PRAGMATISME: AKAR FILOSOFIS LAHIRNYA
E. Dewey Dan Perkembangan Filsafat Amerika
en ts S td
E. Dewey Dan Perkembangan Filsafat
Amerika
1. Pragmatisme: Sebuah Penawaran yang Berbeda.
Para penganut pragmatis pada awal abad kedua puluh menawarkan sebuah perspektif yang berbeda tentang ilmu pengetahuan, makna dan kebenaran. Khususnya terdapat dalam karya William James dan John Dewey yang sangat produktif dalam bidang pendidikan, politik, dan bidang-bidang yang lain. Pragmatisme menjadikan ide-ide yang instrumental sebagai rencana-rencana untuk bertindak yang makna-maknanya berasal dari hasil kata-kata yang riil. Ini berlawanan dengan posisi-posisi filsafat sekarang, seperti filsafat analitik yang menjadikan tujuan catatan-catatan abstrak ilmu pengetahuan dan ide-ide sebagai hubungan dengan kebenaran dan realitas objektif. Kebenaran sebagai koresponden (kesesuaian) dengan keadaan realitas adalah dikritik oleh filsafat pasca-analitik dan analitik. Pragmatisme juga mengajukan bahwa pengalaman dan aksi individual di dunia ini adalah dasar-dasar yang sangat realistis untuk membuat keputusan. Tindakan ini berorientasi pada lingkungan adalah di mana mengembangkan sebuah versi saling ketergantungan antara teori dan praktik. Kematian pragmatisme sebagai perspektif yang tumbuh subur tentang bentuk-bentuk dan praktik-praktik sains, pendidikan, dan bidang-bidang yang lain datang dengan sebuah pergeseran ke arah sebuah
mode empiris logis dan rasionalis di Amerika utara.23
Di samping itu, posisi modernisme secara umum menentang eksistensi posisi-posisi filosofis. Kebangkitan
23 Gavin Melles, “New Pragmatism and the Vocabulary and Metaphors of Scholarly Design Research” dalam Jurnal Massachusetts Institute
Dr. Saifullah Idris, M. Ag | 51 Adobe Wood Type Ornaments Std
dan seruan pragmatisme secara besar-besaran dewasa ini telah dimotivasikan oleh sebuah pergeseran kepada model filsafat historisgrafis dan area-area yang serumpun dengannya. Sebagai hasilnya, sekarang kebenaran adalah telah memahami yang lebih historis dan sebagai konsekuensinya, pragmatisme adalah diakui sebagai posisi yang lebih umum dari pada sebagai hasil argumen-argumen dan tesis-tesis yang khusus atau sebagai metode yang terbatas. Secara historis, jarak posisi pragmatisme akhir-akhir ini didasari pada bacaan-bacaan intelektual pada awal abad XX dan kritik pos modern yang mempunyai ciri-ciri yang lain. Prado, mengidentifikasi empat kunci ajaran keberadaan pragmatism dewasa ini, yaitu: sebuah empiris yang plural, pandangan realitas yang temporalistik, konsep realitas dan nilai-nilai yang kontekstualistik, dan sebuah demokrasi individualis yang sekuler. Empirisme yang plural menerima fenomena penjelasan-penjelasan alternatif tentang dasar-dasar dari ketidak menentuan yang melekat pada hubungan antara teori dan data. Pandangan realitas yang temporalistik mengabadikan kebutuhan untuk mempertimbangkan situasi filsafat, pendidikan, dan bidang-bidang yang lain dewasa ini secara historis. Kebutuhan akan realitas dan nilai-nilai yang komprehensif dari perspektif konteks situasi yang konkrit adalah sebuah kecocokan dari dua asumsi yang lalu. Terakhir adalah prinsip demokratis menempatkan pilihan dan realitas ke dalam sebuah warisan politik yang didasarkan pada
kebutuhan-kebutuhan pribadi dan masyarakat.24
Bagaimanapun, pandangan Dewey tentang kesuksesan metode-metode penemuan teknologi ilmiah, seni dan estetika sebagai bentuk-bentuk komunikasi
24 Charles G. Prado, The Limits of Pragmatism, (Atlantic Highlands: Humanities Press Internatioal, 1987), hlm. 1.
52 | DEMOKRASI DAN FILSAFAT PENDIDIKAN
(Akar Filosofis dan Implikasinya dalam Pengembangan Filsafat Pendidikan)
Ado be W oo d Typ e Orn am en ts S td
telah sesuai dengan bidang perencanaan. Bagi Dewey, seni dan estetika adalah model-model pengalaman dan komunikasi masyarakat yang telah melampaui batas-batas moral dan ideologi. Pandangan Dewey tentang peranan seni dalam debat politik dan sosial ini, dan transformasi, dilanjutkan pada kritik-kritik dan pengikut-pengikutnya. Selanjutnya, Dewey menyesalkan keterpisahan industri seni-seni dari seni-seni yang bagus tentang dasar sebuah dikotomi antara objek-objek yang menggunakan industri seni dengan teori dan spekulasi seni-seni yang bagus. Dewey melihat perpisahan seni-seni yang bagus dari lingkungan-lingkungan dan pengalaman-pengalaman produksi pada galeri sebagai kelicikan. Dewey juga menyarankan bahwa itu adalah tidak produktif terhadap pemahaman masyarakat tentang fungsi dan nilai seni
dalam masyarakat yang demokratis.25
Catatan estetika dan kreativitas praktis ini adalah pelajaran-pelajaran berpotensial untuk mendesign bidang-bidang tersebut. Penekanan James dan Dewey tentang estetika alami dari semua pikiran. Seperti Coyne, melihat pragmatisme sebagai sebuah pendekatan kreatif yang menghindari ekses-ekses rasionalisme kognitif dan romantisme artistik dalam perencanaan. Pragmatisme juga dapat mengontrol tingkat penafsiran dari realitas-realitas praktis. Bagi Coyne, penafsiran adalah pusat perhatian kreatifitas dalam pragmatisme, dan melibatkan fokus tentang ketidakmenentuan, tetapi aktif, berdekatan dengan makna-makna objek baik bagi perancang maupun
bagi pengguna.26
25 Mark Mattern, “John Dewey, Art and Public Life,” dalam The Journal
of Politics, Volume 61, edisi 1, tahun 1999, hlm. 54-75.
26 Richard Coyne, “Creativity as Commonplace”, dalam Jurnal Design
Dr. Saifullah Idris, M. Ag | 53 Adobe Wood Type Ornaments Std
Hickman27 mencatat bahwa produktivitas
pragmatisme Dewey secara kuantitas adalah untuk menunjukkan bagaimana disiplin-disiplin teknologi ilmiah dan seni-seni, hukum dan lain-lain secara umum dapat membagi strategi-strategi problem-solving. Keduanya diikat oleh kriteria dan makna dari unsur-unsur dan fakta-fakta bidang masalah yang mereka pilih adalah bertujuan pada penilaian yang kritis, dengan jujur memperhatikan materi-materi, mengevaluasi dengan teliti sebuah kelompok atau penyelidikan masyarakat, dan menyesuaikan dengan menghormati situasi-situasi sejarah dan budaya. Kritik ini lebih produktif dengan teknologi adalah sebuah visi modern yang terlambat menyimpulkan, konsisten dengan demokrasi liberal dalam pragmatisme adalah telah ditumbuhkan.
Lebih lanjut, Hickman juga mengamati instrumentalisme dan fokus teknologi ilmiah produktivitas pragmatisme Dewey adalah telah menjadi laknat terhadap sebuah generasi teori-teori kritis yang telah mengutuk teknologi sebagai penyebab kesakitan manusia. Meskipun, kesalahpahaman sebagai sebuah pandangan teknologi dan sains sebagai obat mujarab secara umum, khususnya oleh teori-teori kritis yang awal, Dewey mengharapkan lebih suka menunjukkan bahwa pragmatisme teknologi dan ilmiah dapat diterapkan pada resolusi untuk mengurangi kesakitan sosial.
Meskipun substansi warisan intelektual Dewey, James dan penafsiran-penafsiran mereka, percakapan-percakapan dewasa ini tentang signifikansi pragmatisme untuk merancang dapat canggung tentang berbagai makna yang berubah-rubah antara versi yang dikemukakan
27 Larry Hickman, Philosophical Tools for Technological Culture: Putting
Pragmatism to Work, (Bloomington: Indiana University Press, 2001),
54 | DEMOKRASI DAN FILSAFAT PENDIDIKAN
(Akar Filosofis dan Implikasinya dalam Pengembangan Filsafat Pendidikan)
Ado be W oo d Typ e Orn