BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Dinamika Forgiveness pada Korban Dating Violence
Kekerasan dalam berpacaran atau dating violence merupakan salah satu bentuk kekerasan yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Hal ini dikarenakan tidak ada payung hukum yang berlaku selama masih dalam tahap berpacaran (Poerwandari, 2006). Padahal dating violence merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan. Walaupun termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan, dating violence ini tidak hanya dialami oleh perempuan. Akan tetapi, perempuan lebih banyak menjadi korban dikarenakan ketimpangan kekuasaan laki-laki dan perempuan yang dianut masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab timbulnya dating violence dalam hubungan berpacaran. Dating violence didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh pelaku penyerangan (transgresor) sebagai bentuk dari perilaku mengontrol, mendominasi, perilaku kasar, serta perilaku agresif lain yang terjadi selama hubungan pacaran (Murray, 2007).
Adapun faktor yang mempengaruhi dating violence dalam hubungan pacaran yaitu, penerimaan teman sebaya yang diharapkan dapat menjadi celah untuk diakui dalam suatu kelompok menjadi salah satu alasan. Harapan terhadap peran gender yang menganggap bahwa laki-laki diharapkan lebih „aktif‟, pengalaman yang minim terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan, sedikitnya akses ke layanan masyarakat terhadap informasi yang benar dan sesuai, legalitas dalam masyarakat serta penggunaan obat-obatan menjadi kontribusi dalam munculnya tindakan dating violence dalam suatu hubungan. Faktor-faktor inilah
yang menjadi alasan saat suatu hubungan mengalami masa dating violence (Murray, 2007).
Bentuk-bentuk dating violence sendiri terdiri atas 3 macam, yaitu (1) verbal and emotional abuse, (2) sexual abuse, (3) physical abuse. Verbal and emotional abuse adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah, seperti: menuduh pasangannya berselingkuh, mengintimidasi, menginterogasi pacarnya setiap waktu, dan lain-lain. Sexual abuse adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual sedangkan pacar mereka tidak menghendakinya. Physical abuse adalah perilaku yang mengakibatkan pacar mereka terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya (Murray, 2007).
Brown dalam Chung (2007) menyatakan bahwa dating violence merupakan siklus yang tiap fasenya ditandai dengan tindakan berbeda. Berawal dari fase tension building yang mana tindakan kekerasan (transgresi) baru dimulai.
Dalam hubungan pacaran, persepsi individu terhadap kondisi trangresi atau dating violence yang terjadi tergantung pada konteks awal suatu hubungan. Suatu tindakan dapat dipersepsikan positif atau negatif tergantung pada konteks awal suatu hubungan. Persepsi positif dapat membuat individu menerima kondisi dating violence yang terjadi (Worthington & Wade, 1999). Kondisi ini termasuk dalam salah satu tanda individu berada dalam fase tension building. Seiring berjalannya waktu, persepsi negatif yang muncul akan mengarahkan langsung emosi negatif dari individu yang mengalami tindakan dating violence. Munculnya
emosi negatif setelah mengalami trangresi disebut juga dengan kondisi unforgiveness (Brown dalam Chung, 2007)
Worthington dan Wade (1999) menyatakan bahwa kondisi emosi yang diliputi kemarahan, kebencian, keinginan untuk membalas tindakan yang disebabkan oleh suatu penyerangan disebut juga kondisi unforgiveness.Unforgiveness merupakan reaksi terhadap transgresi yang terjadi.
Kombinasi emosi seperti marah, ingin menyerang, kebencian, serta rasa takut.
Kondisi ini merupakan reaksi alami yang timbul dari adanya rasa sakit. Dalam kondisi ini, fase dating violence berada dalam fase exploison (Brown dalam Chung, 2007). Respon individu yang dapat muncul saat ini dapat berupa merenungi kesalahan (rumination) atau melakukan respon aktif dengan membalas dan atau mengkomunikasikan rasa sakit kepada transgresor sehingga hubungan kedua belah pihak tidak akan rusak. Akan tetapi, respon dapat juga berupa tindakan pasif dengan berdiam diri terhadap keadaan transgresi yang terjadi sehingga unforgiveness dapat memicu dampak yang negatif terhadap individu maupun hubungan itu sendiri (Worthingon & Wade, 1999).
Dampak yang ditimbulkan ketika unforgiveness terjadi dapat berupa kondisi seperti luka memar pada tubuh yang ditimbulkan dari physical abuse, menurunnya self esteem dikarenakan adanya verbal and emotional abuse. Jika kondisi ini berkelanjutan, reaksi terburuk yang dapat terjadi yaitu timbulnya depresi serta gangguan psikopatologis seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau bahkan kematian (Calhoun & Atkeson dalam Sulaeman & Siti,
kesehatan psikologisnya. Selain itu, dampak lain yang paling dominan muncul adalah perasaan malu karena menjadi korban kekerasan, sakit akan perilaku kekerasan yang dialami serta tidak menutup kemungkinan munculnya keinginan untuk membalas transgresor (Poerwandari, 2008)
Unforgiveness dapat berkembang seiring berjalannya waktu namun dapat juga dihilangkan secara perlahan melalui metode yang tepat. Melakukan mekanisme pertahanan diri atau membalas pelaku penyerangan menjadi hal yang memungkinkan dalam menghilangkan unforgiveness. Namun kedua penyelesaian tersebut memunculkan emosi negatif yang lain.Worthington & Wade (1999) menyatakan bahwa unforgiveness dapat dikelola dengan forgiveness. Forgiveness didefinisikan sebagai proses intrafisik untuk melepas unforgiveness. Forgiveness melibatkan keputusan sukarela individu untuk menerima dengan mengganti emosi-emosi negatif pada diri sendiri untuk menghilangkan stress dan mengurangi rasa permusuhan dalam diri individu. (Lucia, 2005). Adanya forgiveness dalam kondisi dating violence menyatakan bahwa siklus dating violence berada pada fase honeymoon (Brown dalam Chung, 2007).
Forgiveness memfasilitasi kondisi disonansi emosi karena adanya perbedaan emosi dari emosi awal, sehingga individu akan mencoba untuk menyeimbangkan emosinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness seseorang yaitu faktor personal dan faktor atribut dalam hubungan.
Faktor personal meliputi big five personality, yang mana ditemukan bahwa agreeableness merupakan penyusun forgiveness seseorang. Selain itu emotional
diri sendiri untuk memeberikan suatu keputusan. Empati yang dimiliki terhadap transgresor juga mempengaruhi forgiveness. Kebanggaan terhadap diri sendiri, keterlibatan agama juga menjadi faktor yang memungkinkan forgiveness timbul dalam diri seseorang. Faktor atribut dalam hubungan seperti status hubungan sebelum terjadinya dating violence, kepuasan dalam suatu hubungan, serta komitmen yang ada juga menjadi faktor penting sehingga forgiveness dapat menimbulkan dampak yang positif bagi individu (Worthington & Wade, 1999)
Forgiveness dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis karena forgiveness mampu melepas emosi-emosi negatif sehingga mampu mengubah pemikiran destruktif untuk lebih baik terhadap transgresor (Enright, 2001) Hilangnya pemikiran negatif dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang yang mana individu lebih mampu untuk mengoptimalisasi emosi positif sehingga kepuasan hidup seseorang semakin meningkat (Bono dk, 2006).