BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Dinamika Perkembangan Impor Sapi serta Perspektif
Impor daging dan sapi merupakan suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam hal memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Impor daging maupun sapi dilakukan terkait dengan jumlah permintaan atau jumlah konsumsi nasional akan daging sapi yang terus meningkat sedangkan produksi nasional akan daging sapi yang cenderung menurun dari tahun ke tahun sehingga pemerintah pusat mencanangkan program impor daging sapi dan sapi guna menutupi kekurangan produksi nasional tersebut. Namun yang menjadi permasalahan adalah besaran impor yang dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. Hal ini menyebabkan daya saing peternak lokal yang terus menurun mengingat harga relatif daging dan sapi impor yang lebih rendah dibandingkan dengan di dalam negeri.
Besaran impor daging sapi dan sapi sebenarnya telah menyebabkan keresahan di kalangan peternak rakyat atau peternak lokal. Melihat potensi bisnis dan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi negara-negara penghasil produk peternakana yang hendak memasukkan produknya ke Indonesia. Secara nasional, jumlah populasi sapi siap potong yang masih rendah menyebabkan impor daging sapi dan sapi menjadi suatu kebutuhan bagi Indonesia. Kebijakan impor ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Adapun perkembangan impor sapi bakalan dari tahun 2006-2012 di Jawa Timur terus mengalami penurunan namun penurunan tersebut masih dalam keadaan fluktuatif.
Pada tabel 5.7 di bawah menunjukkan bahwa perkembangan impor di Jawa Timur pada dasarnya terus mengalami penurunan bahkan pada tahun 2009- 2011 tidak terdapat impor sapi bakalan di Jawa Timur, namun pada tahun 2012 dilakukan impor kembali namun dengan jumlah yang sangat sedikit yaitu hanya berjumlah 600 ekor. Begitu pula dengan perkembangan impor sapi bakalan di Indonesia pada tahun 2006-2012 juga mengalami fluktuasi. Jumlah impor sapi bakalan yang tertinggi adalah pada tahun 2006 yang mencapai 3.667.706 ekor dan pada tahun berikutnya mengalami penurunan sampai pada tahun 2008 mengalami titik penurunan yang sangat drastis yaitu mencapai jumlah 933.565 ekor. Pada tahun 2009-2012 jumlah impor sapi bakalan jumlah fluktuatif namun masih memiliki kisaran jumlah di bawah 1,5 juta ekor setiap tahunnya. Proyeksi impor sapi bakalan di Jawa Timur dan Indonesia tahun 2006-2012 dapat ditunjukkan oleh tabel 5.7 di bawah ini:
Tabel 5.7 Proyeksi Impor Sapi Bakalan di Jawa Timur dan Indonesia tahun 2006-2012
Tahun Impor Sapi Jawa Timur (Ekor) Impor Sapi Indonesia (Ekor)
2006 6000 3.667.706 2007 6500 1.687.425 2008 5500 933.565 2009 0 1.189.735 2010 0 1.065.710 2011 0 1.359.212 2012 600 1.231.988
Sumber : Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2011 dan 2012 (diolah)
Selanjutnya, berdasarkan data yang ada di atas, maka peneliti melakukan peramalan terhadap perkembangan impor sapi di Jawa Timur dan Indonesia. Tujuan dari proyeksi ini adalah untuk mengetahui bagaimana trend atau perkembangan dari impor sapi tahun 2013-2018 apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Trend tersebut dapat diketahui pada tabel 5.8 di bawah ini:
Tabel 5.8 Peramalan perkembangan Impor Sapi di Jawa Timur dan Indonesia Tahun 2013-2018
Tahun Trend Impor Sapi Jawa Timur (Ekor) Trend Impor Sapi Indonesia (Ekor)
2013 -2300 471987 2014 -3539 192292 2015 -4779 -87402 2016 -6018 -367096 2017 -7257 -646790 2018 -8496 -926484
Peramalan perkembangan impor sapi di Provinsi Jawa Timur tersebut dianalisis menggunakan metode trend berdasarkan data time series dari tahun 2006-2012 dengan persamaan Y = 2657,14 -1239,29 X. Persamaan ini menunjukkan besarnya nilai koefisien trend yang memiliki kecenderungan negatif dengan koefisien -1239,29 yang berarti besarnya penurunan impor sapi di Jawa Timur setiap tahunnya sebesar 1239 ekor. Penurunan trend tersebut menunjukkan bahwa proyeksi impor di Jawa Timur memiliki kecenderungan yang terus menurun. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya peningkatan produksi sapi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Di samping itu, jumlah impor sapi di tingkat nasional juga memiliki trend atau kecenderungan yang menurun. Hal ini terbukti dari hasil trend yang memiliki persamaan Y = 1590763 – 27969,11 X. Nilai tersebut menunjukkan nilai koefisien sebesar -27969 yang berarti bahwa jumlah impor sapi di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya sebesar 27969 ekor. Berdasarkan tabel 5.8 tersebut di atas, juga dapat diketahui bahwa pada tahun 2014, Indonesia masih memerlukan impor sapi dan pada tahun berikutnya, Indonesia baru mampu mengurangi impor bahkan tidak melakukan impor. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2014, Indonesia belum mampu untuk melakukan Swasembada Daging Sapi tahun 2014. Namun demikian, dari perspektif impor sapi yang memiliki kecenderungan menurun dapat diperkirakan Indonesia akan bisa melakukan Program Swasembada Daging Sapi pada tahun-tahun berikutnya. Agar Indonesia dapat melakukan Swasembada Daging Sapi 2014, Pemerintah perlu menerapkan kuota impor sebeesar 0 % dan mengandalkan produksi dalam negeri seluruhnya. Namun demikian, penurunan impor yang terjadi manunjukkan keseriusan pemerintah dalam menerapkan kuota impor. Hal ini tentunya akan berdampak positif terhadap keberhasilan Program Swasembada Daging Sapi 2014. Kecenderungan penurunan impor sapi tersebut juga harus diimbangi dengan adanya peningkatan kinerja subsektor peternakan sapi potong utamanya dalam menunjang atau menyuplai cadangan sapi lokal aktif potong sehingga akan meningkatkan jumlah stok atau produksi daging sapi potong lokal. Adapun grafik perkembangan jumlah impor sapi dari tahun 2006-2018 dapat terlihat pada gambar 5.6 di bawah ini:
Gambar 5.6 Proyeksi dan Peramalan Perkembangan Impor Sapi di Jawa Timur dan Indonesia
Walaupun berdasarkan analisis trend, perkembangan impor sapi Jawa Timur dan Indonesia mengalami penurunan namun impor sapi maupun daging sapi masih tetap akan dilakukan. Terdapat beberapa sektor seperti perhotelan dan restoran yang tetap membutuhkan daging impor. Umumnya suatu negara dikatakan memerlukan produk impor jika negara itu tidak mampu menghasilkan produk dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan negara tersebut. Namun, impor juga diperlukan karena di dalamnya terkandung muatan teknologi yang berguna bagi peningkatan kemampuan suatu negara. Selain itu, impor diperlukan untuk memberi tambahan persaingan kepada produsen lokal agar berproduksi secara efisien.
Akan tetapi dalam proses pengambilan keputusan tentang impor, tidak jarang lobby dimiliki oleh pihak yang berskala besar, elit politik yang pada umumnya konsumen, dan importir yang memiliki skala pengaruh lebih besar dibandingkan dengan para peternak lokal karena mereka adalah orang-orang dekat dengan pengambil keputusan publik (Daryanto, 2007). Kejadian tersebut tak jarang terjadi karena prosedur perijinan impor yang kurang transparan. Adapun prosedur perizinan impor sapi maupun daging sapi di Indonesia adalah sebagai berikut: -2000000,00 -1000000,00 0,00 1000000,00 2000000,00 3000000,00 4000000,00 J u m l a h Im p o r S a p i ( e k o r ) Tahun
Proyeksi Jumlah Impor Sapi
Indonesia
Proyeksi Jumlah Impor Sapi Indonesia -10000,00 -5000,00 0,00 5000,00 10000,00 2005 2010 2015 2020 J u m l a h Im p o r S a p i ( E k o r ) Tahun
Proyeksi Jumlah Impor Sapi Jawa
Timur
Gambar 5.7 Prosedur Perizinan Impor Sapi dan Daging Sapi
Berdasarkan gambar 5.7 diketahui bahwa alur perizinan impor produk hewani utamanya sapi dan produk turunannya adalah awalnya para importir harus memiliki izin impor yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian atau Kementerian Koordinator Perekonomian. Dalam hal ini, importir harus memiliki perlengakapan seperti terdaftar sebagai Importir Terdaftar Hewan dan Produk Hewan dan memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan, Nomor Pokok Wajib Pajak, Angka Pengenal Importir serta dapat menunjukkan bukti kepemilikan rumah potong hewan. Kemudian setelah mendapatkan izin kuota impor, importir perlu memiliki persetujuan bebas dari penyakit utamanya penyakit kuku dan mulut pada sapi. Ijin tersebut dapat diperoleh dari Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan yang kemudian diharuskan melakukan pemeriksaan fisik barang di Ditjen Bea dan Cukai yang kemudian dilanjutkan dengan persetujuan mengani pajak impor dengan Ditjen Pajak.
Dari alur perijinan tersebut, tidak semua peternak dapat melakukan kegiatan impor sapi dan daging sapi karena perijinan tersebut hanya dapat dilakukan oleh perusahaan atau peternak berskala besar. Hal inilah yang menyebabkan kegiatan importasi sapi dan daging sapi menjadi kegiatan yang bersifat monopoli yang dilakukan oleh beberapa importir dengan skala besar.
Kementerian Pertanian/ Kemenko Perekonomian
Balai Karantina Hewan dan Tumbuhan
Ditjen Bea dan Cukai
Ditjen Pajak
Izin Kuota
Persetujuan restitusi PPN dan PPh impor untuk importir Pemeriksaan fisik barang, penetapan nilai kepabeanan, persetujuan pengeluaran barang
Selain itu, prosedur yang sedemikian panjang tak jarang menyebabkan terjadinya lobby oleh pihak importir yang berskala besar terhadap pihak pengambil keputusan impor. Alur perijinan yang demikian tersebut yang menjadi hambatan atau barrier dalam terlaksananya atau keberhasilan dari Program Swasembada Daging Sapi 2014. Seharusnya agar tidak terjadi monopoli dalam impor sapi dan daging sapi ini, kegiatan impor dilakukan dengan sistem lelang sehingga kuota impor dan pihak pengimpor dapat diketahui secara jelas dan transparan sehingga Program Swasembada Daging sapi 2014 dapat tercapai.