BAB III KONSEP PERANCANGAN
3.1 Diagram Alir Perancangan
Untuk melakukan perencanaan secara tersrtuktur, maka dibuat diagram alir perencanaan rekonfigurasi jaring yang akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan. Diagram tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.1
Gambar 3.1 Diagram Alir Perancangan
Mulai
Pemodelan sistem tenaga listrik dengan diagram sat garis kondisi eksisting pada perangkat lunak
Digsilent 15.1.7
mengisi data parameter yang dibutuhkan pada pemodelan
Melakukan simulasi aliran daya dan tes hubung singkat
Analisis simulasi aliran daya dan tes hubung singkat yang menjadi parameter kinerja sistem
Apakah perlu direkofigurasi
A
Selesai
A
Pemodelan sistem tenaga listrik dengan diagram satu garis kondisi eksisting pada perangkat
lunak Digsilent 15.1.7
Perhitungan dan penentuan jenis kabel
mengisi data parameter yang dibutuhkan pada pemodelan
Melakukan simulasi aliran daya,tes hubung singkat serta uji penambahan beban
Analisis simulasi aliran daya,tes hubung singkat, dan uji penambahan beban yang
menjadi parameter kinerja sistem
apakah dari sisi tegangan
Universitas Pertamina - 17 Berikut merupakan penjelasan beberapa tahapan langkah perancangan yang akan dilakukan diantaranya :
1. Hal pertama yang dilakukan adalah memodelkan diagram satu garis menggunakan perangkat lunak Digsilent 15.1.7, dari sistem listrik kawasan lansekap Bandara Internasional Soekarno-Hatta kondisi eksisting yang bersumber dari Gardu Induk Cengkareng.
2. Tahapan selanjutnya adalah mengisi semua data – data parameter dari jaring distribusi seperti data kabel, panjang jaring, beban gardu, kapasitas suplai yang diterima dari GI Cengkareng serta beberapa parameter lainnya yang diperlukan ke dalam pemodelan Digsilent.
3. Setelah semua data parameter yang dibutuhkan telah selesai, maka selanjutnya dilakukan proses simulasi aliran daya untuk mengetahui kinerja sistem kondisi eksisting dari parameter tegangan dan rugi daya
4. Pada tahap keempat, melakukan analis berdasarkan parameter yang didapatkan dari simulasi aliran daya
5. Tahapan selanjutnya adalah melakukan uji hubung singkat dengan gangguan L-G, L-L, L-L-L.
untuk melihat kinerja sistem kondisi eksisting dari parameter kontinuitas.
6. Setelah semua simulasi dilakukan selanjutnya adalah melakukan perhitungan dan penentuan jenis kabel pada jalur baru.
7. Setelah melakukan perhitungan dan penentuan jenis kabel, langkah selanjutnya membuat pemodelan rekonfigurasi jaring. gangguan.Rekonfigurasi jaring bertujuan untuk memperbaiki kinerja sistem dari parameter- parameter yang telah ditentukkan.
8. Kemudian mengisi parameter yang dibutuhkan pada jaring yang sudah dilakukan rekonfigurasi.
Setelah semua data parameter yang dibutuhkan telah selesai, maka selanjutnya dilakukan proses simulasi aliran daya untuk mengetahui kinerja sistem kondisi eksisting dari parameter tegangan dan rugi daya
9. Pada tahap keempat, melakukan analis berdasarkan parameter yang didapatkan dari simulasi aliran daya
10. Tahapan selanjutnya adalah melakukan uji hubung singkat dengan gangguan L-G, L-L, L-L-L.
untuk menentukan kapasitas pemutus tenaga dan melihat kinerja sistem kondisi eksisting dari parameter kontinuitas.
11. Kemudian dilakukan uji penambahan beban untuk melihat kinerja sistem apabila adanya pengembangan.
12. Setelah semua dilakukan dilakukan perbandingan kondisi eksisting dan setelah rekonfigurasi dari kinerja sistem apakah sudah baik atau belum. Apabila kinerja sistem sudah baik maka perancangan selesai.
Universitas Pertamina - 18
3.2 Pertimbangan Perancangan
Pertimbangan perancangan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pada perancangan ini parameter kinerja sistem yang dipertimbangkan adalah kontinuitas, loadability,tegangan dan rugi daya.
2. Kontinuitas suplai listrik dilihat dari kinerja sistem dalam meminimalisir pemadaman.
3. Perancangan menggunakan metode aliran daya Newton Raphson, karena metode ini lebih efisien dan praktis dengan iterasi yang cepat dan sedikit.
3.3 Analisis Teknik
Analisis yang dilakukan pada kondisi eksisting adalah dengan melihat kinerja sistem dari simulasi aliran daya dan uji hubung singkat dengan perangkat lunak Digsilent. Pada simulasi aliran daya kinerja sistem dilihat dari tegangan dan rugi daya. Dari parameter tegangan pada jaring tersebut, dilihat apakah sesuai dengan standard PLN yang berlaku. Nilai tegangan dilihat apakah mengalami penurunan sampai disisi paling jauh dari sumber suplai. Sedangkan untuk rugi daya dilakukan analisa apakah yang menyebabkan nilai rugi daya tersebut.
Setelah melakukan proses analisis aliran daya, selanjutnya dilakukan analisis mengenai kinerja sistem berdasarkan kontinuitas penyaluran listrik sampai ke beban. Untuk mengetahui hal tersebut, dilakukan uji hubung singkat pada jaring. Analisis yang dilakukan pada uji hubung singkat adalah, dengan melakukan simulasi gangguan dengan beberapa skenario pada jaring listrik tersebut. Uji hubung singkat yang dilakukan adalah gangguan hubung singkat L-G, L-L, L-L-L. Sehingga dari uji hubung singkat tersebut dapat diketahui kondisi jaring pada saat terjadi gangguan
Selanjutnya dilakukan perencanaan rekonfigurasi terhadap kinerja sistem tersebut. Pertimbangan dalam rekonfigurasi adalah dengan memperhatikan kinerja sistem dari sisi parameter kontinuitas, loadability, tegangan dan juga rugi daya pada sistem tersebut. Langkah yang diambil adalah dengan melakukan penambahan jalur looping pada sistem tersebut. Dimana, rekonfigurasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja dari sistem dari beberapa parameter yang telah ditentukan.
Tahapan rekonfigurasi diawali dengan melakukan perhitungan dan penentuan jenis kabel yang akan digunakan. Untuk perhitungan tersebut tersebut diperlukan data seluruh beban yang ada pada kawasan tersebut, agar jalur baru yang dibuat dapat mensuplai sesuai dengan kapasitas yang ada. Dengan diketahuinya data beban pada jalur tersebut dapat dihitung kuat hantar arus kabel yang akan digunakan.
Pada kondisi rekonfigurasi dilakukan hal yang sama untuk melihat kinerja sistem seperti kondisi eksiting, dengan melakukan simulasi aliran daya dan uji hubung singkat.Tetapi pada kondisi jaring
Universitas Pertamina - 19 rekonfigurasi arus ganggun hubung singkat dijadikan acuan kapasitas pemutus tegangan, Selain itu juga dilakukan uji penambahan beban untuk melihat apakah sistem tersebut memiliki kinerja yang baik.
Setelah dilakukan rekonfigurasi analisis terakhir yang dilakukan adalah dengan membandingkan kondisi eksiting dan kondisi rekonfigurasi. Dengan mempertimbangkan kinerja sistem dengan beberapa parameter yang telah ditentukan.
3.3.1 Data pada Sistem Kelistrikan
Pada Tugas Akhir ini digunakan beberapa parameter yang akan dimasukan kedalam pemodelan sistem kelistrikan pada kawasan jalur tengah bagian timur Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Data-data yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1 Data Power Grid
Tabel 3.2 Data Trafo 1 Tabel 3.3 Data Trafo 2 AC Element 2- Winding Transformer
ID TF 150/20
Voltage Rating Primer. 150Kv Secunder. 20Kv Power Rating Rated (60 MVA)
Tabel 3.4 Data Trafo 3 Tabel 3.3 Data Trafo 4 AC Element Power Grid
ID PLN
Rated kV 150
AC Element 2- Winding Transformer
ID Trafo DKKPU
Voltage Rating Primer. 20kV Secunder. 0.38kV Power Rating Rated (1.25 MVA)
AC Element 2- Winding Transformer
ID Trafo G03
Voltage Rating Primer. 20Kv Secunder. 0.38kV Power Rating Rated (1.25 MVA)
AC Element 2- Winding Transformer
ID Trafo Landscape
Voltage Rating Primer. 20kV Secunder. 0.38kV Power Rating Rated (0.63 MVA)
Universitas Pertamina - 20 Tabel 3.5 Data Trafo 5 Tabel 3.6 Data Trafo 6
AC Element 2- Winding Transformer
ID Trafo Utilitas
Voltage Rating Primer. 20kV Secunder. 0.38kV Power Rating Rated (0.16 MVA)
Tabel 3.7 Data Kabel 1 Tabel 3.8 Data Kabel 2
Tabel 3.9 Data Kabel 3 Tabel 3.10 Data Kabel 4
Tabel 3.11 Data Kabel 5 Tabel 3.12 Data Beban 1
AC Element 2- Winding Transformer
ID Trafo Tambahan
Voltage Rating Primer. 20kV Secunder. 0.38kV
AC Element Lumped Load
ID Load DKPPU
Universitas Pertamina - 21 Tabel 3.13 Data Beban 2 Tabel 3.14 Data Beban 3
Tabel 3.15 Data Beban 4 Tabel 3.16 Data Beban 5
3.4 Peralatan dan Bahan
Pada perancangan yang akan dilakukan, digunakan perangkat lunak DigSilent 15.7.1
AC Element Lumped Load
ID Load Lansekap
Rating 0.617 kW
0.90 PF AC Element Lumped Load
ID Load G03
Rating 0.05564 kW
0.90 PF
AC Element Lumped Load
ID Load Tambahan
Rating 0.301 kW
0.90 PF AC Element Lumped Load
ID Load Utilitas
Rating 0.00127 kW
0.84 PF
Universitas Pertamina - 22
Universitas Pertamina - 23
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada Bab ini akan memaparkan hasil dan analisis kinerja sistem dari beberapaa parameter yang telah ditentukan. Analisis tersebut dilakukan pada kondisi jaring eksisting dan kondisi jaring setelah dilakukan rekonfigurasi. Sehingga akan didapatkan perbandingan antara kedua kondisi jaring tersebut.
4.1 Jaring Kondisi Eksisting
Jalur tengah bagian timur Bandara Soekarno - Hatta, atau pada kawasan lansekap memiliki sistem distribusi dengan jenis konfigurasi jaring radial. Dalam melakukan analisi jaring kondisi eksisting ada beberapa parameter yang diperhatikan, dan berikut langkah yang dilakukan dalam melakukan analisis jaring kondisi eksisting.
1. Langkah pertama dilakukan simulasi aliran daya pada kondisi eksiting yang sudah dilakukan pemodelan pada Digsilent. Pada hasil simulasi aliran daya tersebut parameter yang akan didapatkan adalah tegangan dan rugi daya pada jaring.
2. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji hubung singkat dengan beberapa skenario gangguan. Pada uji hubung singkat gangguan yang dilakukan adalah gangguan hubung singkat jenis L-G, L-L, L-L-L. Dari uji hubung singkat tersebut, akan dilihat kondisi jaring pada saat terjadi gangguan sehingga kontinuitas sistem dapat terlihat.
Gambar 4.1 Pemodelan Single Saluran Diagram pada jaring kondisi eksisting
4.1.1 Aliran Daya Kondisi Eksisting
Simulasi aliran daya dilakukan menggunakan metode Newton Raphson pada perangkat lunak Digsilent. Data hasil dari simulasi aliran daya pada jaring kondisi eksisting adalah dengan mengansumsikan beban yang terpakai adalah 50% dari kapasitas Trafo. Hasil dari simulasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1. Pada tabel tersebut dapat dilihat data tegangan dan beban pada jaring tersebut.
Tabel 4.1 Hasil Aliran Daya Jaring Kondisi Eksisting
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa nilai tegangan pada sisi paling ujung beban memiliki tegangan 19.95kV. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai tegangan dari sumber sampai dengan beban paling ujung mengalami sedikit penurunan. Penurunan tersebut ataupun nilai tegangan dari setiap unit masih dalam standar tegangan yang berlaku sesuai dengan SPLN (Standar PLN 72 tahun 1987).
Untuk saat ini nilai tegangan masih baik, tetapi untuk kedepannya apabila adanya penambahan beban terdapat kemungkinan meningkatnya arus sehingga tegangan akan semakin kecil. Berdasarkan konfigurasi kelistrikan pada kawasan lansekap pada saat ini yaitu konfigurasi radial, sehingga semakin jauh suatu beban dari sumber maka tegangan pada bus beban akan semakin berkurang. Oleh karena itu, perlu ditambahkan jalur baru yang dapat memperbaiki nilai tegangan pada bus beban.
Selain data pada Tabel 4.1 diatas, hasil dari simulasi aliran daya pada jaring kondisi eksisting dapat diketahui rugi daya pada Tabel 4.2 berikut.
Unit
Universitas Pertamina - 26 Tabel 4.2 Data Rugi daya Pada Jaring Eksisting
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jaring kondisi eksisting dengan jenis konfigurasi radial, memiliki rugi daya sebesar 2940kW. Nilai rugi daya tersebut dipengaruhi oleh nilai arus yang mengalir pada penghatar, dimana arus tersebut menimbulkan panas pada sekitar konduktor yang menyebabkan adanya rugi daya. Dengan kata lain semakin besar nilai arus yang mengalir pada penghantar semakin besar rugi daya pada jaring tersebut. Selain itu nilai rugi daya juga dipengaruhi oleh luas penampang, dan panjang konduktor. Dengan adanya penambahan jalur baru, kemungkinan pembagian arus akan lebih merata sehingga dapat menurunkan nilai rugi daya. Dalam suatu sistem yang yang memiliki kinerja yang baik, penyaluran daya diharapkan memiliki rugi daya yang kecil.
4.1.2 Kontinuitas Sistem Jaring Kondisi Eksisting
Kontinuitas sistem pada jaring tersebut dapat dilihat dengan melakukan uji hubung singkat dengan beberapa skenario gangguan. Skenario jenis gangguan yang dibuat berdasarkan gangguan yang biasa terjadi di lapangan. Gangguan tersebut adalah Single Phase to Ground dan 2 phase short circuit.
Dengan menyesuaikan skenario tersebut diharapkan simulasi yang dilakukan dapat sesuai dengan apa yang terjadi pada lapangan. Tetapi selain kedua jenis gangguan tersebut dilakukan juga jenis gangguan 3 phase short circuit. Jenis gangguan tersebut memang tidak sering terjadi dilapangan, bahkan dapat dikatakan tidak pernah terjadi. Pengujian tersebut dilakukan untuk mempertimbangkan apakah jaring tersebut dapat mengatasi permasalahan yang tidak terduga. Dengan melakukan uji hubung singkat tersebut dapat diketahui bagaimana kondisi jaring pada saat terjadi gangguan.
No. Jaring Arus (A) Rugi Daya (kW)
Universitas Pertamina - 27 A. Gangguan pada Saluran XCD -MSA DKPPU
Untuk skenario gangguan pertama yang dilakukan adalah pada saluran XCD – MSA DKPPU.
Skenario gangguan tersebut dilakukan dengan beberapa jenis gangguan yaitu; Single Phase to Ground, 2-Phase Short Circuit, dan yang terakhir adalah 3-Phase Short Circuit. Data hasil gangguan dapat dilihat pada Tabel 4.3, serta kondisi jaring pada saat dilakukan simulasi dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Tabel 4.3 Data Hasil Gangguan
Pada Tabel 4.3 menunjukkan nilai arus gangguan hubung singkat pada saat dilakukan simulasi.
Dari data Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa arus hubung singkat 3 -phase Short Circuit paling terbesar, yaitu 13.43 kA.
Gambar 4.2 Kondisi Hasil Simulasi Skenario Gangguan pada saluran XCD – MSA DKPPU
Lokasi Gangguan Jenis Gangguan Initial Short Circuit Current (kA)
Saluran XCD – MSA DKPPU
Single Phase to Ground 0.01
2- Phase Short Circuit 11.63 3- Phase Short Circuit 13.43
Universitas Pertamina - 28 Tabel 4.4 Nilai Tegangan pada Bus Beban
Pada saat melakukan simulasi ketiga jenis gangguan yang berbeda pada saluran XCD – MSA DKPPU, didapatkan kondisi jaring yang sama untuk ketiga jenis gangguan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar 4.2, terjadi blackout pada jaring dimana semua beban tidak tersuplai. Terjadinya blackout pada jaring mengakibat semua tegangan pada bus memiliki nilai 0, yang dapat dilihat pada Tabel4.4. Berdasarkan keadaan nyata di lapangan untuk mengembalikan kembali kondisi seperti keadaan semula, dengan semua beban dapat menerima daya memerlukan waktu yang cukup lama mengingat jalur tersebut tidak memiliki sumber cadangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kontinuitas sistem kurang baik karena apabila suatu sistem memiliki kontinuitas yang baik, artinya sistem tersebut dapat meminimalisir pemadaman.
B. Gangguan pada Saluran DKPPU – GRC
Untuk skenario gangguan kedua yang dilakukan adalah pada saluran DKPPU – GRC. Skenario gangguan tersebut dilakukan dengan beberapa jenis gangguan yaitu; Single Phase to Ground, 2-Phase Short Circuit, dan yang terakhir adalah 3-2-Phase Short Circuit. Data hasil gangguan dapat dilihat pada Tabel 4.5, serta kondisi jaring pada saat dilakukan simulasi dapat dilihat pada Gambar 4.3
Bus Beban Tegangan (kV)
DKPPU 0
GRC 0
G03 0
Lansekap 0
Universitas Pertamina - 29 Tabel 4.5 Data Hasil Gangguan
Pada Tabel 4.5 menunjukkan nilai arus gangguan hubung singkat pada saat dilakukan simulasi.
Dari data Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa arus hubung singkat 3- Phase Short Circuit paling terbesar, yaitu 11.71 kA.
Gambar 4.3 Kondisi Hasil Simulasi Skenario Gangguan pada Saluran DKPPU – GRC
Tabel 4.6 Nilai Tegangan pada Bus Beban
Lokasi Gangguan Jenis Gangguan Initial Short Circuit Current (kA)
Saluran DKPPU – GRC
Single Phase to Ground 0.01
2- Phase Short Circuit 10.14 3- Phase Short Circuit 11.71
Bus Beban Tegangan (kV)
DKPPU 20
GRC 0
G03 0
LANSEKAP 0
Universitas Pertamina - 30 Pada saat melakukan simulasi ketiga jenis gangguan yang berbeda pada saluran DKPPU - GRC, didapatkan kondisi jaring yang sama untuk ketiga jenis gangguan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar 4.3, terjadi pemadaman yang ditandai dengan warna abu-abu mulai dari unit GRC sampai dengan beban unit lansekap. Pada saat terjadinya gangguan circuit breaker pada saluran tersebut menjadi open, sehingga unit setelah DKKPU tidak mendapatkan suplai. Dengan tidak adanya suplai, tegangan pada unit yang mengalami pemadaman adalah 0 seperti pada Tabel 4.6. Berdasarkan keadaan nyata di lapangan untuk mengembalikan kembali kondisi seperti keadaan semula, dengan semua beban dapat menerima daya memerlukan waktu yang cukup lama mengingat jalur tersebut tidak memiliki sumber cadangan. Sehingga dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kontinuitas sistem kurang baik.
C. Gangguan Pada Saluran GRC – G03
Untuk skenario gangguan ketiga yang dilakukan adalah pada saluran GRC – G03. Skenario gangguan tersebut dilakukan dengan beberapa jenis gangguan yaitu; Single Phase to Ground, 2-Phase Short Circuit, dan yang terakhir adalah 3-2-Phase Short Circuit. Data hasil gangguan dapat dilihat pada Tabel 4.7, serta kondisi jaring pada saat dilakukan simulasi dapat dilihat pada Gambar 4.4
Tabel 4.7 Data Hasil Gangguan
Pada Tabel 4.7 menunjukkan nilai arus gangguan hubung singkat pada saat dilakukan simulasi.
Dari data Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa arus hubung singkat 3-Phase Short Circuit paling terbesar, yaitu 11.05 kA.
Lokasi Gangguan Jenis Gangguan Initial Short Circuit Current (kA)
Saluran GRC – G03
Single Phase to Ground 0.01
2- Phase Short Circuit 9.57
3- Phase Short Circuit 11.05
Universitas Pertamina - 31 Gambar 4.4 Kondisi Hasil Simulasi Skenario Gangguan pada Saluran GRC – G03
Tabel 4.8 Nilai Tegangan pada Bus Beban
Pada saat melakukan simulasi ketiga jenis gangguan yang berbeda pada saluran GRC – G03, didapatkan kondisi jaring yang sama untuk ketiga jenis gangguan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar 4.4, terjadi pemadaman yang ditandai dengan warna abu-abu mulai dari unit G03 sampai dengan beban unit lansekap. Pada saat terjadinya gangguan circuit breaker pada saluran tersebut menjadi open, sehingga unit setelah GRC tidak mendapatkan suplai. Dengan tidak adanya suplai, tegangan pada unit yang mengalami pemadaman adalah 0 seperti pada Tabel 4.8. Berdasarkan keadaan nyata di lapangan untuk mengembalikan kembali kondisi seperti keadaan semula, dengan semua beban dapat menerima daya memerlukan waktu yang cukup lama mengingat jalur tersebut tidak memiliki sumber cadangan. Sehingga dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kontinuitas sistem cukup rendah.
Bus Beban Tegangan (kV)
DKPPU 20
GRC 20
G03 0
LANSEKAP 0
Universitas Pertamina - 32 D. Gangguan Pada Saluran G03 - Lansekap
Untuk skenario gangguan ketiga yang dilakukan adalah pada saluran G03 – Lansekap. Skenario gangguan tersebut dilakukan dengan beberapa jenis gangguan yaitu; Single Phase to Ground, 2-Phase Short Circuit, dan yang terakhir adalah 3-2-Phase Short Circuit. Data hasil gangguan dapat dilihat pada Tabel 4.9, serta kondisi jaring pada saat dilakukan simulasi dapat dilihat pada Gambar 4.5
Tabel 4.9 Data Hasil Gangguan
Pada Tabel 4.9 menunjukkan nilai arus gangguan hubung singkat pada saat dilakukan simulasi.
Dari data Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa arus hubung singkat 3-Phase Short Circuit paling terbesar, yaitu 9.46 kA.
Gambar 4.5 Kondisi Hasil Simulasi Skenario Gangguan pada Saluran G03 – Lansekap Lokasi Gangguan Jenis Gangguan Initial Short Circuit Current
(kA)
Saluran G03 – Lansekap
Single Phase to Ground 0.01
2- Phase Short Circuit 8.19
3- Phase Short Circuit 9.46
Universitas Pertamina - 33 Tabel 4.10 Nilai Tegangan pada Bus Beban
Pada saat melakukan simulasi ketiga jenis gangguan yang berbeda pada saluran G03 – lansekap didapatkan kondisi jaring yang sama untuk ketiga jenis gangguan tersebut. Dapat dilihat pada Gambar 4.5, terjadi pemadaman yang ditandai dengan warna abu-abu pada unit lansekap. Pada saat terjadinya gangguan circuit breaker pada saluran tersebut menjadi open, sehingga unit setelah GRC tidak mendapatkan suplai. Dengan tidak adanya suplai, tegangan pada unit yang mengalami pemadaman adalah 0 seperti pada Tabel 4.8. Berdasarkan keadaan nyata di lapangan untuk mengembalikan kembali kondisi seperti keadaan semula, dengan semua beban dapat menerima daya memerlukan waktu yang cukup lama mengingat jalur tersebut tidak memiliki sumber cadangan.
Sehingga dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kontinuitas sistem cukup rendah.
Bus Beban Tegangan (kV)
DKPPU 19.99
GRC 19.99
G03 19.99
LANSEKAP 0
Universitas Pertamina - 34
4.2 Jaring Kondisi Setelah Rekonfigurasi
Pada kondisi setelah rekonfigurasi, dilakukan perubahan jenis jaring pada sistem jalur tengah bagian timur bandara. Perubahan jenis jaring yang dilakukan adalah jenis konfigurasi radial menjadi jenis konfigurasi loop. Perubahan jenis konfigurasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kinerja dari sistem tersebut. Parameter – parameter kinerja sistem tersebut diantaranya kontinuitas, loadability, tegangan dan rugi daya. Dalam melakukan proses rekonfigurasi tersebut ada beberapa faktor yang harus diperhatikan.
Dan berikut merupakan langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan rekonfigurasi :
1. Hal pertama yang dilakukan adalah, melakukan perhitungan dan penentuan jenis kabel. Penentuan jenis kabel tersebut dilakukan dengan memperhatikan nilai kuat hantar arus kabel dan juga faktor lainnya.
2. Setelah selesai menentukan jenis kabel, selanjutnya membuat pemodelan rekonfigurasi jaring.
Rekonfigurasi jaring bertujuan untuk memperbaiki kinerja sistem dari sisi parameter-parameter yang telah dilakukan.
3. Langkah selanjutnya adalah mengisi semua data parameter yang dibutuhkan pada jaring yang sudah dilakukan rekonfigurasi. Setelah itu dilakukan simulasi aliran daya yang sudah dilakukan pemodelan pada Digsilent. Pada hasil simulasi aliran daya tersebut parameter yang akan didapatkan adalah tegangan dan rugi daya pada jaring.
4. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji hubung singkat dengan beberapa skenario gangguan.
Pada uji hubung singkat gangguan yang dilakukan adalah gangguan hubung singkat jenis G, L-L, L-L-L. Dari uji hubung singkat tersebut, akan dilihat kondisi jaring pada saat terjadi gangguan sehingga kontinuitas sistem dapat terlihat. Selain itu nilai arus gangguan pada uji tersebujt dijadikan acuan utuk perhitungan kapasitas pemutus tenaga.
5. Kemudian dilakukan uji penambahan beban untuk melihat apakah kinerja sistem tetap berjalan maksimal apabila adanya perkembangan beban.
Gambar 4.6 Pemodelan Single Saluran Diagram pada jaring kondisi setelah rekonfigurasi
4.2.1 Perhitungan dan Penentuan Jenis Kabel
Pada jalur yang akan dibuat, dilakukan perhitungan dan penentuan jenis kabel. Hal tersebut bermaksud untuk mengetahui jenis kabel dan ukuran kabel seperti apa yang sesuai untuk jalur tersebut. Sehingga pada jalur tersebut kabel tidak mengalami overheat. Beberapa faktor yang diperhitungkan dalam penentuan jenis kabel adalah sebagai berikut:
A. Panjang Kabel
Pada jalur baru atau jalur looping yang akan dilakukan pengukuran jarak dari Power Station menuju lansekap sekitar 3.15km. Dengan diketahuinya jarak tersebut maka dapat ditentukan panjang kabel yang akan dipasang adalah 4km. Pemilihan jalur tersebut juga untuk
Pada jalur baru atau jalur looping yang akan dilakukan pengukuran jarak dari Power Station menuju lansekap sekitar 3.15km. Dengan diketahuinya jarak tersebut maka dapat ditentukan panjang kabel yang akan dipasang adalah 4km. Pemilihan jalur tersebut juga untuk