E. Masa Jabatan Kepala Negara
2. Diberhentikan (Diturunkan) dari Jabatannya
Seorang kepala negara dapat diberhentikan dari jabatannya karena ia telah keluar dari kompetensi69 sebagai kepala negara. Menurut Mawardi ada dua hal yang menyebabkan seseorang keluar dari kompetensinya sebagai kepala negara, yaitu:
a. Kredibilitas dan reputasinya rusak
Rusaknya kredibilitas dan reputasi seorang kepala negara bisa terjadi karena dua hal, antara lain:
1) Karena ia menuruti syahwatnya
Hal ini berkaitan dengan berbuatan tubuh, yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syari’at, seperti melakukan kemungkaran, mengikuti dorongan syahwat, menuruti hawa nafsu dan lain sebagainya. Jika kepala seorang kepala
69 Yang dimaksud dengan kompetansi di sini adalah wewenang yang disertai kemampuan seseoang dengan segala syarat yang telah ditentukan.
negara melakukan hal ini, maka ia telah keluar dari kompetensi jabatannya dan ia bisa diturunkan dari jabatan tersebut.
Jika ia telah menemukan kredibilitas dan reputasinya serta kembali ke jalan yang benar setelah ia diturunkan dari jabatan kepala negara, ia tidak dapat secara langsung memangku jabatannya kembali. Untuk mendapatkan jabatannya kembali, ia harus melalui pemilihan dari awal.70
2) Karena ia melakukan perkara-perkara syubhat
Hal ini berkaitan dengan aqidah, yaitu dengan melakukan takwil (penafsiran) terhadap masalah yang syubhat sehingga ia menghasilkan takwil yang menyimpang dari kebenaran.71
b. Terjadi ketidak lengkapan pada anggota tubuh
Ketidaklengkapan yang terjadi pada anggota tubuh ada tiga macam, di antaranya:
1) Kekurangan pada panca indra
Ada tiga jenis bentuk kekurangan pada panca indra, yaitu: a) Kekurangan pada indra yang dapat menghalangi seseorang
untuk menjalankan jabatan kepala negara.
Bentuk kekurangan pada indra yang dapat menghalangi seseorang untuk menjalankan jabatan kepala negara ada dua macam, yaitu:
70 Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyah wa al-Wilayatu al-Diniyah, op. cit., hlm. 39.
(1) Hilangnya akal
Hilangnya akal seseorang dibedakan menjadi dua, yaitu:
(a) Hilangnya akal yang terjadi secara temporer dan memiliki harapan untuk normal kembali, seperti pingsan. Menurut Mawardi hal ini tidak membuat gugurnya seseorang untuk memangku jabatan kepala negara.72
(b) Hilangnya akal yang terjadi secara terus menerus dan tidak ada harapan untuk sembuh, seperti gila atau sakit jiwa. Jika seorang kepala negara menjadi gila atau mengidap sakit jiwa dan dokter atau ahli jiwa menyatakan bahwa gilanya tersebut tidak bisa sembuh dan tidak ada harapan untuk normal kembali, maka jabatan yang dipangkunya gugur dan ahlul halli wal
aqdi bisa memilih kepala negara yang baru.73
(2) Hilangnya penglihatan
Hilangnya indra penglihatan dapat menghalangi seorang kepala negara untuk melanjutkan jabatannya. Jika hal ini terjadi pada saat ia menjabat sebagai kepala negara, maka jabatan tersebut bisa dicabut. Dalam hal ini Mawardi memberikan alasan, orang yang buta tidak boleh
72 Ibid., hlm. 40.
memegang jabatan kehakiman dan tidak dapat memberikan kesaksian, apalagi jabatan kepala negara yang secara hirarki lebih tinggi kedudukannya.74 Jika kepala mengalami rabun yang tidak dapat melihat di malam hari, hal ini tidak menghalanginya untuk meneruskan jabatannya. Adapun lemahnya penglihatan, jika ia masih bisa mengenali orang yang ia lihat, hal ini tidak menjadi penghalang baginya untuk meneruskan memangku jabatannya sebagai kepala negara. Namun jika ia hanya mengetahui bahwa ada seseorang tanpa mengenali orang tersebut ketika ia melihatnya, maka jabatannya sebagai kepala negara bisa di cabut.75
b) Kekurangan pada indra yang tidak menghalangi seseorang untuk menjalankan jabatan kepala negara.
Kurangnya panca indra yang tidak menyebabkan seseorang terhalang untuk meneruskan jabatan kepala negara yaitu rusaknya indra penciuman sehingga dapat menangkap bau dan hilangnya indra pengecap sehingga ia tidak bisa membedakan rasa makanan. Hal ini tidak menjadikan rusaknya kompetensi sebagai kepala negara karena tidak
74 Ibid., hlm. 41.
mengganggu dan mempengaruhi dalam menjalankan tugas dan membuat kebijakan.76
c) Kekurangan pada indra yang diperdebatkan pengaruhnya terhadap seseorang untuk memangku jabatan kepala negara.
Bentuk kekurangan ini ada dua macam, yaitu tuli dan gagu (bisu). Kedua kekurangan ini dapat menghalangi seseorang untuk menjadi kepala negara. Namun diperdebatkan apakah seseorang yang mengalami kekurangan ini pada saat memangku jabatan kepala negara bisa menghalangi untuk meneruskan jabatannya. Ada beberapa kelompok ulama yang berbeda pendapat tentang masalah ini:
Pertama, kelompok ulama yang berpendapat, dengan
mengalami kekurangan dua hal tersebut, maka seorang kepala negara telah keluar dari kompetensi jabatannya, dengan alasan kekurangan tersebut sama dengan hilangnya indra penglihatan yang membuat ia diberhentikan dari jabatan kepala negara.
Kedua, kelompok ulama yang berpendapat, bahwa
kedua kekuarangan tersebut tidak membuat ia keluar dari kompetensi jabatan kepala negara, karena ia masih bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kecuali ia mengalami
76 Ibid.
kekurangan yang menghalangi bekerja dan membuat kebijakan.
Ketiga, kelompok ulama yang berpendapat, jika ia
dapat menulis dengan baik dan bisa dipahami, ia tidak dianggap keluar dari kompetensi kepala negara dan dapat meneruskan jabatannya.77
2) Kekurangan pada anggota tubuh
Kurang lengkapnya anggota tubuh dibagi menjadi empat macam, antala lain:
a) Kekurangan anggota tubuh yang menghalangi seseorang untuk meneruskan memangku jabatan kepala negara, yaitu hilangnya anggota tubuh yang dapat menghalanginya untuk bekerja, seperti hilangnya kedua tangan atau kedua kaki. Kepala negara yang mengalami keadaan ini tidak boleh meneruskan jabatannya karena ia tidak mungkin bisa menjalankan tugasnya dengan baik.78
b) Kekurangan anggota tubuh yang tidak menghalangi seseorang untuk meneruskan jabatan sebagai kepala negara, yaitu kekurangan yang tidak mengurangi kemampuan kepala negara untuk bekerja dan membuat kebijakan serta tidak membuat penampilannya menjijikkan, seperti terpotongnya kemaluan dan dua buah zakarnya, karena hal ini tidak
77 Ibid., hlm. 42.
mempengaruhi kemampuannya untuk menjalankan tugasnya sebagai kepala negara.79
c) Kekurangan anggota tubuh yang dapat mengganggu kemampuan untuk menjalankan pekerjaannya sebagai kepala negara, seperti hilangnya salah satu tangan atau kaki. Dalam hal ini terdapat dua kelompok ulama yang berbeda pendapat tentang apakah ia dapat meneruskan jabatannya atau harus diturunkan dari jabatan kepala negara.
Pertama, kelompok ulama yang mengatakan bahwa ia
harus turun dari jabatan kepala negara, karena kekurangan yang ia alami adalah kekurangan yang menghalanginya untuk dipilih dan diangkat menjadi kepala negara.
Kedua, kelompok ulama yang berpendapat, bahwa ia
boleh meneruskan menjalankan tugasnya sebagai kepala negara, walaupun kekurangan yang ia alami adalah kekurangan yang menggugurkan ia untuk dipilih dan diangkat menjadi kepala negara.80
d) Kekurangan anggota tubuh yang membuat seseorang terlihat buruk dan tidak berwibawa, namun tidak mengganggu dan mengurangi kemampuannya untuk menjalankan tugasnya sebagai kepala negara, seperti hilangnya batang hidung atau hilangnya salah satu matanya. Hal ini tidak membuat ia
79 Ibid., hlm. 42.
keluar dari kompetensi jabatan dan tidak rusak legalitasnya sebagai kepala negara.81
3) Kekurangan dalam melakukan tindakan
Yang dimaksud kekurangan dalam melakukan tindakan adalah ketridakmampuan kepala negara untuk memegang kendali pemerintahan dan mengambil kebijakan.
Kekurangan dalam melakukan tindakan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu:
a) Karena terkuasai, yaitu karena jabatan fungsional sebagai kepala negara di kuasai oleh para pembantunya sehingga kendali pemerintahan dipegang oleh para pembantunya. Jika para pembantu yang memegang kendali pemerintahan tidak melanggar aturan dan tidak keluar dari syari’at agama atau berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku, maka ia diangap sebagai pelaksana kebijakan kepala negara dan kepala negara tidak boleh diturunkan dari jabatannya. Jika meraka melakukan perbuatan melanggara hukum seperti melakukan kemungkaran dan keluar dari koridor sayri’at agama, mereka tidak boleh diakui dan harus dimintai pertolongan kepada pihak yang bisa menangkap dan menghapus hegemoni kekuasaannya.82
81 Ibid.
b) Karena tertawan, yaitu karena secara fisik kepala negara ditawan oleh musuh dan ia tidak dapat membebaskan dirinya dari penawanan tersebut, sehingga ia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai kepala negara. Dalam hal ini rakyat mempunyai kewajiban untuk menolong dan menyelamatkannya selama masih ada harapan untuk bisa membebaskannya, baik dengan cara perang maupun dengan cara menebus. Jika tidak ada harapan untuk diselamatkan dan dibebaskan, maka ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: (1) Jika kepala negara berada dalam tawanan kaum
musyrikin, maka status kepemimpinannya gugur dan dewan pemilih harus mengadakan pemilihan kepala negara sebagai penggantinya. Jika kepala negara yang tertawan memberikan mandat jabatannya kepada seseorang, maka mandat tersebut tidak sah, karena pemberian mandat tersebut dilakukan setelah ia keluar dari jabatan kepala negara. Namun jika pemberian mandat dalam kondisi masih ada harapan untuk bisa diselamatkan dan dibebaskan, maka mandat tersebut sah karena jabatannya masih mempunyai kekuatan hukum.
(2) Jika ia tertawan oleh kaum muslimin yang memberontak, ia tetap diakui validitasnya sebagai kepala negara meskipun kaum benberontak itu mengangkat salah
seorang dari mereka untuk menjadi kepala negara dan pengangkatan tersebut tidak sah. Kepala negara yang tertawan oleh pemberontak bisa menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya untuk sementara waktu sampai ia bebas dari tawanannya. Jika kepala negara tidak bisa menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya sementara waktu, ahlul halli wal aqdi bisa menunjuk seseorang untuk menggantikan jabatan tersebut. Jika kepala negara mengundurkan diri atau meninggal dalam tawanan, pejabat yang ditunjuk tidak bisa secara langsung menjadi kepala negara dan jabatannya sebagai kepala negara sementara ikut gugur bersamaan dengan meninggalnya kepala negara tersebut.83
83 Ibid., hlm. 46.