian Kesehatan No.18 Vol.2
Brazelton, T. Berry. (1999). How the Brain and Mind Developin The First Five Years. New York, NY: Batam Books
Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni, 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Child Health Research Project Special Report, 1999. Recuding Perinatal dan Neonatal Mortality. Report of Meeting, Baltimore, Maryland USA.
Danim, 2003. Riset Keperawatan: Sejarah dan Metodologi. Jakarta: EGC.
Darmstadt et al, 2005. Neonatal Health Program Management in a Resource-Constrained Setting in Rural Uttar Pradesh, India. International Journal of Health Planning and Management, Baltimore, USA.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007. Penatalaksanaan Sepsis Neonatorum. Depkes RI, Jakarta.
_______, 2008. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). Depkes RI, Jakarta.
, 2012. Pedoman Penyelenggaran PONEK 24 Jam Di Rumah Sakit, Depkes RI Jakarta.
Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2003. Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk Dokter, Bidan dan Perawat di Rumah Sakit. Depkes RI, Jakarta.
, 2012. Tatalaksana Awal Kegawatan Pada Bayi dan Anak. IDAI Cabang Sumatera Utara, Medan.
Janssen, Patricia A. et al. 2003. To Dye or Not to Dye: A Randomized, Clinical Trial of a Triple Dye/Alcohol Regime Versus Dry Cord Care. PEDIATRICS, Vol.
111, No. 1.
Jumah DS dan Hassan MK, 2007. Predictor of Mortality Outcome in Neonatal Sepsis. The Medical Journal of Basrah University (MUBU).
Karyana, I Putu Gede, Nyoman Budihartawanm I GN Sanjaya Putra, 2012. Pengaruh Formula Bebas Laktosa terhadap Lama Diare dan Elektrolit Serum pada Anak dengan Diare Rotavirus. Sari Pediatri, Vol.14, No.2, Agustus 2012. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Kusumajaya Reby, Ina Rosalina, Sri Endah Rahayuningsih, 2009. Perbandingan Efek Live dan Heat-Killed Probiotic terhadap Penyembuhan Diare Akut Nondisentri pada Anak. Sari Pediatri, Vol.10, No.5, Februari 2009. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Ladewig, PW. 2006. Asuhan Keperawatan Ibu- Bayi Baru Lahir. EGC: Jakarta
Lestari, W. 2010. Pengaruh Pelatihan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita Terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Bidan di Kabupaten Banjar [Tesis].Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Litbang Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar 2008. Pusat Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Maimunah, S, 2005, Kamus Istilah Kebidanan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Maryunani, Anik, 2010. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. Trans Info Media, Jakarta.
Medlinux, 2007. Ketuban Pecah Dini. Diakses dari http://medlinux.blogspot.com/2007/11/ketuban-pecah-dini.html. Tgl 21 Agustus 2013.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 2. Jakarta : EGC
Nugrahani CK, dkk. 2005. Uji Diagnostik Apusan Buffy Coat dengan Pewarnaan Gram pada Sepsis Neonatorum. Berkala Ilmu Kedokteran, Vol. 37, No. 1, FK UGM, Yogyakarta.
Parker, R. B. 1983. Probiotics, the other half of the antibiotic story. J. Anim. Nutr.
Health. Vol.29.
Patel, Candra. 1995. Fighting Heart Disease: Practical Self-Help Guide to Prevention and Treatment. Dorling Kindersley, London.
Pemkab Tapanuli Selatan, 2012. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2012.
Prajoga. 1994. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru di Kabupaten Dati II Magelang. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Penyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Profil RSU Permata Madina, 2011.
Potter, Patricia A., & Anne Griffin Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4. Vol, 2. Jakarta: EGC
Puspita, Irma Rochima, Rulina Suradi dan Zakiudin Munasir, 2007. Insiden dan Faktor Risiko Hipotermia Akibat Memandikan pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan. Sari Pediatri, Vol.8 No.4 Maret 2007. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Pusponegoro, Titut S., 2000. Sepsis pada Neonatus (Sepsis Neonatal). Sari Pediatri.
Vol.10, No.3, Agustus 2000. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Putra, Deddy S. dkk., 2008. Diare Persisten: Karakteristik Pasien, Klinis, Laboratorium dan Penyakit Penyerta. Sari Pediatri, Vol.10, No.2, Agustus 2008. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Rasul CH, Hassan MA, Habibullah M, 2007. Neonatal Sepsis and Use of Antibiotic in a Tertiary Care Hospital. Journal Medicine Science Volume 23, 2007.
Rochelle, T., 2005. Validity of Maternal and Perinatal Risk Factor s Reported on Fetal Death Certificates. American Journal of Publich Health.
Rohsiswatmo, R., 2005. Kontroversi Diagnosis Sepsis Neonatorum. Dalam Update in Neonatal Infection. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti, 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita.
CV.Trans Info Media, Jakarta.
Rumah Sakit Permata Madina, 2011. Profil Rumah Sakit Mandailing Natal Tahun 2011.
Rutala, W.A., Barbee, S.L. et al. 1995. Antimicrobial Activity of Home Disinfectants and Natural Products Against Potential Human Pathogens. Infection Control and Hospital Epidemiology. No.21 Vol.1
Saifuddin, Abdul Bari dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Sastroasmoro, Sudigdo dan Sofyan Ismael, 2002. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. CV.Sagung Seto, Jakarta.
Shattuck KE, Chonmaitree T., 1992. The Changing Spectrum of Neonatal Meningitis Over a Fifteen-Year Period. Clin Pediair.
Shinta Ken, Hartantyo, Noor Wijayahadi, 2011. Pengaruh Probiotik pada Diare Akut:
Penelitian dengan 3 Preparat Probiotik. Sari Pediatri, Vol.13 No.2 Agustus 2011. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta.
Simbolon, Demsa, 2008. Faktor Risiko Sepsis Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Curup Kabupaten Rejang Lebong. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. 36, No. 3, 2008.
Stoll BJ, 2007. Infections of the Neonatal Infant. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-18.
Philadelphia: WB Saunders.
Sudigdo, Sofyan, 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-2, Jakarta: Sagung Seto.
Suheimi, 2007. Infeksi dalam Kehamilan. Diakses dari http://ksuheimi.blogspot.com/2007/09/infeksi-dalam-kehamilan.html. Tgl 2 November 2013.
Surasmi, Asrining, dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC.
Surodiprodjo, S., 1998. Infeksi dalam Periode Neonatal dalam Kumpulan Makalah Penataran Bidang Perinatologi. RSDK. Semarang.
Surodiprodjo, S., 1998. Infeksi dalam Periode Neonatal dalam Kumpulan Makalah Penataran Bidang Perinatologi. RSDK. Semarang.