• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIALOG INTERAKTIF DALAM RANGKA PERINGATAN HARI AIR DUNIA XXIII

Pangarsa SKPD lan Instansi Vertikal Provinsi Jawi Tengah; Para Pangarsa Organisasi profesi, LSM/NGO;

DIALOG INTERAKTIF DALAM RANGKA PERINGATAN HARI AIR DUNIA XXIII

TAHUN 2015

SEMARANG,29 APRIL 2015 Asalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI;

Sekretaris Daerah beserta Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Tengah;

Rekan-rekan birokrasi Provinsi Jawa Tengah;

Para Ketua Lembaga Non Pemerintah, Para Direktur, BUMN, Para Tokoh Agama, Akademisi;

Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah;

Hadirin yang berbahagia,

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa siang ini kita dapat bersama-sama hadir menyertai Dialog Interaktif dalam rangka Peringatan Hari Air Dunia XXIII tahun 2015, dengan tema “Konservasi Sumber Daya Air Dalam Mendukung Kedaulatan Pangan Berkelanjutan”.

Kegiatan ini sangat strategis sebagai sarana untuk menyamakan persepsi, menyatukan langkah dan meningkatkan sinergitas kerjasama lintas sektor, wilayah dan para pemangku kepentingan dalam mendayagunakan Sumber Daya Air (SDA) agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Maka, saya berharap forum ini didayagunakan untuk

rembugan

dan menghimpun gagasan-gagasan brilian terkait upaya-upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan berkelanjutan.

Hal ini saya sampaikan, karena salah satu upaya untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang menjadi salah satu prioritas pembangunan Jawa

Tengah tahun 2013-2018 adalah tercukupinya kebutuhan air untuk mengairi lahan-lahan pertanian. Di sisi lain, ketersediaan air sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, dari waktu ke waktu semakin berkurang, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin berkurangnya lahan-lahan resapan air akibat alih fungsi lahan-lahan yang tidak terkendali.

Hadirin yang saya hormati;

Secara umum, permasalahan SDA antara lain: potensi SDA belum didayagunakan secara optimal sehingga pada saat musim kemarau mengalami defisit air (kekeringan) dan saat musim penghujan mengalami surplus air (banjir). Di satu sisi terjadi krisis air irigasi pertanian maupun air bersih di musim kemarau, namun di saat musim penghujan volume air yang belum ter-manfaatkan dan terbuang ke laut sangat besar. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya menghidupkan lahan marjinal menjadi sentra hortikultura melalui Waduk Mini Geomembran. Selain itu, juga dibangun beberapa waduk atau embung seperti Waduk Logung di Kudus; Embung Eks Kali Mati (Tengki) di Brebes; embung-embung di lahan kritis untuk pengem-bangan tanaman hortikultura; dan Waduk Mini Geomembran untuk pemberdayaan tani. Sejalan dengan itu, juga dilakukan perbaikan Waduk Lodan di Rembang; Waduk Ngampon dan Waduk Tempuran di Blora. Dengan ketersediaan air yang cukup, diharapkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian semakin baik, sehingga petani semakin sejahtera.

Kita sadar, bahwa ke depan masalah pangan merupakan persoalan yang tidak dapat diremehkan. Cepat atau lambat kita akan dihadapkan pada dilema dalam pemenuhan pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, karena laju pertumbuhan penduduk di Indonesia hampir 2% per tahun. Di lain pihak, nasib petani juga masih membutuhkan perhatian kita bersama agar dapat meningkat kesejahteraannya. Karena itu, dalam berbagai kesempatan selalu saya sampaikan, bahwa kita harus berdaulat pangan.

Bagi Jawa Tengah, kedaulatan pangan merupakan ruh dan tekad politik untuk menentukan kebijakan pangan sesuai UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Untuk itu, diperlukan strategi untuk mengimplementasikannya.

Hadirin yang berbahagia;

Dalam mencapai kedaulatan pangan, salah satu upaya yang dilakukan adalah mendayagunakan Rumah Pintar Petani (RPP) yang di-rencanakan berlangsung selama 3 (tiga) tahun, mulai 2014 hingga 2016. Gerakan RPP ini diawali tahap I yang merupakan tahap percontohan/ model untuk komoditas padi dan kedelai pada 8 (delapan) Kabupaten. Komoditas padi dikembangkan di 6 (enam) Kabupaten, meliputi: Cilacap, Tegal, Grobogan,

Klaten, Sragen, dan Karanganyar. Sedangkan kedelai di 2 (dua) Kabupaten, yaitu Purworejo dan Pati.

Rumah Pintar Petani ini penting, karena berfungsi sebagai pelayanan satu pintu

(One Stop Service)

bagi petani dalam memenuhi semua kebutuhan petani terkait kegiatan budidaya, seperti permodalan, saprodi, informasi teknologi, bimbingan dan pelatihan, klinik tanaman, pemanfaatan biomasa padi-jagung-kedelai, kebutuhan air irigasi, penggunaan pupuk organik dan agensia hayati, jasa alat mesin pertanian, pengolahan padi, promosi, dan pemasaran. RPP juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermusyawarah bagi petani dan petugas.

Dalam pengoperasiannya, RPP dipimpin oleh seorang Manajer, dapat dari Ketua Kelompok Tani/Gapoktan, Ketua P3A/GP3A, Ketua UPJA, Ketua/Manajer Koperasi, atau tokoh masyarakat tani yang menjadi panutan dalam penerapan teknologi dan berkompetensi manajerial. Selain itu, operasionalisasi RPP juga didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Pengawas Benih Tanaman (PBT), Petugas pengairan, Penyuluh Swadaya, Sarjana Pendamping, Perguruan Tinggi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), BUMD/BUMN, Dinas terkait dan independen.

Hadirin yang saya hormati;

Dengan berbagai kemudahan dan layanan dalam Gerakan Rumah Pintar Petani, saya berharap para petani semakin bersemangat dalam mengelola lahan, sehingga produktivitas dan kualitas produksinya semakin baik.

Sejalan dengan itu, petani juga kita dorong untuk mengembangkan budidaya pertanian organik. Mengapa? Karena era globalisasi menuntut adanya standar jaminan kualitas produk pangan khususnya produk organik yang menjadi kekuatan daya saing produk pertanian Indonesia. Apalagi tahun 2015 nanti kita sudah harus berinteraksi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menuntut kesiapan seluruh komponen bangsa, termasuk para pengelola sumber daya air.

Selain itu, konservasi sumber daya air juga perlu didorong agar keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk kebutuhan mahluk hidup baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. Karena itu, pengelolaan sungai harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Mengingat pengelolaan sungai oleh pemerintah belum bisa dilakukan secara optimal, maka pengelolaan sungai harus dilakukan secara bersama-sama, yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Seluruh komponen masyarakat dan

stakeholder

terkait, harus bergandeng tangan, bahu-membahu

untuk mendukung terwujudnya kedaulatan pangan di Provinsi Jawa Tengah serta memberikan kontribusi terhadap produksi pangan Nasional. Karena itu, sebelum mengakhiri sambutan saya, ada satu kalimat yang harus kita pegang sebagai sprit dalam bekerja, yaitu:

Jangan tinggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air untuk anak cucu kita”

.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini.

Mari kita lestarikan sumber air yang ada di sekitar kita untuk masa depan kita bersama.

Sekian dan terimakasih atas perhatiannya. Wabillahitaufik wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

GUBERNUR JAWA TENGAH

ttd

ATUR PANGANDIKAN GUBERNUR JAWI TENGAH

ING ADICARA

PAMBYAWARA BULAN BHAKTI GOTONG ROYONG MASYARAKAT