BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.6. Fakta Empiris Kinerja Investasi dan Ekspor Hortikultura
3.6.1. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Dalam pelaksanaan penelitian ini telah dilakukan penggalian data dan informasi ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Provinsi Jawa Barat, eksportir pertanian/investor dalam negeri maupun PMA di sektor pertanian. Kunjungan ke instansi dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder tentang kinerja investasi sekaligus untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang berbagai permasalahan yang dapat menghambat laju investasi dan ekspor komoditas pertanian, khususnya dalam aspek regulasi. Secara
46
garis besar temuan hasil wawancara dan kunjungan di instansi dan stakeholder di Jawa Barat diuraikan sebagai berikut:
(1) Secara umum investasi di Jawa Barat mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2017 total investasi senilai Rp107 triliun. Nilai investasi PMA lebih besar dibandingkan PMDN.
(2) Dibandingkan provinsi lainnya, Jawa Barat menempati peringkat pertama dalam nilai PMA dan peringkat kedua/ketiga dalam PMDN dan biasanya bersaing dengan Jatim dan DKI. Sektor yang paling dominan dalam investasi masih manufakturing diantaranya industri otomotif
(3) Aturan baru terkait dengan perizinan adalah PP No. 24 tahun 2018 yang mengamanatkan seluruh permohonan izin suatu usaha harus melalui online single submission (OSS). Dengan OSS ini diharapkan dapat meningkatkan gairah investor/pengusaha untuk menanamkan modal karena pengurusan izin dapat dilakukan lebih cepat.
(4) Namun demikian, dalam praktiknya PP No. 24/2018 ini masih belum berjalan secara optimal. Penyebabnya, sistem OSS masih realatif baru dan dalam tahap pengembangan. Sistem ini memerlukan koneksitas yang baik dalam jaringan baik di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Di samping itu, terkait dengan Norma, Standar, prosedur, dan Kriteria (NSBK) diterbitkan oleh masing-masing lembaga. Kesiapan masing-masing lembaga yang terkait dengan investasi masih belum seragam.
(5) Dari 20 sektor usaha, 12 sektor sudah ada NSBK nya. Khusus untuk Kementerian Pertanian sudah ada NSBK-nya.
(6) Dengan belum terbitnya NSBK beberapa lembaga mengakibatkan pengajuan perizinan yang diajukan belum dapat diproses dengan lancar karena pihak PMPTSP bekerja jika sudah ada NSBK untuk verifikasi dan sebagainya.
(7) Sebelum PP No. 24, di Jawa Barat sudah ada aplikasi pengajuan izin dengan online dengan program SIMPATIK (Sistem Informasi Pelayanan Perizinan untuk Publik) dan sudah berjalan dan berjalan dengan baik. Dengan adanya OSS akan disinergikan, namun karena masih relatif baru maka memerlukan waktu untuk membangun sistem.
47
(8) Kedua sistem, baik SIMPATIK maupun OSS sebetulnya sama sama berbasis online, perbedaannya adalah pihak yang punya autoritas mengelurkan izin. Untuk SIMPATIK izin dikeluarkan oleh Kepala Dinas PMPTSP, sementara untuk OSS dikeluarkan Kemenko Perekonomian.
(9) Sebagai solusi dan agar pengajuan izin usaha tidak terganggu, untuk sementara kedua sistem ini dikombinasikan. Sebagai contoh, pengajuan dokumen/syarat sampai keluar Nomor Induk berusaha (NIB) menggunakan SOS. Kemudian, proses selanjutnya menggunakan saplikasi SMPATIK sampai keluar izin operasional.
(10) Di Jawa Barat, terkait penanaman modal diatur dalam Perda Penanaman Modal tahun 2011 dan Perda No 3 tahun 2017 tentang Perizinan Terpadu Satu Pintu. Untuk Perda tersebut sedang dilakukan kajian naskah akademik untuk revisi dalam rangka mengantisipasi perkembangan bisnis dan kemajuan sistem informasi saat ini.
(11) Secara khusus untuk pertanian, izin untuk investasi dan berusaha lebih banyak diberikan pihak PMPTSP di masing-masing wilayah kabupaten/kota sebagai tempat investasi dilakukan.
(12) Dengan pengajuan izin secara online baik Simpatik maupun OSS, manfaat yang sangat signifikan adalah efisiensi waktu karena mengurangi tatap muka untuk pengajuan izin. Kalau waktu yang diperlukan sampai keluar izin operasional sangat tergantung dari jenis dan skala investasi, bisa 3 hari hingga 30 hari. Izin operasional bisa jadi lama dikeluarkan jika usaha tersebut memerlukan kajian amdal yang dilakukan oleh pihak ketiga dan ini di luar kontrol PMPTSP. Waktu yang diperlukan untuk amdal biasanya cukup lama dan verifikasi untuk amdal juga memerlukan waktu karena harus dilakukan secara cermat.
(13) Dalam pengajuan izin, secara ringkas melalui langkah sebagai berikut: (1) mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha); (2) jika tidak memerlukan sarana dan prasarana, maka dapat segera diproses untuk keluarnya izin komersial (operasional); (3) jika membangun sapras maka harus ada izin lokasi (kabupaten/kota); (4) jika berpotensi menimbulkan dampak pada lingkungan, maka harus melakukan studi amdal (diberikan waktu 115 hari). Setelah amdal
48
keluar maka disusul dengan IMB biasanya 30 hari. Terakhir, izin komersial akan diberikan.
(14) Dengan adanya OSS diharapkan ada peningkatan efisiensi waktu yang otomatis juga biaya. Namun dengan sistem yang masih relatif baru maka belum bisa dibandingkan tentang efisiensinya. Namun, dari sisi dokumen yang harus dipersiapkan untuk pengajuan izin, dengan OSS memang berkurang. Walaupun demikian, untuk persyaratan detailnya memang masih sama dengan SIMPATIK. (15) Untuk izin lokasi, pihak pemohon harus menyesuaikan dengan Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) di kabupaten/kota. Setelah RTRW sesuai, juga harus melihat juga Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Kalau BKMD hanya sampai ke izin prinsip, kemudian saat berusaha di lokasi (kab/kota) harus menyesuaikan dengan RDTR.
(16) Terkait dengan izin ada yang menjadi wewenang pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten. Dengan OSS, jika persyaratan sudah dipenuhi (izin lokasi, amdal, IMB) otomatis proses penerbitan izin komersial akan cepat juga, bisa dalam 1 hari sudah selesai.
(17) Untuk usaha sektor pertanian, di Jawa Barat umumnya skala kecil tetapi jumlahnya banyak. Kemungkinan besar usaha pertanian banyak yang tidak terdaftar karena kurang dari 25 ha. Selain itu, yang berkenaan dengan izin adalah perpanjangan HGU.
(18) Ada indikasi perkembangan wilayah untuk investasi mengalami pergeseran ke arah Jawa Barat bagian timur yang dulunya berpusat di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek). Dibangunnya infrastruktur jalan (misalnya tol Cipali), sangat berpengaruh terhadap fenomena ini. Selain itu, upah buruh dan lahan Jabar bagian timur dipandang masih lebih murah di Bodetabek.