BAB II LANDASAN TEORI
D. Dinamika Hubungan Antara Harga Diri Dengan Kecenderungan
Tahap perkembangan remaja akhir dimulai dari rentang usia 17 tahun
hingga 21 tahun (Mappiare, 1982). Pada masa remaja akhir, individu akan
mengalami berbagai macam perkembangan. Lingkungan sosial menjadi
sangat penting bagi remaja akhir, hal ini karena remaja akhir ingin
memperoleh pengalaman baru dilingkungannya, serta ingin bertukar pikiran
dengan orang lain. Salah satu ciri dari remaja akhir ialah mereka sudah
mampu meyakinkan diri untuk mengambil suatu keputusan, akan tetapi tidak
semua remaja dapat melakukan hal tersebut dengan baik, teman sebaya juga
berperan penting dalam mempengaruhi pertimbangan dan keputusan remaja
akhir. Dalam kehidupan sosialnya teman sebaya dapat mempengaruhi
cara berpakaian yang menarik, selera musik atau film yang bagus (Conger,
1991). Hal ini karena masih banyak remaja yang merasa kurang percaya diri,
memiliki penilaian yang rendah terhadap dirinya, akhirnya timbul pemikiran
ingin menunjukkan penampilan yang lebih dewasa atau pergaulan yang lebih
dewasa pula. Jika remaja tidak menyalurkan keinginan-keinginan tersebut
melalui mode/penampilan maka akan timbul perasaan malu yang berlebihan
ketika bergaul dalam lingkungan sosialnya, minder, merasa ada yang kurang
dalam dirinya, sehingga hal tersebut berkaitan dengan harga diri remaja.
Harga diri merupakan suatu penilaian yang dibuat oleh individu
mengenai dirinya sendiri secara positif maupun negatif dengan tujuan untuk
meningkatkan kepercayaan dirinya (Baron & Byrne, 2012; Coopersmith,
1967; Feist & Feist, 2007; Santrock, 2011). Selain itu Stuart dan Sundeen
(1991) mengungkapkan bahwa harga diri (self esteem) merupakan penilaian
individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku memenuhi ideal dirinya dan menggambarkan sejauhmana individu
tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan,
keberartian, berharga dan berkompeten. Harga diri seseorang dapat
menentukan bagaimana cara seseorang berperilaku di dalam lingkungannya.
Peran harga diri dalam menentukan perilaku ini dapat dilihat melalui proses
berpikirnya, emosi, nilai, cita-cita, serta tujuan yang hendak dicapai
seseorang. Bila seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, maka perilaku
yang dimiliki individu akan positif, sedangkan bila harga dirinya rendah, akan
maupun negatif dapat terjadi pada setiap orang salah satunya pada
perkembangan remaja akhir.
Saat ini remaja akhir yang modis, aktif di sosial media, memiliki kartu
kredit pribadi bukanlah hal yang aneh, pada kenyataannya hampir banyak
dijumpai remaja akhir yang demikian. Hal ini membuat remaja akhir
berkembang dan mencari kedewasaan dirinya baik dalam segi sikap maupun
penampilan mereka, karena remaja akhir merasa memiliki sikap kebebasan
penuh dan dapat mengambil suatu keputusan. Keputusan untuk menunjang
penampilan dalam kehidupan mereka bukan suatu hal yang buruk, namun hal
tersebut cenderung menimbulkan kesan negatif, karena kebanyakan remaja
akhir menjadi sibuk dalam memperhatikan penampilannya dan
menghambur-hamburkan uang orangtua agar mendapat tempat dan pengakuan di
lingkungannya yang menimbulkan kesan penampilan dewasa. Akhirnya
remaja akhir menjadi sangat terikat dengan penampilannya dan tidak mampu
melakukan aktivitas tanpa ditunjang penampilan. Hal tersebut menyebabkan
remaja akhir terpengaruh membeli produk-produk yang dapat menunjang
penampilan, melakukan pembelian spontan atau tanpa perencanaan meski
harus menanggung resiko seperti berhutang atau meminta uang tambahan
kepada orangtua. Perilaku seperti ini sering disebut dengan perilaku impulsive
buying.
Impulsive buying merupakan tindakan atau perilaku seseorang dalam
melakukan pembelian suatu produk secara spontan tanpa mempertimbangkan
faktor keinginan bukan berdasarkan kebutuhan terhadap produk tersebut
(Mowen & Minor, 2002; Rook & Fisher, 1995; Sterns, 1962; Utami, 2010;
Verplanken & Herabadi, 2001). Pembelian impulsif biasanya ditunjukkan
dari kurangnya perencanaan atau pertimbangan ketika membeli produk,
memiliki sifat spontan dan segera. Selain itu, individu juga biasanya tidak
memikirkan konsekuensi yang akan diterima setelah melakukan pembelian
sebelumnya dan tidak melakukan perbandingan produk terlebih dahulu.
Individu yang membeli barang secara impulsif biasanya akan didominasi oleh
perasaan senang, semangat dan antusias. Perasaan tersebut biasanya tidak
terkontrol hingga individu merasa puas. Individu yang telah melakukan
impulsive buying biasanya akan merasa menyesal karena banyak
mengeluarkan uangnya untuk memenuhi keinginannya (Verplanken &
Herabadi, 2001; Dittmar & Drury, 2000).
Aspek-aspek harga diri yang dimiliki individu tentu berkaitan dengan
kecenderungan perilaku impulsive buying. Individu yang memiliki prinsip
yang kuat dalam dirinya maka ia akan mampu mengontrol setiap tindakan
yang dilakukan, misalnya ketika ditawarkan suatu produk, individu akan
melakukan pertimbangan yang lebih sebelum menentukan/melakukan
pembelian. Seberapa besar individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti
dan berharga bagi orang lain, serta adanya penerimaan dalam lingkungannya
maka hal tersebut dapat meminimalisir perilaku impulsive buying.
Menyangkut kepatuhan atau ketaatan individu dalam mengikuti prinsip, etika
harga diri yang kuat dalam dirinya. Begitu juga dengan kemampuan dalam
mengambil suatu keputusan yang tepat, mengatasi diri, sehingga berhasil
dalam mengatasi masalah-masalah dalam lingkunganya. Namun sebaliknya,
ketika individu memiliki penilaian yang rendah terhadap dirinya maka
individu akan mudah untuk melakukan pembelian secara spontan atau
impulsive buying.
Sejalan dengan hal tersebut menurut Tremblay (dalam Mathai &
Shantaamani, 2016) harga diri memiliki hubungan terbalik dengan impulsive
buying. Hal ini juga sesuai dengan Verplanken & Sato (2011) yang mengungkapkan bahwa impulsive buying dikaitkan dengan harga diri
individu yang rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi akan merasa
bahwa penilaian terhadap dirinya tinggi sehingga mampu mengontrol
tindakannya. Artinya dalam perilaku impulsive buying, individu mampu
melakukan pertimbangan terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian.
Begitu juga sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah akan
merasa penilaian terhadap dirinya rendah sehingga tidak mampu mengontrol
tindakannya, artinya individu cenderung melakukan pembelian tanpa
pertimbangan dalam berbelanja.
Berdasarkan hal tersebut, tidak sedikit individu yang melakukan
impulsive buying khususnya pada rentang usia 17-21 tahun yang termasuk
dalam perkembangan remaja akhir. Pembelian secara spontan atau impulsive
buying yang dilakukan remaja akhir cenderung dilatar belakangi oleh
selalu merasa kuarng/ lebih rendah dari orang-orang dalam lingkungan
sosialnya. Hal ini yang mendorong remaja akhir untuk melakukan perilaku
impulsive buying dengan harapan mendapat pengakuan di lingkungan sosialnya sebagai orang yang lebih dewasa.