Dalam menjalankan fungsi dan perannya untuk pengawasan Bank, Dewan Komisaris berkomitmen untuk senantiasa proaktif mengarahkan Bank memberikan shareholder value yang tumbuh berkesinambungan dengan berlandaskan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance serta merefleksikan etika dan budaya tata kelola yang baik dalam struktur dan kebijakan Bank.
Pelaksanaan tindakan pengawasan serta konsultasi dan pemberian pandangan kepada Direksi, dilakukan sejak perumusan strategi, tahap implementasi program, dilanjutkan dengan pemantauan kinerja disertai upaya memastikan penerapan manajemen risiko dan Good Corporate Governance dilaksanakan secara komprehensif, efektif dan efisien.
Dewan Komisaris berpendapat bahwa dalam periode tahun 2008, manajemen telah bersungguh-sungguh untuk terus berupaya melanjutkan tahapan tranformasi dalam mewujudkan visi Bank.
Pencapaian yang baik telah ditunjukkan dalam peningkatan mutu pelayanan, perbaikan tata kelola dan peningkatan profitabilitas serta pertumbuhan bisnis. Selain pencapaian kinerja keuangan serta pengelolaan likuiditas dalam menghadapi dampak krisis keuangan global, secara umum pengawasan Dewan Komisaris difokuskan terhadap beberapa permasalahan utama yang terkait program perbaikan kinerja Bank dan pencapaian target, yaitu meliputi;
Penanganan Kredit Bermasalah, Corporate Governance dan Manajemen Risiko, Pengembangan Sumber Daya Manusia serta Sistem Pengendalian Internal dan Infrastruktur.
Terhadap hal-hal tersebut di atas, faktor-faktor yang menjadi perhatian Dewan Komisaris dalam melaksanakan fungsi pengawasannya adalah sebagai berikut :
1. Kinerja Keuangan
Walaupun terpengaruh dampak krisis keuangan global khususnya pada paruh kedua tahun 2008, kinerja keuangan Bank Mandiri pada tahun 2008 tetap meningkat secara signifikan dibanding tahun 2007, baik dari sisi pertumbuhan profitabilitas dimana laba berhasil meningkat 22,3% maupun dari pengembangan bisnis dimana penyaluran kredit meningkat 26,0% dan penghimpunan dana meningkat 16,9%. Sedangkan perbaikan kualitas aset tercermin dari penurunan NPL neto dari sebesar 1,51% menjadi 1.09%.
Total aktiva Bank Mandiri per posisi 31 Desember 2008 mencapai Rp.
358,4 triliun atau tumbuh 12,3%
dibanding tahun 2007 dan tetap menunjukkan posisi Bank Mandiri sebagai Bank terbesar di Indonesia.
Ditinjau dari pencapaian target yang telah ditetapkan dalam Key Performance Indicator (KPI) tahun 2008, Bank Mandiri telah mencapai hampir semua target dan rencana kerja dengan sangat baik, kecuali sasaran Price to Book Value (PBV) saham Bank Mandiri yang belum tercapai karena pengaruh menurunnya kinerja pasar modal global maupun di Indonesia serta NPL yang sedikit di atas target karena terpengaruh kondisi makro ekonomi sebagai dampak krisis keuangan global.
2. Pengelolaan Likuiditas Dalam Menghadapi Dampak Krisis Keuangan Global
Salah satu fokus pengawasan dan arahan Dewan Komisaris kepada Direksi khususnya pada semester II tahun 2008 adalah terkait upaya menjaga daya tahan bank dan ketersediaan likuiditas dalam menghadapi dampak krisis keuangan global terutama likuiditas USD serta menentukan langkah-langkah antisipasi terhadap risiko yang berpontensi muncul. Berikut ini adalah beberapa hal yang telah dilakukan oleh Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Kebijakan untuk menaikkan safety level likuiditas valas dan rupiah, namun tingkatannya perlu dievaluasi secara berkala dengan memperhatikan kondisi makro perekonomian dan operasional bank.
b. Pembentukan tim yang bertugas untuk menganalisa dan menyediakan informasi kondisi pergerakan likuiditas serta informasi keuangan nasional maupun global lainnya secara real time kepada jajaran manajemen sebagai sumber informasi dalam pengambilan keputusan, sehingga potensi permasalahan dapat diketahui secara dini dan dapat diambil tindakan mitigasi yang cepat dan tepat.
c. Dalam kondisi krisis diperlukan koordinasi terhadap kebijakan penyaluran kredit terkait
kondisi likuiditas yang dilaksanakan melalui media Rapat Komite Kredit dan Asset Liabilities Committee secara berkelanjutan.
d. Melakukan review atas kondisi keuangan dan bisnis model cabang-cabang luar negeri.
e. Menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi global, Bank agar lebih berhati-hati dan konservatif dalam menjalankan strategi bisnisnya dengan segera menurunkan portfolio kredit valuta asing secara bertahap dan meyakini bahwa seluruh perjanjian kredit valuta asing sudah dilengkapi klausula yang menyatakan bahwa Bank sewaktu-waktu berhak melakukan konversi pinjaman valuta asing menjadi Rupiah.
3. Penanganan Kredit Bermasalah/
Non Performing Loan (NPL) Dewan Komisaris dengan dibantu
oleh Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko memonitor berbagai upaya yang dilakukan manajemen dalam menjaga NPL sesuai ketentuan Bank Indonesia, termasuk memonitor pengaruh perkembangan kondisi makro terhadap kualitas aktiva produktif pada umumnya.
Disamping itu, terkait dengan penanganan kredit bermasalah/
NPL, Dewan Komisaris tetap memberikan perhatian atas hal-hal berikut:
a. Pencapaian komitmen penyelesaian dengan cara
restrukturisasi dan pelunasan kewajiban pada bank untuk sisa obligor NPL Top 30 yang diidentifikasi sejak tahun 2005.
Pada posisi 31 Desember 2008 masih tersisa 4 debitur dengan total baki debit sebesar Rp947,6 miliar.
b. Upaya menjaga dan meningkatkan risk control system pada aktivitas perkreditan terutama untuk segmen korporasi, commercial, small business dan consumer, termasuk penyempurnaan kualitas business process secara end to end.
c. Strategi menjaga dan meningkatkan kualitas proses restrukturisasi kredit dalam upaya menghasilkan kredit portfolio yang sehat secara berkesinambungan dalam jangka panjang. Terkait dengan potensi peningkatan risiko kredit akibat krisis global agar dipersiapkan berbagai langkah mitigasi yang tepat dan cepat agar risiko kredit dapat diminimalisir.
4. Corporate Governance dan Manajemen Risiko
Implementasi corporate governance dan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian operasional Bank, secara umum dapat dilaporkan telah dilaksanakan dengan baik oleh manajemen, dan penyempurnaannya terus diupayakan secara berkelanjutan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Dewan Komisaris mencatat beberapa hal sebagai berikut:
a. Hasil self assessment Bank Mandiri atas pelaksanaan Good Corporate Governance (transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness) periode tahun 2008 untuk memenuhi Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.8/4/
PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) Bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan PBI No.8/14/PBI/2006, menunjukkan nilai komposit 1,1 dengan predikat ”Sangat Baik”.
Selain itu, terkait dengan penerapan GCG, Bank Mandiri memperoleh penghargaan sebagai Perusahaan dengan predikat ”Sangat Terpercaya”
(peringkat 1) pada Corporate Governance Perception Index 2007 yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance, dan sekaligus memperoleh penghargaan sebagai Perusahaan Publik (Emiten) Terbaik dari seluruh peserta yang berpartisipasi.
b. Bank Mandiri telah melakukan penyempurnaan Tata Tertib Dewan Komisaris melalui Surat Keputusan Dewan Komisaris No.KEP.KOM/002/2008 tanggal 6 Oktober 2008 tentang Tata Tertib Dewan Komisaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, untuk memenuhi Undang-undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan di bidang pasar modal tentang pokok-pokok Anggaran Dasar bagi perusahaan publik.
c. Terhadap usulan keanggotaan Komite Good Corporate Governance dan Komite Remunerasi dan Nominasi mengenai pengangkatan Sdri.
Gunarni Soeworo dan Sdr.
Mahmuddin Yasin, sebagai pelaksanaan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tanggal 29 Mei 2008 yang menerima pengunduran diri Sdr. Yap Tjay Soen sebagai anggota Komisaris Independen dan pemberhentian dengan hormat Sdr. Richard Claproth sebagai anggota Komisaris, maka Dewan Komisaris memberikan persetujuan atas usulan keanggotaan Komite Good Corporate Governance dan Komite Remunerasi dan Nominasi pada tanggal 29 Agustus 2008.
d. Dewan Komisaris melakukan review secara berkala terhadap penerapan manajemen risiko yang dilakukan Bank, antara lain terhadap portfolio kredit di atas Rp1 triliun. Selain itu, Dewan Komisaris senantiasa memonitor kepatuhan terhadap ketentuan kehati-hatian yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, antara lain Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan penetapan Capital Adequacy Ratio (CAR).
Terkait dengan Tingkat Kesehatan Bank Mandiri, Bank Indonesia memberikan hasil peringkat komposit 2 dengan predikat Baik untuk posisi 30 September 2008, sesuai
surat No.10/215/DPB1/Rahasia tanggal 3 Desember 2008 perihal Hasil Penilaian Tingkat Kesehatan Bank.
Penilaian kecukupan sistem pengendalian risiko untuk risiko kredit Bank Mandiri, Bank Indonesia menggolongkan acceptable untuk posisi 30 September 2008, sesuai surat No.11/5/DPB1/TPB1-1/Rahasia tanggal 16 Februari 2009 perihal Informasi Predikat Penilaian Kecukupan Sistem Pengendalian Risiko untuk Risiko Kredit, Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank Posisi 30 September 2008.
e. Dewan Komisaris menaruh perhatian dan merekomendasikan agar manajemen secara berkelanjutan memperbaiki sistim pelaporan keuangan serta proses penyusunan laporan profil risiko untuk peningkatan kualitas laporan.
f. Sehubungan dengan upaya mencapai visi menjadi Regional Champion Bank, Dewan Komisaris menaruh perhatian terhadap langkah strategis Bank Mandiri melalui pertumbuhan organik maupun non-organik, termasuk
melakukan akuisisi perusahaan pembiayaan (multifinance) PT Tunas Financindo Sarana dan penambahan penyertaan modal Bank kepada Bank Syariah Mandiri melalui inbreng.
5. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Dalam hal pengembangan sumber daya manusia, implementasi programnya senantiasa diupayakan selaras dan terintegrasi sehingga dapat secara optimal mendukung pencapaian target dan rencana bisnis. Beberapa hal yang menjadi perhatian Dewan Komisaris antara lain sebagai berikut:
a. Program internalisasi budaya perusahaan yang mencakup nilai-nilai kebersamaan Trust, Integrity, Profesionalism, Customer Focus dan Excellence (TIPCE) telah dilaksanakan secara konsisten dan
berkelanjutan kepada seluruh jajaran pegawai.
b. Pelaksanaan berbagai
pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme dan produktivitas pegawai, serta penyempurnaan Human Capital Policy, antara lain: pengembangan sistem people movement dan people development, penyempurnaan kebijakan talent management dan rekrutmen pegawai secara spesifik untuk masing-masing Business Unit, strategi kompensasi yang kompetitif melalui kenaikan gaji pegawai yang mengacu pada pasar, pengelolaan kesehatan pegawai & pensiunan serta pengembangan sistem pemetaan pegawai (people mapping).
c. Pelaksanaan program untuk meningkatkan engagement
atau motivasi karyawan dimulai dengan pelaksanaan Employee Engagement Survey (EES) untuk mengukur tingkat kepuasan kerja pegawai sebagai feedback pengembangan system Human Capital, dan pengembangan sistem Manajemen Suksesi/
Succession Plan.
6. Pelaksanaan Management Stock Option Plan (MSOP)
Dewan Komisaris selama tahun 2008 juga melaksanakan
pengawasan terhadap pelaksanaan eksekusi atas Management
Stock Option Plan (MSOP), sebagaimana diamanatkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa Perseroan tanggal 29 September 2003 yang menetapkan kebijakan pelaksanaan dan pengawasan serta penerima untuk program MSOP Tahap 1, RUPS Tahunan Perseroan tanggal 16 Mei 2005 untuk MSOP Tahap 2 dan RUPS Tahunan Perseroan tanggal 22 Mei 2006 untuk MSOP Tahap 3.
Selama periode tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2008, telah dilaksanakan
penerbitan saham baru Perseroan hasil eksekusi MSOP Tahap 1 (sampai dengan berakhirnya masa option life MSOP Tahap 1 pada tanggal 13 Juli 2008) sebanyak 4.835.783 lembar saham, MSOP Tahap 2 sebanyak 55.110 lembar saham dan MSOP Tahap 3 sebanyak 87.991.721 lembar saham. Penambahan jumlah saham beredar hasil dari eksekusi MSOP tersebut ditindaklanjuti dengan perubahan Anggaran Dasar
untuk melakukan penambahan atas modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan.
Dengan pelaksanaan eksekusi tersebut, maka sampai dengan tanggal 31 Desember 2008 jumlah total penerbitan saham baru Perseroan hasil eksekusi MSOP Tahap 1 adalah sebanyak 375.365.957 lembar saham, MSOP Tahap 2 sebanyak 304.942.052 lembar saham dan MSOP Tahap 3 sebanyak 225.339.779 lembar saham.
7. Sistim Pengendalian Operasional Bank dan Infrastruktur
Kecepatan pertumbuhan bisnis dan kompleksitas operasional perbankan perlu disertai dengan sistem pengendalian operasional yang memadai dan didukung infrastruktur serta teknologi yang handal. Beberapa catatan Dewan Komisaris, terkait dengan hal tersebut antara lain:
a. Dewan Komisaris telah melakukan penilaian dan pemantauan atas upaya manajemen dalam meningkatkan kualitas dari sistim pengendalian operational dan infrastruktur antara lain berupa review efektivitas sistem pengendalian intern secara periodik, assessment profil risiko operasional unit kerja, pengembangan metodologi dan tools pengukuran risiko, evaluasi atas proses bisnis secara berkala dan melakukan perbaikan dalam rangka meminimalisir risiko terutama peningkatan pengamanan
untuk mitigasi risiko dan proses security assessment.
b. Berdasarkan kasus-kasus fraud yang terjadi di beberapa cabang dan cash outlet, Dewan Komisaris berpendapat untuk meningkatkan efektifitas fungsi pengawasan dari pimpinan cabang dan pemenuhan kelengkapan officer di cash outlet sesuai dengan rencana.
Selain itu, pembinaan kepada para pimpinan cabang perlu dilakukan lebih efektif, serta pelaksanaan rotasi/mutasi pegawai secara berkala khususnya pegawai yang sudah terlalu lama. Terkait dengan beberapa upaya untuk membobol Bank Mandiri yang dilakukan pihak luar, walaupun tidak berhasil perlu dipikirkan untuk dilaporkan kepada pihak berwajib agar memberikan efek jera dan minimal dapat mengurangi usaha-usaha membobol Bank Mandiri.
c. Untuk memperkuat pengendalian internal telah disempurnakan dan diterbitkan berbagai Standar Pedoman Operasional (SPO) di bidang operation antara lain SPO Trade Service & Finance, SPO RTGS, SPO Remittance, SPO Kewenangan, SPO Kliring dan SPO lainnya. Selain itu juga telah dilaksanakan evaluasi dan penyempurnaan pengelolaan dokumen-dokumen perkreditan di Regional Credit Operation (RCO) sesuai ISO 9001 : 2000.
d. Terkait dengan beberapa pengembangan infrastruktur
yang telah dilaksanakan untuk mendukung pertumbuhan bisnis diantaranya: pembentukan 3 Commercial Floor, pembentukan 5 Trade Services Desk (TSD), pembentukan 6 Small Business Distric Center (SBDC), 6 Priority Outlet, 80 Community, 300 Micro Banking Unit, 70 cabang baru dan 27 relokasi kantor serta berbagai pengembangan system teknologi informasi, perlu dimonitor efektifitas dan kehandalannya secara berkala.
8. Hal-hal Lain Yang Perlu Mendapat Perhatian Manajemen
Berdasarkan pengawasan atas realisasi kinerja dan pelaksanaan program kerja Bank Mandiri Tahun 2008 maka Dewan Komisaris menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian manajemen antara lain sebagai berikut:
a. Sejalan dengan visi menjadi Dominant Multispecialist Bank, khususnya dalam periode transformasi fase Outperform The Market 2008-2009 maka pengembangan bisnis baik berupa pertumbuhan penyaluran kredit maupun penghimpunan dana yang sustainable, dengan membangun keunggulan terhadap pesaing. Oleh karena itu perlu dirumuskan langkah-langkah strategis untuk melakukan monitoring dan mendorong pertumbuhan yang sustainable serta dilaksanakan dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.
b. Dalam rangka untuk mengendalikan cost of funds dan optimalisasi interest margin perlu terus diupayakan perbaikan komposisi dana/funding
mix, sehingga peningkatan penghimpunan tabungan harus tetap menjadi fokus, khususnya untuk retail banking.
Memperhatikan ketatnya persaingan penghimpunan dana masyarakat di tahun yang akan datang, diharapkan agar lebih agresif untuk memperkuat strategi penghimpunan dananya melalui low cost deposit
franchise.
c. Untuk memperoleh portfolio kredit yang lebih optimal dan penyebaran risiko yang lebih baik kiranya perlu pengelolaan pertumbuhan kredit yang selaras dengan strategi yang telah ditetapkan khususnya dalam mendorong pengembangan kredit segmen micro-retail dan consumer finance dalam rangka meningkatkan komposisi high yield loan.
Oleh karena itu program kerja untuk memperkuat platform pengembangan high yield secara signifikan diharapkan agar menjadi prioritas yang harus dilaksanakan melalui akselerasi pengembangan bisnis high yield, baik terkait penyebaran jaringan, penetapan business model, target market, risk management maupun pemenuhan SDM dan infrastruktur. Dalam hal ini perlu didukung dengan riset potensi bisnis daerah yang komprehensif.
d. Dalam pengembangan kredit sindikasi perlu diwaspadai dan
dipelajari secara mendalam tawaran sindikasi pinjaman dari bank-bank asing,
mengingat kemungkinan kredit/
pinjaman yang ditawarkan untuk berpartisipasi sudah mulai bermasalah atau tidak memberikan penghasilan (revenue) yang memadai lagi dibandingkan dengan risiko yang dihadapi.
e. Bank Mandiri agar segera menyusun blue print microbanking business yang komprehensif, seperti target market yang akan dituju, struktur produk dan portfolio, IT system yang akan disiapkan, pendekatan program yang akan dilakukan, jumlah dan kualifikasi SDM yang diperlukan, pricing dsb. Blue print yang komprehensif lebih menjamin keberhasilan bisnis pada saat dijalankan.
f. Selain penyelesaian NPL, agar tetap diupayakan untuk mendorong optimalisasi dan percepatan collection extracomptable, litigasi serta penyelesaian properti terbengkalai dengan tetap memperhatikan aspek Good Corporate Governance.
g. Salah satu upaya untuk
meningkatkan profitabilitas bank yang perlu dikembangkan adalah peningkatan fee based income melalui pengembangan aktivitas transactional banking yang lebih intensif dan terprogram secara sistematis antara lain mencakup pengembangan payment system.
h. Pengelolaan efisiensi operasional agar tetap dilaksanakan secara berkelanjutan melalui
implementasi alternatif program efisiensi operasional yang dapat memberikan hasil yang lebih signifikan bagi penghematan biaya, namun tetap menjaga kualitas layanan dan kehandalan infrastruktur beserta security system-nya.
i. Sejalan dengan upaya Bank Mandiri untuk meningkatkan target ROE, maka kebijakan merger dan akuisisi di masa yang akan datang agar di prioritaskan kepada perusahaan-perusahaan yang berkinerja baik dan tidak berpotensi membebani kinerja bank.
Selama tahun 2008, Dewan
Komisaris dalam melaksanakan fungsi pengawasan serta pemberian nasihat kepada Direksi dibantu oleh Komite-Komite yaitu :
1. Komite Audit
2. Komite Pemantau Risiko
3. Komite Remunerasi dan Nominasi 4. Komite Good Corporate Governance Seluruh Komite telah melaksanakan tugas dan kewajiban dengan baik dan telah memberikan laporan dan rekomendasi kepada Dewan Komisaris atas hal-hal yang perlu menjadi perhatian Dewan Komisaris dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Laporan dan Rekomendasi masing-masing Komite dapat dilihat dalam laporan tersendiri yang merupakan bagian dari laporan pertanggung jawaban tahunan Dewan Komisaris.
Demikian laporan Dewan Komisaris atas pelaksanaan program
pengawasan selama tahun 2008.