Mencari makna kembali Kehilangan satu makna
Tidak berhasil menemukan makna Mencari makna Kehilangan nilai utama Desire to die Suicidal attempt Meaningless
IV.B. Partisipan II IV.B.1. Observasi
Eka adalah seorang wanita berusia 16 tahun dengan tinggi badan sekitar 158 cm dan berat sekitar 55 kg. Eka memiliki kulit tubuh berwarna terang. Ia mencat rambut lurus sebahunya dengan warna kecoklatan dan memanjangkannya dengan menggunakan hair extension. Eka mewarisi darah Aceh dan Tionghoa dari ibunya serta Batak Simalungun dari ayahnya.
Saat ini eka tinggal dirumah kakeknya. Rumah batu permanen dua tingkat yang dicat putih ini terletak disalah satu perumahan di kota medan. Di ruang tamu rumah tersebut, terdapat 2 sofa besar, dua sofa untuk 1 orang dan meja yang terletak di tengah ruangan. Di dinding ruang tamu ini, di atas sofa tergantung foto kakek beserta cucu-cucunya, termasuk Eka yang pada saat itu berusia sekitar 14 tahun, dan di dinding dekat pintu masuk tergantung lukisan the last supper yang berbingkai kaca.
Eka terlihat cukup menyegani sosok kakek dari ayahnya tersebut. Dalam suatu wawancara, Eka yang pada saat itu masih mengenakan seragam putih dengan rok-abu-abu yang panjangnya sedikit di atas lutut duduk di lantai, menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti sambil menghisap rokok merk Marlboro, ia terlihat sedikit gelisah, sesekali ia melihat keluar setiap ada suara mobil yang lewat didepan rumahnya. Pada saat suara mobil yang menjemput kakeknya pulang dari kantor terdengar, ia langsung melihat gerbang depan rumahnya, dan saat dipastikan bahwa kakeknyalah yang datang kerumah, eka terlihat panik. Ia mengatakan ” betul kakek, mati aku, kak tolong hidupin kipas”
secara terburu-buru mematikan rokok yang sedang dihisapnya ke asbak, mengibas-ngibaskan tangannya, kemudian segera lari ke belakang untuk membuang sampah rokok, membersihkan asbak, dan meminum air agar dari nafasnya tidak tercium bau asap rokok. Namun perhatiannya sering teralihkan bila mendengar suara mobil yang lewat didepan rumahnya. Sebelum sebatang rokok tersebut habis, ia cepat-cepat mematikannya, segera pergi kedapur untuk minum dan membuang rokok dan abu di asbak, serta menyalakan kipas angin di ruang tamu karena mobil yang berada didepan rumahnya kali ini adalah mobil kakeknya yang pulang dari kantor. Pada kesempatan lain, saat sedang berada dirumah tetangganya pada malam hari, eka terlihat waspada dengan setiap suara yang memanggilnya dari rumah. Ia takut kakeknya yang sudah tidur terbangun dan mencarinya. Dan ia segera pulang ke rumahnya saat dipanggil pulang oleh kakeknya tersebut.
Saat diwawancara di rumah kakeknya, Eka memelankan volume suaranya saat bercerita mengenai peristiwa dimana ia menyuntikkan obat-obatan ke lehernya dan saat berbicara mengenai dirinya. Saat ada anggota keluarga atau pembantunya yang melewati ruang tempat wawancara dilakukan, Eka menghentikan ceritanya dan mengalihkan perhatiannya pada orang tersebut atau memperkenalkan peneliti pada orang tersebut.
Perilaku seperti ini tidak ditemukan saat ia diwawancara di rumah tetangganya. Eka dengan bebas menceritakan mengenai kehidupannya saat di Siantar dan Aceh dulu, bahkan cerita tentang kedua orang tua nya pun diceritakan eka secara lancar tanpa penurunan volume suara ataupun terlihat
menyembunyikan apapun. Namun, saat diwawancara di rumah tetangganya tersebut, eka tidak mengungkit-ungkit pembicaraan tentang dirinya pada saat ini, ataupun tentang anggota keluarga dari tetangga tersebut.
Saat ditemui di rumah tetangganya pada malam hari, eka terkadang
menggunakan piama berlengan pendek dan celana panjang ataupun kaos putih berleher rendah, cardigan berwarna hijau dan celana batik yang longgar. Sesekali eka terlihat sedang bercengkrama dengan anggota keluarga tetangganya tersebut. Sambil bercanda, anak-anak dari keluarga itu sering menggoda Eka, yang membuatnya merajuk manja. Eka terlihat senang dan nyaman berada di tengah-tengah keluarga itu. Eka bahkan tidak segan-segan untuk mengoleskan perwarna rambut ke kepala anak tertua tetangga tersebut.
Saat diwawancara, Eka berbicara dengan lancar sambil sesekali bercanda saat menceritakan tentang kisah kedua orang tuanya, namun matanya terlihat menerawang dan wajahnya sedikit tertunduk saat bercerita tentang neneknya. Terkadang Eka menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti sambil melakukan aktivitas lain, seperti membungkus kado, menulis atau mengambar-gambar sesuatu di kertas yang ada dihadapannya, ataupun sekedar memegang barang-barang yang ada dihadapannya. Aktivitas yang selalu dilakukannya saat wawancara berlangsung adalah menghisap rokok, ia bahkan menyulut kembali rokok baru dari bara api rokok yang sedang dihisapnya, kemudian setelah rokoknya habis, ia langsung menghisap rokok yang baru dihidupkannya tersebut. Terkadang matanya teralihkan ke aktivitas yang dilakukannya, tapi seringkali ia
hanya melihat langsung ke arah mata peneliti saat bercerita mengenai kehidupannya.
IV.B.2. Latar belakang
Eka terlahir dari latar belakang agama yang berbeda. Saat akan menikahi ibunya, ayah Eka setuju untuk pindah ke agama ibunya, yaitu Islam. Pernikahan dari kedua orang yang berbeda keyakinan ini menimbulkan masalah bagi keluarga ayahnya. Kakek Eka menentang pernikahan ini, dan menganggap bahwa anaknya (ayah Eka) tidak akan sanggup menjalaninya dan akan pulang kembali kepadanya. Sedangkan ibu dari ayahnya yang tadinya sangat menentang hubungan mereka saat berpacaran, akhirnya merelakan anaknya untuk menikahi gadis yang berbeda agama dengan mereka karena ayah Eka sempat dua kali mencoba bunuh diri karena putus dari ibunya dan masih mengingat-ingat ibunya. Keluarga ibunya tidak menentang pernikahan tersebut karena ayah Eka setuju untuk masuk Islam. Pernikahan dilangsungkan tanpa acara adat, menggunakan ajaran agama Islam. Eka diceritakan bahwa ayahnya pernah mencoba bunuh diri karena mengejar ibunya saat ia berusia 6 tahun.
Pernikahan mereka membuat ayahnya putus komunikasi dengan keluarganya. Perang dingin itu mulai mencair saat ibu Eka mengandung dirinya. Dimulailah pertemuan-pertemuan antar kedua keluarga ini. Hingga akhirnya 2 tahun kemudian pernikahan keduanya dapat diterima dan direstui saat Eka lahir. Namun ibu dan neneknya sudah membicarakan bahwa anak yang terlahir akan disuh oleh neneknya.
Tak lama setelah Eka lahir, ayah ibunya pindah ke Tapanuli Selatan dan Eka dititipkan pada neneknya dan tinggal di Aceh.
Sejak kecil Eka sangat manja pada neneknya. Bahkan dia lebih dimanja daripada 5 sepupu laki-lakinya yang lain yang tinggal bersama neneknya. Terutama setelah kakeknya meninggal pada tahun 1996.
Saat Eka berumur sepuluh tahun, Eka pindah ke Siantar dan tinggal bersama kedua orangtuanya. Neneknya menemani Eka tinggal di rumah papa-mamanya di Siantar selama satu bulan hingga akhirnya ia terbiasa. Setelah neneknya pulang, setiap hari Eka menelepon neneknya, kemudian frekuensi nya dikurangi perlahan-lahan menjadi seminggu sekali. Eka mengaku bahwa ia sempat ’bandel’ saat jauh dari neneknya ini, berteman dengan banyak teman yang pengguna narkoba, akhirnya Eka pun keceblos menggunakannya juga.
Eka berusia 13 tahun saat neneknya terkena stroke untuk yang pertama kalinya dan langsung meninggal 10 hari kemudian. Eka sangat stres hingga keluarganya membawanya ke Jakarta untuk diobati oleh Psikiater.
Di malam setelah ia dibawa ke psikiater, dengan pikiran kosong antara setengah sadar dan tidak, ia menyuntikkan berbagai jenis obat yang tersimpan didalam lemari kamarnya ke lehernya. Hingga ia dibawa ke rumah sakit tempat ia sempat mengalami mati suri selama 2 jam. Dua minggu di jakarta, Eka pulang kembali ke siantar dan mengikuti UAN SLTP.
Eka saat ini duduk di bangku SMA kelas 2 di Methodist. Ia tinggal dirumah kakek dari ayahnya di Medan bersama ketiga sepupunya, Sedangkan
ayah dan ibunya tinggal di Langkat. Kedua orangtuanya datang ke Medan setiap hari Sabtu dan minggu.
IV.B. 3. Data Wawancara 1. Gambaran Makna Hidup
Sejak bayi, Eka sudah tidak tinggal bersama kedua orangtuanya melainkan diasuh oleh kakek dan nenek dari keluarga ibunya namun ayah-ibu Eka sering mengunjunginya di Aceh. Sejak sebelum Eka lahir, pembicaraan bahwa pengasuhan anak yang akan dilahirkan akan diserahkan pada neneknya sudah ada. Selain karena memang adanya kebiasaan dalam keluarga tersebut untuk menyerahkan anak laki-laki yang terlahir dari anak-anaknya untuk diasuh dan dididik oleh nenek, Eka yang merupakan cucu perempuan juga ikut diasuh dan tinggal terpisah dari keluarganya karena neneknya mengkhawatirkan bahwa cucunya akan tidak terawat dengan baik dan akan mengikuti ajaran agama ayahnya dulu. Karena saat ayahnya sibuk bekerja, ibunya banyak mengikuti kegiatan Dharmawanita yang menyita banyak waktu, selain itu kedua orangtuanya sering berkunjung ke Siantar tempat kedua orangtua ayahnya tinggal. Maka Eka pun diasuh oleh neneknya.
Selain Eka, neneknya juga mengasuh 5 orang anak lainnya yang masih memiliki hubungan darah dengannya. Kelima orang tersebut berjenis kelamin laki-laki dan berusia dua sampai lima tahun lebih tua dari Eka. Eka sebagai anak perempuan terkecil yang juga berperan sebagai pengganti sosok kakeknya yang meninggal saat Eka berusia 4 tahun sangat dimanja oleh neneknya.
iya. Sekalian bisa ngawanin nenek juga. Dulu sempat dibilang orang tu. Untung ada Eka kalo gak nenek tu betul-betul yang namanya..ya ngeblank
lah ditinggalin kakek. Karena kakek juga dulu orangnya manja. Jadi, dikit-dikit tu..ibu ibu ibu..jadi nenek kan sering denger suara kakek, gantinya Eka nek nek nek naaa…. Jadi gak ada, kehilangannya pasti ada cuman gak..berlebihan. …(P2, W1/b.360-365)
Apapun yang diminta Eka harus segera dikabulkan saat itu juga. Bila tidak, ia mengancam akan mengurung dirinya, tidak mau tidur bersama neneknya malam itu, bahkan sampai menggantung dirinya. Padahal Eka yang sebenarnya memiliki kamar sendiri tidak pernah berani untuk tidur sendirian dikamarnya dan selalu tidur di kamar neneknya setiap malam. Ia pun mengaku bahwa ancaman menggantung diri itu keluar begitu saja dari imajinasinya karena saat itu ia akan dimasukkan ke sekolah yang membuatnya jauh dari neneknya. Tentu saja neneknya tidak bisa mengasuh 6 orang anak seorang diri, setiap anak diberikan satu pengasuh, hanya Eka yang memiliki 2 pengasuh dan satu orang supir yang menungguinya di sekolah.
Tk nya di pesantren. SD nya.. Eka dulu pernah mau gantung diri di SD. Mau bunuh diri. Gak bisa jauh dari..ini kan Eka jauh kan? Itu la gak bisa jauh dari orang tua. Gak bisa jauh dari nenek.
itu karena jauh ya kan, mau dimasukin ke pesantren gitu. Akhirnya ya gak gantung diri. Ngancam. Pas TK. Aku pokoknya mau gantung diri. Ngomong pun belum betul ya kan. aku nanti gantung diri (berbicara seperti anak-anak yang cadel)
gak tau. Keluar aja gitu. Imajinasi. I-ma-ji-na-si (mengeja dengan suara seperti anak-anak) (P2, W2/b.497-499,509-514)
Ia sangat sayang dan tergantung pada neneknya. Setiap pulang sekolah, ia harus melihat neneknya barulah ia merasa tenang untuk bermain dan tidur siang. Dulu, saat ia mengikuti sekolah yang masuk pada siang hari, sebelum pergi sekolah ia selalu mencari neneknya, sepulang sekolah ia tidak mencari neneknya lagi. Malam harinya ia belajar, saat akan tidur, barulah ia mencari neneknya lagi.
siangnya ya…maen-maen, tidur. Tidur siang gak pa-pa gak sama nenek. Yang penting malamnya harus ada nenek. Pokoknya pulang sekolah harus Nampak nenek dulu..udah..sampe malamnya lagi baru ketemu. Dari pagi, siang pulang sekolah trus malam itu sama nenek. Dulu Eka sekolahnya..siang kan..sekolah siang disana. Jadi kalo mau pigi sekolah gitu udah harus manggil nenek. Nanti pulang sekolah kan sore udah mau magrib. Udah pulang sekolah, udah, itu gak nyariin lagi. trus belajar, nanti jam 10 jam 11 udah mau tidur baru(P2, W2/b. 393-400)
Neneknya mengatur pendidikan yang akan diberikan pada cucu-cucunya. Eka dimasukkan ke TK islam dan selanjutnya ke salah satu SD Negeri yang ada di Aceh, diajarkan salat dan mengaji yang dikhatamkannya saat ia tinggal bersama ibunya, selain itu Eka juga diajarkan menari balet. Saat anak-anak lelaki sepupu Eka belajar karate, Eka belajar balet 3 kali seminggu dari seorang guru yang dipanggil untuk mengajarkan Eka secara privat di rumah neneknya yang kebetulan memang memiliki lantai yang terbuat dari kayu. Terkadang sepupu-sepupunya sering mengintipnya dan ikut menari saat Eka sedang latihan. Di Aceh, Eka jarang keluar dari rumah neneknya yang memiliki pekarangan yang luas dirumahnya. Ia tidak diizinkan untuk keluar rumah. Bila ingin bermain, ia akan bermain bersama para sepupunya. Hal ini dikarenakan dirumah neneknya hanya dia cucu perempuan yang tidak tinggal bersama orang tuanya. Karena sering bermain dengan sepupunya yang semuanya adalah laki-laki, maka Eka tumbuh menjadi gadis yang tomboi, sering bermain mobil-mobilan dan juga menginginkan untuk ikut belajar karate yang juga diprivatkan di rumah neneknya. Kemudian iapun meminta pada neneknya agar diperbolehkan untuk ikut belajar karate bersama sepupu-sepupunya. Akhirnya Eka mengikuti kedua kegiatan tersebut. Ia belajar balet sekaligus karate. Akhirnya, karena terlalu banyak
aktivitas yang diikutinya, ia pun jatuh sakit. Badannya lemas karena kecapekan dan terlalu banyak bergerak membuatnya malas makan yang mengakibatkan tubuhnya mengalami demam tinggi. Ia pun diminta untuk mengurangi aktivitasnya dan istirahat selama 1 bulan. Namun ia hanya memenuhi permintaan dokter untuk beristirahat selama satu minggu saja.
Dari kecil, Eka sudah memiliki indra ke-6. ia mengaku bahwa ia dapat melihat makhluk halus yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Namun, ‘kelebihan’nya ini membuatnya menjadi seorang penakut yang tidak berani untuk tidur sendirian dikamar. Selain itu, dari kecil ia juga bisa tidak tidur selama 2 hari tanpa meminum obat apapun, karenanya ia dijuluki ‘genset’ oleh orang lain.
makhluk yang..emang ada disitu… Eka tu sejak lahir emang udah penuh dengan indra ke-6. Yang gak nampak dengan mata biasa...Emang dari kecil. dari kecil bisa..gak tidur. Bisa..itu bisa 2 hari kan..gak tidur..tanpa dopping-dopping gitu. Kuat..maksudnya kuat apa aja itu la karena gak tidur. Nanti Eka itu dibilang orang itu genset. Gak pernah mati. Kalo genset kan gak pernah mati. Kecuali kalo PLN.kalo PLN mati. Kalo genset iduup aja. Isi minyak iduup aja. (P2, W2/b.1162-1163,1190-1194)
Bagi Eka, tidak ada yang dapat menandingi neneknya, bahkan ibunya sendiri. Ia merasa bahwa neneknya dapat memahami apa keinginannya bahkan sebelum ia memintanya.
nenek itu ngerti gitu…apa yang aku mau. Sebelum aku minta nenek tu udah tau, udah langsung ada, gak tau ntah dari mana dia tau.. gak tau.. pokoknya lebih aja nenek dibanding mama gak tau mungkin karena udah dari kecil ya..yaa.. jadi mama tu yaa ga ada tandingan...eh salah..nenek tu gak ada tandingannya la.. (P2, /b.53-57)
Eka tinggal bersama neneknya di Aceh hingga dia berumur 10 tahun. Eka yang memiliki perbedaan umur 10 tahun dengan adiknya ini dibawa ke Siantar
saat ia duduk di kelas 5 SD untuk hidup bersama kedua orangtuanya. Karena tidak bisa jauh dari neneknya, Eka sempat jatuh sakit. Ia pernah mengalami kejadian yang aneh saat ia baru pindah ke Siantar, ia melihat hantu dikamar mandi. Akhirnya neneknya datang dan menemani nya hingga Eka terbiasa tinggal di Siantar bersama orangtuanya. Setelah menemani Eka selama 1 bulan, neneknya pun pulang ke aceh, walaupun begitu, neneknya harus meneleponnya setiap hari. Lama kelamaan frekuensi menelepon dikurangi dari setiap hari menjadi dua hari sekali, tiga hari sekali, 4 hari sekali, hingga akhirnya seminggu sekali.
Eka pindah ke siantar. Nenek dulu sering nelp ya kan. Karena Eka sakit. Gak bisa jauh-jauh dari nenek. Akhirnya, nenek pernah tinggal 1 bulan. Trus Eka tu pernah ngalamin kejadian yang aneh. Ngeliat hantu gitu kan. Di kamar mandi. Itu..makanya nenek nungguin Eka 1 bulan. Akhirnya Eka kebiasa. Nenek itu..ya walaupun sering nelepon ya kan. Tapi setidaknya sabtu minggu nenek terus-terus nelepon. Tadinya tiap hari telp.tapi setelah itu sabtu minggu. (P2, W2/b.851-858)
Sekali bertelepon, Eka sendiri bisa berbicara satu sampai dua jam dengan neneknya. saat ia bertelepon, orangtuanya, bahkan ibunya tidak ia perbolehkan untuk ikut berbicara dengan neneknya. Di telepon, ia menceritakan segala masalah yang dihadapinya. Tentang ia yang diganggu disekolah dan tidak ada orang yang dapat membantunya disana, bahkan masalah tentang cowok yang ia sukai pun ia bercerita kepada neneknya. Eka merasa bahwa neneknyaa mengerti segala sesuatu tentang dirinya. Bila Eka diganggu disekolah, saat ibunya menganjurkannya agar tidak berkelahi, neneknya menyuruh Eka untuk membalas perbuatan orang yang telah mengganggunya. Karena neneknya tau Eka adalah seorang pendendam. Sehingga bagi neneknya, akan lebih baik jika Eka langsung membalas dan mengeluarkan perasaannya daripada Eka tidak bertengkar tetapi
tetap menyimpan dendam kepada orang tersebut didadanya. Neneknya mengetahui bahwa Eka ’bunglon’ istilah yang bahkan tidak dimengerti oleh ibu Eka sendiri. Suatu istilah yang menggambarkan bahwa Eka bisa berbuat 1000 kali lebih jahat pada orang yang jahat padanya dan bisa berbuat lebih baik pada orang yang baik padanya. Soal cowok pun Eka akan berdiskusi dengan neneknya. pernah ia menyukai cowok etnis Tionghoa. Pada saat itu neneknya mengatakan asalkan ia cowok yang baik dan tidak egois, walaupun is etnis Tionghoa, hal itu bukan lah masalah karena kakek Eka sendiri adalah seorang Tionghoa muslim. Yang penting cowok tersebut tidak egois, karena neneknya tau Eka bisa bersikap lebih egois dari cowok tersebut. Bila Eka sedang sedih, neneknya akan datang, topik yang paling sering diungkit Eka saat sedang bertelepon adalah tentang kunjungan neneknya, tentang kapan neneknya akan datang mengunjunginya.
nanti cerita Eka digangguin orang di sekolah. Dulu Eka..dulu kan disana nggak ada yang bantuin. Jadi kalo nangis-nangis nenek kesini. Kalo gak cerita-cerita, nenek kapan datang? Pokoknya dari 1 jam atau 2 jam itu Eka nelepon bisa 100 kali nanya nenek kapan datang (P2, W1/b. 416-419)
Kalo nenek ngerti semua. Misalnya pas lagi digangguin di sekolah. Kalo kata mama, udah jangan berantem. Tapi kalo kata nenek, ya udah balas aja. Karena nenek tau Eka ni orangnya pendendam. Jadi mending langsung Eka balas. Nenek bilang Eka ni bunglon. Tapi mama gak ngerti bunglonnya Eka ni ke’ mana. Eka, kalau orang jahat sama Eka, Eka bisa beribu kali lebih jahat dari dia. Tapi kalo dia baik, Eka pun bisa lebih baek dari dia. (P2, W2/b.1047-1053)
R: kalau dulu? Kalau ada masalah gimana nghadapinnya?
E: nenek. Masalah cowok pun nenek. Kemarin ada…Eka nanya. Ya udah gak pa-pa. tapi cina nek, asal baik gak pa-pa. baik, gak egois. Karena nenek tu tau Eka juga bisa lebih egois (P2, W2/b.751-753)
Setelah sempat berhenti beberapa lama dari pelajaran privat baletnya di Aceh, Eka melanjutkan pelajarannya di Siantar. Ia mengikuti lomba hingga
pernah memenangkan juara 1 dan juara 2 disana. Lulus SD, Eka melanjutkan sekolah ke SMP Methodist di Siantar. Saat duduk di kelas 1 SMP, ia berhenti mengikuti les, karena ia merasa malas. Walaupun ia merasa senang mengikuti les tersebut, lama kelamaan ia merasa capek dan bosan dibuat seperti boneka. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan bermain-main daripada meneruskan pelajaran baletnya.
dulu aku kan pas kecil ikut balet udah mulai bandel gak ikut lagi. Capeknya.. sampe’ kelas 1 SMP. Ampe dulu pernah juga ikut lomba. Menang. Juara 2, trus juara 1.
senang sih senang ya..tapi malas juga rasanya. Dibuat orang kayak boneka. Makanya.. nanti siap makan balet. Tapi lama-lama..ah capek, bosan, malas. Semua la. Mending aku main-main. (P2, W2/b.1096-1122)
Saat jauh dari neneknya itu, Eka sempat menjadi anak yang ’bandel’. Ia berlaku seperti anak laki-laki. Ia dulu memiliki keinginan untuk menjadi laki-laki agar kuat walaupun tinggal jauh dari neneknya. Ia mulai mencoba-coba rokok pada tahun pertamanya di SMP, jika ia sedang stres terkadang ia membelinya terkadang ia mengambil milik ayahnya. Bila disekolah, tentu saja ia tidak diperbolehkan untuk merokok. Biasanya ia akan makan atau makan permen bila keinginannya untuk merokok muncul. Banyak orang yang takut padanya, sehingga ia menjadi ’bos’ disana. karena keramahannya, Eka memiliki banyak kenalan di luar sekolahnya, termasuk teman-teman yang menggunakan narkoba.