• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagnosa Keperawatan

Dalam dokumen 01 gdl ragilmurti 500 1 ragilmu 8 (Halaman 29-36)

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisa data subjektif

dan data obyektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk

menegakkan diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan

proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari pasien,

keluaraga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain

(Deswani, 2009).

Pada kasus An.R penulis menegakkan diagnosa keperawatan utama

didukung oleh data-data yang mengacu pada diagnosa tersebut yaitu data

subyektif adalah ibu pasien mengatakan An.R panas sudah 4 hari,

sedangkan data obyektifnya adalah An.R tampak lemah, mukosa bibir

tampak kering, kulit kemerahan, kulit teraba hangat.

Penulis memprioritaskan diagnosa keperawatan hipertermia karena

merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi, hal ini

didasrakan pada teori hierarki Maslow. Hipertermia pada anak jika tidak

segera diatasi dapat mnyebabkan kejang demam pada anak, dehidrasi

bahkan syok, dan gangguan tumbuh kembang anak (Ngastiyah, 2005).

Hipertermia merupakan peningkatan suhu di atas rentang normal.

Batasan karakteristik hipertermia adalah kulit memerah, kejang atau

konvulsi, suhu tubuh meningkat di atas rentang normal, kulit teraba

hangat, mukosa bibir kering (NANDA, 2012).

3. Intervensi

Intervensi adalah panduan untuk perilaku spesifik yang

diharapakan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh

perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu pasien dalam mencapai

hasil yang diharapkan (Deswani, 2009).

Penulis menyusun kriteria hasil yang berpedoman pada SMART

yaitu S (specific) dimana tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti

ganda, M (measurable) dimana tujuan keperawatan harus dapat diukur,

dirasakan, dan dibau. A (achievable) dimana harus dapat dicapai, R

(reasonable) dimana tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, T (time) mempunyai batasan waktu yang jelas (Nursalam, 2008).

Tujuan dan kriteria hasil adalah setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan suhu tubuh stabil dengan

kriteria hasil suhu kulit dalam rentang normal 36,5oC 37,5oC, nadi dalam

rentang normal 60140 kali permenit dan pernapasan dalam rentang

normal 15 24 kali permenit, keletihan tidak tampak, dan warna kulit

normal, kulit tidak teraba hangat, mukosa bibir lembab (NANDA, 2012).

Intervensi keperawatan yang dilakukan penulis selama 3 X 24 jam

karena hipertermia pada anak khususnya, merupakan kebutuhan dasar

manusia yang harus dipenuhi, apabila demam pada anak tidak segera

diatasi akan menyebabkan kejang demam pada anak, dehidrasi bahkan

terjadi syok, dan menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak

(Ngastiyah, 2005)

Intervensi keperawatan disesuaikan dengan kondisi klien dan

fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan keperawatan dapat

dilaksanakan dengan prinsip ONEK , Observasi yaitu rencana tindakan

untuk mengkaji atau melakukan observasi terhadap kemajuan klien untuk

memantau secara langsung yang dilakukan secara kontinue. Nursing

Treatment yaitu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi, memperbaiki, dan mencegah perluasan masalah. Education yaitu rencana tindakan yang

berbentuk pendidikan kesehatan. Kolaboratif yaitu tindakan medis yang

dilimpahkan pada perawat (Rohmah, 2002).

Intervensi keperawatan yang dilakukan oleh penulis pada An. R

berdasarkan NIC (Nursing Intervension Clasification) antara lain yaitu

observasi tanda-tanda vital pasien setiap 2 atau 4 jam sekali dengan

rasional tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan

umum pasien dan sebagai dasar untuk menentukan intervensi. Berikan

penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh

dengan rasional agar pasien dan keluarga mengetahui suhu dan membantu

mengurangi kecemasan yang timbul. Anjurkan pasien menggunakan

pakaian yang tipis dan menyerap keringat dengan rasional untuk menjaga

pasien agar merasa nyaman dan mengurangi penguapan tubuh. Anjurkan

pasien agar minum yang cukup kurang lebih 1000 cc per hari dengan

rasional peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh

meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.

Anjurkan kompres air hangat pada dahi dengan rasional untuk membantu

menurunkan suhu tubuh. Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi

Antipiretik dan Antibiotik dengan rasional Antibiotik untuk mengurangi atau mencegah terjadinya infeksi dan Antipiretik untuk menurunkan panas.

4. Implementasi

Implementasi keperawatan merupakan proses pelaksanaan dari

2009). Implementasi keperawatan yang dilakukan berdasarkan intervensi

keperawatan yang sudah diterapkan selama tiga hari adalah memonitor

suhu tubuh pasien.

Memonitor dan catat suhu tubuh pasien setiap 2 atau 4 jam.

Memonitor suhu tiap 2 jam atau 4 jam bertujuan untuk mengetahui

keadaan umum pasien (Ardiansyah, 2012).

Memberikan kompres air hangat pada dahi pasien bertujuan untuk

membantu menurunkan panas, bahwa kompres air hangat dapat

menurunkan suhu tubuh melalui proses evaporasi. Evaporasi itu sendiri

merupakan proses hilangnya panas dengan proses keluarnya keringat

terjadi karena keringat di bagian kulit tersebut menguap. Kompres air

hangat bisa dilakukan di dahi, lipatan paha, axilla, bahkan di usapkan di

seluruh tubuh dengan menggunakan kain atau handuk. Ini bertujuan untuk

mempercepat penguapan karena terdapat pembuluh darah besar

(Ardiansyah, 2012).

Menganjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan yang

menyerap keringat, bahwa menggunakan pakaian tipis dan menyerap

keringat dapat membantu mengurangi penguapan pada tubuh dan

melindungi permukaan tubuh terhadap lingkungan yang panas (Widjaja,

2003).

Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang hal hal

yang dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Memberikan penjelasan

maupun keluarga pasien. Faktor - faktor yang mempengaruhi pengetahuan

adalah memberikan informasi. Informasi yang diperoleh baik dari

pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka

pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.

Dengan ini orang yang memiliki pengetahuan baik maka akan lebih

mampu bersikap baik terhadap penyakitnya (Sodikin, 2012).

Menganjurkan pasien untuk minum yang cukup kurang lebih

1000cc dalam sehari. Pada tindakan keperawatan menganjurkan ibu pasien

memberikan minum yang cukup kurang lebih 1000 cc dalam sehari pada

An.R dengan tujuan untuk menjaga kondisi kebutuhan cairan dalam

tubuhnya dengan alasan karena air minum merupakan unsur pendingin

tubuh yang penting dalam lingkungan panas dan air sendiri diperlukan

untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat berkeringat (Widjaja, 2003).

Berkolaborasi dengan dokter pemberian terapi Antipiretik

(Paracetamol tablet 3 x ½ 250 mg). Antipiretik merupakan obat penurun

panas dengan indikasi Paracetamol yaitu sebagai penghilang panas dan

rasa sakit (ISO, 2012).

5. Evaluasi

Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan selama tiga hari,

maka penulis melakukan evaluasi. Evaluasi keperawatan adalah fase akhir

dalam proses keperawatan (Potter Perry, 2009). Evaluasi ini penulis

menggunakan metode sesuai teori yaitu SOAP ( Subyektif, Obyektif,

atau keluarga, Obyektif yaitu hasil dari pemeriksaan dan observasi,

Assesment yaitu kesimpulan dari hasil tindakan, Planning yaitu rencana tindakan.

Pada hari Senin 22 April 2013 jam 14.10 WIB subyektifnya yaitu

keluarga pasien mengatakan badan An.R masih panas, obyektifnya yaitu

suhunya 38,9oC nadi 88 kali permenit respirasi 24 kali permenit, An.R

tampak lemah, kulit kemerahan, mukosa bibir kering. Masalah hipertermia

belum teratasi dan intervensi dilanjutkan dengan monitor tanda-tanda vital,

anjurkan pasien minum yang cukup kurang lebih 1000 cc sehari, berikan

kompres air hangat pada dahi, anjurkan memakai pakaian tipis dan

menyerap keringat, dan kolaborasi dengan dokter pemberian Antipiretik

(Paracetamol).

Pada hari Selasa 23 April 2013 jam 14.05 WIB subyektifnya yaitu

keluarga pasien mengatakan badan An.R masih panas, obyektifnya yaitu

suhunya 38,1oC nadi 86 kali permenit respirasi 20 kali permenit, An.R

masih tampak lemah, bibir masih tampak kering. Masalah hipertermia

belum teratasi dan intervensi dilanjutkan dengan monitor tanda-tanda vital

pasien, berikan kompres air hangat pada dahi, anjurkan minum yang cukup

kurang lebih 1000 cc sehari, lanjutkan pemberian terapi Antipiretik

(Paracetamol).

Pada hari Rabu 24 April 2013 jam 14.00 WIB subyektifnya yaitu

keluarga pasien mengatakan panas An.R sudah menurun, obyektifnya suhu

segar, mukosa bibir tampak lembab, kulit tidak kemerahan, kulit tidak

teraba hangat. Masalah hipertermia sudah teratasi dan intervensi

dihentikan karena pasien sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.

Dalam dokumen 01 gdl ragilmurti 500 1 ragilmu 8 (Halaman 29-36)

Dokumen terkait