2.4 Pengertian Perusahaan Keluarga
2.4.3 Dimensi dari Perusahaan Keluarga
Menurut teori Hilburt-Davis, Jane, dan W.Gibb Dyer Jr. (2003, 15 - 18) terdapat beberapa dimensi dari perusahaan keluarga antara lain :
1. Infrastruktur
Infrastruktur dalam perusahaan keluarga memungkinkan terciptanya suasana informal yang apabila dikelola dengan baik dapat menumbuhkembangkan kreativitas. Kelemahannya terletak pada seringnya ketidakjelasan peran dan kemungkinan terdapatnya duplikasi pekerjaan dan konflik mengenai siapa melakukan apa. Jalur karir sering tidak jelas. Informalitas dapat menyebabkan memburuknya konflik keluarga, terganggunya efisiensi, dan mendorong munculnya pendekatan reaktif berdasarkan krisis.
2. Peran
Anggota keluarga paling tidak memainkan empat peran, yaitu peran bisnis dan keluarga, dimana masing-masing peran ini terdapat peran tugas dan peran emosional. Peran tugas adalah pekerjaan yang ditugaskan, sedangkan peran emosional biasanya berasal dari dari kepribadian masing-masing individu.
Anggota keluarga biasanya bersedia melakukan apa saja yang diperlukan bagi
43 Universitas Kristen Petra kesuksesan perusahaan. Konflik peran memiliki dampak buruk bila peran keluarga dicampuradukkan dengan peran pekerjaan.
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam generasi pertama perusahaan keluarga yang memimpin secara informal dan menentang adanya struktur dan sistem. Pemimpin jenis ini cenderung menolak bergantung kepada generasi berikutnya, walaupun kesuksesan mereka dalam melanjutkan usaha keluarga sangat bergantung pada pelatihan dan mentoring yang diberikan oleh generasi pertama, dan juga efektivias rencana suksesi. Biasanya pada generasi berikutnya, kepemimpinan berkembang ke arah gaya yang lebih profesional atau bahkan diisi oleh tim yang memiliki hubungan saudara. Walaupun dapat diperoleh hasil yang baik, untuk mewujudkannya tidaklah mudah.
4. Keterlibatan keluarga
Angota keluarga sangat peduli terhadap nama baik keluarga dalam masyarakat dan dalam industri. Mereka memiliki sistem keyakinan dan nilai-niai yang sama, menjelaskan siapa diri mereka, apa cita-cita mereka, serta warisan apa yang ingin mereka tinggalkan. Namun hal ini tidak datang begitu saja, kadang-kadang mereka bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang dengan bayaran yang relative rendah. Ketidaksenangan dpat muncul, perasaan tidak adil oleh generasi kedua dapat menciptakan rivalitas.
Terlalu banyaknya kebersamaan telah sering menyebabkan terjadinya konflik dan kegagalan keluarga untuk melihat gambaran yang lebih besar dan menyadari perubahan lingkungan. Hal ini sering terjadi pada perusahaan keluarga dengan sistem yang tertutup, kurang bersedia meminta pertolongan pihak luar atau bahkan melihat lingkungan ekonomi yang lebih besar.
5. Waktu
Waktu memiliki beberapa dimensi : sejarah keluarga, impin dan rencana untuk masa depan, dan situasi saat ini. Sering terjadi informalitas perusahaan keluarga menghasilkan adaptasi yang lebih cepat terhadap kondisi pasar.
Walaupun bisnis yang dijalankan belum lama, namun keluarga memiliki sejarah yang lebih panjang, yang menambah perspektif jangka panjang dan loyalitas antar individu dan impian-impian mereka mengenai perusahaan.
44 Universitas Kristen Petra Terlebih lagi, perusahaan keluarga memungkinkan bersedia mengorbankan keuntungan financial jangka pendek guna mendorong pertumbuhan dan stabilitas perusahaan di masa depan. Bagaimanapun, tradisi keluarga belum tentu sesuai untuk bisnis yang dijalankan. Sejarah keluarga juga menambah tingkat emosional yang dapat mempengaruhi keputusan-keputusan penting peran-peran yang dimainkan oleh individu dalam bisnis.
6. Suksesi
Perencanaan suksesi yang buruk adalah salah satu alasan utama tidak mampu bertahannya perusahaan keluarga. Lamanya masa jabatan yang dipegang oleh CEO sebuah perusahaan keluarga memungkinkan dimulainyan perencanaan suksesi sacara informal jauh sebelum dilakukannya perencanaan suksesi secara formal. Sering terjadi suksesi dalam perusahaan keluarga dilakukan berdasarkan kerelaan pendirinya untuk melepaskan jabatannya.
7. Kepemilikan atau Pengelolaan
Sejak awal didirikan, perusahaan keluarga biasanya bersifat tertutup dan dimiliki secara pribadi, dimana pemilik memiliki kendali total terhadap perusahaan. Struktur pengelolaan didasarkan kepada keputusan sang pemilik serta bergantung kepada kemampuan dan gaya memimpin yang diterapkan.
8. Budaya
Perusahaan keluarga adalah perwujudan dari nilai-nilai, gaya, dan semangat pendirinya pada tahap-tahap awal, yang biasanya bersifat kreatif dan informal.
Namun budaya tersebut juga dapat merefleksikan aspek-aspek disfungsional dari kepribadian sang pendiri. Sering, komunikasi didasarkan kepada sifat saling memahami, dan karyawan merasa tidak perlu buku panduan atau pedoman operasi.
9. Kompleksitas
Kompleksitas yang dimiliki perusahaan keluarga dapat menjadi beban sekaligus aset. Disatu sisi, kompleksitas dapat memperkaya tujuan dan peran, baik bagi bisnis maupun keluarga. Di lain pihak, kompleksitas dapat menimbulkan benturan antara nilai-nilai bisnis dan keluarga.
45 Universitas Kristen Petra 2.5 Tautan Antar Konsep
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas, yaitu faktor kepemimpinan, faktor komunikasi, faktor pengawasan.
Keberhasilan suatu organisasi di dalam mencapai tujuan tidak terlepas dari keberadaan sumber daya manusia yang berinteraksi di dalamnya. Keberhasilan ini tidak terlepas dari bagaimana cara seorang pemimpin di dalam menggalang kerjasama dengan bawahannya, sejauh mana di dalam kepemimpinannya tersebut dapat menggerakkan dan mempengaruhi serta memotivasi bawahan sehingga para pegawai atau bawahannya dengan kesadaran dan rasa tanggung jawabnya akan bekerja dengan produktif, dan kondisi ini selanjutnya tentu saja akan mendukung percepatan di dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipimpinnya.
Peranan pemimpin sangat penting dalam sebuah perusahaan, selain itu pemimpin juga sangat membutuhkan orang lain, yaitu bawahan, sehingga bawahan atau karyawan dalam sebuah perusahaan dikelola dengan baik, karena mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Dalam hal ini peranan pemimpin sangat menentukan, karena untuk merealisasikan tujuan, perusahaan perlu menerapkan gaya kepemimpinan atau pola kerja yang konsisten terhadap situasi kerja yang dihadapi. Selain itu seorang pemimpin di dalam melaksanakan tugasnya harus berupaya menciptakan dan memelihara hubungan yang baik dengan bawahannya agar mereka dapat bekerja secara produktif.
Di dalam perusahaan, peranan komunikasi juga dirasakan amat penting.
Informasi sebagai produk dari komunikasi akan sangat bermanfaat dalam pelaksanaan kerja bagi anggota perusahaan secara keseluruhan. Suatu komunikasi yang baik dan lancar akan menghasilkan arus informasi yang baik untuk kebutuhan para atasan dan keryawan. Seingga tujuan organisasi atau kantor dapar dicapai. Komunikasi akan berhasil apabila pengirim pesan dan penerima pesan bersama-sama mencapai pengertian dan kesimpulan yang sama sesuai dengan yang dimaksudkan, tentang apa yang sebenarnya diinformasikan. Untuk itu sangat diperlukan keterampilan dalam pemakaian bentuk-bentuk komunikasi dalam suatu perusahaan demi kelancaran aktivitas perusahaan.
Demikian juga faktor pengawasan merupakan faktor yang penting dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pemimpin harus
46 Universitas Kristen Petra melakukan pengawasan yang efektif, sehingga disiplin kerja kayawan dapat ditingkatkan juga untuk memacu produktivitas kerja karyawan yang tinggi.
Apabila ada pengawasan yang efektif dari pemimpin, maka semangat kerja akan timbul dan para karyawan akan bekerja dengan rajin dan disiplin yang tinggi serta bertanggung jawab, sehingga produktivitas kerja dapat meningkat dengan sendirinya.
Dengan adanya peranan pemimpin yang handal, komunikasi yang baik dan lancar, serta adanya faktor pengawasan yang efektif terdapat di sebuah perusahaan, maka secara tidak langsung pun produktivitas perusahaan dapat ditingkatkan dan tujuan perusahaan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor yang untuk meningkatkan produktivitas kinerja suatu organisasi atau instansi. Oleh karena itu, diperlukan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kompetensi tinggi karena keahlian atau kompetensi akan dapat mendukung peningkatan prestasi kerja karyawan. Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa salah satu faktor kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya guna menciptakan prestasi yang dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kompetensi yang dimiliki individu tersebut dan kompetensi yang dimiliki oleh manajer.