bulan Juli 1985. Ia juga adalah lulusan pertama dari pendidikan psikologi di Indonesia. Bisa dibilang Fuad Hassan adalah psikolog pertama yang dididik di Indonesia.
Prof. Dr. Fuad Hassan. Dokumentasi Fakultas Psikologi UI
ULASAN TOKOH FUAD HASSAN
Judul bukunya Berkenalan dengan Eksistensialisme terbitan Pustaka Jaya. Buku itu sebenarnya sudah lama terbit, tahun 1972. Buku yang dikomentari adalah versi cetak ulang tahun 1985. Waktu terbitnya berdekatan dengan saat pengangkatan Fuad Hassan jadi menteri. Nilai bukunya lalu menjadi lain karena ditulis oleh seorang menteri, menteri pendidikan pula.
Ternyata, setelah dibaca oleh para koleganya, mereka paham bahwa buku itu bukanlah risalah yang memaparkan pemikiran anti-Tuhan. Benar ada lsuf eksistensialis yang anti-Tuhan atau atheis, tetapi tidak sedikit dari para lsuf itu yang sangat religius bahkan pemikiran mereka dijadikan sebagai dasar dari teologi agama tertentu.
Fuad Hassan menanggapi kecurigaan, kekhawatiran dan kritik orang-orang dengan sabar. Ia menyatakan bahwa dalam memahami manusia secara memadai, eksistensialisme
memberikan banyak insight bagi psikologi, bahkan (waktu itu) memberikan jalan baru bagi psikologi untuk memahami manusia dengan berbagai dimensinya yang kompleks.
Cerita tadi saya peroleh dari Pak Fuad (begitu ia biasa dipanggil) dalam sebuah pertemuan di antara rangkaian kegiatan saya menimba ilmu darinya. Ceritanya tentang tanggapan miring banyak orang terhadap buku itu merupakan tanggapannya terhadap cerita saya bahwa saya dan banyak teman justru menggemari buku itu dan mendapat banyak pelajaran dari sana.
Buku Berkenalan dengan Eksistensialisme bercerita tentang lima tokoh eksistensialisme dan
pemikirannya. Pemikiran yang sungguh baru, sungguh mengejutkan dan mengagumkan bagi saya waktu pertama kali membacanya di tahun 1986. Meskipun belum sungguh-sungguh paham keseluruhan isinya, saya terpikat oleh buku itu.
Setelah kuliah saya membaca lagi buku ini berkali-kali, apalagi buku ini menjadi teks wajib untuk kuliah Kapita Selekta Filsafat di Fakultas Psikologi UI. Saya masih menikmatinya dan mendapatkan pelajaran baru lagi setiap kali membacanya kembali.
Kekuatan dari tulisan-tulisan Fuad Hassan, selain pada isi pemikirannya, adalah daya tariknya bagi rentang pembaca yang luas karena bahasa dan cara bertuturnya yang lugas dan jernih. Buku-bukunya dapat menjangkau khalayak luas meski isi
pemikirannya bukan ihwal yang mudah
dimengerti. Ia dapat menampilkan sisi-sisi yang menarik dari topik yang dibahasnya sehingga membuat pembaca mendapatkan kesenangan dari tulisannya. Dengan tetap menjaga bobot substansi tulisannya; dalam arti tetap menjaga akurasi informasi, kredibilitas sumber rujukan, koherensi logis, dan analisis yang memadai, ia mampu menyajikan tuturan yang membuat pembacanya asyik menyusuri kisahnya. Kesimpulan ini saya buat setelah membaca buku-buku Fuad Hassan yang lain dan membandingkan pengalaman saya membaca dengan pengalaman banyak teman saya.
Pemikiran di Bidang Psikologi
Karya-karya Fuad Hassan di bidang psikologi menunjukkan posisi yang jelas: psikologi
eksistensial. Latar belakang lsafat eksistensialisme kental sekali terlihat dalam
pemikiran-pemikirannya. Nama-nama seperti Friedrich Wilhelm Nietzsche, Søren Kierkegaard, Nikolai Alexandrovich Berdyaev, Martin Heidegger, Karl Jaspers, Jean Paul Sartre, dan Martin Buber banyak ditemukan di sana. Dalam beberapa kesempatan bahkan ia menempatkan para lsuf eksistensialis itu dalam posisi sebagai pemikir di bidang psikologi. Selain itu, tentu saja para psikolog eksistensial juga menjadi bahan
rujukannya. Kita temukan di antaranya pemikiran
ULASAN TOKOH
Ludwig Binswanger, pelopor psikologi eksistensial dari Swiss, R.D. Laing, ahli psikologi eksistensial kelahiran Skotlandia, dan Paul Johannes Tillich yang berpengaruh besar terhadap kajian psikologi eksistensial tentang pengalaman religius.
Filsuf-lsuf tentang manusia yang memberikan banyak pengaruh terhadap psikologi eksistensial dan psikologi fenomenologis juga ikut berpengaruh terhadap pemikiran Fuad Hassan. Menurutnya, semua pemikir itu adalah pemikir psikologi.
Tampaknya Fuad Hassan agak lentur dalam membatasi pemikir-pemikir mana saja yang tergolong sebagai tokoh psikologi. Ia
mengidenti kasi mereka sebagai tokoh psikologi atau bukan dari isi pemikirannya, bukan dari latar belakang pendidikan atau alirannya. Ia tampaknya terbuka dengan berbagai pemikiran yang memiliki potensi untuk memberikan pemahaman baru bagi psikologi. Ini dilakukan olehnya sebagai satu bentuk usaha untuk mengembangkan satu pendekatan yang lebih holistik dan multi-dimensional dalam psikologi.
Menurut Fuad Hassan, sebagai suatu cabang ilmu yang menggunakan metode eksperimental, psikologi memang tergolong muda. Didirikannya laboratorium psikologi di Leipzig oleh Wilhelm Wundt di akhir abad ke-20 menandai kelahiran psikologi sebagai disiplin ilmu yang mandiri.
Namun, sebagai kajian tentang manusia, baik terhadap jiwa dan badannya, psikologi tergolong sudah tua. Sejak jaman Yunani Kuno gejala kejiwaan sudah dipikirkan oleh Demokritos (460-370 SM) yang menyatakan jiwa adalah hasil aktivitas atom-atom yang lebih ringan dan cepat geraknya. Tentang badan dan hubungannya dengan aktivitas mental dan kebahagiaan juga sudah dikaji oleh lsuf Yunani seperti Epikurus.
Lalu Aristoteles juga menegaskan bahwa di masa depan dibutuhkan sebuah ilmu tentang psyche manusia, psikologi. Kita juga dapat menemukan
pemikiran omas Aquinas tentang kesadaran di Abad Pertengahan.
Selama aktif sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Fuad Hassan mendalami pemikiran-pemikiran tentang manusia sejak masa Yunani Kuno hingga era postmodern. Dari pemikiran dalam rentang waktu yang panjang itu, ia ingin menemukan sebuah sintesis dari
pemikiran-pemikiran di bidang psikologi sehingga melahirkan pemahaman yang memadai untuk dipakai menganalisis dan menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Dari pengenalannya terhadap sejarah psikologi, tepatnya kajian-kajian terhadap gejala psikologi, ia melihat berbagai pemikiran yang memiliki sudut pandang masing-masing.
Lalu, ia sendiri ingin juga mengajukan sebuah kerangka pikir yang dapat digunakan untuk meneliti gejala-gejala psikologis, khususnya yang muncul di Indonesia.
Fuad Hassan tampaknya tidak ingin membatasi psikologi hanya sebagai ilmu empirik dalam pengertian hanya mengandalkan pengalaman indrawi. Ia juga menolak pendekatan positivistik yang cenderung naif dan memahami manusia dari aspek yang kasat mata saja. Meski tidak
menentang metode eksperimental, ia menolak jika psikologi hanya mengandalkan metode ini saja karena menurutnya ada banyak metode untuk dapat digunakan untuk meneliti gejala psikologis.
Salah satunya adalah fenomenologi yang dinilainya merupakan pendekatan dan metode yang memadai bagi psikologi. Menurutnya, fenomenologi dapat membantu psikolog untuk memahami gejala psikologis secara menyeluruh dari sudut pandang orang-orang yang
mengalaminya. Seiring dengan penggunaan fenomenologi sebagai metode, ia juga mengenali eksistensialisme sebagai landasan loso s untuk memahami manusia sebagai penentu dari
tindakan-tindakannya. Dengan dua pemikiran itu, FUAD HASSAN
ULASAN TOKOH
psikologi. Ia mende nisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antar-manusia.
Dengan de nisi ini, menurutnya, psikologi dapat memahami manusia secara holistik.
Dari situ kita dapat memahami bahwa Fuad Hassan tidak mau melihat manusia secara sepotong-sepotong. Kalaupun gejala yang diteliti adalah gejala tingkah laku khusus, tetap saja dibutuhkan pemahaman menyeluruh tentang manusia yang menampilkan tingkah laku itu.
Psikologi-Kita
Ikhtiar Fuad Hassan dalam memahami manusia, khususnya di Indonesia, melibatkan pemahaman
loso s tentang manusia secara menyeluruh.
Namun ia juga berusaha untuk membumikan psikologi yang kental dengan pemikiran loso s itu. Justru, menurutnya, usahanya memahami manusia secara loso s ditujukan untuk dapat menghasilkan pemahaman komprehensif tentang manusia agar dapat diperoleh kerangka tindakan yang memadai untuk menyelesaikan persoalan-persoalan perilaku secara kongkret. Ia berusaha menerapkan psikologi dalam berbagai ranah kehidupan di Indonesia.
ia hendak melakukan pemahaman terhadap manusia secara menyeluruh.
Dari fenomenologi, Fuad Hassan mendapat pemahaman bahwa salah satu aspek yang amat penting dari tingkah laku manusia adalah keterarahan kesadarannnya (intensionalitas).
Kesadaran manusia mengarahkan tingkah lakunya selalu bertujuan atau terarah kepada maksud tertentu. Tampilnya tingkah laku selalu dalam konteks interaksi dengan orang lain. Tingkah laku seseorang harus selalu dimaknai dalam
keterkaitannya dengan kebersamaan dengan orang lain. Oleh karena itu, mengkaji tingkah laku sebagai sesuatu yang terisolasi seperti yang dilakukan pendekatan behavioristik tidak memadai karena menghilangkan makna
interpersonal dan keterarahan dari tingkah laku.
Dari keseluruhan pemikiran Fuad Hassan,
pemahaman bahwa tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan menjadi tesis sentralnya. Lebih luas lagi, manusia tidak dapat dipahami secara terisolasi lepas dari kehidupan sosial dan budaya. Untuk memahami manusia secara menyeluruh berarti juga memahami manusia sebagai keberadaan di dunia bersama manusia lain beserta keterkaitannya dengan berbagai hal yang ada di lingkungannya. Tesis ini mengemuka dalam disertasinya yang berjudul Neurosis sebagai Sengketa Eksistensial yang kemudian dibukukan dengan judul Kita dan Kami: Sebuah Analisis Dasar Tentang Modus Dasar Kebersamaan. Di situ ia membahas konsep ”Kita”
dan ”Kami” sebagai dua modus kebersamaan manusia. Analisis terhadap konsep ”Kita” dan
”Kami” merupakan wujud usaha Fuad Hassan melakukan reorientasi psikologi melalui pembahasan mengenai modus kebersamaan manusia. Dengan itu, ia hendak mengupayakan sebuah pendekatan psikologi yang menjadikan interaksi manusia sebagai gejala utama yang dikaji