• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIAGNOSIS DAN PERJALANAN PENYAKIT 1. GGA pre renal

Dalam dokumen Trauma Renal (Halaman 48-58)

Gambaran klinik yang menonjol pada GGA pre renal adalah gejala penyakit dasar yang menyebabkan seperti syok, payah jantung, luka bakar dan lain sebagainya. Pada keadaan-keadaan di atas perlu dicurigai GGA pre renal apabila produksi urine menurun sampai kurang dari 400 cc/24 jam. Diagnosis didukung dengan kelainan laboratoris berupa peningkatan kadar urea/BUN dan keratinin plasma. Gangguan

2. GGA renal

GGa renal dapat terjadi dari GGA pre renal yang tidak mendapat pengobatn sebagagaimana mestinya.Seperti dikatakan diatas bahwa sebagian besar dari GGA renal disebabkan oleh nekrosis tubuler akut. Perjanalan penyakit gambaran klinik dan laboratorisnya adalah sebagai berikut :

a. Fase permulaan (Inisial)

Fase ini berupa permulaan terjadinya iskemik atau pengaruh bahan nefrotoksik.Belum terdapat gejala klinik yang menonjol sampai terjadinya penurunan produksi urine. Yang penting diketahui pada fase ini adalah perubahan komposisi urine berupa penurunan kadar urea dan kreatinin, yang kemudian diikuti dengan peningkatan kadar urea dan kreatinin didalam plasma. Sementara itu kadar natrium dalam urine tidak mengalami perubahan, sehingga keseimbangan air sementara waktu dapat dipertahankan.Bila tidak  keluhan yang berasal dari penyakit dasaarnya, fase ini sering luput dari pengetahuan dokter maupun penderitannya.Periode berlangsung fase ini bervariasi tergantung pada penyebabnya.Misalnya bila hal ini terjadi akibat dari pemberian aminoglikosida, fase ini bisa berlangsung beberapa hari.

b. Fase oliguri

Yang pertama-tama terjadi pada fase ini adalah penurunan produksi sampai kurang dari 400cc/hari.Tidak jarang produksi urine sampai kurang dari 100 cc/hari, keadaan mana disebut dengan anuri. Pada fase ini, penderita mulai memperlihatkan keluhan-keluhan yang diakibatkan oleh penumpukan air dan metabolit-metabolit yang seharusnya diekserasikan oleh tubuh, seperti mula, muntah, lemah, sakit kepala, overhidrasi,dan kejang. Perubahan pada urine menjadi semakin kompleks, yaitu penurunan kadar urea dan kreatinin. Di dalam plasma terjadi perubahan biokimiawi berupa peningkatan kadar BUN, kreatini, elektrolit (terutama Na dan K). pada keadaan ini kita dapat membuat diagnosis banding dengan GGA pre rena dan renal

 Diagnosis banding antara GGA pre renal dan GGA renal 

A Pre renal A renal

nsentrasi Na urine rang bih

sio kreatinin urine dan kreatini plasma

bih rang

rat jenis urine bih rmal

sio BUN/kreatinin plasma ih dari 20 tara 10-15

c. Fase poliuri

Pada fase ini terjadi peningkatan produksi urine sampai lebih dari 2500 cc/hari.Peningkatan jumlah urine ini bisa terjadi secara mendadak atau secara bertahap. Keadaan ini terjadi akibat ketidakmampuan tubuli renalis untuk  mereabsorbsi air dan Na yang difiltrasi oleh glomerulus. Disamping itu, metabolit-metabolit lain juga bersifat menarik air yang kemudian keluar bersama urine.

d. Fase penyembuhan

Fase ini terjadi setelah beberapa hari diuresis.Produksi urine perlahan-lahan kembali normal, tolak ukur fungsi ginjal membaik secara bertahap.Fungsi ginjal bisa normal kembali kurang lebih setelah 6 bulan.

D. PENGKAJIAN

PENGKAJIAN PRIMER A : Airway

13. Kaji adanya bunyi nafas abnormal (menandakan adanya sumbatan jalan nafas)

14. Kaji ada tidaknya hembusan udara.

B : Breathing

Kebersihan jalan nafas tidak menjamin bahwa pasien dapat bernafas secara adekwat.Inspirasi dan eksprasi penting untuk terjadinya pertukaran gas, terutama masuknya oksigen yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Inspirasi dan ekspirasi merupakan tahap ventilasi pada proses respirasi. Fungsi ventilasi mencerminkan fungsi paru, dinding dada dan diafragma..

6. Pernafasan menggunakan otot tambahan 7. Cyanosis sentral (sekitar mulut)

8. Frekuensi, irama pernapasan 9. Kaji respirasi spontan klien 10. Kaji hembusan nafas

C : Circulation

8. Adanya gangguan berhubungan dengan darah dan pembuluh darah (tekanan darah).

9. Adanya pendarahan 10. Nadi tidak teratur

11. Capillary refill > 2detik  12. Cyanosis central

13. Pucat

14. Akral dingin/berkeringat

Neurologi

4. Kesadaran kuantitatif  PENGKAJIAN SEKUNDER 11. Sistem pernafasan 12. Sistem CV 13. Sistem pencernaan 14. Sistem perkemihan 15. Sistem persarafan 16. Sistem muskuloskeletal 17. Sistem pancaindra 18. Sistem endokrin 19. Sistem rproduksi 20. Sistem integumen E. PENATALAKSANAAN

Ada tiga sasaran dalam pelaksanaan GGA yaitu: 1. Mengatasi perluasan kerusakan ginjal 2. Mencegah perluasan kerusakan ginjal 3. Mempercepat pemulihan fungsi ginjal

Ketiga sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara yaitu : 1. Secara konservatif, yaitu dengan obat-obatan tertentu 2. Secara aktif atau terapi penganti yaitu dengan dialisis

1. Hiperkalemia 2. Asidosis metabolic 3. Gagal pernapasan 4. Hipertensi gawat

1. Hiperkalemia

Hiperkalemia dapat mengakibatkan fibrilasi ventrikel dan henti jantung (cardiac arrest). Diagnosis hiperkalemia, di samping dapat dilakukan dengan mengukur kadar kalium plasma,  juga dapat dengan melihat gambaran EKG sambil menunggu hasil pemeriksaan

laboratorium.

Bentuk-bentuk kelainan elektrokardiogram yang terjadi adalah : 1. Gelombang T yang tinggi

2. Berkurangnya amplitudo gelombang R 3. Pelebaran kompleks QRS

4. Gelombang P mengecil sampai hilang 5. Takikardi sampai fibrilasi ventrikel

Tindakan harus sudah diambil bila kadar kalium plasma lebih dari 6,5 meq/L. Tindakan-tindakan yang diambil pada hiperkalemia meliputi:

a. Pemberian Ca Glukonas Intravena

Ion Ca dapat melawan efek kalium pada membran sel, sehingga memperkecil pengaruhnya pada otot jantung. Ion Ca sendiri tidak dapat menurunkan kadar kalium plasma. Tindakan ini segera dilaksanakan bila tampak tanda-tanda hiperkalemia.Dosis yang dibutuhkan 0,5 cc/Kg/BB larutan 10 %.

Pemberian Na Bikarbonat, sekaligus dapat mengatasi asidosis yang terjadi. Dosis yang dianjurkan adalah 45-90 meq/L/IV.Tindakan ini dimaksudkan untuk memasukan ion K ke dalam sel sehingga kadarnya dalam plasma dapat diturunkan.

c. Pemberian Glukosa Insulin

Tindakan ini dilaksanakan dengan memasukan campuran 50 g glukosa bersama 20 i.u insulin reguler untuk memasukan ion K kedalam sel bersama-sama dengan glukosa.

d. Pemberian Khation Exchange Resin

Tindakan ini dilaksanakan dengan memberikan Ca Polysteren Sulfonat, 30 g 3-4 kali/hari peroral.Diharapkan dengan cara ini terjadi pengikatan ion K di saluran cerna untuk selanjutnya diekskresikan lewat feses.Cara ini tidak banyak dilakukan karena sering mengakibatkan gangguan pencernaan seperti mual, munta, dan obstipasi.

Semua tindakan di atas dapat dilaksanakan bersama-sama.Tapi perlu diketahui bahwa semua itu hanyalah bersifat paliatif, sementara menunggu tindakan aktif berupa dialisis.

2. Asidosis Metabolik 

Mengatasi asidosis metabolic dilakukan dengan memberikan Na bikarbonat.Hal ini hendaknya dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya alkalosis metabolic yang justru bersifat fatal. Dosis Na bikarbonat ditetapkan dengan dengan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan analisis gas darah. Dosis tersebut adalah:

0,3 x BB (kg) X (defisist HCO3- plasma dalam meq/L x 0,084). Lima puluh meq diberikan dalam bolus IV.Sisanya dihabiskan dalam 4-6 jam.

3. Gagal Pernapasan

Gagal pernapasan sering terjadi pada GGA. Hal ini dapat disebabkan oleh karena edema paru, acute respiratory distress syndrome, infeksi paru, emboli paru, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi keadaan ini penderita perlu dirawat di ruang intensif.

4. Hipertensi Gawat

Hipertensi gawat harus segera diatasai dengan memberikan obat-obatan antihipertensi yang bekerja cepat.Tekanan darah harus dirutunkan dalam waktu 1 jam.Obat yang dipakai adalah obat yang dapat diberikan parenteral seperti diaksozid, Na nitroprusid, klonidin, furosemid.Akhir-akhir ini banyak dilaporkan pemakaian nifedpin atau catopril sub lingual dengan hasil yang memuaskan.

Di samping keadaan-keadaan gawat di atas, beberapa hal lain yang harus dilakukan dalam penatalaksanaan GGA adalah :

1. Diet, keseimbangan air dan elektrolit

Pada GGA pre renal yang belum lama berlangsung, koreksi terhadap kekurangan cairan tubuh sering dapat memperbaiki keadaan penderita.Keseimbangan air perlu dipertahankan dengan memberikan masukan air sebanyak 500 cc ditambah jumlah air yang keluar (lewat urine, feses, muntah, dll) sehari sebelumnya.Keseimbangan ini dipantau dengan pemasangan kateter vena sentral dan menimbang erat badan penderita setiap hari. Pada stadium diuresis, di mana produksi urine berlebihan, pemberian cairan justru dibatasi sebanyak 2/3 dari produksi urine. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kelebihan cairan yang tertimbun dalam tubuh. Diet pada GGA berupa diet tinggi kalori (2000-3000 kalori/24 jam) untuk mencegah katabolisme protein, protein nilai biologi tinggi 0,5g/kgBB/24 jam. Kalori dapat diambilkan dari karbohidrat dan lemak.Elektrolit yang perlu diperhatikan adalah natrium dan kalium.Apabila terdapat hiponatremia, harus segera dikoreksi dengan memberikan Na hipertonis (NaCl 3%). Natrium harus sudah dikoreksi bila kadar plasmanya kurang dari 118 meq/L. Bila tidak terdapat hiponatremia, pemberian Na dibatasi 500 mg/24 jam. Ion K sangat dibatasi atau dihindari sama sekali karena sering terjadi hiperkalemia, terutama pada fase

anuri. Bahan yang mengandung banyak kalium, seperti buah-buahan harus dibatasi.Kecuali pada fase poliuri, pemberian kalium dapat dilakukan. Dengan sendirinya setelah mengetahui kadar kalium plasma sebelumnya.

Pemberian beberapa jenis vitamin seperti Vit B kompleks dan asam folat dapat dilakukan, karena diet ketat yang berlangsung lama dapat mengakibatkan penderita mengalami hipovitaminosis.

2. Furosemid dosis tinggi

Pemberian furosemid dosis tinggi dimaksudkan untuk mempersingkat fase oliguri, sehingga komplikasi-komplikasi dapat diperkecil.Furosemid dipili, karena disamping dapat diberikan parenteral, juga dapat bekerja pada GFR kurang dari 2 cc/menit. Dosis yang dibutuhkan sangat tinggi yaitu 200-1000 mg/24 jam. Bila dengan 1000 mg/24 jam diuresis belum memadai (produksi urine kurang dari 50 cc/jam), maka furosemid dianggap gagal dan harus dihentikan. Pemberian furosemid dosis tinggi ini merupakan kontraindikasi pada GGA postrenal.Pada keadaan ini, penanganan penderita perlu dilaksanakan secara terpadu dengan bagian Urologi.

3. Pencegahan infeksi

Semua tindakan yang memberikan resiko infeksi harus dihindari dan setiap tindakan harus dilakukan seaseptik mungkin.Hal ini perlu diperhatiakn karena infeksi dapat meningkatkan katabolisme protein yang bisa memperburuk prognosis.

4. Hindarkan pemberian obat-obat yang bersifat nefrotoksik 

Obat-obatan yang bersifat nefrotoksik hendaknya dihindarkan sejauh mungkin.Kalaupun kita harus memberikan, maka dosisnya harus disesuaikan. Obat-obatan tersebut misalnya golongan NSAID, aminoglikosida, dan lain sebagainya.

a. Mual dan muntah diatasi dengan metoklopramid 3x5 mg dapat juga dikombinasikan dengan ranitidine 1-2 x 150 mg

b. Perasaan sakit atau demam dapat diatasi dengan parasetamol 3-4 x 500 mg c. Kejang-kejang diatasi dengan diazepam 10-20 mg parenteral.

6. Terapi aktif 

Terapi aktif atau terapi pengganti dilakukan dengan melakukan dialisa, baik hemodialisa maupun peritoneal dialisa.Tindakan ini dilaksanakan atas indikasi-indikasi tertentu, walaupun pada tempat-tempat yang mempunyai fasilitas dialisis, ada kecenderungan untuk  melakukannya secara dini (early dialysis).

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kolik renal adalah nyeri yang disebabkan oleh obstruksi akut di ginjal, pelvis renal atau ureter oleh batu. Nyeri ini timbul akibat peregangan, hiperperitalsis, dan spasme otot polos pada sistem pelviokalises ginjal dan ureter sebagai usaha untuk  mengatasi obstruksi. Gagal ginjal akut (acute renal failure) adalah keadaan klinis di mana terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate) secara mendadak  dengan atau tanpa oliguri. Trauma renal adalah terjadinya cedera pada panggul, punggng, dan abdomen atas yang dapat menyebabkan memar, laserasi atau ruptur actual pada ginjal Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada gangguang sistem perkemihan diberikan berdasarkan survei primer dan juga sekunder sesuai tanda gejala yang timbul.

B. SARAN

Diharapkan kepada pembaca untuk tidak terpaku pada makalah yang kami susun, melainkan mencari sumber lain guna menunjang perkembangan dalam menangani gangguan pendengaran terutama di bidang keperawatan.

Dalam dokumen Trauma Renal (Halaman 48-58)

Dokumen terkait