• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA DAN PERGESERAN STRUKTUR KETENAGAKERJAAN

DIVERSIFIKASI USAHA RUMAHTANGGA DI PEDESAAN

DINAMIKA DAN PERGESERAN STRUKTUR KETENAGAKERJAAN

Pertumbuhan ekonomi secara nyata telah mempengaruhi dinamika dan perubahan struktur kesempatan kerja. Hal tersebut tidak terbatas hanya pada perubahan komposisi tenaga kerja menurut lapangan kerja, tetapi juga terhadap status dan jenis pekerjaan. Pentingnya pemahaman struktur dan dinamika kesempatan kerja terutama pasca krisis ekonomi. Kondisi pasca krisis menyadarkan pemerintah pada peran penting sektor pertanian, dimana sektor industri mengalami pemulihan yang relatif lambat. Sektor pertanian di pedesaan menjadi harapan penyerap tenaga kerja, disamping sektor non-formal di perkotaan. Terjadinya realokasi tenaga kerja ke daerah pedesaan, dimana diperkirakan sekitar 20% migrasi dari daerah perkotaan untuk bekerja di sektor pertanian,1 serta terjadinya peningkatan partisipasi angkatan kerja wanita dan anak-anak. Di samping dengan pertimbangan tingkat pendidikan, kelompok umur, dan status pekerjaan, perubahan dinamika dan struktur kesempatan kerja juga didasari dengan asumsi tidak terdapatnya variasi kualifikasi yang berlebihan terhadap sumberdaya manusia antar sub sektor dalam sektor pertanian.

Beberapa faktor yang mempengaruhi peluang untuk mengisi kesempatan kerja pada usahatani antara lain: a) perubahan teknologi yang mempengaruhi perubahan intensitas tanam, perubahan pranata sosial dan kelembagaan yang ada di pedesaan; b) kondisi agro-ekosistem yang dapat memberikan perbedaan penyerapan tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja maupun pengalihan tenaga ke sektor lain di luar pertanian; c) peranan ekonomi wilayah, yang terkait dengan aksesbilitas wilayah, yang pada gilirannya mendorong penduduk untuk melakukan migrasi ke luar desa untuk mengisi kesempatan kerja yang ada; d) pemilikan modal, terutama asset lahan yang mampu menyerap tenaga sampai batas maksimal antara besarnya luas lahan dan tekanan jumlah penduduk; dan e) tingkat ketrampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh penduduk desa, dan pada gilirannya peranan tersebut mempunyai pengaruh terhadap besarnya curahan tenaga kerja.

1

Kesempatan kerja di luar sektor pertanian yang bisa memberi pendapatan keluarga yang lebih besar, kecuali pada daerah dengan aksesbilitas yang rendah dan kurang terjangkau oleh lembaga ekonomi, kesempatn kerja hanya terbatas pada sektor pertanian sebagai sektor andalan. Selain faktor intensitas tanam, luas lahan garapan yang diusahai diduga berpengaruh terhadap besarnya curahan tenaga kerja. Masalah curahan tenaga kerja berburuh tani di kedua lokasi penelitian tidak terlepas oleh kesempatan kerja tersedia di daerah tersebut, serta pemilikan faktor produksi yang sangat terbatas (rumah tangga dengan hanya tenaga kerja sebagai faktor produksi, maka pendapatan mereka hanya ditentukan oleh tingkat upah yang berlaku di desa tersebut). Perkembangan kegiatan buruh tani terkait erat dengan luas lahan pertanian, produktivitas tanah, intensitas tanam dan teknologi yang ditetapkan.

Adalah suatu keniscayaan bahwa peluang dan kesempatan kerja menjadi berkurang bahkan menghilang sebagai konsekuensi penerapan paket teknologi (pupuk, pestisida, dan mekanisasi) pada kegiatan usahatani, yang merupakan sumber pendapatan buruh tani (peysan, masyarakat petani miskin), yang ditambah dengan berkembangnya sistem tanam serentak yang menyebabkan pekerjaan sebagai buruh menjadi kian terbatas. Berdasar historis di Indonesia, ketenagakerjaan pertanian mengalami berbagai perubahan, dari sistem kerja tanpa imbalan, menjadi barter tenaga, lalu dengan imbalan natura, selanjutnya menjadi sistem sewa secara utuh, yang bersamaan dengan perubahan kelembagaan lain seperti: lembaga pengadaan sarana produksi, alsintan, proses produksi, serta kelembagaan pemasaran. Namun, terkait model ekonomi neo-klasik, laju teknologi (dalam hal kapital) dan laju pertumbuhan penduduk (dalam hal tenaga kerja) cenderung berkorelasi negatif. Dalam arti, untuk meraih keuntungan maksimal, penambahan penggunaan kapital akan menekan penggunaan tenaga kerja, akibatnya melemahkan bargaining position buruh.

Adanya ketidak seimbangan di pasar tenaga kerja disebabkan oleh jumlah tanah yang terbatas serta terbatasnya kesempatan kesempatan kerja di luar pertanian dan angkatan kerja akan terus meningkat dengan berkembangnya jumlah penduduk. Oleh karenanya, akan timbul kondisi tenaga kerja yang tersedia belum mampu mengisi peluang yang ada dan akhirnya akan menjadi pengangguran terselubung. Akhirnya, akan

timbul pemanfaatan tenaga kerja yang kurang produktif mengakibatkan pilihan terakhir untuk mengisi kesempatan kerja yang ada sebagai buruh tani atau buruh kasar lainnya. Dampak serius pelaksanaan sistem pembangunan terhadap kehidupan buruh tani (masyarakat miskin) dipedesaan di atas digunakan untuk mengkaji kemungkinan dan potensi pemberdayaan ketenagakerjaan pertanian. Salah satunya melalui diversifikasi usaha rumahtangga agar dapat beradaptasi dan berkelanjutan dalam rangka mengentaskan kemiskinan tanpa harus kehilangan norma dan nilai yang menjiwainya. Tekanan ekonomi kapitalis makin kuat ke pedesaan. Berupa penerapan teknologi modern dan sistem pasarisasi yang mengutamakan efisiensi, yang bukan saja mengakibatkan makin hilangnya peluang dan kesempatan kerja sebagian besar buruh tani, namun juga kian longgarnya norma dan nilai ikatan sosial masyarakat yang terjalin di pedesaan.

Ekonomi uang juga menyebabkan makin lemahnya peran ketenagakerjaan, dimana sifatnya yang dipandang cenderung involutif karena lebih menekankan hubungan produksi dalam bentuk resiprositas. Namun, sentimen individu yang masih kuat dalam kelompok dan kemampuan merespon perkembangan teknologi dan beradaptasi dengan kemajuan pembangunan. Di beberapa wilayah yang tradisional society-nya masih hidup dan bertahan, sebagai asset pembangunan yang perlu ditingkatkan tanpa menghancurkan inti budaya yang menjiwainya. Kekuatan ini dapat menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan menjadi lembaga yang adop teknologi dan berorientasi pasar, serta bermanfaat bagi kesempatan kerja dan pendapatan kaum tani.

Pada era globalisasi, semakin terbukanya akses petani sebagai suatu proses perubahan akibat perkembangan teknologi dan daerah, dibutuhkan strategi alternatif dalam mengatasi masalah dan dilema petani (kekurangan dari segi ekonomi/subsisten). Upaya utama petani untuk menekan pola konsumsi yang konsumtif, dengan menyesuaikan pengeluaran terhadap penghasilan, dan melakukan diversifikasi usaha rumahtangga dengan mengaktifkan seluruh anggota keluarga untuk dapat menghasilkan bahan makanan dan barang kebutuhan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa kaum tani selalu dinamis (tidak statis seperti klise literatur) dalam pemecahan dilema pokok

mereka. Keadaan ini melibatkan proses pemberdayaan sebagai adaptasi (penyesuaian) untuk menopang mereka dalam mempertahan diri dan sesamanya, dalam suatu tatanan hidup sosial.

a. Kabupaten Indramayu

Aspek ketenagakerjaan di Indramayu umumnya merupakan hubungan yang bersifat bebas, antara lain sistem hubungan kerja dengan upah harian lepas, dengan upah borongan, sistem bawonan/persen-an, patron klien dan tebasan. Peran pemerintah desa relatif kecil (bahkan tidak ada) dalam menentukan tingkat upah. Bagi rumahtangga buruh tani, sumber pendapatan dari kegiatan berburuh, memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian rumah tangga. Buruh tani sebagai pihak penyedia tenaga kerja, dengan adanya hubungan kerja yang disepakati merupakan jaminan tersedianya kesempatan kerja, dalam arti mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan. Para buruh tani di Indramayu, terutama di wilayah yang kelebihan (karena pasokan) tenaga kerja (banyaknya buruh migran dari luar desa), hubungan baik yang dibina dengan majikan/pemilik lahan merupakan jaminan memperoleh pekerjaan sebagai sumber pendapatan.

Berbagai proses pelaksanaan pembangunan, terutama industrialisasi, dalam jangka menengah dan panjang, akan berpengaruh terhadap pola penguasaan lahan, pola hubungan kerja dan struktur kesempatan kerja, serta pendapatan petani di pedesaan. Dinamika dan perubahan ketenagakerjaan yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu mempengaruhi aktivitas para buruh tani dalam konteks bila terjadi alih fungsi (konversi) lahan dari pertanian menjadi non-pertanian (tempat pemukimam atau tempat perdagangan/ekonomi, yang memang tinggi intensitasnya di daerah ini). Sebagian besar hubungan kerja bersifat stabil. Artinya, majikan cenderung selalu menggunakan buruh yang sama (langganan) pada kegiatan usahatani di musim yang berbeda, karena terjadi kecocokan dan ada kesepakatan diantara pemilik tanah/majikan dan buruh pekerja usahataninya.

Menurut data BPS, di Provinsi Jawa Barat, dari jumlah 28.952.782 penduduk berusia 10 - 64 tahun (usia kerja) tahun 2000, meningkat menjadi 30.611.588 orang

tahun 2003, dan menjadi 32.012.670 orang pada tahun 2005. Sedangkan Persentase Angkatan Kerja dan TPAK Jawa Barat tahun 2005 menunjukkan 87,24% yang bekerja; 12,76% pengangguran; serta TPAK sebesar 55,33%.2 Komposisi Penduduk Usia Kerja menurut kelompok umur dan jenis kelamin disajikan secara rinci pada tabel berikut.

Tabel 43. Komposisi Penduduk Usia Kerja (PUK), menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Jawa Barat, 2005.

Kelompok Umur (tahun)

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Total

10 – 14 2.049.089 1.970.543 4.019.631 15 – 24 3.583.988 3.379.404 6.963.392 25 – 39 4.695.996 5.048.030 9.744.026 40 – 64 5.042.700 4.545.370 9.588.071 65+ 894.745 802.805 1.697.550 Jumlah 16.266.518 15.746.152 32.012.670 Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, Sakerda 2005.

Di Jawa Barat tahun 2005, terdapat sekitar 26.295.489 orang merupakan usia produktif (15–64 tahun), dan sekitar 5.717.181 orang merupakan penduduk bukan usia produktif (di bawah umur 15 tahun dan di atas 64 tahun). Keadaan ini menunjukkan bahwa rasio ketergantungan penduduk adalah sebesar 21,78%, yang berarti bahwa sekitar 21 hingga 22 orang penduduk tidak produktif akan ditanggung oleh 100 orang penduduk usia produktif. Pada tahun 2004/2005, di kabupaten Indramayu terdapat sekitar 999.526 orang yang termasuk usia kerja, seperti yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 44. Klasifikasi Penduduk Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Indramayu.

Klasifikasi Penduduk

Provinsi Jabar Kabupaten Indramayu < 15 tahun 11.091.960 445.839 15 – 64 tahun 24.258.460 999.526 > 65 tahun 1.697.910 104.314

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat, Sakerda 2004/2005.

2

Data kependudukan dan potensi di desa Santing dan desa Ranjeng kecamatan Losarang dipergunakan untuk mengetahui pangsa tenaga kerja yang tersedia dan luas areal sawah tadah hujan yang dapat diusahakan. Di desa Santing, terdapat sekitar 3000 orang usia kerja dengan areal sawah tadah hujan seluas 139 ha. Areal usahatani mereka relatif lebih sempit dibanding desa Ranjeng seluas 383 ha dengan sekitar 2500 orang usia kerja. Secara lebih rinci disajikan pada tabel berikut:

Tabel 45: Luas Desa, Penduduk, dan Luas Lahan Sawah Tadah Hujan.

URAIAN DESA SANTING DESA RANJENG

1. Luas Desa (Ha). 401 522 2. Penduduk (orang). -. Laki-laki. -. Perempuan -. KK 2470 2464 1420 1950 1992 1185 3. Luas Lahan Sawah Tadah

Hujan (Ha). 139 383

4. Rasio (org/ha) 39,5 10,3

Sumber: Data Pertanian, BPS Kab. Indramayu, Prov. Jabar. 2005.

Dari segi pendidikan, para orangtua umumnya menyekolahkan anaknya hanya tingkat SD. Hal ini dikarenakan sulitnya perekonomian dan susahnya lapangan kerja terutama bagi para lulusan SMA yang menyebabkan banyaknya pengangguran. Oleh karenanya, para orangtua lebih membebaskan anaknya untuk memilih pekerjaan yang mereka minati karena sangat jarang yang mau turut bekerja ke sawah. Sekarang ini angkatan kerja makin enggan menjadi petani. Kaum muda lebih memilih untuk merantau ke daerah perkotaan, serta ke luar negeri menjadi TKI dan TKW.

Sumber pendapatan penduduk Indonesia yang terutama bergantung pada hasil pertanian (60%). Data BPS tahun 1997 – 2003, menunjukkan terjadi pergeseran ke arah peningkatan terhadap tingkat pendidikan tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian.. Tenaga kerja pertanian dengan pendidikan SD meningkat sebesar 2,34% per tahun, 14,05% untuk tingkat SLTP, dan 3,91% per tahun untuk tingkat SLTA. Tabel 46 menyajikan secara lebih rinci proporsi dan pertumbuhan tingkat pendidikan tenaga kerja sektor pertanian tahun 1997 – 2003.

Tabel 46. Proporsi dan Pertumbuhan Tingkat Pendidikan Tenaga Kerja Sektor Pertanian, 1997 – 2003.

Tingkat Pendidikan

Proporsi (%) Pertumbuhan (%/tahun) 1997 - 1999 2000 - 2003 1997 - 1999 2000 - 2003 Tidak sekolah 41.85 35.15 -6.12 -5.74 SD 42.66 37.31 2.34 7.28 SLTP 10.42 12.28 14.05 16.96 SLTA 4.78 9.92 3.91 17.72 Diploma/Sarjana 0.29 5.34 -3.99 8.09 Total TK (000 orang) 37.880 40.763 1.19 3.34

Sumber: BPS, Data Kependudukan, 1998-2004.

Kesempatan kerja juga sangat ditentukan oleh agro-ekosistem masing-masing daerah. Cukup besarnya proporsi buruh tani juga diakibatkan oleh tidak meratanya kepadatan penduduk antar daerah (seperti di Indramayu). Juga dipengaruhi oleh tingkat kesuburan dan kelancaran sarana hubungan (seperti yang ditemukan di Pontianak), sehingga terjadi ketimpangan penguasaan lahan pertanian, dengan kepemilikan lahan rata-rata hanya 41,39% dengan konsentrasi luasan lahan kurang dari 0,5 ha (seperti di Indramayu). Tenaga kerja wanita umumnya digunakan untuk kegiatan tanam dan pemeliharaan (34% dari total penggunaan tenaga pria), sedang untuk panen dan pasca panen penggunaan tenaga kerja pria dan wanita relatif seimbang. Sementara di beberapa daerah kegiatan pertanian diambil alih wanita karena pria menjadi tenaga buruh bangunan (seperti yang banyak ditemukan di Indramayu dan Pontianak).

Pergeseran ataupun perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor lainnya adalah tidak sepenuhnya. Artinya, penduduk desa tetap merangkap sebagai petani (walau dengan jam kerja yang kecil). Tenaga kerja yang banyak terdapat merupakan tenaga kerja upahan, disamping tenaga kerja dalam keluarga tentunya. Untuk beberapa tahap pekerjaan yang spesifik umumnya dipergunakan tenaga kerja borongan, terutama dalam kegiatan pengolahan tanah untuk persiapan tanam dengan mempergunakan traktor. Sedang untuk kegiatan tanam dan sulam, umumnya mempergunakan tenaga kerja upahan wanita yang bersifat borongan. Pada masa panen dan pasca panen biasanya dipergunakan tenaga kerja upahan. Mereka biasanya dibayar dengan bentuk natura (kadang juga dalam bentuk uang). Pembayaran upah tenaga kerja

panen biasanya dilakukan dengan sistem bawon, dengan perbandingan pembagian sebesar 5 : 1 (5 bagian untuk pemilik dan 1 bagian untuk tenaga kerja).

Untuk lahan sawah, banyak ditemukan sistem sewa. Sistem sewa lahan sering (umum) dijumpai, karena dianggap lebih menguntungkan dibanding sistem bagi hasil. Beberapa petani contoh berpendapat bahwa dengan sistem sewa, mereka dapat memperluas areal lahan persewaan mereka pada musim tanam berikutnya. Sewa berkisar antara 20 hingga 25 kuintal padi per-bau (lebih kurang 0,7 ha) per-musim tanam, tergantung kesepakatan bersama. Sistem sewa tersebut biasanya bersifat relasi sosial dan kultural karena berhubungan erat dengan dasar kekeluargaan ataupun persaudaraan (tidak selalu harus untung atau rugi, asal keluarganya yang lain cukup makan).

Ditemukan adanya kecenderungan peningkatan penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian. Dinamika dan pergeseran struktur tenaga kerja yang terjadi di Kecamatan Losarang relatif tinggi dan sangat menarik untuk ditinjau. Hal ini dikarenakan letaknya yang sangat dekat dan sangat akses ke wilayah perkotaan. Tempat berkembang pesatnya pendirian beberapa pabrik yang membutuhkan tenaga kerja untuk pengoperasiannya, meski tidak seluruh masyarakatnya menikmati. Pada kenyataannya mayoritas penduduknya masih mempertahankan usahatani walau pendapatan rumahtangganya tidak sepenuhnya berasal dari hasil pertanian.

Dinamika dan pergeseran tenaga kerja ke sektor industri rumahtangga kurang begitu terlihat karena perkembangannya kurang begitu menggembirakan. Hal ini berkaitan dengan masalah pemasaran (supply dan demand) produksi dan kurang tersedianya bahan baku. Perkembangan di sektor industri formal (industri besar), tengah dilirik sekarang ini. Di samping pertambangan minyak bumi (sektor industri utama), berbagai industri yang terdapat di beberapa daerah di Indramayu (garmen, sepatu, pertekstilan, perkayuan) turut memacu gejolak (dinamika) dan pergeseran struktur tenaga kerja. Pekerjaan pada usaha di sub-sektor non pertanian yang biasanya dituju para tenaga kerja adalah di bidang non-formal. Berbagai pekerjaan non-formal biasanya lebih mudah diperoleh, karena tidak membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi. Jenis pekerjaan tersebut, seperti: menjadi buruh atau tukang bangunan, buruh pabrik, tukang

ojek, pedagang asongan, pengamen, PRT, TKI, bahkan menjadi pengemis, pemulung di daerah perkotaan.

Peran peningkatan mutu/kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan hal penting yang harus lebih diperhatikan. Peningkatannya perlu dilakukan untuk dapat menembus bursa lapangan kerja di luar sektor pertanian. Beberapa upaya yang perlu dilaksanakan untuk mengantisipasinya adalah dengan mengadakan program pelatihan dan ketrampilan bagi para calon pencari kerja (‘pencaker’) tersebut. Materinya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian, sebab banyak perusahaan yang lebih memilih tenaga kerja yang terampil dan memiliki pendidikan formal. Hal ini mengindikasikan bahwa “pencaker” harus lebih keras belajar, berusaha, dan mengembangkan dirinya agar mampu bersaing dengan sesama mereka.

b. Kabupaten Pontianak

Data BPS (2004/2005) seperti yang disajikan pada Tabel 47 berikut, menunjukkan jumlah penduduk di kabupaten Pontianak sekitar 709.933 jiwa (tahun 2004). Dari jumlah tersebut 51,09% adalah penduduk laki-laki (362.714 jiwa), dan sisanya atau sekitar 347.219 jiwa merupakan penduduk perempuan.

Tabel 47. Komposisi Penduduk Usia Kerja (PUK), menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kab. Pontianak, 2004/2005.

Kelompok Umur (tahun)

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Total 10 - 14 40.127 37.550 77.677 15 – 24 74.184 74.282 148.466 25 – 39 83.476 82.728 166.204 40 – 64 68.049 60.665 128.714 65+ 11.372 10.974 22.346 Jumlah 277.208 266.199 543.407 Sumber: BPS, Prov. Kalimantan Barat. 2004-2005.

Dinamika dan pergeseran struktur tenaga kerja terjadi relatif sedikit. Pada umumnya tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja dalam keluarga. Untuk beberapa tahap pekerjaan yang spesifik umumnya dipergunakan tenaga kerja upahan,

terutama dalam kegiatan pengolahan tanah. Untuk persiapan tanam umumnya dilakukan oleh tenaga kerja keluarga, dengan mempergunakan herbisida (pembasmi rumput) untuk melayukan sisa pertanaman musim sebelumnya. Beberapa lama kemudian digilas dengan alat tradisional (misalnya batang kelapa), sebelum ditanami padi yang telah disemai sebelumnya.

Untuk kegiatan tanam dan sulam, petani umumnya mempergunakan tenaga kerja gotong royong secara bergilir, yang biasanya tenaga kerja wanita. Tenaga kerja tersebut biasanya juga dipergunakan pada masa panen dan pasca panen. Untuk lahan pasang surut yang mengusahakan tanaman padi, beberapa di antara petani contoh ditemukan sistem sewa. Alasan mereka mempergunakan sistem sewa karena lahan yang dikuasai tidak representatif untuk diusahakan, letaknya jauh, dan kurang subur. Sewa tersebut berkisar antara 2 hingga 2,5 kuintal padi per- ha per-tahun, atau sekitar Rp.200.000,- sampai dengan Rp.500.000,- tergantung kesepakatan bersama. Sistem sewa tersebut biasanya berhubungan erat dengan dasar kekeluargaan ataupun persaudaraan (tidak selalu harus untung atau rugi, asal keluarganya yang lain cukup makan).

Ditemukan adanya kecenderungan peningkatan penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian. Di sektor industri rumahtangga, dinamika dan pergeseran struktur tenaga kerja cukup menggembirakan. Hal tersebut ditunjukkan oleh banyaknya terdapat usaha rumahtangga yang mampu menyerap tenaga kerja. Usaha industri rumahtangga tersebut seperti: pengolahan dan pengemasan makanan dan minuman dari Aloe vera (lidah buaya), pembuatan marning, pembuatan berbagai jenis manisan buah, pepaya, dan lain sebagainya. Di samping itu, ditemukan tenaga kerja rumahtangga petani contoh yang bekerja sampingan pada industri pengolahan buah kelapa. Jenis pekerjaan pada usaha pengolahan kelapa, di antaranya sebagai pembuat gula merah, minyak kelapa, kopra, VCO, arang tempurung kelapa, tali kapal dari sabut kelapa. Pada usaha industri kayu (shawmill) ditemukan banyak tenaga kerja yang umumnya laki-laki, yang bekerja menebang dan menarik kayu dari hutan. Di samping itu, dinamika dan pergeseran struktur kerja umumnya terjadi di sub-sektor non-pertanian, seperti: menjadi tukang bangunan, buruh bangunan, pengrajin, PNS, guru, karyawan, buruh pabrik, dan bekerja ke luar negeri (TKI dan TKW).

Mengingat kompleksnya permasalahan keterbatasan rumahtangga petani di pedesaan, diperlukan penanggulangan multicara dan multidisiplin, diantaranya pemberdayaan (empowerment) diversifikasi usaha rumahtangga terkait ketenagakerjaan, seperti tersaji pada Bagan 4. Memacu pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian dan rumahtangga di pedesaan merupakan program jangka panjang yang diharap berdampak mendasar bagi masyarakat mayoritas maupun pemerintah. Terkait struktur pemilikan lahan pertanian, terdapat lapisan atas yang akses pada sumberdaya lahan dan kapital sehingga mampu dengan baik merespon teknologi dan pasar serta berpeluang berproduksi yang berorientasi keuntungan. Sedangkan lapisan bawah yang miskin dari lahan dan kapital, dan sumberdaya faktor produksi utamanya tenaga kerja. Kedua lapisan tersebut terlibat hubungan kerja yang kurang seimbang (timpang).

Bagan 4: Konsep Pembangunan Pertanian Mencapai Pengentasan Kemiskinan melalui Diversifikasi Usaha Rumah Tangga

Pembangunan Pertanian

(modernisasi-efisiensi)

Lapisan bawah (miskin) Akses tenaga kerja

Lapisan atas (mampu) Akses lahan, dan modal

Hubungan kerja kurang seimbang

(upah rendah, pekerjaan terbatas)

Peningkatan, stabilitas pendapatan

Peningkatan Pendapatan dengan Pemberdayaan Ketenagakerjaan melalui Diversifikasi Usaha RT

(potensi internal dan eksternal)

Profit Oriented Pengentasan Kemiskinan Teknologi dan Pasar Pertumbuhan Penduduk Perkembangan Teknologi Krisis Ekonomi

Dinamika dan pergeseran struktur ketenagakerjaan di Indramayu cukup tinggi. Hal ini terlihat mobilitas yang dilakukan penduduknya ke luar daerah, baik harian (pengamen, pedagang asongan), maupun bulanan (pemulung, buruh/tukang bangunan) atau tahunan (TKI, PRT). Para migran ini bekerja di sektor formal dan non-formal, yaitu sebagai karyawan (sipil, swasta), buruh dan tukang bangunan, pedagang, PRT, TKI, dan sebagainya. Selain lebih memilih bermigrasi, para pemuda yang menetap di daerah ini lebih memilih bekerja di sektor jasa angkutan (supir angkutan, ojek), dengan alasan lebih mudah untuk memperoleh penghasilan sehari-hari dan lebih bergengsi dilihat dari status sosial, dibanding harus bekerja sebagai petani. Kondisi yang tidak jauh berbeda ditemukan pula di Pontianak.

Di Pontianak, mobilitas angkatan kerja rumahtangga contoh dari pedesaan ke sektor luar pertanian relatif tinggi. Seperti halnya di Indramayu, mereka umumnya bekerja di sektor non-formal, meski terdapat juga yang bekerja di sektor formal. Namun, karena keterbatasan akses alat perhubungan dan transportasi, tingkat mobilitas tersebut tidak setinggi yang terjadi di Indramayu. Di samping itu, letak/jarak desa ke daerah perkotaan terdekat dan kondisi pertumbuhan berbagai bidang usaha non-pertanian di luar wilayah pedesaannya juga turut mempengaruhi tingkat mobilitas tersebut.

Produktivitas tenaga kerja sektor pertanian di daerah penelitian yang relatif rendah terhadap produktivitas di sektor industri dan jasa, merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian di masa datang. Secara umum, rendahnya produktivitas tenaga kerja sektor pertanian terlihat dari terjadinya pergeseran kontribusi sektor pertanian terhadap PDB yang belum disertai perpindahan secara proporsional angkatan kerja ke sektor industri dan jasa (non-pertanian). Tingginya ahli fungsi (konversi) lahan dari pertanian ke non-pertanian juga menjadi aspek sangat mempengaruhi. Para petani dengan alasan ekonomi seakan berlomba menjual lahan usahataninya. Akhirnya, menjadikan mereka land-less (tidak memiliki lahan untuk diusahakan). Lahan sudah terlalu sempit untuk mampu menghasilkan produksi yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Salah satu ciri tenaga kerja di pedesaan yang juga ditemukan di daerah penelitian adalah rendahnya tingkat pendidikan formal yang dianggap sebagai penyebab rendahnya

kreaktivitas dalam penciptaan kesempatan kerja baru. Tenaga kerja di pedesaan (dalam beberapa penelitian) cenderung dianggap sebagai beban ketimbang nilai lebih atau paling tidak hanya sebagai potensi yang belum termanfaatkan. Keunggulan komunitas bisa saja diangkat sebagai kekuatan di pedesaan, dimana kemampuan individu merupakan titik kelemahannya, sehingga perlu dilakukan adalah pembangunan dan pembinaan individu di suatu daerah/pedesaan.

Pada dasarnya, masalah kesempatan kerja di Indramayu dan Pontianak erat kaitannya dengan dengan masalah rendahnya kesempatan kerja dan masalah kemiskinan. Keadaan ini tidak berbeda seperti yang dikemukakan Mubyarto (1976). Tingkat pendapatan rumahtangga contoh di kedua lokasi penelitian dipengaruhi oleh

Dokumen terkait