PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisa data subjektif
dan data obyektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk
menegakkan diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan
proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari pasien,
keluaraga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain
(Deswani, 2009).
Pada kasus An.R penulis menegakkan diagnosa keperawatan utama
didukung oleh data-data yang mengacu pada diagnosa tersebut yaitu data
subyektif adalah ibu pasien mengatakan An.R panas sudah 4 hari,
sedangkan data obyektifnya adalah An.R tampak lemah, mukosa bibir
tampak kering, kulit kemerahan, kulit teraba hangat.
Penulis memprioritaskan diagnosa keperawatan hipertermia karena
merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi, hal ini
didasrakan pada teori hierarki Maslow. Hipertermia pada anak jika tidak
segera diatasi dapat mnyebabkan kejang demam pada anak, dehidrasi
bahkan syok, dan gangguan tumbuh kembang anak (Ngastiyah, 2005).
Hipertermia merupakan peningkatan suhu di atas rentang normal.
Batasan karakteristik hipertermia adalah kulit memerah, kejang atau
konvulsi, suhu tubuh meningkat di atas rentang normal, kulit teraba
hangat, mukosa bibir kering (NANDA, 2012).
3. Intervensi
Intervensi adalah panduan untuk perilaku spesifik yang
diharapakan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu pasien dalam mencapai
hasil yang diharapkan (Deswani, 2009).
Penulis menyusun kriteria hasil yang berpedoman pada SMART
yaitu S (specific) dimana tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti
ganda, M (measurable) dimana tujuan keperawatan harus dapat diukur,
dirasakan, dan dibau. A (achievable) dimana harus dapat dicapai, R
(reasonable) dimana tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, T (time) mempunyai batasan waktu yang jelas (Nursalam, 2008).
Tujuan dan kriteria hasil adalah setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan suhu tubuh stabil dengan
kriteria hasil suhu kulit dalam rentang normal 36,5oC – 37,5oC, nadi dalam
rentang normal 60–140 kali permenit dan pernapasan dalam rentang
normal 15– 24 kali permenit, keletihan tidak tampak, dan warna kulit
normal, kulit tidak teraba hangat, mukosa bibir lembab (NANDA, 2012).
Intervensi keperawatan yang dilakukan penulis selama 3 X 24 jam
karena hipertermia pada anak khususnya, merupakan kebutuhan dasar
manusia yang harus dipenuhi, apabila demam pada anak tidak segera
diatasi akan menyebabkan kejang demam pada anak, dehidrasi bahkan
terjadi syok, dan menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak
(Ngastiyah, 2005)
Intervensi keperawatan disesuaikan dengan kondisi klien dan
fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan keperawatan dapat
dilaksanakan dengan prinsip ONEK , Observasi yaitu rencana tindakan
untuk mengkaji atau melakukan observasi terhadap kemajuan klien untuk
memantau secara langsung yang dilakukan secara kontinue. Nursing
Treatment yaitu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi, memperbaiki, dan mencegah perluasan masalah. Education yaitu rencana tindakan yang
berbentuk pendidikan kesehatan. Kolaboratif yaitu tindakan medis yang
dilimpahkan pada perawat (Rohmah, 2002).
Intervensi keperawatan yang dilakukan oleh penulis pada An. R
berdasarkan NIC (Nursing Intervension Clasification) antara lain yaitu
observasi tanda-tanda vital pasien setiap 2 atau 4 jam sekali dengan
rasional tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien dan sebagai dasar untuk menentukan intervensi. Berikan
penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
dengan rasional agar pasien dan keluarga mengetahui suhu dan membantu
mengurangi kecemasan yang timbul. Anjurkan pasien menggunakan
pakaian yang tipis dan menyerap keringat dengan rasional untuk menjaga
pasien agar merasa nyaman dan mengurangi penguapan tubuh. Anjurkan
pasien agar minum yang cukup kurang lebih 1000 cc per hari dengan
rasional peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
Anjurkan kompres air hangat pada dahi dengan rasional untuk membantu
menurunkan suhu tubuh. Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi
Antipiretik dan Antibiotik dengan rasional Antibiotik untuk mengurangi atau mencegah terjadinya infeksi dan Antipiretik untuk menurunkan panas.
4. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan proses pelaksanaan dari
2009). Implementasi keperawatan yang dilakukan berdasarkan intervensi
keperawatan yang sudah diterapkan selama tiga hari adalah memonitor
suhu tubuh pasien.
Memonitor dan catat suhu tubuh pasien setiap 2 atau 4 jam.
Memonitor suhu tiap 2 jam atau 4 jam bertujuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien (Ardiansyah, 2012).
Memberikan kompres air hangat pada dahi pasien bertujuan untuk
membantu menurunkan panas, bahwa kompres air hangat dapat
menurunkan suhu tubuh melalui proses evaporasi. Evaporasi itu sendiri
merupakan proses hilangnya panas dengan proses keluarnya keringat
terjadi karena keringat di bagian kulit tersebut menguap. Kompres air
hangat bisa dilakukan di dahi, lipatan paha, axilla, bahkan di usapkan di
seluruh tubuh dengan menggunakan kain atau handuk. Ini bertujuan untuk
mempercepat penguapan karena terdapat pembuluh darah besar
(Ardiansyah, 2012).
Menganjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan yang
menyerap keringat, bahwa menggunakan pakaian tipis dan menyerap
keringat dapat membantu mengurangi penguapan pada tubuh dan
melindungi permukaan tubuh terhadap lingkungan yang panas (Widjaja,
2003).
Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang hal – hal
yang dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Memberikan penjelasan
maupun keluarga pasien. Faktor - faktor yang mempengaruhi pengetahuan
adalah memberikan informasi. Informasi yang diperoleh baik dari
pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka
pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
Dengan ini orang yang memiliki pengetahuan baik maka akan lebih
mampu bersikap baik terhadap penyakitnya (Sodikin, 2012).
Menganjurkan pasien untuk minum yang cukup kurang lebih
1000cc dalam sehari. Pada tindakan keperawatan menganjurkan ibu pasien
memberikan minum yang cukup kurang lebih 1000 cc dalam sehari pada
An.R dengan tujuan untuk menjaga kondisi kebutuhan cairan dalam
tubuhnya dengan alasan karena air minum merupakan unsur pendingin
tubuh yang penting dalam lingkungan panas dan air sendiri diperlukan
untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat berkeringat (Widjaja, 2003).
Berkolaborasi dengan dokter pemberian terapi Antipiretik
(Paracetamol tablet 3 x ½ 250 mg). Antipiretik merupakan obat penurun
panas dengan indikasi Paracetamol yaitu sebagai penghilang panas dan
rasa sakit (ISO, 2012).
5. Evaluasi
Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan selama tiga hari,
maka penulis melakukan evaluasi. Evaluasi keperawatan adalah fase akhir
dalam proses keperawatan (Potter Perry, 2009). Evaluasi ini penulis
menggunakan metode sesuai teori yaitu SOAP ( Subyektif, Obyektif,
atau keluarga, Obyektif yaitu hasil dari pemeriksaan dan observasi,
Assesment yaitu kesimpulan dari hasil tindakan, Planning yaitu rencana tindakan.
Pada hari Senin 22 April 2013 jam 14.10 WIB subyektifnya yaitu
keluarga pasien mengatakan badan An.R masih panas, obyektifnya yaitu
suhunya 38,9oC nadi 88 kali permenit respirasi 24 kali permenit, An.R
tampak lemah, kulit kemerahan, mukosa bibir kering. Masalah hipertermia
belum teratasi dan intervensi dilanjutkan dengan monitor tanda-tanda vital,
anjurkan pasien minum yang cukup kurang lebih 1000 cc sehari, berikan
kompres air hangat pada dahi, anjurkan memakai pakaian tipis dan
menyerap keringat, dan kolaborasi dengan dokter pemberian Antipiretik
(Paracetamol).
Pada hari Selasa 23 April 2013 jam 14.05 WIB subyektifnya yaitu
keluarga pasien mengatakan badan An.R masih panas, obyektifnya yaitu
suhunya 38,1oC nadi 86 kali permenit respirasi 20 kali permenit, An.R
masih tampak lemah, bibir masih tampak kering. Masalah hipertermia
belum teratasi dan intervensi dilanjutkan dengan monitor tanda-tanda vital
pasien, berikan kompres air hangat pada dahi, anjurkan minum yang cukup
kurang lebih 1000 cc sehari, lanjutkan pemberian terapi Antipiretik
(Paracetamol).
Pada hari Rabu 24 April 2013 jam 14.00 WIB subyektifnya yaitu
keluarga pasien mengatakan panas An.R sudah menurun, obyektifnya suhu
segar, mukosa bibir tampak lembab, kulit tidak kemerahan, kulit tidak
teraba hangat. Masalah hipertermia sudah teratasi dan intervensi
dihentikan karena pasien sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.