BAB II KAJIAN TEORETIK
D. Konsep Diri
2. Dimensi Konsep Diri
Menurut Fitts dalam Agustiani (2009:140) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu:
a. Dimensi Internal
Dimensi internal adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia yang ada dalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu:
1) Diri identitas (identity self) dimana bagian diri merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, “siapakah saya?” Dalam pertanyaan tersebut lebel dan simbol-simbol yang diberikan kepada diri oleh individu-individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya. Dengan bertambahnya usia dan interaksi dengan lingkungannya, pengetahuan individu tentang dirinya juga bertambah, sehingg dia dapat melengkapi keterangan tentang dirinya dengan hal–hal yang lebih kompleks.
2) Diri pelaku (behavioral self). Diri pelaku merupakkan persepsi individu tentang tingkah lakunya yang berisikan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakukan oleh diri”. Bagian ini berkaitan erat dangan diri identitas dimana pribadi
yang memadai akan menunjukan keselarasan antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga dia dapat mengenali dan menerima baik diri sendiri maupun identitas diri sebagai pelaku.
3) Diri penerimaan/penilaian (judging self) diri penilai sebagai pengamat, penentu standar dan evaluator. Kedudukannya sebagai perantara (mediator) antara diri identitas dan diri pelaku. Diri penilai menentukan kepuasan seseorang terhadap dirinya sendiri sejauh mana dia menerima dirinya. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar pada dirinya. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi, kesadarannya lebih realistis sehingga lebih memungkinkan individu yang bersangkutan untuk melupakan keadaan dirinya dan memfokuskan energi serta perhatiannya keluar diri, sehingga dapat berfungsi lebih konstruktif.
Ketiga bagian internal mempunyai peranan yang berbeda - beda namun saling melengkapi dan berinteraksi membentuk satu diri yang utuh dan menyeluruh.
b. Dimensi Eksternal
Dimensi eksternal merupakan penilaian dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianut, serta hal-hal lain di luar dirinya.
1) Diri fisik
Diri fisik berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang tentang kesehatan dirinya, penampilan dirinya, dan keadaan tubuhnya.
2) Diri etik-moral
Persepsi sesorang terhadap dirinya dilihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai- nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi kebiasaan baik dan buruk.
3) Diri pribadi
Diri pribadi merupakan persepsi seseorang tentang kadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik, tau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana dia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.
4) Diri keluarga
Diri keluarga menunjukan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukan seberapa jauh seseorang merasa dekat terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.
5) Diri sosial
Diri sosial merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan disekitarnya. Kedua dimensi yang diungkapakan Fittss dalam Agustini (2009) ini menjelaskan seluruh diri, intern maupun ekstern kedua dimensi ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, sehingga terbentuk suatu kesatuan yang utuh.
Dalam Desmita (2009:165) Para alih psikologi berpendapat bahwa secara umum dimensi konsep diri terdiri atas tiga dimensi konsep diri yaitu:
a) Pengetahuan. Dimensi pertama dari konsep diri tersebut adalah apa yang kita ketahui tentang diri sendiri atau pun penjelasan tentang “siapa saya” yang dapat memberikan gambaran yang jelas tentang dirinya saya sendiri.
b) Harapan. Dimensi kedua dari konsep diri adalah dimensi harapan atau cita-cita di masa depan. Pengharapan yang
dimaksudkan adalah diri-ideal (Self-Ideal) atau menjadi pribadi yang dicita- citakan. Cita-cita diri (self-ideal) yang terdiri atas dambaan, harapan, hasrat bagi diri kita sendiri untuk menjadi manusia seperti yang kita inginkan.
c) Penilaian. Dimensi ketiga konsep diri adalah penilaian akan diri sendiri. Penilaian akan diri sendiri merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi.
Ketiga dimensi konsep diri yang ada bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri melainkan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling berkaitan antara dimensi yang pertama, kedua dan demikianpula dengan yang ketiga. Dimana pengenalan diri yang baik akan berpengaruh akan cita-cita yang kita harapkaan terjadi pada diri kita. Dimana dengan pengenalan diri yang baik kita dapat mengharapkan yang terbaik akan terjadi pada diri kita, dan kita pun mampu memberi penilain kepada diri sendiri baik dengan pandangan yang positif maupun pandangan yang negatif akan konsep diri kita.
Untuk mengarahkan pematangan konsep diri anak, kita harus mengenal unsur-unsur gabungan dari karakteristik, citra fisik, citra psikologis, citra sosial, aspirasi, presentasi dan emosional yang membentuk konsep diri, antara lain:
1. Penilaian Diri. Penilain diri ini merupakan cara pandang dan keyakinan untuk mengukur
a) Pengendalian keinginan, dan dorongan-dorongan dalam diri. Pengendalian keinginan atau dorongan dari dalam diri ini yang menjadi ukuran kesanggupan, keberanian, kebutuhan dan perasaan dalam diri. Pengendalian keinginan dan dorongan dalam diri ini yang memberi pengaruh gambaran konsep diri positif atau negatife.
b) Suasana hati yang sedang dihayati, seperti senang, bahagia, cemas, sedih. Gambaran keadaan suasana hati ini yang mempengaruhi konsep diri positif atau negatif.
c) Penilaian citra fisik. Jika penerimaan terhadap kondisi fisik cukup memuaskan, konsep diri yang terbentuk pun positif. Tetapi jika penilaian penerimaan fisik sangat buruk atau tidak puas dengan penampilan fisik, konsep diri pun negatif dan anak pun dihinggapi perasaan rendah diri. 2. Penilaian sosial. Salah satu unsur yang mempengaruhi
terbentuknya konsep diri adalah penilaian terhadap bagaimana penilaian dan penerimaan lingkungan sosial terhadap diri anak. Penerimaan dan penilaian anak yang cerdas, hebat, dan hal positif lainnya dapat meningkatkan konsep diri anak secara positif. Sebaliknya penerimaan lingkungan yang buruk terhadap anak, seperti anak dianggap nakal, bodoh, jelek, dan sebagainya, dapat menyebabkan anak memiliki konsep diri negatif.
3. Citra diri (self Image). Citra diri ini merupakan gambaran yang meliputi:
a) Bagaimana penilaian diri sendiri, seperti tingkat kecerdasan, status sosial maupun ekonomi dan peranan dalam lingkungan,
b) Cita-cita ideal anak yang ingin dicapai dan seberapa besar pengaruh toko-toko ideal yang diidolakan, baik yang ada di lingkungan atau idola fantasi,
c) Keberartian diri (kebanggaan diri), seperti peranan diri dalam lingkungan terhadap diri anak.
Dengan melihat ketiga unsur yang menjadi pembentukan konsep diri anak di atas dapat disimpulkan bahwa Konsep diri yang dimiliki mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Konsep diri terbentuk berdasarkan pengalam yang dialami oleh anak itu sendiri.
3. Implikasi Perkembangan Konsep Diri terhadap Pendidikan