HASIL PENELITIAN
B. Deskripsi, Analisis, dan Interpretasi Data
2. Dimensi Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru
a. Analisis pembelajaran melalui sumber media guru dapat meningkatkan kompetensi pedagogiknya
Tabel 4.19
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 33 56,89% Sering 7 12,06% Jarang 10 17,24% Pernah 8 13,79% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.18, dapat di kemukakan bahwa lebih dari setengahnya (56,89%) untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, guru belajar mandiri dalam berbagai sumber media, sebagian kecil (17,24%) guru jarang meningkatkan kompetensi pedagogik, guru belajar mandiri dalam berbagai sumber media, sebagaian kecil (13,79%) pernah belajar mandiri untuk meningkatkan kompetensi pedagogik. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, guru belajar mandiri dalam berbagai sumber media. Sedangkan tiadak ada sama sekali guru yang tidak pernah untuk meningkatkan pedagogik, guru tidak belajar madiri dalam berbagai sumber media.
b. Analisis penyelenggaraan pelatihan yang dilakukan diluar sekolah dalam membantu meningkatkan kompetensi guru
Tabel 4.20
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 35 60,34% Sering 15 25,86% Jarang - - Pernah 3 5,17% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Kompetensi pedagogik merupakan mutlak harus dimiliki oleh seorang guru. Guru akan mempunyai kompetensi tersebut yaitu dengan belajar dan berlatih, dan sekolah memfasilitasi serta menyelenggarakan program diklat/workshop sehingga kompetensi pedagogik guru akan terus-menerus meningkat.
Pada tabel 4.19, dapat dikemukakan bahwa sebagian besar (60,34%) sekolah selalu menyelenggaran program diklat/workshop guna meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sebagian kecil (25,86%) guru menjawab sering setiap tahun sekolah melakukan program diklat/workshop guna meningkatkan kompetensi pedagogik guru, sedangkan sedikit sekali guru yang menjawab pernah (5,17%). Dengan demikian program diklat/workshop dapat berguna dalam meningkatkan kompetensi pedagogic guru. Sedangkan tidak ada guru yang menjawab setiap tahun sekolah tidak menyelenggarakan diklat/workshop guna meningkatkan kompetensi pedagogik guru.
c. Analisis kesempatan guru dalam mengikuti pelatihan kompetensi Tabel 4.21
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 33 56,89% Sering 10 17,24% Jarang 7 12,6% Pernah 8 13,79% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Salah satu cara meningkatkan kompetensi pedagogik guru yaitu dengan mengikuti berbagai pelatihan,seminar dan sebagainya, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun yang diselenggarakan diluar sekolah. Dengan mempunyai inisiatif, guru mengikuti berbnagai kesempatan pelatihan itu akan meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.
Pada tabel 4.20, dapat diketahui bahwa lebih setengahnya (56,89%) guru setiap ada kesempatan, guru selalu mengikuti peltihan guna meningkatkan kompetensi pedagogi\k, sebagian kecil (17,245) setiap ada kesempatan, guru
sering mengikuti pelatihan guna meningkatkan kompetensi pedagogik. Sebagian kecil pernar (13,79%), dan jarang (12,6%) setiap ada kesempatan guru mengikuti pelatihan guna meningkatkan kompetensi pedagogik. Dengan demikian bahwa sebagian besar setiap ada kesempatan, guru selalu mengikuti pelatihan guna meningkatkan kompetensi pedagogik. Sedangkan tidak ada sama sekali guru yang tidak mengikuti pelatihan guna meningkatkan kompetensi pedagogik.
d. Analisis pelaksanaan pelatihan yang dilakukan oleh kepala sekolah setiap semester
Tabel 4.22
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 18 31,03% Sering 11 18,69% Jarang 19 32,75% Pernah 10 17,24% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.21, dapat diketahui bahwa setiap semester kepala sekolah melakukan pelatihan kompetensi guru secara terstruktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan jawaban responden. Sebagian kecil guru menjawab jarang (32,75%), sering (18,69%), Selalu (17,24%), pernah (13,79%), dan tidak pernah (13,79%). Ini menunjukan bahwa setiap semester kepala sekolah jarang melakukan pelatihan kompetensi guru secara terstruktur. Sedangkan sebagian kecil setiap semester kepala sekolah melakukan pelatihan kompetensi guru secara berkala.
Dengan demikian, tidak semua guru di SMP \Darussalam setiap semester diberikan pelatihan kompetensi oleh kepala sekolah secara terstruktur. Hal ini akan menimbulkan ketidaksetaraan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru di SMP Darussalam.
e. Analisis pelaksanaan musyawarah guru mata pelajaran Tabel 4.23
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase Selalu 26 44,82% Sering 10 17,24% Jarang 12 20,68% Pernah 10 17,24% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.22, dapat diketahui bahwa hamper setengahnya (44,82%) guru menjawab bahwa kepala sekolah memfasilitasi guru yang akan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran, sebagian kecil (20,68%) jarang, sering (17,24%), dan pernah (17,24%) kepala sekolah memfasilitasi guru yanga akan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru menganggap kepala sekolah memfasilitasi guru yang akan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Sedangkan tidak ada sama sekali guru yang menjawab tidak pernah kepala sekolah memfasilitasi, guru yang akan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran.
f. Analisis penyusunan program tahunan kepala sekolah Tabel 4.24
Lternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 21 36,20% Sering 9 15,51% Jarang 18 31,03% Pernah 10 17,24% Tidak Pernah 4 6,89% Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.23, dapat diketahui bahwa sebagian kecil (36,20%) responden menjawab bahwa kepala sekolah menginstruksikan guru menyusun program tahunan, jarang (31,035), sering (15,51%), pernah (17,24%), dan sedikit kecil (6,89%) kepala sekolah menginstruksikan guru menyusun program tahunan.
Ini menunjukan bahwa sebagian besar guru diperintahlan kepala sekolah menyususn program tahunan, sedangkan sebagian kecil guru tidak pernah
diperintahkan menyususn program tahunan. Seharusnya kepala sekolah menginstruksikan kepada seluruh guru untuk menyususn program tahunan, sehingga guru akan mengetahui program-program yang direncanakan dan akan membantu untuk ketercapaian program tersebut.
g. Analsisi penyusunan program semester yang diinstruksikan kepala sekolah Tabel 4.25
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 23 39,64% Sering 13 22,41% Jarang 12 20,68% Pernah 10 17,24% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.24, dapat diketahui bahwa sebagian kecil (32,75%) guru menjawab kepala sekolah menginstruksikan setiap guru menyusun program semesteran, sering (22,41%), jarang (20,68%), pernah (17,24%), dan sebagian kecil (6,89%) guru menjawab bahwa kepala sekolah tidak pernah menginstruksikan setiap guru menyususn program semester. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru menjawab bahwa kepala sekolah mengistruksikan setiap guru untuk menyususn program semesteran. Sedangkan sebagian kecil guru menjawab kepala sekolah tidak menginstruksikan setiap guru menyususn program semester. Hal ini dikarenakan kepala sekolah kurang inten mengkomunikasikan setiap intruksinya pada setiap guru, sehingga ada sebagian guru yang merasa tidak pernah diperintahkan menyususn program semester.
h. Analisis evaluasi program tahunan yang dibuat guru Tabel 4.26
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 10 17,24%
Jarang 10 17,24%
Pernah 15 25,86%
Tidak Pernah 3 5,17%
Jumlah 58 100%
Kepala sekolah merupakan supervisi dilingkungan sekolah, sehingga harus mengevaluasi hasil yang telah dilaksanakan oleh seluruh guru. Pada tabel 4.25, diketahui bahwa seebagian kecil (34,48%) kepala sekolah sering memeriksa program tahunan yang dibuat guru, pernah (25,86%), selalu (17,24), jarang (17,24%), dan sedikit kecil (5,17%) responden menjawab kepala sekolah tidak pernah memeriksa program tahunan yang dibuat guru. Kesimpulannya adalah sebagian besar kepala sekolah jarang memeriksa program tahunan yang dibuat guru, sedangkan sebagian kecil kepala sekolah selalu memeriksa program tahunan yang dibuat guru.
i. Analisis evaluasi kepala sekolah terhadap program semester yang dibuat guru
Tabel 4.27
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 13 22,41% Sering 19 32,75% Jarang 18 31,03% Pernah 8 13,79% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.27, dikemukakan bahwa sebagian kecil (32,75%) kepala sekolah sering memeriksa program semester yang dibuat guru, jarang (31,03%), selalu (22,41%), dan pernah (13,795) kepala sekolah memeriksa program semester yang dibuat guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru menganggap bahwa kepala sekolah selalu memeriksa program semester yang dibuat guru, sedangkan responden yang menjawab tidak pernah, tidak ada sama sekali guru yang menjawab tidak pernah kepala sekolah tidak memeriksa program semester yang dibuat guru.
j. Analisis pengawasan supervisi pendidik Tabel 4.28
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 9 15,51% Sering 18 31,79% Jarang 17 29,31% Pernah 9 15,51% Tidak Pernah 5 8,62% Jumlah 58 100%
Untuk meningkatkan kedisiplinan setiap guru, hendaknya pengawas melakukan supervisi secara berkala ke sekolah. Pada tabel 4.27, dapat diketahui bahwa sebagian sering (31,79%), responden menjawab jarang pengawas melakukan supervisi secara berkala, kecil (29,31%), selalu dan pernah, masing-masing (15,51%), dan sedikit kecil tidak pernah (8,62%) pengawas melakukan supervisi secara berkala. Ini menunjukan bahwa sebagian besar pengawas melakukan supervisi secara berkala, sedanngkan sebagian kecil pengawas tidak pernah melakukan supervisi secara berkala. k. Analisis pembinaan guru oleh pengawas
Tabel 4.29
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 11 18,69% Sering 12 20,68% Jarang 19 32,75% Pernah 12 20,68% Tidak Pernah 5 8,62% Jumlah 58 100%
Bantuan pengawas baik sarana prasarana ataupun menyampaikan ilmu pengetahuan masalah pendidikan, semua itu akan membantu meningkatakan kompetensi guru. Pada tabel 4.28, dapat diketahui bahwa sebagian kecil (32,75%) pengawas jarang membantu/membina guru untuk meningkatakan kompetensi pedagoggik, sering (dan pernah, masing-masing responden
(20,68%), selalu (18,68%), dan sedikit kecil responden menjawab tidak pernah (8,62%) pengawas tidak membantu/membina guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogik. Dengan demikian sebagian besar pengawas membantu/membina guru dalam meningkatkan konmpetensi pedagogik, sedangkan sebagian kecil pengawas tidak membantu/membina guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogik.
l. Analisis persiapan sertifikasis guru Tabel 4.30
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 9 15,51% Sering 16 27,58% Jarang 21 36,20% Pernah 12 20,68% Tidak Pernah - - Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.29, dapat diketahui bahwa sebagian kecil (36,20%) pengawas jarang memfasilitasi guru mempersiapkan sertifikasii guru, sering (27,58%), selalu (15,51%), pernah (20,68%), dan tidak ada sama sekali responden yang menjawab tidak pernah pengawastidak memfasilitasi guru mempersiapkan sertifikasi guru.
Ini menunjukan bahwa sebagian besar guru dibantu pengawas untuk mempersiapan sertifikasi guru, sedangkan sebagian kecil guru tidak dibantu pengawas mempersiapkan sertifikasi guru.
m, Analisis pelaksanaan MGMP yang dilakukan guru Tabel 4.31
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 22 37,63%
Sering 17 29,31%
Jarang 13 22,41%
Tidak Pernah - -
Jumlah 58 100%
Pada tabel 4.30, dapat dikemukakan bahwa sebagian kecil (37,63%) untuk meningkatkan kompetensi pedagogic, guru selalu mengikuti MGMP, sering (22,41%), jarang (22,41%), pernah (`10,34%), dan tidak ada yang menjawab tidak pernah mengikuti MGMP, untuk meningkatkan kompetensi pedagogik. Dapat disimpulkan bahwa program musyawarah guru mata pelajaran sangat membantu sekali dalam rangka meningkatkan kompetensi pedagogik guru. n. Analisis pelaksanaan MGMP yang difasilitasi pengawas
Tabel 4.32
Alternatif Jawaban Frekuensi Prosentase
Selalu 20 34,48% Sering 15 25,86% Jarang 10 17,24% Pernah 11 18,96% Tidak Pernah 1 1,72% Jumlah 58 100%
Dengan adanya kerja sama yang sinergis antara kepala sekolah dengan pengawas, dalam bidang pengembangan kompetensi pedagogik guru, baik dengan pelatihan maupun dengan membina guru melalui MGMP, asalkan kegiatan tersebut dialukan secara berkala, niscaya kompetensi guru akan semakin baik.
Dari data di atas, dapat di kemukakan bahwa sebagain kecil (34,48%) guru menjawab pengawas membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran, sebagian kecil (25,86%) pengawas sering membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran, sebagian kecil (18,96%) pengawas pernah membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran, sebagian kecil (17,24%) pengawas jarang membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran, dan sedikit kecil (1,72%) guru menjawab pengawas tidak pernah membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran. Dapat disimpulkan bahwa pengawas masih membina guru melalui musyawarah guru mata pelajaran, karena kegiatan ini
akan semakin menambah wawasan guru sesuai dengan bidang studinya masing-masing, sehingga pada akhirnya kompetensi pedagogik guru akan semakin meningkat.